Ijazah Jokowi Makin Panas! Terungkap Fakta Mencengangkan dari Pasar Pramuka | Rakyat Bersuara
Ya, kita silaturahmi sebelum ini sebelum ini Bapak tahu enggak reuni terakhir kapan? Saya tidak bisa bicara reuni terakhir. Saya tidak tanya untuk masalah reuni terakhir. Yang pernah reuni, tahu-tahu reuni loh. Oh, enggak enggak begini. Jangan dipotong ya adinda kami ini jangan dipotong. Jadi biarkan bukan kita tidak bicara adinda adinda di sini kita berbicara masalah karena kan di sini namanya itu disebut dibilang peserta dalam jangan dipotong. Kalau kita bicara, Anda, Anda membiasakan setiap orang berbicara main potong. ini juga ada host hostnya ini menjelaskan agar tidak menimbulkan ada etika gitu loh ada etika yang harus dilakukan menyampaikan jangan bukan kita konteksnya wibowo bilang tidak apa pertanyaan anda bukan host yang host adalah sih ini oke tudingan ijazah palsu. Presiden Ketu Republik Indonesia Joko Widodo belum juga meredah berpekan-pekan berderu merambat ke mana-mana dari Universitas Gadjah Mada menyasar ke Pasar Pramuka Jakarta. Pembela Jokowi meyakini ada upaya mengkriminalisasi sang presiden ketujuh RI. Itu eksklusif saksi kunci tim Jokowi di Solo, Jawa Tengah. Hari ini buka suara. Kita akan buka-bukaan di sini. Benarkah ijazah Jokowi Sah? Palsu? atau ada hal lain. Lalu bagaimana buktinya? Saya Aiman Ucaksono. Inilah rakyat bersuara. Saya akan langsung manggilkan ke panggung rakyat bersuara. Selamat datang Bung Adik Darmawan, Sekjen Peradi Bersatu. Oke. Wah, bawa buku ini. Wah, apa bukunya ini? Ini Bung. Iya. Jadi kebetulan Bu Iman ini buat bersuara ya. Saya berikan buku dari Ketua Umum Prad Bersatu ya, membuat khusus buku ini. Oke. Judulnya Jokowi. Jokowi pelaku pelaku pemalsuan atau korban kriminalisasi. Kita bahas pas itu, Bung. Makasih. Saya terima ya. Oke, terimaasih. Sebelah mana? Sebelah sini. Silakan. Baik. Lalu kemudian selanjutnya saya akan panggilkan politisi senior yang merupakan ketua umum Prodem, Bung Bor Suryadi. Beberapa hari kita mendengar. Bung Betor, terima kasih telah hadir di Rakyat Bersuara. Katanya mau buka-bukaan di sini. Kita persilakan nanti. Silakan, Bang Betor, ya. Terima kasih atas undangannya Pak Aiman. Terima kasih juga supaya kita menjadi jelas ke mana ini sebenarnya. Terima kasih. Dipegang aja enggak apa-apa Buer. Tapi jangan dibawa pulang. Selanjutnya saya enggak tahu bawa apa hari ini ya. Bung Roy Suryo, pakar telematika. Oke. Kalau bajunya sudah hitam-hitam artinya ada sesuatu yang disembunyikan. Wah. Artinya supaya tidak terus menjadi hitam harus dibikin terang. Oke. Oke. Bikin terang bagus juga podcastnya itu. Oke. Dan harus jelas nanti. Enggak asal cuman tok aja. Oke. Selanjutnya Bung Rally Reagen, pengurus DPP Bara JP. Jadi Bara JP singkatannya apa, Bang? Reli. Bang Rally ya. Barisan jalan perubahan. Barisan jalan perubahan. Jalan perubahan. Kan ada Jokowiya enggak ada BJP? Enggak ada. Ya, itu awalnya dulu waktu 2014 itu barisan relawan Jokowi Presiden. Oke, sekarang jadi jalan perubahan. Silakan. Baik, saya panggilkan pula Bung Pitra Romadoni, Presiden petisi ahli sekaligus praktisi hukum. Selalu dengan mawarnya, mawar merah. Siap. Terima kasih, Bang. Terima kasih Bang Mitra. Dan Bung Rismonanipar, ahli digital forensik. Bung Rismon sudah mengambil alih tugas jurnalis karena menginvestigasi ke mana-mana. Bantahan Pak Kasmujo sangat telak. Oke, nanti kita bisa dibantah. Sudah langsung ngegas nih. Oke, dan bersama para mahasiswa turut hadir Kolonel Purnawirawan Sri Raja Sacandra ek anggota Badan Intelijen Negara BIN. Kalau dulu masih bin belum boleh ngomong bin ya, Pak. Sekarang kalau X sudah enggak apa-apa. Mata-mata, Pak. Mata-mata. Oke, sekarang kan udah udah udah dan saya akan hadirkan eksklusif di Rakyat Bersuara yang sering disebut-sebut oleh Bung Bor dan dituding oleh Bung Bor sebagai otak utama, pelaku utama dari pembuatan ijazah palsu Jokowi di Pasar Pramuka. Nanti korsi kalau saya salah ya. Saya panggilkan tetap di sana Pak Widodo ditemani dengan Bung Andi Azwan Wakil Ketua Jokowi Mania. Pak Widodo. Oke saya langsung ke Pak Wit. Pak Wit, saya mau tanya dulu Anda sedikit latar belakang karena ini penampilan perdana Anda eksklusif di Rakyat Bersuara INWs. Anda tim Pak Jokowi dari tahun berapa hingga tahun berapa dan apa yang Anda lakukan ke situ ya. Iya. Jadi saya bisa lebih dekat lagi, Pak. Mohon maaf ya. Saya kenal Pak Jokowi dalam profesional pekerjaan. Jadi tahun 2000 2021 2001 iya sebelum jadi walikota. Bahkan sebelum jadi walikota. Oke. Iya. Sudah kenal Pak Jokowi? Sudah berkomunikasi mungkin dekat hubungannya bisnis mungkin atau apa, Pak? Ya, saya membantu dalam perusahaannya. Oke, itu 24 tahun lalu. Oke. Iya. Sampai tahun berapa, Pak? Mungkin bantu di Walikota, bantu di Jakarta waktu jadi gubernur, bantu hingga capres misalnya terakhir 2014. Artinya sampai capres pertama kali periode pertama Pak Jokowi itu Pak Widodo masih membantu. Masih. Jadi kalau disebutkan Pak Betor, Pak Widodo tahu soal ijazah Pak Jokowi. Ah nanti kita bicara soal itu. Oke. Saya ke Bung Betor kalau gitu sudah hadir sekarang. Anda pertama kali bertatap-tatapan ini eksklusif Bung Betor. Anda menyebutkan pakai mic ya. Anda menyebutkan salah satu aktor utama ijazah palsu Pak Jokowi adalah Pak Widodo dan Pak Widodo terkait dengan pembuatan ijazah di Pasar Pramuka untuk mengingatkan kepada publik Anda bisa menceritakan apa yang Anda sampaikan. Ya, terima kasih Mas Widodo. Kita sama-sama tadinya di barisan Jokowi sampai saya juga masuk di KSP. kita masih berjuang ya berjuang untuk Jokowi cuman terus dalam perjalanan ada yang berubah dari Jokowinya sekitar tahun 15 16 17 ketika Jokowi sudah melepaskan Nawacita terus dia apa meresavel orang-orang baik orang-orang pro rakyat itu ada Andrinov ada Yudi, Krisnandia dan segala macam itu kepentingannya Jokowi kita enggak bisa bahas apa keperluannya. Nah, saya melihat karena saya di dalam melihatnya seperti itu. Ada apa kok terus pecah kongsi dengan partai, partai kami. Jadi begini, saya sebelum membahas ini saya mau ceritakan dulu masalah ke depannya. Saya kan baru dapat informasi dari Mas Eko Sulistio ketua deputi saya. Mantan tim Solo juga itu. Iya. dia tim suluh termasuk Pak Widodo. Dalam penjelasannya Mas Eko bahwa pada 2005 Jokowi itu pakai dua dua doktorandes dan insinyur yang problem bagi kita yang dokterandis dari kampus mana, yang insinyur dari kampus mana sehingga itu berjalan sampai detik ini. Nah, itu kalau kita mau melihat. Jadi kami menjadi jadi bimbang ya selama selama selama selama 1985 sampai 2005 itu ada sekitar 20 tahun. Sebagai alumni UGM Jokowi enggak pernah datang ke kampus ketemu kawan-kawannya dan sebagainya. Dari dari mana infonya tuh, Pak? dari tahun 195 ke 2005 enggak ada kita dapat info bahwa dia ke tapi kan katanya-katanya berarti terus terus pada waktu dia menjadi walikota 10 tahun dia enggak pernah bikin reoni di Solo mengundang teman-temannya padahal anak-anak Solo yang alumninya UGM cukup banyak. Nah, dia membangga-banggakan di gambarnya, di fotonya bahwa dia ee