Debat Panas: Prof Firman Hasan vs Firdaus Ilyas! Maaf Eks Rektor UGM , TULUS ATAU DIPAKSA?

akan sebelumnya mantan rektor UGM Proforan Effendi dengan tegas menyatakan itu. Nah, setelah dicabut pernyataan beliau ini menurut Prof. Ada apa sebenarnya? Ee terima kasih. Izinkan saya sebelum menjawab itu sedikit ke belakang ya. Melihat perkembangan yang ada hari ini sebagai sarjana hukum saya sedih karena hukum kita ini seperti main bola aja. Kadang-kadang ditendang, kadang-kadang diwiring, kadang-kadang macam-macam kan. Jadi gak nak apa namanya sebagai orang hukum saya sedih saya melihat apa yang terjadi dengan negeri ini ya. Sehingga sesuatu yang mahal dalam filsafat hukum kita mengenal ada salah satu esensi hukum itu adalah kepastian. Itu yang hari ini agak mahal menurut saya atau paling tidak belum tercapai. Satu. Satu. Kedua, ee dulu ada anggapan bahwa tanda kutip permainan ijazah palsu ini dalam rangka meletakkan Pak Jokowi tetap di hotspot ya, senantiasa ada di apa di sorotan media sehingga dengan ide itu berkembang di tarik ulur, tarik sehingga demikian rupa beliau tetap aja menjadi seseorang yang menjadi ee media daring pada hari itu. Nah, kalau itu asumsinya saya beberapa jam yang lampau saya mendengar dalam sebuah ee di podcast juga bahwa ee di apa namanya? Emprit drone emprit. Drone drone emprit. Ee mereka mengatakan mereka mengatakan kalau awal-awal perkara ini berjalan, kasus ini berjalan mungkin belum perkara ya, perkara kasus ini berjalan, ee kesannya Pak Jokowi diuntungkan awalnya. Tapi sekarang tidak lagi katanya. Sekarang tidak lagi. Nah, jadi kalau memang ada di back senario mengatakan bahwa ini adalah dalam rangka tetap meletakkan beliau menjadi salah seorang salah satu bintang di di Indonesia kayaknya sekarang sudah agak sedikit ee meleset dari perkiraan. Jadi itu yang saya tidak tahu mana yang benar ya. Negeri kita ini kan susah sekali mencari yang benar. itu walaupun dalam filsafat hukum kita mengatakan bahwa kita mencoba mencari yang kebenaran itu yang bersifat hakiki. Dalam bahasa Islam kita sebut dengan apa namanya? Haakl yakin ya. Dalam bahasa filsafat kita sebut dengan ee kebenaran yang hakiki. Walaupun di situ ada sedikit unsur spekulatif sesuatu yang melompat dari logika, tapi ia misalnya bisa dikonstruksi dengan pengalaman-pengalaman empirik yang ada. Itu agak sedikit berbau akademik. Nah, ee berangkat dari pertanyaan ee Rian tadi, saya ingin mengatakan begini begini bahwa ee saya kebetulan mengikuti apa namanya wawancara Pak Sufen Effendi itu dengan dengan siapa? dengan dengan Trismon dan dua orang alumni Rela Gama Gajah Mada yang konon kabarnya ee angkatan dia berdekatan dengan angkatan 80-an yang hari ini diklaim sebagai angkatannya Pak Jokowi. Nah, ee Pak Suffendi bercerita macam-macam ya. Sampai pada kesimpulan bahwa Pak Jokowi itu do tidak pernah menjadi alumni Universitas Kaj Mada dan sebagainya dan sebagainya. Dan saya tidak mengikuti komentar dua alumni mereka yang ada, tapi ada yang yang nyeletuk seperti mengkonfirmasikan itu, seperti mengkonfirmasikan itu. Nah, kemudian ee saya pas saya menduga nih setelah ini heboh gini karena yang ngomong tuh seorang ee Prof. Dr. Sufan Effendi. Beliau bercerita dengan sedikit introduksi dia bahwa beliau seorang akademisi yang jempolan sebenarnya. Beliau tidak punya gelar master, tapi beliau jadi seorang PhD karena dalam proses di bachelor dia diskot di Pittsburg. Semoga saya maaf di mana? Di Amerika dia waktu dia kuliah ee dosennya bilang, “Eh, Anda ini pantas pintar.” Oleh karena itu dalam bahasa akademik di bilang di-invite dia masuk ke program doktor. Jadi dia bypass beberapa tanpa S2 ya? Tanpa S2. Tanpa S2. Jadi ee beliau mengatakan setelah itu baru Ikhlasul Amal almarhum Amin Rais dan sebagains-sebaga itu mereka mengikuti apa langkah-langkah beliau sebagai political sacientist. Ee tapi tetap menapak dari ee S1 dari dalam negeri di Kajam Mada, dua di luar negeri master, kemudian yang ketiga baru dia dapat itu. Sementara Pak Sufen Effendi tidak. Artinya sama Pak Amin Rais lebih senior Pak Sofan Effendi lagi. Lebih senior Pak Sendi. Nah. Nah. demikian kan nampak itu bahasa bel itu cerdas. Nah, walaupun saya melihat bahwa beliau kan sudah sepuh sebenarnya sudah sepuh dengan ee tapi dengan memori-memori yang ada sedemikian rupa. Kemudian ee sekali lagi saya tidak bisa pula menjawab kenapa beliau cabut statement itu di belakang hari. Nah, tentu itu bisa dalam bahasa saya bisa muncul interpretasi-interpretasi liar dari orang karena tidak