Ke Kuburan Dimalam Hari – The Lingering Graveyard Visit

Kali ini kita akan bermain game horor cerita dari seseorang yang ada di Indonesia. Dan selamat datang di YouTube channel Miaw A. Let’s go. Mari kita mulai untuk bermain game The Lingering Graveyard Visit. Dan buat kalian semua yang suka dengan game horor yang ada jalan ceritanya, sebentar lagi kita akan bermain sebuah game horor yang judulnya adalah The Lingering Graveyard Visit yang di mana kalau gua artiin ke Indonesia, kita akan berkunjung ke sebuah kuburan ya, Teman-teman. Dan kalau gua baca sinopsisnya kita akan bermain sebagai Eki yang akan mengunjungi kuburan ayahnya dia, Teman-temanku sekalian. Dan buat kalian semua yang sudah penasaran jalan ceritanya akan seperti apa, let’s go, mari kita bermain game The Lingering Graveyard Visit from the World of Pamali. Siapa sih yang gak tahu dengan pamali? Ya, teman-teman dan kalau kalian ada cerita horor, silakan kalian email ke sini. Let’s go, mari kita mainkan. Hih, mulai baru. Ini adalah cerita nyata seseorang di Indonesia yang kami ceritakan ulang. Kami ingin menggambarkan bagaimana kehidupan sehari-hari orang Indonesia dijalani dan bagaimana dalam kehidupan yang tampak biasa seringki bertemu dengan kejadian horor supernatural. Kami juga ingin memperkenalkan kembali kebudayaan Indonesia serta menunjukkan betapa dekatnya aktivitas harian kami dengan hal-hal yang bersifat gaib. The lingering adalah sebuah perkenalan terhadap sekelumit kehidupan sehari-hari. Sekelumit apa ya, Guys? Kok gua baru dengar tuh sekelumit? Suaranya seram amat. Halo, helo. Ya ampun, makasih banget atas kesempatan ini. Enggak nyangka cerita aku bisa dijadiin game. Oh, lagi teleponan. Oke, jadi semua ini kejadian lama 19 tahun yang lalu kali ya. Sebagai catatan, aku pasti bakal lupa beberapa bagian cerita dan mungkin kadang ngelantur juga soalnya aku beneran lupa. Tapi cerita ini sebenarnya enggak dimulai kayak kisah horor yang langsung bikin merinding atau ngerasa ada yang enggak beres gitu. Malam itu sangat biasa. Semua orang baru bangun dari tidur panjang. Enggak ada yang aneh, enggak ada yang terasa salah. Yah, itu udah tengah malam banget sih. Dan rasanya aneh kayak habis tidur seminggu penuh. Tapi kalau dilihat jam sebenarnya baru 1 jam ya. Biasanya kalau kita tidur malam dan baru tidur 1 jam terus kebangun badan emang pegal-pegal sih ya, Teman-teman. Enggak enak tuh badan. Biasanya langsung tidur lagi atau enggak ya kalian tidak bisa tidur lagi. Sekilas ruangan itu kelihatan sama saja tetapi sebenarnya enggak. Tahu enggak? kayak semua benda rasanya enggak di tempat yang seharusnya. Aneh banget. Dan waktu itu sunyi, sunyi banget terus rasanya ngambang. Tapi ya mungkin emang bakal kayak gitu rasanya kalau baru bangun dari tidur panjang eh baru 1 jam. Yang aneh, ibu kayak kaget gitu pas sadar kalau dia tuh enggak sendirian di rumah. Ya, tengah malam, Bro. Tiba-tiba lu ibu ya kagetlah ibunya. Rasanya kayak ibunya sendiri pun enggak nyangka kalau anaknya bakal bangun. Tahu enggak? Ya biasanya berarti K kebo tidurnya berjam-jam. Mungkin kita semua harus sadar itu udah jadi tanda bakal ada yang lebih aneh lagi. Waduh, apa tuh? 10 Agustus 2005 jam . Ya, baru sore dia tidur sore ini, Guys. Oke, ini ya ini eki bukan? Wih, ada Gundam. Buset karpetnya. Buset posternya T-Rex. Tidur nyenyak banget rasanya udah kayak tidur seminggu. Ibu di mana ya? Aku lapar. Oke, jadi di sini gua bisa pencet T. Oke, enggak ada apa-apa. Pencet J untuk jurnal enggak ada apa-apa juga, Teman-teman. Ini dia gua kirain MU spray MU nih teman-teman. Warna merah mentang-mentang warna merah ya. Racing Team. Widih. Oh ini uh bisa diinteraksi jadi pengen mega Meaman menghancurkan dunia. Suka berimajinasi dia ya. Aku ah jangan gitu. Aku udah enggak mau lagi. Jangan gitu, Guys. Kita tuh harus belajar. Sekecil apapun kita harus belajar. Karena dengan kita belajar, kita akan menjadi orang yang lebih baik lagi. Jangan bosan-bosan ya, Teman-teman. Aku umur segini saja masih belajar. Eh, bentar. Ibu bersihin kamarku, ya? Kok mainanku enggak ada di sini? Loh, oke, mungkin kamu berantakin kali di sita sama ibu. Kita ke mana lagi nih, Guys? Apa nih? Kotak. Tunggu deh. Seingatku ini semua gak ada waktu aku tidur tadi. Oh, aneh. Jangan-jangan aku kebanyakan tidur atau aku lupa sesuatu. Atau mungkin ibu habis borong borong-borong belanjaan ya di online. Ini kiriman semua nih. Oke. Eh, kloset interaksi. Oh, ini udah kebuka belum sih? Oh, ini udah kebuka ya. Kosong gini, Bro. Lah, kosong gini, Bro. Ee kaca lihat. Uh, aku masih pendek banget. Mungkin saatnya minum susu ya. Minum susu ya, Teman-teman. Susu itu berguna kok, bagus buat tubuh kita. Mari kita interaksi terlebih dahulu. Kecuali yang alergi alias laktos ya kayak gua. Tapi gua juga susah eh suka minum susu. Kotak. Kotak lagi. Dari mana sih itu? Apaan itu? Kenapa tiba-tiba saja pintunya tertutup sendiri? Dari mana, I? Dari mana sih semua ini datang? Aku benar-benar bingung. Ibu belanja kali. Ini ini ketutup sendiri, Guys. Padahal gua enggak nutup. Aku enggak bisa buka ini. Ini kabar kamar ibu dan aku enggak mau bisa sembarangan masuk. Oh, i sopan anaknya. Sopan ya, Teman-teman. Enggak sembarangan masuk. Nah, game yang satu ini juga pintunya ketutup sendiri. Buka dulu. Ini ruangan kerja ayah di rumah. Aku enggak mau masuk ke sana. Rasanya sedih. Oh, ayahnya udah meningsoy, Guys. Kasihan banget. Aku kangen ayah. Oh, ini ayahnya. Ini ibunya. Ini gua kah? Ini kok gua pakai poni sih? Ini cowok cewek. Namanya siapa tadi? Aduh, gua lupa lagi. Beliau ganteng banget. Wes cowok sih harusnya. Eki, Eki Eki nama cowok, Guys. Semoga ayah tenang di surga. Amin. Harusnya gua cowok sih ya. Ya, waktu gua kecil juga gua potongan rambutnya kayak begitu sih, Guys. Ya kan? Ada poninya terus di belakang rambutnya panjang ya mengikuti lupus. Zaman-zaman bokap gua suka nonton film lupus. Ya, mungkin kalian tidak tahu. Lupus. Kuncinya rusak. Aku gak tahu bagaimana bukanya. Lewatin aja deh. Oke, lewatin aja. [Musik] Set grafiknya luar biasa ya. Ibu pergi ya. Soalnya biasanya rumah enggak pernah berantakan ini. Berantakan kah? Enggak kok, enggak berantakan. Rapi. Ini apaan? Ini nasi kotak. Mmm. Kapan ya Ibu beli barang ini? Nasi kotak. Buat apa nasi kotak? Bakal ada pesta kah? Bakal ada surprise kah? Oh, itu foto ayah dan ibu. Ganteng dan juga cantik ya, Teman-teman. Aku harus ke mana? Sebentar. Ini kotak kenapa banyak banget dah pintu? Aku enggak mau keluar ke balkon. Enggak ada yang bisa k lihat juga. Oh, itu balkon. Oke. Oh, ini foto ayah ya? Ayah kenapa ya? Tiba ibu pernah bilang jangan nonton TV kalau malam-malam. Aku masih anak kecil jadi harus nurut. Oke, gitulah. Harus nurut dulu ya, Guys, kalau masih kecil. Waduh. Lihat, banyak banget gelas air mineral sekali pakai. Kayaknya ibu udah manggil banyak orang deh ke sini dalam 1 jam. Pertanyaannya adalah bagaimana aku bisa enggak sadar? Tunggu, Guys. Ini acaranya belum mulai atau sudah mulai? Kalau sudah mulai ini, ini berbahaya ini. Ini kotak nasi biasanya dikasih ke orang-orang pas ada acara besar. Iya, gua tahu. Tapi aku enggak ingat kita punya ini di sini. Sebenarnya aku udah tidur berapa lama sih? 1 jam kan? Jangan bilang 25 jam ya kan? Udah seharian terus tambah sejam jadinya 1 jam dia ingatnya. Coba. Oh bisa buka guys. Buka jendela. Siap. Nah gini kan enak udaranya segar. Nih masih ada lagi loh di sini. Oke, masih ada lagi, Guys. Gak bisa, ya? Oke, mana gua? Ini ada pintu nih. Mari coba kita interaksi terlebih dahulu. W dapur itu, Ibu. Astaga, ibu ini ibu yang cantik ya, Teman-teman. Eki ibu ibu ibunya diam doang. Bu, Ibu kenapa? Ibu kelihatan capek? Wah, jangan-jangan Ibu kaget. Kita tiba-tiba udah bangun. Padahal dia mau siapin surprise ya, Teman-teman. Ke kamu kenapa di sini? Maksud Ibu aku kan emang di sini. Emangnya kenapa? Apa aku enggak boleh ada di sini, Ibu? Tapi kenapa kamu bangun? Maksud