JURU SIHIR PART 6 (TAMAT) – Dhot Design

Subscribe minta tolong. Diam diam diam diam. Parat. Ya Allah. Pakungkat. Pakungkat mana aja? Bapak enggak kenapa-napa kan, Pak? Enggak enggak enggak gua enggak kenapa-napa. Yot.
Parungkad pakai-pakaian apa sih, Pak?
Aduh panjang ceritanya, Pan. Entar gua ceritain deh ya. P sekarang mending tolongin gua yuk. Ayo buruin tolongin teman teman gua. Teman gua pada tenggelam di lumpur. Teman yang mana, Pak? Siapa? Aduh pokoknya teman gua dah. Mereka suku primitif yang tinggal di pulau ini. Udah ayo buru yuk. Kasihan mereka. Eh emang tenggelamnya di mana, Pak?
E di dalam lumpur. Di sonana? Noh noh noh. Ayo tolongin keburu mati.
Iya ya. Ayo, ayo. [Musik] Ini di sini mereka masuk ke dalam lumpur ini, tapi belum keluar juga. Udah gua tusuk-tusuk pakai kayu juga enggak ada. Ee, emangnya mereka ngapain masuk ke sini, Pak?
Iya, Pak. Pokoknya semacam ritual gitu kayaknya. Dia bilang ini emang tempat peristirahatan mereka. Tempat peristirahat.
Tempat peristirahatan.
Maksudnya gimana sih barungkan? Maksudnya tempat peristirahatan gimana, Pak? Ya, dia bilangnya begitu aja pokoknya. Eh,
ya istilah lain tempat peristirahatan ya. Kuburan dong, Parungkad.
Iya, benar. Parungk.
Kuburan ya. I
iya kuburan. Eh, maksudnya gimana sih?
Enggak, enggak, enggak, enggak. Gini aja deh, Pak Rungkan ceritain dulu awalnya gimana. Masalahnya enggak masuk akal, Pak. Siapa sih yang mau istirahat di dalam lumpur? Emang ada orang yang kuat berjam-jam di dalam lumpur?
Iya, benar, B. Eh, iya juga ya.
Ya iyalah, Pak.
Benar. Kata Bang Topan. Ceritain dulu gimana tadinya Pak Rukan bisa ketemu sama orang-orang itu.
Iya, Pak.
Iya, Pak.
Eh, jadi gini. Gua kan keseset. Gua ketemu sama orang-orang suku primitif. Awalnya gua disekap di dalam rumah kosong. Tapi adanya kejadian jangkal yang bikin mereka beranggapan kalau gua sakti, akhirnya gua diangkat jadi juru sihir. Nah, setelah gua diangkat jadi juru sihir, mereka nyuruh gua ikut ke sini. Habis itu gua enggak tahu mereka mau ngapain di sini. Eh, tahunya mereka pada masuk ke dalam lumpur ini.
E, sor dipotong. Terus Pak Rungkat suruh masuk juga. Iya, dia bilangnya sih begitu. Gua suruh masuk juga. Terus berapa orang yang masuk ke dalam lumpur ini? Dua. Dua, dua orang. Si Toru sama si Nomu. Heh. E, Nomu? Mmm, gaya pernah dengar. Ya udah, terus lanjut, lanjut, lanjut. Iya, namanya si Nomu. Ya udah, habis itu mereka enggak nongol lagi sampai sekarang. Emm, terus sisanya pada di mana, Pak, sekarang?
Eh, siapa? Warga suku Primitif.
Iya, Pak. Ya, ada di sono. Rameai kan? Ada rumah pedesaan di dalam.
Rumah pedesaan? Rumah pedesaan? Iya, ada kepala sukunya juga di sana. Namanya si Opa. Jangan-jangan rumah yang tadi lagi
bisa jadi?
Iya. Iya. Tapi kan tadi rumahnya kosong, Yot. Enggak ada penghuninya. Orang terbengkalai gitu. Mending sekarang Parungkan bawa kita ke rumah pedesaan itu, Pak.
Terus gimana ini si Toruus sama si Nomo?
Udahlah, Pak. Jangan dipikirin. Mereka itu hantu. Percaya deh sama saya.
Eh, hantu? Eh, enggak mungkin. Ah,
udah mending bawa dulu kita ke sana. Saya pengin tahu rumah pedesaan mana yang Parungkan maksud.
E iya iya deh. Ayo ayo ayo ayo ayo ayo. Ini rumahnya Pak
ini siang tadi yang tadi di sini.
E kok kok jadi kayak gini? Perasaan enggak kayak gini? Waduh kenapa? Kenapa tuh? E, opa, opa, opa. Ih, ya Allah. Apa gua enggak salah lihat ini? Kok jadi gini? Eh, enggak mungkin. Enggak mungkin. Masa baru berapa menit doang gua tinggal udah kayak gini. Gimana, Pak? Gimana, Pak Rungkan?
Eh, kok ada yang aneh ya?
Aneh kenapa? Kenapa, Pak?
Tadi enggak gini kondisi rumahnya, terus orang-orangnya pada ke mana ini? Parung kan halusinasi kali, Pak. Kita juga udah ke sini sebelumnya, tapi ya emang gini keadaannya.
Tapi coba coba coba. Ayo kita cek ke tempat lain, ke tempat pertama kali gua disekap coba. Ya udah, yaudah. Ini persis di sini pertama kali gua disekap sama mereka. Tapi enggak gini kondisinya. Orang baru kemarin-kemarin kok, Pak. Udah, Pak, istigfar.
Tapi Yot, sumpah demi Allah gua di sini ada banyak warga suku primitif. Mereka juga pada baik sama gua,
Pak. nyebut, Pak. Parung tuh dari kemarin-kemarin sendirian di sini. Mereka tuh hantu. Yakin saya?
Eh, lu enggak percaya sama gua, Pan?
Bukan enggak percaya, Pak, tapi mana buktinya? Eh, gua yakin sih Parungka diganggu sama penghuni sini.
Iyalah
iyalah pasti. Udah jelas-jelas kosong begini. Ih, mana seram begini tempatnya.
Ya, walaupun benar pernah ada suku primitif di sini, kemungkinan udah pada mati semua.
Iya. Tapi Bapak tahu kan, Pak, tempatnya? Tahu tahu saya masih ingat tempatnya. Saya juga yakin mereka kejebak di rumah hantu itu.
Eh, tapi anak saya enggak bakal kenapa-kenapa kan, Pak? Mudah-mudahan enggak. Asalkan mereka enggak bikin ulah di pulau ini.
Gimana, Pak?
Gimana, Pak?
Eh, gua gua bingung ini harus ngomong apa. Sumpah demi Allah, mereka ada di sini sebelum gua ketemu sama kalian. Udah, Pak. Istigfar, Pak. Iya, ya. Yot. Astagfirullahalazim. Ini Pak tempatnya. Ini Pak tempatnya. Iya ini loh. Itu siapa? Mereka bukan? Iya benar Pak. Nak
Robi
loh itu kan.
Pak pak papa Bapak K pak. Akhirnya dengan bantuan mereka kami bisa pulang dengan selamat. Kami dijemput dengan menggunakan perahu dan ternyata benar Parungka terjebak di dalam dimensi lain. Dia diganggu oleh hantu dari suku Geg. Beberapa tahun yang lalu, mereka dibantai habis-habisan oleh sekelompok mafia yang tidak tahu asalnya dari mana. Mereka ditembak dan diseret lalu dikubur di dalam lumpur yang kedalamannya mencapai 50 m. Tidak ada satu pun yang tersisa kecuali rumah mereka yang sebelumnya penuh dengan kedamaian. Eh, tapi alasannya apa, Pak? Mereka sampai dibantai habis-habisan. Ada seorang wanita muda bernama Nomu yang berlindung di pulau itu. Dia membuat masalah besar dengan sekelompok mafia itu. Tapi suku Gegek melindunginya. Mereka tidak sadar akan bahaya yang akan terjadi terhadap mereka. Sampai pada akhirnya para mafia itu meminta kepada suku Gegek untuk menyerahkan Nomu kepadanya. Tetapi suku Gegek menentang. Dia tidak mau menyerahkan Nomu kepada mafia karena salah satu dari mereka sudah jatuh cinta kepada Nomu yang bernama Toru. Tanpa adanya negosiasi lagi, para mafia itu pun memilih untuk membantai mereka dan menghilangkan jejak mereka. Kemudian pulau itu dibeli oleh mereka agar tidak ada yang mengunjunginya.
Oh, gitu. Tapi kok kakek bisa tahu semuanya? Padahal kasus mereka kan udah ditutupin. Saya salah satu warga suku GG yang berhasil lolos saat pembantaian. [Musik] Yatang ugun agak tunggu yaut ugun siang. Eh bu kagar maganigi keg agak paga k gituigiugu agugu begitu buugulugu agak kegerjaga ogorogang magayaga ogoragang ogoragang no eh apaan sih pak enggak ngerti ah udah sih biasa aja enggak usah pakai bahasa begituan
harus bisa tuh lu juga penting
penting penting penting apaan enggak ada faedahnya bahasa kayak begituan
ya kata siapa kalau lu udah bisa bahasa gege lu bisa ngegibahin orang di depan orangnya langsung Tah. Waduh. Iya juga ya.
Ya iya atuh. Udah sono mandi. Ayo gua ajarin dari nol. Ya, ya deh. Ah. [Musik]

