PLOT: Satu Tindakan Kecil Merusak Segalanya | Pikabuu: Stop (All 6 Endings)

Hello guys kembali lagi di channel Droomp dan selamat datang di plot Pikabuu Stop! Joykeratif kembali dengan menghadirkan seri terbaru Pikabuu berjudul Stop. Berbeda dengan seri sebelumnya, yaitu Pikabuu The Silent Night yang membawakan cerita fiksi, Pikabuu Stop lebih menekankan ceritanya pada kisah yang terasa begitu relate dengan keadaan di Indonesia zaman sekarang, terlebih karena kejadian serupa memang benar – benar terjadi. Terbagi menjadi 6 cabang ending, secara garis besar Pikabuu Stop memberikan kita gambaran tentang bagaimana judol dan pinjol dapat menghancurkan kehidupan seseorang. Beberapa adegan dalam game mungkin akan terasa kurang nyaman bagi sebagian orang, sesuai juga dengan peringatan dari sang developer mengenai bagaimana game ini mengandung konten sensitif seperti perjudian, kekerasan dalam rumah tangga, bahasa kasar, adegan brutal, dan lain sebagainya. Untuk itu kebijaksanaan penonton diharapkan. Sekarang, mari kita bahas kisah Pikabuu Stop beserta dengan keenam endingnya. Hari 0, seorang pria bernama Beni sedang asik nonton bola sambil merokok. Kehidupan keluarganya benar – benar harmonis, dimana di tengah keasikannya ini, sang istri bernama Nadia datang membawakan pisang goreng dan kopi. Senang, Benipun memuji kecantikan sang istri, membuat Nadia tersipu malu namun kemudian meminta uang belanja. Beni tidak mempermasalahkannya, dengan sisa tabungan 3 juta rupiah, ia memberikan 50 ribu untuk uang belanja dan bahkan saling bergurau dengan istrinya itu.
Nadia pamit berangkat ke pasar, dan setelah Beni menyantap beberapa pisang goreng yang disiapkan, putrinya bernama Kaila datang untuk pamit ke sekolah dan meminta uang jajan. Kaila adalah anak yang tidak pernah menuntut banyak, sehingga ia menerima uang jajan pemberian Beni dengan senang hati tanpa meminta lebih. Bahkan saat Beni hendak mengantarkannya ke sekolah menggunakan motor, Kaila yang tidak mau merepotkan sang ayah segera menolaknya, lebih memilih jalan kaki. Tidak lama setelah Kaila berangkat, Beni menonton acara berita mengenai lonjakan harga kebutuhan pokok yang sangat pesat, membuatnya merasa sedikit kesal mengingat ia tidak pernah mengalami kenaikan gaji. Di tengah kekesalan ini, ia menerima pesan WA dari seorang temannya bernama Yadi yang sangat sering meminjam uang darinya. Maka dari itu, saat Yadi mengajak ketemuan untuk ngopi bareng, Beni langsung menduga bahwa Yadi hanya ingin meminjam uang.
Di luar dugaan, Yadi menepis dugaan Beni dan justru mengungkapkan keinginannya untuk mentraktir Beni dan beberapa teman lain, mengaku ia baru saja menang jackpot dari bermain judi online. Lebih lanjut, Yadi bertanya, apakah Beni juga mau ikut? Beni dihadapkan pada 2 pilihan, menerima atau menolak.
