Preman-preman Jakarta | PUTAR BALIK
Jakarta, kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Tapi di balik gemerlap lampu jalan dan gedung pencakar langit, ada denyut lain yang terus berdetak. Denyut kekuasaan dari jalanan yang dijalankan oleh mereka yang tak memakai jaz. Tapi genggaman mereka bisa menenggelamkan satu [Musik] kota. Merekalah para preman dan Jakarta adalah panggung utama mereka. Siapa saja para jawara dan preman yang pernah menguasai ibukota? Dan inilah putar balik. [Musik] Jakarta adalah kota yang tak pernah benar-benar tidur. Di balik kemacetan, aktivitas kota yang begitu gemerlap, ada denyut lain yang lebih gelap, lebih keras yang dijaga oleh mereka yang disebut preman. Di tengah lorong sempit pasar, lahan kosong penuh konflik hingga kelub malam dengan gemerlap lampu, mereka hadir bukan hanya menjaga, tapi juga menguasai. Nama mereka bukan rahasia lagi, dari Tanah Abang hingga BSD, dari Blok M hingga Srengseng, legenda tentang Herkules, John K, Umar Key, Talib Makarim hingga Bang Uchu menyebar lewat kisah bentrokan berdarah. seketa lahan dan jatah reman. Sejak awal 2000-an, Tempo banyak menerbitkan kisah para preman, termasuk kasus-kasus kriminal yang pernah menjerat mereka. Salah satu sosok preman yang banyak ditulis tempo bahkan pernah melayani wawancara khusus adalah Hercules. Belakangan, pendiri ormas Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu atau Grip Jaya ini jadi omongan banyak orang karena kedekatannya dengan Presiden Prabowo Subianto. Nama asli Herkules adalah Rosario de Maral. Julukan Hercules itu bukan iseng. Ia direkrut Kopasus saat muda di timur-timur dan tangannya sempat putus akibat kecelakaan helikopter saat mengangkut logistik. “Dia anak buah saya,” kata Kolonel Purnawirawan Gatot Purwanto yang membawanya ke Jakarta. Di ibuota, Herkules mendirikan kekuasaan di Bongkaran, Tanah Abang. Ia membentuk jaringan bisnis keamanan, perjudian hingga pungli kaki lima. Pada 90-an ia dikenal sebagai penguasa pasar terbesar seAsia Tenggara itu. Waktu itu pungutan untuk lapak kaki 5 bisa mencapai Rp1 juta per bulan. Waktu itu saya dapat R,5 juta per bulan,” kata Alfredo Montero, salah satu mantan anak buah Hercules. Namun pada tahun 1996, kekuasaan Herkules runtuh. Ia dikalahkan dalam bentrokan berdarah oleh kelompok Betawi pimpinan Bang Uchu. Dari raja jalanan, Herkules mundur dan membangun jaringan baru, perusahaan jasa keamanan, ormas politik, hingga usaha perikanan dan pertanian. Tapi jejak kekerasan tetap mengiringi langkahnya. Desember 2005, Herkules dan anak buahnya menyerbu kantor harian Indopos. Saya menyuruh anak-anak memanggil pimpinan redaksi,” kata Herkules. CCTV menunjukkan dia dan 15 orang menerobos ruang redaksi dan menganiaya para staf. Hercules kemudian divonis 2 bulan penjara. “Saya siap dihukum kalau dinyatakan bersalah,” kata Hercules usai sidang. Tahun 2013, giliran polisi yang membalas. Setelah sempat bebas karena hanya terbukti melawan petugas, Herkules ditangkap kembali dengan tuduhan pemerasan dan pencucian uang. Ini pertama kalinya Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang diterapkan pada preman, kata Kapolres Jakarta Barat, Fadil Imran. Tapi pendapat publik waktu itu terbelah. Pengacaranya Boyamin Saiman membela Herkules sekarang pengusaha. Dia punya sawah, tambak, dan perusahaan keamanan. Tapi polisi punya hitungan lain. Hasil pengamanan Hercules bisa mencapai 3 miliar sebulan, terutama dari proyek pembebasan lahan. Kita kembali ke 96. Sosok jawara yang berhasil mengusir