🔴BANGUN SUTOTO : JOKOWI SUDAH MENGHINA SULTAN⁉️DIBALIK PENCABUTAN PERNYATAAN PROF SOFYAN EFFENDI

ee Jokowi sudah menghina sultan. Nah, itu tolong yang penasaran silakan baca dari hati ya. Gunakan hati. Kemudian juga baca pelan-pelan dengan akal sehat, pikiran yang terbuka. Mari karena saya menuliskannya dari hati apa adanya nggih. Jadi silakan baca itu. Semoga menjadi inspirasi kita bersama untuk satu kata kejujuran ini sekaligus meralat, sekaligus menyangkal. Nggih. Kalau ada tuduhan apa yang disampaikan kepada Prof. Sofyan itu sudah dikondisikan atau diatur atau diskenario itu menurut saya salah besar. Lalu yang disampaikan oleh beliau oleh Prof. Sofyan Effendi yang saya tahu Mas Arif dan teman-teman itu sudah ee beberapa kali sempat disampaikan di dalam beberapa kesempatan ya meskipun artinya itu bagi Prof. Sofian bukan hal yang baru ketika menyampaikan pernyataan itu ya. Iya. Saya menilai itu bukan suatu hal yang baru. Itu sesuatu yang bagi Prof. Sofyan itu suatu hal yang biasa. Karena jadi pertanyaan Mas Bang tidak jurusan itu? Maksudnya jurusan teknologi kayu ya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Teman-teman semua ee di mana pun berada para pemirsa sekalian. Eh beberapa waktu yang lalu kita ee mendatangkan tamu spesial ya dari koordinator relama bergerak yaitu Mas Bangun Sutoto yang menjelaskan banyak hal tentang suratnya ke UGM termasuk Prof. Sofyan Effendi yang terakhir kemarin mencabut pernyataannya ketika diwawancara oleh Bang Rismon dan ee video itu banyak beredar dan di dalam video itu juga ada rencana ee Bang ee Mas Bangun ini datang ke Sri Sultan Hamengku Buono ke 10 yang nanti mungkin mungkin kita akan ekspor lebih banyak tapi alhamdulillah kita bisa mengundang beliau kembali untuk kita tanya-tanya soal itu dan soal banyak hal terkait UGM ya. Baik, kita langsung saja ke beliau. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Mas Bangun. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Mas Arif. Semangat sehat. Semangat sehat. Mantap. Iya, Mas Bangun. Saya cukup ee lumayan terkejut ini dengan tulisan Mas Bangun yang tadi pagi dikirimkan ke saya. Judulnya menarik ya, judulnya Jokowi sudah menghina sultan dalam tanda tanya. Nah, Jokowi sudah menghina sultan tanda tanya dan ternyata ada respon juga dari alumni yang lain ya. Nah, ini Mas Bangun ee saya ingin tanya apa landasan Mas Bangun menulis ini dan boleh dijelaskan ya kenapa ini kemudian akhirnya ditulis dan dipublish. Silakan Mas Bang. Baik, terima kasih Mas Arif dan teman-teman semuanya. Latar belakang saya menuliskan itu tadi ya tadi pagi dengan judul Jokowi sudah menghina Sultan. Nah, itu pertama karena memang saya pribadi dan juga sebagian teman-teman di relaus dugaan ya, ijazah palsu Jokowi ini kan sangat prihatin dan sedih gitu. Kenapa kok ini berkepanjangan? Kemudian yang kedua, saya ini kan juga biasa nulis Mas. Bagi saya oke. Menulis itu menyehatkan. Jadi ee saya sudah biasa menulis tentang ya apa yang memang saya tuliskan gitu. Yang ketiga memang rencana kami untuk sowan Sri Sultan Hamengkumo ke-10 mengadukan kasus ini kepada beliau selaku raja di Kesultanan Ngayok Hadiingrat. Nah, jadi ya semata-mata saya ingin mencurahkan isi hati dan pikiran saya ke dalam tulisan. Dan saya tidak mengira Mas Arif dan teman-teman semuanya tadi pagi di akhir saya menuliskan ee tulisan itu, air mata ini meleleh, Mas. Saya enggak tahu ya, mungkin mungkin itu representasi dari kesedihan hati saya dan mungkin juga teman-teman di Rela Gama Bergerak dan juga para alumni yang lain ya. Wallahuam. Tapi itulah yang saya alami tadi pagi Mas Arif. Jadi semata-mata saya menuliskannya untuk saya sendiri juga berbagi. Ibarat kata saya curhat dengan tulisan itu, Mas. ya. Kalaupun kemudian ada yang tersentuh ya semuanya itu tentu atas kuasa Allah nggih. Yang penting saya menulis karena dari dulu saya biasa menulis Mas. Nggih. Ngaten Mas Arif. Oke. Ee saya tadi sempat juga ee chat-chatan kan kita ke Mas Bangun ya dan sempat ada respon ya respon dari alumni yang lain yang kita tidak sebut namanya yang justru malah apa namanya kontraproduktif ya dengan tulisan itu ya Masangun ya. Ya macam-macam. Kalau yang memang membacanya dengan hati juga sebagian besar mendukung atau bahkan kalau boleh saya bilang tadi tulisan itu juga saya kirimkan ke Mas Roi. Mas Roy berkom bagus patut diviralkan gitu. Iya juga mantul gitu. Terus teman-teman yang lain bagus Mas lanjutkan. Ya macam-macamlah ya. Saya lagi-lagi kalau ibarat pelukis itu kan hasil karyanya kan melukis. Kalau saya biasa menulis ya dengan tulisan ya. Kalaupun kemudian mau dikomentari ee bagaimanapun ya itu hak mereka yang membaca. Tapi yang jelas saya tadi menuliskannya insyaallah dengan jujur dengan ya sepenuh hati. Makanya kalau kemudian di akhir tulisan itu kok mengalir begitu saja sampai air mata ini mengalir ya wallahuam. Saya enggak tahu, tapi intinya saya menuliskan saja. Oke. Begitu, Mas? Oke. Iya, Mas Bangun. Karena ini menarik banget ya ee seperti yang kita tahu kemarin setelah kita podcast kemudian Mas Bangun kemarin juga sempat ke Solo, Teman-teman, bersama ee Pak Rismon ya. Saya lihat videonya, live-nya juga datang ke KPUD Solo. Sebelumnya kan di Jogja