BEDA KELAS‼ AKSI GAGAH TNI TAMPIL BERKELAS DI EROPA, NETIZEN BANDINGKAN DENGAN NEGARA TETANGGA⁉

[Musik] Kau orang nak tahu tak kapal perang ggasi pernah berkhidmat untuk Korea Selatan. Sekarang kapal ini dial. Kita bisa dengarkan dentuman drum yang megah. [Musik] Bayangkan ini udara Paris pagi itu masih sejuk, langit biru bersih tanpa awan dan ribuan pasang mata dari segala penjuru dunia memusatkan pandangan ke Shams Elise. Kamera TV nasional dan internasional sudah siap mengabadikan momen tahunan paling bergengsi di Prancis, Parade militer Bastil Day 2025. Tapi tahun ini ada yang berbeda. Bukan sekedar atraksi militer biasa. Ada yang menggetarkan dada. Bukan dari Eropa, bukan dari kekuatan NATO, tapi dari timur jauh. Indonesia untuk pertama kalinya dalam sejarah, negara Asia Tenggara tampil sebagai barisan pembuka dalam paret militer Bastil Day. Dan yang mendapat kehormatan itu bukan sembarang pasukan. Sebanyak 451 personel gabungan TNI Polri dengan langkah mantap, formasi sempurna, dan semangat membara mengguncang jalanan ikonik Paris di hadapan Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto. Yely, maju tak gentar, membahana, menembus jantung kota Paris membuat siapapun yang menyaksikannya merasa Indonesia telah naik kelas. Tapi ini bukan hanya soal parade, bukan cuma soal baris berbaris. Ini tentang diplomasi, ini tentang pengakuan, dan yang paling penting ini tentang pembuktian di panggung global. Tak banyak yang tahu, tapi keputusan untuk mengundang Indonesia sebagai pembuka parade bukan sekadar basa-basi diplomatik. Ini adalah pesan Bastilde Day bukan perayaan biasa. Ini Hari Nasional Prancis menandai momen revolusi Prancis pada 14 Juli 1789. Momen penting dalam sejarah dunia ketika rakyat menumbangkan Tirani dan menuntut kebebasan. Maka ketika Prancis mengundang militer negara lain untuk ikut dalam parade ini, itu bukan cuma karena pertemanan, itu karena respek, karena perhitungan strategis. Dan kali ini pilihan itu jatuh pada Indonesia, negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara, negara dengan ekonomi terbesar keempat di Asia, dan tentu saja negara yang selama beberapa tahun terakhir terus menunjukkan konsistensi dalam menjaga stabilitas kawasan Indo Pasifik, menghadapi ancaman maritim, bahkan aktif dalam misi perdamaian dunia. Dalam bahasa diplomatik ini berarti Indonesia sedang naik pangkat. Penampilan kontingen TNI Polri yang dipimpin brigjen TNI Feri Irawan itu bukan hanya disiplin secara visual, tapi juga menyentuh secara emosional. Banyak warga Prancis dan penonton internasional yang tak mengenal Indonesia sebelumnya. Kini mengenalnya sebagai negara dengan militer profesional, gagah, dan tertib. Di media sosial, tagar seperti Indonesia berkelas dan Maju Tak Gentar langsung trending. Warga diaspora Indonesia di Eropa pun bangga tak terkira. Mereka menyaksikan pasukan dari tanah airnya tampil sejajar dengan barisan militer negara-negara besar. Tapi di balik tepuk tangan dan sorakan, dunia maya di Indonesia malah memanas. Netizen ramai-ramai membandingkan penampilan TNI dengan militer negara tetangga, Malaysia. sebuah narasi yang tak bisa dihindari karena selama ini Malaysia memang sering bikin kontroversi terutama soal klaim budaya, lagu daerah Indonesia, makanan khas Indonesia hingga batik dan reok sering diklaim sebagai warisan budaya Malaysia. Hal itu bikin banyak rakyat Indonesia kesal karena bukan cuma sekali dua kali, tapi sudah seperti kebiasaan. Dan sekarang saat Indonesia tampil