KAMBOJA vs THAILAND Saling Serang “ASEAN Memanas, Melihat Posisi INDONESIA dalam Pertempuran Terbaru

Somb joins us from Bangkok Saxh. Tell us more about the latest escalation and what has led up to this point. Saat Timur Tengah sedikit mendingin, situasi di ASEAN justru memanas. Dengan kali ini, laporan menyebutkan jika Thailand dan Kamboja terlibat pertempuran. Enggak main-main. Kedua negara ini sudah saling serang dengan menggunakan senjata seperti roket BM21 yang menargetkan lokasi-lokasi strategis. Lantas sebenarnya apakah yang terjadi antara Kamboja dan Thailand? Siapa yang memulai duluan? Dan apa penyebab di balik konflik dua negara yang berbatasan ini? Berikut rangkuman selengkapnya. [Musik] 23 Juli 2025, bentrokan persenjata kembali pecah di sepanjang perbatasan sekitar kompleks Candi Tamuentom dekat area kuil prea Viha yang lama disengketakan. Menurut The Guardian, militer Thailand mengerahkan zat tempur F16 dan melancarkan serangan udara terhadap posisi militer Kamboja. Langkah itu sendiri diambil Thailand usai mereka menuduh pasukan Kamboja menanam ranjau darat baru dan melepaskan tembakan terlebih dahulu. Seorang prajurit Thailand bahkan dilaporkan oleh Ruders kehilangan kaki akibat ledakan ranjau baru tersebut. Sebaliknya, Kamboja mengecam serangan udara dengan zat tempur Thailand sebagai pelanggaran kedaulatan mereka dan menegaskan bahwa pasukannya hanya bertindak dalam rangka bela diri. Jadi, latar belakangnya gitu. Hingga saat ini kedua negara enggak ada yang mengalah dengan kedua belah pihak saling tuding tentang siapa yang memicu bentrokan yang berlangsung di sekitar area candi perbatasan tersebut. [Musik] Akibat pertempuran di perbatasan itu, warga Thailand mengungsi ke tempat penampungan di Provinsi Surin melarikan diri. Menurut laporan dari berbagai sumber yang kami rangkum, konflik kali ini cukup besar eskalasinya di mana dampak di lapangan terasa sangat nyata. Sedikitnya 40.000 warga di desa-desa sepanjang perbatasan terpaksa dievakuasi ke lokasi aman. Rentetan tembakan artileri menyeberang perbatasan mengenai area permukiman dengan dua warga Thailand dilaporkan jadi korban jiwa dan beberapa lainnya luka-luka akibat sharling dari kubu Kamboja. Di pihak seberang, Kamboja juga mengklaim beberapa provinsinya dihantam tembakan artileri Thailand meski belum terkonfirmasi jumlah korban. Di sisi lain, secara diplomatis ketegangan kali ini benar-benar telah mencapai puncaknya. Kedua negara sama-sama memanggil pulang duta besar mereka dengan Thailand. Bahkan mengumumkan pengusiran duta besar Kamboja di Bangkok dan menutup seluruh pos perbatasan antara kedua negara. [Musik] Sejarah konflik Kamboja Thailand. Bicara soal konflik Thailand dan Kamboja, sebenarnya dua negara ini sudah memiliki sejarah yang panjang. Bahkan dapat dikatakan telah membara sejak berabad-abad lalu dengan candi kuno sebagai pemicunya dan nasionalisme sebagai bahan bakarnya. Candi Prea Vihear sendiri berdiri megah di perbatasan pegunungan Dangrek. Dan di sinilah masalah bermula. Pada awal 1900-an, Prancis yang menjajah Kamboja dan Siam yang sekarang kita kenal sebagai Thailand membuat peta wilayah. Tanpa banyak protes saat itu, candi itu digambar berada di wilayah Kamboja. Namun pada 1950-an Thailand mulai mempermasalahkan peta itu. Meski pada akhirnya Kamboja yang menggugat ke Mahkamah Internasional menang. ICJ tahun 1962 memutuskan Candi Prea Viihar sah milik Kamboja. Tapi wilayah sekitar candi itu tak dijelaskan dengan jelas. Dan itulah akar masalah yang masih hidup sampai sekarang. Di tahun 2008 hingga 2011-an saat Kamboja mendaftarkan Prea Vihear sebagai warisan dunia UNESCO, Thailand langsung meradang. Bentrokan senjata pun pecah. Ribuan tentara dikerahkan dengan tembakan artileri bersahutan. Ini bukan sekedar sengketa budaya, tapi sudah jadi simbol nasionalisme. Dan baru-baru ini ketegangan memuncak lagi. Februari, Kamboja protes pelarangan lagu kebangsaan di situs candi. Mei baku tembak singkat terjadi. Dan di bulan Juli ini ranjau meledak. Tentara Thailand terluka. Thailand membalas lewat serangan udara F16 miliknya. [Musik] ASEAN memanas. ASEAN sebagai