Pilihan ini akan mengarah pada salah satu ending. Contohnya, bila Beni menolak, kita akan mendapat ending pertama. Beni menolak ajakan Yadi dan memperingatkan temannya itu untuk segera berhenti sebelum terlambat. Saat Yadi mengaku ia hanya iseng – iseng, Beni langsung mengajak ketemuan malam ini juga, ia tidak ingin membiarkan kehidupan Yadi hancur, karena menjadi kaya dengan cara instan adalah hal yang mustahil. Ending 1 adalah Happy Ending untuk game Pikabuu Stop. Semua berita dan kisah pahit tentang kehancuran hidup akibat judi dimulai dari kata iseng. Sedangkan bila Beni menerima ajakan Yadi, maka ia akan berpikir untuk coba iseng – iseng dengan taruhan yang kecil saja. Yadi mengirimkan link menuju situs judol yang ia gunakan, dan tanpa membuang banyak waktu, Beni langsung melakukan registrasi. Awalnya ia topup dengan jumlah uang yang sangat kecil. Namun setelah melihat bagaimana ia memenangkan permainan dengan mudah yang membuat jumlah uangnya bertambah, ia langsung menaikkan jumlah topup dan lanjut main. Hasilnya, ia mulai mengalami beberapa kekalahan yang masih diselingi dengan kemenangan – kemenangan kecil. Tanpa disadari, level kecanduan Beni meningkat secara perlahan, ia mulai menganggap permainan ini sebagai hal yang seru dan menyenangkan. Berpikir ia akan untung lebih banyak dengan meningkatkan jumlah taruhan, Beni kembali menaikkan jumlah topup dan meneruskan permainan. Ia tidak bisa berhenti, hari demi hari ia habiskan dengan bermain judol. Hari keenam, tabungan Beni hanya tersisa 1 juta rupiah, padahal 6 hari sebelumnya, tabungannya masih di angka sekitar 2,8 juta. Seperti hari – hari biasanya, Nadia sang istri datang membawa makan dan minum. Kali ini ia mengingatkan Beni untuk tidak lupa membayar uang kontrakan rumah seharga 1,2 juta, seketika membuat Beni terkejut mengetahui bahwa tabungannya tidak cukup. Saat Nadia meminta uang belanja, Beni juga mengurangi jumlahnya, membuat Nadia menjadi bingung namun tidak bisa melakukan apa – apa selain menerima uang dan pergi ke pasar. Kaila di sisi lain menerima uang jajan dari sang ayah dan berangkat sekolah. Permasalahan ini segera memenuhi kepala Beni. Ia sadar uangnya tidak akan cukup untuk membayar kontrakan, itupun belum termasuk biaya listrik, air, dan SPP Kaila. Kesal dan tidak ingin pusing – pusing memikirkan soal uang, Beni memutuskan untuk kembali bermain judol, yakin kali ini ia pasti akan jackpot. Sayang, kenyataan berkata lain. Bukannya bertambah, tabungan Beni semakin menipis seiring ia bermain. Hari ke-10, tabungan hanya tersisa 460,000 rupiah. Di tengah keasikannya menonton acara power ranger, Beni mendapat notif dari bank perihal gaji yang masuk, senilai 4 juta rupiah. Setelah mengeluh soal gajinya yang tidak pernah mengalami kenaikan, ia memutuskan untuk langsung menggunakan gajinya sebagai modal bermain judol. Beni benar – benar keasikan memainkan permainan tersebut, tidak sadar ia sedang membuang – buang uang.
Di saat yang tidak tepat ini, Kaila tiba – tiba datang untuk meminta uang jajan dan uang untuk kelas renang seharga 50 ribu rupiah. Sontak Beni langsung menjadi sangat kesal, menyuruh Kaila untuk tidak usah ikut pelajaran renang yang di matanya hanya buang – buang uang. Kaila berusaha menjelaskan bahwa pelajaran renang akan berdampak pada nilai olahraga, namun Beni yang tidak peduli malah menyebut Kaila sebagai anak yang bawel. Di saat itu juga, Kaila menjadi kesal dan pergi begitu saja. Saat berangkat, Kaila tidak berpamitan seperti biasanya, membuat Beni menjadi keheranan dan segera mempertanyakan sikap sang anak pada Nadia. Mendengar bagaimana Kaila ngambek karena tidak mendapat uang renang, Beni menganggap Kaila sebagai anak yang lebay. Di saat yang bersamaan token listrik mulai berbunyi, sehingga Nadia segera mengingatkan Beni untuk mengisinya. Tidak hanya sampai disitu, Nadia juga bertanya apakah Beni sudah membayar uang kontrakan? Beni berbohong