BLAK-BLAKAN DENNY ISKANDAR, KADER PDIP YG MENYIAPKAN BERKAS JKW: FOTO DI IJAZAH DG WAJAHNYA BEDA!
[Musik] asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh apa kabar kembali berjumpa dengan saya Herb Arif semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat saya senang sekali loh bisa kembali berjumpa dengan Anda semua lebih dari sepekan terakhir ini ada dua nama yang paling banyak dicari ini baik oleh eh media maupun netizen yakni yang pertama adalah eh Widodo ini yang disebut oleh eh politisi PDIP Bitor Suryadi sebagai tim solo dan satu orang lagi itu adalah eh kader PDIP Denny eh Iskandar yang disebutnya sebagai tim Jakarta nah bersama satu orang lagi namanya yakni Indra Kramadipa ini kan disebut-sebut oleh eh Bitor Suryadi mereka ini yang mengetahui atau terlibat dalam pembuatan e ijazah palsu Jokowi ini ijazah dari UGM yang dibuat di pasar pramuka nah karena disebut-sebut diat soal pasar pramuka itu kemudian menyeret satu nama lagi yakni mantan wakil Menteri Desa ee Prof paiman Raharjo paiman ini dicurigai ee dia yang memiliki percetakan di Pasar Pramuka tempat Jokowi mencetak atau timnya Jokowi mencetak ijazah palsu Jokowi yang kemudian digunakan untuk mendaftarkan diri pada Pilkada DKI Jakarta tahun 2012 dan kemudian berlanjut pada pemilihan Presiden pada tahun 2014 ini baring diubek-ubek nih karena nama Widodo dan Deni Iskandar ini disebut oleh Bitor Suryadi ini sedang dia menghilang katanya dia sedang mencari ke mana ini Widodo dan eh Deni Iskandar ini untuk dia tanyakan ee bagaimana ceritanya soal itu sementara Proforiman Raharjo juga kelabah kan ini karena ee disebut-sebut dia ya pemilik dari ee percetakan itu dan kemudian meskipun dia sudah membuat klarifikasi tapi orang tidak percaya ya orang tetap tidak percaya apalagi ada seorang agen BIN yakni kolonel TNI Purnawirawan Sri Raja Sajandra itu kemudian dia eh punya sejumlah saksi yang menyata enggak benar kalau X wakil Menteri Desa Paiman Raharjo itu dia membuka usaha di pasar pojok pramuka itu sampai tahun 2002 saja karena dia punya data punya saksi bahwa setidaknya sampai tahun 2010 itu Pak Paiman masih berkeliaran di pasar pojok pramuka bahkan usahanya itu sampai 2017 nah dia kemudian dicurigai kenapa kok dia menyebut bahwa hanya sampai tahun 2002 berarti kan dia ingin memotong mata rantai sampai tahun 2012 ketika Jokowi menjadi calon gubernur DKI Jakarta dengan bekal mencetak ijazah palsu di percetakannyaalah kemudian dia melenggang menjadi Gubernur DKI Jakarta itu informasi spekulasi ee yang muncul di ee berbagai media apalagi di media sosial rame banget nah benarkah seperti itu saya kemarin itu berkomunikasi dengan eh Denny Iskandar ini tapi hanya via telepon cukup lama ee lebih dari 1 seteng jam saya berbincang tentang ini dan kemudian pagi tadi juga dilanjutkan lagi perbincangan itu saya mencoba mengurut secara kronologis dan kemudian mencocok-cocokkan datanya benar kan yang dia sampaikan ini nah kalau dari penjelasan e Deni Iskandar ini cerita Bitor Suryadi itu dia menyatakan bahwa itu sekitar eh 80 sampai 90% itu betul gitu tapi ada detail-detail yang yang dia bilang ee ini yang kurang tepat begitu tentu semakin menarik ya yang dan lebih menarik lagi itu karena ternyata Deni Iskandar ini sendiri mengakui juga dia memang sempat melihat ijazah Jokowi bukan hanya melihat ya dia memproses ijazah Jokowi itu dan pada waktu itu pun dia ee merasa sudah agak melihat keanehan dia belum curiga ya pada waktu itu dia melihat kejanggalan karena foto ee ijazah Jokowi itu dengan Jokowi yang ada di hadapannya itu berbeda gitu nah saya tanyakan kepada dia ee apakah ijazah