[INDO SUB] Cinta Tersembunyi (Hidden Love) EP02 | Zhao Lusi/Chen Zheyuan | YOUKU

♪Di tempat yang penuh senyuman dan keindahan itu♪ ♪Khayalan tentangmu tumbuh dengan bebasnya♪ ♪Mentari hangat di musim dingin seperti gigimu yang putih bersih♪ ♪Aku menunggumu menggangguku sepanjang hari♪ ♪Seperti angin sepoi-sepoi mendatangi harum bunga di bulan Mei dan Juni♪ ♪Tidak berani memeluk, bahkan bicara pun terbata♪

♪Waktu berlalu terlalu cepat, berfoto bersama sambil memeluk bunga matahari♪ ♪Tidak dapat menahan pengamatan yang terlalu serius♪ ♪Duniaku menyambutmu kedatanganmu mengunjungi keindahanku♪ ♪Aku mempersiapkan sikap baik yang tidak aku kuasai untukmu♪ ♪Aku juga menyambut kedatanganmu mengunjungi pulau sepiku♪ ♪Meskipun hanya ikan dan burung yang mendatangi pulauku♪ ♪Mungkin aku yang terlalu canggung dan terbiasa melarikan diri♪

♪Aku sudah bosan dengan segala gangguan dan hanya ingin menyimpanmu dengan baik♪ [Cinta Tersembunyi] [Episode 2] Sudahlah, aku tidak akan menunggu lagi. Sudahlah jika dia tidak datang. Pembohong. Tidak menolong di saat orang kesulitan, sama saja seperti Sang Yan. Pembohong. Sang Zhi? Cepat bangun. Kau tidak apa-apa, ‘kan? Apakah kau terluka? Mengapa kau tidak bicara?

Mana ada yang datang terlambat sepertimu? Jika begitu, seharusnya jam berapa? Aku sudah pulang sekolah pukul 16:20. Sekarang sudah lewat. Kakak tidak tahu. Jika begitu, aku minta maaf padamu. Kemudian, nanti aku akan mewakilimu untuk dimarahi gurumu. – Bagaimana? – Tidak perlu, ayo. Apakah dia juga akan muncul hari ini? Halo, Kakak Jiaxu.

Kau sudah bangun? Jika kau terlambat terlalu lama, maka kau tidak akan mendapatkan pacar seumur hidup. Kau tahu… Aku sudah lama sampai dan pergi membelikan susu untukmu. Tidak tahu balas budi, kau tidak boleh sembarangan bicara. Jika aku sungguh tidak bisa mendapat pacar seumur hidupku, maka habislah kau. Ayo.

Pergi ke kedai sarapan pagi itu untuk mengerjakan tugas. Ayo. Buku mengarang. [Buku Mengarang] Cepat kerjakan. Seharusnya dia tidak melihatnya. Apakah kau sudah sarapan? Jika begitu, aku pergi membeli seporsi sarapan. Apa yang enak? [Toko kue] Ini adalah roti kacang merah yang baru, apakah kau mau? Boleh. Kemudian, berikan aku sebotol air itu. Air madu?

Kau sungguh tidak mau? ♪Beri tahu aku apakah kau mendengar dunia bergerak cepat♪ Apakah kau mau yang lain? ♪Ini seluruh rahasiaku, aku harap kau menyukainya♪ Ini juga enak. Benar, aku ambil satu yang ini. ♪Namun, tidak bisa menahan kebahagiaanmu♪ Baik, berapa semuanya? ♪Aku punya firasat yang aneh♪ Pindai kodenya saja.

♪Mengetahui yang mencintai diam-diam bukan hanya aku seorang♪ Nanti, guruku akan terus mengadu padamu. Kemudian, kau hanya perlu terus mengiakannya saja. Aku sangat berpengalaman soal ini. Oh iya, kau jangan terlalu banyak berbicara nanti. Jika tertangkap dan kita ketahuan, maka habislah kita. Kedengarannya sangat menakutkan. Beranikan dirimu. Sudah tiba? Tidak apa-apa. Aku bisa. Permisi. Pak.

