Dunia Kaget! Iran Umumkan Dana Rp 18 Miliar untuk Balas Dendam ke Trump!
Dunia internasional tersentak ketika seorang ulama berpengaruh di Iran, Mansur Emami secara terbuka menawarkan imbalan senilai 100 miliar toman Iran jika dikonversi setara hampir dengan Rp1,6 miliar bagi siapapun yang bisa membawa kepala presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Tawaran ini bukan rumor gelap, bukan bisik-bisik politik, melainkan diumumkan secara terang-terangan dalam sebuah acara resmi di Urmia dan disorot berbagai media internasional mulai dari Iran internasional yang berbasis di London hingga The Times dari Inggris. Pernyataan itu pun dikutip secara utuh. Siapapun yang membawa kepala bajingan Trump akan menerima hadiah 100 miliar tomat. Mensur Emami bukan sosok sembarangan. Ia menjabat sebagai kepala organisasi dakwah Islam untuk Provinsi Azerbaijan Barat, sebuah posisi yang ditunjuk langsung oleh negara. Dengan posisi struktural di bawah organisasi propaganda Islam Iran. Pernyataannya memicu perhatian luas karena keluar dari mulut pejabat resmi dan bukan sekadar tokoh spiritual. Apa yang ia sampaikan tak hanya bersifat retorika religius, melainkan memiliki dampak politik yang nyata. Terutama dalam konteks hubungan Iran dengan Amerika Serikat pasca pembunuhan Jenderal Kasem Suleimani oleh drone Amerika Serikat pada Januari 2020. Fatwa untuk membunuh Trump yang diumumkan akhir Juni lalu ternyata bukan pernyataan tunggal. Dukungan datang dari setidaknya 10 ulama senior Iran termasuk nama-nama besar seperti Ayatullah Nasr Makaram Shirazi, Ayatullah Husein Nuri Hamedani, dan Ali Reza Panahian. Mereka tidak hanya menyerukan balas dendam atas tindakan Amerika Serikat di masa lalu, tetapi juga menyebut Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai musuh umat. Fatwa tersebut telah menjadi semacam doktrin publik yang meskipun tidak secara langsung mewakili negara tetap mencerminkan kemarahan dalam tubuh institusi keagamaan Iran. Yang membuat situasi ini semakin mengkhawatirkan adalah penggalangan dana yang terjadi secara online. Situs bernama Taar IR yang dalam bahasa Persia berarti balas dendam memimpin kampanye terbuka untuk mendanai misi pembunuhan terhadap Trump hingga pertengahan Juli 2025. Situs itu mengklaim telah mengumpulkan lebih dari 40 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp651 miliar. Jumlah ini belum bisa diverifikasi secara independen. Namun skalanya menggambarkan bahwa aksi ini telah melampaui dimensi simbolik dan masuk ke ranah eksekusi yang nyata. Pernyataan Em, dukungan fatwa dari berbagai ulama besar, serta keterlibatan publik dalam bentuk donasi online menciptakan gambaran bahwa dendam Iran terhadap Trump masih menyala terang. Ini bukan sekedar konflik politik atau diplomasi antar negara, melainkan ekspresi kolektif dari rasa marah dan luka yang mendalam yang kini dituangkan dalam bentuk ancaman nyata terhadap keselamatan seorang mantan kepala negara adidaya. Ketika seorang ulama menjanjikan uang miliaran demi satu kepala, maka dunia tak punya pilihan selain bersiap menghadapi babak baru dalam konflik panjang antara Iran dan Amerika Serikat. Kenapa Iran sangat membenci Trump? Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat telah berlangsung selama puluhan tahun. Tetapi konflik ini mencapai titik didih pada awal Januari 2020 ketika Presiden Donald Trump memerintahkan serangan udara di Baghdad yang menewaskan Jenderal Kasem Suleemani, komandan pasukan Kuds dari Garda Revolusi Iran. Bagi publik Iran, Soleimani bukan hanya pemimpin militer, melainkan simbol perlawanan dan martir hidup yang telah mengabdikan hidupnya dalam membela kepentingan regional Iran khususnya di Irak, Suriah, dan Lebanon. Pembunuhan Sulaimani menyulut kemarahan tak hanya di kalangan penguasa Iran, tetapi juga di jalan-jalan kota besar seperti Teheran, Mashad, dan Kom. Jutaan orang turun ke jalan dalam prosesi pemakaman yang menjadi unjuk kekuatan rakyat dan simbol solidaritas nasional. Iran menilai tindakan Trump sebagai bentuk terorisme negara dan menuntut balas dendam tidak hanya secara militer, tetapi juga secara moral dan spiritual. Dalam tradisi politik dan budaya Iran, penghinaan yang dilakukan terhadap figur nasional seperti Suleimani menuntut pembalasan yang tak lekang oleh waktu tidak bergantung pada siapa yang sedang menjabat di gedung putih. Rasa permusuhan Iran terhadap Trump tidak berhenti pada insiden Suleemani. Di masa pemerintahannya, Trump melancarkan apa yang disebut sebagai kampanye tekanan maksimum, yaitu rangkaian sanksi ekonomi yang sangat ketat memukul sektor minyak, perbankan, dan obat-obatan di Iran. Efeknya langsung dirasakan oleh rakyat dengan inflasi yang meroket, nilai mata uang yang merosot tajam, dan kelangkaan berbagai kebutuhan pokok. Sanksi itu meskipun diklaim sebagai instrumen diplomatik oleh Washington dipandang Iran sebagai bentuk perang ekonomi yang menyasar rakyat sipil. Luka diplomatik kian dalam ketika pada tahun 2018 Trump secara sepihak menarik Amerika Serikat dari perjanjian Nucl Joint Comprehensive Plan of Action atau JCPOA. Kesepakatan multilateral yang telah dirundingkan bertahun-tahun antara Iran dan negara-negara besar dunia. Keputusan itu membuat Iran kehilangan kepercayaan terhadap proses negosiasi dengan Barat dan menimbulkan efek domino berupa peningkatan pengayaan uranium serta menurunnya stabilitas di kawasan Timur Tengah. Bagi Iran, tindakan Trump itu bukan hanya pengkhianatan diplomatik, tetapi juga upaya sistematis untuk melumpuhkan pengaruh regional mereka. Dalam budaya politik Iran yang sarat dengan simbolisme, dendam tidak diredam oleh waktu atau perubahan pemerintahan. Dendam bukanlah sekedar amarah. melainkan komitmen moral untuk membalas penghinaan. Kalimat Mansur Em Trump harus membayar harga atas agresi terhadap republik Islam mencerminkan kemarahan kolektif yang telah membeku menjadi tekad nasional. Tidak mengherankan jika seruan pembalasan masih menggema bahkan bertahun-tahun setelah Trump meninggalkan jabatan. Di mata banyak rakyat Iran, harga atas darah Suleimani masih belum lunas. Di tengah gelombang fatwa kematian dan seruan balas dendam yang membara di Iran, sebuah situs yang dikenal dengan nama Blood Covenant atau Thar mencuri perhatian dunia. Situs ini secara terbuka menggalang dana publik dengan satu tujuan eksplisit, membiayai aksi pembalasan terhadap Donald Trump. Dalam klaim yang disampaikan melalui kanal resminya, sebuah jumlah fantastis yang jika dikonversi setara dengan lebih dari 650 miliar. Meskipun jumlah ini belum bisa diverifikasi secara independen oleh lembaga internasional, angka tersebut mencerminkan intensitas kemarahan yang masih membara di kalangan masyarakat Iran. Bukan hanya para ulama atau petinggi militer, sentimen terhadap Trump juga digaungkan oleh tokoh-tokoh politik senior. Muhammad Javad Larijani, mantan penasihat pemimpin tertinggi Ayatlah Ali Khamenei menyampaikan dalam wawancara di televisi pemerintah Iran bahwa Trump tidak bisa lagi santai di Maralago. Ucapan ini meski disampaikan dalam nada yang setengah berselor menjadi simbol peringatan bahwa pembalasan Iran tidak akan datang dengan pengumuman resmi, tetapi bisa menyelinap dalam bentuk yang tak terduga bahkan di lingkungan privat paling elit sekalipun. Fenomena penggalangan dana terbuka untuk aksi pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat mencerminkan wajah baru dari strategi perlawanan Iran. Jika sebelumnya perlawanan dilakukan melalui jalur diplomatik atau operasi militer tertutup, kini Iran mulai mengeksplorasi penggunaan teknologi digital, retorika keagamaan, dan solidaritas daring sebagai senjata. Blood Covenant tidak hanya berfungsi sebagai wadah penghimpun dana, tetapi juga sebagai pusat propaganda yang menggalang emosi kolektif dari para pendukung ideologi Republik Islam. Lebih jauh, gerakan ini tidak bisa hanya dilihat sebagai upaya fisik untuk mengeksekusi satu individu. Ini adalah bentuk mobilisasi sosial politik yang bertujuan membangkitkan semangat perlawanan, menumbuhkan solidaritas transnasional di antara umat muslim, dan menciptakan tekanan psikologis terhadap musuh-musuh Iran. Situus seperti TAR, IR memanfaatkan kekuatan simbolik dari pengorbanan syahid dan balas dendam untuk memperkuat narasi keadilan yang tertunda atas pembunuhan Suleimani. Dana yang dihimpun mungkin tidak sepenuhnya akan digunakan untuk misi nyata, tetapi keberadaannya saja sudah cukup untuk menanamkan rasa takut dan ketidakpastian di kubu lawan. Dalam tataran strategis, penggalangan dana ini bisa dilihat sebagai cara Iran untuk menunjukkan bahwa pembalasan bukan sekadar niat negara, melainkan aspirasi publik. Ini adalah bentuk perang asimetris yang tidak mengandalkan rudal atau tank, tetapi pada opini massa, rasa nasionalisme, dan kecanggihan komunikasi digital. Dalam dunia di mana persepsi menjadi senjata yang paling menentukan arah geopolitik, situs Blood Covenant adalah bentuk baru dari medan tempur yang tidak lagi memerlukan medan perang. Di tengah meningkatnya perhatian global terhadap fatwa pembunuhan terhadap Donald Trump dan Netanyahu yang digaungkan oleh para ulama senior Iran, pemerintah Iran dengan hati-hati mencoba memisahkan diri dari gelombang emosi keagamaan tersebut. Presiden Iran yang baru dilantik Massud Pezeskian menyampaikan sikap resmi bahwa fatwa tersebut tidak mewakili pemerintah Iran maupun pemimpin tertinggi ayat Ali Kamene. Penegasan itu muncul sebagai respons atas pernyataan ulama seperti Mansur Emami dan Nasr. Makaram Shirazi yang menyerukan pembalasan berdarah terhadap tokoh-tokoh politik Barat. Hingga tanggal 11 Juli, Kementerian Luar Negeri Iran belum mengeluarkan pernyataan publik atau diplomatik terkait isu ini. Sebuah sikap yang mencerminkan kehati-hatian tinggi dalam menavigasi tekanan internasional yang semakin besar. Sikap diam dari Kementerian Luar Negeri meski menimbulkan spekulasi sejatinya mencerminkan dinamika unik dalam sistem politik Iran yang mempertemukan dua kutub kekuasaan, negara dan agama. Dalam kerangka Republik Islam Iran, ulama memiliki ruang kebebasan yang cukup luas untuk menyuarakan pendapat mereka. Terutama jika dikemas sebagai pandangan keagamaan. Seruan seperti yang dikeluarkan oleh Ayollah Makaram Shirazi bukanlah kebijakan negara, melainkan ekspresi dari posisi moral dan religius yang diperkenankan secara konstitusional. Oleh karena itu, walaupun suara-suara keras itu lahir dari tokoh yang berpengaruh, mereka tidak serta-merta mencerminkan arah kebijakan resmi Iran. Salah satu elemen kunci yang perlu dipahami adalah perbedaan mendasar antara fatwa individual dan instruksi negara. Fatwa merupakan opini hukum Islam yang dikeluarkan oleh seorang ulama berdasarkan interpretasi terhadap teks-teks suci dan konteks sosial yang sedang berlangsung. Meski bisa memiliki dampak besar di tingkat publik, fatwa bukanlah perintah operasional yang mengikat lembaga-lembaga negara. Dalam hal ini, fatwa yang menyerukan pembunuhan terhadap Trump bersifat independen. Bahkan jika disampaikan oleh