Ngeri! Perang Thailand vs Kamboja MELEDAK Gara-gara Rebutan Candi Era Kerajaan — Jet Tempur Melesat!

[Musik] Perbatasan Thailand dan Kamboja. Sepanjang 817 km yang membentang dari hamparan dataran rendah hingga punggung pegunungan berhutan lebat kini berubah menjadi medan perang yang berdarah. Suara dentuman dan gelegar ledakan rudal-rudal menggema dari langit. disambut oleh deru mesin zet-jet tempur yang menggoyang udara di siang hari, mengubah bukit menjadi kawah, pohon menjadi arang, dan tembok menjadi debu. Asap hitam membumbung tinggi, sementara tanah bergetar oleh hantaman artileri. Setidaknya 12 jiwa melayang. 11 di antaranya adalah warga sipil yang tak bersalah dan satu orang tentara yang gugur dalam tugasnya. Puluhan lainnya mengalami luka-luka dan sekitar 40.000 Ibu warga dari 86 desa terpaksa mengungsi membawa barang seadanya dalam karung dan tas yang telah usang. Miriam M198, hawitzer buatan Amerika Serikat dikerahkan Thailand bersama sistem roket M142 Highs, kendaraan peluncur yang menembakkan hingga enam rudal. Serangan balasan dari udara pun dimulai. En unit jet tempur F16 Fighting Falcon. Pesawat tempur legendaris dengan kecepatan supersonic terbang di atas wilayah preah Viher. Zat-zat tempur buatan Pamansam itu menjatuhkan bom-bom di Chong Anma. Menghancurkan sejumlah tank dan pos militer. Kamboja tidak tinggal diam. Mereka meluncurkan sistem peluncur roket ganda BM21 Grad senjata artileri era Soviet. Targetnya adalah instalasi militer serta infrastruktur sipil, pompa bensin, rumah sakit, dan desa-desa di Provinsi Surin dan Sisaket. Di garis depan, pasukan infanteri Kamboja bersenjata senapan mesin PKM, senapan berat buatan Rusia, dan peluncur anti tank RPG Type 691 yang menembakkan rudal untuk menghancurkan kendaraan lapis baja musuh. Di dekat kompleks suci kuil Tamuentom yang berdiri anggun di tengah kobaran konflik terjadi pertempuran jarak dekat lengkap dengan kontak senjata menggunakan granat RPG7 dan senapan serbu EK47. Tragedi berdarah ini sesungguhnya bukanlah badai yang secara tiba-tiba meledak pada bulan ini. Segalanya berawal sejak 3 bulan lalu, sejak 28 Mei 2025. Kala itu, sebuah unit patroli Thailand bergerak di sepanjang wilayah perbatasan yang masih disengketakan di sekitar Chongbok titik tripoint Thailand Kamboja Laos yang merupakan bagian dari Emerald Triangle. Pasukan Kamboja menuduh Thailand masuk wilayah mereka tanpa izin. Terjadi saling adu argumen dilaporkan senjata diacungkan dan kemudian satu tembakan meletus dari pihak Kamboja mengenai seorang tentara Thailand. Pasukan Thailand membalas hingga kontak saling tembak berlangsung sekitar 8 menit. Wilayah Congbok memang tidak punya garis batas resmi yang disepakati. Ini daerah abu-abu. Baik Thailand maupun Kamboja sering berpatroli bergantian di titik yang sama. Namun kali ini militer Kamboja memperluas pos mereka lebih jauh ke zona yang diklaim Thailand dan itu dianggap langkah offensif diam-diam. Meski kedua pihak sepakat berdialog pada pertengahan bulan Juni, atmosfer permusuhan tak pernah benar-benar mencair. Puncak krisis terjadi pada tanggal 14 Juli di mana insiden fisik di Tamo Tom memanas ketika tentara Thailand dituduh menyerang pasukan Kamboja di zona sengketa. Fnompen mengecamnya sebagai pelanggaran hukum internasional. Sementara Bangkok membalas dengan tuduhan provokasi. Situasi kian