Legenda sepak bola

Anak laki-laki miskin ini tak mampu membeli bola. Jadi ia berlatih mengasah skillnya menggunakan mangga. Bersama teman-temannya, mereka membuat bola dari baju bekas dan kaos kaki. Gang sempit menjadi lapangan mereka. Dari sanalah kemampuan sepak bolanya berkembang pesat. Ia sangat mencintai sepak bola. Suatu hari ia naik atap rumah untuk mendengarkan siaran pertandingan Piala Dunia. Tapi sayangnya Brazil kalah di babak final. Mendengar kabar itu, ia menangi sedih. Ia berjanji kepada ayahnya bahwa suatu hari nanti ia akan membantu Brazil menjuarai Piala Dunia. Keesokan harinya, ia dan teman-temannya ikut bertanding. Mereka tak punya sepatu dan hanya memakai jersey dari spray. Penonton pun menertawakan mereka. Untuk menjaga harga diri, mereka mengambil sepatu bekas yang tak terpakai. Namun, ukurannya tidak pas dan membuat mereka kesulitan bergerak. Mereka sering jatuh. Baru setengah pertandingan mereka sudah kebobolan empat gol. Tim lawan mengejek mereka. Bocah itu marah. Tapi saat melihat ayahnya, ia langsung tenang. Ia melepas sepatunya dan bermain tanpa alas kaki. Ia menunjukkan gaya bermain jingga, mengontrol bola dengan kaki, melewati lawan satu persatu, lalu mencetak gol. Teman-temannya pun ikut melepas sepatu. Sang bocah mulai bermain lepas dan terus mencetak gol. Meski akhirnya mereka kalah satu poin, ia mendapat tepuk tangan dari semua orang. Usai pertandingan, seorang pencari bakat memberikan kartu nama kepada ayah sang bocah. Ia direkomendasikan untuk bergabung dengan Santos FC. Tapi ia tak merasa senang karena klub itu mengutamakan gaya sepak bola Eropa. Pelatih bahkan melarangnya bermain dengan gaya jingga. Ia kehilangan rasa percaya diri dan tak bisa bermain seperti biasa. Sejak bergabung, ia belum mencetak satu gol pun. Ia mulai meragukan dirinya. Malam itu, ia mengemasi barang-barangnya dan hendak pulang serta berhenti dari sepak bola. Di stasiun, pencari bakat lama itu menemukannya. Ia berkata bahwa jingga adalah jiwa sepak bola Brazil dan menyemangati sang bocah untuk terus bermain dengan gaya itu. Bocah itu pun kembali ke tim. Kali ini ia mengabaikan larangan pelatih dan kembali bermain dengan gaya jingga. Ia melakukan gerakan putar lalu menggiring bola. Saat menghadapi pertahanan lawan, ia mengontrol bola sambil melompat dan mencetak gol dengan tendangan salto. Semua orang bersorak, bahkan pelatihnya mengakui kemampuannya. Sejak itu, jiwa sejatinya sebagai pemain jingga pun bangkit. Pada usia 18 tahun, ia mencetak enam gol sendirian dan membantu Brazil meraih Piala Dunia. Jadi sekarang pertanyaannya, siapa pemain bola favoritmu?