ulama yang memiliki kedekatan dengan elit politik, pemerintah Iran juga kerap menegaskan bahwa kematian Jenderal Kassem Suleimani di tangan militer Amerika Serikat merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional. Teheran telah berulang kali mengajukan keluhan ke perserikatan bangsa-bangsa. menuntut pengadilan internasional atas pembunuhan yang dilakukan tanpa persetujuan otoritas Iran dan tanpa dasar hukum yang sah. Bagi Iran, luka itu masih terbuka dan meskipun negara berupaya menempuh jalur hukum dan diplomasi, suara-suara dari masyarakat sipil maupun institusi keagamaan terus menuntut keadilan dengan bahasa yang lebih tajam dan keras. Dalam konteks ini, Iran berupaya mempertahankan posisi ambigu namun strategis. membiarkan suara-suara keagamaan berbicara atas nama kebenaran spiritual dan emosi rakyat sembari menjaga jarak secara institusional untuk menghindari eskalasi langsung dengan Amerika Serikat dan sekutunya. Ini adalah permainan politik berisiko tinggi yang dijalankan di atas garis halus antara emosi rakyat, kehormatan nasional, dan kalkulasi diplomatik. Sebuah posisi yang bagi banyak pengamat mencerminkan kompleksitas pemerintahan Republik Islam di abad ke-21. Apa bahaya bagi dunia? Meningkatnya eskalasi verbal dari tokoh-tokoh keagamaan Iran yang disertai dengan insentif finansial untuk membunuh Donald Trump membuka sebuah babak baru dalam dinamika konflik Iran dan Barat. Bukan hanya karena keterlibatan tokoh-tokoh penting atau jumlah donasi yang mencengangkan, melainkan karena efek domino yang bisa ditimbulkannya di luar kontrol pemerintah. Ancaman ini tidak lagi sebatas simbolik atau politis. Di era pasca kebenaran di mana propaganda dan fatwa bisa viral dalam hitungan jam, ucapan seorang ulama bisa menyulut api yang menyala jauh di luar wilayah kedaulatan Iran. Salah satu skenario paling mengkhawatirkan adalah munculnya aktor independen atau yang dikenal dalam ranah keamanan sebagai Lonwolf. Ini merujuk pada individu atau kelompok kecil yang terdorong oleh ideologi dan sentimen pribadi untuk melaksanakan aksi kekerasan tanpa koordinasi langsung dengan entitas negara. Dengan adanya dukungan moral, legitimasi religius, serta tawaran finansial yang besar, kemungkinan munculnya pelaku semacam itu meningkat drastis. Mereka bisa berasal dari diaspora Iran, kelompok radikal Timur Tengah, atau bahkan simpatisan anti barat di wilayah lain yang melihat seruan ini sebagai kesempatan spiritual dan politis. Dampaknya pun tidak terbatas di wilayah Amerika Serikat. Pusat-pusat kekuasaan dan pengaruh Amerika di Timur Tengah seperti Irak, Suriah, dan wilayah Teluk bisa menjadi target empuk untuk serangan balasan atau sabotase. Pasukan Amerika Serikat dan fasilitas diplomatik bisa menjadi simbol yang mudah diserang dengan alasan membela martabat Islam dan republik Islam Iran. Meski belum ada bukti bahwa pemerintah Iran secara langsung akan mengoordinasikan aksi demikian, sejarah panjang proxy war dan konflik asimetris menunjukkan bahwa Iran memiliki jaringan yang mampu menjalankan misi-misi seperti itu lewat kelompok afiliasi seperti Hizbullah di Lebanon atau milisi Syiah di Irak. Amerika Serikat sendiri tidak tinggal diam. Badan intelijen dan lembaga keamanan seperti Secret Service dan FBI disebut telah memperketat pengamanan terhadap mantan Presiden Trump sejak kabar ini merebak. Lokasi seperti Mar Alago di Florida dan kawasan publik lain yang sering didatangi Trump kini menjadi perhatian khusus aparat. Dalam sistem hukum Amerika, ancaman terhadap presiden dipandang serius. Terlebih jika sumbernya berasal dari negara asing atau tokoh dengan pengaruh politik tinggi di luar negeri. Trump bukan