yang disebut itu ijazah yang sekarang beredar ini ee yang diberedar di media sosial dia menyatakan itu iya dan memang soal ini sempat banyak sekali dipersoalkan ya oleh ee netizen dan sejumlah ee pengamat juga menilai ada yang berbeda ini antara ijazah Pak Jokowi fotonya itu di sini yang pakai kacamata dan kemudian wajah Pak Jokowi sekarang gitu karena agak aneh kalau dulu pakai kacamata kenapa sekarang Pak Jokowi tidak pakai kacamata kemudian juga ada mempersoalkan zaman dulu aturannya ijazah itu enggak boleh pakai kacamata jadi soal inilah yang mungkin menjadi ee makin ramai gitu sayangnya ini Mas Deni Iskandar ini yang sekarang domisili di Surabaya dia e tidak mau untuk muncul tapi dia memperkenankan saya untuk mengutip perbincangan dan mempublikasikan perbincangan itu tapi dia betul-betul mewanti-wanti jangan sampai kemudian menimbulkan kesalahpahaman karena menurut dia ee ya kalau soal ee pemalsuan atau pembuatan ijazah palsu di Pasar Pramuka itu dia sama sekali tidak tidak terlibat bahkan sebenarnya sesungguhnya secara kronologis kita tidak tahu boleh dikatakan dia tidak tahu menau soal itu sementara kemudian soal sosok Widodo ini nah ini yang menarik menurut Iskandar yang berurusan dengan dia sebelumnya berkaitan dengan kelengkapan administrasi Joko Widodo untuk menjadi calon gubernur itu bukan bukan Widodo tetapi yang berurusan dengan dia itu adalah namanya Muhammad Isnaini yang belakangan ini kemudian dikenal sebagai ee ketua alap-alap Jokowi ini relawan Jokowi dan eh satu orang lagi namanya adalah Eko Sulistyo dia adalah ketua KPUD Solo yang kemudian e setelah Jokowi terpilih menjadi presiden karirnya melejit eh masuk di KSP dan terakhir dia itu menjadi eh komisaris di PTPLN Pesero tapi belakangan dia kemudian mengundurkan diri ketika kemudian eh PDIP bersimpang jalan dengan Jokowi eh Jokowi mendukung dan mengusung Prabowo Gibran sementara kemudian Eko Silistio itu bergabung dengan timnya Ganjar Pranowo dan eh Mahfud MD jadi mereka juga berpisah jalan jadi bagaimana urutan-urutan ceritanya ini nah kalau menurut versi dari Denny Iskandar pada waktu itu ini konteksnya itu pada tahun 2011 ya mulai ee terjadi penjaringan mulai dilakukan penjaringan untuk ngusung calon ee gubernur di ee DKI Jakarta pdip pada waktu itu belum terlalu seksi karena di Jakarta PDIP selalu kalah ya pada waktu itu nah ee kemudian mereka melakukan penjaringan banyak sebenarnya yang pada waktu itu ee mau mendaftarkan diri ingin jadi calon gubernur ee dari DKI misalnya ada nama Faisal Basri kemudian ini ekonom yang almarhum Faisal Basri kemudian ada nama Pak Bibit Waloyo kemudian ada Maijen Prianto ini mantan wakil gubernur di eranya eh Fokee dan ada Joko Widodo joko Widodo itu waktu itu adalah dia kader internal ya ee waktu itu dia masih menjadi ee Walikota Solo tapi menurut Deni sesungguhnya dia juga pengurus PDIP Jawa Tengah karena dia menjadi wakil ketua DPD PDIP e Jawa Tengah nah untuk memverifikasi dokumen-dokumen tadi itu itu yang melakukan adalah eh Deni Iskandar karena pada waktu itu dia menjadi sekretaris Bapilu yang menjadi ketua Bapilunya itu adalah eh Boy eh Stadigen ini ya putra mantan Gubernur DKI Jakarta ahli Sadikin waktu itu belum terlalu lengkap ya dokumen-dokumennya itu biasanya banyak hanya berupa ee riwayat hidup kemudian ijazah dan dan lain-lain kemudian e mereka ini mereka ini para ee orang yang mau jadi calon dari gubernur di eh PDIP ini kemudian ditunjuk licens officer dan kemudian muncullah nama Indra Krama Dipa ini kalau menurut Deni Iskandar dia ini adalah ee pengurus DPC PDIP Jakarta Timur yang dia kemudian ditunjuk menjadi licens