Klarifikasi Verrell Usai Disentil Pejabat Soal Program Barak Militer Siswa Dedi Mulyadi | INDEPTH
Kalau tidak mau dikritik, merasa selalu paling benar, tidak usah jadi pejabat. Saya terima kasih atas kritik, saran, bahkan tuduhan dan pelaporan sebagai gubernur yang melanggar hak asasi manusia, melanggar hak-hak. Lebih baik action, Mas, daripada terus kita bikin wacana. Kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. yang mengirim pelajar atau siswa nakal ke barak militer untuk dibina mengundang perdebatan. Ada yang pro tetapi tidak sedikit pula yang kontra. Kritik pun berdatangan atas langkah orang nomor satu di Jawa Barat itu. Salah satu kritik disuarakan artis sekaligus politisi muda Fel Brahasta yang kini duduk di bangku DPR RI Komisi 10. Namun siapa sangka kritik Verel terhadap kebijakan Dedi Mulyadi yang mengirim pelajar bermasalah ke barak militer menuai beragam komentar. Sampai-sampai Fel disentil Bupati Purwakarta Saiful Bahri. Ia Bupati Purwakarta tersebut menantang Verel untuk turun langsung ke lapangan menemui masyarakat agar tahu permasalahan yang sebenarnya daripada hanya duduk manis melihat isu dari media sosial. Kritik Bupati Purwakarta terhadap Verel pun ramai menuai banyak perhatian. Lantas apa tanggapan Ferel mengenai tantangan dari Saiful Bahri selaku Bupati Purwakarta tersebut? Perihal isu yang sedang ramai digoreng saat ini, saya hanya ingin meluruskan bahwa tidak ada sedikit pun di dalam video saya bahwa saya kontra terhadap sebuah kebijakan yang ada di dapil saya. Jadi saya anjurkan teman-teman semua kalau melihat video atau menerima pesan dibaca secara keseluruhan. Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi upaya pemerintah daerah untuk menerapkan kedisiplinan dan juga akhlak yang mulia untuk pendidikan karakter siswa-siswi yang sedang mengalami masalah perilaku. Pada prinsipnya saya hanya ingin menyuarakan suara mereka yang memiliki pandangan berbeda mengenai program yang ada di dapil. ya ambil saja itu sebagai bahan pertimbangan. Koreksi dan sempurnakan programnya. Saya kira saat ini kita tidak perlu berkompetisi di sini untuk menunjukkan siapa yang paling kerja karena semua sudah ada porsinya masing-masing. Jadi kalau ada satu atau dua pihak yang merasa tersinggung saya anggap mungkin mereka lagi banyak pikiran. Tapi jika saya rasa itu semua sudah dilengkapi oleh kepala-kepala daerah yang merasa tersinggung, good job. Best of luck. Dan jika saya diundang terutama yang ada diel saya dengan senang hati saya akan hadir untuk melihat secara langsung seperti apa program itu. Jadi ditunggu undangannya ya. Ya ampun Mas, Mas, Mas kan dapil sini. Mendingan turun deh, Mas. Mendingan lihat deh langsung deh daripada Mas berwacana. Nah, yang Mas maksud tuh yang pro kontra kekhawatiran tuh orang tua yang mana Mas? Ini orang tuanya nitipin semua. Senang dititipin di sini. Nah, gini deh, Mas. Ini kan ada yang mau masuk lagi 30. Kita bagi dua aja deh, Mas. Emas 15. Yang 15 dengan cara emas. Yang 15 kita lanjutkan dengan cara kita dibina di barat militer. Lebih baik action, Mas. Daripada terus kita bikin wacana. Yang harus dibuktikan malah kinerja gitu. Bukan hanya masalah pribadi, tapi soal kinerja dan kualitas. Yang pasti saya juga sudah mengkaji dan mengevaluasi program ini, tetapi saya apresiasi langkah dari pemerintah daerah untuk mengambil aksi yang konkret untuk bagaimana cara mereka bisa mentackle anak-anak yang tanda kutip nakal ini. Tetapi ketika kita pelajari lebih dalam, saya rasa tujuan