hanya kepala negara, tetapi juga simbol besar dalam konflik antara ideologi liberal Amerika dan Islam revolusioner Iran. Yang menarik, pendekatan Iran terhadap konflik ini tampak semakin strategis. Alih menurunkan tensi, mereka justru mengedepankan diplomasi terbalik. Artinya, bukan dengan menyampaikan pernyataan resmi yang tenang, melainkan membiarkan aktor non negara seperti ulama dan tokoh sipil menyuarakan kemarahan secara terbuka. Dengan cara ini, Iran menanamkan pesan kepada dunia bahwa luka nasional mereka atas pembunuhan Kasem Suleimani belum sembuh. Mereka tidak perlu mengirim pasukan atau menyatakan perang. Cukup dengan membiarkan ancaman terbuka itu bergema luas dan menumbuhkan ketakutan di kalangan musuh. Secara spiritual dan ideologis, fatwa pembunuhan terhadap Trump memiliki bobot yang sangat serius. Dalam dunia Islam Syiah, fatwa dari seorang ayat atau ulama senior bukan sekadar opini, tetapi bisa menjadi panggilan suci. Namun dari sisi hukum internasional, fatwa seperti ini tidak memiliki legitimasi atau kekuatan legal. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Mahkamah Internasional tidak mengakui otoritas agama dalam mendikte tindakan kekerasan terhadap tokoh internasional. Di sinilah letak bahaya terbesar benturan antara sistem moralitas keagamaan yang transnasional dengan sistem hukum internasional yang berbasis negara. Dalam dunia yang kini diwarnai oleh proxi war, konflik siber, dan retorika ekstremis yang semakin leluasa beredar di media sosial. Kata-kata bisa menjadi peluru. Retorika agama yang menyasar individu bisa membangkitkan aksi nyata bahkan dari luar kendali negara asalnya. Dunia internasional kini dituntut untuk mampu membaca konteks, membedakan antara ancaman retoris dan kebijakan nyata, serta meresponsnya secara proporsional tanpa mendorong eskalasi yang lebih besar. Sebab dalam geopolitik modern, pernyataan seorang ulama bisa lebih berbahaya dari suara ledakan senjata. [Musik] Yeah.
🔥 Geger Dunia! Ulama Iran Tawarkan Rp 18 Miliar untuk Kep4la Donald Trump! 🔥
Seorang ulama senior Iran, Mansour Emami, menawarkan hadiah 100 miliar Toman Iran (Rp 18,6 miliar) untuk siapa pun yang bisa membawa kepala Presiden AS Donald Trump. Fatwa pembunuhan ini didukung lebih dari 10 ulama besar Iran dan diikuti oleh kampanye donasi daring melalui situs thaar.ir, yang mengklaim telah mengumpulkan lebih dari USD 40 juta atau sekitar Rp 651 miliar. Pemerintah Iran menyatakan fatwa ini tidak mewakili posisi resmi negara, namun dunia kini waspada terhadap potensi aksi ekstremis dan lone-wolf.
00:00 Ulama Iran Tawarkan Rp 18 Miliar
03:10 Kenapa Iran Sangat Membenci Trump?
06:12 Fenomena CROWDFUNDING
09:07 Pembelaan Resmi Iran
12:21 Apa Bahaya bagi Dunia?
📌 Sumber informasi:
– Iran International (London-based Persian media)
– The Times UK
– United News Network (UNN)
– New York Post
– IRIB (Islamic Republic of Iran Broadcasting)
Disclaimer:
Seluruh informasi dalam video/narasi ini disusun berdasarkan sumber-sumber media terpercaya dan terbuka di ruang publik dan pemberitaan media arus utama. Video ini bertujuan untuk menyajikan ulang peristiwa secara naratif, sinematik, dan bernuansa investigatif demi kepentingan edukasi, kewaspadaan publik, dan kebebasan pers sesuai amanat Undang-Undang.
Narasi ini bukan pernyataan resmi institusi mana pun, melainkan interpretasi dari rangkaian peristiwa yang disusun dalam bentuk cerita jurnalistik. Viewer diharapkan menyimak dengan sikap kritis dan bertanggung jawab.
🎯 Tonton sampai akhir untuk analisa geopolitik lengkap dan bahaya retorika ini bagi stabilitas dunia!
#Iran #Trump #FatwaIran #DonaldTrump #Geopolitik #Soleimani #MiddleEast #CrowdfundingTrump