Ibu, kenapa kamu ada di sini? Lapar, Bu. Ada makanan enggak? Aku pengen makan. Oh, lapar. Kenapa emangnya? Emang aneh kalau aku lapar habis bangun tidur? Mmm. Ibu dengerin dong. dong. I iya sayang maaf ya. Hari ini semuanya terasa aneh buat Ibu. Waduh aneh kenapa, Guys? Maaf kalau Ibu kelihatan enggak senang lihat kamu di sini. Loh, kenapa Ibu senang kok Ibu seharusnya sen? Kok seharusnya, Guys, kata-katanya itu loh, seharusnya senang. Hm. Ibu enggak apa-apa. Ibu yakin? Iya, Eki. Ibu baik-baik saja kok. Emangnya kok kenapa kamu bisa mikir begitu? Yakin, Bu. Enggak apa-apa kok kalau Ibu lagi eh enggak apa-apa kok kalau ibu lagi enggak enak badan. Ibu bisa tidur duluan enggak usah sama sendiri. Kamu anak manis banget sih. Ibu kangen banget sama kamu. Tadi kamu bilang apa ya? Hm. Ibunya lupa enggak tuh? Aku lapar, Bu. Aneh deh. Biasanya aku enggak selapar ini habis bangun tidur ada makanan enggak, Bu? Apa aja deh boleh lah. Itu tadi ada nasi kotak begitu banyak, Teman-teman. Tinggal ambil aja salah satu, Bro. Kamu bisa makan yang di piring? Ayo makan, Ibu. Udah makan? Ibu kelihatan pucet dan capek. Makan bareng aku yuk. Enggak usah mikirin Ibu. Kamu aja yang makan, Sayang. Ibu tadi sempat nyiapin makan di belakang. Mungkin dari awal Ibu udah ngerasa kamu bakal ke sini ya. Oke, aku makan dulu ya. Kita makan dulu, Guys. Kok aneh, ya? Pembicaraan ini aneh sekali, Teman-teman. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres di sini. Buset, ini air galon lima biji, Guys. Galon kulkas kita buka. Bisa enggak? Enggak cukup. Aku enggak cukup kuat buka buat buka ini. Padahal aku ingin ice cream. Aku suka ice cream. Wah, ini mie instan kah? Iniah makananku? Oh iya, ini makanan gua, Guys. Buka dulu jendela biar udara segar. Nih lihat. Sejak ayah pergi ke surga, ibu jarang masak lagi. Rasanya sedih banget. Oh, ini. Iya, instan-instanan. Ibunya beli yang instan-instanan, Guys. Wow, ada tabung gas 3 kilo. Kita makan dulu. Enak. Uh, kenyang banget rasanya. Sekarang aku mau main. Ah, di kamarku. Oke. Ibu ke mana? Ibu, Ibu, kok Ibu menghilang ya, Teman-teman ya? Ya, udahlah aku main aja sendirian. Eh, kok kedip-kedip? Ibu, apakah itu kamu? Ibu, enggak boleh, Guys. Apakah itu kamu, Ibu? Kok ada yang nangis, Guys? Oke. Loh, Ibu ada di dalam kamarku, ternyata, Ibu. Kenapa, Ibu? Eh, e Ibu kenapa ada di kamarku, Ibu? Tuh, gimana cara ngobrol? Ibu bikin aku kaget. Oke. Tadi yang nangis itu suara ibu ya? Kenapa nangis, Bu? Oh, maaf ya, Nak. Ibu lupa. Kamu masih di sini kok gitu? Iya, Ibu nangis. Tapi enggak usah khawatir, sayang. Ibu cuma enggak nyangka kamu masih di sini. Entar, bentar. Gua udah punya gua udah punya feeling nih, Teman-teman. Ada sesuatu yang enggak beres dengan Eki nih. Kenapa ibunya ngomong begitu terus-menerus? Ini kan kamarku, Bu. Aku boleh di sini kan? Iya, sayang. Ibu mengerti. Ibu cuman capek aja. Banyak banget yang terjadi hari ini. Kalau kamu sadar kita kita habis tahlilan. Oh, makanya rumahnya belum dibersihin ya, Bu ya? Sori ya, Teman-teman. Aku tidak tahu tahlilan itu apa. Kalau misalnya kalian mau kasih tahu, silakan kalian komen di bawah ya. Di ruang tamu masih berantakan. Itu buat ayah ya? Udah waktunya tahlilan lagi ya, udah setahun. Iya iya. Itu alasannya ibu senang. Kamu perhatian banget. Ibu aneh banget deh. Ah, ini ini udah gak beres, Guys. Waduh, bener aja ini feeling-feeling gua, Teman-teman. Astaga, si Eki kayaknya si Eki kayaknya gone deh, Guys. Emangnya kenapa sih Ibu ngomongnya ngalur ngidul? Enggak usah khawatir. Nanti ibu juga balik normal lagi kayak Ibu. Kecapekan aja. Enggak bisa istirahat aja gitu hari ini, Bu. Enggak usah kerja dulu deh. Tidur aja atau makan? Kayaknya masih ada makanan kok. Oh, enggak kok, sayang. Hari ini ibu enggak kerja. Tapi bukan berarti bisa istirahat. Ibu harus pergi. Ibu mau ziarah ke makam. Mau ziarah ke makam ayah? Ya, aku ikut dong. Bener kan? Wah, dia diam. Waduh. Terus, Bu, beneran mau ke makam ayah kan? Yah, semacam kalau dia mau ke makamnya ayah, dia langsung jawab dengan tegas dong. Iya, anakku. Hah? Aku ikut ya. Aku juga mau ke makam ayah. Hm. Kita lihat, Guys. Mohon maaf ya, sayang. Ibu pikir mau pergi sendiri, tapi aku juga mau ke sana. Aku enggak mau sendirian, Bu. Yakin Ibu harus nginp loh. Lah, terus kenapa ibu enggak mau aku ikut ziarah? Kamu kan dulu bilang enggak suka villa peninggalan Om. Katanya baunya enggak enak. Enggak mau sendirian aku gak mau sendirian. Please, Bu, ajak aku. Eki, Ibu rasa kamu mendingan di rumah saja. Ibu bakal sibuk di sana dan kamu, kamu bisa istirahat di rumah. Ibu marah ya sama aku ya? Kenapa enggak mau boleh ikut? Bukan begitu sayang, Ibu udah bilang ibu banyak urusan di sana. Kamu pasti bosan dan nanti nyesal deh ikut. Ibu lebih mikirin kamu di rumah. Eh, Ibu lebih milih kamu di rumah. Ngerti? Aku enggak nyesal kok. Aku enggak nyesal. Aku juga enggak bakal bilang pengen pulang. Aku cuma pengen bareng Ibu. Yakin, sayang Ibu? Ya, Ibu lebih tenang kalau kamu di rumah dan aman. Please, Ibu. Aku enggak mau ditinggal sendirian di rumah. Aku janji bakal nurut semua yang ibu suruh. Oh, ya udah deh. Mungkin ini bisa jadi liburan terakhir kita bareng ya. Terakhir, Guys. Kondisi keuangan kita separah itu ya Bu. Loh, kok kondisi keuangan kita, Bu? Nanti ada orang jahat itu datang lagi. Waduh, tunggu. Si ibu ini juga terlilit hutang kah, Guys? Ada orang jahat yang datang. Kondisi keuangan dia parah. Hm. Oke, kita lanjutin aja dulu ya. Tadi ibu bilang liburan terakhir jadi kita gak bisa liburan lagi. Oh, sayang. Enggak gitu kok. Kamu enggak usah mikirin itu. Please jangan kepikiran ya, sayang. Ya. Ya udah deh, Bu. Ayo ke pemakaman, Bu. Ya udah, kamu siapin barang-barang kamu dulu ya, sayang. Oke, Bu. Tungguin aku, ya. Ibu tunggu di ruang tamu ya kalau kamu udah siap. Ruang tamu. Oke deh. Siap. Ketemu di sana ya. Nih pembicaraan yang sangat sangat sangat kalau gua berada di posisinya si Eki gua jadi mengerti ya teman-teman apa yang sebenarnya terjadi nih. Cuma Eki lumayan polos sih. Kita ambil terlebih dahulu baju. Oke sabar. Ini mainkan interaksi bisa dimainin kah? Enggak bisa, Bro. Ini kita taruh di task kah atau gimana nih? Loh, loh, loh. Apa tuh? Bunyi apa tuh tadi? Ada apa? Ada apa? Lemari kosong. Kotak. Mainan lato-lato enggak tuh untuk lempar? Oh, gitu. Lah, ini gua beres-beresnya gimana coba? Tarus ini. Oh, oke. Dimasukin semuanya ke sini ya, Teman-teman. Oh, mainannya juga dibawa. Oh, baru ngerti aku, Rek. Itu aja deh. Yuk, ambil tasnya. Terus kita akan pergi dari sini. Ibu, aku udah siap. Ruang tamu. Kita harus pergi ke ruang tamu. Hm, so far sih tidak ada yang aneh. Wah, rumah ini masih berantakan, Bu. Loh, Ibu mana? Ini ruang tamu, kan? Oh, ini, Ibu. Halo, Ibu. Udah, Ibu. Ibu. Oh, taruh sini kah? Oh, taruh. Nah, ayo, Bu. Oh, Eki ngagetin terus. He. Maaf, Bu. Aku senang banget soalnya. Enggak apa-apa, Eki. Ibu juga suka bercanda sama kamu. Ah, Ibu lebay deh. Aku kan udah di sini. Jangan aneh-aneh ya, Bu ya. Mungkin kamu benar, Eki. Maaf ya, sayang. Kamu udah siap belum? Udah siap berangkat nih. Senang banget bisa ziarah ke makam ayah lagi. Kamu kelihatan senang banget, Eki. Ibu juga senang bisa ajak kamu lagi. Mungkin ini yang terbaik. Tapi ibu kelihatan sedih karena aku ya, Bu ya? Oh, sayang. Ibu cuma dengan kamu di sini semuanya terasa berat banget tapi kita lupakan saja ya. Oke deh, Bu. Aku percaya sama Ibu, Guys. What’s wrong? Apa yang terjadi ini? Oh, Ibu lagi nerima telepon. Aku harus tunggu. Tet tet tet tet. Ngapain nih gua? Eh, si Ibu pergi. Loh, bukannya kita udah harus pergi? Oh, si Ibu nerima telepon dulu. Hmm, gua enggak bisa jalan ya, Teman-teman. Cuma bisa berinteraksi dengan beberapa hal. Cuma gua harus pantau si ibu sih. Apa nih yang akan terjadi nih dengan ibu nih? Hah? Hah? Di kepala gua sih sudah ada beberapa alternatif ya, Teman-teman. Either ibunya yang kenapa atau jangan-jangan si Eknya yang