Jejak Hercules dan Ormas di Lingkar Kekuasaan Prabowo
Dari Tanah Abang ke lingkar kekuasaan, Hercules Rosario Marshall kembali mencuri perhatian publik. Bersama ormas bentukannya Grab Jaya, ia dikaitkan dengan serangkaian aksi premanisme hingga pernyataan kontroversial yang menyeret nama Presiden Prabowo Subianto. Apakah ini sekedar ekspresi loyalitas dari anak ideologis atau pertanda kebangkitan ormas jalanan di bawah bayang-bayang kekuasaan? Inilah hot topik, topik terhangat terkait isu-isu di nasional dan internasional yang berdampak signifikan terhadap kita semua. Hercules, Rosario Marshall dan ormas yang dipimpinnya Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu alias Grip Jaya kembali menjadi sorotan publik. Herkules dan ormas Grip Jaya dikaitkan dengan aksi pembakaran mobil yang disertai penganiayaan terhadap polisi, penyegelan sebuah pabrik hingga pernyataan yang menyebut Sutioso Bau tanah. Rangkaian aksi itu disebut tak lepas dari sosok Presiden Prabowo Subianto yang dianggap oleh Herkules dan Grip Jaya sebagai ayah mereka. Saya membacanya, Hercules memiliki persepsi bahwa ada kedekatan khusus atau utang budi di masa lalu. Terlepas ini benar atau tidak, artinya mereka merasa punya backing yang sangat kuat, kata guru besar bidang sosiologi Universitas Indonesia, Ricardi S. Adnan, Senin, 5 Mei 2025. Seperti dikutip dari BBC News Indonesia, Hercules adalah pria asal Timur yang telah lepas dari Indonesia menjadi negara merdeka, yakni Timor Leste. Pada 1980-an, Hercules dipungut oleh dua petinggi militer saat itu, Prabowo Subianto dan Zaki Anwar Makarim. Ia dibawa ke Jakarta merujuk pada buku karya Ian Wilson berjudul Politik Jatah Preman Ormas dan Kuasa Jalanan di Indonesia pasca Orde Baru. Salah satu tujuan membawa Herkules ke Jakarta adalah untuk alat kampanye publisitas yakni merangkul masyarakat Timur yang terbuang sebagai imbalan atas kesetiaan kepada Indonesia. Dalam buku itu, Herkules mengaku berhutang nyawa kepada Prabowo dan menyebut mantan komandan Jenderal Kopasus adalah satu-satunya orang yang bisa mukul saya tanpa saya balas. Kabit Media dan Publikasi DPP GR Jaya, Marcel Gual mengakui adanya hubungan emosional kuat antara Prabowo dengan Herkules dan Grip Jaya. Namun dia menolak jika disebut GRP Jaya memanfaatkan nama Prabowo sebagai backing. Kami tidak sedang menjual nama Pak Prabowo karena kami ada hubungan yang kuat antara Pak Herkules dengan Pak Prabowo. Begitu juga dengan Grab Jaya,” kata Marcel. Meski dibantah, aksi Hercules dan ormas Grab Jaya semakin berani setelah Prabowo naik ke tampuk kekuasaan usai memenangkan Pilpres 2024. Seperti baru-baru ini, publik digegerkan dengan aksi sekelompok massa yang melakukan penyegelan sebuah pabrik di Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Mereka memasang spanduk di depan pabrik bertuliskan pabrik dan gudang ini dihentikan operasionalnya oleh DPD Grip Jaya Kalteng. Grip Jaya Kalteng mengklaim aksi itu dilakukan karena pihak pabrik belum membayar kewajiban sebesar Rp1,4 miliar kepada seorang warga. Gubernur Kalteng Agustiar Sabran geram dan mengecam keras aksi Grip Jaya itu. Ini bukan negara ormas ya, negara itu ada konstitusi,” tegasnya. Kapolda Kalteng Irjen Pol Iwan Kurniawan menegaskan aksi Grip Jaya itu telah menyimpang dari aturan hukum dan akan melakukan penegakan hukum yang tegas. Bukan aksi anggota Grip Jaya saja yang menjadi sorotan. Herkules selaku pimpinan ormas tersebut juga menyampaikan pernyataan yang disebut offside oleh guru besar bidang sosiologi Universitas Indonesia Ricardi S. Adnan. Pertama, Herkules mengancam akan mengerahkan puluhan ribu anggotanya ke gedung sate tempat kerja Gubernur Jawa Barat, Dedy Mulyadi yang didukung Partai Gerindra. Pernyataan itu sebagai respons atas rencana Dedy yang ingin