beliau pasti tidak akan mengatakan apa-apa. Beliau pasti tidak akan mengatakan apa-apa. Hanya sekedar menyesal dan mencabut. Itu kan lisan saja, tertulis saja, tidak verbal ya. Dan kalau bahasa saya didu itu surat yang sudah disiapkan oleh orang. Kemudian Pakendi tinggal teken itu bahasa yang dikatakan oleh Sedidu. Benar dan tidak yang paling tahu itu persis adalah Pak Sufan Effendi. Nah, bagi saya orang sekali Sofendi mencabut statementnya itu tentu bukan tanpa apa-apa. Tentu bukan tanpa apa-apa. Saya tidak berani menjawab apa-apa itu apa, gitu ya. Tapi pasti ada sesuatu di belakang layar. Pasti ada sesuatu di belakang layar. sehingga bisa karena beliau tapi saya tidak yakin itu dari nurani beliau saya termasuk yang tidak yakin itu dari beliau tapi mungkin ada tekanan sedemikian rupa. Ada tekanan seman rupa. Saya ngutip pendapat saya diu mengatakan bahwa dia meng menelepon kawan-kawannya yang ada di Jogja tolong dikawal Prof. Suan Effendi karena beliau macam-macam gitu kata saya Didu dan tapi akhirnya ternyata demikian rupa perkembangannya. Bagi saya, bagi saya ee semoga tidak ya ada intervensi dari luar. Semoga tidak. Saya membayangkan kalau statement Pak Sufend Effendi itu keliru, biarlah nanti diuji di pengadilan. Biarlah nanti diuji pengadilan. Kalau ternyata apa yang dia katakan itu bohong by design, dia akan kena nanti ee apa namanya? Keterangan palsu, sumpah palsu. Kalau tidak tidak. Tapi ini selesai di tingkat yang maaf kesan saya prematur ya. Saya katakan di forum ini dulu bahwa memang barmim sudah mengatakan apa namanya ini tidak bisa diterima dan sebagain sebagainya tapi mari kita sadari bahwa proses peradilan di Indonesia tidak selesai di Barisk Krim. Pendapat Barisk Krim, pendapat aparatur negara, tetapi ia bukan tidak mungkin apa namanya dilawan masuk dengan para peradilan. Jadi, oleh karena itu kalau ada yang mengatakan kalau kita tidak percaya polisi siapa lagi? Ini bukan tidak percaya. Ada hak warga negara untuk menyatakan keberatan atas kesimpulan-kesimpulan yang dibuat oleh polisi yang berang SP3 misalnya. Ya, itu bisa menjadi objek pada Praden. Artinya janganlah katakan orang yang tidak setuju dengan pendapat itu sebagai orang tidak percaya dengan institusi pengadilan. Tidak. Orang tidak percaya dengan institusi kepercayaan? Tidak. Saya mengajar etika profesi dulu ya sebelum sebelum jadi dosen kontraktor nih dulu tidak ada satu pun di dalam kode etik profesi hukum manaun bahwa mereka semua adalah orang-orang calon pengisi surga. Gak ada tu kalimat seperti itu gak ada itu. Mereka adalah manusia biasa. Manusia biasa dalam dalam pendapat saya dia mempunyai tempat khilaf institusik. Mungkin ada yang mengatakan institusi juga institusi gak mungkin silap lah. Institusi diisi oleh manusia juga ya. Apalagi kalau institusi tidak terlampau demokratis. Kalau kepolisian itu kan birok apa namanya ee dari atas ke bawah itu ya kalau ya apa namanya dengan komando kan kalau hal sama dengan polisi, maaf dengan tentara. Tapi kalau di kalau di apa di perguruan tinggi pun kadang-kadang begitu juga gitu kan. Ada juga orang bikin untuk berbeda pendapat dengan dekan misalnya ada juga orang yang berbeda dengan rektor. Nah, tapi kalau orang seperti saya tu tidak lagi karena tidak ada apa-apa lagi karena tergantung pada kontraktor tadi aja itu barangkali. Jadi yang saya katakan adalah taala bahwa ee perkara ini semakin apa ya semakin tidak memberikan kepuasan kepada masyarakat ya, tidak memberikan edukasi kepada masyarakat. Maaf ya, bagi siapa yang pro, bagi siapa yang yang tidak pro ya. Karena akhirnya ada sesuatu statement orang yang mungkin katakan salah ya. Kemudian langsung saya termasuk orang yang tidak percaya sekali lagi bahwa Pak Sendi mencabut itu karena hati nuraninya secara nuraninya atau apapun namanya itu ya. Ada yang mengatakan dia di tekan kiri kanan agar tolong deh jaga marwah Gajah Mada. katanya dalam dalam apa dalam ee wawancara hari itu Pak SPN itu sudah menyebut sejumlah dedengkot UGM akan beliau kumpulkan untuk berbicara tentang ini. Tapi tentu ini tidak terjadi, tidak akan terjadi karena beliau pun sudah ee mundur dari pada posisi awalnya. Bagi saya, bagi saya beliau adalah seorang akademisi jempolan yang reputasinya sangat reputasi dihargai. Dihargai selama di awal-awal reformasi. Saya tidak tahu apakah saya dia yang keliru atau beliau beliau yang keliru atau saya yang keliru. Di awal-awal reformasi beliau itu adalah ketua komisi ASN. ASN bukan BAKN seperti yang beliau katakan dalam