#miketyson TAK TERBENDUNG SATUKAN 2 SABUK JUARA SEKALIGUS

Iron Mac terjatuh di atas ring dan seolah itu belum cukup. Lawannya mendaratkan pukulan ilegal lalu mengajeknya dengan sombong. Tapi Tyson bangkit dengan ganas, membalas dengan pukulan dan sikap khasnya yang penuh percaya diri. Membuktikan bahwa ia masih menjadi raja di ring tinju. Di hadapannya berdiri James Bond Cruser Smith. Petarung tinggi besar yang bukan hanya petinju sembarangan. Ia adalah juara dunia kelas berat versi WBA. Dikenal karena kekuatan pukulan kerasnya yang bisa mengakhiri pertarungan hanya dengan satu pukulan. Karena reputasinya itu hingga ia dijuluki sang penghancur tulang. Pertarungan ini lebih dari sekedar duel biasa. Ini adalah laga penyatuan gelar WBA dan WBC yang saat itu Tesen sebagai pemegang sabuk WBC dan ingin mencetak sejarah. Ketika Bell berbunyi, Tesen langsung menyerang seperti badai. Ia menghujani Smith dengan beberapa pukulan menggunakan gaya pickebonya yang menjadi ciri khasnya. Di ronde pertama, Smith dihantam pukulan telak yang bisa membuat petinju lain tumbang. Tapi ia mampu bertahan seperti tembok Cina yang tak mudah runtuh. Smith mencoba mengubahi bertarungnya. Ia berusaha terus-menerus merangkul Tyson. Berusaha meredam ledakan pukulannya. Namun terlalu sering merangkul akhirnya merugikan dirinya sendiri. Di ronde kedua, wasit sampai harus mengurangi satu poin Smith, sebuah keputusan langkah yang menunjukkan berapa seringnya ia memeluk Tyson. Namun, bukan Smith jika hanya bertahan. Di salah satu momen, ia berhasil mendaratkan pukulan keras dengan pukulan kiri yang membuat Tyson sedikit goyah dan pertarungan berjalan sengit. Tyson mulai menyerang ke bagian tubuh lawannya menghujamkan hook yang berlahan menguras tenaga Smith. Di pertengahan ronde dalam beradu serangan, Smith berhasil menjatuhkan Tyson. Tetapi momen itu tercoreng lantaran pukulan ilegal yang ia lakukan. Dan lebih parahnya lagi, ia mengejek Tyson setelah itu. Tyson pun tak tinggal diam. Ia langsung membalas bukan hanya dengan pukulan, tapi juga dengan energi dan semangat juang luar biasa yang hanya dimiliki olehnya. Suasana pertandingan semakin memanas. Kedua petinju tak hanya beradu pukulan, tetapi juga tensi dan emosi. Smith menunjukkan mental bajanya. Ia tak mundur, tetap berdiri dan menghadapi badai. Bahkan Tyson pun menghargainya. Namun di usianya yang 20 tahun, Tyson bukan hanya bertarung. Sedang menulis sejarah. Para juri memberikan kemenangan mutlak kepada Tyson. menjadikannya petinju termuda yang pernah menyatukan dua gelar juara dunia kelas berat.