kenapa-napa. Tapi kayaknya gua lebih curiga Ekinya yang kenapa-napa ya, Teman-teman. Kasihan sih si ibunya. Maaf sayang, kamu udah pasti nungguin Ibu. Orang-orang seram itu lagi ya nelepon lah ya, Bu ya. Kita enggak apa-apa kan, Bu? Telepon itu dari penagih hutang ya. Tuh kan, Guys. Ibunya ngutang. Oh, sayangku kamu tahu juga soal telepon itu? Maaf ya, Nak. Kita miskin ya. Enggak enak, Guys, ngomong gitu ya. Kita dalam bahaya enggak sih, Bu? Gara-gara kita enggak punya uang, apa mereka bakal datang dan ngambil semua barang kita? Aduh, sayang. Enggak kok, mereka cuma mau nagih hutang aja. Kamu kebanyakan nonton sinetron, Nak. Kebanyakan imajinasi deh. Aku takut, Bu. Mereka terus ngancam kita. Kita dapat duitnya dari mana? Enggak usah khawatir, sayang. Ibu bisa urus semua. Serius deh. Ibu pasti cari jalan. Aku bantuin deh. Aku udah gede kok. Aku yakin bisa bantu Ibu. kasih kesempatan. Anak ibu satu ini selalu mikirin ibunya. Iyalah, aku anak laki-laki satu-satunya. Tuh kan, anak laki-laki ya, Guys. Aku bakal jagain ibu. Kasih tahu aja mau ngapain. Aku bantu buat keluarga kita sekarang. Aku keluar kepala keluarga, kan? Iya. Iya. Kamu akan selalu jadi anak laki-laki satu-satunya ibu. Tapi ini masalah ibu, sayang. Biar ibu yang coba selesaiin sendiri ya. Kalau Ibu bilang begitu ya udah deh enggak apa-apa. Tetapi tetap kalau ada yang bisa aku bantu, kasih tahu ya, Bu. Ya, tentu sayang. Kamu enggak usah khawatir. Ibu bisa ngurus semua. Kalau gitu kita berangkat sekarang ya, Bu ya. Aku enggak mau ke sorean. Oh, iya tentu. Maaf ya, Ibu tadi jadi ngelamun. Ayo berangkat cut. Eki, kamu harus ingat buat jaga diri baik-baik ya. Ibu enggak mau kamu sampai hilang. Wah, hilang. Ibu pengen kamu bisa pulang dengan tenang. Aku janji enggak nakal kok. Enggak mau ke mana-mana tanpa ibu. Wis, keren juga. Di sekitar di di sekitar sini orang-orang biasanya nginp semalam kalau lagi nyekar di kuburan. n nyekar n nyekar nyekar tuh kasih bunga kah, Guys? Ini kata-katanya ada beberapa yang bukan familiar dengan gua ya, mohon maaf, Guys. Jadi ini bukan sesuatu yang aneh atau bikin merinding banget. Semua orang di sini juga ngelakuin hal yang sama kok. Walaupun sebenarnya vilanya juga memang berhantu, tetapi itu sebenarnya enggak terlalu angker. Tetapi ada kisah tragis di dalam rumah itu. Orang-orang bilang rumah itu berhantu dan siap pun yang tinggal di sana bakal ngalamin nasib tragis. Semua gara-gara keluarga yang pernah tinggal di sana meningsoy karena kecelakaan mobil. Tetapi semua itu katanya cuma rumor. Ibunya mendapat villa itu sebagai warisan. Satu-satunya aset yang tersisa setelah semua hutang menumpuk. yang rumah tadi gimana dong? Sewa kah? Tapi tetap saja villa itu udah lama banget ditinggalin. Suasananya dingin, gelap, ada bau aneh. Sekarang kalau dipikir-pikir itu juga udah jadi tanda kalau kunjungan ke kuburan ini bakal berjalan enggak baik. 10 Agustus. Oh, 45 menit kemudian ya. Masih di tanggal 10 Agustus. Wow, gelap sekali. Ada senter kah? Kita udah sampai di villa, Ibu. Vilanya gede banget, Ibu. Wow. Wah, wah, vil tua yang Ibu ingat. Yah, Om udah meninggal ya dari dulu. Vilanya juga harus ikut-ikutan. Jangan ngomong gitu. Dia baik banget udah ngasih villa ini buat kita secara gratis. Ya udah, ayo masuk yuk. Kita istirahat di dalam. Hm. Ibu, Ibu enggak apa-apa? Maaf ya, Nak. Ibu tadi ngelamun. Hari ini banyak banget yang terjadi. Tadi kamu ngomong apa ya? Bukannya kita mau masuk, Bu? Di luar gelap banget loh dan dingin juga. Rasanya aneh. Oh iya benar juga. Hm. Ibu masih pengen di luar sebentar. Ibu di luar dingin. Di sini di dalam aja ada selimut loh. Ibu dari tadi aneh deh. Ada apa sih? E ibu takut gelap ya? Ibu takut gelap. Ibu ketawa. Ibu ketawa biar aku enggak nyadar kan. Oh. Enggak apa-apa kok, sayang. Enggak segitunya. Takut gelap. Tadinya ibu enggak niat masuk, tetapi karena kamu di sini. Ya udah, nanti aku yang nyalain lampunya, ya. Tenang aja aku bantuin. Enggak usah minta juga aku udah niat bantu kok. Wis, anaknya keren juga ya, Guys. Oh, ya udah deh. Kamu nyalain semua lampunya dulu. Hati-hati ya. Pastiin semua ruangan yang kita mau masuk udah terang. Oke, siap, Bu. Tenang aja, aku bakal bantuin ibu. Oke, nyalakan lampu. Eh, interaksi. Wah, gelap sekali. Oh, dapat senter kah? Nice, kita dapat senter. Kita nyalakan senternya. Pertama-tama kita cari saklar terlebih dahulu. Buset, Guys. Ada banyak piagam di sini. Banyak piala juga. Drower. Buka laci. Enggak ada apa-apa. Weh, keren sekali. Ayah dulu suka banget baca buku buat aku dan mama. Aku kangen dia. Mama kangen juga enggak ya? Kayaknya sih begitu. Kangen juga ya, Guys. Inikah saklarnya? Oh, nice. Sudah menyala ya. Mm. Hm. Buset gede banget sih. Nah, kita nyalakan semuanya ya, Teman-teman. Ada suara anak kecil, Teman-teman. Aduh, ada TV. TV ini rusak. Mau disimpan buat apa? Dijual juga udah enggak laku. Oke, ada jendela. Ini apa nih? Lilin ya? Ada lilin, Guys. Enggak bisa gua pasang. Kita cari lagi ya. Ini. Eh, kok enggak bisa nyala? Nah. Oke. Ini dapur. Dapurnya juga cukup gede ya, Teman-teman. What is that? Ini apaan? Ini kompor. Uh, ini rusak ya? Kenapa aku enggak bisa matiin, Guys? Kompornya enggak bisa dimatiin. Oh no. Ibu, kompornya gak bisa dimatiin, Ibu. Ini apa nih? Kok ada sesuatu yang bisa kita taruh di situ, ya? Ah, ini bahaya enggak sih, Guys? Waduh, belum apa-apa gua sudah melakukan hal yang tidak-tak ini, Guys. Tunggu dulu. Sepertinya aku kenal dengan tempat ini. Seperti game yang pernah aku mainin ini, Guys. Ini iya juga ya. [Musik] Hah. Aku seperti pernah ke tempat ini, Teman-teman. Layout-nya sangat familiar, ya. Dapurnya doang. Dapurnya doang. Ini mah enggak. Yah, kompornya gimana dong, Guys? Oke, nyalain lagi. Nice. Buka. Permisi. Punten. Kita cek-cek terlebih dahulu ya, Teman-teman. Itu apaan lagi ini? Kayak gua gak bisa ambil gitu loh, Guys. Oh, ada. Bisa menghentikan kejahatan untuk para pembaca yang budiman. Aku tahu kadang hidup itu bisa menyakitimu dengan cara yang enggak terbayangkan dan kadang kesedihan itu datang dari hal-hal yang jahat dan terus menghantui kita. Dalam halaman berikutnya akan dijelaskan bagaimana cara menghentikan ritual-ritual jahat yang berusaha mengendalikanmu. Untuk menghentikan ritual pengorbanan berlaku untuk ritual di kubur, pengorbanan di makam, ritual pesugihan. Hancurkan batu nisan di tempat ritual. Sembunyikan pecahan batunya di bawah tempat tidurmu. Gunakan sebagai jimat pelindung. Hah? Ini punya siapa? Bukan punya ibu, kan? Di sini pesugihan. Siapa yang pesugihan, Guys? Eh, kita nyalain semuanya. Oh no. Jangan bilang paman gua yang sebelumnya lagi. Tunggu, Guys. Tunggu, tunggu, tungguung. Tadi ada sesuatu yang bisa kita interaksi. Jangan bilang yang di dapur juga bisa kita interaksi. Tuh, ternyata aku bisa lari. Gak bisa, Guys. Gak bisa diinteraksi. Ini nih. Aduh, kok gua jadi gak nyaman gini, Guys? Takut meledak itu. Permisi. Gelap banget, Guys. Nyalakan dulu. Oke. Untung aja lampu di sini juga menyala. Loset. Enggak enggak bisa, Guys. Oh, bisa. Kita bisa interaksi yang ini. Enggak bisa, ya, Teman-teman. Ya, udahlah. Ada lipstik. Oh, siap. Ada parfum. Enggak ada apa-apa lagi. Ya udah yang penting udah K nyalakan sih. Kita keluar. Ini kayaknya sendalnya Ibu deh. Nih nyalain enggak sih? Oh iya bisa dinyalain. Yey semua lampunya nyala. Ayo kita kembali lagi ke ibu. [Musik] Kok gua merinding ya? Ada yang ketawa, Guys, tadi. Ada yang ketawa tadi. Ibu di mana? Siapa yang ketawa? Ih, takut. Ah, Ibu, Gu. Di mana sih? Itu suara apa? Guys, tadi ada yang di di kuping gua terus ini. Ah, gua khawatir yang ini sih, Guys. Ini gua khawatir banget. Ibu mana? Ibu lantai dua kayak ruangan mati. Enggak ada siapa-siapa beneran yang tinggal di situ. Ibu, Ibu. Ini kenapa sih laba-laba ya? Ada pena. Oke, kayaknya kayaknya penuh dengan sarang laba-laba deh, Guys. Ibu mana sih? Oke, kita beranikan diri kita, Guys, untuk mencari ibu kita. Gua