dan programnya itu baik karena bukan hanya pendidikan secara fisik, tetapi di sana juga ada pendekatan secara emosional, secara spiritual. Jadi kita lihat dululah program ini akan seperti apa. Lalu itu tugasnya DPR untuk mengawasi jalannya pemerintah. Ketika nanti ada kendala pasti akan kita evaluasi dan kita rapatkan kembali. Kritikan terhadap Verel juga datang dari konten kreator yang juga seorang psikolog, Jessica. Dalam kritiknya, Jessica meminta Verel melihat langsung situasi lapangan. apa yang dialami dan dirasakan para siswa atau pelajar selama menjalani masa pendidikan di Barat. Bagi Jessica, apa yang dikatakan Verel hanya berlaku di ruang diskusi. Sebab yang disampaikan Verel mengenai kebijakan Dedi Mulyadi mengirim pelajar nakal ke barak militer hanya teori belaka, tidak kurang dan tidak lebih. Dari situlah banyak yang meragukan kapasitas Veral sebagai politisi muda yang duduk sebagai anggota DPR RI. Fel Bramasta mengkritik program Kang Dedi Mulyadi tentang pendidikan di barak militer. Gue enggak tahu ya ini videonya si Verel udah lewat di FYP kalian atau belum. Cuman yang belum kalian bisa langsung nonton di channel-nya PAN, Partai Amanat Nasional. Langsung aja ada videonya di situ. Di akhir videonya Felol Brahasta yang ada di akunnya pan itu ya eh Verel itu bilang menurut kalian gimana? Silakan tulis di kolom komentar ya. Ini menurut saya ya dan saya enggak nulis di kolom komentar karena enggak cukup jadi saya langsung bikin di video aja. Sebenarnya ya menurut gua pribadi omongan-omongannya Verol Bramasta itu tidak ada yang salah. Karena di videonya Verol itu dia itu menyebutkan beberapa teori ya, salah satunya juga teori psikologi. Tapi permasalahannya ya di sini saya sebagai anak psikologi saya menekankan bahwa teori itu bisa berbeda dengan kejadian yang ada di lapangan. Teori psikologi itu bersifat generalisasi tapi dalam praktiknya teori psikologi itu juga belum tentu bisa diterapkan di ee seseorang gitu loh. Jadi balik lagi kalau cuman ngomongin teori doang. Teori itu banyak banget. Tapi balik lagi untuk kerja nyatanya ya mesti El sendiri yang turun terjun langsung ke lapangannya. Lihat individu anak-anaknya seperti apa. Cocok diterapkan dengan teori yang mana. Yang ini yang itu. Apa teori siapa teori Car Roger atau teori siapa Freud dan segala macam itu beda-beda per individu. Menurut Ferod Bramasta kalau kita hanya menggunakan teori physical approach ya itu hanya akan membentuk karakter anak itu menjadi keras bukan jadi yang tangguh gitu. Well, omongannya Virel itu enggak salah tapi balik lagi harus terjun langsung ke lapangannya. Makanya ya menurut gua saran gua Verel itu mesti terjun langsung ke lapangan sama seperti Kak Dedi Mulyadi ya yang selalu terjun ke lapangan, selalu meriksa, selalu ngecek anak-anak yang ada di barak TNI itu kondisinya seperti apa, ditanyain satu-satu mau pulang apa betah di sini, di sini makanannya enak enggak, tidurnya nyenyak enggak, dan segala macamnya. Dan Verel tahu enggak kalau banyak anak yang lebih betah di barak TNI daripada pulang ke rumahnya? Tahu alasannya kenapa? Tonton sendiri deh. Itu ada banyak banget kalau gua jelasin di sini kepanjangan. Dan kenapa yang dibahas sama Fero Bramasa itu hanya physical approach gitu loh. Sedangkan dalam psikologi itu approach itu gak cuman gak cuman fisik aja gitu loh. Kenapa langsung berpikiran pendekatan fisik gitu? Emang menurut Virel tuh di barak TNI itu mereka tuh diapain gitu. Ada psychodynamic approach, ada behavior approach, ada