Roy Suryo Desak Polisi Tunjukkan Ijazah Jokowi, Wajibkah? Ini Kata Eks Kabareskrim Susno Duadji

yang bernang menerangkan itu adalah UGM bukan hasil laborat. Saya ke Pak Susno. Pak Susno bagaimana Anda melihat bahwa ada pendapat dari Mas Ruby ini bukan digital forensik sebenarnya lab forensik yang harus dilakukan polisian nantinya akan bersifat analog karena ee Pak Jokowi sudah menyerahkan ini bukti aslinya kepada polisi. Tinggal dililakukan ee analisisnya. Bagaimana menurut Anda dari kepolisian seperti apa? Baik. Baiklah. Saya dari kacapat mata penyidik ya. Saya 35 tahun dari penyidik 35 tahun lebih gitu. I saya sangat sependapat dengan Pak Robi ya. Jadi ini masuk rananya analog karena ini produk administratif dan ini sangat mudah gitu kecuali memang permintaannya untuk panjang gitu. Jadi filmnya itu mau film panjang, film pendek. Ya kalau film pendek ini gampang sekali. UGM-nya kan masih ada. Reputasi UGM itu internasional bukan nasional. Tidak mungkin dia akan menjualnya dengan begitu murah. Kemudian Pak Jokowinya masih ada, teman kuliahnya ada, dosennya ada, kemudian dan lain-lainnya ada. Tinggal ditanya saja ke UGM, benar enggak punya mahasiswa namanya ini angkatan sekian tamat tahun sekian. Oh, benar katanya. I atau oh tidak benar gitu. Kalau oh benar baru nanti dilanjutkan pertanyaannya. Mana buktinya bahwa dia terdaftar? Oh, ini Pak ada di ee apa namanya buku induk kami nomor sekian fotonya ini ini hasil ujiannya ini ini ini. Berarti proses ijazah itu sampai dengan tamat. Benar. Nah, sekarang ijazah yang dipegang oleh Pak Jokowi itu yang dilihat ya. Jadi prosesnya sudah benar kan misalnya atau tidak kuliah berarti prosesnya tidak benar. Nah, sekarang yang diributkan jangan yang ditampilkan di medsos kan yang dokumen aslinya. Nah, setelah dokumen aslinya dilihat, nah, betul enggak ini ijazah yang Bapak keluarkan? Ya, betul gitu. Maka tamatlah riwayatnya gitu atau oh tidak betul. kami tidak pernah memberikan ijazah sama Pak Jokowi, maka berarti itu prosesnya palsu, ijazahnya pun palsu. Tapi kalau prosesnya benar, ijazahnya benar, enggak perlu diforensik analog ini. Jadi artinya kalau filmnya pendek ya enggak sampai seminggu tuntas ini. Tapi kalau mau film panjang kayak film India dua kali istirahat ya panjang dia. Oke. Kalau misalkan untuk filmnya panjang atau filmnya pendek menurut Anda Pak Susno, filmnya pendek ini apakah perlu? Seperti yang tadi disampaikan Pak Jokowi harus menunjukkan ijazahnya ke depan publik. Karena ini sebenarnya yang ditunggu-tunggu kan bukan di polisi, bukan di ini, tapi bagaimana Presiden ketujuh Republik Indonesia Joko Widodo menunjukkan ini ijazah saya. Menurut Anda seperti itu atau gimana? Pembuktian bukan ditunjukkan ke publik. Yang berhak melakukan pembuktian ya aparat penegak hukum. Nanti kan begitu dipanggil oleh aparat penegak hukum pasti dia menyerahkan ijazah yang asli. Aparat penegak hukum cross cek ke UGM. Setelah asli ya tak perlu Pak Joko yang nunjukkan. Jadi yang nunjukkan siapa? Aparat penegak hukum sebagai pers rilis pertanggungjawaban penyidikan pada masyarakat. Pertanggungjawab publik kami sudah lihat. Nah, nanti kalau disanggah lagi, wah aparatnya bisa di bisa di ini. Wah, aparatnya parcok. Wah, tak percaya sama laborat Indonesia. Kita harus laborat di luar negeri. Nah, itu sudah lain ceritanya. Itu film panjang namanya ya. Oke, kalau