🔴MALAH KEPANASAN!! Pelatih Vietnam U23 NGOMONG GINI Usai Timnas U23 Hancurkan Filipina 1-0 Piala AFF

Masih Raihan sikat lagi kita lihat kali ini dan Ahmad Arjuna [Tepuk tangan] [Musik] Begini pernyataan pelatih timnas Vietnam U-23 yaitu Kim Sangsik yang mengaku terkejut usai Timnas Indonesia U-23 berhasil kalahkan Filipina U-23 dengan skor 1-0. Laga kedua, grup A Piala AFF U-23 tahun 2025. Namun, kemenangan itu menghadirkan kesan yang sangat mendalam bagi pelatih Vietnam U-23 yaitu Kim Sangsik. Pelatih asal Korea Selatan itu mengaku sangat terkejut dan terkesima dengan performa luar biasa yang ditampilkan Garuda Muda di atas lapangan. Dalam wawancaranya usai menyaksikan pertandingan secara langsung, pelatih Vietnam yaitu Kim Sangsik tak menahan kekagumannya terhadap cara bermain timnas Indonesia U-23 yang dinilainya sudah berada di level sangat tinggi, bahkan mampu membongkar pertahanan super defensif Filipina yang terkenal menggunakan strategi parkir bas. Saya benar-benar terkejut. Menurutnya, meski hanya menang 1-0 lewat gol bunuh diri pemain Filipina, permainan yang ditunjukkan Indonesia jauh dari kata biasa. Ia menyebut dominasi Indonesia dalam mengatur tempo, membongkar pertahanan rapat, dan mengeksekusi serangan secara efisien menjadi bukti bahwa skuad Garuda Muda layak diperhitungkan di level ASEAN saat ini. Pelatih Vietnam U-23 secara spesifik memuji bagaimana Indonesia berhasil berkali-kali menerobos pertahanan low block Filipina yang terkenal padat dan keras. Strategi Filipina yang bertahan total bahkan dengan lima bek sejajar dan dua gelandang bertahan disebutnya sangat sulit untuk ditembus. Tetapi tidak bagi Indonesia. Yang paling mengejutkan bagi saya adalah serangan-serangan Indonesia dari tengah ke area rendah. Mereka bisa membongkar pertahanan Filipina yang parkir bas dengan sangat efektif. Ini jarang sekali bisa dilakukan oleh tim muda di Asia Tenggara. Salah satu sosok yang mencuri perhatian pelatih Vietnam U-23 adalah James Ravens, striker utama timnas Indonesia U-23. Ia menyebut James Revens sebagai pemain yang sangat aktif, memiliki mobilitas tinggi, dan berani mengambil risiko dalam duel satu lawan satu. James Revens tampil luar biasa. Dia bisa membuka ruang, membuat bek Filipina kewalahan, dan memberikan tekanan konstan. pemain seperti dia bisa mengubah arah pertandingan kapan saja. Selain itu, winger cepat Raihan Hanan juga tak luput dari pujian. Kim menyebut pemain bernomor punggung 8 itu sebagai senjata mematikan Indonesia dari sisi sayap. Kecepatannya, ketenangan dalam mengontrol bola dan keberaniannya menghadapi duel fisik membuat pertahanan Filipina terus dalam bahaya. Tak hanya lini depan, Kim Sangsik juga memberikan perhatian khusus pada kinerja lini tengah Indonesia. Trio gelandang muda Robi Darwis, Arkan Fikri, dan Tony Formansyah disebutnya sebagai jantung permainan Garuda Muda. Kombinasi umpan 1-2, pergerakan tanpa bola, dan visi permainan mereka membuat lini tengah Filipina kewalahan. Mereka bisa saling mengerti hanya dengan dua sentuhan lalu memberikan umpan terobosan ke winger. Pelatih Vietnam U-23 juga menyoroti bagaimana tekanan ofsif dari Indonesia membuat mental para pemain Filipina goyah. Kiper Filipina Nicholas Gumires beberapa kali terlihat frustrasi saat harus menghadapi tembakan demi tembakan dari pemain Indonesia. Saya melihat bagaimana serangan Indonesia tidak berhenti di tengah permainan menyerang Indonesia. Filipina justru menunjukkan permainan keras dan cenderung kasar. Total empat kartu kuning dikeluarkan wasit untuk pemain Filipina karena pelanggaran berbahaya. Bahkan pada menit 91, Raihan Hanan harus menerima telekel keras yang hampir mencederinya membuat bek Filipina diganjar kartu kuning. Bahkan pelatih Filipina U23 Garat Mcferson ikut mendapat kartu kuning karena terlalu sering melancarkan protes terhadap keputusan wasit. Namun yang membuat Kim lebih kagum, para pemain Indonesia tetap tenang dan tidak terpancing emosi. Bahkan terus menjaga fokus mereka sampai peluit panjang dibunyikan. Begini jalan pertandingannya. Timnas U-23 Indonesia berhasil taklukkan Filipina 1-0 dalam laga kedua grup Asian Cup U-23 tahun 2025 di Stadion SUGBK Jumat 18 Juli tahun 2025. 