Buntut Kasus Pemalang! HRS Ultimatum Tegas 1×24 Jam untuk Tindakan Penangkapan atau FPI Bergerak!
Karena itu saya minta kejar pelaku tangkapkan ke penjara. Begitu juga Kapores. Kalau Bapak dan Bapak Kapoles tidak bekerja satu 24 jam, kami akan kirim pejuang-pejuang Islam. Dalam waktu satu kali 24 jam, jika pelaku tidak ditangkap, maka kami akan kirim pejuang-pejuang Islam. Pernyataan tegas ini dilontarkan oleh Habib Rizik Sihap usai bentrokan memanas antara ormas FPI dan PWILS. Situasi di Pemalang berubah jadi pusat perhatian nasional. Apa pemicunya? Siapa yang harus bertanggung jawab? Dan bagaimana aparat merespons tekanan dari kedua kubu? Ketegangan antara ormas Front Pembela Islam FPI dan Perjuangan Wali Songo Indonesia laskar Sabilillah PWILS bukan konflik yang terjadi secara mendadak. Akar permasalahan ini telah tumbuh sejak sekitar 2 seteng tahun lalu dan isu utamanya berpusat pada topik yang sangat sensitif, klaim nasab Baalawi. PWILS secara terbuka menolak klaim garis keturunan tersebut yang mereka anggap tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat dan dianggap bertentangan dengan semangat nasionalisme Indonesia. Dalam berbagai forum, perwakilan PWILS mengkritisi narasi yang dianggap mengagungkan keturunan Arab sebagai lebih tinggi dari warga pribumi. Sikap ini sontak memantik reaksi keras dari kalangan pendukung FPI, khususnya simpatisan Habib Rizq yang dikenal sebagai tokoh sentral dalam mempertahankan keaslian nasabnya sebagai bagian dari Baalawi. Kondisi ini pun merambat dari diskusi daring ke lapangan nyata. PWS rutin menyuarakan kritik lewat media sosial dan forum terbuka. Sementara FPI menyikapinya sebagai penghinaan terhadap simbol agama dan leluhur para habaib. Narasi-narasi konfrontatif dari kedua belah pihak pun makin sering bertebaran di ruang publik. Pemerintah daerah khususnya di Pemalang sudah beberapa kali mencoba meredam ketegangan dengan pendekatan mediasi. Namun, gesekan di lapangan tetap terjadi meskipun belum sampai ke titik bentrok fisik. Bahkan dalam beberapa kesempatan, anggota FPI menyebut ada upaya sistematis dari PWILS untuk mempengaruhi generasi muda agar menjauh dari ulama keturunan. Tuduhan ini tentu saja dibantah keras oleh kubu PWILS. Latar konflik ini yang kemudian menjadi latar belakang utama saat Habib Rizik dijadwalkan hadir dalam pengajian akbar pada 23 Juli 2025. Banyak pihak was-was. Apakah agenda ini akan berjalan damai atau justru menjadi pemicu ledakan emosi dua kubu yang sudah saling curiga? Menjelang agenda besar pengajian Habib Rizik Sihap yang dijadwalkan pada 23 Juli 2025 di Pemalang, aparat pemerintah daerah tidak tinggal diam. Pada 16 Juli, 1 minggu sebelum acara diadakan rapat koordinasi cipta kondisi melibatkan berbagai pihak penting pemda, Polres, Kodim, serta perwakilan dari ormas FPI dan PWILS. Dalam rapat ini, semua pihak sepakat untuk menjaga kondusivitas. Beberapa poin penting yang dihasilkan dari koordinasi ini antara lain pengajian tetap dilaksanakan. Namun tanpa pengerahan masa besar-besaran. Isi ceramah diimbau tidak mengandung provokasi. Keamanan diperketat dan kerukunan antar warga diprioritaskan. Tapi kesepakatan tertulis tak selalu menjamin kenyamanan psikologis di lapangan. Beberapa intelijen lokal mencatat pergerakan simpatisan dari luar kota yang mulai berdatangan sejak H3. Mereka tidak membawa atribut ormas, namun dikenali sebagai bagian dari jaringan FPI dan