DILUAR NALAR‼️109 PRAJURIT TAMPIL DI GURUN YORDANIA, PASUKAN ARAB GELENG-GELENG‼️JIRAN TAK DI AJAK⁉️

[Musik] Gila, TNI makin PD aja unjuk gigi di panggung internasional. Kali ini 109 prajurit Indonesia tampil penuh gaya di tengah gurun Yordania bareng tentara Arab. Latihan militer gabungan ini bukan kaleng-kaleng, Bro. Multimatra, laut, darat, udara, semua main. Tapi yang bikin netizen ngakah, tetangga sebelah malah enggak diajak. Katanya jago juga, tapi kok enggak nongol? Jangan-jangan ah nanti kita bahas. Indonesia emang lagi rajin main diplomasi militer. Di era global yang makin panas, kekuatan bersenjata bukan cuma buat jaga perbatasan, tapi juga jadi alat negosiasi. Latihan gabungan, apalagi lintas benua jadi panggung unjuk kredibilitas. Di sinilah TNI masuk bukan cuma pamer otot, tapi juga ngebangun jejaring strategis jangka panjang. Yordania dipilih bukan tanpa alasan. Negara ini udah kenyang konflik dan dikenal punya pasukan elit yang sering turun di operasi nyata. Jadi kalau Indonesia dikasih slot buat latihan bareng di tanah mereka, itu artinya ada rasa percaya tinggi. Ini bukan sembarang undangan, bukan juga paket wisata, tapi pengakuan atas kualitas TNI. Latmapur kota jadi bagian dari pola baru kerja sama militer RI. Sebelumnya kita lihat Latma Garuda Shield bareng Amerika Serikat dan Jepang sekarang merambah Timur Tengah. Strateginya jelas, bangun kepercayaan dan latihan lintas karakteristik medan tempur dari hutan Sumatera ke gurun Yordania, dari laut Natuna ke udara Levant. Dan yang paling menarik, formatnya enggak cuma taktik darat, ada unsur serangan udara dan penguasaan kota yang rumit. Ini bikin prajurit TNI makin matang. Mereka enggak cuma jago perang rimba atau laut doang, tapi udah disiapin buat skenario urban warfare yang kompleks. Dan ini bukan cuman demi jago-jagoan, tapi upgrade serius kemampuan. Pada 23 Juli 2025, sebanyak 109 prajurit TNI dari tiga matra, angkatan darat, laut, dan udara turun langsung ke medan latihan di gurun Yordania. Mereka menjalani skenario tempur perkotaan yang melibatkan pembersihan bangunan, penyergapan dari udara, hingga manuver marinir dari sisi barat kawasan latihan. Latihan ini digelar bareng angkatan bersenjata kerajaan Yordania yang dikenal berpengalaman dalam operasi militer di kawasan Timur Tengah. Enggak semua negara bisa dapat kesempatan kayak gini. TNI tampil kompak, profesional, dan adaptif. Bahkan beberapa media lokal Yordania sempat meliput aksi pasukan Indonesia dengan nada salut. Komandan Pasmar 3 Briakjen TNI Mar Andi Rahmat bilang latihan ini bukan cuma soal upgrade taktik, tapi juga memperkuat kerja sama dan saling belajar antar tentara dua negara. Banyak manuver urban warfare yang diterapkan berdasarkan pengalaman nyata Yordania di medan tempur. Sesungguhnya ini ilmu mahal, Bro. Yang bikin heboh netizen Malaysia enggak kelihatan batang hidungnya. Padahal negara tetangga itu sering pamer kekuatan juga. Netizen langsung nyinyir. Latihan beginian kok gak diundang. Sindiran makin keras karena ini bukan pertama kali mereka absen. Dunia makin terbuka, tapi ada yang masih diam di rumah nonton doang. Latihan militer ini punya makna geopolitik yang dalam. Indonesia lagi bangun reputasi sebagai middle power yang aktif dan netral. Dengan ikut latihan di Timur Tengah, kita nunjukin ke dunia bahwa Indonesia siap terlibat dalam pengamanan global. bukan cuman urus laut Natuna atau Papua doang. Secara ekonomi, latihan semacam ini juga memperkuat diplomasi pertahanan. Negara yang sering latihan bareng cenderung punya peluang dagang lebih terbuka. Kita bisa kerja sama teknologi militer, industri pertahanan, bahkan logistik. Misalnya ekspor amunisi PINDA atau drone lokal ke negara-negara partner latihan. Dengan tampil di Timur Tengah, Indonesia juga lagi bangun branding baru. Dulu kita dikenal sebagai negara agraris dan muslim modern. Sekarang tambah satu lagi, kekuatan militer profesional yang dipercaya global. Ini modal buat lobi politik luar negeri dan investasi pertahanan dalam negeri. Poinnya, TNI bukan sekadar latihan, tapi lagi main catur geopolitik. Kita narik perhatian global, bangun