cognitive approach, ada humanistic approach, ada sociocultural approach. Ada banyak, ada banyak. Dan itu harus diterapkan ke individunya masing-masing. Semua individu itu enggak bisa sama approach-nya. Bahkan ya dalam psikologi sendiri itu juga ada reinforcement atau penghargaan dan ada punishment atau hukuman. Ada positive reinforcement, negative reinforcement, positive e punishment, negative punishment. Itu ada dalam psikologi. Berarti hukuman itu memang ada dalam psikologi nih, Ferel. Kalau ngana ngomongin psikologi, ya saya balas menurut psikologi juga. Teori tanpa praktik itu sama aja nihil, Verel. Kalau cuman teori doang, semua orang itu bisa membuat teorinya masing-masing. Tapi begitu kita praktik terjun ke lapangan, enggak semuanya bisa diterapkan sesuai dengan teori, gitu loh. Malah gua pribadi mikir gini, “Ya, gimana kalau anak-anak yang di barak TNI itu duduk di DPR, nah yang di DPR itu dimasukin ke barat biar tahu gitu loh di dalam barak TNI itu mereka disuruh ngapain aja tuh biar tahu gitu. Biar enggak cuman komentar aja menolak, mengkritik kebijakan dari ee Gubernur Jawa Barat tuh biar tahu gitu.” Atau gini, Verel aja sendiri ya yang mendidik anak-anak Naal itu menurut teori yang e benar menurut Verel. Kayak Virel ini duduk aja di situ. Enggak tahu tapi situasi kondisinya seperti apa. Bahkan ya di barak TNI itu ya yang gua baca-baca di situ tuh ada dokter, ada psikolog, ada guru biasa, ada guru ngaji juga. Kurang bagus apa ini program itu anak-anak yang biasanya di rumahnya enggak dikasih makan sampai kenyang sama orang tuanya. Di barak militer, di barak TNI mereka bisa makan dengan kenyang. Yang biasanya di rumah mereka tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kedua orang tuanya selalu berantem. Mereka di barak bisa tidur dengan nyenyak karena damai aman dan tentram. Ayolah Fel. Anda ini kan anggota DPR yang dipilih oleh rakyat. ya sudah sepatutnya Anda turun ke lapangan langsung ber apa ya berdialog dengan masyarakat gitu loh langsung terjun gitu mengetahui apa keluhan-keluhan masyarakat Anda kan DPR Dewan Perwakilan Rakyat turun terjun langsunglah ke lapangan berdialog jangan cuman mengkritik dan hanya tahu dari sosial media aja turun langsung kelamaan kalau nunggu pakai teori sama diagnosa ini kejadian-kejadian kayak gini nih udah lama saat ini tuh saatnya kita bertindak gitu tinggakan nyata, kerja nyata, bukan teori lagi. Yang namanya public figure ke dunia politik sudah dipandang sebelah mata. anak muda terjun dunia politik di pandang sebelah mata. Dan memang tanggung jawabnya itu yang kayak saya bilang tadi gitu, bukan hanya sekedar saya dan keluarga dan tim, tapi seluruh masyarakat terutama Jawa Barat 7uh ya yang sudah milih saya kan. Alhamdulillah kemarin hampir 100.000 orang yang memilih gitu. Dan untuk orang yang pertama kalinya nyalek itu lumayan luar biasa gitu kepercayaan yang diberikan kepada saya. Jadi sebisa mungkin saya udah harus selesai sama diri sendiri dan fokus kepada mereka. Sikap kritis verel terhadap kebijakan Dedi Mulyadi mengenai pendidikan di barak benar-benar menuai perhatian. Di media sosial, publik seakan terbelah. Ada yang pro terhadap Verel dan banyak pula yang mendukung langkah Dedy Mulyadi. Salah satu dukungan diberikan guru senior yang sudah 28 tahun mengabdi sebagai seorang pendidik yang baru-baru ini menyampaikan pandangannya terhadap kritik Verel yang menurutnya hanya benar-benar teori bukan sebagai praktik lapangan. Sementara Dedi Mulyadi sendiri mengaku