Menggebu-Gebu! Pernyataan Roy Suryo & Rismon usai Mengikuti Gelar Perkara Khusus Ijazah Jokowi
Amik. Alhamdulillah kami berdua dan juga sebenarnya bersama dengan dr. Tifa bersama juga dengan dr. Taufik dan juga dengan e Pak Risal Fadilah ya. kami tadi di dalam bersama dengan tim TPUA ya dan langsung diketuai oleh Pak Egi Sujana dan juga ada Pak Muslim Arbi, Bu Kurnia dan juga beberapa petinggi TPU yang lain. Kami alhamdulillah ee sudah memaparkan dan sesuai dengan kapasitas itu menyampaikan ke depan ee apa ee paparan dari ee gelar perkara khusus ya. Pertama-tama yang perlu saya sampaikan karena saya tahu itu insyaallah itu pasti akan ada ee tantangan dari mereka ya. maka saya sudah siapkan dulu. Jadi supaya membuktikan enggak usah banyak pertanyaan. Saya tadi sampaikan kenapa saya juga bicara soal Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik. Nah, sebelum tentang Undang-Undang Keterbukaan publik itu diberikan, saya sampaikan kalau selama ini mungkin teman-teman banyak lihat saya dulu ikutnya keterlibatan di apa? Ini adalah surat dari Kementerian Komunikasi di Informatika. Masih zaman menterinya Pak Samsul Muarif. Jadi ini surat di tahun 2003. Saya adalah termasuk diundang secara pribadi ya dari Universitas Gajah Mada. Jadi clear kan saya drismo, Dr. Tifa itu clear banget dan yang lainnya adalah e apa para e lembaga. Kemudian saya tadi juga sempat karena ada DPR saya sampaikan juga untuk DPR saya berkali-kali menjadi ahli di DPR sebelum saya menjadi anggota DPR ya. Jadi clear banget ini undangan untuk khusus pribadi saya selaku ahli multimedia telematika. Dan yang paling menarik tadi membikin para penyidik itu agak ada yang senyum adalah apa? Sebelum undang-undang itu disahkan, saya justru memberikan penjelasan kepada divisi humas Mabis Polri waktu itu soal Undang-Undang Keterbukaan Formasi Publik dan Undang-Undang ITE. Nah, jadi saya dan dokter respon tadi didengar betul dan kami itu sesuai dengan kapasitas kami karena dibekali dengan insyaallah ilmu pengetahuan kami kemudian tadi memaparkan kami memaparkan ee apa yang ada yang tadi mungkin pada saat masuk sudah disampaikan tapi ini saya jelaskan lagi. Saya menjelaskan analisis teknis ijazah dan skripsi yang 99,9% palsu ya. Dan saya terbuka sekali, kami terbuka paparan ini baik secara hardware maupun secara software tadi kami berikan dan Pak ee Kepala apa ee pimpinan itu suka sekali menerima langsung dibaca dan langsung ee dicopy untuk apa ee anggota supaya nanti bisa dianu semuanya ya. Dan yang jelas yang yang jelas kami berangkat dari paparan ketika Fakultas Kehutanan UGM yaitu Dekan Fakultas Kehutanan Sigit Sunarsa itu memaparkan tentang ijazah fotokopi yang sudah dipaparkan tahun 2022. Salah satu TV waktu itu yang wawancarai dia dan ini saya gunakan sebagai alas hukum pertama. Artinya ada fotokopi ijazah yang kemudian bisa kita analisis. Tapi kemudian saya sama dengan dr. Respon karena itu hanya berupa eh fotokopi dan masih hitam putih, kami belum bergerak sampai ada seorang kader dari Partai Solidaritas Indonesia si Dian Sandi itu meng-upload. Nah, karena ada ini sekali lagi saya katakan justru sebenarnya postingan dari Dian Sandi inilah yang kemudian membuat gaduh, membuat heboh. Karena dengan adanya foto apa paparan berwarna ini dari sini dikatakan asli, Doter Respon kemudian nanti akan cerita kemudian akan meneliti soal cap yang ternyata tertempel oleh pas foto ya. Dan itu jelas banget tadi penjelasannya jelas banget pakai red, green, blue berapa skalanya clear