dengan mengaku ia sudah selesai membayar, namun kebohongannya ini langsung terkuak oleh sang istri karena pemilik kontrakan baru saja memberitahu bahwa Beni belum bayar sama sekali. Kesal, Beni menyebut Nadia sebagai orang yang bawel, sebelum kemudian saat Nadia pergi menyiapkan makanan, ia lanjut bermain judol. Keasikannya dalam bermain judol terhalang oleh listrik yang padam, memaksanya untuk mengisi token terlebih dahulu. Begitu masalah listrik teratasi, Beni sempat berpikir untuk membayar uang kontrakan, paling tidak sebelum ia mengurungkan niatannya itu dan lanjut main judol. Hari ke-17, Beni menghabiskan hampir semua uang tabungan yang ia miliki untuk judol, bermula dari 4,2 juta kini hanya tersisa 35 ribu. Sembari menonton Squid Game. Lupakan, lupakan. Beni mengeluh soal uangnya yang hanya tersisa 35 ribu padahal masih belum sampai pertengahan bulan. Tidak tahu bagaimana cara mendapat uang dalam waktu singkat, iapun memutuskan untuk meminjam uang dari Yadi yang sayangnya juga tidak memiliki uang karena baru saja kalah banyak, senasib dengan Beni. Sadar Beni sedang butuh uang cepat, Yadi mengusul agar Beni meminjam uang melalui situs pinjol, menghadapkan Beni pada 2 pilihan, menerima atau menolak. Beni menolak usulan Yadi, tapi tetap saja kondisi yang ia alami sekarang membuatnya pusing. Lagi dan lagi, bukannya berhenti, Beni malah kembali main judol dengan jumlah taruhan yang ia perkecil. Di tengah permainan, seseorang tiba – tiba mengetuk pintu rumah, dan Beni yang terlalu malas melangkah, menyuruh Nadia untuk membukakan pintu. Saat dibuka, rupanya orang yang berkunjung adalah pemilik kontrakan bernama Pak Heru. Sudah jelas, maksud kedatangannya kesana adalah untuk menagih uang kontrakan yang sudah telat bayar hampir 10 hari. Nadia yang tidak tahu apa – apa menjadi sangat bingung, sedangkan di sisi lain, Beni mengaku uangnya habis untuk keperluan istri anak dan berjanji akan segera membayar. Pak Heru yang sudah mendengar alasan ini ribuan kali langsung menegaskan, bila Beni tidak bisa membayar uang kontrakan hari ini, maka ia terpaksa harus menyuruh Beni dan keluarganya untuk pindah. Pak Heru pamit pergi, meninggalkan situasi rumah dalam keadaan canggung.
Tanpa banyak basa basi, Nadia langsung mempertanyakan alasan Beni tidak membayar uang kontrakan dan mengungkap bahwa selama ini ia sebenarnya sudah tahu Beni main judol. Nadia memutuskan untuk diam karena sikap Beni berubah menjadi orang yang gampang marah, padahal dulu Beni adalah orang yang sabar, bertanggungjawab, dan sayang keluarga. Melihat Beni tidak bisa berkata – kata, Nadia berusaha meyakinkan sang suami untuk berhenti, masih belum terlambat. Pada akhirnya, Beni yang tidak bisa mengelak meminta maaf pada sang istri, mengaku bukannya menjadi tambah kaya, judol malah membuatnya menjadi semakin miskin.
Nadia, wanita yang sangat sabar, memaafkan kesalahan Beni, sadar bahwa kecerobohan Beni bermula dari keinginannya untuk membahagiakan keluarga. Dalam perasaan sedih bercampur malu, Beni berjanji akan benar – benar berhenti. Saat ia mengungkapkan kebingungannya untuk mempertahankan rumah kontrakan mereka, Nadia bersedia untuk membantu, yakin mereka pasti akan menemukan jalan keluar bersama – sama. Meski mereka akhirnya kehilangan banyak uang, paling tidak Beni menyadari kesalahannya. Untuk itu, Ending 2 masih dikategorikan ke dalam Happy Ending… Tidak lupa, sang developer juga memberikan beberapa tips untuk berhenti berjudi. Saat Yadi mengusul agar Beni meminjam uang melalui situs pinjol, Beni menerimanya. Yadi segera mengirimkan link yang mengarah pada situs pinjol bernama Bank-Ke. Tanpa pikir panjang, Beni langsung menyiapkan KTP sebagai keperluan proses registrasi dan hendak memotretnya dengan penuh presisi… Nah akhirnya benar juga, tinggal foto. Selanjutnya, Beni juga harus mengambil gambar selfie dengan memegang KTP. Astaga- Sudah, persiapan registrasi sudah lengkap.