adalah Mapala. Tapi setelah dia menjadi walikota itu enggak ada di undangan untuk Mepala itu. Nah, kita mendapat penjelasan juga mendapat penjelasan juga dari ee Rudi FX Rudi, Ketua DPC bahwa pada waktu 2005 itu proses administrasi ke KPU bukan dilakukan oleh kader partai, tapi oleh tim. Mungkin Pak Widodo paham. Karena itu terus ketemu Mas Eko. Mas Eko terus memberi penjelasan bahwa seharusnya setelah menang itu Pak Jokowi melakukan public eh apa namanya tuh expos supaya jelas siapa dia dan bagaimana. Itu penjelasan Mas Eko. Oke. Nah, jadi kalau sekarang ini begini begini begini terus artinya akar masalah tuh dari Solo itu tidak jelas. Oke. Ee untuk ke pasar pramukanya, Pak, hingga menyebutkan Pak Wit ini perlu diklarifikasi karena jangan sampai jadi fitnah. Jadi, setelah tim Solo itu masuk Jakarta kan dia ketemu nih sama kawan-kawan Jakarta. Oke. Nah, kawan-kawan Jakarta itu yang membantu untuk melengkapi dokumen yang kurang. Ini 2012 kurang lebih ya. Ya, sudah masuk situ. Nah, di situlah muncul nama-nama dari DKI itu kawan-kawan DKI. Di antaranya Pak Widodo gak? Pak Widodo dari sana. dari Oke. Oh, dari Solo. Oke. Setelah di Jakarta, apa yang dilakukan tadi? Ketemu teman-teman Jakarta mereka menyatakan bahwa Jokowi kurang dokumen dan itu yang dijelaskan oleh Deni Iskandar. Oke. Seharusnya sebenarnya bagus ini Deni Iskandar yang maju di sini. Kita coba undang tapi belum supaya ini semua terungkap. Kalau saya kan ketemunya itu begini. Ketika saya pulang dari Solo, dari Jogja, kawan-kawan dua ini kan luar biasa. And Pak, kita lanjutkan dulu. Deni Iskandar bilang kurang dokumen. Iya. Lalu ya diitlah dibentuklah itu dilengkapin. Dilengkapi ya. Dan itu adalah ijazah ya. Dokumdokumen itu sampai segala macam surat. Peran Pak Wit di mana? Pak Wit ini kan orang kepercayaannya percayaannya Jokowi. Pak Jokowi. Oke. Jadi yang mempertemukan Deni ke Pak apa ke Pak Jokowi. Jokowi ya. Pak Wit dong enggak ada yang kenal. Jadi oke. Jadi maksudnya yang membuat yang melengkapi dokumen tadi adalah Deni dan teman-teman di Jakarta. Jadi ada pertemuan antara kelompok Jakarta sama kelompok Solo. Baik. Terus ada pertemuan lagi di Cikini itu. Iya. Cikini itu pertemuanlah itu tiga orang dari Cikini itu terus berembuklah tentang kekurangan dokumen itu. Enggak disebutkan dokumennya apa ya? Saya enggak tahu yang tu mereka. Oke pokoknya ada kekurangan dokumen. Nah dokumen itu terus dilengkapin supaya bisa disetor ke KPUD. Heeh. Nah itu sampai menyebut Pasar Pramuka dan Pak W itu gimana ceritanya? Nah saya kejar Deni. Oke. Saya kejar Deni. Saya bilang, “Den, peran kau sampai mana?” Aku sampai draf. draf-draf itu dia bilang dia ngatur karena dia ini adalah anggota partai yang berkawan banyak dengan kawan-kawan KPUD. Jadi persyaratan-persyaratan di KPU di hafal itu Deni Deni PDIP waktu itu sampai sekarang masih oh masih sekarang. Oke. Dia yang paham karena dia yang sering ke sana. Nah pada saya waktu saya kejar kau ikut enggak ke Prambuka? Oh, itu cuman Widodo kata dia. Oke. Untuk membuat ijazah semua dokumen. Semua dokumen apa aja yang Bapak sampai Bapak dapatkan waktu itu informasinya? Ya, semua dokumen yang kurang. Apa aja yang tahu Pak Jodoh. Oke. Ke Pasar Pramuka ya milik Pak Paiman. Ah, saya enggak tahu itu yang ketemu Pak Paiman beliau bukan saya. Boleh tambahkan soal ini, Pak. Biar kita nanti sekaligus Pak Widodo menjawab. Iya. Kalau saya sih sebenarnya ee yang Pak Paiman itu apa? Ketemu dengan Prof. Paiman itu adalah ketika awal Mei yang lalu itu mendadak ee ada seorang yang memang saya kenal Prof. Paiman itu kan dulu kan ee sempat jadi debuti di Kementerian Pemuda dan Olahraga. Mendadak ini ini enggak ada enggak ada hujan, enggak ada angin ya kalau dalam bahasa serulatnya itu mak betunduk gitu. Tiba-tiba kirim WA ke saya dan mengatakan ee awalnya salam Mas Roi. Gini gini gini apa kabar gini. Nah, tapi di tengah-tengah ee dia bilang kalau saya diminta untuk menyetop ee apa kegiatan ilmiah saya tentang penelitian soal ijazah dan skripsi itu ya. Karena itu saya dia bilang saya sudah pegang yang asli gitu. Jadi, loh kok saya kaget? Karena itu saya terima tuh pagi-pagi saya lagi nyopir pagi-pagi saya terima panjang banget baru saya baca siangnya Mas Aiman. Dan ketika saya baca itu terus terang saya enggak nyaman karena dia bilang gini, dia bilang, “Sudahlah Mas, Anda harus minta maaf kepada Pak Jokowi.” Saya bilang, “Apa-apaan orang ini kok nyuruh saya minta maaf kepada Jokowi?” Terus malah dia pada kalimatnya dia nulis gitu bahwa kalau Anda ee tidak melakukan ini, maka hidup Anda tidak akan tenang dan damai. Oke. Weh, ini ini enggak benar nih orang ini, gitu. Jadi ee karena mesel awalnya apa sopan-sopan, tapi kok belakangnya kok kayak gitu. Tapi itu saya diamkan, Mas Aiman. Oke. Enggak. Yang yang saya pertanyaan saya adalah apa kaitan Pak Wit, Pak Paiman dengan pasar pramuka dan ijazah Pak Joko? Ini ini kan bagaikan puzzle ya. Ini bagaikan pasel. Saya memegang pasel Prof. Paiman ee ketika Prof. Paiman itu ee ketika kemudian WA ke saya itu ya yang pertama. Kemudian ketika saya buka WA itu kepada publik, Prof. Paiman minta maaf ke saya bahwa saya tidak bermaksud melakukan intimidasi terhadap Mas Roi. Dan saya benar gitu. Dia mengatakan begitu, “Benar bahwa saya memiliki kios di Pasar Pramuka pada tahun dia nulis di situ pada tahun 97 sampai dengan tahun 2002.” Kios percetakan, kios pengetikan dan pembuatan skripsi dan lain sebagainya. Ya, gitu. Dia bilang, dia bilang di situ memang saya tidak punya percetakan. bilangnya di situ. Tapi yang menarik, Mas Aiman, saya bersama teman-teman dari salah satu podcast minggu yang lalu itu kebetulan kami terjun langsung ke Pasar Pramuka. Nama Prof. Paiman itu yang disusbut sebagai Pak Dosen itu masih dikenal di situ. Jadi bayangkan aja kalau dia bilang dia tahun 2002 katanya sudah pamit di situ. Kemudian tahun sekarang 2025 artinya sudah lebih dari 23 tahun ya orang-orang di situ masih kenal yang namanya Pak Dosen itu. Itu kan agak aneh gitu. Karena saya bolak-balik Anda maceriga itu. Iya karena apa? Dan ini ditambah dengan kebetulan ketika saya ee mendapati WA itu kebetulan memang saya komunikasi ini sahabat lama saya ketika saya masih di komisi 1 di bidang intelijen dengan Pak ee apa? Rajasa. Nah, Pak Rajasa punya temuan bagus soal Prof. Paiman ini. Nanti bisa dikasih ke sana. Artinya gini, Prof. Paiman ini tidak benar kalau hanya sampai tahun 2002 menurut info nanti bisa tanyakan ke Pak Rjasa sampai dengan tahun 2017. Jadi di sinilah masuk frame time-nya yang tadi sampaikan oleh Pak Bitor ketika tahun 2012 itu 2017. Bahkan saya sudah kirim ke INWS ya. Prof. Paiman sendiri secara mendadak juga tiba-tiba melakukan pertemuan dengan teman-teman X Pasar Pramuka pada awal Mei yang lalu. Ngapain ya orang ini kok kemudian merasa seperti apa ya ketakutan? Kalau saya sih feeling saya mengatakan orang ini kok agak ketakutan gitu. Kenapa dia harus begitu? Tapi ini enggak sekali loh ya. Prof. Pahiman mengatakan begitu, “Mas Aiman dan ini saya buka lagi di sini. Perlu diketahui