kita bahas kemarin ee bagaimana Mas Bangun dan teman-teman di Jogja datang GM menyerahkan surat bersama Bang Rismon. Dan ternyata hari berikutnya pas kita wawancara itu Mas Bangun ternyata sedang ada di Solo. Oh iya. Kalau hari Kamis pagi kemarin saya di Solo, Mas. Karena memang di Solo. Iya iya iya. ee Mas Bangun di Solo. Nah, terakhir Mas Bangun ee perkembangan terakhir setelah ee pernyataan dari eh Prof. Dr. Sofyan Effendi yang mencabut pernyataannya ketika diwawancara Rismund itu sebenarnya ada apa sih, Mas Bangun? Bisa ee ada info-info enggak yang Mas Bangun ee dengar soal itu Mas Bangun? Oh, nggih. Ini menarik sekaligus juga saya harus menjelaskan dan alhamdulillah ini Mas Arif yang berkesempatan ee pertama kali bertanya langsung kepada saya nggih. Karena saya dalam hal ini kan kalau wayang itu kan menjadi salah satu pelaku lakon ya Mas ya. Iya. Itu yang yang pertama begini, Mas Arif dan teman-teman. Profesor Sofyan Effendi itu bagi saya menjadi guru saya, dosen saya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM. Meskipun beliau beda jurusan, beliau kan di jurusan administrasi negara. Nah, tetapi buku-buku beliau itu kan juga menjadi referensi kami. Saya juga ada beberapa buku-buku beliau. Nah, sehingga ya saya harus menyebut beliau itu guru saya, dosen saya. Begitu. Kemudian yang kedua, apa yang Prof. Sofyan Effendi sampaikan terkait dengan isi dialog Bung Rismon dan teman-teman dari rela Agama dan Rela Gama Bergerak yang ada di sana sebetulnya sudah pernah disampaikan di beberapa kesempatan meskipun tidak secara utuh, Mas. Tidak secara lengkap kronologisnya ya. Saya juga pernah mendengar sendiri saat beliau mau mengisi acara diskusi di UC UGM ya bersama Prof. Eh Kailan rahimahullah dan juga Prof. Rahmat Wahab ya, ek rektor UMY itu beliau juga sempat bercerita karena saat itu diskusinya kan tentang ee ideologi Pancasila dan ee ini ee Undang-Undang Dasar 1945. Ada makalahnya yang ee sampai tadi malam saya cari belum ketemu Mas Arif. Tetapi menarik saat itu saat sebelum acara mulai kami kebetulan saya duduk di paling depan di sebelah kiri beliau itu beliau juga menceritakan itu. Nah, pas di apa ee menarik-menariknya beliau bercerita itu kemudian MC membuka acara sehingga tidak berlanjut. Nah, kemudian yang ketiga, Mas Arif, rencana Bang Rismon untuk sowan ke beliau di rumahnya itu sudah teragendakan sejak hari Senin tanggal 14 Juli saat kami ya, saya, Bung Rismon, teman-teman rela bergerak, teman-teman rela dan juga teman-teman dari luar ee UGM ya itu membersamai kami ya mengantarkan surat ke UG ke rektorat ya, ke Rektor UGM dan juga ke Dekan Fakultas Kehutanan. Nah, saat itu ya waktu waktu di Fakultas Kehutanan saat kami rehat ee siang ya ee salat dan karena kan ee staf TU di Fakultas Kehutanan kan rehat untuk salat zuhur ya. Nah, itu setelah setelah salat itu ee kami sempat dialog saya langsung sampaikan ke Bung Rismon, “Bang, ee ini teman-teman sudah menjadwalkan kalau Bang Rismon mau sowan ke Prof. Sofyan Effendi ee bagaimana?” Wah, maaf, Mas. Bangun ini saya harus segera ke Solo. Ini sudah ditunggu sama Pak Taufik dan teman-teman di sana karena saya harus mempersiapkan berkas untuk besok laporan ke Polda. Itu hari Senin tanggal 14. Nah, akhirnya agenda sowan beliau di rumahnya hari Senin itu kan jadi cancel ya, dibatalkan. Kemudian ee dijadwalkan ulang di hari Selasa tanggal 15 sore jam .00. Nah, saya juga sampaikan pada teman-teman karena hari Selasa pagi jam 10.00 Bang Rismon ditemani oleh Mas Andika dari tim Pak Taufik ya eh lawyer di Surakarta yang mendampingi Bang Rismon itu kan laporan di Polda DIY melaporkan Joko Widodo dengan delik kabar bohong terkait dengan ee dosen pembimbing Pak Kasmujo itu. Nah, saya bilang sama teman-teman, sepertinya ini nanti di Polda itu tidak bisa cepat ya. Paling tidak nanti sekitar jam .00 mereka baru selesai. Saya bilang begitu, “Ya sudah kalau begitu nanti dijadwalkan jam .00 ya gitu.” Nah, saya oke monggo gitu. Nah, tapi Mas Arif Qadarullah ee jam .00 itu usai Bang Rismon dan Mas Andika selesai pemberkasan laporan di Polda DIY, mereka kan sudah ditunggu oleh teman-teman media. Nah, sehingga akhirnya waktu Bang Rismon tidak mencukupi untuk membersamai teman-teman yang sudah standby di rumah Prof. Sofyan Effendi gitu. Jadi di sana sudah ada beberapa teman-teman dari Rela Gama yang sudah stay di rumah Prof. San, Effendi. Namun Bang Rismon tidak bisa merapat karena sampai dengan sore menjelang petang ya ee bahkan malamnya itu Bang Rismon juga harus live bersama salah satu stasiun TV. Nah, akhirnya Mas Arif sowan ke rumah Prof. Sofyan Effendi diundur lagi di hari Rabu pagi tanggal ee 16. Nah, saya memang tidak bisa membersamai karena di hari itu ada pertemuan wali murid di sekolah anak kami ya. Terus sorenya itu kan Mas Andika juga mau datang ke tempat saya yang hari Selasa mendampingi Bang Rismon itu. Mas Andika saat di Polda DIY sudah telepon saya bahwa hari Rabu sore dia mau datang untuk ketemu dengan saya. ada beberapa yang memang mau dia sampaikan dan dia mau minta informasi begitu. Nah, akhirnya saya di hari Rabu memang tidak bisa membersamai Bang Rismon dan teman-teman sowan ke beliau. Begitu. Nah, lalu yang penting