Setelah memilih nominal uang yang ingin dipinjam berserta dengan jangka waktu pinjaman yang disertai dengan bunga, uang langsung masuk ke dalam tabungan. Kenyataan ini mengurai senyuman di wajah Beni, berpikir bila meminjam uang semudah ini, maka ia bisa meminjam uang sepuasnya. Namun Beni kemudian sadar bahwa uang yang ia pinjam rupanya masih terpotong biaya admin dan utangnya menjadi jauh lebih besar karena adanya bunga. Beni bodo amat, ia menggunakan uang pinjaman untuk main judol.
Saat Pak Heru datang untuk menagih biaya kontrakan rumah, Beni langsung membayarnya, menyelesaikan urusannya dengan Pak Heru. Meski begitu, Nadia bertanya – tanya, kenapa Beni bisa sampai telat bayar kontrakan? Merasa terganggu, Beni langsung membentak sang istri… Hari ke-20, tabungan Beni hanya tersisa 257 ribu rupiah dan tingkat kecanduannya semakin parah. Berulang kali mengalami kekalahan, ia seketika menjadi sangat kesal, bahkan sampai mengungkapkan rasa penyesalan. Bukan, bukan menyesal karena telah menghabiskan uang untuk bermain judol, melainkan menyesal karena membayar uang kontrakan. Sadar ia sudah mulai kehabisan dana (lagi), sedangkan keinginannya untuk menaikkan jumlah taruhan semakin tinggi, Benipun memutuskan untuk meminjam lebih banyak uang melalui situs pinjol Bank-Ke. Namun di luar dugaan, permintaannya tidak diterima karena ia masih belum melunasi pinjaman sebelumnya.
Tapi tenang saja, Beni si manusia bijak masih memiliki akal. Dengan mengutip peribahasa “mati satu tumbuh seribu”, ia mengambil langkah luar biasa bijak dengan meminjam dari situs pinjol lain. Tepuk tangan teman – teman, tepuk tangan. Setelah melakukan pencarian, Beni akhirnya menemukan situs pinjol lain bernama Bank Miskin. Proses registrasinya cukup mudah, hanya perlu foto ktp dan selfie. Astaga ini lagi. Kali ini wajah Beni memancarkan senyuman lebar saat mengambil selfie dengan memegang ktp. Begitu proses registrasi selesai, ia langsung meminjam sejumlah uang yang segera ia habiskan untuk bermain pinjol. Tiga hari kemudian pada hari ke-23, Beni menerima telepon dari pihak Melarat Finance yang mengingatkannya untuk segera membayar cicilan motor. Karena sudah nunggak, Beni dikenakan denda sebesar 670 ribu rupiah. Beni tidak peduli ia menunda pembayaran dan segera menyiapkan situs judol. Namun Kaila tiba – tiba datang membawakan sepiring pisang goreng, sebelum kemudian menyalakan televisi untuk menonton acara Ganteng – Ganteng Basudara. Merasa terusik, Beni langsung mempertanyakan tindakan sang putri dan menyuruhnya untuk pergi belajar terlepas dari bagaimana Kaila memberitahu bahwa hari ini adalah hari minggu. Melihat Kaila masih tidak pergi, Beni langsung membentaknya dengan sangat keras… Hari ke-30, tidak berasa uangnya sudah mau habis lagi. Setelah menyelesaikan urusan di kamar mandi dengan fokus menembakkan air seni yang terlalu sulit untuk dikendalikan, Beni sadar Nadia istrinya sedang tidak di rumah. Seketika itu juga, pikiran jahat langsung muncul. Teringat dengan uang simpanan sang istri, Beni langsung mencarinya di dalam lemari pakaian sampai ketemu. Saat ia berhasil menemukan uang simpanan senilai 133 ribu rupiah, Beni