Iran Serang Israel, Rocky: Khamenei Belajar dari Marxisme Pranci

[Musik] saatnya tadi kita sudah mendengarkan tausiah Pak Kiai Ulil sekarang kita dengarkan tausiah Pak Kiai Rocky Grung silakan Bung Rocki oke ee ya Bang bukan cowok ya Bang oh enggak kan perjanjiannya Jokowi akan tunjukin ijazah kalau Israel sama Heran Chefire itu ya bacanya begitu oke ya ee agak menjengkelkan sebetulnya isu ini bukan isunya pembicaraan kita karena fokusnya pada hubungan internasional atau pada politik internasional kalau kita bicara hubungan internasional kita jadi komentator aja tuh sambil sekali-sekali ngamuk-ngamuk tapi kita mau lihat dunia ini di dalam perspektif politik internasional bukan hubungan internasional dulu di tempat adik di VSIP UI waktu saya masuk VISIP tahun ‘9 saya masuk jurusan hubungan internasional pada waktu itu kome ini lagi diupload sebagai revolusioner kita baca semua berita itu sambil mencoba membaca bagaimana mungkin koma ini seorang mulah itu bisa memimpin sesuatu yang kemudian diberi kata depan revolusi Iran gitu ternyata Komeni ini belajar juga ke di Prancis teori-teori Marxis itu dari ee siapa namanya orang Prancis itu bukan bukan bukan Fuko itu yang kemudian menerjemahkan pidato-pidato komeni itu lalu diselundupkan ke dunia Barat waktu itu saya berpikir bahwa ini yang namanya politik internasional padahal studi di situ Pak Yono Sudarsono ketua jurusannya kasih nama hubungan internasional ui tidak pernah bicara tentang politik internasional karena itu ketu kita dengar komentator-komentator mana lu HI mana UI ya pasti lu enggak ngerti tentang sejarah politik internasional tadi Permadi ngomong soal sejarah sejarah itu bungkus dari peristiwa politik internasional itu adalah gabungan antara power dia mesti definisikan apa itu power baru dia bisa definisikan apa itu enemy musuh itu apa sebetulnya dalam politik internasional belakangan ada faktor baru namanya capital yang Anda sebut tadi yang sebetulnya terbalik gramarnya itu military industrial complex itu MIC bukan industrial military complex lain itu konsekuensya panjang itu nah kalau kita baca tentang sejarah dunia dia disebut sejarah kalau konstruksi dari capital enemy dan power itu betul-betul memperlihatkan efek katastrofi itu baru kita sebut sebagai sejarah kalau enggak ada efek katastrofi ngapain itu enggak ada enggak ada usulan apa-apa itu sejarah hanya di sejarah kalau dia mengandung efek katastrofi itu katastrofi itu mesti dikunci di dalam beberapa istilah yang memungkinkan kita punya pelajaran tentang katastrofi itu perang dunia kedua kita baca sejarah kita hafal tuh Amerika kirim jenderal siapa dia di di e siapa namanya jenderal yang jago tank itu ke Afrika dia taruh Eisenher di apa pattern Eropa Ienuer plan tapi sebetulnya sebelum Ienuer plan sudah dibikin marshall plan hancurkan Eropa ya tapi pada waktu itu Presiden Roosfeld udah bikin martial plan hancurkan karena kita mau bangun ulang tuh tapi dalam logika sebetulnya Marshall dibuat duluan sebelum Eisenhower plan walaupun dalam praktik Island duluan hancurkan dulu baru bangun lagi itu jadi ada hal-hal yang membuat kita oh itu yang namanya kombinasi antara capital power dan enemy itu kita coba lihat setelah itu setelah perang dunia kedua holocaust segala macam itu kita mau cari endapan value-nya apa sebenarnya di situ ya anda bisa hafal nama-nama pejuang di situ tapi kita mau lihat value-nya apa yang tertanam di situ kita cari pada Hana Aran misalnya