Kakakku sudah datang. Apa kabar, Pak? Aku adalah kakak Sang Zhi, Sang Yan. Kakak Sang Zhi? Pak, melihat dia begitu tampan, kau akan tahu dia pasti kakakku. Mengapa kakak Sang Zhi yang datang hari ini? Karena orang tuaku… Maaf, Pak. Begini, orang tuaku tiba-tiba harus pergi ke lokasi proyek hari ini

Untuk menghadiri rapat dengan pemasok bahan. Jadi, mereka menyuruhku datang. Belakangan ini kami menyadari bahwa setelah Sang Zhi pulang sekolah, dia tidak terlalu berinisiatif mengerjakan tugas. Jadi, kami ingin menemui Bapak untuk mengetahui keadaannya. Bapak harus membantu kami. Benar. Mari, duduk di sini. Apa marga Bapak? Aku bermarga Chen.

Belum ada masalah apa pun dengan nilai pelajaran Sang Zhi saat ini. Nilainya selalu menjadi juara pertama di kelas kami. Dasar pelajarannya juga sangat baik. Namun, belajar tetap saja memerlukan sikap sebagai pelajar. Dia tidak boleh sombong. Benar. Benar, ‘kan? Matematika… Kakakmu begitu tinggi, mengapa kau begitu pendek? Mengapa? Tidak boleh?

Ia mementingkan proses yang bertautan. Jika pelajaran ini… Guru kelasmu sungguh pandai berbicara. Setiap kali, isi pembicaraannya selalu sama. Kualitas pelajaran dan kemampuan berpikir ini… Lihat gesturnya. Lihat kakakmu yang menurut saja. Dalam hal belajar, kita harus mengejar keduanya. Kakak Sang Zhi, duduklah. Aku ambil sendiri saja. Terima kasih, Pak.

Kakak Sang Zhi, sebenarnya aku sangat tidak bersedia untuk merepotkanmu datang ke sekolah. Tidak, ini sebenarnya lebih menyusahkan Bapak. Yang terpenting adalah Sang Zhi ini membuatku sangat pusing. Aku sedang mengajar matematika, dia malah menggambar. Aku menyuruhnya berdiri menjawab pertanyaan memang agar membuatnya bisa fokus belajar dan mendengarkan penjelasan. Benar. Hasilnya, setelah berdiri,

Tanpa merasa bersalah, dia bertanya padaku sudah sampai di mana pelajarannya. Menurutmu, bagaimana murid lain bisa belajar jika begini? Ada hal seperti ini juga, Pak? Sang Zhi, kemari. Bagaimana bisa kau bicara begitu pada gurumu? Perbuatanmu ini tidak benar, kau harus menghormati gurumu. Kita tidak membicarakan ini dulu.

Sebelumnya, orang tuamu dipanggil karena ada masalah dengan Sang Zhi. Benar. Sebelumnya, apakah ibu atau ayahmu yang datang? Itu… Ibumu. Benar. Benar, ibumu. Benar. Itu sudah membuang banyak waktu ibumu. Benar. Hasilnya, waktunya terbuang sia-sia. Benar. Tidak ada perubahan sama sekali. Kakak Sang Zhi, setelah kau kembali,

Kau harus menyampaikan isi percakapan kita ini sepenuhnya pada ibumu serta ayahmu. Sampaikan pada ayahmu. Biarkan dia memikirkan dengan baik tentang Sang Zhi. Tentu saja, Sang Zhi sangat cerdas. Nilainya juga sangat menonjol. Tidak, apa pintarnya dia? Dia menjadi juara pertama semua karena Bapak mengajarinya dengan baik. Kami tahu semua itu. Bapak Chen guru teladan.

Kami sudah lama mendegar tentang Bapak. Yang terpenting, Bapak tolong sedikit memperhatikan Sang Zhi sehari-harinya. Pukul dan marahi jika perlu. Tidak, tidak boleh memukulinya. Tidak apa-apa, yang terpenting Bapak tegas mendidiknya. Kami juga merasa tenang. Benar. Anak ini cerdas. Kita semua menginginkan yang baik baginya. Benar. Benar, ‘kan?