terbuka atas kritik dan masukan yang disampaikan oleh siapapun terkait kebijakannya, termasuk terhadap Verel yang dianggap keras mengkritiknya. Saya hanya ingin mengingatkan kita semua di sini sudah menjadi pelayan masyarakat apapun lini dalam trias politikanya. Baik kita di eksekutif, di legislatif ataupun diudikatif. Saya sebagai anggota DPR RI memiliki tupoksi saya salah satunya adalah mengawasi jalannya pemerintahan baik pemerintah pusat ataupun sampai ke pemerintah daerah. Jadi saya juga berharap bagi teman-teman yang sekarang sudah menjabat atau menjadi pejabat untuk tidak anti kritik terhadap siapapun baik masyarakat ataupun wakil rakyat yang memang tugas kita adalah mengawasi jalannya pemerintah. Karena saya rasa ini untuk kita semua. Saya tidak menyindir satu atau dua pihak. Sebagai pelayan masyarakat, kita harus siap dikritik. Kalau tidak mau dikritik, merasa selalu paling benar, tidak usah jadi pejabat. Terima kasih ya pada semua pihak yang memberikan perhatian khusus terhadap upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengatasi anak-anak di Jawa Barat, remaja yang berperilaku khusus. Saya terima kasih atas kritik, saran, bahkan tuduhan dan pelaporan sebagai gubernur yang melanggar hak asasi manusia, melanggar hak-hak anak. Bagi saya ini adalah bagian dari resiko yang mesti saya hadapi di tengah-tengah konsen dan upaya saya agar anak-anak di Jawa Barat memiliki masa depan yang baik. Untuk itu saya yakin seluruh kritik, saran, dan pelaporan itu adalah didasarkan pada konsen dan keberpihakan pada anak-anak dan remaja di Jawa Barat. Untuk itu saya menyampaikan sebagai ajakan. Apabila Bapak dan Ibu memiliki konsen dan keberpihakan terhadap anak-anak di Jawa Barat yang berperilaku khusus, maka kami dengan tangan terbuka mengajak untuk bersama menyelesaikan. Saya ingin menanggapi salah satu anggota DPR RI Komisi 10 tentunya tentang pendidikan. Nah, ini kebetulan saya adalah seorang guru yang sudah 28 tahun bertugas sebagai guru, juga pernah jadi kepala sekolah selama 11 tahun dan mengalami rotasi rolling baik guru maupun kepala sekolah di enam sekolah. Nah, tadi yang saya dengar dari salah satu anggota DPR RI Komisi 10 bidang pendidikan mungkin semua sudah kenal dengan Parel Bramasta ya. dengan sosok yang ganteng, dengan kalem, dengan memposisikan diri. Seorang anggota DPR yang mengerti tentang pendidikan dan tentang bagaimana tupoksi seorang guru. Apakah semua yakin dengan apa dia yang miliki untuk berada di Komisi 10? Silakan komentar di kolom komentar. Cuma pada kesempatan ini ingin saya sampaikan bahwa apa yang dibicarakan, yang diomongkan oleh Mas Parel tersebut sangat-sangat benar kalau menurut teori kajian pendidikan. Bagaimana cara menangani siswa dengan cara yang begitu elegan, dengan begitu tertata rapi, itu bisa dilaksanakan jika anaknya anak yang memang tidak bermasalah. yang diilakukan oleh Kang Dedi itu adalah bagi siswa-siswa yang bermasalah yang tidak bisa lagi ditangani oleh orang tua bahkan oleh saya yakin oleh KPAI saham yang hanya cuap-cuap saja atau pejabat negara atau kementerian yang hanya mengurusi kurikulum-kurikulum dan juga masalah kesejahteraan guru yang tidak ada habis-habisnya dengan berbagai aplikasi itu yang disebabkan oleh lingkungannya baik luar warga maupun lingkungan yang lainnya sehingga anak tersebut tidak bisa ditangani. Kang Dedi Mulyadi atau KDM begitu yang akrab disapa tidak akan mundur atas kebijakan mengirim pelajar nakal ke barak militer meski mendapatkan banyak