pada saat kasus saya, Bang Rismon kemudian dr. Tifa itu sempat kami lapor ke Komnashham. Profiman ini sempat membuat atau dibuatkan video. Dia berlagak seolah sebagai seorang komisioner Komnash HAM. Terus dia mengatakan ini harus ditolak, ini harus ditolak.” Saya bilang orang ini ngapain sih kok terlalu jauh keterlibatannya? Jadi ini bukan ini saja. Jadi ee kalau seorang intelijen pasti tahulah saya dulu di komisi satu sekali lagi mitra saya adalah orang intelijen. Kita adalah selalu mengihat kalau ada orang tiba-tiba guilty feeling, tiba-tiba merasa bersalah, tiba-tiba ee minta maaf, tapi kemudian ketika kita paksa dengan e data-data, dia pasrah kan. Oke. Saya malah minta ke Inus, kalau perlu Prof. Paiman dihadirkan, kita sudah usahakan juga tapi. Nah, enggak datang kan tidak bersedia. Iya. dan dia sekarang nyebar kan wah saya anu saja saya sudah pasrah gini jadi memang kuncinya harusnya memang termasuk paiman ini. Intinya gini Mas Aiman intinya ini jangan dianggap sepele kalau memang kita ee publik itu tidak harus teman-teman ini misalnya mohon maaf seperti Pak Bitor, Pakiman, Mas Pak Widodo, ee Denis itu dipanggil oleh kepolisian di apa dilidik gitu loh. Sekarang kebetulan di depan ada Pak Widodo. Apa kaitan Pak Widodo menurut Mas Roy? Kalau saya sih enggak kenal Widodo ya. Saya saya tahu nama Pak Widodo itu hanya dari Jadi saya tidak saya yang bisa saya ceritakan hanya soal Prof. Paan nanti kita bicara soal Pak Paiman dengan Pak Rajasa. Tapi nanti setelah jeda tapi saya ingin tanya dulu ke Pak Wit. Pak Wit, ada yang mau dibantah soal ini? Saya tidak mau membantah, tapi saya mau menjelaskan apa yang selama ini tahun 2012 itu yang pernah saya alami, yang pernah saya ingat. Itu aja. Silakan, Pak. di sini. Saya datang di sini sebetulnya karena Mas saya abang saya ini. Kalau enggak abang saya ini saya enggak enggak enggak mau. Terima kasih. Saya enggak pernah melakukan itu. I satu. Yang kedua sebelum nanti ada pertanyaan saya kenal siapa enggak atau kenal atau enggak ini perlu saya sampaikan di awal yang terkait nama-nama yang beredar ya. Yang pertama di antaranya Mas Andi Wijayanto, Pak Prasetyo Edi Parsudi, terus Mas M yang dari Gerindra itu Sarif. Iya, Mas Deni Iskandar. Terus yang disebutkan Pak Betor sem iya. Indra Karmadipa dan Mm. David Anggit dan Pak Iman. saya kenal dan tahu. Oke. Yang enggak tahu saya yang namanya Yulianto. Saya enggak pernah tahu dan enggak pernah kenal gitu. Baik, saya mau menjelaskan ee atas empat tuduhan terhadap diri saya. Oke, yang pertama saya di tuduh aktivis Widodo. Selama ini saya enggak pernah melakukan kegiatan apapun yang terkait, kegiatan pergerakan atau aktivis sama sekali enggak. Enggak pernah. Yang saya lakukan adalah saya profesional sebagai kerja sama perusahaan swasta. Itu yang pertama. Yang kedua, saya dituduh sebagai administrasi untuk kelengkapan dokumen persyaratan calon di KPU. Pak Jokowi ini maksudnya. Iya. Dalam hal ini kan yang disampaikan kan kaitannya itu betul. Sementara ini saya enggak pernah dan enggak punya pengalaman di bidang itu. Dan Pak Jokowi juga enggak pernah menugaskan saya untuk ngurusi pekerjaan itu. Yang disuruh ke saya adalah selama walikota, walikota, gubernur itu adalah membantu pekerjaan bendahara. Oh, Anda bendahara, Pak Jokowi. Membantu pekerjaan bendahara dalam tim pemenangan. Oke. Jadi saya ditugaskan sebagai membantu tugas atau pekerjaan bendahara tim pemenangan. Dalam hal-hal ini saya membantu Pak Praso Edi Marsudi. Oke. Kalau dengan kaitannya 2012. Terus yang ketiga, saya dianggap katanya menghilang secara misterius. Ini luar biasa, kan? Padahal saya enggak mau menceritakan dari 2012 sampai 2005. Saya menceritakan 2024 aja. Ketika itu di Jakarta Selatan dan di sini ada saksinya. Saya ketemu dalam satu ruangan berbicara sampai 1 jam lebih. Saksinya adalah boleh saya sebut Mas? Silakan. Mas Aiman sendiri. Oke. Iya. Saya sempat temuin ana untuk meyakinkan untuk menghadirkan ke sini. Iya kan? Terus yang kedua, saya di 2025 banyak terlibat dan berinteraksi ee sama senior-senior partai. Dan enggak mungkin saya sebutkan satu persatu karena itu etika. Saya harus konfirmasi beliau dulu. Nanti kaitannya seperti apa nanti takutnya saya salah ngomong. Kalau mau misalnya bukti nanti kita bisa konfirmasi sama beliau-beliaunya dulu. itu. Jadi, dan nomor HP saya sampai sekarang masih sama dan DP profil WhatsApp saya ada fotonya. Jadi saya enggak ke mana-mana. Soal kekurangan dokumen, Anda sempat tahu, Pak Wit, waktu 2000. Betul. Betul. Sebentar, sebentar. 12 mencelang Cag DKI waktu. Sebentar. Ini kan ada tiga, ada empat tuduhan. Oke, yang tuduhan keempat ini katanya saya otak pemalsuan di pasar Pamuka ijazah Iya. Pak Jokowi ditudingnya seperti itu. Jadi begini saya sebutkan aja yang setahu saya setahu saya orang yang diajak Pak Jokowi orang Solo itu ada enam. Saya sebut aja satu yang namanya David. Oke. Yang kedua Anggit. Yang ketiga Muhammad Isnaini, yang selanjutnya Widodo saya. Dan yang terakhir Sigit Widyawan. Oke. Itu saya kenal semua eh sama Eko Sulistiao. Oke. Jadi ada enam pasigit yang sempat di salah satu bank BWMN ya. Saya kurang tahu itu. Iya. Jadi lah pada kesempatan ini saya jelaskan enam orang itu diajak Pak Jokowi enggak berbarengan. Ada tiga tahap. Jadi tahap pertama empat orang. Yang pertama David, Anggit, Muhammad Isnaini, dan Eko Sulistianto. Itu pada saat pendaftaran, sebelum pendaftaran sampai pendaftaran. Oke. Terus tahap kedua yang namanya Widodo itu tahap setelah pendaftaran sebelum kampanye. Oke. Karena saya tugas saya membantu bendahara, jadi enggak ada korelasinya pekerjaan untuk pemenuhan dokumen itu. Terus selanjutnya tahap yang ketiga itu pada saat kampanye itu sigit Widyawan. Oke. Oke. Ini DKI waktu itu ya. Cup. Baik. Lah setelah itu saya kenal Paiman itu juga pada saat akhir kampanye. [Musik] Sebagai apa waktu itu kenal ya, Pak? Dia ketua relawan. Tahun berapa itu, Pak? 2012. Oke. Itu ketua relawan waktu itu 2012 sudah kenal Pak Paiman ya? Iya. Ya. Catat dulu. ini saya kenal tapi pada saat akhir kampanye oke 2012 karena dia sebagai ketua relawan di situ gitu. Oke. Saya kenal Deni Iskandar. Jadi sebelum saya jelaskan ke situ, saya kerjakarta itu saya dikenalkan ke Pak Pras. Pak Pras Setyo Edi Marsudi karena sebagai bendahara. Lah waktu ketemu Pak Pras sendiri itu pada saat Pak Jokowi bulusukan, Pak Pras di pinggir jalan. Dia pakai baju putih pendek, lean pendek pakai kerah. Setelah acara selesai saya diajak ke posco pemenangan, Jalan Borobudur 22. Menteng. Bukan Jalan Menteng nomor 22. Enggak ada itu. Saya enggak pernah tahu di situ. Tulis Borobudurnya enggak ketulis. Oke. Borobudur dua-dua. Oke. Jadi saya pikir dengan jawaban saya lah. Akhirnya saya itu ke posco ke ruangannya Pak Pras. Di situ ada lagi. Saya enggak mau nyebut nama tapi saya enggak mau melebar ke mana-mana. Saya sebut inisialnya aja. Timnya Pak Pras dalam bendahara itu satu cowok namanya inisialnya M. satu cewek nama istri inisialnya N M dan N Mama dan November ya. Oke. Di situlah ruangan akhirnya saya dikasih