DAB. Jadi apa namanya aparat si pelenggaran dia. Beliau mengatakan beliau ingin merubah orientasi pegawai negeri PNS dalam bahasa kita dulu menjadi ASN sehingga dia dalam bahasa hukum kalau apa namanya kalau PNS itu seolah-olah berperilaku seperti pangreh gitu bahasa Belanda itu. Nah sudi bilang bisa menjalkan tapi seharusnya adalah kita ini adalah pamong yang ngomong katanya. melayani melayani. Nah, itu yang ingin diintrodusir atau dikembalikan oleh Pak Suendi sehingga beliau diangkat menjadi ketua komisi e apa nam administrasi e Komisi Aparatur Sipil Negara. Komisi Aparatur Sipil Negara. Jadi kayak begitu. Jadi dari melihat reputasi ini saya agak surprise beliau akhirnya memikir statement sedemikian rupa dengan usia beliau yang sudah sepuh di atas 80-an. Artinya kalau menurut Prof. Firman Hasan pada saat dia wawancara khusus di channel YouTube live streaming he itu sepertinya tidak ada yang keliru kira-kira dia sampaikan tidak ada tekanan ketika dia yang menyampaikan wawancara awalnya. Kalau Prof saya saya membayangkan begitu walaupun ada di sana sini yang lupa karena usia ya ada sini tapi beliau tidak Alzheimer. Tidak Alzheimer. Jadi orang lupa dengan cerita ya. Ini ilustrasi sedikit eh Pak Rian ya. Ronald Regan berbicara dengan mantan menteri luar negerinya J namanya. Dia berbicara lebih 1 seteng jam di rumahnya. Habis itu dia pergi, dia tanya istrinya, “Ni, siapa gentlemen yang saya bicara dengan saya tadi itu?” Padahal itu dalam menteri luar negeri bicara macam-macam. Dia enggak tahu bah. Saya itu adalah orang yang dia tunjuk mewakil mendampingi dia lebih kurang 7 8 tahun 7 tahun. karena awalnya bukan beliau jadi menteri luar negeri. Saya tidak membayangkan Pak Sependi seperti eh Ronaldan jumpa dengan Jokari itu. Dan artinya Profesor melihat penjelasan Profesor Soviet ini sistematis, runtut dan hampir mereka ketika ditanya tahu semua sehingga tidak mungkin kira-kira sesuatu yang mengada-ngada. Kalau dari pengamatan Prof. Dari sisi saya begitu, ada satu hal sekarang yang barangkali bisa dilacak. Beliau mengatakan begini, beliau-beliau depan saya ini termasuk Sudi kapan beliau wisuda itu ada bukunya, ada bukunya per fakultas itu pasti seperti yang Prof katakan sebelumnya pada saat toks waktu itu. Iya. Nah, nah yang ditekankan oleh Pak SP ini antar lain adalah dalam buku wisuda tahun sekian tahun di zaman Pak Jokowi itu di wisuda kata beliau tahun ’85 itu kata beliau namanya enggak ada dalam buku wisuda itu. Saya gak tahu nih semoga beliau tidak semoga beliau lupa gitu. Jadi artinya ini menunjukkan kepada kita semua untuk mencari kebenaran. Ayo cek kembali buku wisuda tahun sekian di Kajam Mada. Ada tidak nama Pak Joko Widodo? Saya kira itu salah satu indikasi sayalah. Kebetulan kalau zaman saya itu wisudahannya di fakultas per 2 bulan sekali. Tapi zaman beliau-beliau ada depan saya nih di universitas ada bukunya itu, ada fotonya, ada judul skripsinya, ada pembimbingnya, ada IPK-nya. Ada IPK-nya, ada jenis lulusnya. Lulus dulu di Fakultas Hukum itu ada lulus dengan ragu-ragu ya. itu zaman saya tuh zamanudin adalah gitu karena karena apa namanya dalam bahasa hukum adalah seorang yang berhak sebenarnya takan lulus tapi ada satu unsur yang dia tidak tidak apa tidak tidak terpenuhi maka hukum mengatakan kalau tim dosen penguji ragu dengan dia lulus atau tidak dia berhak untuk dapat gelar lulus sama dengan pengadilan kalau hakim ragu dengan putusan bersalah atau tidak terhadap terdakwah yang ada di depan mata dia, dia harus putuskan bahwa terdakwah tidak bersalah. Itu itu apa namanya? Ideologi hukum sesungguhnya. Nah, di zaman beliau-beliau yang depan saya ini itu sudah ada itu siapa pembimbingnya bahkan kadang-kadang nama orang tuanya. Nama orang tuanya dan lama studi kadang tersebut. Lama studi disbut. Baik. Sehingga poinnya kalau menurut Prof memang kata Prof. tadi ada apa-apanya sebenarnya nih setelah mencabut pernyataan itu saya saya menduga begituanya saya menduga itu walaupun ee kalau ada tanya buktikan aja Prof gak bisa saya tuh gak bisa saya tuh tapi orang kan mengatakan begini orang mengatakan begini gak mungkinlah pohon bergoyang kalau enggak ada angin gitu gak mungkinlah ada asap kalau enggak ada api ya mana asap nah orang bisa hartanya lebih lanjutkan tapi paling tidak ya itu kan cepat sekali gak sampai 24 jam Betul. Hari malam ini beliau ngomong ya besok sore sore enggak salah dia. Beliau ngomong sudah di apa di apa paginya paginya beliau bikin surat apa namanya surat pernyataan pernyataan mencabut