begini ee Mas Arif dan teman-teman ketika kita merunut dari kronologis itu ya baik Prof. Sofan Effendi sendiri dan keluarganya itu tahu kalau kami mau datang mau bertemu itu tahu ya. Kemudian dengan latar belakang kapasitas Prof. Sofan Effendi sebagai akademisi yang menurut saya juga hebat luar biasa di usia beliau yang sudah masuk ee kalau bahasa kita lansia ngih itu beliau masih tegas juga kemudian masih sering diminta untuk mengisi diskusi seminar gitu. Jadi logika kita ya, logika saya dan teman-teman itu menilai beliau sudah tahu siapa Rism Sianipar, Rism Sianipar itu sedang melakukan apa, perkembangan dinamika berita di luar sana seperti apa, itu insyaallah saya kok yakin seyakin-yakinnya beliau sudah tahu. Nah, sampai kemudian ee beliau diminta untuk kemudian apa ee dipasang ini ya mikrofon. Nah, kemudian juga disajikan itu ya beliau tahu. Jadi ini sekaligus meralat, sekaligus menyangkal nggih. Kalau ada tuduhan apa yang diampaikan kepada Prof. Sofyan itu sudah dikondisikan atau diatur atau diskenario itu menurut saya salah besar gitu. Nah, lalu yang disampaikan oleh beliau oleh Prof. Sofyan Effendi yang saya tahu Mas Arif dan teman-teman itu sudah ee beberapa kali sempat disampaikan di dalam beberapa kesempatan ya meskipun artinya itu bagi Prof. Sofyan bukan hal yang baru ketika menyampaikan pernyataan itu ya. Iya. Saya menilai itu bukan suatu hal yang baru. Itu sesuatu yang bagi Prof. Sofyan itu suatu hal yang biasa. Karena begini Mas. Nah, itulah bedanya apa yang disampaikan oleh seorang akademisi dengan orang-orang yang hanya bernarasi. Nah, kalau kalau orang akademisi kan berbicara berdasarkan fakta dan data. Meskipun saat diwawancara oleh Bang Risbon dan teman-teman beliau kan tidak bisa menyajikan datanya karena memang data-data administratif itu kan dokumen yang ada di domain kampus atau UGM kan tidak disimpan di rumah beliau. Mungkin kalau disimpan di rumah beliau ya beliau bisa tunjukkan. Tetapi kan yang beliau ceritakan itu sesuatu yang beliau jumpai, yang beliau alami, yang beliau lihat, yang beliau baca saat beliau menjadi rektor UGM di periode 20027. Makanya saat itu yang saya lihat Mas Arif ya dan teman-teman itu komunikasi antara seorang guru dengan murid, komunikasi antara seorang dosen dengan mahasiswa, komunikasi seorang ayah dengan anaknya, komunikasi antara seorang ustaz, kiai santri-santrinya kan begitu ya. Jadi kenapa kemudian beliau begitu leluasa menyampaikan ya karena kami menilai apa yang beliau sampaikan itu berdasarkan data, berdasarkan fakta. meskipun ya lagi-lagi meskipun beliau tidak sajikan karena memang data-data itu tidak ada di rumahnya gitu loh. Jadi beliau lost atau ya biasa-biasa saja menyampaikan tanpa beban gitu. Jadi ini penting untuk kemudian sekali lagi dipahami oleh siapapun yang ee saat ini berkesempatan mendengar dan menyaksikan tayangan ini. Jadi tolong jangan sampai salah dalam menilai apa yang kemudian disampaikan oleh Prof. Sofian. Jadi kami dan teman-teman di Jogja itu sudah biasa mendengar cerita seperti itu. Hanya kan memang kalau diibaratkan puzzle itu kan potongan-potongan cerita beliau itu kan baru utuh runut ya komplit ya. Ketika kemarin Bang Rismon ee mendatangi beliau. Makannya teman-teman di Jogja, Mas Arif itu mengajak Bang Rismon datang ke sana. Karena selama ini teman-teman yang ada di Jogja itu sudah biasa mendengar cerita beliau itu sudah biasa meskipun ya tidak utuh gitu loh. Nah, jadi sama sekali itu sesuatu yang menurut saya inilah bisa jadi petunjuk dari Allah, petunjuk dari Tuhan ya. Tidak ada yang namanya kebetulan. Dan ini fakta lagi Mas Arif. saya itu bertemu muka langsung berjabat tangan dengan Bang Rismon itu ya pas hari Senin tanggal 14 itu. Padahal kami sebelumnya enggak enggak kontak-kontakan. Iya saya enggak janjian tiba-tiba ke UGM ya Bang Rismon itu. Iya Bang Rismon itu ngabari kalau kalau ada di Jogja itu pagi. Jadi ke Jogja itu baru ngabari. Nah buktinya apa? Buktinya Bang Rismon itu lebih duluan sampai di UGM. Kalau misalkan kondisikan kan tentu ibarat tuan rumah kan saya lebih dulu datang, Mas. Tapi Bang Rismon malah sama istri dan apa ee temannya itu apa saya yang saya tahu berdua. Waktu saya tanya, “Loh, Bang, di mana?” “A saya di hotel.” “E kalau berkenan biar nanti teman di Jogja jemput. Enggak usah ini saya ITRI terus ada mobil teman gitu.” Ya sudah. Saya juga enggak tanya di hotel mana. Saya juga enggak tanya. Itu kan privasi ya. Jadi I intinya intinya Bang Rismon sampai di UGM di halaman balorung UGM itu lebih duluan daripada saya gitu. Dan itu kalau dirunut dariangan apa videonya Bang Risman itu ada itu Mas. Jadi sekali lagi apa yang disampaikan oleh Prof. itu sesuatu yang menurut saya sebagai ucapan ataupun kisah yang memang secara akademik itu bisa menjadi sebuah data. Nah, kan ada toh ee pengambilan data itu dengan wawancara, dengan apa, pengamatan dan sebagainya. Nah, itu kalau ibarat penelitian itu kan Bang Rismon dan teman-teman Suan ke sana itu kan dalam rangka untuk mengumpulkan data. Betul ya dengan wawancara gitu. Iya. Dan itu tidak ada settingan. Jadi pertanyaan apa itu disiapkan itu enggak enggak. Jadi itu natural lah. Saya pikir itu sesuatu yang natural. Dan kalaupun