Asalkan dia belajar dengan baik, nantinya pasti bisa terus naik hingga SMA. Aku juga percaya, di bawah bimbingan Pak Chen, Sang Zhi pasti memiliki masa depan cemerlang. Baik. Percakapan kali ini sangat berhasil. Pulanglah. Baik. Minta maaf dengan baik pada Pak Chen. Sampai jumpa, Pak. Minta maaf. Maaf. ♪Di sebuah sudut tersembunyi semestaku♪

♪Siapa yang tidak bisa menebaknya meski hanya terhalang oleh kaca♪ Kerjakan dengan baik. Setelah selesai, kau bisa mendapat kue. ♪Di planet itu♪ ♪Aku seperti balon yang sedang perlahan berubah menjadi ringan♪ [Asimov; “The End of Eternity”] ♪Kegundahan yang terlihat sedang melarikan diri♪ ♪Mengambang tanpa suara di sekitarmu♪ Kerjakan tugasmu dengan baik. ♪Saat aku perlahan mendekatimu♪

Jika tidak, kau minum dulu susunya. Jika sudah dingin, tidak… ♪Angin sepoi beraroma limau bertiup kemari♪ Ada apa? ♪Ujung jariku♪ ♪Menyapu lengan bajumu♪ Kau membuatnya terlihat seperti aku akan merebutnya saja. ♪Menyelesaikan sebuah permainan cinta diam-diam♪ Adik. Apakah mungkin kau marah karena aku bercanda denganmu tadi? Kau tidak bicara sepatah kata pun.

Aku harus mengerjakan tugas. Baik, kerjakanlah. Kakak. Apakah kau orang Nanwu? Bukan, aku orang Yihe. Yihe? Jika begitu, saat liburan musim panas, apakah kau akan pulang ke Yihe? Tidak. Mengapa? Mengapa kau memedulikan hal ini? Karena… Kerjakan tugasmu. ♪Bisakah aku bertemu sekali lagi denganmu?♪ ♪Tidak membiarkan keberanian kalah dari keraguan♪

♪Kerinduan yang disembunyikan akan berubah menjadi♪ ♪Rasa senang yang tidak bisa kita sembunyikan♪ [Episode 2, Mendekat; Apa yang membuatku bertemu denganmu?] [SMP Xuri] Aku masuk dulu. Tunggu sebentar. Apa ini? Aku mengintip karanganmu. Jadi, aku menulis yang baru untuk menebusnya. Kau… Kau mengintip karanganku? Aku hanya sembarangan menulisnya. [Seekor Anjing Terlantar]

Melihat pemandangan ini, aku menghentikan langkahku. Suasana hatiku berubah menjadi sama buruknya dengan cuaca. Setelah memperhatikan wajah anjing itu, aku tiba-tiba menjadi semakin sedih. Aku tidak tahan dan pergi berbicara dengannya. Melihatnya, aku teringat pada kakakku karena dia sangat mirip dengan kakakku. Ia seperti putra kakakku. Tidurlah lebih awal. – Aku pergi dulu. – Apa?

Tadi malam… [Membantu Kakak Pindah Rumah] Membantu kakak pindah rumah. Sang Zhi. Apa ini? Bukan apa-apa. Bukan apa-apa? Apakah surat cinta? Bukan, ini tugas yang aku kerjakan kemarin. Tugas? Ini sungguh tugas. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan. Sang Zhi. Mulai. Satu, dua, tiga, empat. Satu, dua, tiga, empat. Cukup, Fu Zhengchu, sudah.

Kebetulan sekali. Apa yang kebetulan, Fu Zhengchu? Kau menari satu kali setiap hari, apakah tidak malu? Aku berusaha masuk ke sekolah ini agar di mana pun aku bisa bertemu dengan kalian. Sang Zhi, apakah tarianku kurang bagus hari ini. Sudah aku bilang, temponya satu, dua, tiga, empat, dua, dua, tiga, empat. Satu, dua, tiga, empat.