dan minta maaf dan sebagainya. Saya tidak tahu persis yang beliau cabut itu semua kata-katanya kah atau apa dari bunyinya semua kata-katanya katanya dihapus semua penjelasannya di YouTube itu mohon dihapus atau dicek down. Tapi memang sudah hilang. Sudah hilang saya lihat sudah hilang. yang ada sekarang orang berbicara tentang apa nih kenapa nih Pak Pak Sufendi demikian rupa dan sebagain-sebagainya. Jadi itu menimbulkan tanda tanya dalam bahasa saya interpretasi-interpretasi macam-macam. Baik, bisa liar bisa juga tidak liar. Baik. Oke. Saya langsung minta tanggapan dari Bang Firdaus Ila. I. Bang Firdaus sepakat ada apa-apanya sebenarnya dari pernyataan yang dicabut oleh Prof. Sofyan Effendi? Baik, Pak Nasrian. Eh apa yang dikatakan Prof. Firman Nazan tadi. Saya mengutip kata-kata di awal permasalahan ijazah palsu ini ee Pak Jokowi ee ee sangat ee menguntungkan setelah berjalan menguntungkan i kan ee merugikan begitu. Saya mulai dari situ aja dulu. bagi saya itu terbalik justru menguntungkan di akhir-akhir ini di awal merugikan ya di awal merugikan ya kan. Nah jadi kenapa saya bilang seperti itu? Karena kalau tidak Pak Jokowi melaporkan orang-orang yang tadi yang bikin gaduh itu i kan tidak akan seperti ini jadinya termasuk kembali kepada kita ke masalah Prof. SP Effendi ya kan sudah mulai ini 12 orang ini sudah persiapan untuk dibolak-balikkanlah ke Polda Metro Jaya kan untuk diminta keterangan dan insyaallah nanti mereka nanti di pengadilan mereka juga bisa termasuk orang yang dipakai baju oren gitu. Harapan saya seperti itu ya supaya apa ya karena dia sudah bikin gaduh dan mengatakan ijazah sudah dikatakan palsu padahal keputusan pengadilan belum kan begitu kalau bicara hukum kita, saya memang bukan orang hukum ni Prof. ya tapi saya tahu persoalan-persoalan yang terjadi ini hanya versi mereka-mereka saja termasuk Pak Prof. Sofan ini dikondisikan mereka di channel YouTube itu Pak Nas harus tahu dan Pak Prof harus tahu. Beliau tidak menyangka ini akan dijadikan sesuatu yang begitu apa namanya di apaal diviralkan dan Pak Suendi tidak pernah mengatakan langsung ketemu dengan Pak Jokowi saat itu. Masa tahun 5 sebelum itu kan sudah 45 tahun yang lalu beliau cuma dapat cerita dari kawan-kawan di sama-sama profesi. Nah, Pak Jokowi ini mungkin gak tamat ya S3 ulangi S e D3 saja. Jadi cerita-cerita Pak Sufen Pend ini hanya dari teman-teman saja. Kalau tidak salah riwayat pendidikan Pak Prof ini pada saat era 80 sampai 85 beliau sudah dekan FISIP UGM gitu. Artinya ee tidak boleh jadi nih ini kira-kira perkiraan apakah dia ada koordinasi dengan Dekan Fisip ee Kehutanan pada saat itu deh makanya saya bilang Pak Pak Nasiat kejadian Prof. Ini kita lihat beliau kan sudah 80 tahun lebih nih. Betul. Mungkin karena kata Pak Firman dia tidak apa suatu penyel ya. Tetapi kita lihat dia di wawancara itu sama Rismon itu kan pendapat orang juga yang dia sampaikan. pendapat orang yang disampaikan dan itu mungkin pendapat itu sedang bergulir dalam tahun-tahun ini seperti yang kita lakukan ini. Gak mungkinlah di tahun-tahun 5 dia berbicara masalah ijazah Pak Jokowi karena IP-nya cuma ee dua terus kalau IP di bawah dua itu ada tiga. Kan cerita itu gak mungkin di 40 tahun yang lalu ini gak masuk akal ini. Jadi kalaupun dia tidak ada penyakit orang tua ini, tetapi saya rasa ini cerita-cerita lewat saja sebenarnya. Tapi di framing ya, dijadikan sesuatu yang luar biasa untuk mencari panggung baru ya untuk bisa mengkondisikan lagi Pak Joku ini ini mungkin bukti baru atau BB lalu. Maksudnya nih ee maksud Bang Firdaus panggung baru ini sengaja dicari oleh Rismon CS mencari orang-orang yang bisa ada drama-drama baru. Hadirkanlah Profesor Sofyan begitu ya. Betul Pak Sufyan. Makanya gak salah Pak Sufian mengatakan apa yang disampaikan oleh mantan rektor Ibu Eva Elmilia pada 11 Oktober tahun 2022 dia kembali ke situ. Dia kembali ke situ berarti dia kan juga mendengar, membaca dan tidak melakukan hal yang berkaitan dengan Jokowi. Jadi intinya ini hanya asap juga ini asapnya juga yang dimainkan semua orang-orang ini termasuk orang-orang hukum ini ya. Dia bikin hukum, dia merusak hukum. Orang hukum yang bikin gadus. Sebenarnya saya pikir saya masuk itu. Maaf ya, saya bukan orang hukum. Saya orang politik. Orang hukum semua orang politik. Maka orang hukum pula pura-pura merasakan, “Wah, ini negara ini rusak.” Padahal dia juga yang merusak. Maaf ini untuk orang hukum karena yang membantu hukum orang hukum ya. Yang merusak juga orang hukum. Jadi