kemudian apa ee keluarga atau Prof. Sofyan Effendi sendiri itu memang dalam hal ini berkeberatan, tentu dari sejak hari Senin langsung ya logika enggak maulah. Iya kan? Apalagi harusnya enggak menerima di enggak menerima Rismon langsung ya. Iya. Sekarang gini sudah teragendakan sejak hari Senin. Hari Senin batal, Selasa. Selasa Bang Rismon enggak jadi datang. Ya mestinya kan kalau mohon maaf kalau kalau misalkan apa ee ditepak ning awake dewe misalkan kita wah enggak usah jadi aja lah kemarin saya sudah 2 hari dibohongi terus misalkan. Iya kan? Tapi buktinya ini artinya dari sisi beliau secara pribadi dan juga keluarga itu sudah tahu kalau mau kedatangan tamu teman-teman itu sudah tahu. Jadi jadi tidak perlulah kita menduga-duga yang tidak apa ee tidak pada tempatnya. Jadi mohon untuk diralat ini bagi teman-teman yang penasaran ataupun kemudian juga ada yang mengatakan wah ini Profesor Sofyan Effendi diwawancarai sudah dikondisikan. Nah, iya iyaah. Itu salah besar. Itu salah besar, Teman-teman. Janganlah janganlah ee siapapun menilai yang salah kepada beliau. H begitu nggih. Itu Mas Arif. Iya. Iya. Dan itu kan memang yang hari ini ee sedang digencarkan ya, yaitu bahwa semua yang terjadi di sana itu memang sengaja sudah dikondisikan begitu sehingga Prof. Sofyan Effendi menyampaikan data-datanya demikian. Nah, buktinya kan dia minta maaf dan mencabutnya. Nah, itu kan menjadi bukti bahwa saat wawancara itu memang sudah dikondisikan sehingga tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Nah, itu yang ee narasi-narasi yang peredar hari ini, Mas Bangun. Nah, kalau Mas Mas Bangun ee melihat nih ya ee apa motifnya Mas Bangun ya ee Prof. Sofan Effendi kemudian mencabut pernyataannya di awal ketika diwawancara Bang Rism. Nah, Mas Arif dan teman-teman kami tahu ada surat itu ya saat saya dan Bang Rismon dan Mas Nurmadi usai dari KPUD Kota Surakarta itu kan kami makan siang di daerah Gentan di sebelah selatan kota Surakarta. Nah, siang itu kami baru tahu ada informasi itu. Tentu kami khususnya Bang Rismon juga kaget ya. Kaget apa ini benar begitu. Nah, apa ini benar gitu kan. Tapi alhamdulillah saya sama istri Bang Rismon itu biasa saja. Artinya kami tetap tenang membaca itu. Nah, kemudian ee lalu kan bermunculan berbagai macam analisa. Ada yang mengatakan wah ini kerjaan bazer. Wah, ini apa pemalsuan tanda tangan gitu. Saya sampai dengan sore hari sebelum ada konfirmasi resmi dari teman kami yang memang selama ini terbiasa berhubungan langsung dengan beliau dan keluarganya itu saya menyampaikan begini, Mas Arif. Kalau diperbandingkan khususnya di tanda tangan beliau itu ada perbedaan. Nah, saya bilang, “Nah, ini ee saya berpikir seolah-olah saya ini detektif, Mas Arif.” Nah, mohon maaf. Jadi, saya membandingkan antara foto ee tanda tangan beliau di ijazah dengan foto di surat pernyataan beliau. Akhirnya saya dengan santai kepada teman-teman, kepada Bang Rismon dan ya teman-teman semuanya, saya bilang begini, kalau melihat tanda tangan ini teman-teman saya menilai sepertinya beliau tanda tangan dalam keadaan menahan emosi, menahan amarah. sehingga tanda tangan beliau di surat pernyataan itu itu menyiratkan atau me ini melambangkan pesan ya atau memberikan pesan kepada siapapun yang melihat, “Hei, tolong saya sedang dalam tekanan gitu.” Kira-kira kalau bahasa pramuka seperti sandi lah gitulah, Mas. Nah, itu itu analisa saya. He. Nah, kemudian saya sambil ee bersama dengan Pak Nurmadi, seusai bertemu Bang Rism dan teman-teman di kantor pengacara Pak Taufik itu saya meminta kepada teman saya di Jogja untuk langsung konfirmasi kepada beliau dan keluarganya. Dan ternyata memang benar. Jadi ya kita harus memahami bahwa namanya perjuangan itu pasti selalu ada tantangan dan ee dari tanda tangan beliau itu saya akhirnya bisa ya menyimpulkan dan sekaligus setelah teman di Jogja itu ketemu dengan beliau dan ee keluarganya. Bahkan saya juga pesan ee kepada teman saya itu untuk merekam meskipun hanya audio ya atau suara. Hanya saja teman saya waktu HP-nya itu dimasukkan di saku qadarullahnya tidak terpencet. Mas Arif Allah. I tetapi ya tetap ya itulah. Jadi, jadi ee kita akhirnya bisa menyimpulkan bahwa satu apa yang diucapkan di dalam surat pernyataan itu sebetulnya menyiratkan pesan bahwa beliau ya tentu memang ya mengalami ketidaknyamananlah bahasa saya begitu mengalami ketidaknyamanan itu sehingga ee beliau harus mencabut apa yang sudah beliau ceritakan kepada ee kita semuanya lewat kanal yang Bang Rismon dan teman-teman sajikan. Tetapi ada satu yang menarik Mas Arif ketika beliau di Wawanidia itu kan beliau sempat mengatakan kalau misalkan itu di forum internal tidak di apa live kan itu kan beliau tidak mempermasalahkan gitu kan. Nah, artinya begini. Lagi-lagi yang harus kita garis bawahi ya kan apa yang beliau sampaikan itu sama. Jadi perbedaannya kan live dan tidak ya terpak. Jadi ee kira-kira saya membayangkan kalaupun kemudian saat itu saat pertemuan di rumah beliau itu tidak disiarkan secara langsung, saya yakin apa yang mau beliau sampaikan itu juga sama, Mas. Gitu. Nah, ini jadi kan beliau sendiri di rekaman saat diwawancarai oleh apa ee media TV ya itu kan ee yang saya setahu saya