Hercules dari Tanah Bank adalah Muhammad Yusuf Muhi. Di kawasan Tanah Abang, sosok ini lebih dikenal dengan sapaan Bang Ucu Kambing. Nama itu muncul karena memang ia sebagai penjagal kambing dan jawara. Bang Ucu belajar silat dari Engkong Sabeni dan mengalami banyak perkelahian. “Kalau ada yang jual, gue beli,” kata dia. Setelah bersama kelompok Betawi mengusir Herkules dari Tanah Abang, Bang Ucu lalu membentuk ikatan keluarga besar Tanah Abang. Hampir semua pusat hiburan saya pegang,” kata dia. Tapi di usia senja, ia menyepi di Cihideng, Bogor, Jawa Barat. “Sekarang yang udah pada jadi lupa sama saya,” kata Bang Ucu. Dari zaman Orde Baru hingga reformasi, para jagoan membentuk perusahaan legal. Abraham Longgana alias Haji Lulung misalnya mendirikan PT Putraja Perkasa. Ia memenangi tender pengelolaan parkir dan keamanan Blok F tanah Abang. Ia juga anggota DPRD dari P3. Kami masuk lewat tender resmi katanya. Kelompok lain pun bermunculan. Misalnya Forum Betawi Rempuk, Forkabi, Kembang Latar, Pemuda Pancasila, BPPKB Banten yang semuanya menawarkan jasa pengamanan, penagihan hutang, parkir liar, hingga penyediaan masa demo. Tak semua preman hidup di jalanan, banyak yang punya ormas, lembaga bantuan hukum, hingga gelar bangsawan. Herkules bahkan sempat diberi gelar oleh keraton Surakarta, Kanjeng Raden Haryo Yudo Pranoto. Kepada tempo Herkules sempat bertanya, “Saya ini siapa?” “Saya bukan orang Jawa, punya masa lalu kelam,” katanya. Tapi seorang kerabat keraton menjawab, “Semua sudah diatur Allah.” Dari wilayah Indonesia Timur lainnya datang nama John Refra K. Dia membentuk angkatan muda K atau AMK. Ini adalah organisasi dengan ribuan anggota. Kalau Herkules menguasai jalan, John membangun organisasi berbasis kekerabatan dan kekuatan hukum. Kami Taurus bisnis perpakiran atau klub malam, bukan kelas kami,” kata Agravinus tangan kanan John Ke. John K punya saudara yang bernama Umar Ke. Tapi beda dengan John, Umar meluaskan jaringan ke proyek sengketa lahan dan keamanan koperasi. Tahun 2010, Umar memimpin penyerangan terhadap kelompok Timur yang menjaga kantor koperasi Bosar Jaya di BSD Banten. Mereka bawa pedang dan samurai,” kata logo Valenberg, pemimpin kelompok lawan yang sempat dibacok di perut dan kepalanya. Bentrok serupa terjadi lagi di Club Blowfish Kitchen and Bar, Gedung Menara Mulia, Jakarta Selatan. April 2010, dua anak buah John K tewas. Menurut Agravinus, Lovis dijaga kelompok Flores pimpinan Talib Makarim. Ini bukan antara Kees, tapi antara Maluku dan Flores N. Jangan salah tulis,” kata Daud Kei waktu itu. Sidang kasus bllovfish di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jalan Ampera, justru memicu bentrok lanjutan. Tiga anggota Ke tewas, tapi polisi hanya menangkap kelompok Flores. Bagaimana mungkin tidak ada satuun dari Ke yang ditangkap? Kata Zakaria Sabon Cleden, tokoh NTT yang dihormati. Nama Thib Makarim muncul setelah peristiwa itu. Ia merupakan pengacara yang pernah membela artis Jaskia Mekaca juga pengusaha Tommy Winata. Tapi selain menjadi pengacara, ia diduga menguasai keamanan dunia malam elit Jakarta Selatan. Beberapa nama klub yang dijaga oleh dia adalah Blowis, Dragonfly, X2, hingga Vertigo. Semua dari tisu, snack, minuman, sampai narkoba ada, kata seorang preman senior. Tapi seorang preman senior bilang kepada Tempo, keuntungan Talib dari menjaga klub malam itu hanya setara uang jajan sebulan. jauh lebih kecil dibandingkan dengan pembebasan tanah yang bisa menghasilkan uang jajan setahun. Nama Talib sempat menghilang saat