simpatisan PWILS. Kegiatan patroli kepolisian ditingkatkan dan pengamanan mulai disiapkan secara terbuka maupun tertutup. Polres Pemalang memetakkan beberapa titik rawan bentrokan terutama di sekitar lokasi acara, akses masuk dan jalur utama yang menghubungkan dua basis ormas tersebut. Aparat juga mendapat laporan mengenai potensi gangguan dari pihak yang ingin mengacaukan acara dengan menyebarkan informasi palsu lewat media sosial. Dalam briefing internal, Kapolres AKBP Ek Sunario menyatakan bahwa acara ini bukan sekadar pengajian biasa, tapi momen sensitif yang harus dikawal maksimal. Bahkan TNI pun turut diminta bersiaga jika sewaktu-waktu diperlukan tindakan cepat. FPI di sisi lain menegaskan bahwa acara ini murni keagamaan dan kehadiran Habib Rizq hanya dalam kapasitas sebagai ulama dan tokoh dakwah. Namun dari internal PWLS muncul kekhawatiran bahwa ceramah akan dijadikan ajang serangan balik terhadap penolakan klaim nasab. Sementara itu, di media sosial suasana makin memanas. Kliping-kliping lama soal konflik BA Alawi kembali beredar. Komentar-komentar bernada provokatif bermunculan memperker suasana yang sebenarnya sudah sangat mudah terbakar. Pada titik ini, semua pihak berjalan di atas garis tipis antara menjaga suasana religius atau membiarkan konflik laten meledak tanpa kendali. Tanggal 23 Juli 2025 menjadi hari yang menegangkan di Pemalang. Dari pagi hingga malam, ribuan orang mulai berdatangan ke lokasi pengajian akbar yang menghadirkan Habib Rizq Sihab sebagai penceramah utama. Meski telah disepakati bahwa tidak akan ada pengerahan masa besar, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Sebanyak 675 personel gabungan dari Polri, TNI, Satpol, PP, dan instansi lain dikerahkan untuk mengamankan acara. Polisi mendirikan beberapa pos pengamanan dan memantau aktivitas massa sejak siang hari. Area sekitar panggung utama dijaga ketat. Beberapa drone pengawas juga tampak berputar di atas lokasi untuk memantau situasi secara real time. Ceramah dimulai pada malam hari dan berlangsung lancar hingga sekitar pukul 22 waktu Indonesia Barat. Namun ketegangan mulai meningkat ketika polisi memberi arahan kepada panitia agar rombongan Habib Rizi keluar melalui jalur belakang panggung, bukan lewat pintu utama seperti yang direncanakan. Pihak panitia menolak. Mereka menyatakan bahwa jalur belakang terlalu sempit dan tidak aman bagi rombongan yang membawa tokoh utama. Akhirnya ceramah tetap dilanjutkan di panggung utama dengan ratusan jemaah masih memadati area sekitar. Tepat pada pukul 23 hingga pukul 23.30 WIB. Pecah bentrokan sekitar 50 m dari panggung utama. Aksi saling lempar batu, kayu. Bahkan bata terjadi antara kelompok yang diduga dari PWILS dan simpatisan FPI. Kericuhan berlangsung cepat sekitar 30 menit, namun cukup untuk menimbulkan kepanikan besar di tengah jemaah. Informasi awal menyebutkan bahwa bentrok dipicu oleh saling ejek antara dua kelompok yang sebelumnya sudah berada di sisi berseberangan panggung. Aparat yang berjaga langsung membentuk barikade dan mengevakuasi massa yang terjebak di antara dua kubu yang berseteru. Tidak ditemukan senjata tajam, namun lemparan batu dan benda keras menyebabkan sejumlah korban mengalami luka serius. PWS mengklaim beberapa anggotanya mengalami luka di kepala. Bahkan satu orang dikabarkan nyaris kehilangan penglihatan akibat hantaman benda tumpul. Di sisi lain, FPI menyatakan bahwa pihak