meja satu kursi untuk bekerja di situ tiap hari untuk mengerjakan di situ. Oke, sebentar nanti kita akan lanjutkan. Tapi tadi Mas Roy mengatakan ada yang menarik kenal Pak Paiman tahun 2012. Jangan dijawab dulu, kita akan segera kembali saat lagi tetap bersama kami di Rakyat Bersuara. Menarik ya. [Musik] [Musik] Oke, saya lanjutkan langsung ke Mas. Masore tadi bilang menarik. Menarik sampai tiga kali ngomong menarik. Ada apa yang menarik? Iya gini. Jadi satu ya ee kalau saya yang kebetulan dulu sempat sekali lagi ya nanti mungkin Pak apa Pak Sri Rajasa lebih bisa menangani. Kalau kita ee sedang mendengar keterangan orang ya, keterangan dari Pak Wit ini kalau menurut saya ya masih belum sepenuhnya gitu ya. Maksudnya masih belum berani bilang sepenuhnya karena apalagi tadi masih ada yang ditutupi maksudnya sangat. Apalagi tadi dia bilang saya enggak membantah. Lah kalau Mbak membantah itu penting Pak loh tidak membantah pernyataan Pak Bitor. Iya kan? Soal ijazah tadi kan dibantah lah. Iya. Saya hanya istilahnya apa yang saya alami lah sekarang nanti masyarakat yang menilai apa saya terlibat atau enggak. Dari keterangan saya sudah jelas. I itu aja. Tadi kalimat pertamanya Bapak akan bilang kalimatnya Pak Bitor saya tidak mau bantah. Betul. Iya lah. Iya sudahudah saya enggak bantah. Tapi saya hanya mau menjelaskan at tuduhan itu. Ya sudah itu hanya tinggal itu hanya bahasa aja Pak. Betul. Itu tinggal kalau kepintaran penyidik nanti baru kebuka semua ya gitu. Itu ya silakan aja. Iya sudah saksi ada masih hidup semua. Silakan. Iya Pak Wi. Terima kasih ya. Yang kedua adalah yang menarik apa? Tadi Pak Wit menceritakan pertemuannya dengan seorang profesor P tadi, Prof. Paiman ya pada tahun 2012 lah. Ini memang lagi-lagi Mas Aiman. Sayangnya memang Prof. Paiman tuh enggak berani hadir. Kalau hadir sudah habis semua keterangannya. Karena Prof. Paiman itu selalu mengatakan saya hanya buka kias itu dari 97 sampai dengan 2002. Habis itu saya tidak lagi aktif di situ karena saya sudah menjadi prodi di salah satu universitas. Oke. Dan tidak lagi berbisnis apapun. Jadi kita anggap kalau seorang dosen terus dia di kampus padahal banyak dia masih bisnis sebenarnya. Kiosnya di Pasar Pramuka itu masih buka hanya dia mundur. Dia masih buka usaha rumah makan di Kemayoran. dia masih ada usaha yang lain ya. Jadi dia terus masih aktif sampai tahun 2017. Jadi ini sebenarnya mengkonfirmasi terima kasih Pak Wit. Jenengan membantu menegasikan apa yang disampaikan oleh Pak Profesor Paiman. Apa kaitannya? Kan karena dikenal 2012. Iya sebagai relawan kan? Sebagai relawan kan enggak kaitan ke toko. Betul ke kios. Prof. Paiman mengatakan dia tidak lagi terlibat itu semenjak di kampus. terlibat untuk untuk semua urusan selain kampus. Oh, Pak Paiman bilang seperti itu. Pak Paiman bilang makanya enggak apa-apa kita enggak usah ngibah Pak Paiman. Oke. Kalau Profiman hadir dia akan kemudian bisa menjelaskan. Saya kira kita enggak enggak enggak fair kalau membicarakan Profiman tanpa kehadiran Prof. Paiman I ya mungkin Mas aku bisa ini ya. Aku baru kemarin ketemu Mas Paiman. Iya. Ketemu Pak Paiman kemarin ketemu kemarin. Jadi dia juga menjelaskan ya kalau bicara apa 2012 ya beliau itu adalah memang direktur pasca sarjana Mustopo Beragama I ya betul ya dan jika memang mempunyai bisnis betul itu harus punya bisnis bisnis properti Pak Iman ya namanya PT Prima Sejati dan juga mempunyai yayasan untuk itu. Apa masalahnya ya? Kalau menjadi dosen dan mempunyai bisnis ini kan bukan pegawai negeri ataupun di universitas negeri misalnya ya kan Mas Roy juga punya pasti bisnis ada kan begitu Mas Roy. Jadi kan intinya gitu di mana salahnya gitu loh. Kalau dia beliau menjadi relawan sedulur Jokowi itu kan relawan apakah dia terjun langsung di sana? Kan enggak ada Sekjeneng ya kan ada OKK dan sebagainya. Tahun berapa jadi relawahan? 2012 saya di sana ya sudahudah saya di sana gitu loh Mas Roy ya. Apa yang dikatakan Pak Widodo itu apa adanya di ditambahkan pula sama Mas Pra sebagai bendara umum. saya di divisi saya, saya di sana berinteraksi berinteraksi langsung dengan teman-teman dari relawan. Ada Sedulur Jokowi, ada RKIH ya, ada GK dan banyak lainnya gitu loh. Dan itulah relawan pertama politik di Indonesia. Oke, gitu loh, Mas. Oke. Baik ya. Saya menggambarkan untuk itu loh, ya. Enggak apa-apa. Artinya di sini ada ketidakkonsistenan dari statement Prof. Paiman yang ada. Apalagi ya setahu saya dia sempat ngaku-ngaku juga selaku Komnas HAM segala. I saya kira gini enggak baik juga kita bicarakan orang yang orangnya tidak itu menimbulkan fitnah karena tidak ada counter attack daripada orang yang bersangkutan. Kalau tadi tok Pak Wit dan Pak Wit dan Bung Betor, Pak Betor yang pertama saya ingin sampaikan dari segi pandangan hukum. Saya selaku Presiden petisi ahli sangat sedih melihat persoalan ini karena kita di sini sudah melebihi hakim menghakimi orang kan gitu seperti tuduhan ijazah palsu. Padahal proses pemeriksaan baik di penyelidikan, penyidikan, penuntutan, maupun proses pemeriksaan di pengadilan belum ada terkait itu yang memutuskan ijazah itu palsu. Jadi itu namanya main hakim sendiri. Terus yang kedua, di dalam keterangan daripada Pak Widodo tadi sudah jelas diklarifikasi beliau bahwasanya tidak ada keterlibatan beliau dalam persoalan ijazah. Artinya ini sudah clear. Nah, kenapa beliau tadi tidak mau membantah? silakan aja orang berpendapat, tapi dia mengklarifikasi berdasarkan pengetahuan yang ia ketahui. Nah, yang menjadi persoalan sekarang adalah ketika Pak Betor ini masuk dalam perkara ini selaku politisi. Ah, ini yang menjadi persoalan. Berarti ini sudah masuk rana politik H dari pandangan hukum, bukan murni hukum lagi. Urgensi Bapak itu dalam masuk perkara itu apa, Pak Betor? Bapak kan seorang protisi. Iya. Saya tanya dulu urgensinya. Keikut serta kami saya di dalam kasus ini kan karena pertama itu ketika ketua umum kan menyatakan kalau punya tunjukkan siapa Bu Megawati katanya. Terus terus dibully. Berarti ini instruksi Bu Megawati dibully. Terus saya jawab enggak kalau itu inisiatif. Jadi gini, karena katanya kan Bu Ketuamu menginstruksikan berarti belum ada belum ada instruksi lah. tadi kata Bapak bahwasanya bilang berdasarkan arahan gitu kan tadi enggak ada yang barusan tadi saudara bilang apa tadi barusan ada lah kan saya bilang ini kan kami saya ikut kan setelah muncul pernyataan Ibu Mega terus Ibu Mega kan terus diserang sama apa netizen netizen-netizen ditanya PDI Perjuangan harus bertanggung jawab dong karena itu kan Jokowi adalah kader nah karena dibully begitu baru saya muncul saya tanya kepada kawan-kawan, “Siapa yang paham paham tentang kasus ijazah palsu muncul berarti saudara bertanya siapa yang paham gitu bukan saudara pelaku sejarah kan begitu kan saya harus menanya orang yang paham kan iya anda bertanya kan begitu dari keterangan saudara tadi kalau enggak bertanya dalam hukum itu saudara itu namanya testimoni di audit itu Pak kita ini saya berbicara dari segi hukum iya bagus ya bagus testimoni di