kritikan. Dan yang menarik, Dedy Mulyadi atau KDM berencana mengirim para preman ke barak militer untuk dibina. Itu disampaikan Dedi Mulyadi terkait maraknya aksi premanisme yang tidak hanya mengganggu ketenangan masyarakat, tetapi juga menghambat investasi. Iya, dalam beberapa pekan ini aksi preman memang meresahkan. Dari situlah mantan Bupati Purwakarta itu berencana mengirim para preman nonpidana. Artinya yang tidak terlibat hukum pidana akan dikirim ke barat untuk dilakukan pembinaan. Lantas kapan rencana tersebut akan resmi digulirkan? Banyak orang yang bertanya, “Apa sih langkah Kang Dedi untuk penanganan?” Orang yang dewasa tukang mabuk, preman-preman yang suka malak, mengganggu UMKM, mengganggu investasi. Begini, ada dua hal yang berperilaku pidana, maka proses hukum akan berjalan. Kemudian juga ada upaya yang bisa dilakukan pembinaan terhadap mereka yang tidak memenuhi unsur pidana tapi bikin resah yaitu dibawa ke barak militer setelah program pendidikan bela negara pendidikan kedisiplinan untuk anak-anak Jawa Barat selesai. Nah, bulan apa ya? Mudah-mudahan bisa bulan Juni kita sudah bisa mulai berjalan. Jadi, pemuda-pemuda dewasa nakal, yang preman, yang mau jadi preman, yang tukang mabok, tukang bikin onar, mengganggu pasar, mengganggu perempatan, mengganggu investasi, nanti kami akan arahkan untuk mengikuti pendidikan bela negara di barak militer. Tetapi pasti ada keluarga yang ditinggalkan. Nah, untuk keluarga yang ditinggalkan, mereka yang mengikuti pendidikan akan kami arahkan untuk bekerja. Jadi, kuli bangunan, kuli kayu, tukang mikul, tukang macul, tukang nanam, dan kemudian kami akan memberikan upah yang akan kami kirimkan bagi keluarga yang ditinggalkan. Ini cara kami untuk menyelesaikan berbagai problem secara bertahap. Sabar untuk semuanya. Nah, selesai sudah Cumi Lovers. Saksikan terus Cumi Cam Indap. Kabar lengkap, mendalam, dan akurat dari narasumber terpercaya. Dan jangan lupa untuk like, subscribe, dan juga share channel YouTube Cumi Cumi-cumi
Kebijakan Gubernur Jawa Barat Deddy Mulyadi, yang mengirim pelajar atau siswa nakal ke barak militer untuk dibina, mengundang perdebatan. Ada yang pro, tetapi tidak sedikit pula yang kontra. Kritik pun berdatangan atas langkah orang nomor satu di Jawa Barat itu. Salah satu kritik disuarakan artis sekaligus politisi muda Verrell Bramasta, yang kini duduk di bangku DPR RI Komisi Sepuluh.
Namun siapa sangka, kritik Verrell terhadap kebijakan Deddy Mulyadi yang mengirim pelajar bermasalah ke barak, menuai beragam komentar. Sampai-sampai Verrell disentil Bupati Purwakarta, Saepul Bahri.
Ya, Bupati Purwakarta tersebut menantang Verrell untuk turun langsung ke lapangan menemui masyarakat agar tahu permasalahan yang sebenarnya, daripada hanya duduk manis melihat isu dari media sosial. Kritik Bupati Purwakarta terhadap Verrell pun ramai menuai banyak perhatian. Lantas, apa tanggapan Verrell mengenai tantangan dari Saepul Bahri selaku Bupati Purwakarta tersebut?
#verrellbramasta #dedimulyadi #cumicumidotcom
—
—
For Business Inquiries/Endorsement contact : business@creativeindigo.net
Kumpulan video berita gosip terlengkap, terhangat dan terbaru hari ini seputar selebritis Indonesia
Official Website: http://www.cumicumi.com/
Follow us on social media
Facebook: http://www.facebook.com/CumiCumiDotCom
Instagram: https://www.instagram.com/cumicumi.com_insta/
Twitter: https://twitter.com/indigo_cumicumi
WA Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaHOngNKmCPGtw8oLQ2u