Dua, dua, tiga, empat. Tiga, empat, temponya. Aku dengar minggu depan ada hari penting. Apakah kau ingin tahu hari apa itu? Aku tidak ingin tahu. Itu adalah hari ulang tahunku. Sang Zhi! Kau harus datang ke ulang tahunku minggu depan. Kau berulang tahun minggu depan?

Jika begitu, nanti aku akan mencari cara untuk mengajak Sang Zi pergi bersama. Sungguh? Serahkan hal kecil ini padaku. Jika begitu, aku… Datang bersama, Yin Zhenru. Pesan apa yang ingin kau makan. Baik. Sang Sang, apakah kau tahu tadi Fu Zhengchu… Bukankah kau alergi susu? Mengapa kau masih meminumnya? Aku tidak bilang akan meminumnya.

Selamat pagi. Selamat pagi. Jadi, mengapa kau membelinya? Mari, kelas dimulai. Berdiri. Apa kabar, Pak? Baik, duduk. Mari, buka buku pelajaran halaman 17. [Kakak bodoh] Membantu Kakak Pindah Rumah. Hari ini, aku membantu Kakak pindah asrama. Barang kakakku sungguh sangat banyak. Aku sungguh tidak tahu,

Mengapa pria seperti dia bisa punya begitu banyak barang tidak berguna. Titik-titik. Untung saja aku datang membantunya. Sungguh sangat kekanak-kanakan, seperti tulisan anak SD. Untung saja, ada juga hal beruntung yang terjadi. Aku bertemu teman sekamar Kakak yang sudah beberapa tahun tidak aku temui. Meskipun begitu bertemu, dia langsung mengatakan aku pencuri,

Namun, aku tahu dia hanya sedang bercanda denganku. Pencuri dari mana ini? Mengingat dia pernah memberiku bantuan besar dulu dan masih bersedia membantuku untuk kedua kalinya, aku tidak akan perhitungan lagi dengannya. Selanjutnya, aku juga tidak akan mengatakan dia tua lagi. Aku tetap akan mengatakannya.

Lalu, boneka rubah yang dia berikan benar-benar tidak jelek sama sekali. Meski begitu, namun, aku masih ingin memiliki Kakak seperti dia. Sedangkan kakakku, dia boleh pergi saja. Jika kau mau, bawalah kakakku pergi. Catatan, kakak itu berkata padaku, dia juga sangat senang bertemu dengan Sang Zhi lagi. [DJX] [Aku Sang Zhi; Keterangan, Kakak Duan]

[Keterangan, DuanXX] [Aku Sang Zhi] Zhi Zhi. Zhi Zhi, ayo makan anggur. Sedang apa? Menggambar? Kau… Kau tidak boleh minum susu. Aku tidak minum. Jika begitu, untuk apa kau mengambilnya? Itu… Aku merasa botolnya cantik, aku ingin mengambilnya diam-diam untuk digambar. Kau tetap tidak boleh mengambilnya. Aku akan membuang isinya. Aku tidak akan meminumnya.

Ibu, kau di sini? Ayah, kau sudah pulang. Dia… Dia menyimpan sebotol susu di kamarnya. Entah dari mana. Zhi Zhi. Zhi Zhi. Akhir pekan ini aku dan Ayah akan pergi ke rumah teman kami menghadiri acara pernikahan, apakah kau mau ikut? Tidak mau. Jika begitu, Ayah suruh A-Yan pulang menemanimu. Aku tidak mau.

Aku tidak ingin bersama dengan Kakak. Namun, jika kau sendirian di rumah, Ibu juga tidak tenang. Pokoknya, aku tidak mau. Zhi Zhi, apa yang sering Ayah katakan? Dengarkan perkataan ibumu. Jangan biarkan ibumu cemas. Ayah yang akan mengurus soal kakakmu. Kau tenang saja, aku tidak akan membiarkannya menindasmu.