masalahnya engak tahu. Enggak ada apa-apa di sini. Ruangan ini udah kosong bertahun-tahun. Astaga, ada majalah. Hm. Ditutup. Gua enggak tahu tuh bisa terbuka atau enggak. Uh, cakep banget nih lukisannya. Siapa? Balkon kah? Oh, iya ini balkon, Guys. Ini siap-siap aja nih dikagetin nih. Gua lagi menunggu nih momen-momen gua dikagetin nih. Ibu, Ibu di mana sih? Jangan. Kamar mandinya kecil banget. Aku belum pernah pakai ini. Kecil dari mana ini? Gede. Ada betap-nya. Ini mah enggak kecil. Wih, ada spa tuh. Pijit-pijit. Enak dipijit. Lampunya mana nih? Eh, lampunya mana sih? Oh, ini kok gak bisa nyala, Guys. Yang ini gak bisa nyala, Guys. Ini balkon. Ya udahlah, ya, kita tinggalkan saja, Teman-teman. Ibu mana sih? Oh, Guys, gua gak tahu Ibu di mana. Hm, ada yang ngetawain gua lagi di sini. Ini apa nih? Pewangi-pewangi kah? Hi. Hi. Huh. Hi. Ih. Ada ngintip, Ibu. Ini tempat enggak beres. Aku harus kayaknya keluar dari sini deh. Coba, Ibu. Ih, kaget lagi. Astaga. Ya ampun. Hah. Eki, kamu bisa matiin semua lampunya sekaligus. Hah? Bukan. Aku yang mati ini, Bu. Beneran? Oh, gitu. Soalnya Ibu kira kamu bisa lakuin itu soalnya. Eh, enggak jadi deh. Enggak usah dipikirin. Maksud Ibu apa? Aku enggak ngerti. Emang ibu pikir aku yang bikin semua lampu mati beneran? Soalnya kamu tadi di dalam. Emang kamu mikirnya apa? Jangan bercanda, Bu. Aku takut. Aku kaget banget, Bu. Kirain ada apa-apa. Maaf ya, sayang. Ibu cuma pengen bercanda biar suasananya enggak tegang. Terus Ibu tahu enggak kenapa bisa begini? Seram banget. Emang bisa ya semua lampu mati barengan gitu? Rumah ini udah tua banget, Eki. Lebih tua dari kamu. Terus aku enggak ngerti, Bu. Jelasin dong ke aku. Kadang rumah ini enggak kuat kalau dipakai semua listriknya barengan. Soalnya kontak seingnya itu juga udah tua. Terus aku harus ngapain? Bilang aja, Bu. Mungkin kamu harus cari kotak sekring terus nyalain listriknya manual. Ibu yakin nih aku takut malah bikin makin parah. Aku kan masih anak-anak. Kayaknya itu solusi paling logis, Eki. Tapi ya udah sih kamu mau diam aja digelap juga boleh. Iya juga sih. Kayaknya emang enggak ada pilihan. Jadi kamu mau bantuin Ibu sekali lagi nih. Mm ya udah deh aku nyalain kontak seingnya ya, Bu. Wah, tapi jangan dicontoh ya teman-teman kalau masih kecil harap didampingi dengan orang tua ya karena takutnya main listrik nanti kesetrum lagi. Kontak listrik di mana itu? Bentar ya, Teman-teman. Let me check. Gua bisa jalan-jalan kah? Enggak. Wow. Aku masih ada yang harus dikerjakan. Oh, gitu. Berarti emang kontak listriknya itu ada di dalam. Ini gelap banget. Iya sih, namanya juga di pedesaan kali ya, Teman-teman. Jadi gelap banget ini. Mana ya, Guys? Wow, ini villa gede banget sih. Ini dijual juga lakunya lumayan mahal sih, Teman-teman. Buka. Enggak bisa. Sebentar ya, Teman-teman. Aku cari terlebih dahulu. Oh, ini dia. Nah, ini, Guys. Yuk, bisa enggak, Bu? Aneh deh. Aku coba sekali lagi deh. Hm, bisa. Hei, kok dia tiba-tiba muncul? Hei, kamu siapa? Kamu yang siapa? Dari mana datangnya? Eh, eh, enggak usah teriak-teriak gitu dong. Gimana aku enggak teriak? Kamu siapa? Eh, aku udah bilang yang teriak. Wah, telinga aku bisa budek. Serius ini kamu siapa sih kamu beneran ngomong gini? Ya udah, ya udah aku kenalin diri deh. Aku Tommy. Oh, oke. Siapa? Aku Tommy. Tommy Putra. Aku enggak kenal Tommy Putra. Kamu siapa? Aku anaknya Pak Kades juga anak penjaga makam. Ya, ayahku ngurusin semua hal di desa sini juga sih. Wah, kedengarannya sibuk ya. Terus maksudmu ke sini ngapain? Malam-malam gini anak kecil gak boleh keliran sendiri tahu. Lagian ini juga masuk tanpa izin. Ini kan rumah orang lain. Weh, pintar juga si Eki ya, Teman-teman. Udah lama aku enggak lihat anak seumuran aku. Jadi aku datang buat nyapa. Oh, ya udah. Hai. Walaupun kamu aneh, kayaknya kita bisa berteman. Aku udah pernah ke sini juga sih, tapi enggak pernah punya teman di sini. Kalau e kita mau temenan, aku juga harus tahu namamu dong. Oh iya, aku yang hebat. Aku paling berani di komplekku. Senang kenalan dengan kamu. Aku Tommy. Oke deh. Terus kamu ke sini mau ngapain, Eki? Aku lagi ziarah ke makam ayahku dan aku lagi nginap di sini nih. Tapi cuma semalam aja sih. Oh, bisa jadi aku pernah lihat makam ayahmu. Siapa namanya? Kok kamu bisa tahu nama ayahku Budi Gunawan? Tapi kayaknya kamu enggak mungkin lihat soalnya udah lama juga sih beliau meninggalnya. Hmm, kayaknya aku pernah lihat nama itu soalnya aku sering main di sana. Kamu memang aneh. Ih, siapa juga yang suka main di kuburan kan enggak ada apa-apa. Ya, emangnya kamu enggak takut? Di situ seru loh. Kita bisa lihat hantu, jadi bisa lihat macam-macam. Eh, kalau boleh tahu ayahmu meninggalnya kenapa? Beliau sakit lama. Aku lupa nama penyakitnya tapi bikin botak dan kurus. Wah, kanker kah, Guys? Jangan bahas itu lagi ya, nanti ibuku sedih. Oh, gitu. Turut sedih ya. Enggak apa-apa kok. Aku enggak sedih. Ibuku yang sedih. Ya udah, biar kamu enggak sedih, aku ajak kamu main ke kuburan, ya. Hah? Ini kan udah malam. Enggak bahaya tah? Gelap. Kita enggak bisa main di sini aja. Oh, jangan-jangan kamu takut ya. Anak Budi Gunawan pernah. Oh, wah dia wow wow wow wow diunting gini. Aku enggak takut tapi aku akan bilang ke ibu dulu. Aku janji enggak bakal jadi anak yang nakal. Aku pengen banget ikut. Oke deh. Aku tunggu di depan pintu masuk kuburan, ya. Oke, tunggu ya. Oke, aku pasti menyusul. Jangan main duluan. Kalau kamu enggak datang, aku kasih tahu satu desa anak Budi itu penakut. Ih, jangan gitu dong. Namaku Eki. bukan anaknya Budi. Bercandaannya Narbener benar-benar ini benar-benar narasi banget ya, Teman-teman. Aku harus mencari ibu. Hm hm. Siapa lagi tuh yang lagi ngurusin tanaman itu, Guys? Oh, ibu kita. Loh. L lo l loh. L loh. Ibu kita kok jalannya begitu, Guys? [Musik] Dari mana aja kamu, Eki? Ibu, Ibu yang dari mana aja? Ibu habis ngapain aja? Eh, Kiki Kira udah pergi. Aku pengen ngomong sesuatu. Ah, ya bisa aja muter-muter villa ngecek apakah semuanya udah siap. Jadi enggak butuh bantuanku, Ibu. Enggak capek? Oh, enggak, sayang. Ibu harus ini harus Ibu lakuin sendiri. Mm. Bu, kenapa ada yang kamu pikirin? Katanya tadi kamu mau ngomong sesuatu. Boleh enggak aku main? Please. Hah? Jam segini mau main di mana? Sama siapa? Sama seseorang anak kecil yang Eki temuin ngajak main di kuburan. Aku tahu aku janji mau main bareng ibu dan jadi anak baik. Tapi Egi pengen banget main juga. Baru pertama kali aku ketemu anak kecil di daerah sini. Bu, kuburan. Kau bilang kuburan enggak? Kamu enggak boleh. Tapi, Bu. Oh, nanti juga kita ke sana kan. Aku bakal pulang begitu selesai main kok. Aku bakal ikut lagi ke kuburan ayah bareng ibu. Enggak, sekarang belum. Kamu harus nunggu. Kita enggak bisa ke sana sekarang dan kamu jelas enggak boleh sendirian. Tapi aku pengin banget, Bu. Ibu enggak pengin lihat aku punya teman. Aku tahu jalan ke kuburan. Dan nanti aku bantu lagi begitu pulang. Eki, dengerin ibu. Kamu harus jadi anak yang baik buat Ibu. Kenapa sih enggak boleh, Bu? Aku pengen main. Emang kalau main itu berarti aku nakal. Kenapa sih enggak boleh? Ibu enggak mau. Kamu ketakutan dan pergi. Ibu pengen kamu bisa tenang, sayang. Maksud Ibu apa? Aku tahu jalan pulang. Aku bisa tidur di vila ini. Aku bisa istirahat setelah main. Emang kenapa? Ibu tahu sesuatu yang aku enggak tahu ya? Kayaknya Ibu enggak mau banget aku ke sana. Aduh, sayang. Jangan mikir aneh-aneh. Ya udah, kalau kamu beneran pengen main ya silakan. Beneran nih? Yakin nih? Wah, Ibu terbaik deh. Pergi sana tapi jangan jangan dekat sama makam ya. Bahaya. Oke deh, Bu. Aku janji aku enggak bakal bikin kecewa. Waduh, waduh, waduh. Aku bukan penakut. Aku mau ke kuburan. Ibu, aku cuma mau bilang, Ibu, kalau kalau kompornya enggak bisa dimatiin, Ibu. Ini gimana dong, Guys? Kompornya nyala mulu. Wah, gawat kompornya nyala terus, Guys. Ya udahlah, ya, kita coba ke kuburan dulu aja. Eh, tadi gua