runyam seminggu kemudian, tepatnya tanggal 17 dan 23 Juli ketika lima tentara Thailand terluka parah akibat ledakan ranjau di Congma. Thailand menuding Kamboja menanam ranjau baru secara ilegal. Sementara Kamboja bersih keras. Itu adalah sisa-sisa perang saudara tahun 1970-an. Malam itu juga hubungan diplomatik putus secara dramatis di mana Thailand menarik duta besarnya dari penompen dan mengusir diplomat Kamboja di Bangkok. Semua pos perbatasan dikunci rapat seolah memagari tong Mesiu yang siap meledak. Sebuah ledakan terjadi pada pagi hari tanggal 24 Juli dalam serangkaian peristiwa beruntun yang mengubah sengketa menjadi perang terbuka ketika Fajar menyingsing pukul 6.30 30 waktu setempat, Kamboja melaporkan pasukan Thailand memasang kawat berduri di Tamo Tom. 40 menit kemudian, drone tak dikenal terdeteksi di udara sengketa. Masing-masing pihak saling tuduh itu adalah drone mata-mata lawan. Kemudian pada pukul 0.20, dentuman pertama mengguncang perbatasan. Thailand menyatakan Kamboja memulai tembakan ke pos militernya di Mopa. Sementara Kamboja membantah dan menuduh Thailand yang lebih dulu menyerang. Dalam hitungan menit eskalasi tak terhindarkan. Artileri berat dan roket BM21 Grad milik Kamboja menghujani Distrik Kapeng di Provinsi Surin, Thailand. Menghantam pemukiman sipil, pom bensin, bahkan rumah sakit daerah. Thailand membalas dengan meriam Hitzer M198 dan sistem rocket Highs sebelum mengerahkan en jet tempur F16 dari pangkalan udara Ubon Racatani. Pesawat-pesawat itu membombardir markas militer Kamboja di Provinsi Odar Meancei dan Prea Viha menghancurkan infrastruktur dan menurut laporan awal menewaskan warga sipil yang sedang melintas di jalan raya. Pertempuran meluas ke enam titik perbatasan dalam hitungan jam. Di udara, drone Winglung milik Kamboja berhadapan dengan radar LM84 milik Thailand yang canggih. Di darat, granat RPG7 dan senapan AK47 berbunyi di antara reruntuhan candi kuno, sementara ranjau PMN2 yang mematikan mengintai di semak-semak. Ketika perang berkecamuk, dinamika politik justru memperumit resolusi. Sebab di Thailand sendiri krisis ini terjadi di tengah vakum kekuasaan. Perdana Menteri Paitong Tarn Shinawatra yang cenderung lunak pada Kamboja diiskors tanggal 1 Juli setelah rekaman percakapannya dengan mantan Perdana Menteri Kamboja Hunsen bocor dan memicu kecaman nasionalis. Penjabat Perdana Menteri Pum Tamwe Cayacai bersi keras tak akan bernegosiasi selama satu peluru pun masih melayang. Sebaliknya, Perdana Menteri Kamboja Hunmanet langsung mengajukan permohonan darurat ke Dewan Keamanan PBB menuding Thailand melakukan agresi terencana. Mantan Perdana Menteri Hunsen bahkan turun tangan menyebut serangan udara Thailand sebagai kejahatan perang yang tak termaafkan. Upaya mediasi ASEAN dipimpin Malaysia selaku ketua rotasi dengan Perdana Menteri Anwar Ibrahim mendesak gencatan senjata. Cina yang memiliki pengaruh besar di Kamboja menawarkan diri sebagai mediator sementara PBB bersiap menggelar sidang darurat. Indonesia melalui KBRI Bangkok dan Pnompen mengeluarkan peringatan untuk 15 warga negara Indonesia di zona konflik. Melihat akar konflik, tiga faktor membuat perdamaian sulit dicapai. Pertama, warisan kolonial yang tak tuntas. di mana peta Prancis tahun 1907 bertabrakan dengan klaim historis Thailand diperkeruh oleh nilai simbolis candi-candi