organisasi kawasan selama ini dikenal menganut prinsip non interference atau tidak ikut campur urusan dalam negeri negara anggota. Prinsip ini membuat ASEAN cenderung diam atau lambat saat dua anggotanya seperti Kamboja dan Thailand justru saling baku tembak. Nah, karena lambat inilah seperti laporan dari The Washington Post, sejauh ini ASEAN memilih untuk berdiam dan mendorong jalur diplomasi tertutup tanpa pernyataan resmi yang tegas, Ketua ASEAN Malaysia sempat menawarkan diri sebagai mediator. Tetapi ASEAN Way, penyelesaian konflik lewat konsensus membuat solidaritas kawasan mulai goyah saat dua anggotanya terlibat bentrokan bersenjata di perbatasan. Di sisi lain, sebagai negara terbesar di ASEAN, Indonesia memiliki peluang mengambil inisiatif kepemimpinan untuk meredakan krisis ini. Indonesia dapat memanfaatkan pengalamannya dalam diplomasi damai, termasuk shuttle diplomacy yang pernah dilakukan oleh Menlu Martinale Legawa pada 2011 untuk mendorong dialog militer dan diplomatik baru antara Thailand dan Kamboja. Peran mediasi aktif Indonesia berpotensi membantu menghidupkan kembali komunikasi dan kepercayaan kedua belah pihak yang berseteru. Namun demikian, ada risiko perhitungan politik yang harus ditimbang. Dalam hal ini, jika Jakarta terlalu vokal menekan solusi, ia bisa dituduh melanggar prinsip non interference yang dijunjung ASEAN. Sebaliknya, jika Indonesia diam saja, kredibilitasnya dapat dipertanyakan dan dianggap abay saat ASEAN tengah diuji krisis. Sementara itu, seperti laporan dari Ruders, Indonesia juga mendukung pendekatan damai berbasis hukum seperti mengajak Thailand dan Kamboja membawa sengketa ke ICJ sebagaimana diajukan oleh Kamboja pada Juni 2025. Dan untuk mengantisipasi hal-hal selanjutnya, Jakarta juga ditekan untuk memperkuat struktur konflik ASEAN termasuk gagasan membentuk kode etik atau code of conduct atau protokol perbatasan resmi antar negara anggota agar memastikan konflik limitasi tidak berulang. [Musik] Dampak eskalasi yang lebih besar. Dengan adanya konflik di ASEAN, soliditas ASEAN saat ini tengah diuji. Konflik terbuka Thailand Kamboja ini mempertaruhkan citra dan soliditas ASEAN yang mana sejak didirikan Rison the Ray ASEAN adalah mencegah perang di antara sesama anggotanya. Namun kini pertumpahan darah antar anggota terjadi dan ASEAN tampak sulit berbuat banyak. Jika dibiarkan, ketegangan ini dapat menggerus kepercayaan terhadap ASEAN sebagai blok kawasan yang stabil dan kohesif. Ujian ini sekaligus menjadi cermin kesiapan ASEAN menghadapi krisis internal. Apakah prinsip persatuan ASEAN mampu bertahan saat dua anggotanya bersih tegang? Selain itu, konflik ini juga bisa mengganggu ekonomi kawasan yang tengah berkembang pesat. Thailand dan Kamboja memiliki hubungan ekonomi yang saling terhubung. Ketegangan bersenjata dan penutupan perbatasan akan berdampak pada arus perdagangan, pariwisata, dan mata pencaharian warga lokal. Menurut data Bank Dunia, Thailand adalah mitra dagang terbesar ketiga bagi Kamboja. Sedangkan bagi Indonesia dan negara ASEAN lain, instabilitas ini bisa menular ke sentimen pasar. [Musik] Pada akhirnya ketika peluru mulai digunakan di perbatasan ini adalah eskalasi baru yang berbahaya di kawasan ASEAN. Dunia sadar ASEAN sedang diuji bukan di ruang sidang, tapi di medan konflik. Thailand dan Kamboja kini saling tuding, saling tembak, dan saling kunci perbatasan. ASEAN masih diam, masih terpaku pada dogma lama non interference. Seolah perdamaian bisa dicapai tanpa keberanian. Lalu di mana Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN sebagai pemilik sejarah panjang dalam diplomasi damai. Sebagai bangsa yang dulu dipercaya menjadi jembatan saat semua pihak saling membisu. Indonesia kini dihadapkan pada pilihan berani bicara dan menjadi lokomotif perdamaian atau diam dan membiarkan dua negara Thailand dan Kamboja menyelesaikan masalahnya sendiri. [Musik] [Musik] Yeah.

======================================
Part of GLNEWS
Website: https://glnews.id/
Instagram: https://www.instagram.com/glnews_ig/
Tiktok: https://www.tiktok.com/@glnewsofficial
Facebook: https://www.facebook.com/glnewsfootball/