PERANG SAUDARA DI ISRAEL PECAH! Netanyahu Diseret ke Pengadilan dan Dipenjara? Kerusuhan di Tel Aviv
I want to say to the people of Gaza, we are with you. [Musik] [Tepuk tangan] Israel, negara dengan militer super, teknologi canggih, dan sekutu paling kuat di dunia. Tapi mari kita lihat sekarang pasca perang 12 hari, suara ledakan masih terdengar. Bukan karena roket dari Iran ataupun Gaza, bukan karena perang. Ledakan itu berasal dari dalam Israel sendiri. Israel menghadapi satu masalah, keretakan dari dalam. Jalanan dipenuhi oleh demonstran tentara. Mereka yang kemarin mengangkat senjata kini menolak untuk ikut berperang kembali. Sementara politisi saling serang untuk mencari panggung berebut kuasa. Inilah babak baru dari perang itu sendiri. Bukan soal wilayah, tapi soal kepercayaan yang perlahan runtuh dari dalam. Dan keretakan itu ternyata dimulai dari atas dari meja-meja rapat yang seharusnya jadi tempat pengambilan keputusan penting malah berubah jadi ajang saling serang. Dari mereka yang mestinya memimpin justru datang kebingungan terbesar. Inilah awal dari semuanya. Kementerian Pertahanan dan IDF menyuarakan peringatan serius. Amunisi hampir habis. Mereka pun mendesak tambahan dana untuk mengisi kembali amunisi yang hampir habis. Memperbaiki sistem pertahanan pasca perang 12 hari. Termasuk juga ratusan rudal yang terutama ditujukan untuk pasukan Israel di Gaza. Mereka mengajukan permintaan 60 miliar shakel atau sekitar 16,2 miliar dolar. Jumlah yang besar tapi katanya penting untuk kelangsungan perang. Tapi Kementerian Keuangan menolak. Alasannya biaya terlalu tinggi, utang negara makin membengkak dan kalau ini terus dibiayai, ekonomi bisa ambruk total. Padahal tanpa dana ini, rudal pencegat errow bisa gagal fungsi. Pasukan di Gaza bisa kehabisan suplly. Dan lebih parah lagi, jika ada serangan susulan, sistem pertahanan tidak akan bisa bekerja maksimal. Israel bisa dijebol bukan karena kalah strategi, tapi karena tak siap secara logistik. Tapi yang paling bikin gaduh bukan soal dana atau perangka, tapi sosok yang duduk di puncak kekuasaan, Benjamin Netanyahu. Pasca perang 12 hari, isu mengadili dirinya kembali bergema. Skandal lamanya kembali muncul ke permukaan. Sejak 2019, ia didakwa atas kasus penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan publik. Awalnya pengadilan menolak permintaan pengecaran Netanyahu untuk menunda sidang. dengan alasan diplomatik dan keamanan pasca perang 12 hari dalam melawan Iran. Dan di tengah panasnya situasi ini, muncullah tekanan dari luar negeri, tepatnya dari Donald Trump. Trump terang-terangan meminta agar kasus ini dibatalkan. Trump mengecam jaksa Israel atas kasus ini. Bahkan ada sinyal ancaman kalau Netanyahu terus disidang, bantuan miliaran dolar dari Amerika bisa dietop kapan saja. Di jalanan kemarahan rakyat tak lagi bisa dibendung. Ribuan demonstran dari berbagai kota turun ke jalan. Menuntut keamanan di Israel, menuntut gencatan senjata di Gaza yang mendesak pembebasan semua Sandra. Bendera kuning dikibarkan bukan sebagai tanda menyerah, tapi sebagai simbol perlawanan terhadap perang yang tak berkesudahan. Mereka bukan kelompok radikal. Mereka warga biasa, keluarga tentara, aktivis kemanusiaan, relawan medis, penyintas serangan, bahkan mantan pendukung Netanyahu. Slogan-slogan perlawanan terpampang. Poster-poster seruan hentikan perang, bebaskan Sandra, diangkat tinggi-tinggi. Tapi pemerintah tetap bergeming. Dan di wilayah pendudukan, kekacauan bertambah