dapat istilahnya the banality of evil kedangkalan kejahatan itu sehingga para profesor Jerman itu jenderal-jenderal Hitler itu enggak ngerti bahwa dia lagi berbuat kejahatan seingga anak aren geleng-geleng kepala gila ya orang Jerman yang dihuni satu dua dari tiga orang Jerman itu filsuf paham tentang sejarah paham tentang peradaban enggak mengerti bahwa Hitler itu di Berlin lagi bangun kejahatan semua anggap biasa-biasa aja tuh wong di dipel secara demokratis kok nah itu pelajaran jadi kombinasi itu membuat kita “Oh perang dunia kedua itu di ingatan sejarah namanya diberi oleh Hana Arenality of evil kedangkalan kejahatan itu sehingga bagaimana mungkin bahkan anak Aren bilang “Udah bebasin aja deh Hitler bebasin aja.” Kenapa ya dangkal alias dungu bagaimana menghukum orang dunguh jadi itu soalnya tuh sekarang kita mau coba baca di yang terjadi di Israel Iran ini apa sebetulnya ya ada agama segala macam iya agama tuh apa apa beda dengan ideologhi itu apakah agama menyimpan semacam friends enemy paradoks itu oh ya kalau disulut oleh sesuatu apa yang bisa menyulut mereka vision bukan ideologi tapi visi itu di bilang tadi Yerusalem kota tiga agama tapi tiga agama yang merebutkan Yerusalem kan yang memperbutkan Yerusalem beberapa tahun lalu saya masuk keluar perbatasan Vietnam Kampia surin sungai Mekong nyeberang segala macam di perbatasan Kampa Kamboja dan Vietnam itu ada satu kuil saya masuk di situ kuilnya mungkin dua kali panjang ini lebarnya sama itu kuil saya ngomong dengan mereka kira-kira sudah 400 atau 600 tahun tradisi ritualnya mengkompilasi tiga jenis ritus di depan sana yang disembah adalah patung Buddha satu mata tu cara sembahyangnya sujud persis seperti cara sujud Muslim musik pengantarnya adalah musik Katolik di balkon atas itah musik Katolik damai-damai aja di situ kita enggak tahu dari mana datang ide itu itu jadi kalau agama dimasukkan di situ kita mau coba kenali jenis-jenis kejahatan di dunia yang tadi di mana agama berperan iya dari awal Eropa perang agama tuh tapi kita mau periksa jangan-jangan perang agama ini sebetulnya di belakangnya adalah persaingan antara pemilik modal sama seperti perang memerangi nenek sihir di Eropa itu tahun berapa tuh 1300-an ketika 150.300 perempuan dibakar hidup-hidup belakangan sejerawan baru mulai menganalisis bahwa sebetulnya pada waktu upaya memberantas nenek sihir apa namanya witchcraft itu setiap perempuan yang diam di rumah pasti sedang bersekutu dengan iblis karena itu dia mesti dibakar dan yang berlaku di situ adalah inkuisisi dituduh Anda bersekutu dengan iblis tidak oke kita buktikan kalau saya bakar Anda terbakar artinya Anda bersekutu dengan iblis ya jelas saja terbakar kan itu jahat sekali kan belakangan baru kita tahu bahwa perempuan-perempuan itu sepanjang abad itu yang di disisir sebagai nenek sihir sedang membuat keramik sulaman apa namanya itu household barang rumah tangga yang ketika dijual harganya lebih murah dari barang produksi laki-laki yang pedagang laki-lakinya cemburu lapor pada paus oh itu perempuan itu sendirian itu loh dia lagi memproduksi ini yang namanya persaingan kapital antara kerja rumah tangga perempuan dan pasar yang dikuasai oleh oligarki laki-laki mail pick patriarki itu lapor jadi perang agama nah kita membaca sejarah dari cara itu tiba-tiba tadi dari Hana Aren kita cari lagi keterangan saya pergi pada seorang Jerman namanya Gunter Gunter Anders yang berupaya untuk membaca sejarah