audi itu artinya iya bagus kesaksian orang yang ia dengarkan dari cerita-cerita orang lain Iya. Bukan pelaku utama. Lain halnya kalau Bapak sendiri yang melihat menyaksikan itu dibuat. Iya. Baru saya acungi jempol sama Bapak. Iya kan? Kalau Bapak sendiri yang melihat itu saya enggak bisa Bapak bilang pembohong gitu. Tapi kalau memang Bapak enggak saksikan itu langsung mohon maaf saya menduga Bapak ini sedang berbohong malam ini. Oh kan kita dengar dengar setelah saya melakukan pelacakan itu maka kan kita dapat informasi itu empat. Dapat dari dapat dari Solo bahwa Jokowi memang tidak Anda melacaknya ke mana? Ke Pak Eko Eko Sulistio ya kan dia ketua KPUD. Dia bilang bahwa Jokowi pada waktu itu hanya punya dua sarjana. Dua sarjana itulah yang seharusnya dibikin public rilis itu e expos itu. Dua dua ijazah maksudnya. Iya. Tapi kan enggak dibikin. Nah punya dua ijazah maksudnya gimana? Iya gelar. gelar itu kan dua gelar pada waktu di Solo Insinyur dan Dr. Andes. Nah, lalu pada waktu masuk ke Jakarta orang-orang Solo menyampaikan bahwa Jokowi kurang berkas, kurang dokumen, maka dibentuklah dokumen itu. Oke. Jadi kalau keterangan Bapak itu bukanlah saksi fakta tapi testimoni dia itu dalam hukum. Nah, sekarang menjadi fakta. Sekarang sekarang menjadi fakta. Bukan pertanyaan saya begini. Bapak sakit polis tunggu duluan muncul terus kawan-kawan Jogja muncul terus mau apagi bagi saya itu bagi saya itu saudaranya kosong gitu loh bagi saya urusan ijazah ini sudah selesai karena apa sudah muncul semuanya saudara saudara kan selesai terus setiap hari bahkan saya dapat informasi berita ada di berita saya lihat diduga calek PD itu banyak menggunakan ijazah palsu ada informasi lihat diangitu Pada waktu pada waktu pertama kali Pilkada pada waktu Pilkada ini harus dievaluasi nih sama itu pertambah-tambah Pilkada pertambalik PD kita enggak bicara kita enggak bicara tapi saya ingin tanya gini Pak Betor saya tanya anda mengatakan bahwa tadi itu bukan bukan saksi Anda bukan saksi fakta tapi sekarang sudah menjadi fakta apa yang bisa Anda jelaskan dari situ pakai pakai Pak berhentiin dulu bukan eh dia berhentiin dulu bukan masalah berhentinya Bungaiman saya ingin jelaskan biar Mereka ini paham hukum karena dia latar belakang dia kan politisi ya. Jadi saya bilang testimoni dia aud itu adalah bapak. Oke. Oke. Saya bapak bukan saksi fakta tapi katanya-katanya omon-omon gitu loh. Dia percuma gitu loh. Bilang oke nanti nanti saya beri kesempatan Bang. Nanti saya beres kesempatan. Silakan silakan silakan Pakor. Pak silakan ini sudah kalah 1000 kos nih debatinar tahan dulu saya mau dengarkan karena ini penting. Sekarang sudah menjadi fakta. Silakan Pak. Bang Mitra. Bang Mitra sebentar dulu. Kunci dulu sebentar. Setelah perjalanan ya kan dari mulai saksi ke saksi segala macam kan sekarang sudah terungkap. I yang tadinya saya menganggap itu Pak Widodo yang dapat informasi dari Pak Deni yang ke Pasar Pramuka. Ternyata tadi dia sudah kenal sama Pak Paiman itu. Jadi bagi saya semua sudah selesai. Jadi kalau mau mendalami ini kan harus polisi. Saya enggak perlu apa apanya yang selesai Pak? Sebentar saya tanya dulu. apanya yang selesai gitu ketika dia kenal dengan itu apanya yang selesai gini gini gini gini Bang Bitor kasih pencerahan kepada masyarakat Indonesia ini yang agak bagus artinya gini jangan katanya Pak kalau enggak katanya kata siapa ya ini pertanyaan buat Bapak bukan buat saya kan harus ada kata nanya ke Bapak gitu loh kan kita ketemu orang kalau kita belajar menyalukan survei ada apa iya buktinya mana ada sekunder, ada primer biar ini tidak jadi gosip ini harus jelaskan ya jelaskan agar katanya-katanya buktinya apa gitu sebelum situ. Sebelum situ. Jadi ada nama-nama yang Pak Betor dengar dari berbagai sumber. Kemudian hari ini dikonfirmasi ke Pak Widodo ternyata ada irisan soal waktu. Iya. Bukan soal apa yang dilakukan ya. Irisan soal waktu. Betul. Iya. Oke, seperti itu irisan soal waktu yang membuat ijazah palsunya begitu. Jadi gini, enggak enggak enggak saya tanya saya tanya, Bang. Iisan waktunya ini ini loh buat loh, Bang. Lu buat ya ijazah palsunya ya, Bang Widodo. Lu jalan ke Pasar Pramuka ada saksinya mana? Iya memang gue yang nyetak gitu loh. Iya. Mana orangnya? Deni namanya. Pakai itu Pak Deni namanya. Makin ngacau Bapak udah aduh capek ya kalau kamuap ngacau ya sudah halu Bapak ini halu tapi gini Pak Betor Pak Betor ini kan apa yang disampaikan punya konsekuensi hukum loh Pak dengar dulu dengar dulu semua nama yang aku sebut disebut sama Pak Widodo. Betul tapi kan apa yang dilakukan tidak ada en orang kan ada enam orang kan bahwa itu tim dari Solo kan tim Solo itu yang mengatakan bahwa Jokowi kurang dokumen bikinlah dokumen itu di Jakarta kan tim Solo. Hm. Ah, soal tim solonya itu kan dijelaskan sama Pak Widodo bukan dia. Mungkin ada yang lebih hebat di antara mereka. Saya tidak mau menyebut banyak orang. Saya cukup menyebut Pak Widodo saja karena apa? Dia bagian pemegang uang. Jadi saya pikir cukup cukup dia saja. Apa kaitannya memegang uang dengan kaitan tadi? Oh, kalau Anda menjadi tim pemenangan, uang itu segala-galanya. Oke. Jadi dari situ semua sebentar sebentar sebentar. Pak Bintor ini langsung depan Pak Widodo loh. Kemarin Pak Bintor sampaikan bahwa Pak ada keterlibatan Pak Widodo. Sekarang membangun alibi lagi. Pak Bintor sudah bilang ini megang keuangan ada hubungannya dengan pembuatan ijazah di pramuka. Itu saya rasa ini Pak Bintor ini ngarang. Sudah jelas ini. Terima kasih. Mungkin mungkin akan lebih baik apa yang saya sebut sudah diokkan sama Pak Widodo. Jadi soal siapa? Mereka ada pembagian tugas. Oke, yang dimaksud oleh Pak Widodo data saya ngomong kapan. Oke, Bang ngomongentarin orang di sini mulai dari Mas dilaporkan ke polisi nih ke polisi bertanggung jawabkan ke polisnya apa polisi sebentar sebentar. setuju setuju enggak dalam hal ini saya setuju gitu setuju tidak munculkan fitnah isu hangat kadang apalagi kalau kita tidak bisa mencerna dengan cermat jangan lupa secang kopi hangat nikmat untuk menemani kebersamaan dalam program rakyat bersuara bersama saya Aiman Ucoksono. Saya akan segera kembali. [Musik] Oke. Tadi disebutkan di siniutkan bahwa Pak Betor ini buktinya lemah, enggak bisa jadikan bukti ketika kasus hukum. Artinya malah justru di sini Pak Betor yang kemudian bisa jadi korban karena bisa justru malah dilaporkan. Oke, Pak Betor ada pembelaan soal itu pakai itu, Pak. Ini, Pak. Enggak. Kalau memang ada yang mau lapar, lapar. Pak Bor merasa bahwa itu buktinya kuat. Kalau enggak, enggak terbit itu enggak keluar namanya ijazah itu. Maksudnya lah itu saya kira itu bagus ya. Kita aminkan saja. Mudah-mudahan besok sudah ada pelapornya karena kan Bapak yang minta dilaporkan. Karena begini Buan Ban begini kenapa kenapa harus dilaporkan beliau? ya. Karena untuk membuktikan kebenarannya apakah itu hoaks atau tidak harus dilaporkan Pak nanti kan Bapak tinggal membuktikan gitu loh apakah tuduhan-tuduhan selama ini kepada Wibowo dan kawan-kawan itu benar. I 90% tadi sudah