kuno yang dianggap suci oleh kedua bangsa. Kedua, dinamika politik domestik di mana pemerintahan Thailand yang goyah menjadikan nasionalisme sebagai alat legitimasi. Sementara Kamboja memanfaatkan konflik untuk memperkuat kekuasaan dinasti Hunsen. Ketiga, campur tangan kekuatan global di mana Cina memasuk drone dan pelatihan militer ke Kamboja. Sementara Thailand, sekutu tradisional Amerika Serikat mengandalkan persenjataan Barat seperti F16 dan sistem Highs. Perbedaan kekuatan pun timpang. Anggaran militer Thailand sebesar Rp96 triliun adalah 12 kali lipat Kamboja yang hanya memiliki 14 triliun. Meski penompen unggul dalam jumlah sistem rocket grade, dampak konflik ini meluas di luar perbatasan. ASEAN menghadapi ujian berat. Jika gagal mendamaikan anggota, kredibilitasnya sebagai organisasi pemersatu akan runtuh. Ekonomi regional sudah terganggu. Rute perdagangan darat terputus dan investasi asing menguap. Yang paling menyedihkan adalah generasi anak-anak di perbatasan yang trauma mendengar ledakan, kehilangan rumah dan sekolah, serta menyaksikan kekerasan sebagai normalitas baru. Dalam jangka panjang, sengketa ini berpotensi menarik negara lain seperti Vietnam atau Laos akibat aliansi terselubung atau kepentingan ekonomi di segitiga zamrud. Untuk benar-benar memahami mengapa perang antara Thailand dan Kamboja meledak kembali pada bulan Juli tahun 2025, kita tidak bisa sekedar melihat rentetan tembakan atau peta pertempuran hari ini. Konflik ini bukan lahir dalam ruang hampa. Ia adalah puncak dari gelombang sejarah yang panjang dan berliku. Sebuah cerita yang berakar dari ratusan tahun lalu ketika kerajaan-kerajaan kuno bersaing memperebutkan kejayaan. wilayah dan warisan budaya. Kita harus menoleh ke belakang, ke masa ketika kota Angkorwat berdiri sebagai simbol kejayaan kekaisaran Kemer. Ke zaman ketika pasukan Ayut Taya menyerbu ibu kota Kemer. Ke saat-saat kolonialisme memaksa batas-batas baru tanpa memperhitungkan ingatan sejarah setempat. Kita harus memahami bagaimana nasionalisme terbentuk dari trauma, bagaimana kebijakan luar negeri diselimuti dendam lama, dan bagaimana setiap generasi mewarisi bukan hanya tanah, tetapi juga luka. Dengan itulah kita bisa mulai menelusuri benang merah yang menghubungkan masa lalu dengan krisis terkini. sebuah perjalanan sejarah yang penuh nuansa, ketegangan, dan ironi. Hubungan antara Thailand dan Kamboja ibarat benang kusut antara cinta lama dan dendam lama. Di satu sisi mereka bersaudara dalam budaya, berbagi bahasa, keyakinan, dan akar peradaban. Namun di sisi lain, sejarah panjang mereka dipenuhi luka. Perebutan wilayah, saling klaim warisan, dan pertarungan pengaruh yang tak pernah benar-benar usai. Dulu jauh sebelum kata Thailand dan kata Kamboja dikenal dunia, kawasan ini berada di bawah bayang-bayang kekaisaran Kemer, kerajaan besar yang membangun angkor Wat sebagai lambang kejayaan dan pusat kekuatan. Dari abad ke-9 hingga 15, Kemer bukan hanya berkuasa atas tanah Kamboja, tapi juga menguasai sebagian besar wilayah yang sekarang dikenal sebagai Thailand bagian timur dan tengah. Pengaruh kekaisaran Kemer juga terasa dalam seni arsitektur bahkan sistem administrasi kerajaan Thai. Awal candi-candi seperti Vimai di timur laut Thailand adalah saksi bisu ketika batas budaya lebih cair daripada ketegangan politik. Kendati demikian, seiring