banget ya. Jadi ini kemudian kita teliti dengan Ela, error level analysis dan meskipun EL ini sudah kami sampaikan, saya tunjukkan yang namanya itu adalah untuk memeriksa kalau sebuah gambar atau itu sebuah ijazah banyak rekayasanya pasti akan error. Teman-teman lihat ini ijazah saya tahun 91 dengan di koreksi pakai dengan dites pakai masih ada ee huruf-hurufnya masih kelihatan bahkan kalau ini full di El teman-teman bisa lihat masih ada bekas-bekas jejaknya tuh masih ada artinya ini asli itu apa ee legislasinya juga masih ada ya legalitasnya masih ada, pas foto saya juga masih kelihatan logo UGM masih kelihatan. Nah, pasti pada bertanya, “Gimana dengan ijazahnya Joko Widodo kalau diel ini hasilnya.” Nah, sor separuh dulu biar biar enggak langsung lihat kaco. Nah, lihat ini ijazahnya yang disebut-sebut Joko Widaro runyam. Begitu dielah hancur dia. Artinya ijazah ini sudah direkayasa pada bagian logo, pada bagian foto. Bahkan ketika kita elas raful kelihatan sekali tuh hancur. Sekali lagi semua presentasi ini tadi saya paparkan dan tanpa terputus dan pimpinan rapat senang sekali dengan karena ini benar-benar sangat signifikan dan definitif. Kedua, soal foto. Foto saya sampaikan bahwa kalau foto itu asli, ini foto diijazah saya tadi dengan foto saya. Sekarang ada software yang namanya face comparison itu akan mengatakan match. Mau kita tahun berapa pun, tua sekalipun, software ini ngerti. Dia punya algoritma-algoritma yang bisa mengerti itu match. Kemudian kalau foto di ijazah Jokowi ditampilkan dengan fotonya Jokowi sekarang apa hasilnya? Ini not match. Tidak cocok foto di ijazah Jokowi, tidak cocok dengan wajah Jokowi. Clear ya. Terus kemudian cocoknya dengan siapa? Nah, saya memeriksa banyak foto. Akhirnya masuklah foto seseorang namanya Dumatno Budi Utomo. Apakah foto Dumatno ini? Kemudian ada yang cerita, “Woh, tahun 5 Dumatno itu baru 8 tahun.” Ya, bukan tahun 5 ini dipalsukan. Tahun berapa dipalsukan? Nah, itu nanti akan terjawab. Apakah tahun 2012, apakah tahun 2017 itu nanti akan terdap dan kalau diperlukan itu bisa kita paparkan juga. Nah, yang jelas apa? Kemudian kita periksa sekarang ini yang paling penting soal identik atau tidak identik. Ijazahnya Joko Widodo 1120. Saya tadi langsung tembak kepada Pak Dir TV dulu Pak Juandani. Karena Bapak menampilkan ini yang saya tampilkan ini bukan lagi punyanya PSI. Karena ini yang ditampilkan di bar krim karena ini yang dianggap resmi meskipun ini fotokopi ini lipatan. Teman-teman lihat 1120 saya menggunakan tiga ijazah pembanding dan saya transparan terbuka tidak ditutup-tutupi ijazahnya yang mana. Itu tadi saya tantang, saya challenge. Jadi kalau baris krim Pak Juandani senyum tadi tolong tampilkan nomor ijazahnya. Ini nomor ijazahnya 11 15 milik Frono Jiwo. Saya berani tampilkan ijazahnya untuk pembanding. Jadi kalau Pak Frono Jiwo tadi bahkan dikatakan berani enggak kalau nanti Pak Prono jiwa dihadirkan? Sangat berani ya. 1115 Prono jiwa kecuali yang ini. Nah, tadi tadi ketika yang ini mau ditampilkan enggak mungkin karena beliau sudah meninggal ya. Ini Pak Hari Mulyono almarhum 1116 ya. Ini perhatikan ijazahnya. Kemudian juga Mbak Sri Murtiningsikh 1117. Apa yang penting bagi tiga ijazah ni teman-teman semua? Sebentar saya buka dulu 1117 ya. Nah 1117 saya buka. Ini jelas betul. Meskipun fotonya enggak kelihatan, enggak apa-apa. Tapi yang penting adalah nomor ijazahnya dan karakter ijazahnya. Sekarang komparasinya. Nah, ini yang paling penting, Teman-teman semua lihat pada