dijawab benar sama Pak Widado. Bukan jawaban benar Bang. I tidak mau menanggapi Bapak dia hanya menjawab berdasarkan yang sebelum Bang R kasih Bang Ris dulu kasih bawanya seperti itu Pak. Jadi jangan menyimpulkan Mas Fitra kita menghormati hari ini tuh ee ulang tahun ke-79 PORI ya kan bayangkara. I jadi artinya bagus kalau Bang tadi setuju untuk saya setuju dengan melapor ke polisi bukan hanya Bang semua yang disebut itu dilaporin Pak Widodo dilaporkan ya kan Denis dipanggil jadi begini begini begini enggak biar ini ini ngaur bukan karena bukan bukan enggak Bang Beton itu menyebut nama langsung persoalannya kan begitu beliau sudah menyebutkan Widodo. Nah, Widodo sudah membantah itu. Bantah di kepolisian di Prasetio Edinnya sudah membantah itu. Karena saya dapat informasi oke saya dulu akan ada laporan polisi terhadap betor. Oke, stop dulu yuk. Ya, ini peradi bersatu ini kan gitu. Nanti saya dengar tadi Bung Risma bilang bahwa apa yang disampaikan oleh Pak Betor ini kuat. Saya ingin mendengarkan sangat kuat ya. Sangat kuat bahkan. Iya. Saya berikan sejumlah indikator. Pertama, ini adalah presiden atau mantan presiden satu-satunya di dunia yang tidak berani menampilkan ijazahnya. Enggak ada satuun di dunia. Yang kedua, indikator kedua adalah Dirtipidum hanya berani menampilkan versi digital, bukan versi analog. Versi digital. Itu pun dari ijazah fotokopi. Coba bayangkan seorang dirtipidum kepolisian tidak berani menunjukkan memegang ijazah Jokowi yang katanya asli otentik atau identik. berikutnya ya kalau kita analisa ya dari ee versi digital yang di-upload oleh Saudara Dian Sandi itu memang sangat berbeda dengan apa yang di-upload oleh Frono Jiwo. Yang berbeda itu adalah ee blangkonya itu sangat berbeda. kita sudah melakukan analisa ya ee posisi dari huruf sejumlah huruf relatif terhadap logo dari eh UGM sebagai watermax itu. Logo UGM itu sebagai watermax. Jadi kalau bergeser maka belangkonya pasti berbeda ya. Perbedaan yang kedua adalah bahwa di ijazah Frono Jiwo itu ada tulisan banyak itu sebagai watermarks yaitu UGM, UGM UGM berulang berulang dia UGM, UGM UGMUGM dan itu sangat kentara ya tidak semi transparan atau bahkan hampir hilang dari apa yang di ee ijazah Joko Widodo yang di-upload oleh Dian Sandi Utama. Itu indikasi yang kuat ya. baru indikasi-indikasi lain. Jurusan teknologi kayu itu kan orang sangat konyol ya, orang yang pernah kuliah sampai jurusannya saja tidak tahu, tidak hafal atau tidak pernah mengetahui bahwa ee jurusan teknologi K itu enggak pernah ada. Tapi apa kaitannya dengan pernyataan Pak Betor? Anda katakan bahwa Pak Betor ini kuat. Apa kaitan dengan bukti-bukti yang Anda sebutkan tadi? Loh, begini, Pak. Kalau kami itu sebagai peneliti itu kan menunjukkan ya secara ilmiah bahwa ya apa yang di-upload oleh saudara Sandi Utama itu palsu. Yang kedua, lembar pengesahan skripsi yang sangat modern tersebut itu tidak pernah ada di dunia tahun 1985. Premis saya adalah skripsi palsu tak akan pernah menghasilkan ijazah yang asli. Jawaban kami jelas palsu. Nah, pertanyaannya kemudian di mana dipalsukan itu ijazah dan siapa yang memalsukan? Itu yang dikatakan Pak Betor petunjuk kami selesai tugas kami itu palsu. Dalam fake dokumen analisis jelas itu hasilnya palsu gitu. Anak-anak semester bentar bangsman itu beliau ini katanya-katanya. Bentar bentar. Masih bukan dia yang ketahui, tapi Anda tadi ngomong 10 menit saya dengar. Iya, saya paham. Artinya dari sudut pandang hukum juga berbeda dengan penelitian. Anda kan bukan latar belakang hukum penelitian. Iya. Makanya saya bilang tugas peneliti adalah menentukan palsu, fake, otentik. Oke. Kami dapatkan fake. Bukan Anda melakukan selanjutnya di mana dan siapa yang memalsukkan itu. Nah, di situlah kepolisian harusnya. Pertanyaan saya begini, ini saya enggak bisa ngomong bukan saya. Loh, jangan nanti besok dibilang pula termul kita gitu loh. Kita enggak ada relawan di sini. Udah banyak jadi korban pengajaran mawar beliau pengajaran mawar pengajar mawar ya. Ya, kita harus berbicara juga sesuai dengan konteks hukum di sini. Artinya yang disampaikan oleh Pak Bor itu adalah testimoni di audit. Temuan-temuan saya dulu biar masyarakat tahu ilmia kalau hukum banyak adalah temuan digital, Pak. Jadi kalau memang mau meneliti itu yang saudara teliti adalah digital bukan aslinya. persoalannya di situ. Oke. Karena ada orang hukum, praktisi hukum, saya persilakan perkenalkan nama Anda dulu, Pak. Langsung langsung silakan. Halo. Tu kan jadi putus informasi saya malah enggak dapat. Nanti saya beris ya. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Iya. Menarik menarik sekali apa yang disampaikan Pak Bor ini I itu kuat atau tidak secara hukum? secara hukum harus masih dicari penguatan itu. Namun kalau tadi ada bahasa yang akan disampaikan bisa dilaporkan konteksnya pelapor itu harus memiliki legal standing. Kalau sekedar melaporkan yang tidak memiliki legal standing dalam versi misalnya delik aduan absolut yang enggak bisa. Anda perenal Anda praktisi hukum? Iya. Saya lawyer. Lawyernya Roy Suryo. Bang Roy juga, Bang Rismon juga. Jadi gini, jangan dipotong dulu. Enggak, enggak begini. Jangan dipotong ya, adinda kami ini. Jangan dipotong. Jadi biarkan bukan kita tidak bicara adinda adinda di sini kita berbicara masalah legis karena kan di sini namanya itu disebut dibilang ikuterta dalam ijazah. Enggak, enggak, jangan dipotong. Kalau kita bicara, Anda membiasakan setiap orang berbicara main potong. juga ada agar tidak menimbulkan berkail menyampaikan jangan bukan kita konteksnya wibowo wibow bilang tidak apa pertanya anda bukan host yang host adalah sih anda ini oke oke oke jadi itu dia jadi aduan absolut adalah korban langsung yang bisa melaporkan misalnya seperti betor membongkar soal ini silakan bisa melaporkan misalnya silakan enggak apaak enggak boleh dong ada apa mau melaporkan misalnya seperti halnya sekarang yang kita tangani ada empat laporan di Polres apa sih yang dilaporkan itu 160 misalnya nih maaf ini penghasutan-penghasutan apa itu gitu loh saya kira saya kira ini aja dulu apa yang saya sampaikan dalam konteks hukum kita bicara gitu Oke, baik baik. Terima kasih. Makasih. Saya lanjutkan ya. Lanjutkan dulu. Jadi, Pak Rajasa, ada mau ngomong sedikit aja nanti saya berikan kesempatan di lain silakan. Silakan, Pak. Saya bicara ini ee ya menyuarakan suara rakyat ya. Tidak ada kepentingan dengan ee apa partai politik tertentu ya kan atau politisi atau kepentingan hukum tertentu. Karena saya yakin di sini kayaknya enggak ada hukum. Di sini maksudnya di mana, Pak? di negara ini enggak ada hukum gitu. Jadi jadi begini aku marah dong, Pak. Kan undang-undang tinggal bagaimana pelaksanaan. Iya. Itu dia ada tapi enggak ada sebagai oke ada tapi mak makanya jadi ribut begini gitu loh Pak. Jadi kalau saya mau dilaporkan laporkan aja dulu sebelum saya ngomong nih ya kan. Jadi saya ingin menjelaskan apa yang disampaikan Pak Betor. Awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan masalah ijazah ini. Tapi ketika Pak Beton mengatakan