begitu ee Pak dari pernyataan Anda tadi yang menarik bahwa ini UGM sudah memberikan pernyataan bahwa benar-benar Pak Jokowi berkuliah terus juga dikuatkan dengan teman sangkatan yang mengaku bahwa ee mengenyang pendidikan 1 tahun lulus bersama dengan ee Joko Widodo. Menurut Anda, apakah memang ini sudah final ataukah memang ini masih terus menjadi pertanyaan? Karena kemarin sempat ada yang bilang bahwa ini dosen pembimbing yang bukan ee dosen ee skripsinya dari Jokowi dan segala macam. Tetapi apakah menurut Anda sebenarnya pernyataan UGM dan juga ada teman ini sebenarnya sudah bersifat akhir bahwa oke ini Jokowi adalah ee mahasiswa UGM dan benar-benar lulus mendapatkan ijazah dari UGM. Nah, debat itu ada dua macam ya. I satu debat-debat kusir. Du ilmiah berlandaskan hukum. I debat ilmiah berlandaskan hukum. Ya, begitu. Proses hukum, pembuktian, tidak asumsi. Kalau berasumsi yang diperdebatkan fotonya, yang diperdebatkan skripsinya, kan pokok masalah adalah ijazah palsu apa asli. Maka yang disidik itu proses mendapatkannya benar apa tidak? Siapa yang berwenang memberikan pernyataan? UGM. Apa alat buktinya? Ya, dokumen-dokumen yang ada di UGM. Kemudian yang diperdebatkan dua adalah ijazah yang dipegang Pak Jokowi. Siapa yang mengeluarkan? UGM. Prosesnya oleh UGM yang benang menerangkan itu adalah UGM, bukan hasil laborat. Nah, yang sekarang diributkan adalah yang beredar di medsos. Nah, kemudian keluar tuntutan Pak Jokowi harus nunjukkan ke publik ya suka-sukanya Pak Jokowi. Kecuali kalau proses hukum Pak Jokowi diminta oleh aparat penyidik menyerahkan barang bukti atau ijazahnya. Itu harus wajib hukumnya sebagai warga negara taat pada hukum. Lah kalau tiap hari dipamerkan pada publik ya hukum kita tidak begitu prosesnya. Oke. Oke, Pak. Kalau misalkan ini sebelum saya ke Mas Ruby, kalau melihat bahwa hingga saat ini masih terus ada kecurigaan dalam arti bahwa ini orang selalu membandingkan. Kalau kita lihat di Metsos bagaimana skripsinya kalau kata ee yang tersebar di Metsos ini bukan skripsi tapi tesis. terus juga tidak ditandatangani oleh ee dosen. Apakah memang kecurigaan-kecurigaan ini layak untuk diperiksa oleh penyidik ataukah memang sebenarnya penyidik harus mengikuti ee aturan-aturan yang sebenarnya sudah di sesuai dengan SOP dalam pemeriksaan ijazah ini asli atau palsu. Yang dipersoalkan ijazah kemudian melebar ke skripsi. Nah, skripsi dan sebagainya yang berwenang menjelaskan itu adalah UGM. UGM. Oke. Bukan publik. Nah, tetapi suara pelapor itu kan diadopsi dengan pemeriksaan saksi pelapor. Tapi apa yang dijelaskan oleh saksi pelapor selaras dengan yang dijelaskan oleh UGM atau tidak? Kalau tidak berarti yang benar siapa? Yang benar ya UGM dia yang ngeluarin kok. Iya. Oke. Oke. Saya ke Mas Rubi. Mas Rubi ini makin menarik. Kalau dari yang terlihat di media sosial, semua orang saat ini menjadi ee analisis dari menjadi analis dari ee ijazah Jokowi sendiri. Ada yang mengatakan bahwa kupingnya berbeda dengan kupingnya ee foto zaman dulu. Dulu pakai kacamata, sekarang sudah enggak pakai kacamata. Bahkan ada yang bilang bahwa ini bisa salah, bisa benar. Ada perbandingan yang tidak sesuai kalau di media sosial. Ya. Tapi kalau dari Anda yang merupakan pakar ee forensik, bagaimana tahapan dan apa sebenarnya yang ingin masyarakat ketahui apa saja yang dilakukan dari untuk mengetahui analisis