gagah dan resmi di panggung internasional, Malaysia justru tidak ada dalam daftar negara yang diundang. Senyap, sunyi, tak tampak. Netizen pun dengan tajam menyindir. Biasanya klaim budaya, sekarang klaim undangan perede juga enggak bisa. Parahnya lagi, sejumlah video lawas kembali viral. Salah satunya adalah rekaman marching band militer Malaysia yang tampil kacau. Formasi tak sinkron, kostum tak rapi, dan yang paling bikin geleng-geleng kepala menggunakan lagu Gundul-gundul Pacul, lagu rakyat Jawa tanpa izin atau penghormatan terhadap asal-usul budayanya. Hal ini langsung memicu kembali perdebatan tentang budaya siapa yang diklaim siapa. Tentu saja ini bukan tentang membandingkan semata, tapi soal pengakuan yang lahir dari kemampuan, bukan dari pencitraan. TNI tampil di Bastil Day bukan karena Indonesia rajin klaim atau memohon undangan, tapi karena rekam jejak dan reputasi yang telah dibangun dalam kerja sama pertahanan internasional, profesionalisme dalam latihan militer gabungan, dan keberhasilan dalam berbagai misi damai PBB. Bahkan Indonesia adalah kontributor utama pasukan perdamaian di bawah bendera PBB dari kawasan Asia Pasifik. Sementara itu, Malaysia lebih banyak tampil di headline karena isu-isu internal, klaim-klaim sensasional, dan sayangnya kontroversi diplomatik. Tak heran jika perbandingan ini semakin mencolok dan membuat publik semakin sadar. Beda kelas bukan slogan. Ini fakta. [Musik] [Musik] [Musik] Baik saudara, kita saksikan bersama saat ini kontingen Indonesia telah bergerak dari Arope menuju ke dan kita lihat bersama bagaimana ratusan personel dan prajurit dari TNI berbagai Matra dan Polri akan memeriahkan parade militer yang berlangsung di SAM Eliz Paris Prancis dalam peringatan Basilde 2025. Ada 451 prajurit pasukan upacara ditambah dengan 53 personal pendukung yang sebelumnya telah diberangkatkan ke Paris, Prancis sejak 6 Juli 2025 lalu, Saudara. Dan pasukan ini terdiri dari personel dari tiga matra TNI, yakni TNI AD, TNI AL, dan TNI AU, serta dari Kepolisian Republik Indonesia Polri. [Musik] [Musik] Tenang, Le. Tenang, Le. Tenang, Le. Santai, Le. Tenang, Le. Semangat, Le. Semangat, Le. Semangat ya, Le. Nak tahu tak kapal perang Gegasi pernah berkhidmat untuk Korea Selatan. Sekarang kapal ini dikenali sebagai PNS Khalid Khalid Tentera Laut Parad. Dengan panjang lebih 100 m, kapal ini dilengkapi peluru berpandu dan sistem radar moden. Ia boleh capai kelajuan lebih. Bukan sekar kapal tapi ini adalah simbol kekuatan negara Bangladesh. Kapan ini dibawa khas sempena 5000 dan sini dan ras sendiri pengalaman naik ke kapal maritim Bangladesh ini. [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] dari sudut pandang geopolitik Partisipasi Indonesia dalam Bastil Day adalah bagian dari strategi yang jauh lebih luas. Prancis dan Indonesia semakin erat secara militer. Sejak penandatanganan kerja sama strategis pertahanan tahun 2021, hubungan kedua negara berkembang pesat. Prancis menjual 42 unit jet tempur Ravale ke Indonesia. Lengkap dengan pelatihan, radar pertahanan hingga sistem persenjataan modern. Indonesia bahkan sudah menjajaki kerja sama pembangunan kapal selam Scorp yang akan menjadi tulang punggung pertahanan laut RI. Selain itu, posisi Indonesia di kawasan Indo Pasifik semakin vital bagi negara-negara Eropa, terutama di tengah meningkatnya ketegangan laut Tiongkok Selatan. Prancis, Inggris, bahkan Jerman mulai menempatkan kepentingan militernya di kawasan ini. Dan Indonesia dengan kebijakan luar