officer Jokowi yang lain-lain juga dapat nanti Pak Faisalsi ada officernya Prianto dapat ada licen officernya Bito dan seterusnya gitu jadi eh tugas dari si Indra Krama itu ya itu jadi penghubung antara partai dengan kandidat hanya sampai di situ kalau urusannya sementara kalau Den Iskandar dia memang ee sekretaris Bapilu jadi dia ee terlibat dalam proses-proses untuk penjaring para calon inilah nah ketika kemudian pada waktu tiba ternyata yang mendaftar kembali yang kembali itu hanya Jokowi padahal pada waktu itu sebenarnya terjadi dinamika internal di eh PDIP eh karena Taufik Kimas suami Ibu Megawati pada waktu itu sebenarnya menjagokan bukan bukan Jokowi dia menginginkan yang maju itu adalah Voke ya ini Pak Usbowo Gubernur Incen Paik menginginkan agar Pak Uzibowo dipasangkan dengan kader PDIP yakni Jenderal TNI Adang Ruhiyat nah tapi waktu itu Fauzi Bowo enggak mendaftar ke PDIP yang mendaftar ya hanya Jokowi dan kemudian ee Ibu Megawati juga memutuskan ee Jokowi dan sebelumnya ini prosesnya sebenarnya berjenjang dari dari DPD eh ada kemudian ada Raker Dasus untuk ee pemilu dan kemudian ini yang kemudian dilakukan itu proses internal ya pada waktu itu semua diproses di kantor DPD PDIP DKI Jakarta yang berlokasi di Tebet Raya nomor 36 kalau soal Taufik Im yang menginginkan Fauzi Bowo itu cukup menarik karena dia sendiri ternyata tidak menyukai Jokowi ini kalau ada dua versi ini ya kalau versinya Ahok yang kemudian menjadi pasangan Jokowi ya karena pada waktu itu pertimbangannya Pak eh Taufiikimas itu bahwa ini Jokowi kan namanya kurang dikenal dia orang dari daerah sementara melawan Inkumen Foke atau Fauzi Bowo jadi perlu calon yang lebih dikenal dan merasa kalau dalam penilaian dari Pak Taufik Imas ya sudah dukung saja Fauzi Bowo dan kadernya yakni Adang Ruhiatna menjadi wakil gubernurnya tapi kepada Pandana Baban Taufik Imas punya pernyataan yang berbeda dia melihat bahwa lihat tampilannya Jokowi ini enggak meyakinkan gitu waktu itu apa ya dilihatnya sebutnya dari matanya mungkin ya katanya ee ini orang haus kekuasaan e kata Taufik Iimas dan menurut Panda Nababan itu tidak hanya disampaikan kepada dia tapi ke sejumlah tokoh PDIP lainnya ada Cahya Kumolo dan kemudian juga Pramono Anong ini dua-duanya pernah menjadi ee PDIP jadi ini intuisinya kelihatannya ya Taufik Imas mungkin karena jam terbang dia sebagai politisi yang banyak bergaul dengan orang itu dia bisa melihat dari tampilan dan wajah orang dia tahu nah ini orang ini seperti ini sifatnya tapi kok pada Jokowi kemudian dia menyatakan bahwa ini orang ini haus kekuasaan pada waktu itu e Panda menyatakan ah aku enggak tahu kalau soal soal ramal-meramal seperti itu kata ee Pak Belakangan dia membenarkan luar biasa ya ramalan atau bacaan dari Taufik HIMAS itu karena kemudian Jokowi jadi presiden sampai dua periode dan kemudian menginginkan untuk diperpanjang lagi sampai tiga periode tapi karena di Rakerdasus diproses di internal PDIP dan kemudian disetujui oleh DPP bahwa yang dimajukan eh Jokowi yang berpasangan dengan Ahok ya kemudian jadilah ee mereka ini yang diusung maju menjadi calon pasangan gubernur dan wakil gubernur PDIP kala itu berkoalisi dengan ee Partai Grindra Ahok yang semula partai e kantor partai Gulokar kemudian pindah ke Gerindra di Gerindrakan dan kemudian jadi wakil dari Joko Widodo nah proses inilah Deni Iskandar yang e kemudian juga masih terlibat karena tadi itu dia sebagai sekretaris Babilu kan kemudian dia juga membuat ee semacam tabulasi atau ceklis gitu ya apa saja kelengkapan-kelengkapannya kalau tadi yang yang pertama dia bertemu dia melihat Jokowi ketika