ngelihat ada petunjuk sih. Tunggu sebentar. Mana petunjuknya? Ah, ini dia nih. Si paling lihat petunjuknya di mana? Oke, gua coba aja ya, Teman-teman, untuk jelajahin tempat ini ke kuburan ya. Hmm, ini rumah warga yang lain tuh, Guys. Wah, kita lagi berada kayak di puncak gitu ya. Pemandangannya bagus sih. Sendirian harusnya. Si ibu nemenin enggak sih ini? Beneran enggak ya jalannya? Gua takut gua wih woh weh wah aku melihat sesuatu. Astaga apakah itu yang dinamanya ocong? Aku harus tempat di dalam ah aku harus cari tempat bersembunyi di dalam kuburan. Kok gitu? He. Rumputnya bergerak. Aku mau main. Oh, itu dia. Y, bro. What’s up? Eh, lama banget sih kamu. Ibu enggak ngizinin aku pergi tadi, jadi aku harus minta terus-menerus. Ih, anak mami banget sih. Yang penting aku udah di sini kan. Eh, jadi aku resmi bukan pengecut. Jadi, kamu enggak perlu sok berani sendirian. He. Wah, nyebelin. Padahal aku udah siap ngumumin kamu sebagai pengecut lewat speaker. Waduh. Udah ah, stop ah. Aku udah di sini jadi kamu berhenti sebut aku pengecut. Ya, iya. Emang rencanamu apa sekarang? Kok kamu maksa banget sih ke sini? Bilang dong. Kamu udah siap sesuatu yang seru. Aku hampir berantem sama ibu nih, demi kamu. Oke, ini si Tommy ya, Teman-teman. Karena aku pengen kita main petak umpet. Yakin nih aku dengar katanya kalau anak kecil main petak umpet di kuburan nanti bisa diculik hantu. Wah kamu ah itu omong kosong. Kamu percaya aku atau percaya gosip? Enggak jelas. Ya, ya. Buat jaga-jaga kalau beneran kan kata orang kayak gitu. Gimana kalau ternyata benar? Ya kalau benar pasti salah satu dari kita bakal diculik hantu. Menurut kamu siapa? Aku atau kamu? Waduh, aku lihat sebagian besar hantunya di sini kamu enggak bakal suka. Udah ah cukup ah. Kok bisa sih ngomong kayak gitu? Waduh, otak kamu tuh beneran bahaya buat masyarakat. Maksudnya gimana tuh? Aku juga bingung. Aku udah sering main di sini tahu enggak? Mungkin aku udah diculik tapi enggak sadar. Main aja yuk. Aku harus ngapain sekarang? Oh, gantian sembunyi ya. Kamu duluan sembunyi, nanti aku cari. Aku harus sembunyi di mana? Kamu bakal sembunyi di mana? Oke, aku ke sini cuma buat ziarah, belum benar-benar keliling di kuburan. Ya, ngapain nanya aku? Sembunyi aja di mana pun yang kamu bisa ngumpet. Tapi pastiin masih di dalam area kuburan. Ya udah deh, kita main sekarang. Wah, guys. Sembunyiah. Sembunyi-sembunyi. Ada tempat aman enggak sih buat sembunyi? Cihawos, taman pemakaman umum. Oke, gua aja in real life gak pernah main petak umpet, Teman-teman, di kuburan ini lagi nih. Ada yang jatuh enggak tuh minumannya? Ambil dulu satu boleh enggak? Semunya di mana, Guys? Gua gua enggak salah aja dulu nih. Ini kenapa ke mana nih? Aku belum bisa ke sini. Harus pakai sesuatu. Oh, kita harus menemukan sesuatu nih. Yakin nih, Teman-teman. Pintu nih. Kita buka nih. Waduh, ini storage-nya dari kuburan ini, Guys. Sembunyi di sini boleh enggak? Enggak boleh, Guys. Sembunyi di sini. Tempat sembunyi. Oke, kita sembunyi di sini. Dia tahu enggak sih? Dia tahu enggak sih, Guys? Ketemu kamu. Ya ampun. Ketahuan, Guys. Ketemu tempat sembunyi kamu. Lumayan juga. Ih, cepat banget dan aneh. Kamu yakin kamu enggak ngintip? Aku sembunyi di mana? Kamu pasti curang. Ya, tahu sendirilah. Aku punya kekuatan spesial di sini. Mungkin ada hantu yang bantuin aku. Ah, enggak sopan banget kamu. Ngomong-ngomong hantu segala. Aku enggak mau kenapa gara-gara mulut kamu nih. Kamu gimana kalau hantunya beneran datang dan ganggu kita? Katanya sih kita enggak boleh ngomongin sembarangan, biar mereka enggak terganggu. Kamu takut ya? Ngaku deh. Anak ibu banget. Tenang aja, Ki. Siapa tahu salah satu dari kita udah jadi hantu. Udah ah, berhenti. Lanjut main aja yuk. Aku harus benar-benar pulang. Aku enggak mau bikin Ibu khawatir. Oke deh, anaknya Budi. Sekarang giliran kamu yang cari aku. Oke, aku merem ya. Ayo kita mulai sekarang. Ini joks zaman gua dahulu waktu gua kecil juga ya. Panggilannya itu anak dari bapaknya atau enggak marga gitu loh. Benar-benar benar-benar pat. 5 6 U A I U E O A I A A A I A I U A I I I A U A I A o. Kamu sembunyi di manakah? Kamu sembunyi di mana? Ayo keluar, Tommy. Enggak bisa ya? Ya, belum bisa ya, Teman-teman, di sini. Aduh, kita harus keliling-keliling. Dia sih enak, Teman-teman. Udah sering main di sini lah. Gua baru juga pertama kali main di sini. Enggak bisa yah. Eh, apa tuh? Lihat Ali, aku kenal dia dulu yang ngajarin pencak silat saat aku kecil. Hah, dia udah meningsoy. Oh, kasihan sekali. Oh, wow. Kita bisa baca satu persatu nama di sini ternyata, Guys. Enggak boleh diinjak ya, Teman-teman. Setahu gua kalau kita menginjak kuburan tuh pamali. So, jangan diinjak. Ngomong-ngomong ini gua harus ke mana? Gua enggak nemuin dia, Guys. Batu. Tunggu interaksi. Eh, inikah yang harus kita pasang? Oh, wow terbuka. Oh, itu dia. Gua bisa lihat dia dari situ dong, Guys. Astaga. Hah, suara siapa tuh? Tommy. Itu bukan suara lu, kan? Bentar, bentar, bentar. Gua udah lihat dia sih, cuma kita pura-pura enggak lihat aja dulu ya, entar. Hm. Ada tokek tuh, Guys. Tokek ini. Ini bahaya nih. Woi. Oyoy. Oyoy. Ooy. Ooy. Masih berani kamu. Aku harus hati-hati. Gak boleh terlalu lama ngumpet. Katanya bisa diculik hantu. Waduh. WC umum. Wah, ada 500 sama 2.000. He spot maksudnya apa nih? Hah? Ada tempat bersembunyi di sini. Bisa diculik hantu. Yang benar kamu diculik hantu nih. Coba head spot. Apa iya kita akan diculik hantu? Tunggu dulu. Kok dia begini? [Tertawa] Lah dapat ending. Tunggu dulu yah udah dapat tending. Gua lagi main kubu lagi main petak umpet menghilang. Ada kepercayaan kalau main petak umpet kelamaan apalagi malam-malam di kuburan, kamu bisa diculik oleh Weew gombel. Dia bakal mengira kamu anak yang menghilang. Eki kebanyakan ngumpet pas main. Ditambah lagi dia main di kuburan. Meski Tommy bilang gak apa-apa, tetap saja aku tidak sempat membaca semuanya ya, Teman-teman. Ending. Oh, kebakaran. Kebakaran, Guys. Tuh, kalian lihat ada ending kebakaran. Kayaknya ada hubungannya dengan kompor deh. Ada yang enggak beres, tertangkap basah, mengulangi kesalahan, akhirnya kebenaran. Hmm. Bentar, Guys. Kalau gua main load game. Oh, gitu. Bisa nih. Bisa nih, Guys. Bisa kita ulang lagi, ya. Oh, gitu, gitu, gitu. Oke, oke, oke. Mantap. Oke, sekarang kita coba bertemu dengan si Tommy tuh yang lagi ngumpet di sini nih. [Musik] Merinding. Duh, Tommy. Yah, ketemu juga akhirnya. Ih, gampang banget. Aku udah nebak. Kamu bakal sembunyi di sini. Udah, aku lihat dari kejauhan. Kamu harusnya jongkok lebih rendah. Ya, yang penting udah coba. Seru juga ya. Untung kamu ajak aku main. Ternyata gelap itu enggak sepenakutkan itu. Yuk, lanjut main. Waduh. Oh, coba ngomong gitu pas lihat pocong. Jangan ngomong sembarangan, ah. Gimana kalau hantunya dengar terus iseng ke kita? Kenapa kamu gini banget? Padahal aku baru bilang suka main di sini. Ya elah, kalau emang iya dari tadi juga udah diculik kali. Aku udah pernah lihat hantu, kadang mereka malah baik kok. Siapa yang tahu gua jaga-jaga aja. Bagaimana kalau beneran? Emang kalau kita kejebak di sini eh gimana kalau misalnya kita kejebak di sini selamanya, Bro? Aku cuma pengen main doang. Ya udah deh, penakut. Aku gak bakal ngomong yang aneh-aneh lagi. Main aja yuk. Ya udah, aku yang sembunyi ya. Kamu enggak boleh ngintip. Jangan curang ya. Aku gak perlu ngintip buat tahu kamu bakal sembunyi di belakang kuburan. Merem ya yang ngintip. Aku sembunyi. Oke, kita sekarang sembunyi, Guys. Aduh, boleh enggak enggak enggak main sembunyi-sembunyian kayak gini lagi sih? Kita mau sembunyi di mana masalahnya, Guys? Sembunyi di tempat tadi lagi. Oh, ini bisa kita buka, Guys. Uh, apa tuh? Uh, apa tuh? Apa tuh? Tadi ada sesuatu. Buset. Oke, Guys. Gua gak tahu mau sembunyi di mana, tapi tadi ada sesuatu yang jatuh dari atas. Kenapa ini makam ditutup terpal biru? Aneh banget. Hah? Ada makam di ketemu. Eh, kamu