Animasi yang menceritakan masa masa sekolah SMA, yang seru, lucu, membahas percitaan dan penuh dengan arti kehidupan.

MERCHANDISE :

SENDAL DHOT DESIGN X ELABEL :
Via Tiktok : https://vt.tiktok.com/ZSkjcdeLc/
Via Shopee : https://id.shp.ee/VfRA6LU

Social Media Dhot Design :

INSTAGRAM : https://www.instagram.com/dhot.design/

FACEBOOK : DHOT (Design)
https://www.facebook.com/profile.php?id=100087442015696&mibextid=ZbWKwL

Facebook FANSPAGE : https://www.facebook.com/profile.php?id=100088236669799&mibextid=ZbWKwL

TIKTOK : Dhot Design
tiktok.com/@dhotdesign

BSTATION : Dhot Design

SNACK VIDEO : DHOT DESIGN
https://sck.io/u/@DhotDesign/XB3hjPGs

#dhokona #animasisekolah #animasilucusekolah #kartunsekolah #animasilucuindo #animasindonesia #animasianaksma #animeschool #schoolanime

Animasi sekolah, animasi lucu sekolahan, animasi menceritakan masa sekolah, animasi lokal, animasi lucu indonesia, kartun anak sekolah, animasi kocak sekolah, animasi kocak bikin ngakak, animasi menceritakan anak sekolah, anime school, anime sekolahan, animasi masa sekolah sma, animasi anak sma, animasi anak smp, amimasi seru sekolahan, animasi keren sekolahan.