menyerahkan ijazah dan ee dan biodata serta ee riwayat hidup dan lain-lainnya di situ dia melihat sempat melihat ijazahnya ee itu kok apa enggak ijazahnya kok berbeda wajahnya dengan tampilannya Jokowi nah pada proses berikutnya ee fokusnya sudah tidak ke situ lagi karena sudah menjadi keputusan partai jadi tugas dia untuk mengamankan DNI kemudian melakukan ceklis apa saja sih ee dokumen-dokumen yang ee diperlukan dan kemudian yang kurang itu pada waktu itu hanya berasal surat keterangan dari Pengadilan Negeri Surakarta yang menjelaskan bahwa dia tidak pernah ee berurusan dengan pidana yang di pidananya pada waktu itu jatuhi ee atau tuntutannya sampai 5 tahun kekurangannya pada waktu itu ee itu saja kata Deni Iskandar kepada saya nah saya kemudian bertanya dari siapa dia menerima dokumen-dokumen itu jadi dia menerima dokumen kalau yang pertama tadi yang waktu masih pendaftaran secara internal prosesnya itu dari Jokowi tapi kalau yang kedua ini ini karena sudah mulai proses dengan ee partner koalisi dan dengan kemudian nanti dengan KPUD dan dia kemudian membuat ceklis itu dicamakan dengan peraturan KPU gitu apa saja dokumen yang diperlukan dan sebagainya dia menerimanya itu dari Isnaini jadi siapa Isnaini ini nama lengkapnya Muhammad Isnaini eh ketika saya sodorkan foto nah ini fotonya ini apakah ini yang dimaksud dia membenarkan itu yang ini adalah Isnaini yang disebut begitu nama lengkapnya ini kalau saya baca dia Muhammad Isnaini adalah ketua alap-alap e ketua umum relawan alap-alap Jokowi oh ini alap yang militan karena eh mereka ini ternyata memang ini adalah tim Solo nah dari keterangan Deni Iskandar bahwa yang disebut tim Solo itu nama Widodo pada awalnya tidak ada yang datang pertama kali itu nama-nama itu adalah Isnaini eh David dan kemudian Anggit itu tiga nama yang eh itu yang kemudian melekat pada eh Jokowi kalau David ini adalah ej dari Jokowi muhammad Isnaini dan Anggit ini disebutnya oleh eh Deni Iskandar dia merupakan wartawan yang kemudian menjadi tim ee yang melekat terus kepada ee Joko Widodo kalau soal penyerahan dokumen ini jadi di luar nama tadi ya nama tim Solo yang e tadi itu Isnaini Anggit dan David itu kalau soal penyerahan dokumen yang membawa itu pada waktu itu Isnaini dan Eko Sulistio yang ini dari KPUd Solo eh yang kemudian dia bertemu dengan Deni dan Deni itulah kemudian dilakukan ceklis seperti itu ya cekes mana yang kurang mana yang kurang tadi yang saya sebutkan kekurangannya dari pengadilan negeri ee Solo nah setelah dokumennya lengkap dan sebagainya dan kemudian juga di pleno tadi diputuskan bahwa Jokowi itu yang akan diusung oleh PDIP sebagai calon kemudian hasil berita acara rapat pleno itu oleh Denny Iskandar dibawa untuk menemui Boy Sadikin boy Sadikin posisinya waktu itu sudah berubah dari ketua Bapilu menjadi eh ketua DPD DKI Jakarta sementara posisi dari Deni Iskandar itu berubah menjadi wakil sekjen bidang internal jadi kata Deni Iskandar yang membuat surat dukungan pencalonan Joko Widodo ini ke KPU itu yang menandat tangan adalah e Boy Ali Sadikin Boy Sadikin yang sekaligus juga menjadi ketua tim SES nah dia lupa siapa sekretaris yang menandatangani seingat dia bukan seingat dia harusnya pada waktu itu kata Deni Iskandar karena sekretarisnya tidak ada jadi harusnya menandatangani dia karena dia adalah sekretaris bidang internal tapi dia tidak terlalu ingat apakah yang menandatangani surat itu dia ee dia bersama dengan Boy Boy Sadikin atau Boy Sadikin dengan yang lain tapi yang jelas Boy Sadikin yang menandatangani dan eh karena Boy Sadikin itu eh kemudian juga ditunjuk menjadi ketua timses sementara