waktu kekuatan pun bergeser. Yang dulu dikuasai mulai berkuasa. Yang dulu pusat peradaban mulai kehilangan pengaruh. Ketika kekaisaran Kemer mulai melemah pada abad ke-14 hingga 15, giliran kerajaan Thausnya Ayutaya yang bangkit sebagai kekuatan baru. Ayutaya mulai menekan balik sang bekas penakluk melancarkan serangan demi serangan ke jantung wilayah Kemer. Akhirnya angkorwat simbol kebesaran dan pusat pemerintahan Kemer ditinggalkan seolah melambangkan tumbangnya kejayaan lama dan pemerintahan pun dipindahkan ke Pnompen di Kamboja. Dari sinilah akar permusuhan modern mulai tumbuh. Kerajaan Ayutaya dan kemudian Ratana Kosin yang berpusat di Bangkok memandang Kamboja bukan lagi sebagai sekutu budaya, melainkan sebagai negara bawahan, yaitu zona pengaruh yang bisa dikendalikan. Penjarahan atas kota-kota Kemer oleh pasukan Thai bukan sekedar tindakan militer, tapi pukulan psikologis yang membekas dalam memori kolektif bangsa Kamboja. Memasuki abad ke-18 dan 19, nasib Kamboja semakin tragis. Di antara dua kekuatan besar, Thailand dan Vietnam, Kamboja menjadi ajang perebutan kekuasaan. Ia terombang-ambing dalam bayang-bayang dominasi, kehilangan kendali atas wilayahnya sendiri. Masa ini dikenal sebagai era kekuasaan ganda ketika Kamboja praktis tidak berdaulat dan rakyatnya hidup di bawah tekanan dua penjuru, sebuah zaman gelap yang sampai hari ini masih menyisakan trauma sejarah. Kolonialisme Eropa mengubah peta geopolitik secara radikal. Prancis menancapkan kuku di wilayah Indochina pada pertengahan abad ke-19 beriringan dengan peta kekuasaan Asia Tenggara yang digambar ulang oleh Prancis tanpa memperhatikan sejarah lokal. Demi memperkuat kendali atas Kamboja, Prancis menekan Thailand untuk menandatangani serangkaian perjanjian yang menentukan ulang garis batas. Dua perjanjian penting antara tahun 1904 dan 1907 secara sepihak mengukuhkan batas wilayah berdasarkan peta buatan kolonial. Salah satu akibat paling tajam dari peta ini adalah sengketa atas kompleks candi kuno di perbatasan, yaitu Candi Prea Viha atau disebut Hao Fra Viharn oleh Thailand. Candi ini berdiri di puncak tebing curam yang menghadap ke wilayah Thailand. Namun dalam peta Prancis dan kemudian oleh hukum internasional lokasinya masuk ke wilayah Kamboja. Thailand yang meski tak pernah secara resmi dijajah merasa dirampas secara halus karena wilayah yang mereka yakini sebagai bagian dari warisan kerajaan Thai harus diserahkan begitu saja. Kemerdekaan Kamboja dari penjajahan Prancis pada tahun 1953 seharusnya menjadi momen pembebasan. Namun kemerdekaan itu justru membuka bab baru yang lebih rumit dan penuh ketegangan. Di bawah kepemimpinan Raja Norodom Sihanuk yang karismatik, Kamboja mencoba mengambil jalur netral di tengah memanasnya perang dingin. Tapi di mata Thailand yang saat itu dikendalikan oleh penguasa militer seperti Jenderal Sarit Tanarat, sikap netral itu tampak mencurigakan bahkan mengancam. Siuk yang terbuka terhadap Cina dan kekuatan komunis dianggap sebagai ancaman ideologis. Ketegangan memuncak pada tahun 1958 ketika Kamboja secara terbuka menuduh Thailand mendukung kelompok pemberontak di wilayah perbatasan. Sebagai balasannya, Thailand memutus hubungan diplomatik. Situasi memburuk dengan cepat. Puncaknya terjadi pada tahun 1962 ketika Kamboja membawa sengketa Candi Preah Vihear ke Mahkamah Internasional