lihat apa? Kuburan ini kenapa aneh banget, ya? Kok kayak familiar gitu? Rasanya aku pernah ke sini sebelumnya. Oh, yang ini kuburan baru. Ada anak kecil yang dikubur di sini minggu lalu. Anak siapa? Namanya siapa? Kamu tahu dari mana? Katanya anak dari kota. Aku enggak tahu banyak sih, cuma bapakku bilang keluarganya lagi kena musibah. Aku udah enggak tertarik pas Bapak bilang katanya aku enggak bakal kenal anak itu. Oh, maksudnya apa tuh? Kena musibah. Sedih gitu. Mereka enggak boleh sedih. Nanti si anak enggak bisa tenang kalau keluarganya terlalu sedih. Gimana kalau tiba-tiba kamu ketemu dia? Pasti kamu nyesal deh. Kalau si anak itu masih di sini, harusnya kita udah lihat dia nongkrong di sekitar sini. Ingat enggak? Aku nih bisa ngelihat hantu. Ih, enggak lucu tahu. Tapi ngomong-ngomong kenapa kuburannya aneh banget ya? Kenapa ditutup terpal gala? Kayak kuburan ini dibikin spesial atau gimana gitu. Oh, kamu nyadar juga ya? Iyalah. Kuburan ini kayak terlihat banget buat hal khusus. Hah? Kamu tahu apa soal ini? Eh, kamu tahu apa gitu soal ini enggak? Hm. Sebenarnya aku dengar-dengar sih katanya orang yang naruh terpal biru gitu di kuburan baru. Soalnya mereka mau buat pakai ritual. Ritual yang tadi kita baca di rubah kah, Guys? Aku enggak percaya. Kamu pasti ngarang cerita lagi buat nakutin aku. Ya, serius ini bapakku bilang kuburan baru itu tempat ritual yang kuat banget. Katanya kalau ada yang nyelesain ritual tumbal dan nyerahin orang tercinta di sini, dia langsung jadi kaya raya. Wow. Ih, ngacau banget. Masa ada yang tega ngorbanin orang yang mereka sayangin cuma buat duit. Hh. Ya, mungkin keluarganya punya utang banyak. Mereka cuma pengin hidup enak kali ya. Gua jadi curiga ya, Teman-teman ya. Gua jadi curiga ya. Aku juga enggak ngerti. Kadang orang tuh emang enggak waras aja. Aku ngeri ya. Maksudku kok bisa-bisanya ada orang yang ngelakuin itu? GG banget. Aku ngerti rasanya punya hutang, tapi aku yakin ibu pasti enggak bakal ngakuin hal kayak gitu. Ibuku tuh sayang banget sama aku. Eh, eh, kan bukan kamu yang bakal dikorbanin. Jadi, ya biarin aja kalau ada orang lain yang ngelakuin itu. Enggak juga sih, Bro. Atau mungkin keluarganya cuma mau balik lagi buat jenguk. Aku juga enggak tahu. Itu kan aku kan bukan penjaga malam. Oh, ya ya, ya. Kamu sama bercandaanmu ya. Aku aduh, aku jadi cemas gini. Deg-degan kayak takut gitu. Udah ah, main aja yuk. He he he. Lanjut main yuk. Sekarang aku yang sembunyi. Oke, sana sembunyi. Entar aku yang cari. Hah, Guys. What’s wrong with this game? Kok suara? Hah? Ada orang. Eh, ngapain di kuburan ini? Maaf, Ibu. Aku cuma main kok. Aku mainnya kelamaan ya. Kamu main sama siapa? Emangnya kenapa? Aku cuma main sama teman aku? Ibu takut apa sih? Aku udah bilang tadi. Aku enggak bohong, Ibu. Ibu enggak lihat teman kamu. Kamu bohong ya? Enggak kok. Aku enggak pernah bohong sama ibu. Ibu kenapa sih kok enggak percaya sama aku? Aku enggak bohong, Kak. Dan kalaupun aku kelamaan di sini, enggak usah khawatir, aku bisa pulang sendiri. Hm. Ibu, ya ampun, Ibu nangis gara-gara aku, ya. Ampun deh. Maaf ya, Ibu ya. Aku ngomong tadi terlalu kasar ya. Maaf banget ya, Ibu ya. Eh, Ki, Ibu cuma pengen kamu bisa pulang dengan selamat. Ibu enggak mau kamu takut atau nyasar di sini. Aku tahu jalan pulang kok. Kok enggak jauh juga, Bu. Ibu enggak perlu nyusul aku ke sini. Tapi bener juga sih, mungkin aku mainnya kelamaan. Aku enggak mau bikin Ibu tambah khawatir. Yuk, pulang yuk, Bu. Aku janji bakal nurut sama Ibu sekarang. Aku ngerasa bersalah banget. Maaf ya, Ibu. Maaf banget. Kita pulang sekarang, yuk. Kamu pulang duluan aja, Nak. Ibu masih ada urusan di sini. Sendiri. Urusan apa, Bu? Tapi tadi katanya mau pulang bareng aku. Ibu cuma mau ambil tanah makam, tapi kamu enggak usah tahu deh. Pulang aja ya, sayang. Buat apa emangnya? Ngapain ibu ambil tanah makam? Ibu tahu kan itu aneh. Oh, sayang. Ini buat sesuatu yang berguna buat kita. Mungkin sekarang kamu belum mengerti, tapi percaya sama ibu ya. Tapi ya udah deh. Tapi aku boleh bantuin enggak? Biar ibu bisa lihat aku ngelakuin dengan benar. Hmm. Kalau kamu mau bantu, ambilin kacang tanah segar di kebun ya. Ibu mau goreng nanti. Ambil kacang tanah. Siap. Kalau gitu ibu apa? Kalau itu yang Ibu mau aku lakuin deh. Sampai ketemu di rumah ya, Bu. Jangan marah-marah lagi ya. Oke guys, aku harus ambil kacang tanah di kebun mini. Aku harus ambil keranjang dulu sih. Keranjang di mana? Bentar, Guys. Wah, gua gak bisa ke sini. Tunggu dulu. Si Tommy gimana? Aku enggak bisa ke sini. Iya, enggak bisa ke situ guys. Si Tommy dia kan udah sembunyi terus. Kasihan dong dia, Guys, kalau udah sembunyi. Betul juga, Tommy. Kamu gak usah sembunyi lagi. Kita udah gak main petak umpet. Tomy juga ditutup. Ini toilet yang tadi ya, Guys? Ya, gua udah gak lihat Tommy sih. Di mana, Guys. Wah, bahaya juga Tommy. Gak apa-apaah gua tinggalin, Guys? Keranjang. Gua butuh keranjang. Wah, perjalanan pulang ini nih. Hm. Enggak tahu apa tuh. Oke, sabar ya, Teman-teman. Gua lagi fokus nih untuk jalan pulang. [Musik] Ada yang bunyi. Tetapi gua enggak tahu itu apaan. [Musik] Gua tersesat gak ini? Lah iya dong tersesat, Guys. Gua di mana lagi nih? Aduh. Aduh, Guys. Aduh, jalan pulangku ke mana? Oh, ini nih. Eh, itu kuburannya lagi. Oh no. Beneran aja, Guys. Gua tersesat. Nah, sini sini sini sini sini sini. Nah, kok kuburan lagi, Guys? [Musik] Ibu, aku tersesat. [Musik] Oh, lewat sini. Oke, oke, oke. Gua, gua tahu, gua tahu, gua tahu. Ini kan ada pemandangan yang indah. Tuh, tuh. Astaga. Hampir aja gua tersesat, Guys. Dan tak bisa pulang lagi. Itu dia vilanya kacang tanah. Kita harus mengambil apa namanya? Kacang tanah dari kebun mini. Aku butuh keranjang buat ngambil. Uh. Uh. Buset, buset. Woi, woi, woi. Kalem. Baru juga pulang. H ngapain itu ngesot-ngesot di situ? Oh no. Keranjang. Apakah itu keranjang? Aku ingat keluarga ayah dulu petani, tapi tanahnya mau dijual ke pengembang gitu. Dulu aku pernah dengar mama marah ke ayah soalnya katanya itu hal yang bodoh, tapi aku enggak ngerti maksudnya. Loh, ini keranjangnya bukan sih, Guys? Kertas ritual. Ow. Hah? Oh, itu dia kertasnya. Ini apa sih? Lihat gimana cara lihatnya, Guys? Eh, oh. Cara cepat untuk jadi kaya punya hutang lagi kesulitan keuangan parah. Begila caranya menyelesaikan semua itu dengan cepat. Bentar. Ritual ini kamu bisa mengorbankan salah satu benda yang paling berharga milikmu dengan cara mengambil tanah kuburan dari makam, mengumpulkan kacang dan menggorengnya, melemparkan kacang tersebut ke dalam kuburan, mengambil darah orang yang tercinta, dan menuangkan ke dalam makam tersebut. Setelah itu kamu akan menemukan Youol yang menerima persembahanmu. Dia akan memberimu uang cepat. Waduh, waduh waduh. Guys, apakah kita dalam bahaya? Lihat Ibu Siti. Oh, nama Ibu gua Siti kah? Saya tahu betapa beratnya kehilangan seorang ee kehilangan anggota keluarga. Saya harap semuanya baik-baik saja. Kalau Ibu butuh sesuatu, bilang saja ya. Saya cuma berharap Ibu enggak melakukan hal-hal yang nekad. Saya bisa cari jalan keluarnya sama-sama. Salam sayang, Lilis. Wis, tanggal berapa itu? Bukannya kita tanggal 10 Agustus ya sekarang ya? Tunggu dulu. Tuh kan conclusion gua makin makin conclusion gua sih makin gede ya. Oh, bau gas. Ini rusak ya, kenapa gak bisa dimatiin? Wah, udah bau gas, Guys. Bisa enggak, ya? Tunggu, tungguung. Kalau emang bisa dioading, [Musik] gua ngapain, ya? Sebentar, sebentar. Ini bisa ditaruh sini nih, Guys. Oh, enggak bisa. Ee harus diapain, ya? Ini ada lilin. Lilin. Lilin kebakaran, Bro. Gara-gara gua main gas, ya. Kebakaran. Kalau enggak ada asap, enggak mungkin ada api. Kalau kita benar-benar sadar sama apa yang kita lakukan, kita pasti sadar kalau ada kesalahan kecil. Eki lupa matiin kompor. Yang lebih parahnya dia nyalain lilin dan itu menjadi penyebab api yang menyala melahap Vila Tula itu. Tapi tunggu dulu, ceritanya