sama-samalah. Jadi kami sebagai orang politik melihat Prof. soft MD ini korban juga ini. Jadi kalaupun ada istilahnya ee pencabutan saya pikir itu wajar wajar karena kita mempunyai beberapa versi. Kalau orang politik mengatakan sama dengan hukum ini gak apa ini. Tapi bagi saya ini konsultasi beliau dengan keluarga ini ya. Karena umur beliau sudah 80 lebih. Cara pikir beliau tu gak seperti 40 tahun yang lalu yang dia ceritakan cerita Pak Jokowi masalah 45 tahun yang lalu. Dia bercerita dengan kawan-kawannya. Kapan dia bercerita dengan kawan-kawannya? Itu yang dibicarakan di YouTube itu dimainkan oleh Rismon. Makanya Rismon dapat panggung baru. Rasanya mungkin Pak ini bisa dijadikan saksi. Ternyata dicabut kan ya kan? Jadi intinya adalah kegagalan masih mereka mencari celah-celah untuk bisa permasalahan ini berlanjut dan berlanjut. Saya yakin mudah-mudahan secepatnya dalam minggu ini ya Polda Metro Jaya memanggil orang-orang ini ya. Mudah-mudahan apa yang saya katakan tadi bahkan sebelum-sebelumnya orang-orang yang seperti ini perlu diberi ganjaran. Ya, saya katakan saya bukan tidak menghargai pendapat orang karena kita di republik ini memang punya hak untuk itu tapi dicari dan dicari dicari dicari juga celah akhirnya masalah itu putar-putar. Baik. Dari pernyataan Profesor Sofyan Effed ini kalau menurut Bang Firdaus ini juga sebenarnya validasinya akurasinya juga dipertanyakan karena berdasarkan merangkum kompilasi sejumlah kata-kata orang yang ada di internal UGM. I begitu ya. Belum belum fakta dan dakarnya belum kuat. Jadi bersentuhan dengan Pak Jokowi ya kan mungkin bisa saja mungkin ketika kita masih kuliah kan bisa dekan ketemu dengan mahasiswa ini gak pernah. Cuma kan cerita-cerita Pak Sofan Effendi dengan beberapa teman sesama profesor mungkin di sesama ee dosen gitu ya. Dan ini cerita ini kan cerita kapan cerita dalam waktu dekat atau cerita 45 tahun yang lalu? Saya pikir ini dipertanyakan juga. Makanya setanya ketika kasus ini sudah heboh barangkali beliau langsung menghubungi teman-temannya di UGM bertanya seperti apa, Cuk? Tolong dicek katanya. taruhlah memang dalam posisi baru. Harusnya ketika dia menyampaikan ee pendapat-pendapat itu bersama Rismon, dia sampaikan katakan misalnya dekan waktu itu namanya ini bicara sama saya ee di di kehutanan itu dia tidak dapat nilai 2 kom sekian berarti dia hanya D3. Berarti kan beliau mengakui Jokowi ini memang alumni IGM. Dulu dikatakan tidak alumni IGM kan berputar-putar. ini cerita tidak pernah kuliah di UGM. Sekarang malah mata rektor mengatakan pernah kuliah di WGM cuma hanya sampai D3. Jadi kembali kita ke pokok persoalan Prof. Sofia ini sudah mencabut dan dia mengakui apa yang disampaikan oleh rektor Ibu Eva ya profesor bahwa tanggal 11 Oktober 2022 yang namanya Bapak Jokowi Widodo alumni kehutanan dan punya ijazah ya sama dengan kawan-kawannya itu yang dikembalikan oleh Pak Pak Sopanendi dan saya merasa menduga untuk masalah tekanan-tekanan saya tentu pastilah kita sebagai orang politik tetapi lebih cenderung ke masalah keluarga mungkin beliau tidak menyampaikan dasar dengan siapa Pak Suan ini berbicara tentang Jokowi. Kalau masalah faktor masalah keluarga pernyataan itu dicabut artinya secara substansi Bang Firdaus mengakui itu benar gitu. Iya. Berarti Pak hanya persoalan keluarga sehingga dicabut pernyataannya. Iya dicabut. Jadi tekanan-tekanan bolehlah dikatakan Pak Prof. firman firman Hasan tadi mungkin ada tekanan dari pihak-pihak lain itu bisa juga diterima. Tapi saya pikir karena keluarga tentu merupakan sesuatu acuan. Pertama bapaknya nih kakeknya sudah 80 tahun lebih. Cara ngomongnya mungkin memang dibicarakan orang pintar tapi gak masuklah 80 tahun lebih tentu ada cara pikirnya yang agak kurang pas gitu. Makanya salah satu yang kurang pas itu beliau bercerita tentang Jokowi tapi bukan bukan langsung bersentuhan tapi bercerita melalui teman-teman. Teman-teman itu tidak pernah dibunyikan di dalam ee apa namanya diskusi itu. Ini yang membuat Prof. Itu merasa bersalah ya kan. Tidak pernah misalnya kalau saya menurut Pak Mef Rizal begini-begini dalam wawancara itu mungkin bisa jadi itu kecuali Prof. Sevyandi itu dia dapat data dari teman-temannya dugem itu. Ini data KRS-nya. Iya. Hm. Ini data daftar wisuda atau yudisiumnya itu baru baru pas ya. Jadi sekarang ini anggap juga bagi saya ini cerita penambah waktu saja ini ya ee menjadi-jadi untuk menambah suasana gaduh lagi ini yang Rismon ini ya kan. Dan Prof ini gak salah karena orang tua kita juga