atau ICJ, dunia menyaksikan sidang yang mempertaruhkan martabat dua bangsa. Dalam putusan bersejarah, ICJ menyatakan bahwa candi tersebut sah milik Kamboja berdasarkan peta kolonial Prancis tahun 1907 yang sebelumnya juga telah disetujui oleh pihak Thailand. Bagi Kamboja, ini adalah kemenangan simbolis yang luar biasa. Namun bagi Thailand, keputusan itu menyayat harga diri nasional yang kemudian menolak untuk sepenuhnya tunduk pada keputusan tersebut. Meski secara resmi menerima putusan, militer Thailand tetap menjaga kehadirannya secara diam-diam di sekitar candi. Ketika api perang Vietnam menjalar ke seluruh Indoina, Kamboja berubah menjadi medan kehancuran dan intrigopolitik. Di tengah kekacauan, Thailand tampil sebagai sekutu kunci Amerika Serikat menyediakan pangkalan militer yang memungkinkan Washington untuk mengebom jalur Hochimin yang melintasi wilayah Kamboja. Namun kehancuran sesungguhnya baru datang saat Kemer Merah merebut kekuasaan di Kamboja dari tahun 1975 hingga 1979. Di bawah rezim brutal Polpot, hubungan Thailand Kamboja jatuh ke titik paling kelam. Kemer merah secara terbuka memusuhi Thailand dan kekerasan di perbatasan pun meledak. Desa Thai dekat perbatasan menjadi sasaran serangan mendadak. Ironisnya, setelah Vietnam menginvasi Kamboja dan menggulingkan kemer merah tahun 1979, justru Thailand diam-diam membuka jalur bantuannya bagi musuh lama itu. Dengan dukungan Amerika Serikat dan Cina, Bangkok menjadi poros logistik bagi geriliawan anti Vietnam, termasuk sisa-sisa kemer merah yang mendirikan kem-kem di perbatasan. Bantuan makanan, senjata, dan pelatihan mengalir ke tangan mereka dianggap sebagai langkah strategis untuk menahan pengaruh Vietnam dan komunisme. Meski harus bersekutu dengan kekuatan yang sebelumnya dikenal sebagai algojo rakyat Kamboja sendiri. Bagi Thailand, ini adalah bagian dari permainan dan kecerdikan geopolitik. Tapi bagi Kamboja ini adalah pengkhianatan yang pahit saat tetangganya memanfaatkan masa kelam dan kerentanan untuk memperkuat posisi sendiri. Maka dari itu, dalam narasi sejarah Kamboja, Thailand tidak hanya dilihat sebagai tetangga kuat, tapi bahkan dilihat sebagai pemain licin yang tak segan merangkul kekuatan lain demi kepentingannya sendiri. Setelah berakhirnya era perang dingin, seberkas harapan sempat muncul di Cakrawala. Perjanjian perdamaian Paris tahun 1991 menjadi titik balik yang memberi Kamboja jalan keluar dari kekacauan panjang. Monarki dikembalikan dan demokrasi meskipun masih rapuh mulai dibangun. Di tengah transisi ini, investasi Thailand mengalir deras ke Kamboja setelah tahun 1993, terutama di sektor pariwisata, telekomunikasi, dan perhotelan. Keluarga kerajaan dan konglomerat Thailand seperti CP Group menjadi pemain kunci. Seolah masa lalu kelam dua negara ini mulai memudar. Kendati demikian, bayang-bayang sejarah tidak hilang begitu saja. Di bawah permukaan kerja sama ekonomi, bara konflik lama masih menyala. Pada tahun 2003, satu percikan kecil cukup untuk memicu ledakan besar. Isu hoaks bahwa seorang aktris terkenal Thailand mengklaim angkorwat sebagai milik Thailand menyebar luas di media lokal. Kabar tak berdasar itu menyulut amarah rakyat Kamboja. Kerusuhan meletus di Pnompen. Kedutaan besar Thailand dibakar. Hotel dan toko milik pengusaha Tai di jarah dan warga Thailand dievakuasi pulang dalam