Awal Mula Konflik Rusia-Amerika Serikat Yang Jarang Orang Tahu #geopolitics #politics #coldwar

Halo Litotesmania, hubungan antara
Rusia dan Amerika Serikat sejak awal 90-an hingga awal tahun 2000-an bisa
dibilang sangat cihuy. Sayangnya hubungan yang sangat cihuy itu dibarengi
dengan rasa saling curiga satu sama lain. 5 tahun sebelum runtuhnya Uni
Soviet, Uni Soviet mencoba memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat.
Hubungan ini diteruskan Rusia melalui Boris Yeltsin. Tahun 1994, Rusia bergabung
dengan Partnership for Peace yang merupakan program NATO untuk memperbaiki
hubungan dengan negara-negara bekas Pakta Warsawa. Intinya saat itu kedua
negara melihat ada sisi positif. Amerika Serikat melihat Rusia sebagai negara
baru pulih coba didekati agar menjadi negara partner yang demokrasi dan nurut
dengan aturan Barat. Rusia melihat Amerika Serikat negara kuat,
satu-satunya adidaya saat itu coba didekati dengan harapan bisa bergerak
bersama untuk mencapai dunia yang seimbang. Masalah mulai muncul di tahun
1999. NATO menyerang Serbia dalam perang Kosovo yang dikritik oleh Rusia yang
condong membela Serbia untuk mempertahankan Yugoslavia. Sementara
Amerika Serikat mengkritik Rusia atas tindakan represi terhadap kelompok
separatis Chechnya. Walaupun setelah itu hubungan keduanya masih terbilang oke,
namun satu sama lain saling menaruh curiga. Amerika Serikat melihat Rusia
mulai bertindak otoriter ketika Putin mulai mengontrol pers dan membungkam
para lawan politiknya. Begitu pula Rusia melihat Amerika Serikat mencoba menahan
level Rusia terus di bawah mereka. Amerika Serikat selalu mengabaikan Rusia
dalam setiap forum internasional agar terus menjadi kekuatan tunggal di dunia.
Saling curiga ini membawa ketegangan kecil di Eropa. Apalagi Eropa Timur dan
Balkan mulai ditarik satu persatu untuk menjadi anggota NATO. Ekspansi besar
NATO terjadi tahun 2004, yakni ketika tiga negara Baltik, Latvia, Lithuania,
dan Estonia, satu negara Eropa Timur Slovakia, dan tiga negara Balkan,
Slovenia, Rumania, dan Bulgaria. Rusia mulai mengkritik secara terang-terangan
soal ekspansi ini karena dianggap sebagai ancaman kedaulatan. 2005, Putin
mencoba lebih intens dengan Bush agar tidak ada lagi ekspansi NATO yang
mendekati wilayah Rusia. Bush justru mengkhianati dengan menjanjikan Ukraina
dan Georgia pada 2008 dalam NATO Membership Action Plan yang akan
mengupayakan keanggotaan dua negara itu di kemudian hari. Gelombang ekspansi
yang susah dicegah ini memaksa Putin menggunakan cara kotor, yakni dibanding
memperingatkan NATO yang tuli. Jangan melebarkan ekspansinya ke dekat
perbatasan Rusia. Rusia memilih intervensi langsung politik Ukraina agar
tidak pro NATO lewat Pilpres Ukraina tahun 2010. Putin membantu memenangkan
Viktor Yanukovych, politikus Ukraina pro Rusia untuk menjadi presiden Ukraina. Di
bawah Yanukovych, kebijakan Ukraina sangat dekat dengan Rusia. Sayangnya,
hanya 4 tahun saja hubungan itu terjalin. 2014, Yanukovych didemo
habis-habisan untuk mundur sebagai Presiden Ukraina. Bagi Rusia, ini
merupakan kudeta yang didukung Barat. Tersingkirnya Yanukovych membuat rakyat
Ukraina terpecah antara pro NATO yang didominasi Ukraina Barat dan utara dan
rakyat Ukraina pro Rusia di wilayah Krimea dan timur Ukraina atau Donbass.
Sejak saat itulah apa yang disebut babak baru Perseteruan Rusia dan Amerika
Serikat dan berlangsung hingga sekarang.

Sejak berakhirnya Perang Dingin, hubungan Rusia dan Amerika Serikat memasuki fase baru yang penuh harapan namun dibayangi kecurigaan. Di awal 1990-an, kedua negara sempat menjalin kemitraan melalui forum-forum kerja sama seperti Partnership for Peace dan NATO–Russia Council. Namun, langkah ekspansi NATO ke negara-negara bekas Pakta Warsawa mulai menimbulkan ketegangan. Bagi Rusia, perluasan aliansi militer Barat ke arah timur dianggap sebagai ancaman strategis terhadap pengaruh dan keamanannya di kawasan.
Ketegangan memuncak ketika NATO terus memperluas keanggotaannya, termasuk ke wilayah Baltik, Eropa Timur, dan Balkan. Bagi Amerika Serikat, ekspansi ini adalah bagian dari upaya menstabilkan Eropa pasca-Uni Soviet. Namun bagi Rusia, ini menandai upaya sistematis untuk mengepungnya secara geopolitik. Kecurigaan tumbuh seiring dengan munculnya kebijakan luar negeri yang saling berseberangan, kontrol politik dalam negeri Rusia yang semakin ketat, serta eksklusi Moskow dari pengambilan keputusan global. Dari sinilah awal mula konflik yang kemudian berkembang menjadi ketegangan panjang antara dua kekuatan besar dunia.