dan dia sampaikan apa adanya. Ternyata apa ada itu berdasarkan ngomong-ngomong juga sama kawan-kawannya di antara kan diakui itu diakui itu. Nah, intinya adalah Pak Jokowi tamat UGM nilainya dua di bawah dua di bawah dua beliau hanya D3. Kan lain ceritanya lagi nih. Nah, berarti saya lihat Pak Jokowi memang alumni UGM. Dulu dia mengatakan tidak alumni UGM respon ini kan kan semuanya kan memancing Pak Prof untuk bercerita itu Prof. Even Effendi ini apa yang dilakukan mencabut itu saya merasa senang itu dan itu bagus supaya selesai sudah walaupun 24 jam ya Pak Prof ya. Dan bagi kami sebagai orang politik yang mengawal terus hal-hal yang seperti ini, apalagi kita juga dari Partai Golkar ingin bangsa ini ya sesuailah perjalanannya dengan aturan hukum tetapi jangan diputar-putar dimain-mainkan seperti ini. Sudah ma kalau tekanan dari pihak luar ini maksudnya ini dari kubunya Pak Jokowi enggak mungkin kalau menurut ee Bang Firdaus gak mungkinlah. Enggak mungkin. Gak mungkin. Lebih ke keluarga saja nih permintaintan keluarga sudahlah jangan ikut campur dalam persoalan itu. Iya. Saya kira kita kan lihat orang-orang tua itu kan lebih banyak dia dengar dari keluarganya. Kalau dari kelompok penekanan kelompokan dari Pak Jokowi atau pihak-pihak yang lain saya rasa itu mungkin ada cuma kalaulah sudah keluarga yang masuk saya pikir itu yakin saya Pak Suend Pendi menerima. Ditambah tadi ingat ya Pak Nasrian beliau dalam diskusi itu dalam menyampaian itu tidak menyebut bahwa dia bersentuhan langsung dengan kondisi saat itu dengan Jokowi tetapi melalui orang-orang karena orang-orang ini gak dijelaskan berarti kan secara hukum itu kan bercerita asap juga itu. Baik. Bagaimana apa saya punya catatan aja dengan Pak Firdaus. Apa namanya? Orang kan tidak mau tahu dengan siapa Jokowi. Karena hari ini beliau jadi presiden. That is the problem. Ya, kalau Pak Firdaus mengatakan tadi mungkin di tahun sekian itu dia tahu dengan Jokowi. Pastilah pastilah. Sayalah dosen Fakultas Hukum yang lebih 40 tahun. Mungkin tidak semua dosen Multas Hukum saya tahu. Tapi itu menjadi apa? Menjadi menjadi apa? menjadi ee awal menjadi isu publik. Maka beliau mencoba menggali memorinya. Saya tidak mengatakan apa yang beliau katakan apa yang sumbernya dari para profesor lain ya. Karena pada kalau saya tidak salah dengar dari presentasi beliau itu beliau sudah menyiapkan akan berkumpul dengan sejumlah dosen senior yang apa kalau tidak salah punya pemahamanlah atau pengetahuanlah tentang bagaimana dinamika akademik di tahun sekian itu. Itu Pak Sy Didu tuh Pak ngomong kalau dari Pak Su gak ada rencana seperti itu Pak. Enggak ada Pak Sidu aja yang bikin-bikin yang seperti itu yang rencana mengumpulkan mengumpulkan beberapa kawan-kawan ee Profesor Sopendi mau adakan pertemuan tolong dikawal itu dari Syid Didung semuanya itu. Kalau kalau yang saya dengar di podcast si Rismon Sianipar itu itu disebut oleh Pak ya karena arahan dari Rismon untuk dikondisikan masalah masalah lain kan. Iya. Jadi semua kan sudah disiapkan itu Prof. Jadi nakak murni dari Pak Sopian Eendi itu Rismon merencanakan untuk mengumpulkan kawan-kawan setting ini permainan setting ini. Jadi paham kita itu Prof. Setting Risman itu Rismon itu untuk Pak Sufyan Effendi bisa mengumpulkan kawan-kawannya itu ya kan nanti ini akan diviralkan lagi ya kan diviralkan lagi. Ah makanya Syed Didu bilang ah kawal terus kawal terus ya supaya nanti kita kumpul semua. Jadi semuanya dikorbankan nanti adalah yang terakhir adalah Pak Sufyan Effendi. Saya akan semua persoalan palsu ini Pak Sufanendi. Jadi dicari celah-celah celah lagi dari mereka-mereka itu. Mungkin itu boleh saya interupsi juga sedikit ya. Saya saya apa namanya ee saya termasuk gak sepakat dengan beliau ni kalau Pak Supendi diperalatting begitu di framing gitu diperalat begitu. Saya termasuk yang tidak sepakat dengan bahwa Pak Suendi diperalat oleh Risman CS. Kalau kebetulan opini mereka bersamaan, bersamaan saja. Karena dalam bahasa saya beliau masih jernih walaupun ada memori yang hilang ada yang lupa biasa itu. Tapi kalau bisanya Pak Firdaus tadi mengatakan bahwa Pak Supendik ini diperalat oleh Risman CS saya agak agak agak apa agak berat saya lagi menerima statement. Iya. Silakan Prof. Kira alasannya apa nih, Prof? Kira Prof tidak percaya Prof. FND itu diperalat atau diframing oleh respon CS untuk mendapatkan panggung baru? Ini kan bukan apa namanya bukan pernyataan pertama bukan kali ini dia pernyataan seperti itu Prof. Endi bukan pernyataan