parah. Di tepi barat, para pemukim Yahudi terlibat bentrok dengan pasukan keamanan Israel sendiri. Mereka membakar fasilitas militer, merusak properti IDF, dan menyerang polisi perbatasan. Netanyahu mengutuk aksi ini, tapi para pemimpin oposisi balik menyerang, menuding pemerintah sebagai biang keroknya karena membiarkan ekstremis tumbuh dan melemahkan otoritas keamanan. Tapi di balik itu semua ada satu kenyataan besar yang seolah disembunyikan. Dan memang krisis kepercayaan itu nyata adanya. Lebih dari 100.000 warga Israel telah berhenti bertugas sebagai tentara cadangan. Bukan satu dua saja. Ini angka yang masif. jumlah yang belum pernah terjadi. Bahkan penolakan itu datang langsung dari perwira militer. Dan tak berhenti di situ, hampir 1000 pilot militer Israel menolak melanjutkan operasi di Gaza. Beberapa bahkan sudah mengundurkan diri sepenuhnya. Penolakan ini bukan karena lelah, tapi karena mereka yakin perintah yang diberikan tak etis tidak sah dan hanya digunakan untuk melanggengkan kekuasaan Netanyahu. Dampaknya langsung terasa berdampak besar. Banyak dari mereka menolak dipanggil kembali untuk operasi militer apapun, termasuk operasi rising lion melawan Iran. Dan ini bisa jadi alasan utama kenapa Israel terlihat gamang dalam menghadapi gempuran rudal Iran dalam perang 12 hari. Tapi kenyataan lain yang lebih mengejutkan ada warga Israel yang membelot di Herlia. Sepasang suami istri ditangkap setelah dicurigai menjadi mata-mata Iran. Di Tiberias, sebuah kota di utara Israel, dua pemuda ditahan karena menjalankan misi spionase, termasuk rencana pembunuhan terhadap tokoh senior Israel. Bagi banyak warga, ini adalah pengkhianatan. Tapi bagi sebagian lainnya ini mungkin satu-satunya cara untuk keluar dari kekacauan. [Musik] Keretakan di dalam negeri, pemberontakan rakyat, dan pembelotan tentara. Semua itu bukan terjadi di ruang hampa. Karena yang ikut memperparah situasi adalah beban ekonomi yang makin tak tertahankan. Dan ini bukan cuma akibat perang 12 hari melawan Iran, tapi juga dari perang yang jauh lebih panjang dan berlarut-larut di Gaza. Dua medan, dua front, dua krisis sekaligus dan Israel harus menanggung semuanya. Selama 12 hari, rudal balistik Iran menghantam langsung pertahanan Israel. Kerugiannya luar biasa. Biaya kerusakan akibat serangan rudal saja menurut laporan terakhir sudah dua kali lipat dibanding serangan 7 Oktober 2024. Tapi itu baru kerusakan fisik. Belum ditambah biaya perang di Gaza yang terus menyedot miliaran shackel setiap minggu. Perang 12 hari saja kalau di tootal. Pengeluaran militer kerusakan akibat serangan, kompensasi kepada warga sipil dan biaya rekonstruksi. Angka kerugiannya itu mencapai 12 miliar dan itu bisa melonjak jadi 20 miliar jika situasi tidak segera stabil. Kementerian Keuangan sudah angkat tangan. Dana yang dialokasikan untuk perbaikan tidak lagi cukup. Sementara tekanan dari militer untuk menambah anggaran makin kuat. Tapi krisis ini bukan cuma soal angka di atas kertas. Ini soal kehidupan. Sektor pariwisata runtuh. Hotel, maskapai rugi, agen perjalanan bangkrut. Startup teknologi mulai hengkang ke luar negeri dan pengangguran meroket. Banyak warga kehilangan pekerjaan. Usaha-usaha kecil kolaps dan belanja rumah tangga turun drastis. Kris ini terasa di meja makan warga. Bukan cuma ada di layar berita. Israel boleh punya sistem pertahanan terbaik, tapi satu hal yang tak bisa ditembak dengan Iron Dome adalah kehancuran ekonomi yang datang dari semua arah. Ekonomi