ini tidak di kan iya kan. Jadi ya makanya yang kemudian tetap harus kita hormati beliau itu bahwa apa yang beliau sampaikan itu insyaallah berdasarkan ee ya yang beliau ketahui. Jadi kami ya tentu tetap akan memegang apa yang beliau sampaikan dan justru sekali lagi ketika beliau mencabut ya pernyataan yang disampaikan saat ee acara live bersama Bang Rismon dan teman-teman itu semakin meyakinkan publik bahwa oh ternyata faktanya memang seperti itu. Nah, kalau misalkan tidak benar kan tentu publik enggak akan bereaksi sedemikian hebat ya, sehingga sampai beliau harus me apa membuat surat pernyataan itu, Mas. Arif. Iya. Iya. I iya poinnya saya dapat, Mas, ya. Dan ini saya pikir ee penting untuk disampaikan ke teman-teman. Ada banyak hal tadi yang disampaikan Mas Bangun. Di antaranya bahwa sebenarnya pernyataan yang disampaikan oleh Prof. Sofyan Effendi itu bukan sesuatu yang baru yang baru dikeluarkan ketika diwawancaranya diwawancara Bang Rismon. Sebelum-sebelumnya juga sudah apalagi kalau tidak ada media kan gitu ya. hanya memang tidak secara utuh ya kan ee kadang pas kami ketemu atau teman-teman ketemu di acara diskusi atau seminar gitu beliau ketika ditanya atau beliau bercerita saat beliau menjadi rektor itu kan ya berbagi pengalaman, berbagi cerita itu kan sesuatu yang wajar. Iya. Iya. I teman-teman kan enggak merekam, Teman-teman enggak mencatat, enggak mendokumentasi Pismon. Makanya, makanya di sinilah Mas, akhirnya kita bisa ee mengetahui bahwa saat ini itu perang Barat Yuda kita itu perang teknologi informasi, perang berita, perang informasi. Betul. Betul. Nah, itulah yang kemudian dimainkan oleh para bazer itu. H jadi tekanan kepada ee kami, kepada kita semuanya yang memang memperjuangkan supaya NKRI ini tetap menjadi harga mati. itu sama bazer-bencar dengan berita-berita yang ya berdasarkan narasi itu tadi tidak sebagaimana seorang akademisi ini kan memalukan gitu loh. Engh. Iya. Iya. Iya. Itu Mas. Jadi ee luar biasa itu. Iya. Oke. Iya. Ini mudah-mudahan menjadi ee sesuatu yang berharga ya. Karena tadi disampaikan Mas Bangun ya memang kita ini dalam kondisi perang informasi yang benar. Nah, itu dia informasi yang benar. Karena banyak juga beredar informasi-informasi ee Mas Bangun ya dan itu kita akui hari ini memang membeludak lah. Dan kadang-kadang orang itu enggak bisa membedakan mana yang benar, mana yang tidak. Nah, ini memang ee perlu perlu penajaman intelektual, perlu literasi. Nah, itu sebenarnya justru tantangan buat ee masyarakat kita yang hari ini ya. Karena kalau tidak begitu Mas Bangun, masyaallah sekarang ini ya banyak banget fitnah Mas Bangun yang dari kanan kiri depan belakang itu kalau kita ngomong ah wah langsung loh serangan dari mana-mana. Nah. Nah. Iya. Makanya makanya seperti tulisan saya tadi pagi itu, Mas. Itu hanya karena satu tanda baca saja. Misalkan nih judulnya begini, Jokowi sudah menghina Sultan. H itu berbeda. Ketika ee saya membacanya begini dengan tanda tanya Jokowi sudah menghina Sultan. Nah, itu kan beda. Heeh. Jadi, hanya satu perbedaan tanda baca saja itu akan mempengaruhi makna. dan pesan yang terkandung di dalamnya ya kan seperti dulu waktu kita SD ya kan. Heeh. Kalimat ya Bu carikan teman-teman. Nah itu kan membacanya keliru. Cari itu kan sudah beda. Iya iya iya iya saja. Iya iya Mas Bangun. Eh menarik ya memang ya Mas Bangun ini kembali lagi jadinya gara-gara tadi Mas Bangun sebutkan e Jokowi menghina Sultan. Apakah apakah ee ada kemarin kan kita bicara soal ee akan ada rencana kesultanan. Yang kedua akan ada petisi Gajah Mada yang kemarin e sempat kita obrolin ya Mas Bangun ya di di wawancara kita e sebelumnya. Nah, kira-kira apakah sudah ada upaya ee misalnya pemberitahuan atau seperti apa ee akan diagendakan kapan demikian Mas Bangun ke sana gitu kira-kira sudah ada belum juga ada yang informasi terakhir yang saya dapatkan teman-teman dan teman-teman itu insyaallah di pekan depan hanya harinya kapan ee kemudian jam berapa itu yang memastikan karena mohon maaf ee beliau kan memang karena ee Kanjeng Ratu Hemas yang notab juga menjadi salah satu anggot MPR RI ya DPD ya itu kan ee berkediaman kan di Jakarta sehingga Sri Sultan sendiri kan juga bolak-balikarta kan begitu sehingga kami juga tentu harus mengikuti ee jadwal beliau yang ada di Jogja itut itu untuk pastinya kapan ya nanti kami coba apa konfirmasi karena tentu ini tidak lepas dari koordinasi karena ya kita tidak sendirian kan Mas begitu nggih yang jelas memang ya itu menjadi salah satu agenda kami yang sudah sudah terjadwal ya terencanakan sejak sebelum tanggal 14 kemarin jauh sebelum sebelum agenda pertemuan ke Prof. yang di Iya. Jadi sudah ya kan gini, Mas, sebagai orang pergerak kita harus map-nya gitu loh. Tidak tidak grubyak-gubyuk, tidak asal-asalan kan gitu. tentu kita tahu misalkan dari Jogja mau ke Jakarta itu kan maul mana kan kita tahunya gitu itu jadi agenda sowan itu sudah kami jadwalkan, kami agendakan hanya pastinya kapan ya nanti ee menunggu kepastian menunggu kejujuran dari teman-teman. Kalau soal petisi Gajah Mada Mas Bangun apakah sudah ada ini apa namanya disusun atau seperti apa? Oh. Nah, kalau tentang petisi Gajah Mada itu, Mas Arif dan teman-teman