2025. Timnas U-23 Indonesia sukses meraih kemenangan lewat tungga yang tercipta dari gol bunuh diri pemain Filipina Jaimi Roskio. Pada menit ke-23. Tim Merah Putih sebenarnya mencoba terus melakukan serangan ke pertahanan The Ascals secara bertubi-tubi hingga memasuki menit ke-33. Tetapi tak juga ada gol. Bahkan pada menit ke-35, timnas U-23 Indonesia kembali mendapatkan peluang melalui lemparan ke dalam Robi Darwis. Tetapi saat lemparan ke dalam tersebut tak mampu dimanfaatkan dengan baik karena bola lemparan Robi Darwis sempat disundul oleh pemain Filipina. Bola itu jatuh di kaki Raihan Hanan, tetapi tendangan pemain Persija Jakarta tersebut gagal bersarang bola ke gawang karena mampu ditepis kiper Filipina. Pada babak kedua, Grald Vanenburg melakukan perubahan dengan memasukkan Jens Raven dan menarik Hoki Karaka. Perubahan itu berbuah hasil karena pada menit ke-47, Tony Firmansyah melakukan tendangan keras dari luar kotak penalti, tetapi tendangannya masih mampu ditepis oleh Ncolas. Bola tepisan tersebut sebenarnya berhasil jatuh ke kaki James Raven dan berbuah gol. Tetapi pemain Bali United tersebut sudah dalam posisi offside sehingga gagal menjadi gol. Untuk itu, hingga memasuki menit ke-49, timnas U-23 Indonesia masih berusaha membobol gawang Filipina. Namun, belum juga ada gol yang mampu dicetak oleh timnas U-23 Indonesia sehingga pertandingan berakhir dengan skor tipis 1-0. [Musik] Berita kedua begini pernyataan media Malaysia yaitu makan bola usai pertandingan timnas Indonesia U-23 Pers Filipina U-23 di pertandingan kedua Piala AFF U-23 tahun 2025. Penampilan brilan timnas Indonesia U-23 kembali menjadi sorotan utama media asing usai laga krusial menghadapi Filipina U. 23 di ajang Piala AFF U 23 tahun 2025. Dalam pertandingan yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno itu, skuad muda Garuda menunjukkan dominasi permainan yang luar biasa. Tidak hanya dari segi teknik, taktik, dan fisik, namun juga dari segi mental dan karakter tim yang matang. Media Malaysia yaitu makan bola. Bahkan secara terang-terangan mengakui bahwa mereka sangat terkejut dan kagum dengan kualitas permainan yang ditampilkan anak-anak asuh Gerald Vanenberg. Dalam laporan mereka, makan bola menggunakan kata-kata yang tidak biasa untuk menggambarkan performa Indonesia U-30. Ini bukan sekadar pertandingan biasa, ini adalah pertunjukan total football. Timnas Indonesia U-23 bermain seperti mesin sepak bola modern yang sangat terorganisir, dinamis, dan tak tertebak. Yang membuat makan bola benar-benar takjub adalah perubahan formasi yang dilakukan oleh pelatih timnas Indonesia U-3 yaitu Gerald Vanenburg. Jika pada laga sebelumnya melawan Brunei Darussalam U-23 Garuda Muda tampil dengan formasi 433 yang menghasilkan kemenangan besar 8-0, di laga kali ini Vanenburg mengejutkan semua pihak dengan mengusung formasi 44-42 yang lebih padat dan fleksibel di lini tengah. Kami menyangka Indonesia akan kembali bermain dengan formasi menyerang yang sama. Tapi ternyata pelatih mereka punya rencana yang lebih kompleks. Formasi 442 mereka sangat cair. Bisa berubah menjadi 422 saat menyerang dan menjadi 4141 saat bertahan. Ini bukan taktik biasa, ini strategi kelas dunia. Tidak hanya formasi yang mengejutkan, gaya bermain Indonesia juga berubah drastis. Tim muda merah putih tampil dengan sistem permainan tikitaka alat timnas Argentina. makan bola bahkan menyebut permainan Indonesia sebagai mini versi dari Tiki Taka Eropa di Asia Tenggara. Kami benar-benar kagum melihat bagaimana para pemain muda Indonesia menampilkan permainan Tikiaka yang begitu rapi dan lancar. Bola mengalir seperti air. Perpindahan posisi pemain sangat dinamis dan umpan-umpan pendek mereka benar-benar mengacaukan struktur pertahanan