pertama 2024 kalau tidak salah sebelum itu beliau sudah mengatakan juga sebelum itu beliau sudah mengatakan juga itu diajak pastilah diajak oleh Rismon ya Pak kita ngobrol begini nih beliau mau jadi saya tidak sepakat mengatakan beliau itu dimanipulasi oleh respon opini dia benar atau tidak itu cerita lain saya kira itu saya artinya Prof tidak percaya itu karena melihat reputasi beliau, integritas beliau dan ketokohannya tidak mungkin dia mau di diperalat, diotak-atik oleh ee kelompok-sekelompok orang gitu. Tidak mungkin ya. Saya saya mengatakan itu ee apa namanya? Tidak mungkin dalam pikiran saya. Kalau tadi Pak Firdaus mengatakan bahwa beliau mengumpulkan orang-orang janji beliau begitu yang saya dengar tidak hanya dari saya di dulu ni. Saya dengar kebetulan kemarin mal kemarin sore saya dengar itu omongan beliau dengan ee Rmon itu beliau akan meng sudah berjanji dengan sekian jumlah kawannya untuk berbicara tentang lebih detail tentang persoalan ini. Jadi ee itu kalau kebetulan saya didung itu ya kebetulan saja tapi dari mulut Pak Sendi sendiri itu keluar kalau hari ini belut persoalan lain. tadi. Iya. Itu maka saya bilang Pak sama Pak Profanev ini saya duga tadi kan dimanfaatkan oleh kelompok si Rismon tadi. Kalau Pak Sufyan mengumpulkan kawan-kawannya taruhlah itu benar. Menurut Prof. Ternyata awal saja berkomunikasi dimainkan di channel YouTube sudah diviralkan berarti kan sudah menjebak Pak Suid gak mungkinlah Pak Suidi akan tampil bersama teman-temannya tampil di media atau di tube. Saya pikir itu tanda kutip gak yakin ini juga yang kalau versi INS kita lihat yang mewawancarai Prof. Sofyan Effendi pasca dia mencabut pernyataannya ini. Prof. Stevan Ewend mengaku dia tidak sadar, tidak tahu kalau ini akhirnya dishare, ditransmisikan viral YouTube-nya ini. Tapi kalau versi Rismo diwawancarai oleh media yang lain, katanya dia sudah bertanya, sudah minta izin sejak awal, “Pak, ini disiarkan dan akan ditransmisikan. E sudah dapat persetujuan ini kan muncul kecurigaan publik.” Ah, ini apakah Pak Prof. Sofian Effendi dalam bahasa Pak Prof. Firman Hasan ada apa-apanya ini begitu. Ya, kalau saya kembali kembah cara pikiran umur 82 tahun itu bisa berubah-rubah. Saya rasa jangankan umur kita aja kadang-kadang bisa berubah. Jadi kondisi saat itu kalau Risman mengatakan sudah disampaikan kepada Prof ini akan di diviralkan, akan ditampilkan melalui channel YouTube terus bisa ditonton sama orang banyak. Terus Pak Sopian Eendi setuju sudah tu Pak Sopan ini merencanakan akan mengadakan pertemuan dengan teman-temannya juga akan dibuat seperti yang di jurnal YouTube itu. Saya pikir itu gak masuk akal itu. Baik. Setidaknya kalau saya kembalikan ke Prof. Firman Hasan ya, setidaknya usia Pak Profman Hasan dengan Pak Sofranidi bisa 11 12 lah berdekatanlah. Kira-kira kalau Prof. Firman Hasan dalam konteks kasus ini atau kasus yang lain diminta orang untuk menguatkan posisi dia dan dia meminta Pak Prof seperti ini. Kira-kira Pak Profmanasan bersedia atau tidak? Ini tolong tolong diperjelasan bagaimana ya dengan posisi ini. Kira kalau konteks ini ada sebuah kasus tiba-tiba orang yang terlibat di dalam kasus minta Prof. Firman Hasan berpendapat sesuai dengan pendapat dia. Oh gak gak saya gak mau. Tidak akan mau ya. Saya tidak mau, saya tidak mau. Saya di forum ini sering menyebut nama Pak Asam Sri Durin, Pak Harun Zain. Karena kebetulan saya mendengar, saya waktu itu sudah ada sebagai mahasiswa dan aktivis. Saya bersentuhan dengan beliau-beliau itu. Saya bersentuhan dengan beliau-beliau termasuk beda pendapat juga gitu ya. Saya dengan Pak Zan saya pernah ninja meja, saya pergi keluar pernah saya lakukan itu. Tapi artinya ee gak tahu saya yaak tahu saya. Tapi saya tidak akan mengatakan kalau saya ragu. Nah, atau saya akan mengatakan bagi saya enggak jelas nih, tapi cerita yang saya dengar begini begini begini. Kalau dalam bahasa hukumnya tadi kan saksi diuditu tuh saksi di auditu. Tapi apa namanya kalau yang disampaikan oleh Pak Su Effendi itu ee sedemikian rupa, beliau mengatakan akan ada berbicara dengan kawan-kawan seang angkatan atau sedikit di bawah dia yang dianggap dalam kesimpulan saya ya beliau beranggapan kawan-kawannya tadi itu akan memperkaya pengetahuan dia tentang apa dan bagaimana di tahun 5-an itu. Sekalipun ini Pak Prof. Sofiat Effendi hanya meminta pandangan pejabat-pejabat UGM yang saat ini menjabat tentang status ijazah Pak Jokowi ini. Setidaknya itu sudah kuat sebenarnya akan menjadi sebuah ee ya apa? Saya