itu sebetulnya sudah kami siapkan sejak sebelum aksi di tanggal 8 kemarin. Iya. Dan sebetulnya sebetulnya kemarin juga sempat mau kami bacakan di aksi tanggal 8, cuma akhirnya saya tunda karena biar tidak mengganggu ee pesan yang kami sampaikan di tanggal 8. Betul. Tapi sepertinya nanti ee gantian Mas di Jakarta biar gitu dong. Iya. Iya. Jadi ee dari Jogja membawa pesan istimewa berupa petisi Gajah Mada. Nah, itu isinya apa nanti saja, Mas. Iya. Iya, iya. Saya juga tidak akan menanyakan isinya. Tenang aja. Iya. Karena bisa jadi nanti meskipun sudah saya sudah saya siapkan itu nggih, sudah saya siapkan ee isi dari petisi itu. Ee tapi kan siapa tahu nanti ketika sudah sowan ke Kanjeng Sultan itu ada perubahan kan nanti ya tentu bisa jadi gitu. Iya iya iya iya iya. kami tidak mau gegabah, Mas, untuk menyampaikan petisi Gajah Mada itu karena ya tentu ini sesuatu yang menurut kami ya luar biasa. Karena ee yang kami tuju tidak hanya sekedar level gubernur atau kemudian menteri ya, tapi memang ini nanti untuk ke presiden. Nah, gitu Mas ngih. Iya, Mas Bangun. Ee ini ini ee beralih ke tema lain ya, Mas Bangun ya. Enggak apa-apa ya. Nggih. Nggih. Monggo. Walaupun masih berkaitan ya ee ketika kemarin Mas Bangun dan kawan-kawan itu ke UGM bersama Bang Rismon juga menyerahkan ke UGM terus kemudian ke Fakultas Kehutanan. tadi sempat ee diceritakan ada dosen Fakultas Kehutanan juga yang pernah ee apa KKN bareng dengan Mas Bangun dan menanyakan tentang teknologi kayu ya kalau enggak salah tadi ya Mas Bangun coba mungkin Mas Bangun yang menceritakan lebih jelasnya. Oh iya Mas Arif dan teman-teman. Jadi waktu kami kemarin mau masuk di komplek Fakultas Kehutanan UGM itu kan begitu masuk pintu gerbang kan sudah langsung disambut oleh dua orang security ya. Lalu ada pertanyaan apakah sudah mengajukan surat permohonan untuk bertemu gitu kan dan sebagainya gitu kan ya. Kami kan enggak mau COD-an jadi enggak ada surat. Wong mau ngantar surat mosok gak janjian kan gitu. Soal nanti ketemu dengan dekan ya alhamdulillah. Kalaupun apa tidak yo alhamdulillah yang penting surat sudah tersampaikan. Nah, akhirnya karena waktu itu juga pas berbarengan dengan menjelang azan zuhur, kami break salat zuhur di Masjid Al-Ihsan, komplek Fakultas Kehutanan. Nah, setelah salat zuhur baru kami dipersilakan. Dipersilakan dan itu hanya satu orang dan itu saya, Mas. Oh, yang lain enggak ada yang ini yang nemenin hanya boleh masuk dan itu tidak boleh direkam. Boleh saat penyerahan boleh, tapi enggak boleh direkam. gitu. Nah, qadarullah pada saat saya mau menyerahkan itu ada salah satu teman yang dulu satu lokasi KKN dari Fakultas Kehutanan yang saat ini ada di sana menjadi dosen. Nah, itu ketemu ya karena kami enggak janjian ya mumpung ketemu ya jadi ya sudah langsung foto bareng ya. Sudah selesai dia langsung enggak enggak kami enggak bicara apa apapun. Jadi ya saya hello terus salaman wong dia waktu ketemu juga pas sambil terima telepon ya sudah langsung ini apa ee ya sudah langsung pisah begitu saja. H gitu. Nah, ituu ee apa menariknya tadi pagi menjelang siang ya dia WA saya terlebih dahulu ya terkait dengan apa ee kemarin kami menyerahkan surat itu ya tadi sempat saya bilang kepada dia. Oh, jadi beliau dulu yang WA Mas Bangun ya? Iya. Jadi beliau dulu tadi yang WA yang intinya mengingatkan saya untuk kembali ke ibu yang melahirkan dan sudah me apa tadi kalimatnya nggih, Bro? Ee silakan kembali ke ibumu yang sudah melahirkan dan me apa tadi saya lupa. Membesarkanmu atau apa begitu. Saya juga kaget membaca itu. Gitu. Tapi Mas Bangun tahu nomor beliau itu. Itu beliau yang WA. Kami kan juga satu grup WA, grup KKN, Mas. Oh. Oh iya iya. Oh iya. Terus nah apa ee ini apa nama? Eh kami Oh, ralat Mas. Kalat kalau gini ralatnya begini. Saya ketemu dia terakhir sebelum kemarin itu waktu di Munas Kagama di Jakarta. Hm. ya waktu Munask agama di Jakarta itu terus ee saya kan ada dua nomor HP terus saya simpan di nomor HP saya yang apa yang saat ini bisa dihubungi dengan Mas Arif ini. Nah, terus tadi dia WA di nomor itu. Nah, terus singkat cerita tadi saya menyampaikan ke dia bahwa menurutku UGM enggak profesional, Bro. Saya bilang gitu lah enggak profesionalnya di mana lah. Itu kemarin aku mengirimkan surat ya, kop suratnya itu kan rela agama bergerak, relawan alumni Universitas Gadjah Mada Bergerak, tapi kenapa surat balasannya kok hanya ditulis rela agama gitu loh. Itu kan enggak satu enggak profesional bagi sayaah ya saya kan dulu cukup tinggi nilainya di mapel pelajaran bahasa Indonesia Mas Arif. Jadi apa saya itu ketika menulis juga hati-hatilah di antaranya termasuk termasuk hal-hal sepele seperti itu bagi saya itu sangat penting. Makanya tadi saya sampaikan ini UGM enggak profesional ini. Saya minta dikirim ulang. Saya bilang gitu. Dan saya tadi memang ee tadi saya memang minta kepada pihak humas UGM yang kemarin memang ee berkonfirmasi ya, bahwa UGM mau memberikan surat jawaban secara fisik dan juga sof-nya itu. Nah, tadi juga saya bilang, “Mohon maaf saya minta untuk dikirim ulang sebagaimana ee surat yang kami kirimkan.” Kan di situ tertulis rela. Iya, harus profesional gitu loh. Makanya ya, makanya kan ini juga salah satu