bahwa ini diselesaikan di Pasar Pramuka ya kemudian saya teringat pada masa lalu. Dulu waktu saya masih jadi mata-mata saya juga menikmati produk-produk ee pasar pramuka. Contoh seperti misalnya saya harus masuk ke tempat satu tertentu, saya harus gunakan ID card saya bikin di situ. Jadi saya tahu persis ID apa aja tuh ya mau jadi wartawan, Pak? Jadi wartawan apa aja kita ada kegiatan tertentu misalnya kan kan kita masuk harus pakai ID card, kita buat ID card di situ. Oke. Bahkan saya pernah lihat di depan mata kepala saya visa Amerika dibuat dan lolos dan lolos lolos sampai Amerika. Iya. Saya ada orang masih masih ada kalau ijazah waktu itu harganya antara Rp juta sampai 11 juta lah. Kalau di pasar pramuka itu pasar pramuka semua yang ada di Pasar Pramuka melakukan kegiatan dokumen palsu. Semua sampai tahun berapa itu, Pak? Ya, sampai kebakaran. Sampai sampai kebakaran. Oke. Sampai kebakaran gitu loh. Jadi ee ketika Pak Betor bicara soal pasar pramuka, jadi saya teringat masa lalu. Kemudian saya langsung mendatangi teman-teman dulu ya kan yang ada di pasar pramuka. Dan ternyata muncul nama Papa Iman. Dia punya kios di situ. Pertama di depan kemudian pindah ke belakang. Dan itu diakui sama beberapa orang yang ada di situ bahwa itu sampai tahun 2017. Nah, saya memberi apresiasi yang tinggi kepada Pak Paiman setelah dia mengakui bahwa iya dia punya kios di sana. Cuman yang jadi masalah buat saya ya ketika apa ya timeline itu dibatasi sampai 2022 2002 saya masih punya bukti Pak Paiman masih ada di sana bar sampai 2010 masih Anda punya bukti? Iya, ada Mas di sana tuh. Maksudnya dia pegang toko apa namanya, Mas? Iya, dia punya toko, punya kios semua namanya kiosnya sama, Pak. Kios pencetakan dan penjilitan skripsi 2010, Mas Roy. Dari 2010 berarti iya artinya begini sampai 2017 masih ke sana gitu loh ya. Cuman ada bukti-bukti untuk yang menyatakan bahwa Pak Paiman 2010 juga masih di sana gitu loh, Pak. Paham Pak maksud saya, Pak? Iya. Iya. Nah, kemudian yang jadi masalah ketika Pak Iiman menyatakan bahwa dia sampai 2002 di sana ini kan tentunya kan ada sesuatu nih ya kan mengaku ke Masro sampai 2002 betul ya mengaku saya cuman sampai 2002 ada di dalam pernyataannya ada ada dalam pernyataannya ada juga jadi awalnya saya tidak pernah ee apa namanya terlalu menyangkutkan Pakiman dengan ijazah tapi ketika dia menyatakan itu, oh wah ini ada sesuatu nih rupanya apalagi ketika Pak Paiman apa ee berharap untuk bisa dikonfirmasi dengan orang-orang di sana atas nama Sungkono dengan Ibu Kana. Sungkono itu kerja tempat dia, Pak. Ibu Kana itu istrinya Sungkono. Kan enggak fair gitu loh. Personal jadi enggak fair. Ini supaya adil karena nanti harus dijawab oleh e orang yang berhubungan langsung dengan Pak Paiman nanti. Bung Andi Azwan. Iya iya iya. Jadi enggak fair. Saya ada fotonya ini pada saat dia melaksanakan acara apa halal bihalal. Saya sudah kirim ke Inws bisa tampil enggak? Ini ada namanya sumpanya halal bihalal boleh nanti tampilkan ya. Ada ada ada minta produser tampilkan yang saya saya Prof. Paiman itu. Oh gitu ee sekali lagi ya enggak benarlah atau bohong kalau dia enggak pernah kontak dengan orang-orang sana lagi. Nih foto ini Mei 2025 Mas. Halal bihalal siapa ini? Pak Iman dengan Prof. Paiman dengan orang-orang di Oh, ini Pasar Pramuka. Nah itu. Oke. Ini tahun 2025. 1 Mei 2025 tuh. Oke. Iya. Lanjut Pak Lazar. Iya. Eh yang membuat saya akhirnya menaruh kecurigaan ya dengan pernyataan-pernyataan Pak Paiman ini. Pak Paiman yang tengah ya itu yang atas ya. Iya tengah itu Pak. Iya. Iya. Oke. Nah atas dasar apa ee investigasi dan kemudian verifikasi silang saya di sana ya kan menyatakan bahwa Pak Paiman ada yang ada yang tidak terbuka dari diri Pak Paiman mengenai keberadaan dia di sana gitu loh Pak. Ini yang membuat saya keberatan gitu loh. Kenapa Pak Paiman harus menutupi gitu ya batas waktu dia ada di sana gitu. Apakah ada kaitannya dengan 2012 yang diduga terjadi pencetakan ijazah palsu gitu loh. Jadi kalau soal soal dokumen palsu, Pak 99% mirip di sana. Saya bisa buktikan apapun itu. Iya. Termasuk ijazah. Iya. Bahkan visa Amerika tadi Anda katakan bisa aja. KTP orang Cina dibikin di sana Rp50.000 cuma visa Amerika Anda bisa pastikan I itu tembus. Iya. I orang yang yang bikin saya masih ada sekarang masih ada. Tahun berapa itu apa masih ingat Pak tahun berapa? Ya waktu itu saya lupa tahun tapi orang yang bikin masih ada dan saya lihat visa Amerika. Iya luar biasa. Silakan Bu Ani ya. Terima kasih Bang Eman. Izin kanda Tan Srian ini kebetulan satu dengan kakak saya Letnan Jenderal Sarifudin Tipe di Aceh. Oke. Ya. Dia anak buah dari kakak saya. Jadi saya katakan begini. Apa yang dikatakan kan hanya menyebut Sungkono. Saya flashback 97 sampai 2002. Prof. Dr. Paiman membeli kios. Tiga kios dari Alung sama Ibu Reri 97 di depan. Kemudian 2002 pindah ke belakang. Ya, ketika dia diangkat ya sebagai kaprodi ya di Mustofo beragama, dia jual kios belakang itu dia beli untuk rumah makan Padang di Kemayoran. Betul kan? Emang betul. Saya katakan apa yang betul saya katakan betul ya. Kemudian di sana yang namanya Pak Sungkono yang dia beli apa namanya kiosnya itu yang di belakang itu memang bekerja untuk Pak Prof. Dr. Paiman. Kalau mau mengecek siapa-siapa saja sih yang di sana ber interaksi dengan Pak Baiman itu saya sebut namanya di sini Haji Saleh ya Sungkono, Ustaz Anton Hartono, Haji Mukmin tanyakan ke beliau mereka masih ada di sana memang pindah karena belakang kebakaran ya tanya mereka di sana apakah enggak boleh ya kaitan ke video foto tadi kaitan ini kan yang namanya kita bersilaturahmi. Betul kan? Samalah kalau kita mau reuni ya kan setiap ada momen-momen terbaik ya dalam kegiatan itu pasti ada kita bertemu ya kita silaturahmi seperti sebelum ini sebelum ini Bapak tahu enggak reuni terakhir kapan? Saya tidak bisa bicara reuni terakhir. Saya tidak tanya untuk masalah reuni terakhir. Gak pernah reuni. Tahu-tahu reuni loh masalahnya Pak kecurigaannya apa? Ini kan Mei apa Mei itu ketika Prof. Paiman itu beberapa hari kemudian WA saya, Mei itu sudah mulai ramai nih. So jasa palsu. Oke. Udahlah kalau itu jadi enggak pernah ketemu tiba-tiba ngumpulin bulan Mei itu kedoy. Ya kalau kita bicara itu ya Bang Roy kan tahu bersahabat kan. Benar kan Bang Roy? Saya mau ungkap di sini, Bang. Kalau enggak pernah ketemu terus tiba-tiba ngumpulin dan beberapa orang, Pak Andi, saya kemarin ke Pasar Pramuka. Oke, ya minggu yang lalu saya mendapatkan banyak cerita yang belum saatnya untuk dibuka tapi sudah ada videonya juga. Persekutu ada persekutuan ada kemudian bisik-bisik untuk menutupi sesuatu. Nah, ini enggak fair saya sebutkan semua. Apakah di sini ada nama-nama yang di sini ya? Ada nama orang lain ada kontak kan begitu caranya Bang Roy ya kan kalau saya Bang Roy ya ya misal Bang Roy ini teman saya teman akrab saya ada kejadianan seperti ini Pak Paiman ini orangnya ya baik hati ya dan dia itu tidak mau melihat ya teman-temannya ini menderita untuk kasus-kasus apapun kasusnya itu mungkin dia akan