kembali mengeluh, menganggap jumlah uangnya terlalu sedikit dan menyayangkan kenyataan bahwa Nadia bukan dari keluarga kaya. Secara mengejutkan… Kaila putrinya tiba – tiba datang untuk meminta uang jajan. Beni menolak keinginan sang putri dengan alasan tidak memiliki uang, namun Kaila langsung memergoki kebohongannya, mengatakan bahwa ia jelas baru saja melihat Beni sedang memegang uang. Masih belum kehabisan akal, Beni beralasan uang itu hendak ia gunakan untuk membayar uang sekolah, dan karena Kaila masih terus berusaha meminta uang jajan, Benipun membentaknya sampai nangis. Beberapa jam kemudian saat Beni sedang asik main judol, Nadia yang sudah pulang bertanya mengenai uang tabungannya yang menghilang. Beni mengaku tidak tahu apapun soal ini, tapi begitu ia tersudut, dimana Kaila sudah memberitahukan tindakan Beni pada sang ibu, Beni langsung membentak Nadia berulang kali, tidak peduli dengan kenyataan bahwa Nadia menabung uang itu sebagai dana darurat. Tidak bisa mengusir istrinya dengan bentakan, Beni akhirnya menggunakan kekerasan… Ia menampar Nadia dan kembali membentak, menyuruh Nadia untuk menghormatinya sebagai seorang suami.
Sejak hari itu, Beni semakin sering main tangan. Sampai pada hari ke-103, kondisi wajah Nadia sudah babak belur. Sembari menangis, Nadia mulai bertanya – tanya pada dirinya sendiri, apakah ia harus tetap bertahan atau kabur saja? Tidak kuasa menahan penderitaan yang ia alami tiap harinya, Nadia memutuskan untuk kabur. Ia mengemas semua barang yang ia perlukan ke dalam koper dan pergi bersama Kaila, berencana untuk meminjam uang dari tetangga agar paling tidak ia memiliki ongkos kabur.
Di malam hari, Beni yang baru pulang kerja bingung melihat seisi rumah dalam kondisi gelap. Utangnya sudah mencapai 127 juta rupiah. Nadia dan Kaila juga tidak ada dan ia tidak bisa menemukan makanan di dalam dapur. Di tengah kebingungannya ini, seorang rentenir menghubungi dan membentaknya secara terus menerus, mendesak Beni untuk segera membayar utang. Ia bahkan memberikan ancaman dengan memberitahu bahwa ia tahu banyak soal lokasi dan keluarga Beni. Beni yang tampak mengerikan di mata istri dan putrinyapun seketika menciut dan hanya bisa meminta maaf. Bagaimanapun juga, sang rentenir menyuruhnya untuk melunasi utang di keesokan hari. Hari ke – 114, Beni terpaksa harus menjual semua perabotan rumah demi memenuhi kebutuhan hidup dan membayar utang. Kini dengan tabungan yang hanya tersisa 2 ribu rupiah, ia berusaha menelepon Nadia, berharap Nadia bersedia meminjamkan KTP agar ia bisa meminjam lebih banyak uang dari situs judol. KTPnya sendiri sudah diblacklist. Usahanya ini berakhir sia – sia, Nadia tidak menjawab panggilannya sama sekali. Memperburuk situasi, token listrik hampir habis, dan Beni juga sudah tidak memiliki pemasukan apapun karena baru saja dipecat seminggu yang lalu setelah ketahuan mencuri. Terpaksa ia harus menarik saldo dari situs judol yang masih tersisa 1 juta lebih. Namun di luar dugaan, opsi tarik saldo mengalami eror, seketika membuat Beni menjadi sangat emosi. Menekan tombol tarik saldo berulang kali, situs judol tiba – tiba menghilang dan tidak bisa direfresh.