merekalah yang lebih dulu diserang dan hanya bertahan dengan alat-alat seadanya yang ada di sekitar lokasi. Sementara itu, ceramah tetap dilanjutkan hingga sekitar pukul 1 WB dini hari. Namun dengan penjagaan yang jauh lebih ketat dari aparat, banyak jemaah memilih meninggalkan lokasi lebih awal karena khawatir dengan kondisi yang sudah tidak kondusif. Kejadian ini sontak memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Dan pagi harinya pernyataan paling kontroversial pun muncul dari Habib Rizik. Puncak ceramah Habib Rizik Sihab yang digelar malam 23 Juli 2025 tak hanya menyita perhatian ribuan jemaah yang hadir, tetapi juga publik nasional. Di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya mereda akibat bentrokan yang pecah sekitar pukul 23 WIB, Habib Rizik justru mengambil sikap tegas langsung di atas panggung dengan nada keras dan penuh tekanan. Beliau menyatakan, “Kalau sampai besok pelaku penyerangan ini belum ditangkap, saya tegaskan dalam waktu 1 24 jam kami akan kirim pejuang-pejuang Islam untuk menuntut keadilan.” Pernyataan ini disampaikan tidak lama setelah aparat berhasil memukul mundur masa yang bentrok di sisi panggung. Jemaah yang tadinya mulai tenang kembali bergemuruh. Sebagian mengacungkan tangan dan bersorak, sebagian lainnya menunduk meresapi makna pernyataan itu. Tak lama, potongan ceramah itu tersebar luas di media sosial. Video berdurasi 2 menit 14 detik memperlihatkan Habib Rizq dengan sorban putihnya berdiri tegak mengecam keras tindakan penyerangan terhadap umat yang sedang menuntut ilmu. Video itu kemudian menjadi viral dan memancing berbagai responsi. Banyak pihak menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk ultimatum terbuka kepada aparat keamanan. Bukan hanya itu, pernyataan ini secara tidak langsung juga dianggap sebagai panggilan mobilisasi bagi para simpatisan FPI di luar daerah. Narasi pejuang Islam menjadi bahan perbincangan dan analisa oleh para pengamat keamanan dan politik. Pihak kepolisian yang sudah berjaga sejak sore langsung meningkatkan pengamanan pasca pernyataan itu. Pos penjagaan ditambah, patroli diperluas. Aparat juga melakukan swipping di jalur-jalur keluar masuk Pemalang untuk mencegah gelombang massa dari luar kota. Dalam laporan internal yang bocor ke media disebutkan bahwa sejumlah simpatisan dari wilayah Cirebon dan Tegal telah bergerak menuju lokasi pasca ceramah meski hingga dini hari belum terjadi kerumunan baru. Sementara itu, tokoh PWILS Andi Rustono dalam konferensi Persia dari menanggapi keras pernyataan tersebut. Ia menyebut bahwa Habib Rizik telah melanggar komitmen awal untuk menjaga suasana damai dan menyebut pernyataan pejuang Islam itu sebagai bentuk intimidasi terbuka terhadap masyarakat sipil. Ceramah yang seharusnya menjadi ajang dakwah kini berubah menjadi panggung eskalasi tanggal 24 Juli 2025. Situasi Pemalang di pagi hari terlihat tenang, tapi suasana batin masyarakat jauh dari kata damai. Pasca bentrokan dan pernyataan langsung Habib Rizik Sihap malam sebelumnya, perhatian publik, media nasional hingga lembaga negara langsung mengarah ke satu titik. Bagaimana aparat akan merespon? Kapolres Pemalang AKBP Ekos Sunario dalam konferensi persyatakan bahwa kondisi telah dikendalikan. Ia menyebut pengamanan ditingkatkan dan personel masih disiagakan di beberapa titik untuk mengantisipasi bentrokan susulan. Polisi juga melakukan patroli keliling hingga radius 