membentuk satuan tugas atau satgas anti premanisme di wilayahnya. Kedua, Hercules menyebut mantan Kepala Badan Intelijen Negara Lejen TNI Purnawirawan Sutioso Bau Tanah sebagai respons atas pernyataan Sutioso yang mendukung revisi undang-undang ormas dan tidak suka melihat pakaian ormas yang terkesan lebih tentara dari tentara. Tidak terima seniornya dihina. Sejumlah purnawirawan TNI marah. Mantan Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmantio bahkan menyebut Herkules sebagai preman memakai pakaian ormas. Mantan kepala B TNI Legend TNI Purnawirawan Yayat juga bersuara itu Herkules itu diselamatkan. Harusnya dia sadar bahwa dia bukan saja bau tanah, dia itu hampir dikubur,” kata Yayat. Hercules kemudian meminta maaf kepada Sutioso atas pernyataannya itu. Namun tidak untuk Gatot Normantio. Ia balik menantang. Saudara Gatot, saya tidak takut sama Anda. Saya tidak menghargai Anda. Kenapa kok Anda bisa begitu terhadap saya? bengis banget begitu loh. Aku salah apa? Aku tidak punya salah dengan Pak Gatot,” kata Herkules. Sebelumnya di awal tahun ini, Hercules juga menjadi sorotan setelah Grip Jaya bentrok dengan pemuda Pancasila di Blora dan Bandung. Dalam bentrok di Blora, sekitar 12 orang mengalami luka. Bertahun-tahun sebelumnya, Hercules juga kerap berurusan dengan hukum. Pada 2019, Hercules divonis 8 bulan penjara dari tuntutan 3 tahun karena terbukti menyerobot tanah di Kalideres, Jakarta Barat. Pada tahun 2014, Hercules dipenjara 3 tahun karena tersangkut kasus pemerasan dan pencucian uang. Padahal tahun sebelumnya Hercules baru saja divonis 4 bulan penjara karena terbukti melakukan perbuatan melawan aparat. Pada Mei 2003, Herkules dijatuhkan hukuman 2 bulan penjara atas kasus penyerangan kantor harian Indopos. Buku karya Ian Wilson berjudul Politik Jatah Preman, Ormas dan Kuasa Jalanan di Indonesia pasca Orde Baru menggambarkan rekam jejak Herkules. Pada 1980-an, Prabowo dan Zaki Makarim membawa Herkules ke Jakarta untuk pengobatan serta kampanye publisitas guna merangkul masyarakat Timur yang terbuang dengan memberi mereka pekerjaan dan pelatihan sebagai imbalan atas kesetiaan kepada Indonesia. Selain Hercules, pola perekrutan yang sama juga dilakukan untuk anak-anak Timur-Timor yang lain. Salah satunya adalah Domingos Savio yang berasal dari keluarga Frettilin. Pada awal kehidupannya di Jakarta, Hercules bekerja di sebuah bengkel bersama beberapa puluh kawan yang sama-sama berasal dari tim-tim. Namun, upah yang tak seberapa mendorongnya berjualan rokok di Tanah Abang. Meski sempat menjadi sasaran preman setempat, Pamor Herkules perlahan naik karena ia berani melawan balik. Seringkiali dengan goloknya,” tulis Wilson. Lama-kelamaan makin banyak orang yang jadi pengikutnya. Selain menjadi preman, Herkules dan gengnya disebut rutin dikontrak oleh pemerintahan Orde Baru untuk merundung dan merujuk rasa melawan kelompok pro kemerdekaan Timur-Timur di Jakarta. Namun, hegemoni Hercules di Tanah Abang mulai retak oleh perpecahan internal gengnya. reputasinya yang bengis dan tak kenal ampun hingga serangan dari kelompok lain. Herkules pun diusir dari Tanah Abang pada tahun 1997. Dia memindahkan kantornya ke kawasan dekat Jalan Rasuna Said dan tinggal sementara di Indramayu, Jawa Barat. Setelah diusir dari Tanah Abang, Herkules berusaha membangun kembali bisnisnya. Merujuk catatan Wilson, ia banyak bermain di jasa lukratif penagihan utang, keamanan, dan makelar tanah untuk melayani elit-elit bisnis dan politik. Jakarta. Belakangan Herkules mulai menancapkan pengaruhnya ke dunia politik. Pada Pemilu 2009, dia bergabung dengan tim kampanye Presiden Petahana Susilo Bambang Yudoyono alias SBY. Seiring dengan kebangkitan Prabowo Subianto dan Partai Gerindra, Hercules lalu merapat ke mantan patron militernya