Di titik inilah, sadar ia sudah tidak memiliki simpanan uang apapun, Beni menangis terisak – isak. Bahkan saat ia ingin minumpun, air galon sudah habis dan air keran sudah mati, memaksanya untuk meminum dari air toilet. Rasa sedih Beni langsung berubah menjadi rasa takut ketika ia berjalan keluar toilet dan menyadari kehadiran si pria botak rentenir di dalam rumahnya. Mendengar makian demi makian yang diutarakan padanya, Beni hanya memiliki 2 opsi, negosiasi atau berusaha melarikan diri. Untuk mendapat ending 3, pilih opsi negosiasi. Sadar Beni sudah benar – benar buntu dan tidak mungkin bisa membayar utang yang sudah terlalu menumpuk, sang rentenir memberitahu bahwa ada satu cara terakhir yang bisa dilakukan. Tidak memiliki pilihan lain, Beni terpaksa mengikuti sang rentenir… Ia dibawa ke dalam sebuah ruangan kecil dengan beberapa box peralatan medis. Sang rentenir kemudian datang memberikan sebuah dokumen, dan tanpa memberitahukan isinya, ia menyuruh Beni untuk tanda tangan. Beni yang tidak tahu apa – apa hanya menurut. Setelah tanda tangan, ia mengenakan kostum pasien dan berjalan mengikuti sang rentenir. Beni tidak bisa mengingat kejadian setelah itu. Tubuhnya dibius total agar kedua ginjalnya bisa diambil oleh seorang dokter ilegal. Meski sang dokter tahu betul Beni tidak akan bisa bertahan lama setelah kehilangan kedua ginjal, ia tetap melakukannya karena Beni sendiri sudah menandatangani kesediaannya untuk menyerahkan 2 ginjal sebagai pengganti pembayaran utang.
Kedua ginjal Beni diamankan di dalam sebuah kotak es bertuliskan angka 217, menandakan bahwa Beni adalah korban ke – 217. Kotak es tersebut disimpan bersama kotak – kotak lainnya. Hari ke – 119, hidup Beni bergantung pada obat – obatan yang tidak membantu sama sekali. Kini ia hidup dalam penuh kesengsaraan dengan merasakan rasa sakit tanpa henti di bagian perutnya. Utangnya juga tidak dihapus secara penuh, masih sisa 135 juta rupiah. Beni menghabiskan momen terakhirnya dengan penuh penyesalan. Ia meninggalkan pesan permohonan maaf pada Nadia dan Kaila di dinding… Saat sang rentenir datang ke rumah, alih – alih mencoba negosiasi, pilih opsi kabur. Beni melempar gelas tepat mengenai botak rentenir, membuatnya jatuh kesakitan. Sadar ini adalah kesempatan emas untuk kabur, Beni langsung berlari keluar rumah, berusaha meloloskan diri dari kejaran sang rentenir yang tampak sangat marah. Bila tertangkap, ini yang akan terjadi… Game langsung berakhir dengan Beni yang kehilangan kesadaran. Satu – satunya cara untuk meneruskan cerita adalah dengan mencari jalan keluar. Beni berlari sekuat tenaga dari sang rentenir yang masih belum menyerah, menjadikannya sebagai pusat perhatian para tetangga. Awalnya ada yang mengusul untuk menolong, namun pada akhirnya mereka memutuskan untuk membiarkan Beni mengurusi masalahnya sendiri karena reputasinya yang sangat buruk. Para tetangga tahu soal Beni yang suka memukuli istrinya.
Bagaimanapun juga, pengejaran berakhir ketika sang rentenir tidak sengaja tersandung dan jatuh, memungkinkan Beni untuk berlari ke tempat yang jauh. Langkahnya memelan begitu ia sadar sudah tidak dikejar. Dalam keadaan kelelahan, Beni tersungkur jatuh, menyadari kehidupannya yang sudah sangat berantakan. Ia hanya ingin mengakhiri semua ini. Teringat dengan Nadia dan Kaila, ia mengeluarkan ponsel dan dihadapkan pada 2 pilihan, menelepon atau mengirim pesan. Kedua opsi ini tidak memberikan dampak apapun pada cerita. Bila menelepon, panggilannya tidak akan mendapat jawaban apapun. Beni hanya bisa mengungkapkan rasa penyesalan, sebelum akhirnya baterai ponsel mati. Sedangkan bila mengirim pesan, maka Beni akan mengungkapkan rasa penyesalannya itu melalui pesan yang ia kirimkan ke nomor Nadia. Apapun pilihan yang diambil, pada akhirnya Beni membaringkan tubuhnya di rel kereta, mengakhiri kehidupannya yang sudah tidak berarti… Kematian Beni adalah bagian dari ending keempat. Ending 5 adalah ending yang akan otomatis kita dapatkan setelah mendapat ending 4. Cerita berlanjut beberapa hari kemudian, menunjukkan Nadia dan Kaila yang sedang berupaya keras memulai kehidupan baru dengan berjualan gorengan dan nasi uduk. Di tengah berjualan, Nadia menerima panggilan dari Bu Fera, tetangganya yang meminjamkan uang agar ia bisa kabur. Berdasarkan percakapan Nadia dengan Bu Fera, terungkap bahwa Nadia sudah menjual HP lamanya agar bisa bayar kontrakan dan sebagai modal usaha. HP yang sekarang ia gunakan tidak bisa membuka WA, menandakan bahwa panggilan atau pesan Beni tidak pernah sampai ke Nadia.