5 km dari lokasi pengajian untuk menjaga keamanan warga. Namun data lapangan menunjukkan skala kerusuhan yang tidak kecil. Total korban luka mencapai 15 orang dengan rincian sebagai berikut. anggota PWILS mengalami luka. Dua di antaranya luka berat di bagian kepala dan mata. Dua anggota FPI juga mengalami luka diduga akibat lemparan benda keras. Empat anggota kepolisian terluka saat melerai bentrokan. Dua harus dirawat intensif di rumah sakit. Sementara dua lainnya mendapat perawatan jalan. Dari sisi hukum, pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa mereka telah mengantongi beberapa nama yang diduga terlibat langsung dalam insiden kekerasan malam itu. Namun, belum ada penangkapan resmi yang diumumkan. Hal ini memicu tekanan dari kubu FPI yang menganggap aparat bergerak lamban. Di sisi lain, PWILS mendesak perlindungan hukum dan meminta agar narasi mobilisasi pejuang Islam ditindak sebagai bentuk ancaman terhadap warga sipil. Respons publik pun terpolarisasi. Di media sosial, tagar tegakan hukum dan pejuang Islam mulai trending secara bersamaan. Saling sindir antar pendukung makin ramai. Bahkan beberapa LSM dan tokoh publik mulai angkat bicara menyerukan agar negara tidak tunduk pada tekanan ormas manapun. Pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri dan Kantor Staf Presiden menyatakan tengah memantau situasi. Tidak ada intervensi langsung. Namun, aparat daerah diinstruksikan untuk menjaga netralitas dan supremasi hukum. Habib Rizik sendiri tidak kembali mengeluarkan pernyataan tambahan hingga berita ini diturunkan. Namun, simpatisan FPI di berbagai daerah mulai menggelar doa bersama dan aksi solidaritas. Mereka menuntut keadilan atas insiden Pemalang dan menegaskan bahwa umat Islam tidak boleh terus-menerus menjadi korban tanpa pembelaan. Di lain sisi, PWILS menyatakan akan terus melaporkan kasus ini ke jalur hukum dan mendesak Komnas HAM serta Kompolnas untuk turun tangan mengawasi penanganan perkara. Mereka juga meminta jaminan keselamatan bagi anggota mereka yang masih dirawat akibat bentrokan. Konflik yang bermula dari persoalan nasab kini melebar menjadi ujian serius bagi penegakan hukum dan ketahanan sosial masyarakat. Mampukah negara meredam konflik tanpa memihak ataukah ini akan menjadi babak awal dari gesekan horizontal yang lebih luas? Yeah.
Ketegangan meningkat pasca insiden yang terjadi di Pemalang. Habib Rizieq Shihab (HRS) memberikan ultimatum tegas kepada pihak berwenang: dalam waktu 1×24 jam, pelaku harus ditangkap atau Front Persaudaraan Islam (FPI) akan mengambil langkah sendiri. Video ini membahas kronologi kejadian, reaksi keras dari HRS, serta respons masyarakat terhadap pernyataan tersebut.
Apakah ini akan memicu gelombang aksi baru? Simak narasi lengkapnya hanya di channel ini.
Disclaimer:
Video ini merupakan narasi campuran antara fakta dan opini publik yang disusun ulang dalam bentuk storytelling informatif. Beberapa bagian mungkin telah didramatisasi untuk kepentingan penyajian visual dan naratif. Kami tidak bermaksud menyinggung pihak manapun. Semua konten dalam video ini bukan ajakan, provokasi, atau hasutan, melainkan representasi atas dinamika sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Kami menjunjung tinggi netralitas dan tidak terafiliasi dengan organisasi atau tokoh manapun.
Jika ada pihak yang merasa dirugikan, silakan hubungi kami secara baik-baik melalui kontak yang tersedia.