Jika tidak, semua uang jajannya akan aku potong. Dia juga tidak akan menuruti Ayah. Jika begitu, Ibu bicara padanya. Baik. Ada aku, tidak masalah. Sudah cukup, turunlah untuk makan. [Asimov; “The End of Eternity”] [Susu murni] [Kamis, 17 September] [Kakak itu bilang padaku] [Dia juga sangat senang bertemu dengan Sang Zhi]

Bocah, mengapa tidak menutup pintu? Bocah! Ibu menyuruhku menjemputmu pergi makan. Bocah. Bocah. Bocah. Apakah di kamarku? Bocah. Bocah. Di mana dia? Mengapa kau tidak menjawabku? Siapa yang ingin kau kejutkan? Mengapa aku harus menjawabmu? Berikan. Kembalikan. Nanti aku akan pergi makan. Makan hot pot, ikut tidak? Aku tidak mau. Jadi, kau mau makan apa?

Kau tebak. Bocah, saat aku seumuran denganmu sekarang, ketika Ayah dan Ibu tidak di rumah, selain harus memasak untuk diriku sendiri, aku masih harus memasak bagianmu. Itu tidak sama. Bagaimana tidak sama? Karena saat itu kau tidak punya kakak, namun, aku punya kakak. Jangan gunakan trik ini. Berikan padaku. Halo. Kau tidak di asrama? Baik.

Jika begitu, aku pergi menjemputmu di tempat kerjamu saja. Setengah jam. Kau tenang saja, aku tidak akan melupakanmu. Sampai jumpa. Kakak, siapa yang makan bersamamu? Apa urusanmu? Mengajakmu makan pun harus memohon padamu. Jika tidak mau, aku pergi sendiri, sampai jumpa. Halo, Ibu. Jangan gunakan trik ini. Halo, Ayah. Keterlaluan. Aku sudah salah.

Bukankah begini baru benar? Benar, ‘kan? Bagus jika kau begini sejak awal. Kau sengaja menjahiliku. Dengar, jika kau patuh, Kakak akan membawamu makan yang enak, ayo. Aku beres-beres dulu. Dua menit. Tiga menit. Baik, 30 menit, pergilah. Bantu aku mengambil ponsel di dalam kastil. Anak SMA masih bermain permainan kastil. Coba kurasakan.

Bocah, mengapa kau begitu diam? Adik, apakah kau sangat senang melihat Kakak? Kakak juga sangat senang. Jangan omong kosong, ingin makan apa? Bukankah katamu makan hot pot di mall? Ada apa? Kau merasa mahal dan tidak jadi traktir? Menurutmu, aku akan merasa itu mahal? Kau selalu merasa mahal. Siapa yang pernah merasa mahal?

Ternyata teman sekamar yang dijemputnya adalah Kakak Qianfei. Duan Sayangku. – Bangun. – Duan Jiaxu. Cepatlah, Sang Yan traktir. Bukankah katamu 10 menit? Jalannya macet. Bukankah katamu sudah lapar? Cepatlah. Mengapa kau begitu mengantuk? ♪Saat aku melewati cahaya bulan, aku menemukan bintang di matamu♪ Kau berbaring di sisiku lagi.

♪Mereka bersinar seolah aku tidak bisa memilikinya♪ Kau begitu mengantuk? Kau menghasilkan uang, namun, mengorbankan nyawa. Cepatlah sedikit, aku hampir mati kelaparan. Dia begitu lelah bekerja, aku masih sering menyusahkannya. Tidak benar, aku seharusnya sudah kurus. Apakah ada saatnya kau kurus? Bukan, aku sudah menimbang dan sungguh sudah kurus.

Mengapa aku sudah naik begitu lama, namun, kau tidak menyapaku? Halo, Kakak. Halo apanya? Pokoknya sapa saja. Kakak sangat tampan? Tampan apanya? Aku tidak tampan? Lalu mengapa wajahmu merah begitu melihatku? Dasar tidak tahu malu. Kau selalu begitu. Sang Yan, apakah kau ingat saat pemeriksaan kesehatan sebelumnya?

Aku berlari 1.000 meter, setelah selesai dan sedang terengah-engah, bocah ini datang dan bilang padaku, “Mengapa wajahmu memerah begitu bertemu dengan Kakak?”. Saat itu, aku hampir jatuh cinta padanya. Jangankan manusia, dia bahkan bicara begitu pada anjing. Adik, jangan pedulikan dia. Dia ini bukan orang baik. Dia memang bukan orang baik.