petunjuk ya, indikasi wah menulis surat kayak gini aja kalau mungkin kata dosen pembimbing enggak pecus apalagi nulis iya kan menulis ijazah yang lebih penting gitu kan. Nah itu. Nah jadi yang yang tadi sempat saya tanyakan gini Mas. Nah, ini memang saya tanyakan, Bro. Lah di Fakultas Kehutanan II asline ono ora jurusan teknologi kayu kan? Iya gitu. Nah, pertama dia enggak jawab dengan pertanyaan saya ada atau tidak gitu ya. Malah jawab apa? Nanti kalau Mas A butuh nanti tak kirimi screenshot-nya. Iya nanti nanti aku bacakan di sini tapi nanti aku akan tayangkan di video ya. Jadi pertanyaan Mas Bang tidak jurusan itu maksudnya jurusan teknologi kayu ya dia jawabannya jenengan kan orang sosial toh jadi bahasa pergaulan mahasiswa saat itu menyebut jurusan teknologi kehutanan atau teknologi hasil hutan selalu menyebut teknologi kayu. Alumni periode itu yang saya temui selalu menyebutnya begitu. Periodeku selalu menyebutnya thh. Semoga ini bisa menjawab pertanyaan para pencari kebenaran. Ya, intinya dia tidak menjawab ada atau tidak, iya atau tidak, tapi muter dulu itu ya. Meskipun meskipun saya tetap menghormati kapasitasnya sebagai dosen di sana, Mas Arif. Tetapi kan begini, di dalam fakultas itu ee janganlah di dalam fakultas lah. Seperti di UGM itu kan ada jurusan ada fakultas, mohon maaf, ada fakultas pertanian, ada fakultas teknologi pertanian. Hm. Beda. Iya. Jadi lokasinya pun juga berbeda. Kalau FTP itu seingat saya sebelum bangunan ee berubah seperti sekarang ya, itu kan lokasinya ada di utara kampus hospol. Hm. Tapi kalau fakultas pertanian beda lagi. Nah, terus gini. Kalau di jurusan ilmu sosial, Ilmu Politik dulu kan ada jurusan sosiologi, ada sosiatri. Nah, itu kalau kemudian salah sebut nanti repot ya kan. Nah, jadi sama seperti di Magelang itu, Mas, ada Kecamatan Salam, ada Kecamatan Salaman. Kalau Oh, iya, kalau kecamatan Kecamatan Salam itu persis di sebelah barat jembatan tempel, jembatan yang memisahkan Provinsi Jawa Tengah dan provinsi DIY itu Kecamatan Salam. Tapi kalau Kecamatan Salaman itu arahnya di ee barat laut ya, arahnya ke arah Purworejo dari Borobudur. Jadi Borobudur ya Salaman terus kemudian ke arah Magelang Purworejo. Kalau dari Magelang itu nanti mertoyudan, tempuran, Salaman itu sudah beda. Makanya kalau kemudian teman-teman ee seangkatan di tahun itu menyebutnya THH ya, teknologi hasil hutan. Kemudian ee ketika Pak Jokowi menyebutkan atau menuliskan teknologi kayu, teknologi kayu itu kan sesuatu yang menurut saya itu kan berbeda. Iya. Jauhlah. Iya. Jauh. Iya. Walaupun ini kan mestinya yo apa ee kalau teknologi kayu kan berarti TK ya kan. Iya. Kalau kan loh sekarang mohon maaf nih saya kebetulan ya qadarullah dulu waktu skripsi saya kan nulis tentang kebijakan hutan kemasyarakatan di Gunung Kidul Mas. ya buku-buku referensi saya ya, literatur saya saat itu juga tulisan-tulisan dari apa ee para guru dosen di Fakultas Kehutanan. Nah, saya jadi teringat teknologi hasil hutan berarti kan yang dihasilkan hutan kan tidak hanya kayu. Betul. L ini ini lagi-lagi nanti mohon bisa dialat ya. teknologi hasil hutan kan bisa jadi tidak hanya kan jadi bisa jadi apa ee batang apa kulitnya atau mungkin daunnya ini logika saya memahaminya seperti itu. Kalau ee teknologi kayu berarti kan memang bicara tentang perkayuan jadi spesifik pada kayu secara fisik ya kan. Iya. I kemudian ini menjadi apa? Pertanyaan baru lagi untuk kita semuanya lah. Kalau misalkan dulu ada namanya teknologi kayu terus sekarang diubah menjadi teknologi hasil hutan di fakultas Kehutanan kan ada dokumentasinya Mas, ada arsif portofolio yang kemudian tetap disimpan. Kan ada perubahan seperti misalkan di jurusan ilmu pemerintahan aja sekarang menjadi departemen politik dan pemerintahan kalau tidak salah. Depolp kalau kalau apa ee teman-teman sekarang menyebut itu depolpe departemen politik dan pemerintahan mungkin ya. Saya ee karena sudah lama lulus dan apa tidak begitu apa ee sering berinteraksi dengan DPOLP ya. Tapi dulu apa ee jurusannya ilmu pemerintahan. Makanya perpindahan nama ya dari ilmu pemerintahan ke depolp ya atau misalkan dulu dari teknologi hasil hutan ke teknologi kayu atau sebaliknya itu kan mesti ada dokumentasinya Mas. lah itu yang memang kemarin saya minta untuk disajikan baik secara lesan maupun tertulis kepada kami. Makanya kami tembusi pihak Dekan Fakultas Kehutanan itu supaya transparan dan layaknya sebagai seorang akademisi kan berdasarkan data dan fakta gitu loh, Mas. Jadi lagi-lagi kalaupun kemudian mau menyampaikan loh ini loh Bro tahun sekian ini sudah berganti nama jurusan ini menjadi THH ya, teknologi hasil hutan yang dulunya mungkin teknologi kayu mungkin loh ya. Ya, ini makanya sebetulnya kan enak kalau kemudian pihak fakultas dalam hal ini Dekan Fakultas Kehutanan ini terbuka kepada kita semuanya ya mengadakan konvers gitu ya ee menyampaikan bahwa dulu waktu Pak Jokowi lulus itu jurusan bernama Teknologi kayu. Tapi begitu perkembangan zaman di tahun sekian berubah menjadi teknologi hasil hutan. Nah, misalkan begitu kan bisa saja mudah sebetulnya. Heeh. Nah, ini ini analisa sederhana dari saya seperti itu, Mas. Iya, iya iya iya lagi-lagi tidak ada yang namanya