gambar ini. Di sini kelihatan betul ini ijazah milik Joko Widodo yang di atas. Ijazah Hari Mulyo, Fronoji Jiwo, dan Sri Murtiningsik. Apa yang bisa teman-teman lihat? Perhatikan saja di sini. Ini ada huruf A. Ini ada logo ijazah nomor 117 Sri Murtining huruf A-nya masuk ijazah milik 1115 Jiwo huruf A-nya juga masuk sayang kepotong ijazahnya milik Harmono huruf A-nya juga ijazah milik Joko Widodo 1120 huruf A-nya dalam bahasa Jawa mencotot mecotot itu artinya keluar jadi tidak identik catot saja ijazahnya Joko Widodo mecot ya mecotot itu keluarot artinya tidak identik. Bahkan drter Risbon itu mengambil enam perbedaan ya. Jadi luar biasa. Kemudian tadi saya juga menjelaskan bagaimana soal skripsi ini yang paling penting. Saya dr. Rismon, dr. Tifa kami memperoleh bukti skripsi ini langsung dan ini adalah primary evidence langsung dari tangan pertama langsung dari Ibu Wakil Rektor Ibu Profesor Wening Asmporo dan Wakil Rektor juga ee si Adi ya gitu. Jadi kami dapatkan langsung bukan mencuri ya. Sonya ada yang menuduh dokter him mencuri. Gila itu orang itu. Ya gitu mundur. Kami dapat langsung dan kami periksa seizin beliau ini apa skripsinya? Skripsinya menarik adalah langsung saja ke sini daripada terlalu lama. Nah skripsinya adalah ada perbedaan sangat jelas bahwa nah pada tahun 5 ketika skripsi ini dibuat konon November di sini sudah terus Prof. Dr. Ir. Ahmad Soe Mitro. Padahal Profesor Ahmad Sumitro harusnya pakai U baru mengucapkan pidato pengukuhan guru besar pada bulan Maret tahun ee 1886. Jadi 5 bulan setelah ini. Jadi kan enggak mungkin dia nuliskan di yang benar yang ada di sini. Memang ini skripsi asli. Lihat kertasnya, warnanya ini warnanya bulek udah tua. Ini warnanya baru kertas ini. Jadi ini ada kertas baru atas nama Joko Widodo yang dimasukkan ke dalam skripsi milik orang lain ini. Di sini benar dokter Ir. Ahmad Sumitro belum profesor. Tadi sempat juga dijawab itu Profesor Sumitro sudah tahun 5 sudah sudah mantap. Enggak ada orang berani pakai gelar sebelum pidato pengukuan. Ya itu orang-orang kalau di luar kampus tuh sering aneh-aneh kayak gitu. pendapat. Satu lagi yang penting ee lembar pengujiannya tidak ada. Kalau lembar pengujiannya enggak ada, berarti skripsi itu enggak pernah diuji. Skripsi itu enggak pernah lulus. Maka kesimpulannya hasil uji atau error level analisis menghasilkan ijazah Jokowi menunjukkan error pada bagian logo dan pas foto. Artinya pas fotonya diganti, logonya diganti, dan lain sebagainya. Hasil face comparison menghasilkan pas foto di chat Jokowi. Not match. tidak cocok dengan foto yang Jokowi sekarang. Bahkan hasil face comparation menghasilkan pas foto di Jokowi itu cocok dengan foto orang lain. Clear ya. Nah, kemudian ijazah pembanding 1115 miliknya Frono Jiwo, 1116 miliknya almarhum Hari Mulyo, 1117 miliknya Sri Murtinengsek itu identik. Tiga itu identik. Tapi yang tiga identik ini tidak identik dengan ijazah 1120 milik Joko Widodo. Jadi ijazah Joko Widodo tidak identik, clear dan ijazah pembandingnya jelas. Kemudian palsu. Nama Dr. Ir. Ahmad Sumitro diucapkan terima kasih itu sudah bergelar profesor. Padahal dia belum profesor pada November 5 karena pidat pengakalannya Maret. Nah, jadi itu yang penting beliau dukung menjadi guru besar. Dan terakhir, tidak ada lembar pengujian yang sangat penting di skripsi itu. Tidak ada lembar pengujian. Klausul yang paling bawah ini yang paling penting. Kalau cacat, skripsinya cacat, maka itu tidak akan lulus. Dan kalau orang yang enggak lulus, enggak akan