negerinya yang bebas aktif menjadi mitra strategis yang netral tapi berpengaruh. Bagi Prancis, mengundang Indonesia bukan hanya bentuk penghargaan, tapi juga langkah untuk menyeimbangkan kekuatan kawasan, menghadirkan mitra yang kredibel, dan membuka peluang kolaborasi teknologi pertahanan. Sementara bagi Indonesia ini adalah cara elegan untuk membangun diplomasi militer yang modern dan profesional. Apa dampaknya bagi Indonesia? Dampaknya sangat besar dan multidimensional. Kepercayaan internasional terhadap Indonesia meningkat secara signifikan. Negara-negara besar termasuk mitra strategis dan kekuatan global mulai melihat Indonesia bukan sekadar pasar berkembang, tapi sebagai negara yang stabil dengan institusi pertahanan yang profesional dan berintegritas. Di mata para investor, stabilitas ini merupakan sinyal positif. Indikator bahwa Indonesia adalah tempat yang aman dan menjanjikan untuk menanamkan modal. Mereka melihat bahwa keamanan bukan lagi semata-mata urusan dalam negeri, melainkan bagian dari diplomasi global yang dijalankan dengan kepala dingin dan kecerdasan strategis. Lebih jauh, dunia menyaksikan transformasi Indonesia menjadi pemimpin ASEAN yang visioner. Bukan hanya aktif dalam diplomasi regional, tetapi juga membawa arah dan gagasan besar untuk kawasan. Indonesia kini menjadi jangkar stabilitas di Asia Tenggara. Suara Indonesia di forum-forum internasional lebih didengar, lebih dihargai karena didukung oleh citra positif sebagai bangsa yang mampu mengelola kekuatan keras, hard power, dan kekuatan lunak, soft power secara seimbang. Di dalam negeri efeknya tak kalah penting. Kebanggaan nasional meningkat. Rakyat melihat institusi negaranya, terutama tentara nasional Indonesia, tidak lagi sekadar penjaga batas dan keamanan domestik, melainkan representasi kehormatan bangsa di kancah global. Anak-anak muda mulai melihat TNI bukan sebagai karier konvensional, tetapi sebagai panggilan mulia yang bisa membuka jalan menuju pentas internasional. [Musik] Paha. Beri tepuk tangan yang meriah. Selanjutnya kita saksikan bersama prajurit tangguh kebanggaalan tadi yang berdiri di belakang. [Musik] [Musik] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] [Musik] [Tepuk tangan] Bang, Bang. [Tepuk tangan] [Musik] Go! W [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] [Musik] Yeah. Lalu bagaimana dengan Malaysia? Secara langsung mungkin tidak banyak yang berubah. Tidak ada ancaman ekonomi atau konflik terbuka. Tapi dampak psikologisnya dalam negeri cukup terasa. Opini publik di Malaysia mulai bersuara lantang. Mengapa Indonesia bisa? Sementara kita staknan. Selama ini, Malaysia diri sebagai pusat kebudayaan Melayu, pemilik warisan intelektual dan ekonomi yang lebih mapan. Namun kini mereka harus menghadapi kenyataan baru. Indonesia melaju lebih cepat di ranah yang tidak bisa dimonopoli dengan narasi sejarah atau klaim kultural, yaitu prestasi nyata. Prestasi Indonesia di bidang pertahanan, diplomasi, dan reputasi global menjadi semacam cermin besar bagi Malaysia yang memperlihatkan bahwa kebesaran tidak ditentukan oleh retorika, tetapi oleh langkah konkret dan konsistensi. Hal ini mendorong tekanan internal di Malaysia. Publik mulai menuntut reformasi, pembenahan institusi, dan arah baru yang lebih kompetitif. Dalam diam, Indonesia menciptakan gelombang yang memaksa negara tetangga untuk berbenah. Ke depan Indonesia punya peluang besar untuk memperluas pengaruh global. Kehadiran di Bastil Day bisa jadi gerbang untuk