kebetulan, Mas. Tidak ada yang namanya kebetulan dan ya bisa jadi ini petunjuk dari Ilahi Rabbi. Iya. Allah Subhanahu wa taala ya. Dan memang ee makin ke sini ini kita temukan ee makin banyak fakta Mas Bangun ya. fakta-fakta baru dan ya meskipun namanya sepandai-pandainya orang menutupin bangkai ya nanti akan tercium jugalah pada akhirnya danh ya mudah-mudahan para pejuang kebenaran ya itu selalu kemudian nanti pada akhirnya akan dibiarkan seperti misalnya contoh dulu Mas belum ada orang yang berani mengirimkan apa ijazah atau menunjukkan ijazah yang asli kepada publik di tahun yang sama dengan Pak Jokowi, kecuali yang ee dianggap sebagai alumninya pada waktu itu ya. Tapi sekarang ini banyak ternyata yang mengirimkan ijazah asli di tahun 1985 kepada Pak Roy Suryo, Dr. Tifa terakhir update kemarin sudah delan ijazah. Oh, alhamdulillah dari UGM yang asli loh, Mas. itu maksudnya bukan hanya ijazah tapi apa namanya ee transkrip nilai sebagaimana yang asli di tahun yang sama itu dikirimkan kepada Pak Rismon, drtera, dan kepada tim di Jakarta. Kemarin saya juga mendapatkan beberapa foto dokumen ijazah yang asli, Mas. Itu beberapa tahun ada itu beberapa saya enggak hafal, enggak saya baca detail itu. Ee ya memang memang apa khas gitu ya. Jadi memang punya punya ciri khas tersendiri yaitu Iya. Iya iya. ijazah as foto ya foto ijazah asli itu gini saya jadi teringat begini Mas ee tadi itu sebelum sebelum Mas Arif menghubungi saya Heeh saya sempat terbersit begini ini kan kasus kira-kira kalau diibaratkan dalam film itu kan ada seorang anak muda laki perempuan berboncengan ya kan nah mereka belum suami istri ya kan kemudian banyak orang mengatakan loh itu belum suami istri kok sudah boncengan ke mana-mana sudah berdua. Wah, itu ini apa? Bukan pasangan yang sah, gitu kan. Nah, dia mengelak loh kami itu pasangan yang sah. Kami sudah menikah. Loh, mana buktinya? Begitu lah buktinya nanti kami tunjukkan di kua gitu kan. Ya sudah, kalian sudah bilang sah, ayo tunjukkan pada kami. Kan gitu. Nah, mereka ngeyel. Loh, nanti kami kalau di KUA kami akan tunjukkan lah. Giliran kami tanya ke KUA, di KUA ditunjukkan fotokopi. Ini kan lucu. Akhirnya si si anak muda ini yang yang kami tuduh bukan suami istri ini menggugat kami sudah melakukan pencemaran nama baik. Ini kan iya mestinya kan menunjukkan ini loh Bapak Ibu ya surat nikah kami ini asli ditunjukkan pada kita semuanya kan selesai. Oh ya. kami mohon gitu dan sebagainya kan gitu ya. Tapi ini si anak muda ini yang suami istri ini ngeyel nanti pokoknya kami mau tunjukkan kalau di kua gitu kan. Wah ini repot ini Mas Wi repot Mas repot Mas. Banyak sekarang, sekarang analogi-analogi kayak itu sudah banyak banget, Mas. Netizen. Apalagi sekarang kalau razia polisi enggak perlu pakai SIM asli, enggak perlu pakai STN, enggak asli, cukup fotokopi. Kalau mau ngegugat, nanti gugatnya di pengadilan. Ya, orang akan begitu sekarang ini. Dan itu itu menjadi menjadi dalil hukum baru sekarang ini. Nah, kalau kayak begitu ceritanya kan rusak nanti ya. Kasihan. polisi-polisi yang masih baik, polisi-polisi yang memang menjaga integritas semua kan jadi bahan goyonan kan juga kasihan, Mas. Iya, gitu. Eah. Jadi akhirnya kan hanya karena nilai setitik jadi rusak rusak semuanya semuanya kan repot. Ah, jangan ini. Iya iya iya iya iya. Ya, Mas Bangun terima kasih banyak Mas Bangun ee waktunya. Mudah-mudahan bangun sehat selalu dan ee agendanya mudah-mudahan lancar dan amin ee kita tetap menunggu update-update ter baru dari Rela Gama Bergerak ee untuk agenda-agenda yang lain dan kita menunggu juga kalau ada acara di Jakarta mudah-mudahan kita bisa ketemu ya ketemu di Jakarta. Terima kasih Mas Bun atas waktunya. Terima kasih teman-teman yang sudah menonton. Masih teman enggak Mas? Iya iya. Oh iya lupa close statement ya. Teman-teman Mas Arif dan semuanya tadi pagi saya menuliskan satu buah tulisan dari hati dengan judul ee Jokowi sudah menghina Sultan. Nah itu tolong yang penasaran silakan baca dari hati ya. Gunakan hati. Kemudian juga baca pelan-pelan dengan akal sehat, pikiran yang terbuka. Mari karena saya menuliskannya dari hati apa adanya nggih. Jadi silakan baca itu. Semoga menjadi inspirasi kita bersama untuk satu kata kejujuran. Oke, saya menulisnya dengan jujur. Jadi monggo membacanya pun juga saya minta dengan jujur ya. Kalau sin ya dibaca sin jangan syin itu beda lagi nanti hukumnya beda lagi ya. Oke, terima kasih Mas Bangun. Terima kasih teman-teman. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Terima kasih bagi yang sudah bersedia bergabung. Salam hormat :
https://www.youtube.com/channel/UCrCDJhiHWWOaVf0eF7yABXQ/join
Untuk teman-teman yang ingin memberikan support
https://saweria.co/LangkahUpdate Terima kasih.

Langkah Update, Kami Volenteer Media Mendukung Keadilan dan Kebenaran. Keabsahan Informasi Ditanggung Narasumber. Kami Hanya Meneruskan Informasi Untuk kami sampaikan kepada portal berita https://satuindonesia.co

#langkahupdate #ijazahjokowi #jokowi

Tinggalkan jejak dengan komentar terbaik. DUKUNG kami dengan LIKE, SUBSCRIBE. Agar lebih semangat membuat konten. Mari bersama menyebarkan informasi bermanfaat untuk kerukunan bersama dan kemajuan Indonesia.