berdarah-darah, rakyat kehilangan pekerjaan, bisnisnya runtuh, dan negara tidak sanggup menutup lubang kerugian yang terus melebar. Tapi saat rakyat berjuang bertahan, para pemimpin justru sibuk bertengkar. Kementerian saling menyalahkan, kabinet pun terpecah. Yang satu minta anggaran perang, yang lain khawatir negara bangkrut. Tapi yang tak mereka bahas adalah satu hal yang paling nyata bahwa Israel ini sedang hancur bukan oleh musuh, tapi oleh dirinya sendiri. Di saat ekonomi kolaps, tentara membelot dan rakyat turun ke jalan, pemerintah malah tetap mendorong perang. Bukan untuk menang, bukan untuk damai, tapi demi satu hal, menjaga kursi kekuasaan Netanyahu tetap aman. Gaza dibombardir, tapi Israel pun ikut retak. Perang ini pun juga tak menyelamatkan Sandra, tak memulihkan stabilitas, tak membuat rakyat tenang tidur di malam hari. Satu-satunya yang diselamatkan dari perang ini adalah karir politik sang perdana menteri. Dan ketika negara itu memaksakan perang untuk selamatkan satu orang, maka sisanya harus siap membayar harga paling mahal. Hari ini musuh terbesar Israel bukan lagi Iran, Hamas ataupun Hizbullah, tapi korupsi, keserakahan, dan krisis kepercayaan di dalam negeri sendiri. Negara bisa punya senjata canggih, pasukan terkuat, dan tembok paling tinggi. Tapi tak ada satuun dari itu yang bisa menyelamatkan jika rakyat sudah tak percaya dan pemimpin hanya peduli pada diri sendiri. Israel sedang runtuh dan runtuhnya datang dari dalam. [Musik] before and then turned back to war.
Israel. Negara dengan militer super, teknologi canggih, dan sekutu paling kuat di dunia. Tapi, mari kita lihat sekarang. Pasca Perang 12 Hari, suara ledakan masih terdengar. Bukan karena roket dari Iran atau Gaza. Bukan karena perang. Ledakan itu berasal dari dalam Israel sendiri. Israel menghadapi satu masalah, keretakan dari dalam. Jalanan dipenuhi oleh demonstran. Tentara, mereka yang kemarin mengangkat senjata, kini menolak untuk ikut berperang kembali. Sementara politisi saling serang untuk mencari panggung, berebut kuasa. Inilah babak baru dari perang itu sendiri. Bukan soal wilayah. Tapi soal kepercayaan yang perlahan runtuh dari dalam.
For Support Channel Mbak Poppy..
🫣 👉https://sociabuzz.com/advdaftarpopuler/tribe
🫣 👉 https://saweria.co/daftarpopuler
For business inquiries please contact : adv.daftarpopuler@gmail.com
Follow kami juga disini:
👉 Facebook : https://www.facebook.com/daftarpopuler
👉 Twitter : https://twitter.com/DaftarPopuler
👉 Instagram : https://www.instagram.com/daftarpopuler/
👉 TikTok : https://www.tiktok.com/@daftar.populer
#DaftarPopuler menyajikan #informasi berupa kumpulan #kejadian dan #fakta di balik #peristiwa #tren #viral #unik dan #aneh di #dunia . Konten ini adalah video yang memiliki komentar orisinal dan sarat nilai pendidikan. Video kompilasi ini telah melewati berbagai riset dan pengolahan data berupa foto, video dan berita dari berbagai sumber yang dikemas dengan cara hitung mundur dan atau acak.
For copyright matters please contact us at:
adv.daftarpopuler@gmail.com
Disclaimer – Some contents are used for educational purpose under fair use. Copyright Disclaimer Under Section 107 of the Copyright Act 1976, allowance is made for “fair use” for purposes such as criticism, comment, news reporting, teaching, scholarship, and research. Fair use is a use permitted by copyright statute that might otherwise be infringing. Non-profit, educational or personal use tips the balance in favor of fair use.