itu. Pada 2012, Hercules mengumumkan pendirian ormas bernama Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu yang disingkat dengan Grab. Wilson menuliskan, Grip jelas punya tujuan politis membawa Prabowo menjadi presiden. Organisasi dibuat dan ditujukan sebagai sayap operasional Gerindra. Anggotanya dari jaringan preman, bekas militer, milisi, kelompok seni, bela diri, penguasa lokal yang terhubung dengan Herkules dan Prabowo. Prabowo pun pernah ikut meresmikan kantor DPP GRI di Jakarta Barat pada Mei 2012. Walau punya hubungan dekat Sekjen Grip Jaya, Zulfikar mengatakan Prabowo tak masuk dalam kepengurusan Grip Jaya. Pak Prabowo itu posisi di Grip Jaya secara organisasi itu di atas tertinggi bagi kami Bapak bagi organisasi kita secara tersirat. Secara tersurat tidak ada dan secara pribadi ketum kita Bapak Herkules dengan Pak Prabowo itu hubungan emosional pribadi antara seorang ayah dan anak kata Zulfikar. Pilpres 2014 menjadi medan laga pertama grip dalam mendukung Prabowo menuju kursi presiden. Wilson menjelaskan, ada dua peran utama yang diberikan Prabowo untuk Grib saat itu yang disebut sebagai cermin pendekatan gaya kontra insurgensi agresif Prabowo dalam kampanye politik. Pertama, menjadi pasukan lapangan di akar rumput yang menyasar kaum miskin dalam pemberian bantuan dan makanan gratis. Kedua, mengoptasi para pemimpin lokal seperti orang kuat, kepala desa, tokoh agama, dan lainnya. Perlahan sebut Wilson. Grip mampu menghimpun loyalitas dari kalangan preman dan ormas. Namun langkah Herkules terhenti. Pada 2013, polisi menggelar razia anti preman dan menangkap Hercules. Pada saat ditangkap, tulis Wilson, Hercules konon di ultimatum. Apakah meninggalkan Grib dan misi politiknya untuk mendukung pencalanan Prabowo dan kembali berbisnis saja atau di penjara? setia kepada Prabowo yang menjadi patronnya, Hercules menolak tawaran itu dan dipenjara selama 4 bulan. Baru saja menghirup udara bebas, Hercules kembali ditangkap dan dijatuhi 3 tahun penjara. Jejaringnya untuk pemenang Prabowo pada Pilpres 2024 runtuh. Prabowo kalah, Jokowi menang. Keluar dari penjara, Herkules lalu mengganti nama ormasnya menjadi Grip Jaya dan menancapkan kembali pengaruhnya dalam kampanye Prabowo pada Pilpres 2019 hingga Pilpres 2024. Bahkan Hercules mengatakan akan memecat anggota Grib Jaya jika tak mendukung Prabowo. Guru besar bidang sosiologi Universitas Indonesia, Ricardi S. Adnan melihat fenomena kemunculan kembali Herkules dan Grip Jaya saat ini tak lepas dari sosok Prabowo yang tengah berkuasa. Ketika Pak Prabowo itu memiliki jabatan yang kuat, dia muncul. Tetapi ketika Pak Prabowo tidak kuat, dia tak muncul. kata Ricardi yang menekankan terlepas apakah aksi Grip Jaya dan Herkules itu direstui atau tidak oleh Prabowo. Hal itu kata Ricardi ditandai sejak Prabowo menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan semakin meningkat saat Prabowo menjadi presiden. Saya membacanya, Hercules memiliki persepsi bahwa ada kedekatan khusus atau utang budi di masa lalu. Terlepas ini benar atau tidak, artinya dia merasa punya backing yang sangat kuat, kata Ricardi. Tingkah laku Grip Jaya dan Herkules beberapa waktu belakangan ini bisa jadi gear atau gede rasa saja kegrana punya hubungan masa lalu,” imbuhnya. Senada sosiolog kriminalitas Suprapto juga melihat kemunculan kembali Herkules dan Grab Jaya tidak dilepas dari aspek historis masa lalu. Kalau sekarang muncul ke permukaan itu tidak bisa dilepaskan dari aspek historis. Prabowo sekarang menjadi presiden sehingga itu menjadi peluang bagi Hercules karena memiliki pembina yang menjadi presiden, kata dia. Selain itu, Suprapto melihat Hercules dan Grip Jaya juga selalu mendukung Prabowo sejak kontestasi Pilpres 2014. Hercules bersama ormasnya terlihat dalam upaya-upaya