dari perspektif kegagalan manusia untuk berimajinasi tentang kehidupan di depan dia menulis dengan bagus dalam tesisnya Prometeus prometeus shame rasa malu Prometeus itu manusia sehingga si Prometeus kita tahu cerita Prometeus prometius artinya bertanya “Who am I?” Anyway gua ini siapa sebetulnya karena gagal membayangkan imajinasi tentang humanity itu kita membaca itu juga hari-hari ini who am I harusnya Donald Trump bertanya begitu kalau dia punya semacam permettian etiks itu tapi dunia ini dirusak oleh Trump belum pernah ada seorang presiden yang dengan sadar merusak demokrasi di negerinya sendiri sebar rasisme usir imigran ya padahal Amerika tuh negeri imigran apa yang dibayangkan oleh siapa tokfield demokrasi itu habits of the heart bagi notam enggak penting tuh jadi ada satu individu yang sekarang seperti Hitler mau kutuk dia jadi dia sudah segitu maksimalnya kita mau bilang “Loh kok Trump masuk dalam jebakan kedunguannya sendiri?” Itu mungkin dikutuk oleh sejarah tuh jadi kalau saya balik pada soal-soal yang kita coba bicarakan tadi perang Eropa akhirnya berhenti karena capek berperang 30 tahun 100 tahun 70 tahun semua perang di Eropa berhenti karena dia capek itu yang kemudian dirumuskan oleh Thomas Hopes akhirnya manusia takut mati karena itu dia cari Livai Tang Levi Leviatang untuk mengasuransikan rasa amannya timbullah seorang Leviatang baik di mana rasa takut saya saya serahkan pada dia kita mau cari sekarang siapa Leviatang kita di dunia trump enggak bisa dipercaya lagi setelah Perang Dunia Kedua Amerika menjaminkan bahwa tidak boleh ada senjata nuklir saya Amerika akan jamin Jepang tidak boleh punya nuklir eropa tidak boleh punya nuklir sekarang Trump masih dengan posisi yang sama tapi mengizinkan Israel punya nuklir melarang Iran melarang Prancis melarang Inggris dalam perjanjian nonpolferasi tadi kan itu yang orang bilang ngapain Eropa mungkin bilang ngapain gua dukung Trump dia bilang dia mau jamin kita dengan payung nuklir dia itu tapi Ukrain akhirnya lolos jadi perang ini enggak akan lama lagi menurut Bung Rocki kenapa kesimpulannya begitu karena semua tidak ada yang bantu Amerika bisa sangat lama justru bisa sangat lama ya karena perangnya jadi jadi ya semua orang bisa masuk di dalam belum omnium kontra omnes semua orang berperang melawan orang yang lain kan kalau Amerika tidak punya lagi kunci untuk menjamin Jepang misal Jepang sekarang lagi nuntut anggaran belanjanya mesti naik 2% amerika dulu kunci dia 1% jepang bilang “Eh lu bilang lu ma jamin kita cina itu punya nuklir sekarang korea Utara punya nuklir dalam 2 jam nyampai ke Tokyo nyampai ke Orisima jadi Jepang bilang kalau begitu berhenti perjanjian perang dunia kud gua mau punya nuklir juga indonesia bisa terangsang karena India punya Pakistan punya perang India Pakistan nuklir tapi impactnya pada perselisihan agama sangat mungkin mereka yang sedang menunggu kekacauan di Indonesia turun dari Asia Selatan lewat Thailand Malaysia masuk ke Indonesia jadi teroris lagi karena elemen agama ada di situ tuh yang kita enggak inginkan tapi faktuality itu kan jadi kita coba lihat sebetulnya Indonesia bikin refleksi apa tentang itu tuh aduh kenapa dengan Felix lu lu juga tuh apa ide lu membaca sejarah itu ngamuk-ngamuk soal komentar di itu emangnya Donald Trump baca tuh Felix siapa namanya ustaz Felix Bermanya aja enggak dibaca oleh Donald Trump apalagi Felix jadi apa poinnya gitu loh berdebat tentang sesuatu