tidak begitu tahu apa namanya apakah Pak Seendi akan berbicara dengan maaf rezim sekarang ataukah mereka yang ada di sekitar tahun 5 itu bahagian dari pengambil keputusan. Saya tidak tahu dugaan saya yang terakhir ini. Baik terakhir ini. Iya betul. Kalau saya kita dengar juga podcast itu sepertinya bahasa Pak Profesor Sofanendi saya sudah bertanya ke pejabat-pejabat yang saat ini begitu. Ah begitu. Jadi kalau itu artinya untuk coba dicek begitu. Nah itu dia termasuk ini iriksisannya kan kelihatan itu bahwa coba lihat dalam buku wisuda tahun sekian ada tidak nama Pak Jokowi? Kalau ada clear. Selanjutnya adalah paling tidak beliau seperti kata Pak Firdaus tadi alumni Gajang Wada ya gak persoalannya alumni berapa? D3, S1 dan seterusnya kan itu lagi yang cerita. Jadi kalau nama beliau ada dalam buku diundang biasanya begitu ada buku apa namanya? Wisudawan. Wisudawan perangkatan. Kalau sekarang tiga tiga kali setahun ada perangkatan, ada nama si anu dan seterusnya dan seterusnya. Jadi dari situ bisa ditelusuri apakah beliau memang ada dalam salah satu saya tidak tahu 85 itu kalau diundang waktu itu 85-an itu kita wisuda baru dua kali yang tiga kali sekarang jadi apakah di UGM tiga kali tahu saya tapi paling tidak itu bisa jadi rujukan dulu lihat ada tidak nama beliau di situ. Baik. Poinnya kalau menurut Profun itu dia minta pandangan atau minta pihak pejabat UGM saat ini untuk mengecek data-data itu, setidaknya itu sudah bisa menjadi petunjuk sebenarnya walaupun bukan fakta. Ya, saya kira ya. Iya. Kalau misalnya katakanlah Pak Sudi jadi dekan kehutanan hari ini, tolong dilihat deh apa namanya buku wisuda 85. Kalau saya minta beliau kan, Pak, itu sudah 40 tahun yang lampau gimana mencarinya itu kan. Nah, barangkali bisa. Tapi dugaan saya administrasi di perguruan tinggi relatif agak lebih baik. Itu memang tidak masuk bagian dari rahsia negara. Tidak. Tapi saya kira negara apa harusnya bisa dicari. Sekedar contoh saja untuk semua nih. Pada saat hukum UNAN mau mendirikan extension saya adalah di tahun saya masuk di Undan itu ada mahasiswa yang apa namanya reguler. Saya termasuk yang reguler. Kemudian ada yang extension. oleh Pak Busra Zahir rektor itu mulai detik itu extensionnya dihapuskan yang sudah terlanjur diterima digabungkan menjadi meswa reguler datanya ada ada nah kemudian pada hari itu Pak e Rektor mengatakan menutup bahasanya membekukan sementara prodi extension Fakultas Andalas ya nah di zaman saya jadi PD1 dan dekan ekonomi sudah bikin extension sekarang beramaah mandiri kami ingin dirikan juga itu. membangunkan kembali ekstens itu. Saya tanya ke bagian arsipanas ada barangkali di atas Pak dia lantai 3 lantai 4 seteng itu ya 4 seteng itu saya bilang tolong carilah tapi lebih dari 6 bulan kunjung dapat dugan saya enggak dicari gitu karena si mohon kabui kan apalagi gak ada GPTnya kan sehingga saya kami maju kembali dalam bentuk usulan membuka program extension baru terbuka jadi bukan mencabut pembekuan ee ee apa namanya? Surat rektor tentang pembekuan perang ekstens tadi rektor baru rektor saya lupa siapa itu Pak Jurnalis atau Pak Fahri. Pak Fahri Pak Rektor lah pokoknya mengeluarkan SK apa namanya program extension untuk Fakultas hukum adas. Setelah itu beberapa fakultas menyusul fakultas. Tapi yang yang awal ini apa itu maksudnya Prof? Maksud saya adalah arsifnya ada sebenarnya. sekarang how to out, bagaimana mencarinya gitu kan. Saya mengharapkan itu salah satu cara nanti untuk menyelesaikan kegaduhan ini dalam bahasa Pak Firdaus ya. Jadi sekarang kan cerita Bu Rektor cerita paseni cerita Bu Rektor tidak memperlihatkan juga apanya barangnya itu sehingga tetap dalam apa namanya tidak not clear 100% lah karena sama-sama tidak memperlihatkan data dan fakta. Seharusnya di pengadilan itu ya sebenarnya di di lanjut saja dulu ke pengadilan ya Prof.

Jangan Lupa Subscribe Chanel https://www.youtube.com/channel/UCJS8e5S7Bbf4cctlJenY2Uw
https://www.youtube.com/c/LiputanPadangTV
https://www.youtube.com/channel/UCZvfhsXOZEJx6TcL5NgcFBQ

ikuti berita-berita terkini di Padang TV via streaming di: http://padangtv.id/live atau http://www.jpmstream.com/

Follow & Mention Twitter kami: https://twitter.com/newspadangtv

Follow & Like Facebook Fanpage kami: https://www.facebook.com/officialpadangtv

Follow & Share Instagram kami: https://www.instagram.com/padang_tv

Saksikan info berita ter-update di: Detak Sore (Senin-Sabtu): pukul 16.30-17.00, Detak Sumbar (Setiap Hari): pukul 19.00-19.30 WIB.

#PADANGTV #PADANGTVNEWS