Bu Fera sendiri menghubungi Nadia untuk menyampaikan kabar kematian Beni, kabar yang seketika membuat Nadia menjadi sangat sedih. Utang Beni yang masih belum lunas membuat Nadia dan Kaila berada dalam situasi yang agak berbahaya, mereka bisa saja menjadi target rentenir. Maka dari itu, Bu Fera menyarankan Nadia dan Kaila untuk tidak usah pulang dulu… Untuk mendapat ending 6, kita harus kembali ke bagian dimana Nadia menimbang – nimbang untuk kabur. Disini pilih opsi bertahan. Meski menyakitkan, Nadia terpaksa harus tetap hidup bersama Beni suaminya yang sangat kasar. Pada hari ke – 118 saat Nadia sedang sibuk mengajari Kaila sebuah mata pelajaran Beni pulang dalam keadaan suasana hati berantakan karena baru saja dipecat setelah ketahuan mencuri. Melihat tidak ada makanan apapun di dalam dapur, Benipun menjadi marah besar dan segera melampiaskannya dengan memukul Nadia berulang kali… Hari ke – 132, setelah menjual TV dan uangnya lagi – lagi habis untuk main judol, Beni kembali memikirkan cara untuk mendapat lebih banyak modal. Setelah terdiam cukup lama, ia mendapat sebuah ide. Hari ke – 134, Beni menyuruh Nadia untuk bekerja, membuat Nadia menjadi kebingungan. Saat sang istri bertanya pekerjaan apa yang dimaksud, Beni memberitahu bahwa sebentar lagi seorang pria akan datang. Tugas Nadia adalah melayaninya. Ini adalah titik terendah Beni sebagai seorang suami, ia sampai tega menjual istrinya sendiri demi mendapat modal main judol. Beberapa jam kemudian, seorang pria datang ke rumah dan Beni mempersilakannya untuk masuk ke dalam kamar Nadia… Kondisi Nadia benar – benar hancur. Dalam keterpurukannya itu, ia menangis sejadi – jadinya, paling tidak sebelum ia mendengar kedatangan seorang pria yang hendak mencari Kaila. Sadar Beni juga telah menjual putrinya sendiri, Nadia langsung menjadi sangat marah dan bertekad untuk menyelamatkan Kaila. Ia bergegas keluar kamar, namun di tengah upayanya dalam mendobrak pintu kamar Kaila, Beni tiba – tiba datang menghalang dan terus mendorong tiap kali Nadia berusaha melawan. Pada akhirnya, kondisi ini tidak memberikan Nadia pilihan lain selain menggunakan cara kekerasan. Ia mengambil pisau dapur dan menggunakannya untuk menikam mati sang suami… Kini dengan pisau di genggaman tangan, Nadia lanjut mendobrak pintu, membuat sang pria yang sudah tidak mengenakan baju menjadi sangat kesal. Namun begitu melihat pisau berlumuran darah di tangan Nadia, ia langsung menjadi sangat ketakutan, mengaku belum melakukan apa – apa terhadap Kaila. Nadia bisa memilih untuk membunuh sang pria atau cukup mengusirnya.