enggak pernah bilang ada terbakar sampai menjadi abu. Yuk, kita ulang lagi. Disuruh ngulang lagi kita mainnya, Guys. Oke, kita load lagi. Ke mana nih? Ibu marah ambil kacang. Aduh, lama ya. Tapi ini lama banget loh, Guys. Sorry ya kalau misalnya gua gak bisa mendapatkan semua ending. Kayaknya gua udah main kelamaan juga sih. Ada yang enggak beres tertangkap basah. Nanti gua cari tahu juga deh gimana caranya mendapatkan ending-ending yang lain ya, Guys. Sebentar. Oke, Teman-teman, setelah kita mengambil keranjang, yuk mari kita coba ke belakang ya. Jangan nyalain kompor, jangan main api. Serem banget bisa meledak begitu. Villa rumah jadi meledak, Guys. Ambil kacang dan taruh di keranjang. Mana kacang? Ini kacang tanah kita ambil, Guys. Mantap. Apa tuh? Bunyi apa tuh? Tapi emang bakal se se sejahat itu kah, Guys? Ibu kita kacang tanah udah ya. Ini ada nih banyak nih. Oke, udahkah? Masih ada lagi. Wah, astaga. Tommy, Tommy. Oi, Eki. Tommy. Ngapain kamu di sini? Seharusnya aku yang nanya. Kamu ke mana aja? Kita lagi main. Tahu-tahu kamu ngilang. Aku enggak ninggalin kamu kok. Aku kira kamu udah pergi. Ibu bilang dia enggak lihat kamu. Jadi kamu masih di sana? Ya ampun. Maaf deh, Tommy. Ya, soalnya aku lagi ngumpet. Hah? Jelas aja enggak kelihatan. Kamu waras enggak sih? Aku merasa bersalah. Seharusnya aku cari kamu dulu sebelum aku pulang. Hah? Kamu nyebelin banget. Minta maaf kek. Iya, maaf, maaf. Hari ini aku benar-benar gak fokus. Aku bingung banget. Lagian tadi aku juga udah minta maaf kok. Emangnya kamu ninggalin aku sendirian di kuburan? Kenapa? Emang ada apa? Disuruh ibu. Tadi ibu datang ke kuburan terus nyuruh aku pulang. Tapi terus aneh banget. Ibu nyuruh aku pulang dia malah tetap di sana. Katanya mau ngambil tanah kuburan. Tunggu. Beneran nih tanah kuburan. Kamu yakin? Jangan bilang itu tanah dari kuburan yang baru itu. Emang kenapa cuma tanah doang? Mungkin buat nanam kali ya. Enggak ada apa-apa lah. Yah, aku dengar-dengar dari Bapak sih dan aku ada teori soal ini. Tapi kamu enggak bakal suka dengarnya. Ceritain aja deh. Aku masih harus peti kacang juga. Waduh, makin malah makin seram ini. Kamu ingat ritual tumbal yang pernah aku ceritain? Tanah, kuburan sama kacang tanah itu penting banget buat ritual itu. Aku rasa ibu mau ngorbanin kamu supaya dapat duit. Maksud kamu, Eki, kok suaranya kayak manggil gua ya, Guys. Egi. Egi. Nama rumah gua Egi soalnya. Ci Ibu itu Ibu aku harus bagaimana? Aku bakal meningsoy gara-gara ibu mau bayar utang kita. Kalau aku jadi kamu, mending kabur aja sekarang. Enggak bisa. Ibu bakal sendirian. Dia bakal butuh aku. Ibu enggak bakal ngelakuin itu ke aku. Ya terserah kamu sih, Ki. Tapi hati-hati aja ya. Mungkin kamu bisa cari cara buat ngentiin ritual itu. Iya, iya. Makasih ya. Semoga kita bisa ketemu lagi. Kalau ibumu menggoreng atau memasak kacang itu udah pasti dia bakal ngorbanin kamu. Waduh. Yey, selesai semuanya. Sekarang balik lagi ke dapur. Harus taruh ke tempat yang benar. Kita taruh di tempat yang benar, ya. Hmm. Nih ada apa lagi nih yang bakal ngagetin gua nih? Enggak ada kan? Tuh taruh situ. Eh gimana taruhnya? Woi, woi, woi, woi, woi. Eh, Ki, kenapa lama banget sih? Aku lagi petik kacang, Ibu. Bukannya Ibu yang nyuruh? Oh, iya, i maaf, sayang. Tadi Ibu tuh ibu kecapekan ya. Ibu selalu bilang gitu, tapi emang beneran capek kan, Bu? Kok kamu ngomong gitu, Eki? Maksud kamu apa? Tapi Ibu aneh. Ibu makin lama makin aneh. Bilang aja yang sebenarnya, Bu. Please, aku kuat kok. Aku bisa nerima ini. Tapi tolong bilangnya yang jujur. Jujur soal apa ya, Ki? Maksud kamu apa sih? Ibu enggak sayang aku ya? Semua ini ngajak aku ke sini ke kuburan. Ibu mau korbanin aku biar dapat uang ya, Eki, kok kamu bisanya mikir kayak begitu sih? Jadi beneran ibu mau buang aku. Uang lebih penting daripada aku. Aku kurang penting apa buat ibu. Aku bisa kok bantu Ibu. Eki, ini bukan urusan yang perlu kamu pikirin. Ibu enggak mau bahas ini sama kamu. Kamu enggak akan ngerti. Aku takut, Ibu. Aku cuma pengen ibu bilang yang benar. Aku enggak mau dikorbanin. Aku bisa jadi anak baik kok. Tolong jangan diginiin. Jangan kalin aku, Bu. Ibu harus Eki. Maaf ya. Maksud Ibu apa? Aku enggak mau dikorbanin, Bu. Aku tetap mau di sini. Katanya Ibu mau melindungi aku. Emang ini yang disebut melindungi? Masuk ke kamar, Eki. Masuk ke kamar dan jaga. Jangan keluar. Jangan keluar sama sekali. Aku mau bareng Ibu. Tolong jangan tinggalin aku, Bu. Aku pengen hidup. Pengin terus sama Ibu. Aku bisa bantu Ibu. Aku cuma tetap mau sama ibu. Tetap Eki tetap di dalam dan tidur sana. Percaya saja sama Ibu ya, sayang. Sekali ini aja tolong. Tapi kalau Ibu nemu eh tapi kalau Ibu nemu kamu di luar, kamu akan dihukum ya. Tolong izinkan aku tinggal, Ibu. Aku enggak mau pergi. Aku mau terus bareng Ibu. Tolong, Bu. Eki, kamu enggak seharusnya ada di sini. Masuk ke kamar sekarang. Kenapa Ibu begini? Emang ibu enggak sayang aku? Ibu sama eh ibu sayang sama kamu, Eki. Makanya ibu harus lakuin ini. Ini demi kebaikan kamu. Sekarang tolong jadi anak baik dan masuk ke kamar, ya. Ibu bakal nyusul ke sana. Ya udah, kalau ini emang Ibu bikin senang, aku akan lakuin. Tapi, Bu, Ibu harus tahu. Aku sayang sama Ibu. Oh, si Eki ya, Teman-teman. Aku se aku enggak mau sebenarnya, tapi aku harus nurutin ibu mau apa. Hmm. Kita masuk ke kamar ya. Yang mana kamarnya? Tapi aku matikan lampu mejanya dulu. Satu. Hm. Ditutup enggak tuh? Terus apa sih? Oh. [Musik] Restu, semoga tenang di sana, Ibu Put. Eh, eh, tunggu dulu. Dalam kenangan Eki kan itu Eki Restu Gunawan, putra dari Budi Gunawan. Semoga tenang di sana, I. Tuh kan apa yang gua bilang dari awal, Guys. Kayaknya si Eki ini udah meningsoy deh. Dia udah meningsoy, Guys. Si ibunya nangis lagi. Gua enggak bisa keluar. Disuruh tetap di sini. Ya, ini juga gua udah lihat tadi. Itu kayaknya harus ke makam. Tutup terpal aneh kayaknya. Aku harus ke makam. Oh, dia harus ke makam lagi, Guys. Tempat tidur. Pergi tidur atau kita pergi ke makam, Guys. Kita pergi ke makam atau tidur? Tidur dulu aja kali, ya. Apa kita ke makam? Ya udah, kita coba ke makam, ya. Kita coba ke makam. Bundle sih ya. Uh. Uh. Kaget gua. Ya ampun, tertangkap basa ibu. Seolah enggak mau Eki tahu kebenaran. Dijaga di setiap sudut rumah. Siap mengusir Eki balik ke kamarnya. Kalau Eki lewat ee nekad melawan. Ceritanya enggak boleh selesai karena cuma Eki ketangkap basah. Masih ada yang belum kebongkar. Kita harus coba lagi. Hmm. Kita harus kembali lagi. Tapi dijaga sama ibu. Gimana caranya? Apa gua tidur dulu, ya? Apa gua tidur dulu nih, Teman-teman? kayaknya gua harus tidur dulu deh. Oh, tinggal dikit sih. Tinggal dikit sih, Guys. Kembali ke kuburan. Istirahat dengan tenang. Kemenaran. H. Oke, bentar. Gua disuruh tidur atau gimana nih? Sebentar ya, Guys. Ya, ini udah kok. Oke, gua coba tidur terlebih dahulu. Suruh masuk sini ya. Matikan dulu lampu di meja. Cuma ini juga gua mau nyalain nih. Nah, tuh ada yang terbuka. Kita baca ini. Oh. Oh. Aku harus mencari cara untuk menghentikan ibu. Dia curiga sama ibu dia, Guys. Dia curiga sama ibu dia. Dia masih belum sadar. Oke, ya udah gua tidur dulu. Atau dari jendela coba ya. Dari jendela enggak bisa cuma tutup jendela doang ya. Kalau kita keluar juga enggak bisa nih, Teman-teman. Coba deh pergi tidur dulu. Ada yang enggak beres. Kadang pas kamu ngerasa udah tahu semua kebenaran, kamu malah terlalu takut untuk melakuin sesuatu. Eki udah baca semua petunjuk surat duka, buku ritual, buku doa atas nama dia sendiri. Dia udah dekat banget sama kebenaran, tapi Eki malah memilih tidur untuk cuek semuanya. Enggak, enggak. Cerita enggak boleh berakhir kayak gini. Ini belum berakhir sebenarnya. Yuk, mundur lagi dikit. Oke, kita coba lagi, Guys. Wow, secara tidak langsung aku sudah berhasil mendapatkan 1 2 3 4 le empat ending. Ya, mengulang kesalahan akhirnya kebenaran. Mengulang kesalahan. Mengulang kesalahan dari mana