punya ijazah. dan sekaligus kami berdua tadi tersenyum di dalam karena kami sempat di ee singgung-singgung soal keahlian kami. Saya tunjukkan tadi dengan apa ee apa ee dokumen kemudian berbagai sertifikat berbagai pengakuan dari DPR dari Kementerian ee apa e Kominfo waktu itu bahkan dari Mabus PORI kita sah semuanya. Dan lucunya orang yang men-challenge kami itu tadi katanya mengaku ahli forensik ternyata ahli sastra ya karena dia enggak punya presentasi apapun cuman ngomong aja bla bla bla bla bla kemudian sempat ini ini fakta ya saya tidak menutupi sempat diop oleh Pak Kepala apa ee Rawa Siddiq kara udah kamu enggak dia pengataan kamu loh itu sudah kamu enggak usah cerita itu sudah tahu cerita saja apa yang kamu bisa bantah untuk mere beliau-beliau itu gitu dan ternyata enggak bisa cuma nomon-nomon aja. Nah, biar tambahkan gak usah. Silakan aja dari hasil del perkara ini apa, Pak? Insyaallah kita kita hanya bisa berharap ya kita manusia. Manusia itu kan tidak mungkin sempurna. Jadi kita hanya berdoa dengan bantuan ee media semuanya ya. Moga-moga apa yang saya persembahkan untuk TPUA, apa yang kami persembahkan untuk ini bisa diterima dan bisa mengubah ya ee apa yang kemarin terjadi. Tapi tentu itu semua kita juga harus mohon doa moga-moga mereka semua yang ada di ruangan diberikan hidayah oleh Allah Subhanahu wa taala. Amin. Itu ya. Silakan. Enggak nanti dulu. Nanti dulu. Kami sangat kecewa dengan ketidakdatangan dari Pak Jokowi ya yang membawa ijazah katanya asli katanya lulusan UGM dan ketidakhadiran pihak UGM juga yang seharusnya bisa menjelaskan atau memiliki kesempatan yang sangat luas untuk meyakinkan publik. Tetapi itu semua tidak dimanfaatkan. Sayang sekali ya. Dan pada kesempatan ini memang kelihatan pihak Dirtipidum itu kalah telak ya. Kalah telak dalam arti bahwa menunjukkan enggak usah ijazahnya Pak Jokowi dalam versi analog, versi digital pun tidak berani menunjukkan kepada kami dalam monitor. Betapa menakutkan fakta itu kepada Pak Dirtium. Dan tadi ya kami telanjangilah habis-habisan ya laboratorium forensik. Bares Krim terpaksa kami telanjangi. Bukan karena kami benci, tetapi kami menginginkan forensik yang bermartabat, independen, tidak diatur, tidak dimanipulasi, bahkan tidak. Kapolri pun harusnya tidak boleh punya otoritas mengatur hasil dari forensik. Oleh karena itu sebenarnya kalau didengarkan oleh Pak Presiden Prabowo sebaiknya Pak lembaga forensik itu harus dikeluarkan dari kepolisian supaya menjadi lembaga independen yang dipercaya oleh publik. Kalau bisa tiga tiga lembaga, Pak Usus forensik. Jadi Kapolda Kapolri atau atasan-atasan mereka itu tidak bisa mengintervensi mengatur ngatur hasil seperti kasus Jessica Wongso ya. Dirtipidumnya Krishna Murti, Kapoldanya ee apa Tito Karnavian, eh kepala laboratorium komputer forensik Muhammad Nalar. Mereka berkomplot dengan para jaksa, memanipulasi barang bukti digital, mengabur-ngaburkan menggunakan software gratisan yang bernama Eri Shop. Itu software gratisan dipakai oleh laboratorium forensik. Tadi saya jelaskan juga ya, Mas, pengantar saya. Kenapa saya jelaskan ini? Karena saya cinta kepolisian supaya forensik ini benar-benar untuk kita semua untuk rakyat dan enggak berani dan enggak berani dipotong tadi oleh polisi. Iya. Dan seperti ini Tito Karnapian ingin jadi Kapolri dimanipulasi Muhammad eh oleh Muhammad Nulazar lewat software gratisan IR Shop untuk mengabur-ngaburkan dan menganimasi. Itulah contoh nyata ya. Belum lagi KM50, belum lagi Perd Sambo