koneksi strategis, dan bawa nama Indonesia ke peta keamanan internasional. Dan semua ini dilakukan lewat aksi nyata di gurun. Bukan sekadar pidato di forum internasional, dampaknya ke Indonesia jelas terasa. Kepercayaan internasional ke TNI meningkat, publik dalam negeri makin bangga, dan wibawa Indonesia naik. Media-media Arab sampai bikin ulasan khusus soal performa prajurit kita. Itu sinyal bahwa Indonesia punya nilai lebih di mata dunia militer. Secara domestik ini memperkuat moral pasukan. Latihan di medan asing dengan tentara berpengalaman bikin mental, taktik, dan kesiapan mereka makin matang. Enggak heran TNI makin dilirik sebagai pasukan elit di kawasan Asia Tenggara. Bukan cuma jaga kedaulatan, tapi siap deploy global kalau diminta. Secara politik, posisi RI di forum internasional juga makin kuat. Kita bisa duduk di meja perundingan bukan sebagai penonton, tapi aktor penting. Negara yang punya kapabilitas militer kredibel cenderung lebih didengar dalam isu-isu global mulai dari perdamaian sampai isu kemanusiaan. Untuk dunia, kehadiran Indonesia jadi penyeimbang. Di tengah dominasi kekuatan besar, negara berkembang seperti Indonesia bisa tampil sebagai mitra yang netral dan profesional. Latihan ini jadi bukti bahwa dunia enggak cuma butuh NATO atau pasukan Aaseng, tapi juga aktor regional kayak TNI. Buat Malaysia ini alarm. Kalau mereka enggak ikutan aktif, lama-lama ketinggalan, dunia makin kompetitif dan latihan semacam ini adalah tiket untuk jadi bagian dari percaturan global. Tapi kalau terus-terusan enggak diajak, ya siap-siap aja gigit jari lihat abang sebelah makin eksis di mana-mana. Negara-negara berkembang lain bisa termotivasi dari sini. Bahwa kekuatan militer yang profesional dan aktif bisa dibangun tanpa harus ikut aliansi besar. Ini jadi inspirasi bahwa stabilitas kawasan bisa datang dari kerja sama lintas benua yang sehat dan saling menguntungkan. Ke depan latihan semacam ini bakal makin sering. Indonesia udah punya road map kerja sama militer dengan negara-negara Afrika Utara, Asia Selatan, hingga Eropa Timur. TNI bakal makin sering tampil di luar negeri sebagai pasukan profesional dengan standar internasional. Pemerintah juga bakal terus dorong industri pertahanan lokal agar relevan dengan kerja sama global. Artinya, ekspor alat tempur buatan dalam negeri bakal didorong. termasuk lewat showcase dalam latihan gabungan. Ini bukan cuma soal perang, tapi soal bisnis dan reputasi teknologi. Jiran kalau terus diam bisa-bisa makin ditinggal. Negara-negara ASEAN lain pun mulai melirik kerja sama global. Vietnam udah aktif ke AS, Filipina ke Jepang. Malaysia masih sibuk debat dalam negeri. Padahal dunia enggak nunggu. Latihan gabungan bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Kita sebagai rakyat waktunya dukung TNI bukan cuma saat parade, tapi juga saat mereka tampil di panggung dunia. Dukung lewat apresiasi, awasi lewat diskusi sehat, dan bangga sebagai bangsa yang pasukannya mulai diperhitungkan global. Biar dunia tahu, kita bukan bangsa yang reaktif, tapi proaktif. Latihan di Yordania ini bukan pencitraan, tapi lompatan geopolitik. TNI tampil sebagai pasukan tangguh yang dipercaya dunia. Ini bukan sekadar gelar latihan, tapi pembuktian bahwa Indonesia layak duduk sejajar dengan kekuatan militer global. Kita bukan penonton, tapi pemain utama. Yang perlu kita jaga sekarang adalah kesinambungan. Jangan latihan internasional ini berhenti di seremoni doang. Harus ada follow up, diplomasi lanjut, transfer teknologi, dan regenerasi pasukan. Kita udah mulai jadi global player, jangan balik jadi penonton lagi. Dan buat negara tetangga yang belum diajak, ini bukan nyinyiran semata, tapi ajakan buat ikut bangun kekuatan bersama. Dunia makin enggak sabar nunggu siapa yang siap main di level global. Kalau enggak sekarang kapan lagi? So, Yuk dukung terus langkah strategis TNI di panggung dunia. Bukan buat sombong-sombongan, tapi demi keamanan, kemajuan, dan harga diri bangsa. Kalau TNI bisa bangkit dan diakui dunia, kita sebagai rakyat juga harus ikut bangga. Jangan cuma jadi komentator, tapi juga pendukung perjuangan mereka.