pemenangan Prabowo. Sehingga ketika berhasil tentu saja dia kemudian ingin mengambil tempat di dalam kegiatan-kegiatan yang ada di Indonesia. Dalam kalimat sederhana, mereka ingin muncul untuk menunjukkan eksistensinya, kata dosen purna UGM itu. Suprapto menekankan bahwa eksistensi itu baik-baik saja. Namun ketika melakukan tindakan-tindakan anarkis dan premanisme, pemerintah tidak boleh diam. Ketika ormas melakukan hal-hal yang merugikan negara dan masyarakat, jangan takut atau ragu untuk membubarkannya,” kata dia lagi. Sosiolog Ricardi menjelaskan, “Kedekatan antara ormas dan petinggi militer atau penguasa merupakan praktik umum yang digunakan pada Orde Baru hingga reformasi.” Hingga awal reformasi. Ormas itu memang dipelihara, termasuk yang sering membuat keresahan, premanisme dan seterusnya,” kata Ricardi. Ricardi menyebut ormasor ormas itu digunakan untuk mengamankan kepentingan penguasa dari kekuatan oposan. Oposan itu seringkiali diwakili oleh grassroot yang ada di masyarakat. Nah, untuk menghadapi grass root itu para penguasa atau di pemerintahan merasa enggak boleh dong tentara secara langsung. Kalau tentara yang menghadapi grassroot berarti junta militer. Nah, oleh karena itu dipeliharalah ormas-ormas itu sebagai kekuatan tandingan,” katanya. Di sisi lain kata Ricardi, ormas itu juga mengambil keuntungan dari backing yang diberikan oleh kelompok penguasa. Ormas itu mendapatkan status sosial dan terlihat hebat atau eksklusif dan juga keuntungan secara ekonomi,” ujarnya. Senada sosiolog Universitas Indonesia Ida Ruwaida Nur juga menyebut tidak sedikit ormas bentukan dari atas yaitu tokoh, public figure dan lainnya. Kelompok ini katanya digunakan sebagai kendaraan kepentingan bagi penguasa. Biasanya ekonomi hingga politik. Pembentukan ormas oleh pihak-pihak tertentu dengan dalih memperjuangkan kepentingan publik tentu patut dipertanyakan. Apalagi dalam kiprahnya justru menunjukkan wajah yang tidak toleran. Tidak pro demokrasi, lebih pro kekerasan. dan tidak pro rakyat,” kata Ida. Tribuners, aksi-aksi yang dilakukan oleh Herkules dan ormasnya dengan jejak kedekatannya dengan Prabowo mencerminkan dinamika politik dan kekuasaan yang penuh kontroversi. Namun dengan munculnya kembali tindakan yang mengarah pada premanisme dan anarkisme, penting bagi pemerintah untuk menanggapi hal tersebut dengan tegas. Sikap tegas diperlukan untuk memastikan bahwa stabilitas hukum dan keterlibatan masyarakat tetap terjaga. Tindakan yang merugikan negara dan masyarakat harus dihadapi dengan kebijakan yang berkeadilan demi menghindari terulangnya sejarah kelam yang bisa merusak tatanan sosial dan politik yang lebih luas. Download Tribun X sekarang menghadirkan lokal menjadi Indonesia. Yeah.
#didik
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baru
Video Production : Didik Ahmadi
Dari Tanah Abang ke lingkar kekuasaan, Hercules Rosario Marshal kembali mencuri perhatian publik.
Bersama ormas bentukannya, GRIB Jaya, ia dikaitkan dengan serangkaian aksi premanisme hingga pernyataan kontroversial, yang menyeret nama Presiden Prabowo Subianto.
Apakah ini sekadar ekspresi loyalitas dari “anak ideologis”, atau pertanda kebangkitan ormas jalanan di bawah bayang-bayang kekuasaan?
Inilah Hot Topics, topik terhangat terkait isu-isu di nasional dan internasional yang berdampak signifikan terhadap kita semua.
Jangan lupa follow akun-akun sosial media TribunPekanbaru.com untuk mendapatkan beragam informasi terkini dan updatenya:
YouTube: http://www.youtube.com/@tribunpekanbaruofficial
Facebook: https://www.facebook.com/tribunpekanbarufanspage
Saluran WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaLZdR04inolUp3tnz0Z
TikTok: https://www.tiktok.com/@tribunpekanbaru
Instagram: https://www.instagram.com/tribunpekanbaru