ketakutan. Pemerintah Hunsen saat itu dianggap gagal menenangkan masa dan bahkan dituduh diam-diam membiarkan amarah itu meluap demi kepentingan politik dalam negeri. Bagi banyak orang di Bangkok, insiden 2003 menjadi peringatan keras bahwa sentimen anti taiai di Kamboja bisa dipolitisasi kapan saja dan luka lama belum benar-benar sembuh. Persahabatan ekonomi ternyata bisa runtuh dalam sekejap jika fondasi sejarahnya tidak ditambal dengan jujur dan adil. Tepat ketika dunia mulai melupakan, Bara Lama kembali menyala di tahun 2008. Sengketa lama soal candi prea Viher yang selama ini membara di bawah permukaan meledak jadi ketegangan nyata. Ketika Kamboja berhasil mendaftarkan situs suci di perbatasan itu sebagai warisan dunia UNESCO, Thailand pun bergolak. Di tengah krisis politik dalam negeri yang panas antara kelompok kemeja kuning yang royalistik dan kemeja merah yang pro demokrasi. Isu perbatasan ini jadi bahan bakar baru untuk retorika nasionalis. Para politisi oposisi menuduh pemerintah Thailand menjual kedaulatan. Sementara militer mulai menunjukkan kekuatan di perbatasan. Bentrokan bersenjata pun pecah. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali antara tahun 2008 hingga 2011, dentuman artileri mengguncang bukit-bukit kapur di sekitar Preah Viher. Puluhan prajurit dan warga sipil tewas dan desa-desa di kedua sisi perbatasan dievakuasi. Kehidupan warga lokal yang selama ini hidup berdampingan tiba-tiba tercerai berai oleh geopolitik. Thailand menurunkan artileri berat sementara Kamboja mempertahankan posisinya dari medan bebatuan terjal. yang memberi keuntungan strategis. Kedua negara saling menuduh melanggar wilayah dan situasi hampir berubah jadi perang terbuka. Akhirnya pada tahun 2011, Fnom Pen kembali membawa perkara ini ke Mahkamah Internasional atau ICJ menuntut tafsir ulang atas keputusan tahun 1962 dan penarikan pasukan dari zona demiliterisasi. ICJ pada 2013 mempertegas wilayah sekitar Candi Viher adalah milik Kamboja. Putusan itu memerintahkan kedua negara menarik pasukan. Namun di lapangan perintah pengadilan tak langsung meredakan ketegangan. Implementasinya tetap alot, penuh dengan kecurigaan, patroli bersenjata, dan retorika panas. Dinamika kepemimpinan di kedua negara memainkan peran penting dalam mencetak jejak hubungan mereka. Taksin Shinawatra Perdana Menteri Thailand dari tahun 2001 hingga 2006 memiliki hubungan yang sangat dekat bahkan kontroversial dengan Hunen pemimpin kuat Kamboja. Setelah taksin digulingkan melalui kudeta militer, Hunen memberinya posisi sebagai penasihat ekonomi. Sebuah langkah simbolis yang dianggap sebagai tamparan diplomatik bagi Bangkok. Sejak saat itu, hubungan bilateral kerap mengikuti arus politik internal Thailand. Pemerintahan yang dipimpin oleh keluarga Shinawatra, baik Taksin, adiknya Yinglak, maupun kini putrinya Paetong Tarn cenderung lebih pragmatis dan terbuka terhadap Venompen. Sebaliknya, faksi konservatif dan militer Thailand yang mendominasi pasca kudeta sering mengadopsi pendekatan keras penuh kecurigaan, terutama terhadap isu-isu perbatasan. Di sisi lain, Hunsen yang memerintah Kamboja sejak 1985 mahir memanfaatkan narasi eksternal, terutama ancaman dari Thailand untuk membangkitkan solidaritas nasional. Dalam retorika domestik, Thailand kerap digambarkan sebagai kekuatan besar yang selalu ingin mengintervensi