memberikan itu persepsi dari Bang Ro itu mungkin salah Man, biar jangan persepsi kan begitu saya ngomong dikit ya. Oke, setelah jeda kami akan segera kembali tapap sama kami suara nanti saya berikan kesempatan pada pangism [Musik] tadi Bung Rismon mau menyampaikan sesuatu. Saya putus tadi karena ada break. Silakan saya berikan kesempatan. Iya. daripada ee daripada narasi liar di mana-mana ya. Kita menginginkan Polri yang tahun ee apa kemarin hari ini ya berulang tahun itu supaya presisi dan transparan. Jadi sebenarnya ee kegaduhan di publik ya dalam tanda kutip kegaduhan ya itu sebenarnya bisa disahkan dengan cara gampang, mudah, dan ilmiah yaitu dengan tiga aja lab perbandingan mengenai usia kertas dan usia tinta. Kalau usia kertas mungkin bisa ditipu, yaitu ee menggunakan blangko yang ada dari universitas yang bersangkutan. Tetapi usia tinta itu tidak akan pernah bisa ditipu 1 minggu. Jadi itu di lab brin baru kalau tidak ada ee kalau terjadi ketidaksesuaian time frame atau usia kejar siapa yang membuat dan di mana itu dibuat gitu loh. Pada saat Dirtipidu mengumumkan enggak ada usia tinta itu enggak disebutkan gitu loh jenis usia tinta. Karena apa? Jenis tinta tahun sekarang atau tahun 2000-an itu jauh berbeda dengan tahun 1980-an. Begitu juga dengan syarat kertas, jenis kertas, pewarna kertas itu tidak disebutkan, tidak dikunci usianya semua. Maka terjadi narasi liar. Kalau sudah dikunci ya dan berani karena tidak ada intervensi, berani hasil itu di-challenge di misalnya di BRIN atau di puspom TNI, baru tidak ada lagi narasi. Begitu. Terus selanjutnya, bagaimana mungkin seorang mahasiswa di UGM itu bisa lulus dengan mata kuliah MKDU, mata kuliah dasar umum, statistik, fisika, terus matematika itu nilainya D. Coba UGM kalau dia punya dosen pembimbing akademik, maka dosen pembimbing akademik tersebut pasti memerintahkan ini Anda ulang karena Anda tidak akan pernah bisa lulus mata kuliah dasar umum nilai D. Ya, D itu tidak lulus. Kalau MKDK masih bisa D. I. Terus selanjutnya yang membuat lebih banyak kegaduhan di masyarakat adalah ya dirtipidum itu sendiri. KKN dikatakan tahun 1985 dikoreksi Pak Jokowi sendiri 198 eh 1983 di TPD. Pak Joko bilang 1985 awal. Terus pada saat kami ke Desa Ketoyan, kepala desa, ibu Kepala Desa mengatakan 1983. Terus ada stasiun TV yang lain ee yang datang ke sana 1985 kan berantakan ini Mas semua 1983 atau 1985. Jadi kegaduhan itu sendiri dibuat oleh Dirtipidum. Ya, saya kurang setuju kalau dibilang gaduan itu dirtipidum ya. Dirtipidum sudah sesuai dengan prosedur hukumnya bilang tunggu dulu gitu loh. Terlepas katanya mau apa tintanya itu warna apa. Anda kan katanya peneliti. Kenapa enggak ada teliti aja tintanya? bilang saya yang datang. Ya teliti dong saya datang sendiri ke Desaan. Anda di mana? Eh itu tintanya itu sudah diperiksa sama wares krimes pori. Usianya berapa? Identik katanya dengan itu. Masalah usia lu teliti kalau lu kurang puas kan ada ada apanya sini kalaupun kurang puas ke propames pori dong besok tanggal. Jangan kita menjustifikasi Pak Juhandani di sini apa pembuat kegaduhan. Saya seperti itu. Justru kita harus apresiasi beliau cepat dalam laporan kalian gitu loh. Pada pertemuan tanggal 15 April 2025 dengan kedua wakil rektor dari UGM, kami tanyakan ya data KKN Pak Jokowi mana? Enggak ada. Masih dicari. Pertanyaannya UGM mengakui enggak ijazah itu asli dari mereka? Simpel aja. Oleh karena itu ya, oleh karena itu basis UGM mengakui enggak itu asli basis penjelasan tahun KKN Dirtipidum itu berdasarkan dokumen tahun 1983 atau enggak? Karena ketika kami tanyakan ke desa, ke Ibu Kepala Desa Ketoyan tidak ada dokumen apapun tentang KKN tahun 1983 dan 1985. Itu jelas kami tanyakan. itu katanya-katanya masih tidak ada dokumen apapun lain ini mau meneliti ijazah KKN atau skripsi kuliah enggak sih bukan dokumen anda berubah-berubah penelitiannya ijazah kalau konsisten ijazah enggak mungkin ijazah itu enggak mungkin timbul tanpa kita AKKN atau skripsi itu clear aja bukan masalah UGM-nya di sini kita menguji juga politian saudara Jangan paksakan supaya tidak supaya tidak ada yang kudet. Sebentar aja supaya supaya supaya Mas Fitra juga tahu gitu loh, Mas Fitra supaya tahu ini perkembangan terbaru yang mungkin TV yang nglive kan baru apa iws ya. Oke. Hari Kamis lusa Bares Krim sudah mengabulkan permohonan TPUA untuk gelar perkara khusus. Oke, good. Berarti top clear nantinya hari Kamis itu insyaallah saya dan Bang Resmon pun akan dipanggil tapi selaku ahli. Oke. Ini gelar perkara khusus. Jadi gelar perkara terkait ijazah Pak Jokowi. Ijazah Pak Jokowi. Informas lagi satu lagi yang menasama Dir Tippidum Brekjen siapa namanya? Juandani. Juandani sudah dilaporkan ke Propam. Jadi dia terlapor sekarang pada saat itu itu saya kira prosedur ya itu diatur hukumnya silakan artinya sudah dilaporkan iya tapi ingat laporan itu juga belum tentu bersalah enggak apa-apa kalau persoalan dipidapor ada gelar perkara khusus hari Kamis karena memang Bang Roi ini melaporkan seolah-olah Pak Juandaan itu salah enggak enggak gelar gelar perkara yang akan terhadap Pak Roy respon juga terhadap teman-teman pengadu Dumas ya buktinya mereka proses laporan itu. Terus katanya gelar perkara mereka kan sahuti apalagi dipanggil sebagai ahli nanti buktikan saja. Nah, gelar perkaranya kan harus ada pernyataan dari baringgal begini saya ingin sampaikan bahwasanya tadi masa dia ngomong setengah acara ini masalah itu. Heung berbicara bangar bentar supaya supaya enggak tabrakan saya beri kesempatan 2 menit aja nanti saya berikan kesempatan kepada Bung. Artinya begini, Bang Aiman, saya kan sudah sampaikan tadi jangan kita menghakimi seseorang. Ini perbuatan-perbuatan kalian menuduh ijazah Pak Jokowi palsu itu adalah kriminalisasi terhadap Jokowi. Kenapa? Karena kalian memaksakan pidana yang orang tidak melakukan perbuatan pidana. Kalau memang itu palsu, kriminalisasi terhadap seluruh Indonesia dong. Bukan. J kalau menyatakan palsu itu, Mas Roy harus jelas dulu. Tunggu dulu ini. Tunggu dulu. Ya, yang dikatakan kriminalisasi itu adalah memaksakan seseorang yang tidak melakukan perbuatan pidana agar perbuatan itu dilakukan di pidana. Itu kriminalisasi. Nah, perbuatan itu adalah salah satu bentuk kriminalisasi. Pertanyaannya, Pak Jokowi ada enggak mengkriminalisikasi kalian? Tidak ada. Tunggu saja tanggal. Kalaupun ada melakukan ee laporan itu pros hukum. Jangan juga kita menjustifikasi seorang. Oh, ini ijazah palsu. Itu menghakimi, Pak. main hakim sendiri namanya seperti itu. Enggak enak juga seperti itu. Gitu loh. Oke. E ini kayaknya memang hadir untuk mengganggu saya ini supaya informasinya ini. Jadi begini ya sebagai S1M baik kita sama-sama orang Batak enggak ada niatan saya mengganggu LE gitu. Silakan aja L. Jadi mendukung ya kirain mau nyanyi lagi anak Medan. E jadi gini ya sebagai S1 UGM asli ya. Oke. Nah coba nanti diverifikasi dengan universitasnya. Jadi di UGM itu kalau MKDU-nya matematika, fisika, statistik itu nilai D, maka dia enggak bakal lulus. Pasti 2 tahun do. Bentar dulu. