MULAI GAK HORMAT KE SENIOR! LUHUT SEBUT YG MINTA GIBRAN DICOPOT, KAMPUNGAN! TRMSK JEND TRY SUTRISNO?

[Musik] Halo, halo. Apa kabar? Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Arif. Apa kabar? Semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat dan tetap semangat. Ya, saya kaget ketika dikirimi link ee berita dari Kompas.com ee dengan judul Luhud sebut pihak yang minta Wapres Kibran dicopot kampungan ini beritanya ee tayang pada hari Senin tanggal 5 Mei ee pukul 19.31 ini artinya malam ya. Tapi ee kalau kita paham ee dengan Pak Luhud pasti enggak ee ya kaget tetap kaget tapi juga enggak kaget-kaget amat gitu ya. Enggak kagetnya itu diksi kampungan itu ya sering benar itu digunakan oleh Pak Luhud itu ya. Jadi ini bukan pertama kalinya Pak Luhud bersuara keras menyebut orang lain kampungan gitu. Ini kayaknya Pak Luhud yang paling kuota deh ya. Luhud misalnya itu pernah menyebut OTT ee yang dilakukan oleh KPK itu kampungan gitu ya. Bahkan ini membuat para investor enggak berani masuk ini. Dan kemudian juga Luhud ee bahkan ini di KPK dia menyebut KPK itu menangkap pelaku korupsi itu kampungan dan Luhud itu ngomong begitu itu di kantor KPK langsung loh ya. Jadi dia enggak main belakang-belakangan ya gitu orangnya memang seperti itu ya. Blak-blakan saja gitu memang sifatnya luhud begitu. Kalau dia nyebut kampungan ya sudahlah enggak usah terlampau diambil ketawa sajalah. Tapi ketika kemudian Pak Luhud menyebut mereka yang minta Gibran dicopot itu kampungan, nah saya pikir ini sudah too much ini ya, sudah melewati batas gitu ya. E kan yang menyampaikan ini, yang memberikan catatan ini dan dari delan poin yang di ee sodorkan oleh atau dibacakan oleh para ee purnawirawan atau yang dibuat oleh para purnawirawan itu salah satunya yang menandatangani itu adalah Pak Tri. di situ Pak Tri menyetujui atau mengetahui begitu ya. Jadi kalau kemudian yang disebut oleh Pak Luhud itu adalah Pak Tri berarti yang disebut kampungan ya karena ee Pak Tri ikut tanda tangan di situ. Saya kira ya ini sudah kelewat batas gitu ya. Apalagi kalau ee terminologi kampung dan desa saya kira Pak Tri lebih lebih kota lah dari e Pak Luhud ya. Karena Pak Tri ini kan ee lahir dan besar di Surabaya. Surabaya kota besar gitu. Tapi tentu maksudnya bukan kampung dan dan kota nih, tapi kampungan itu lebih pada diksi yang menganggap ya ini e perilaku yang enggak pantas gitulah ya kira-kira gitu ya. Tapi ini lebih enggak pantas lagi kalau yang disebut kampungan oleh Pak Luhud itu sesepuh yang ee sangat dihormati. Bahkan mungkin sekarang ini kalau untuk lingkup TNI dia yang paling dihormati seperti ee Pak Tri Sutresno ya. Bukan hanya karena usianya yang lebih sepuh, tapi juga pangkat dan jabatannya itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Luhud. Ya, coba ini kita simak apa yang dikatakan oleh eh Luhud ini ya. Saya bacanya di Kompas ya. Pernantiwan TNI Luhud Binsar Panjaitan menilai para pihak yang mendesak Gibran Rakabumi Raka dicopot dari jabatannya sebagai wakil presiden kampungan. Ah, itu apa sih? Kita harus kompak itu aja sekarang. Ini keadaan dunia begini ribut-ribut begitu kan kampungan itu. Ini Luhud menyampaikan itu di sana kepresidenan Jakarta kemarin ya hari Senin tanggal 5 Mei 2025. Kita harus fokus bagaimana mendukung pemerintahan dengan baik. Luhud pun menilai bahwa mutasi seorang prajurit TNI merupakan hal yang biasa terjadi dan dia menilai tidak ada kaitannya mutasi itu dengan sikap e trisutrisno ah enggak ada gitu-gituan itu kan bisa aja terjadi. Enggak ada hal aneh-aneh kok. itu ini maksudnya soal e pencopotan putra Pak Tri ya e lekanan Jenderal TNI Kunto Arif Wibowo eh sebagai pangkog Ilhan 1 yang kemudian dianulir dan dikembalikan jabatannya itu. Ini loud and clear ya. Ini keras dan jelas ini ya apa yang disampaikan ini khas dari Luhud. Tapi menyebut para senior itu kampungan, sebuah eh diksi yang sering digunakan oleh Luhud kepada mereka yang lebih senior. Jelas ini bakal menimbulkan ketidaknyamanan bahkan kemarahan dari para purnawirawan lainnya. Dalam dunia keprajuritan yang hierarkinya ketat, soal semacam itu benar-benar dijaga. Ya mungkin kalau orang Jawa nyebutnya unggah-ungguh ya, adab ee ya itu dengan para senior itu betul-betul harus di dijaga. Bahkan kendati mereka itu sudah pensio sudah purnawira. Hal yang seperti ini masih tetap diperhatikan dan biasa kalau norma yang berlaku seperti itu dan kita kemudian menerabas norma itu ya kita dianggap sebagai ee pribadi yang tercela gitu ya. Di lingkungan TNI di dalam hierarki yang ketat itu pangkat, jabatan dan angkatan ketika mereka lulus dari akademi itu sangat menentukan misalnya junior kepada junior memanggilnya bank dan sebagainya gitu dan mempersilakan dan sebagainya. Walaupun kadang-kadang mungkin pangkatnya lebih lebih rendah gitu ya yang seniornya, tapi mereka tetap menghormati. Ee tapi seniornya juga yang pangkatnya lebih rendah, apalagi jabatannya juga lebih ee rendah, biasanya mereka juga tahu diri gitu ya. Yang begini-begini ini berlaku sangat ketat di lingkungan ee TNI. Kalau sama angkatannya begitu ya, tapi pangkat dan jabatannya ada yang lebih tinggi ya, yang pangkatnya lebih rendah itu menyesuaikan diri. memang enggak seketat ketika mereka masih menjabat dalam kedinasan. Ini wajar ya seperti itu. Organisasi dalam tentara hierarkinya harus ketat. Kalau enggak ketat itu bisa ee berantakan itu ya nanti di merasa lebih senior dan pangkatnya lebih rendah tapi dia ee tidak mau diperintah oleh juniornya. Nah, kan bisa berantakan begitu. Mari kita bandingkan ya sekarang ini antara Pak Luhud dengan mereka-mereka ini para senior yang menandatangani petisi atau pernyataan sikap dari para purnawiran TNI itu yang kemudian disetujui oleh Pak Tri. Kita bandingkan langsung dengan Pak Tri dulu deh antara Pak Tri ini dengan Pak Luhud dari sisi usia kemudian sekolah, pangkat, dan jabatan. Dari sisi usia jelas Pak Tri jauh lebih tua dari e Luhud ya. Pak Tri ini usianya sudah 90 tahun. Sementara Luhud itu baru. Eah, karena dibandingkan dengan Pak Tri saya nyebutnya baru. Baru 77 tahun. Dan e kalau dari sisi akademinya, lulusan sekolahnya Pak Tri itu lulusan akademi teknik Angkatan Darat ee yang sekarang berubah menjadi zeni ya di Bandung tahun 1959. Sementara Luhud itu lulusan Akabri Darat tahun 1970. Jadi cukup jauh ya umurnya ya. pangkat sama-sama jenderal, tapi harus dicatat Luhud itu jenderalnya diperoleh setelah dia pensiun. Ya, itu nama disebut kemudian jenderal kehormatan. Beda dong dengan Pak Tri yang dia mendapatkan ee pangkat jenderal itu ketika dia masih aktif di kemiliteran gitu ya. Nah, Pak Tri ini ee panjang sejarahnya dan pengalaman apa pengalaman staf teritorialnya dan sebag dan komandonya itu eh sangat lengkap karena Pak Tri kan dikenal ee pernah menjadi ajudannya Pak eh Pak Harto sampai 4 tahun lagi jadi jadi ajudannya itu karena Pak Harto terkesan pada waktu menghadiri pemaparan di sesquat pada waktu Pak Tri masih pangkat mayor begitu ya. Dan kemudian setelah dia lolos magang sebagai ajudan, biasanya memang di eranya Pak Harto itu kalau ajudan itu mereka-mereka yang disiapkan jadi pemimpin TNI di masa depan. Kemudian eh Trisutno itu dia menjadi kasdam dipromosikan menjadi Kasdam Udayana tahun 1978 dan kemudian dari sana dia kemudian dipromosikan menjadi panglima Kodam Sriwijaya di Palembang setahun kemudian. kelihatan banget ya kalau Pak Karir yang sangat cepat dan kemudian ee dipromosikan lagi menjadi ke Pangdam Jaya di Jakarta tahun 1982 dan setelah itu dia menjadi kepala staf ee TNI Angkatan Darat tahun 1985 dan ee kemudian karirnya ee melejit sampai ke puncak pimpinan TNI dia ditunjuk menjadi ee panglima ABRI saya menyebutnya masih sudah TNI padahal waktu itu masih ABRI maksudnya karena TNI dan Polri itu di bawah waktu itu masih menjadi angkatan keempat ya kepolisian ya dan itu dia diangkat menjelang ee sidang umum MPR 1998 dan karirnya kita tahu kemudian terpilih menjadi wakil presiden. Bagaimana dengan Pak Luhud? Luhud ini harus diakui dia ini ee orangnya cerdas. Dia lulusan terbaik Akabri tahun 1970 sehingga dia mendapatkan penghargaan Adi Makayasa. Tapi rupanya karir militernya enggak terlalu mulus. Karena untuk jabatan teritorial misalnya tertinggi dia itu hanya menjadi dan rem itu di danrem di Madiun dia tidak pernah menjadi pandam gitu ya. Kemudian kepala staf TNI Angkatan Darat apalagi Panglima TNI. Eh karir militernya itu memang banyak dihabiskan di lingkungkan ee Kopasus. Kalau dulu namanya Kopasandar TNI Angkatan Darat. Dia pernah menjadi komandan di Tasmen Anti Teror 81 yang pada waktu itu Mayor Prabowo yang menjadi e wakilnya. Dia kemudian pernah menjadi komandan pusat kesejahteraan infantri pusenif hingga komandan pendidikan dan latihan Kodiklat TNI Angkatan Darat. Pada waktu itu jabatan ini masih posisinya masih bintang dua ya sama dengan Pangdam tapi secara ee gengsi kalah dengan ee Pangdam itu ya. Kalau sekarang eh dua jabatan ini e pusenif eh pusat kesejahteraan infanteri dan kodiklat ini kodik latat ee e ini biasanya begitu disebutnya itu pangkatnya bintang tiga. Nah, kemudian dia itu baru mendapatkan kenaikan pangkat setelah dia tidak lagi aktif di ee dunia militer menjadi jenderal gitu ya. Bagaimana p dengan para penandatangan pernyataan sikap atau petisi dari para purnawirawan itu? Di sini menarik ini. Ada dua orang teman satu angkatan Luhud di Akabri 1970, yakni eh Jenderal Far Rozi dan Tiasno Sudarto. Jenderal Tiasno Sudarto secara akademis eh Luhud memang paling moncer karena dia penerima AD Makayasa. Tapi karir di militer keduanya lebih moncer. Fahrur ini terakhir dia menjadi wakil panglima TNI. Meskipun kalau ee penugasan di teritorialnya enggak selengkapno ya. Tapi dia pernah menjadi orang nomor dua di TNI. Ee makanya kemudian tanda tangannya dia paling atas gitu ya. Kemudian di bawahnya itu ada Jenderal Tiasno Sudaro. Ini yang dia e karnya cukup lengkap. Dia pernah jadi pangdiponegoro. Wah di Pangdiponegoro kalau di eranya Pak Harto Tumang orang-orang pilihan. Kemudian menjadi Kepala Badan Intelijen Strategis eh Kabais yang jabatan yang sama yang diembat juga oleh Pak Yayat yang beberapa hari yang lalu saya wawancarai dan kemudian menjadi kepala staf TNI Angkatan Darat. Jadi walaupun sama-sama ee 70 gitu, tapi secara senioritas di kemiliteran dari sisi pangkat dan jabatan ya Pak Fahr Rozi dan Pak Tiasno Sudarto itu lebih senior dari eh Pak Luhud. Hanya di pemerintahan ya mereka ee kalah senior gitu. Jadi artinya sebenarnya juga enggak pantaslah kalau walaupun mereka teman satu angkatan tapi dari si ee pangkat dan jabatan gitu lebih tinggi disebutnya kampungan itu enggak pantas gitu. Bagaimana dengan Selamat Subianto? Selamat Subianto itu adalah lulusan ee di angkat akademi angkatan laut eh ke-19. 19 itu berapa ya? Di sama dengan Akab 1973 kalau tidak salah ya. Kalau benar itu 1973 tolong dikoreksi saya enggak hafal. Kalau angkatan-angkatan begini itu berarti dia jadi bareng ee lulusnya bareng dengan Pak SBY. Karena zaman dulu itu mereka memang masih jadi satu ya. Kalau ada berbagai-kegiatan mereka itu masih jadi satu tidak terpisah-pisah. Dan eh jangan lupa Pak Samat Subianto itu dia mencapai jabatan tertinggi di Matranya sebagai kepala staf TNI Angkatan Laut. Makanya pangkatnya Laksamana ini Laksamana asli ya, bukan Laksamana yang e penghormatan gitu. Satu lagi penandatangannya adalah Marskal Hanafi Asnan. Ini akademi Angkatan Udara 1969. ini jelas lebih senior dari Pak Luhud yang dia Kabri 1970 dan e pangkat serta jabatan ee selama di TNI juga lebih tinggi ya karena dia pernah menjadi kepala staf TNI Angkatan Udara. Jadi yang enggak tepat kalau kemudian Pak Luhud itu menyebut senior tuh ee kampungan gitu ya hanya karena mau bela Jokowi dan anaknya. Apalagi secara substansi nanti kalau kita bahas jelas apa yang dilakukan oleh Pak Tri dan beberapa para senior itu bukan bukan kampungan, ada dasarnya yang sangat kuat ya. Kalau Pak Luhud itu bela-bela Pak Jokowi itu biasa ya karena dia kan memang sejak dulu seperti itu. Karena dia ini kan adalah ee tangan kanannya Pak Jokowi pada waktu itu dan jabatannya banyak banget di eranya Pak Jokowi. Saya enggak tahu jumlahnya berapa. Waktu terakhir saya menghitung 27 tapi kelihatannya tambah terus. mungkin sangat jadi bisa jadi lebihlah begitu dan dia ee ini memang dikenal di daerahnya Pak e Jokowi ketika ada apa persoalan pasti dia yang akan menyelesaikan persoalannya itu. Nah, sekarang ini kan ee dia ini menjadi ketua e Dewan Ekonomi Nasional, [Musik] Denjelang hari raya ya kalau tidak salah ya tanggal 31 Maret itu seali menjelang hari raya Pak Luhud itu termasuk yang e datang ke sana ke rumahnya Pak Jokowi dan kemudian setelah setelah lebaran juga datang lagi. pada waktu itu dia juga pasang badan untuk Pak Jokowi ketika diserang soal ee pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh ee Jokowi dan keluarganya selama dia masih menjabat sebagai presiden. Dia mengatakan ee saya kan pembantu Presiden Jokowi selama 10 tahun. Saya saksi hidup. Ya, saya ulangi sekali lagi saya saksi hidup dan sebagai tentara saya tidak melihat ada pelanggaran-pelanggaran secara konstitusi yang dilakukan Presiden Joko Widodo pada waktu itu tidak saya lihat. Jadi siapapun yang bisa anu, saya bisa saksi hidup katanya. Ini kan suka menyatakan anu nih. Ini ini agak aneh juga. Dia mengklaim bahwa sebagai tentara dia bisa menyatakan tidak ada pelanggaran konstitusi. Kan yang menentukan ada pelanggaran atau tidaknya terhadap konstitusi bukan tentara ya. Tentara memang penjaga konstitusi. Tapi e untuk menentukan ada pelanggaran atau tidak bukan tentara. meskipun dia seorang jenderal seperti Pak Luhud, apalagi ada bias kepentingan pribadi di situ. Enggak tepat ini kalau dia menyatakan seperti itu. Nah, ini yang menarik. Pak Luhud itu juga menyatakan dia dia berpesan gitu kan. Saya baca di di mana ini di Kompas juga bahwa ee untuk semua orang agar memelihara budaya sopan santun. Ee hal ini katanya e ini karena ee lagi selepas bulan Ramadan. Sopan santun loh Pak Luhud menyatakan itu. Nah, kalau ngomongin senior kampungan, apakah itu bagian dari sopan santun? meskipun itu kemudian membela Pak Jokowi ya, membela junjungannya gitu. Bagaimana Jokowi enggak melanggar konstitusi ya? Apa yang terjadi pada Gibran yang dipaksakan menjadi eh calon wakil presiden dengan mengubah aturan di Mahkamah Konstitusi? itu jelas pelanggaran konstitusi. Makanya dia disebut sebagai anak haram konstitusi dan itu pasti bukan maunya Gibran, pasti maunya Pak Jokowi. Dan ee ini kan bukan kita saja yang menilai seperti itu. Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi pun menilai dan bukan menilai memutuskan ee ini adik iparnya Pak Jokowi Anwar Utsman pada waktu itu ketua Mahkamah Konstitusi kan melakukan pelanggaran berat dan kemudian dicopot dari jabatannya. Jadi e kurang bukti apaagi ya e kalau soal pelanggaran konstitusi. Belum lagi kalau kita bicara soal keinginan dari eh Jokowi di agar dia menjadi presiden selama tiga periode. Nah itu kan untungnya ditolak ya terutama oleh Ibu Megawati sendiri yang jadi induk semang dari ee Jokowi dan dia itu kadernya PDIP pada waktu itu. Ee belum setelah gagal dia berusaha untuk nambah masa jabatannya 2 sampai 3 tahun. Alasannya masih COVID. Jadi ini dia memang coba-coba selalu mengutak-atik otak-atik undang-undang, konstitusi dan sebagainya untuk kepentingan dia pribadi. Masa seperti yang begini dia saksi ee hidup bagaimana ketika itu masa enggak baca Pak Luhud ada pelanggaran-pelanggaran semacam itu. Nah, yang lebih parah lagi soal kampungan itu ternyata kalau kita simak penjelasan dari Pak Tri mengapa kemudian beliau itu eh bersedia menandatangani petisi itu dan ee kemudian mengetahui ini sebenarnya sudah sempat disampaikan dalam podcast ini dalam perbincangan saya dengan pengamat ee politik dan militer Selamat Ginting karena dia juga sempat bertemu dengan Pak Tri pada tanggal e 9 April lalu. Nah, ini sekarang ditulis oleh Tempo yang ini baru saja dia tanggal berapa ya? tanggal 1 Mei ini bertemu dengan ee Pak Tri. Di situ Pak Tri mengaku bahwa dia menyetujui Deklarasi Forum purnawirawan prajurit TNI menuntut pemaksulan Wakil Gibran Rakabuming itu. Alasannya karena dia menilai tindakan para purnawirawan itu merupakan upaya penyelamatan bangsa. Masa upaya menyelamatkan bangsa kok disebut kampungan ya. Dan Pak Tri menegaskan bahwa seluruh purnawirawan TNI dari berbagai matra kompak termasuk purnawirawan kepolisian. Soal ini saya kira kita perlu catatan ya, karena nanti kita jelaskan ee bahwa kemudian ada pernyataan sikap dari Pepabri ya yang meskipun tidak berani terbuka menentang Pak Tri tapi beda pendapat gitu ya. Jadi mereka ini kata Pak Tri, para purnawirawan ini ingin supaya negara itu bisa ditata kembali. Anda lihat isinya itu semua masalah pokok semua itu semua masalah berat. Kalau saudara orang Indonesia baca itu, kalau ini enggak diberesin rusak negara. Nah, ini kata Pak Trisutesno kepada wartawan TPUD kediamannya di Penteng Jakarta Pusat, Kamis 1 Mei 2025. Pak Trisutno mengaku itu bukan hanya berdiskusi dengan para purnawirawan, tetapi juga menampung aspirasi dari masyarakat sipil. Dan dia meminta publik menanyakan kepada ahli hukum tata negara, apakah pencalonan Gibran melanggar karena memaksakan umur untuk dicalonkan. Itu pasti akan didengar orang-orang masyarakat, bukan hanya purnawirawan. Kalau baik kita akan diam. enggak akan ngomong katanya ya. Jadi yang di yang dipersoalkan kan sekarang bahwa oh secara undang-undang enggak bisa dimakzulkan kalau tidak melakukan beberapa syarat pelanggaran