ya? Oke, kita coba lagi ya, Teman-teman. Hmm. Jadi, gua harus nyalain ini sampai kebuka. Kita baca ini, Teman-teman. Dan habis itu kita baca ini juga. Nanti dia bilang dia mau ke makam terpal biru terus. Hah? Gua gak tahu. Oh, keluar. Keluar. Gua bisa keluar dari situ ternyata, Guys. Dari yang ini nih. Bukan yang ini ya. Ternyata keluarnya dari sini. Oke, ibu kita tidak menangkap kita lagi, Guys. Baiklah kalau begitu. Apakah ini adalah kesempatan gua untuk keluar dari sini? Wow. Eh, bukan. ke sini kan. Oke, kita pergi. Kita pergi terlebih dahulu ya. Hm. Si ibu. Si ibu keluar, Guys. Si ibu. Si ibu kenapa loh? Oh, dia mencari gua. Oh no. Aku enggak mau dikorbanin. Eh, mana nih? W ketutup. Hai, Ibu. Gua enggak sempat baca lagi. Dia berpikir ibunya mau ngorbanin dia, Guys. [Musik] Kayaknya sih kalau tebakan gua si Eki ini udah meningsoy. Ibunya tuh cuma enggak mau kehilangan dia lagi aja untuk kedua kali. Mungkin begitu kali ya. Oke, kita lari terus ya. Huh, apa tuh? Astaga. banget jump scare jump scare begitu tuh. Oke, kita udah dekat kita udah dekat. Ah, si ibunya juga ikutan ke kuburan. Oh, kasihan Ibu Siti ya, Teman-teman. Dia tetap masih mencari si Eki. Oki, kamu di mana, Eki? Janganlah kamu menghilang seperti ini. Aku takut banget. Aku harus Oke, ini kan. Oke, oke, oke, oke, oke, oke. Terus tadi kita disuruh ke sini kan udah dibuka. Heem. Terus gua ikutin ini untuk ke sana. Itu dia tenda birunya, Teman-teman. Eh, salah. Bukan di sini. Bukan di sini. Yang di sana, yang di sana. Eh, gimana? Kita ke tenda birunya, Guys. Kok gua lupa-lupa ingat. E e eh e eh. Oh, lewat sini. Eh, ya, ya. Betul, tuh, tuh, tuh, tuh. Nah, nah, nah, nah. Lewat sini, lewat sini, lewat sini. Oke, ini dia tenda birunya. Apa nih? Tuh kan apa yang gua bilang, Guys. Nan Eki namaku. Kenapa namaku ada di sini? meninggal seminggu yang lalu. Ini yang selama ini ibu coba sembunyiin dari kamu, tapi kamu sudah tahu sendiri. Apa ini, Bu? Kenapa dengan kuburan ini? Kenapa namaku ada di sini? Makanya ibu enggak mau kamu ke sini, Eki. Ini alasannya. Tolong kasih tahu aku yang sebenarnya. Tolong kasih tahu aku yang sebenarnya. Ada apa ini, Bu? Eki, anakku, sayangku, kamu sudah meningsoy. Kamu sudah meningsoy seminggu yang lalu. Maafkan ibu. Ibu benar-benar minta maaf. Ibu bohong. Aku cuma mau ah ibu cuma mau aku meningsoy. Ini bagian dari ritual tumbal kan? Enggak, sayang. Tentu saja bukan. Ibu sendiri sakit hati ngomong ini. Tapi, tapi kamu sudah meningsoy seminggu yang lalu. Ritual yang ibu coba lakukan itu supaya jiwamu tetap tenang. Ini semua enggak benar. Semua ini enggak benar. Ibu bilang kalau ini semuanya bohong. Ibu bohong kan? Ibu cuma mau bikin aku rela jadi tumbal. Eh, sayangku. Andai kamu benar-benar masih hidup. Jadi sedih gini, Guys. Enggak, enggak mau, enggak mau. Enggak. Tolong, Bu. Biarin aku tetap di sini. Aku pengen tetap sama Ibu, ya, Bu. Oh, ini si Tommy nih. [Musik] Ah, itu si Eki ya. [Musik] Lah, si Eki menghilang. Jadi begitulah ceritanya. Oke, mungkin kamu udah ngeh, tapi sebenarnya aku sendiri enggak ngalamin cerita ini langsung. Yang ngalamin itu sepupukku Tommy. Oh, ini ceritanya si Tommy, guys. Dia yang cerita waktu kita masih kecil. Waktu Tommy sadar kalau temannya ternyata hantu, dia sampai kaget dan rebahan seminggu. syok banget dia. Dia sampai super paranoid sampai nanya ke orang, “Kamu hantu bukan?” Dia gak bisa percaya kalau Eki itu ternyata sebenarnya hantu dan selama ini yang dia main bareng itu sama Arwah. “Tapi serius deh, aku sedih banget sama ibunya Eki,” kata Tommy. Setelah dia mendidurkan anaknya dengan damai, ibunya jadi benar-benar enggak bisa ditenangkan. Tommy juga bilang kalau Ibu Eki sampai masuk ke masa depresi berat dan enggak mau ketemu siapa-siapa bahkan sama saudara kandung dia sendiri. Dia kehilangan suaminya dan satu-satunya anaknya. Terus harus melepasin jiwa anaknya biar tenang. Pasti berat banget. Tapi aku rasa mungkin si ibu ada andil kenapa jiwa Eki enggak bisa langsung pergi ke surga. Katanya rasa duka yang mendalam bisa bikin jiwa terjebak di dunia. Oh, gitu kah? Jadi mungkin aja Ibu Eki enggak sengaja nahan jiwa anaknya di sini. Siapa yang tahu, ya. Oke, kita mendapatkan ending kebenaran. Bergabung itu wajar, tetapi kayak hal lain yang ada di dunia ini. Kalau berlebihan juga enggak baik. Dalam kasus ini ternyata ibu terlalu mendalam. tenggelam dalam dukanya. Luka itu membuat Eki enggak bisa pergi. Yang bikin jiwanya terus tertahan di dunia. Eki sampai lupa kalau sebenarnya dia udah meningsoy dan terus berkeliaran. Untungnya Ibu akhirnya sadar dan membebaskan Eki untuk selamanya. Tapi si Eki meningsoy kenapa ya, Teman-teman? Enggak dijelasin ya. Kalau ayahnya kan karena sakit. Kalau si Eki ini enggak tahu, Guys. Mendingnya karena apa. [Musik] Ya, begitulah ya, Teman-teman. Sudah selesai. Wow. Hah. Ceritanya cukup sedih sih ya. Ada beberapa hal yang apa menyeramkan. Tapi so far ini kita cuma mendengarkan cerita dari orang dalam bentuk game dan ada beberapa jump scare- jump scare yang cukup bikin kaget. Cuma inti dari game ini jalan ceritanya ya teman-teman yang di mana Eki seorang anak kecil yang bingung dia masih ada itu karena rasa duka ibunya yang begitu mendalam dan akhirnya si Eki sudah kembalilah ya teman-teman sudah pulang kembali. Wah jadi ibunya sedih banget sih karena kehilangan ayahnya dan anaknya. sendirian lagi ya. Aduh. Yo. Wes teman-temanku sekalian kayaknya masih ada satu ending lagi deh. Mengulang kesalahan. Apa ini? Mengulang kesalahan guys. Coba bentar ya. Gua cari dulu ya, Guys. Teman-teman, kayaknya itu di sini deh. Coba, ya. Gua putar terlebih dahulu. Gua mau keluar dari rumah ini, habis itu keetrigger. Ibunya kan keluar. Nah, gua mau coba untuk ketangkap. Kasihan sih ibunya sih. Pasti depresi berat ini, Guys. Oke, coba kita ketangkap, ya. Aku enggak mau dikorbanin. Oke, Ibu loh. Ibu loh. Ibu loh. Kok aku enggak ditangkap, Guys? Uh, kaget. Astaga. Nah, udah kah? Mengulang kesalahan. Eki kayaknya enggak mau ngelawan ibunya. Dia balik lagi ke rumah. Dia enggak tahu apa-apa soal kebenaran. Memang sih Eki cuma anak kecil yang paling dekat sama ibunya. Tapi kita harus menyelesaikan cerita ini dengan benar. Bukan begitu. Seharusnya akhirnya. Alright GG Gaming. Teman-temanku sekalian, terima kasih banyak buat kalian semua yang udah nontonin gua bermain game The Lingering Graveyard Visit yang di mana jalan ceritanya bukan seram tapi lebih ke arah sedih ya. Rasa duka seorang ibu. yang begitu mendalam yang menahan arwah anaknya pergi. Dan seharusnya ibunya senang, tetapi ibunya juga harus merelakan anaknya. Wow. Nanti kita lihat ya ada cerita baru apa lagi dari game The Lingering by Pamali yang satu ini. Apakah nanti akan seram atau akan menyentuh hati seperti ini? Terima kasih banyak buat kalian semua yang udah nontonin gua bermain game The Lingering Graveyard Viszit yang satu ini. Dan kita akan bertemu lagi di next video. Bye bye. W [Musik]

Kali ini kita akan bermain game asal Indonesia dari game Pamali yang judulnya The Lingering Graveyard Visit, dimana kita akan bermain sebagai Eki seorang anak kecil yang hidup bersama ibunya, dan akan pergi ke kuburan untuk melihat nisannya ayahnya, tapi ada plot twist yang ada, hmm…
#MiawAug #horrorgame #TheLingering #GraveyardVisit

Subscribe : http://www.youtube.com/user/miawaug?sub_confirmation=1
Be a Member : https://www.youtube.com/miawaug/join

Kumpulan Horror Game : https://www.youtube.com/playlist?list=PL7Kldd0cHcR8beT9oJqBWikBhfnEDezVt

Game : https://store.steampowered.com/app/3731150/The_Lingering_Graveyard_Visit/

Mau Kepoin gw di Social Media ? Kesini aja, ada Link IG FB Tiktok DLL
https://msha.ke/miawaugyt

Untuk Email Bisnis kalian bisa masukan di
Email ► miawaug@ gmail [.]com

Thanks Guys….

Intro Music :
– Mark G – Never Let You Go
– Support Mark G:
https://fanlink.to/markgneverletyougo

https://www.instagram.com/markgtheartist