forensik tersebut? Baik, ini kalau kita ngomong analisa digital forensik terhadap barang bukti digital ya, kita ngomongnya barang bukti digital. Kalau dalam konteks ini misalnya sebuah skripsi hasil scan, sebuah ijazah hasil scan. Nah, itu mungkin kita enggak enggak melihat ini konteksnya kasus Pak Jokowi ya. Kita melihat konteksnya ini digital evidence berupa skripsi ataupun berupa ijazah. Nah, kalau yang menyebutkan ataupun yang heboh di media sosial itu sah-sah saja masyarakat siapapun kelas apapun background keilmuan apapun sah-sah mereka mempunyai pendapat, mereka punyai persepsi yang berbeda. Itu sahsah aja. Tapi kalau dalam digital forensik itu yang jelas pertama kita waktu melakukan proses sebuah barang bukti digital, kita memastikan sumbernya asli apa tidak, dari mana ee apakah ee didapatkan dari e apa e barang bukti asli atau tidak. Itu pertama kita pastikan. Kedua, kita menjaga ee keasliannya tuh dari awal diprodce menjadi sebuah hasil scan sampai yang mau diperiksa itu harus tetap sama alias asli. Nah, itu ada ada metodenya, ada metodologinya. Nah, selanjutnya baru kita melakukan ee masuk ke proses ee analisisnya. Nah, proses analisis ini akan mempertimbangkan banyak faktor, banyak parameter. Di situlah baru kita bisa memastikan ee item-item yang ee yang bisa memberikan ee pembuktian-pembuktian apapun itu nantinya dalam saya enggak mau nyebutkan konteksnya detailnya, tapi itu ada tahapannya. Ini kita lagi-lagi ee berasumsi bahwa sebuah barang bukti barang bukti digital hasil scan skripsi ataupun ijazah. Nah, dari situ baru nanti mencari parameter-pameter ee keaslian atau detailnya seperti apa. Intinya intinya kalau masyarakat mohon maaf ee tadi apa memberikan pendapat ataupun berkesimpulan bahwa ee si ee apa dalam ee dalam data tersebut ee tampilannya seperti apa, tidak seperti apa. Nah, itu ee apa namanya? itu enggak bisa ee diterima bila bila kalau kita melihat dari sisi hukum ya enggak bisa diterima di sisi hukum bila dilakukan prosesnya tidak pada barang bukti digital yang asli yang bisa dipastikan dari awal sampai di proses digital forensik itu benar-benar masih asli. sedikit pun ada yang berbeda, sedikit pun ada perbedaan eh apa namanya karakteristik file maupun digital fingerprint-nya itu pasti akan membuat ee sebuah barang bukti digital itu berbeda. Kalau barang bukti digital sudah berbeda dari aslinya, otomatis hasil analisa apapun itu akan tidak sah secara hukum karena ee sudah dipastikan barang bukti itu tidak asli. Nah, jadi proses-proses ee digital forensik ee tahapan-tahapan tadi itu sangat penting sejak awal. Enggak hanya proses saat dianalisisnya aja. Analisisnya itu pun harus memastikan beberapa faktor dan sesuai teori yang ada ee baru bisa menampilkan parameter-parameter baik yang salah maupun yang benar. Nah, baru hasil analisis itu bisa kita terbitkan menjadi sebuah laporan digital forensik yang bisa digunakan untuk ee proses penegakan hukum.

KOMPAS.TV – Roy Suryo Desak Polisi Tunjukkan Ijazah Jokowi, Wajibkah? Ini Kata Eks Kabareskrim Susno Duadji.

#susnoduadji #jokowi #roysuryo #bareskrimpolri #poldametrojaya #polisi #ijazahjokowi #ijazahpalsu #ugm

Sahabat Kompas TV Jawa Timur jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Jawa Timur, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.

Jangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live.