polisi mencarinya untuk dimintai keterangan soal bentrok di Ampera. Sejak era reformasi, setidaknya ada sejumlah bentrokan antar kelompok preman yang menggegerkan masyarakat Jakarta. Berbagai insiden ini jelas meresahkan warga. Polisi pun tak tinggal diam. Tahun 2008, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso dan Uri memerintahkan operasi preman. Ribuan orang ditangkap, tapi hanya segelintir yang masuk bui. Preman cuma cuti kata seorang warga Tanah Abang. Kalau polisi lengah, mereka balik lagi. Kepala Badan Reserse dan Kriminal PORI saat itu, Komisaris Jenderal Susno Duaji menjanjikan kami akan menangkap pentolan bukan cuma preman kecil. Tapi pertanyaannya tetap bergema. Beranikah polisi mengusik mereka yang sudah berbalut organisasi resmi, pengacara, bahkan partai politik? Polisi memang berkali-kali melakukan operasi preman. Ribuan orang ditangkap. Tapi hanya sebagian kecil yang diproses hukum. Sisanya dikirim ke parti sosial atau dibina. Wajar saja kalau warga bilang ya mereka itu cuma cuti dan setelah operasi pasti balik lagi. Pada kenyataannya struktur organisasi para preman ini masih bertahan. Di balik institusi resmi para jagoan tetap memainkan peran mereka. Dari jalanan rusuh di Tanah Abang hingga ruang sidang di Pengadilan Ampera. Dari proyek sengketa tanah hingga klub malam elit Jakarta adalah panggung para jagoan. Mereka bukan cuma memeras, tapi mengelola sistem. Seorang preman bilang, “Kami bukanlah preman, melainkan pebisnis yang mengerti Medan. Jakarta tidak hanya dihuni penguasa politik dan pebisnis legal. Ada kelas kekuasaan lain yang tak muncul di rapat resmi atau siaran berita. Mereka bekerja dalam gelap tapi menyentuh nyari semua sektor perkotaan.” dari pasar, diskotik, tanah kosong, area parkir, bahkan gedung [Musik] [Musik] parlemen. Preman-preman Jakarta saat ini memang telah menua. Sebagian menghilang. Ada juga yang masuk bui. Tapi beberapa di antara mereka kini memakai jaz dan berdasi. Jaringan organisasi praeman tetap hidup dalam bentuk yang lebih licin dan legal. Mereka bukanlah sekedar penguasa jalanan, melainkan pengelola sistem ekonomi gelap ibu kota. [Musik]
TEMPO.CO – Selepas kekuasaan Orde Baru runtuh, premanisme di Ibu Kota Jakarta kian marak. Dari kelompok Hercules sampai John Kei. Melalui usaha jasa keamanan sampai penagihan utang, mereka menguasai lahan-lahan kosong hingga hiburan malam. Tak jarang pertumpahan darah terjadi antar-kelompok ini. Polisi pun berkali-kali menggelar operasi pemberantasan preman dengan menangkap pentolannya, namun mereka tetap eksis.
Simak arsip Tempo mengenai isu terkait, melalui tautan berikut:
Kenalkan: Kanjeng Penata Perang
https://www.datatempo.co/MajalahTeks/detail/ARM20180612160946/kenalkan-kanjeng-penata-perang
GENG REMAN VAN JAKARTA
https://www.datatempo.co/MajalahTeks/detail/ARM20180612153601/geng-reman-van-jakarta
Jatuh-bangun Jawara Tenabang
https://www.datatempo.co/MajalahTeks/detail/ARM20180612153655/jatuh-bangun-jawara-tenabang
Kompilasi foto Hercules Rosario karya fotografer Tempo
https://www.datatempo.co/advanceSearch/resultSearch/page/8?category=foto&qws=hercules+
Laporan jurnalistik berkualitas dan enak dibaca. Untuk berlangganan Tempo, klik di sini: https://s.id/tempoaja
Baca Tempo edisi terbaru:
https://www.tempo.co/mingguan
Majalah versi cetak di sini:
https://linktr.ee/berlangganantempo
Official Website: https://www.tempo.co
Dukung Channel YouTube TEMPO dengan join membership Pendukung TEMPO.
Klik: https://www.youtube.com/channel/UC3QRoNY-nYDTNSv-1dR0P-g/join