Kedua pilihan ini hanya berdampak pada nasib sang pria tapi tidak mengubah cerita apapun. Bila mengusir, sang pria akan langsung berlari ketakutan. Sedangkan bila membunuh, Nadia akan langsung menikamnya di tempat. Setelah mengurusi masalah ini, ia segera menenangkan Kaila yang langsung memeluknya sembari menangis keras… Kisah diakhiri dengan menunjukkan hari -1 alias satu hari sebelum Beni kecanduan judol. Disini terlihat bahwa Beni adalah seorang ayah dan suami yang sangat penyayang. Ia mengajari Kaila dengan penuh kesabaran, sedangkan Nadia menyiapkan makanan. Mereka bertiga juga sering bergurau dan tertawa bersama… Jadi itulah kisah yang dibawakan oleh game Pikabuu Stop garapan Joykeratif. Bagi yang penasaran, kalau Nadia tidak menyelamatkan Kaila, game akan langsung berakhir dengan game over. Pesan yang disampaikan oleh game Pikabuu Stop sudah sangat jelas. Begitu kita mencoba judol, maka kita akan terperangkap di dalamnya dan akan sangat susah untuk keluar. Akibatnya juga tidak main – main, kita bisa saja kehilangan segalanya. Bagian akhir ending 6 yang menunjukkan sosok Beni yang sangat penyayang adalah penggambaran dari bagaimana efek adiksi judol dapat menyerang siapapun, tidak terkecuali pada orang – orang yang tampak tidak bermasalah. Selain bagian akhir ending 6, trailer Pikabuu Stop juga menunjukkan kebersamaan Beni dengan istrinya, lebih tepatnya saat sang istri memijat Beni yang sedang kelelahan. Ironisnya kalau kita perhatikan, di bagian awal permainan gaji Beni masih sisa 3 juta rupiah meski 10 hari kedepan ia sudah gajian lagi. Artinya Beni sebenarnya bisa mengatur keuangannya dengan cukup baik, namun ia malah terjerumus oleh ajakan Yadi yang mengusul untuk main judol. Begitu ia menerima ajakan ini, kehidupannyapun berubah secara perlahan seiring berjalannya waktu. Intinya, sesuai dengan pesan yang diberikan oleh sang developer pada tiap ending, judol hanya akan menghancurkan kehidupan kita. Gimana menurut pendapat kalian? Silakan tulis di kolom komentar di bawah. Request bisa dengan reply komen yang kami pin atau DM ke instagram kami di @droomp1. Jangan lupa untuk kasi like kalau kalian suka dengan konten – konten kami dan tentunya terima kasih banyak kepada kalian semua yang telah merequest dan menonton video kali ini. And see you guys in the next video. Stay Romp

Seluruh Alur Cerita Game Pikabuu Stop!
Pikabuu Stop! menggambarkan bagaimana sebuah keluarga bahagia bisa berakhir dengan sangat tragis karena sang ayah kecanduan bermain judol.

Game: https://joykeratif.itch.io/pikabuu-stop

Subscribe – https://www.youtube.com/channel/UC1cu3C3XRmGee8b1jifMQWA?sub_confirmation=1

CHAPTERS
00:00 Opening
01:01 Prologue
02:56 Ending 1
03:29 Accept Yadi’s Offer
08:25 Ending 2
10:46 Spiraling Further Down
16:28 Ending 3
20:48 Ending 4
22:59 Ending 5
24:08 Ending 6
28:12 Conclusion
29:37 Closing

Dukung kami melalui link dibawah ini (Jangan Pakai Duit Ortu)
https://saweria.co/droomp

Channel banner by @dzikrighoul

Follow us:
Twitter – https://twitter.com/Droomp1
Instagram – https://www.instagram.com/droomp1/

MUSIC USED
1. Dark Ambient – Horror Hospital Background Music No Copyright

2. The Closing Summer – Asher Fulero
Lisensi Koleksi Audio YouTube

3. Wistful Harp – Andrew Huang
Lisensi Koleksi Audio YouTube

FOOTAGE USED
[Droomp Plays] “Mari Kita Tamatkan Pikabuu STOP!”

VO: R
Editor: Armaguddien
Stay Romp!

#pikabu #droomp #plot