sekretaris tim sesnya pasangan Jokowi dan Ahok itu adalah Sanusi ini adalah politisi Partai Gerindra adik dari mantan ketua DPD Partai Grindra DKI Jakarta Muhammad Taufik almarhum setelah dokumennya lengkap dari PDIP dari Gerindra dan sebagainya kemudian yang menyerahkan ke KPUd itu adalah Prasetyo ya Prasetyo Adi yang disebut-sebut juga Bitor ini dia posisinya di sini sebagai bendahara tim Ses kemudian Anggit tim Solo itu juga ikut nah ini juga tim Solo kemudian Marihot ini dari PDIP yang ketua Bapilu yang baru dan M syarif m syarif ini dari Partai Gerindra bagaimana dengan posisi Widodo ini seperti saya sebut sebelumnya dikatakan oleh Deni Iskandar Widodo ini bukan eh sebenarnya bukan bagian dari tim Solo bahwa dia benar tim Solo itu tapi dia datangnya belakang kan setelah terbentuk ses gitu ya yang disebut pada waktu itu oleh dia fase keempat gitu jadi dan apa sih tugasnya Widodo ini nah ini menarik ini widodo ini adalah masih keluarganya Pak Jokowi dan selama ini rupanya dia mengurusi bisnis dari keluarga Jokowi dan dia di bagian keuangan jadi ini semacam e tim keuangan yang menyediakan misalnya kebutuhan makan tim dan sebagainya pokoknya logistiknya dari tim itu yang menyediakan anggarannya adalah Widodo jadi ketika saya tanyakan apakah Widodo ini terlibat dalam pengurusan dokumen Bro Den Iskandar sama sekali tidak ee ee Widodo itu tidak mengetahui soal dokumen itu urusannya pokoknya dari bagian keuangan dan sebagainya dan saya tanyakan lagi ke mana J ee Widodo ini apakah betul dia menghilang menurut dia dia ee Widodo ada sekarang ada di Jakarta dia membuka restoran Vietnam dan katanya si mungkin nanti malam kalau tidak salah dia akan tampil di salah satu stasiun televisi karena dia ingin meluruskan gitu dia dapat perintah untuk meluruskan ini bahwa dia tidak terlibat dalam soal itu nah jadi dari sini clear ya nama-nama Widodo nama Din Iskandar kalau kita lihat secara kronologis ini tentu saja ee versi dari Deni Iskandar ya kalau ada ee tokoh lain yang terlibat dalam soal itu dia bisa memberikan ee penjelasan dari versi dia eh Widodo jelas dia tidak tahu menahu soal ijazah itu sementara Deni Iskandar juga dia hanya menerima saja dari ee dari Jokowi dan juga berikutnya menerima dari Isnaini ee soal keasliannya dan sebagainya mereka tidak melakukan itu ee jadi partai tidak melakukan itu karena itu akan menjadi domain dari eh KPUD nah berarti ini ada missing link di sini ya dari cerita Bitor ya bahwa soal fase Pasar Pramuka ini masih perlu dicari lagi nih ee bagaimana ceritanya ini tentu saja kalau berkaitan dengan ijazah kelihatannya yang lebih tahu adalah ya tim Solo sementara tim partai yang di Jakarta itu tidak tahu menahu soal ini saya kira makin menarik ya eh kasusnya Pak Jokowi ini karena eh PDIP sendiri dalam hal ini Deni Iskandar karena dia sudah sejak awal juga dia juga curiga antara foto di ijazah dengan orangnya kok berbeda dan memang secara kasat mata itu berbeda gitu ya sementara kalau Widodo ini dia tidak tahu menahu soal pasar pramuka mungkin bisa dicek ini berarti Anggit ke Isnaini dan kemudian juga mungkin ke Eko Sulistio dan yang lebih jelas lagi pasti Pak Joko sendiri yang tahu sayaif sampai jumpa lagi wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh [Tepuk tangan]
Subscribe juga akun:
Rocky Gerung Official
https://www.youtube.com/channel/UClp5BC5q94WufuaOl667JtQ
F&F
https://www.youtube.com/@FREEDOMANDFAIRNESS
MSD
https://www.youtube.com/channel/UCuwYsgOFjt6eYrJFRygR59A
Forum Tanah Air
https://www.youtube.com/channel/UCMJYWPTw-RqrBqmZMnusvXw
2025
#hersubenopoint
#hersubenoarief
#hersubeno
#fufufafa #gibran #kaesang