urusan Kamboja. Transisi kekuasaan kepada putranya Hunmanet pada tahun 2023 sejauh ini belum mengubah strategi ini. Di balik konflik terdapat jalinan hubungan ekonomi dan sosial yang mendalam. Thailand adalah mitra dagang dan investor utama Kamboja. Ratusan ribu pekerja migran Kamboja mencari nafkah di Thailand meski sering menghadapi eksploitasi. Budaya pop Thailand seperti luktung, film dan sinetron sangat populer di Kamboja. Sementara masakan dan bahasa menunjukkan akar austroasiatik yang sama. Warga perbatasan sering memiliki ikatan kekerabatan lintas negara. Namun kedekatan ini ibarat pisau bermata dua. Ketika ketegangan politik memuncak seperti krisis Juli 2025, sentimen kebencian mudah dipicu memecah belah masyarakat yang sebenarnya saling terhubung secara kultural. Ekonomi juga menjadi korban penutupan perbatasan memutus rantai pasok dan menghentikan arus pekerja migran. Sejarah panjang Thailand dan Kamboja mengajarkan satu pelajaran pahit. Warisan kolonial dan trauma sejarah bisa menjadi senjata berbahaya di tangan elit politik yang mencari kambing hitam atau pemersatu semu. Sengketa candi kuno seperti Prea Vihear dan Tamuan Tom bukan sekadar pertikaian atas tanah, melainkan perebutan narasi sejarah dan identitas nasional. Setiap batu di candi itu menyimpan lapisan makna simbol keagamaan Hindu Buddha, saksi kejayaan Kemer, bukti klaim kolonial Prancis, medan pertempuran modern. Hubungan kedua bangsa adalah tarian rumit antara daya tarik dan tolakan, antara kesadaran akan akar budaya bersama dan ambisi nasional yang saling berbenturan. Eskalasi 2025 bukanlah kelalaian sejarah, melainkan kelanjutan tragis dari pola yang telah berulang selama berabad-abad. Ketika diplomasi gagal, ketika kepercayaan runtuh, dan ketika luka lama dibiarkan bernanah, maka candi-candi yang seharusnya menjadi tempat suci pun berubah menjadi benteng dan kuburan. Masa depan hubungan mereka bergantung pada kemampuan kedua bangsa dan masyarakatnya untuk memisahkan warisan sejarah yang membanggakan dari beban sejarah yang membelenggu. Menemukan jalan rekonsiliasi yang menghormati masa lalu tanpa dikendalikan oleh hantu-hantunya. เฮ

Asia Tenggara kembali bergolak! Perbatasan Thailand dan Kamboja berubah menjadi medan perang, dengan dentuman artileri dan ledakan roket yang menghancurkan desa-desa, memaksa ratusan ribu warga mengungsi dalam kepanikan. Jet tempur F-16 dan roket Grad bersahut-sahutan di langit, sementara di darat, baku tembak pecah di sekitar candi kuno yang selama ini diperebutkan dua negara.

Namun konflik ini bukan sekadar perebutan tanah. Ini adalah letusan dari bara dendam sejarah yang terpendam sejak era kolonial Prancis, ketika batas wilayah digambar semaunya. Ditambah lagi intrik politik, krisis kekuasaan di Thailand, dan keterlibatan kekuatan global seperti China dan Amerika—semua berpadu dalam pusaran konflik yang tak lagi bisa dikendalikan.

Apakah ini hanya gesekan biasa di perbatasan, atau awal dari perang besar yang akan menyeret kawasan? Dan apakah ASEAN sanggup mencegah kehancuran yang lebih luas, atau justru menjadi penonton di tengah krisis regional terbesar dalam satu dekade terakhir?

#PerangThailandKamboja #GeopolitikASEAN #KonflikAsiaTenggara #ThailandVsKamboja #preahvihear #fenomadic #perangmodern #beritainternasional #KrisisPerbatasan #geopolitik #thailand #cambodia