partisipasi dalam NATO partnership events, latihan bersama dengan negara-negara Uni Eropa hingga kolaborasi teknologi militer. Bahkan Indonesia bisa menawarkan diri sebagai tuan rumah latihan militer internasional. Untuk memperkuat posisi ASEAN di mata dunia, pemerintah dan TNI hanya perlu satu hal, menjaga konsistensi. Jangan sampai setelah tampil keren di Eropa, semangatnya hilang di dalam negeri. Perkuat integritas internal. Modernisasi alat utama sistem persenjataan alut sista harus dipercepat dan kualitas SDM militer harus terus dijaga bahkan ditingkatkan. Karena di dunia global, sekali tampil buruk, reputasi bisa runtuh. Tapi kalau tampil konsisten, kepercayaan dunia akan terus mengalir. Akhirnya Parade Basti Led 2025 bukan hanya ajang hormat senjata tapi simbol bahwa Indonesia sudah diakui. Dan penampilan TNI sebagai pembuka parade itu bukan hanya penanda, tapi pernyataan. Kami siap, kami mampu, kami setara. Jadi kalau ada yang bilang ini cuma seremoni biasa, mereka jelas salah. Ini bukan sekadar langkah kaki di jalanan Paris. Ini adalah langkah strategis dalam diplomasi global Indonesia. Dan bagi Malaysia atau siapapun yang merasa panas melihat performa TNI, mungkin saatnya mulai bekerja keras bukan klaim keras. Kalau kamu bangga dengan TNI dan masa depan Indonesia yang makin diperhitungkan dunia, yuk sebarkan cerita ini ke teman-temanmu. Tunjukkan bahwa bangsa ini bukan cuma punya sejarah hebat, tapi juga masa depan yang cerah. Karena kita punya institusi militer yang profesional, modern, dan dihormati dunia. Jangan lupa follow terus info geopolitik dan diplomasi militer Indonesia di sini. Karena cerita-cerita seperti ini baru permulaan dari perjalanan besar Indonesia menuju panggung global.

TNI cetak sejarah di Bastille Day 2025 Paris sebagai barisan pembuka—prestasi pertama di Asia Tenggara! Penampilan gagah TNI jadi sorotan dunia dan bahan perbandingan dengan negara tetangga yang cuma bisa mengklaim budaya. Beda kelas, beda kualitas!

#TNI #BastilleDay2025 #TNIHebat #IndonesiaBangga #DiplomasiMiliter #PrabowoSubianto #TNIJuara #RafaleIndonesia #TNIinParis #IndonesiaNaikKelas #MiliterIndonesia #TNIProfessional #AsiaTenggara #BedaKelas #NetizenBangga #PrestasiIndonesia #Geopolitik #IndonesiaPrancis #HubunganStrategis #DiplomasiGlobal #SoftPowerIndonesia #BanggaTNI #MarchingTNI #451Prajurit #BrigjenFerryIrawan #TNIpolri #IndonesiaUnggul #IndonesiaPower #MythVsFakta #IndonesiaVsMalaysia #KlaimBudaya #MalaysiaGagal #GundulPacul #KebudayaanIndonesia #ParadeMiliter #HubunganInternasional #MiliterAsia #ASEAN #KekuatanMiliter #TNIinAction #TNIParade #TNI2025 #GlobalStage #IndonesiaLeading #DefensePower #MiliterDunia #DuniaMakinPercaya #SoftVsHardPower #TNIKelasDunia #IndonesiaDiakui
Follow Tiktok Hippo Academy 👇👇

@hippoacademy.id

⚠️ This video contains AI-generated voice-over created solely for educational and entertainment purposes. It is not intended to mislead or impersonate any real individual. All video footage and images used are sourced from royalty-free platforms and/or Creative Commons sources, with no AI-generated visuals included. This disclosure is provided in accordance with YouTube’s synthetic and altered content policy.

© Copyright Disclaimer under section 107 of the Copyright Act of 1976, allowance is made for “fair use” for purposes such as criticism, comment, news reporting, teaching, scholarship, education and research. Fair use is a use permitted by copyright statute that might otherwise be infringing.