ya. Dibilang video ee DPR itu tersambar petir padahal mereka yang merekayasa, merusak. Jadi ini makanya kita telanjangi benar-benar Dir TVUM ini dan timnya bukan karena kami benci, tapi karena kami cinta kepolisian. Ya, kami sangat cinta kepolisian karena apa? Karena kita yang bayar mereka. I pajak kita kan. Betul. Kami jelaskan tadi bagaimana menganalisa lintasan stempel. Kok enggak ada ya? Kok enggak ada itu e kanal red-nya. Padahal harusnya stemp foto dulu baru stempel. Tetapi kita analisa enggak ada sebaran kanal red-nya ya. Babak belur satu. Yang kedua ela babak belur juga ada deep pe forgery babak belur juga ya. masalah skripsi juga babar babak belur yang mengatakan yang disimpulkan secara prematur lembar pengesan skripsi Joko Widodo hanya dirabah dirasakan ada cegungan disimpulkan hanya handpres dan letter press dan gak bisa dijawab hari ini. Jadi kapan kesimpulannya disampaikannya Bang? Kesimpulannya pasti kalah telak gitu ya apapun hasilnya. Karena memang tadi sempat dirtifidum melirik saya ke belakang waktu saya merepresentasikan. Seolah-olah memohon ampun ampun, Bang. Seolah-olah ya. Iya, seolah-olah ampun, Bang. Cukuplah, Bang. Jangan kulitin terus, Bang. Ampun, Bang. Jadi ini menyampakan akan kapan menyampaikan kesimpulan dari kelat ya kapanpun itu saya kira Karua Siddiq harus fair ya banyak sekali celah-celah yang mengatakan bahwa kesimpulan dari forensik bares krim polri yang diumumkan oleh Dirtiidum itu sangat-sangat prematur. Kalau berani periksa Pak Iiman Raharjo, bagaimana kiosnya itu yang menjadi calon dokumen palsu di Pasar Pramuka Pojok. Kaitannya atau korelasinya dengan lompatan kuantum karirnya menjadi komisaris dan wakil menteri desa kalau tidak ada hubungan jasanya dengan Joko Widodo. Panggil semua dong, periksa semua. Karena ini ini sudah pasti palsu. Kalau enggak palsu pasti dibawa tadi ditampilkan digital aja enggak berani. Bang tadi ini berarti sudah selesai ya karakter sudah selesai selesai. Yakinlah itu palsu karena bayangkan hanya menampilkan versi digital aja enggak berani. Versi digital takut kami analisa dalam cuma pakai mata aja takut. Satu lagi sebelum Pak Risal Fadilah, ada satu hal yang sangat konyol tadi disampaikan oleh kuasa hukum mereka. Jadi menurut mereka ijazah itu bisa dianggap asli kalau UGM sudah menyatakan asli. KPU sudah mengatakan asli. Padahal UGM itu hanya melegalisasi. Jadi bukan menyatakan asli. Dan mereka mengatakan mereka menggunakan analogi yang sangat konyol. Jadi kalau misalnya pemeriksaan jenazah ya, jenazah sudah cukup pakai visum otopsi selesai kan enggak perlu ijazah jenazahnya dihadirkan lah. Itu konyol jenazahnya perlu dihadirkan. Contoh kasus Josua, iya kan otopsi bisa salah, visum bisa salah. Maka ini jangankan jenazah, ijazah, ijazahnya harusnya dihadirkan dan akan terbukti kalau ijazah dihadirkan itu terbukti akan palsu.
KOMPAS.TV-Menggebu-Gebu! Kata Roy Suryo & Rismon usai Mengikuti Gelar Perkara Khusus Ijazah Jokowi
Sahabat Kompas TV Palembang, jangan lupa like, comment, dan subscribe channel YouTube Kompas TV Palembang, juga aktifkan lonceng notifikasi agar tidak ketinggalan update mengenai isu-isu terkini di Indonesia.
Jangan lewatkan live streaming Kompas TV 24 jam non stop di https://www.kompas.tv/live.
KOMPAS TV PALEMBANG
—
Jl. Angkatan 45 lorong Harapan No. 23 Kelurahan Lorok Pakjo
Kecamatan Ilir Barat 1 Palembang 30137
—
Facebook : Kompas TV Palembang
Instagram : @kompastvpalembang
#KompasTV #Palembang #Sumsel #rismonsianipar #roysuryo #ijazahjokowi #jokowi