DILUAR NALAR‼ Sebanyak 109 prajurit TNI dari tiga matra (AD, AL, AU) unjuk gigi dalam latihan tempur kota “Latma Purkota” di Yordania bareng Angkatan Bersenjata Kerajaan Yordania! Dari pertempuran urban, dukungan udara, hingga manuver laut—semua ditampilkan dengan presisi. Tapi yang bikin heboh, Malaysia malah gak diajak? Latihan gabungan internasional ini membuktikan TNI bukan hanya jago kandang, tapi diakui dunia!🔥

Sumber : https://indonesiadefense.com/prajurit-tni-al-gelar-latihan-bersama-pertempuran-kota-di-yordania/

#TNI #LatmaPurkota #TNIHebat #PrajuritTNI #PasukanElite #MiliterIndonesia #Yordania #GurunTimurTengah #TNIAD #TNIAL #TNIAU #PasukanMultimatra #TentaraNasionalIndonesia #LatihanGabungan #DiplomasiMiliter #IndonesiaPower #KekuatanMiliter #ArmyTraining #UrbanCombat #TimurTengah #IndonesiaMaju #TNIinAction #PrajuritGaruda #GarudaDiDadaku #BanggaTNI #MalaysiaGigitJari #PasukanEliteAsia #PertahananNegara #BelaNegara #YelYelTNI #IndonesiaBisa #IndonesiaJuara #TNIWorldClass #Komando #BrigifParaRaider #TNI2025 #IndoDefense #TaktikMiliter #LatihanMiliter #TNIUnggul #PrajuritPerkasa #KekuatanAsiaTenggara #PowerProjection #TentaraGaruda #GlobalForce #TNIProfessional #MilitaryDrill #DefenderOfTheNation #IndonesiaFirst #GeopolitikAsia

Follow Tiktok Hippo Academy 👇👇

@hippoacademy.id

⚠️ This video contains AI-generated voice-over created solely for educational and entertainment purposes. It is not intended to mislead or impersonate any real individual. All video footage and images used are sourced from royalty-free platforms and/or Creative Commons sources, with no AI-generated visuals included. This disclosure is provided in accordance with YouTube’s synthetic and altered content policy.

© Copyright Disclaimer under section 107 of the Copyright Act of 1976, allowance is made for “fair use” for purposes such as criticism, comment, news reporting, teaching, scholarship, education and research. Fair use is a use permitted by copyright statute that might otherwise be infringing.