antara lain ee tindakan tercela, kemudian melakukan tindak pidana, korupsi dan sebagainya gitu. Tapi kan yang dipersoalkan oleh para purnawirawan itu adalah proses dari pencalonan Gibran yang betul-betul memang labrak konstitusi. Ini kan kalau barang asalnya haram kan enggak mungkin tiba-tiba jadi ee halal ya orang seperti misalnya prosesnya orang mencuri katakanlah itu kan haram tapi kemudian itu disumbangkan ke masjid ee apakah barangnya menjadi e tidak haram? Tetap haram justru malah itu jadi persoalan kalau itu disumbangkan ke masjid. Jadi sama dengan dengan Gibran ini prosesnya aja sudah haram dan dia disebut sebagai anak haram konstitusi. Ya, saya kira wajar kalau kemudian ee para purnawirawan ini menuntut ee agar Gibran dicopot. Masa orang ee bicara hal semacam itu yang secara normatif anak saya kira anak SD juga paham bahwa itu pelanggaran e kok dibilang kampungan. Kita tunggu saja reaksi dari para purnawirawan yang lainnya. Karena sejauh ini kan kita e mengamati ini benar-benar para purnawirawan tuh hati-hati banget ya menanggapi soal itu. Karena ini urusannya dengan Pak Tri ya. ee misalnya PPAD itu kan baru meresponnya itu pada tanggal 28 kan e pernyataan dari para perwira TNI eh purwirawan TNI ini dibacakan tanggal 17 April dan tanggal 28 April itu baru ditanggapi artinya 11 hari berselang dan itu pun secara halus yang menyatakan bahwa itu adalah bukan sikap keseluruhan dari para purnawirawan tetapi mereka menghormati soal itu. seperti itu ya pernyataan dari PPAD dan belakangan akhirnya mereka bertemu kemarin kan ada enam organisasi para purnawirawan termasuk veteran ada LVRI legend veteran Republik Indonesia ada PPBRI PPAD PPAU eh PP eh AL dan juga PP Polri. Mereka kemudian mengeluarkan pernyataan sikap. Tapi itu pun juga ee mereka tidak berani frontal karena di situ cuman poin pertama kan mereka menyatakan bahwa di organisasi yang resmi di kalangan para purnawirawan TNI Polri itu ya mereka itu. Jadi artinya sebenarnya secara halus mereka menyatakan bahwa apa yang disampaikan oleh para purnawirawan yang didukung oleh Pak Teri itu bukan sikap resmi dari para purnawirawan. Ya walaupun bukan sikap resmi tapi kalau Anda sempat mengamati bagaimana opini publik, bagaimana pendapat publik, dukungan itu justru banyak di apa ee ditujukan kepada mereka ini para purnawirawan yang ingin agar ee Gibran itu dimakzulkan. Jadi ini bukan soal resmi atau tidak resmi, tapi ini soal kredibilitas yang dan juga soal legitimasi yang jauh lebih kuat dibandingkan mereka-mereka yang selama ini menjadi pengurus di organisasi para purnawirawan itu. Apakah sudah ditanyakan kepada para anggotanya bahwa mereka mendukung pernyataan sikap itu atau tidak? Ya, ini kan jadi masih jadi pertanyaan. Tapi lepas dari itu anyway kan mereka juga tidak ee frontal seperti Pak Luhud yang menyebut bahwa mereka yang ingin mencopot e Gibran Rakaboming sebagai wakil presiden itu kampungan. Berarti Pak Tri itu termasuk yang e disebut oleh Pak Luh sebagai kampungan. Ini bisa kualat ini loh, Pak Luh. Hati-hati saya Arif. Sampai jumpa lagi. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Tepuk tangan] [Musik] Yeah.

Subscribe juga akun:
Rocky Gerung Official
https://www.youtube.com/channel/UClp5BC5q94WufuaOl667JtQ

F&F
https://www.youtube.com/@FREEDOMANDFAIRNESS

MSD
https://www.youtube.com/channel/UCuwYsgOFjt6eYrJFRygR59A

Forum Tanah Air
https://www.youtube.com/channel/UCMJYWPTw-RqrBqmZMnusvXw

2025

#hersubenopoint
#hersubenoarief
#hersubeno
#fufufafa #gibran #kaesang