yang tanpa ide gitu itu yang disebut tadi oleh Gunter Anders Promethus Shame malu karena enggak bisa berpikir gitu loh jadi kita mau lihat sebetulnya ini teman-teman mahasiswa kita enggak tahu you belajar apa di sekolah lu tuh tentang sejarah hafal-hafalan itu hafalan fakta kayak kayak ee Abu Ja menghafal fakta ngapain kan kita mau nyumbang pada perspektif itu dasarnya tuh ketika perang selesai Thomas Hope bikin renungan perspektif manusia pada akhirnya ingin mencari rasa aman dia pergi pada Levia Tang levia dia enggak sadar Levia Tang itu akhirnya akan jadi the big brother is watching us yeay imuel kan bikin refleksi lagi itu Eropa supaya aman setiap bangsa agamanya ini negaranya itu dasar pikirannya adalah unity of reason juga harus jadi unity di dalam nation state jadi ada jembatan dari otak dan politik tuh jembatan itu putus di dunia apalagi di kita itu yang karena itu saya kaget saya datang ke sini oh begini mau bahas tentang saya pikir kita mau bahas tentang perspektif dunia itu ternyata hanya Indonesia mau bereaksi apa dalam soal Palestina dangkal betul kita bicara di situ sayang betul kan kita mau ajarin teman-teman di luar sana anak mahasiswa untuk berpikir supaya kita tidak masuk jebakan Promete Prometeus Shame itu rasa makluk Prometius ini sebetulnya kita ingin melihat apakah dunia memang harus mengalami katastrofi baru itu supaya timbul kembali kecerdasan kita kehancuran baru bukan katastrofi itu bukan kehancuran kekacauan ya kekacauan kehancuran itu ee apokalip jadi sebetulnya ajukan dalil Indonesia punya kesempatan untuk mengatakan bahwa kami dari awal nonblok tapi isi nonblok itu dengan pikiran konseptual ke depan itu bisa enggak bisa tuh tapi sekali lagi ini membutuhkan konsentrasi intelektual kita prabowo mungkin bolak-balik cari ide itu tapi ide tentang intelektual tenggelam karena ide tentang mineral lebih lebih berbunyi daripada ide tentang intelektual jadi sebetulnya kita saya ingin forum semacam ini itu sayang betul tuh kita perkaya perspektif kita indonesia pernah jadi jembatan Asia Afrika tuh dibuat oleh Bung Karno yang dibuat oleh Jokowi apa ya jembatan penyeberangan pun enggak bisa tuh oke baik jadi sekali lagi kita ingin supaya berhentilah prinsip sifis pacem parabelum yang dibuat oleh siapa dulu eh Flavius kalau Anda ingin damai bersiaplah untuk perang ya itu yang terjadi sekarang tapi Indonesia tidak dalam perspektif itu kita dalam perspektif kemanusiaan yang adil dan beradab dan keadilan sosial bagi seluruh Indonesia makasih oke kita kembali saat lagi nanti Bang Adik saya berikan kesempatan pada sesi terakhir di segmen 6 seksi sesi closing statement kita akan kembali saat lagi [Musik]

Yuk Subscribe https://www.youtube.com/@OfficialSINDOnews

Tanggal Tayang: 25 Juni 2025

Selengkapnya baca di: https://nasional.sindonews.com/

Follow WA Channel: https://whatsapp.com/channel/0029Va9lDjk90x30mpm5Vy14
Follow our Official TikTok sindonews
Follow our Official Twitter officialinews_
Like our Official Facebook officialinews
Follow our Official Instagram officialinews

Dapatkan sajian berita dan liputan langsung peristiwa terkini secara cepat dan akurat di:
https://www.inews.id/ untuk berita dari daerah-daerah di seluruh Indonesia
https://www.okezone.com/ untuk berita-berita sports dan gaya hidup
https://www.sindonews.com/ untuk berita-berit a politik dalam dan luar negeri
https://www.idxchannel.com/ untuk berita-berita pasar saham dan ekonomi

#Sindo