Mengapa kalian mulai mengadu domba? Apakah aku mengadu domba? Adik, apakah aku mengadu domba? Aku juga merasa dia bukan orang baik. Aku bukan orang baik? Baik, aku bukan orang baik. Apakah kau tidak punya kesadaran diri? Duan si Konyol masih tahu diri. Kau bisa memukul begitu keras, apakah mungkin kau orang baik?

Sudah, kalian turun dulu, aku pergi parkir dulu. Baik. Laparnya. Bolehkah aku nanti saja? Nanti apa? Aku turun nanti saja bersama denganmu. Namun, tidak boleh parkir di sini. Aku bersama denganmu. Apakah kau akan membayar denda? Bukan, aku ikut… Ayo. Kau bawa dia dulu. Ayo. Cepat pergi, di sini sungguh tidak boleh parkir.

Kau sungguh sangat menyebalkan. Sungguh tidak boleh parkir. Ada apa? Tidak enak badan? Memang sedikit. Aku ingin mencari toilet dulu. Kau sakit perut? Qianfei, waktu yang dipesan sudah tiba. Kau pergilah dulu. Baik. Aku temani kau mencari toilet. Tidak perlu. Aku pergi sendiri saja. Aku temani kau. Itu… Apakah kau membawa pembalut?

Tidak apa-apa, kau masuk dan tunggu aku. Kakak belikan untukmu. Cepatlah pergi. Jadi, dia melihatnya. Pesan juga otak, tandai semuanya. Apakah kau makan? Aku makan. Sebelumnya Chen Junwen datang, dia sama sekali tidak mau makan. Halo, kami sudah memesan, mengapa kalian belum naik? Adikmu… Ada apa dengan adikku? Adikmu kebetulan tidak enak badan. Jadi, bagaimana?

Kau bertanya padaku bagaimana? Begini, Kawan, bantu aku, kau belikan untuknya. Kawan, dia adikmu atau adikku, malah aku yang harus membelikannya? Namun, aku sebagai kakak juga belum tentu harus mengurus hal ini. Lagi pula, selama ini, aku tidak pernah mengurusi hal ini. Jangan omong kosong. Aku sekarang di depan pintu swalayan, cepat turun.

Baik, kau temani aku membelinya. Ini. Ayo. Tidak terasa, S. Saat digunakan seakan tidak ada… Kecilkan suaramu. Jika begitu, ambil yang untuk malam hari. Boleh. Yang ini 42 cm. Apakah ukurannya tidak sama? Tidak tahu. Ukuran 42 cm? Apakah ukuran 42 cm lebih panjang dari ukuran 35 cm? Ambil yang ukuran praktis saja. Ayo.

Tunggu dulu. Ada apa? Belilah rok juga. Apakah roknya juga terkena noda? Benar. Baiklah, yang ini saja. Tunggu, hari ini dia memakai rok berwarna gelap. Yang ini lebih baik. Boleh, semua sama saja, ayo. Sungguh memalukan. Bisa-bisanya terlihat olehnya. Permisi, apakah kau Sang Zhi? Ya. Tadi ada orang di luar yang memintaku membawakan barang untukmu.

Terima kasih. Tidak apa-apa. Semua wanita pernah mengalami hal seperti ini. Bergantilah. Terima kasih, Kakak. Bagaimana aku menemuinya nanti? Ada apa? Memalukan. Siapa yang bilang kau memalukan? Memang memalukan. Ayo, pergi makan. Ayo. Kau masih bilang bukan anak kecil lagi. Sang Yan, di sini. Mengapa kalian baru kembali?

Aku bahkan segan mulai makan sebelum kalian datang. Dia pergi bermain mesin penjepit boneka dan tidak mau kembali. Tidak tertangkap. Benar, dia bahkan menangis. Sampai menangis? Nanti setelah makan, aku akan tangkap untukmu. Mesin penjepit boneka sama sekali tidak sulit. Penjepit itu harus kau arahkan… Sudahlah, nanti aku bawa kau memainkannya sekali, kau akan mengerti.