Filipina. Salah satu pemain yang mendapat pujian setinggi langit dari makan bola adalah striker muda Timnas Indonesia U-23 yaitu James Ravens. Penyerang berdarah campuran Indonesia Belanda itu tampil sangat luar biasa dan menjadi momok menakutkan bagi lini belakang Filipina. Kami benar-benar tak percaya dengan apa yang kami lihat. Dua bek Filipina Kamil Jaser Amirul dan Noah Revel Ledel tak mampu menghentikan James Ravens. Ia terlalu kuat dalam duel udara, terlalu cepat dalam sprint pendek, dan terlalu pintar dalam membaca arah bola. Tak hanya soal duel fisik, James Ravens juga menunjukkan kualitas sebagai striker modern. Ia beberapa kali turun ke tengah untuk menjemput bola, membagi umpan, dan membuka ruang bagi rekan-rekannya. Pergerakannya yang tanpa bola membuat lini belakang Filipina kebingungan dan panik sepanjang laga. James Ravens adalah prototype striker masa depan. Dia bukan hanya target man, tapi juga playmaker di lini depan. Kecerdasannya dalam membaca ruang sangat menakjubkan. Lini tengah Indonesia U-23 juga tak lepas dari sorotan. Makan bola menyebut trio Tony Firmansyah, Arkan Kaka, dan Robi Darwis sebagai dinamo yang terus-menerus menyuplai energi ke seluruh penjuru lapangan. Ketiganya tak hanya bekerja keras, tetapi juga mampu mengatur tempo dan menjaga stabilitas permainan. Mereka ini bukan sekadar pemain muda biasa. Mereka sudah bermain seperti veteran. Umpan 1-2 pressing cepat dan keberanian menembak dari luar kotak penalti membuat lini tengah Filipina benar-benar kewalahan. Bahkan kami menyaksikan gelandang Filipina terpaksa turun menjadi bek tambahan karena tak mampu menghadang arus serangan Indonesia. Trio ini memainkan peran penting dalam membangun serangan cepat dan transisi vertikal yang mematikan. Setiap kali Filipina kehilangan bola, Indonesia langsung menyerang balik dengan kecepatan yang tak bisa diantisipasi. Jika lini depan dan tengah tampil menawan, lini belakang Indonesia U-23 pun mendapat pujian yang tak kalah besar. Makan bola secara khusus menyebut dua bek sayap. Doni Triamungkas dan Brandon Shoineman sebagai dinding kokoh yang tak mampu diterobos oleh pemain-pemain Filipina terutama winger andalan mereka yaitu Otu Bisong. Otu Bisong mencoba berbagai cara baik melalui dribble, kecepatan, hingga umpan satu-2. Tapi semua usahanya kandas di kaki Doni dan Brandon. Mereka tampil penuh disiplin, tanpa kompromi, namun tetap tenang. Inilah backback modern yang tahu kapan harus agresif dan kapan harus cerdas. Tak hanya solid dalam bertahan, kedua bek sayap itu juga aktif dalam membantu serangan menjadikan Indonesia U-3 sangat dominan dalam permainan sisi lapangan. Saking dominannya permainan Indonesia, pelatih Filipina U-23, Garat Mcferson terlihat frustrasi sepanjang pertandingan. Makan bola menulis bahwa McFerson tak henti-hentinya berdiri di pinggir lapangan, mencoba memberikan instruksi, namun tetap tak mampu membendung gempuran Garuda Muda. Makan Bola menegaskan bahwa Indonesia U-23 bukan sekadar tim kuat, tetapi juga layak disebut sebagai favorit utama juara Piala AFF U 23 tahun 2025. [Musik] [Tepuk tangan] [Musik]

———————————————————————–
timnas indonesia, timnas indonesia news, berita timnas indonesia terbaru, berita timnas indonesia hari ini, berita timnas indonesia 2023, berita timnas indonesia terbaru hari ini, berita timnas indonesia terkini, berita timnas indonesia, berita bola terbaru hari ini, hasil timnas indonesia tadi malam, hasil bola tadi malam, timnas indonesia tadi malam, live timnas Indonesia hari ini, live timnas, timnas indonesia live streaming, kabar timnas Indonesia, info timnas Indonesia, timnas u23, timnas u20, timnas senior, piala asia, piala aff, live indosiar sekarang, indosiar live streaming, hasil timnas indonesia hari ini, piala aff 2023, hasil piala aff 2023, fifa matchday, piala aff, timnas u20, rcti live streaming, live rcti sekarang, hasil timnas indonesia, jadwal timnas indonesia, kualifikasi piala asia u20, piala asia u17, fifa matchday,