Pesan beberapa menu lagi. Adik, kau juga pesan. Tandai beberapa menu, aku yang traktir. Terima kasih, Kakak. Sama-sama. Apa yang biasa kau pesan? Apa yang enak? Pesan yang ini. Bakso udang? Sudahlah, sudah aku tandai. Mau atau tidak? Tidak. Maknanya bagus. Siapa yang makan potongan ayam hitam saat makan hot pot? Pesan yang mahal.

Makan ayam saat makan hot pot, bisa memenangkan permainan. [Bakso sapi Chaoshan] Sadar diri sedikit, tidak perlu aku ingatkan kau lagi, ‘kan? Mencicipi satu juga tidak masalah. Jika terjadi sesuatu, aku tidak punya waktu mengurusimu. Memangnya kenapa jika dia memesan beberapa hidangan? Aku yang mentraktir, bukan kau. Tutup mulutmu. Dia alergi daging sapi dan kambing.

Jangan makan jika alergi. Bagaimana jika sakit? Berikan. Pelayan. Mari, masukkan semua ini dalam pesanan. – Terima kasih. – Mari, minum air hangat, Mari. Minum bir? Aku harus menyetir, tidak boleh minum. Kau tidak minum, dia juga tidak minum. Siapa yang makan hot pot tanpa minum bir? Bukankah kau sudah melihatnya sekarang?

Teh hitam dingin dan hot pot barulah cocok. Kau mengerti? Mengerti. Aku beri tahu kau, aku tidak minum, aku harus menyetir. Baik, minumlah minumanmu. Aku beri tahu kau, di hari saat kau tidak ada di asrama, aku bermain sendirian. Anggota tim yang tidak berguna itu sungguh membuatku salut.

Kau tidak tahu seberapa menyusahkannya tim yang aku dapatkan itu. Aku sungguh salut. Tunggu. Kakak makan lebih dulu. Hari di mana kita bertiga sedang bermain bersama kemudian akhirnya aku mengangkat telepon dan kau bahkan memarahiku itu? Di hari kita hampir menang itu. Benar, hari itu. [Toilet] Permisi.

Apakah Nona bisa membantuku mengantarkan ini ke toilet wanita? Di dalam, ada seorang gadis kecil yang mungkin membutuhkan ini. Boleh. Gadis kecil itu bernama Sang Zhi. Baik. – Terima kasih. – Terima kasih. Sama-sama. Nanti, kau tunggu adikmu di sini. Aku naik dulu mencari Qianfei. Jangan omong kosong. Kau tunggu bersamaku. Adikku adalah adikmu.

Apakah kau bodoh? Gadis kecil seperti adikmu mengalami hal seperti ini, dia pasti malu jika melihatku saat keluar. Benar juga. Sebaiknya kau bantu dia pikirkan sebuah alasan. Jika tidak, nanti Qianfei bertanya pergi ke mana dia. Jika tidak, begini saja. Setelah ke toilet, dia nakal dan pergi bermain mesin penjepit boneka. Boleh. Permen karetmu.

Aku titipkan padamu dulu. ♪Aku bisa merasakanmu setiap kali bernapas♪ ♪Aku memikirkan apakah kau juga akan merindukanku?♪ ♪Rasa suka adalah seperti kupu-kupu yang terbang keluar dari mata♪ ♪Lingkup pandanganku semua seperti efek riak♪ ♪Beri tahu aku apakah kau mendengar dunia bergerak cepat♪ ♪Ini seluruh rahasiaku, aku harap kau menyukainya♪

♪Ekspresimu yang menegadah sebenarnya hanya berpura-pura tenang♪ ♪Namun, tidak bisa menahan kebahagiaanmu♪ ♪Aku punya orang yang sangat kusukai♪ ♪Saat memikirkanmu, bel detak jantungku terus berdering♪ ♪Aku ingin bisa membaca isi hatimu♪ ♪Mengetahui yang mencintai diam-diam bukan hanya aku seorang♪ ♪Aku jatuh cinta padamu♪ ♪Aku jatuh cinta padamu♪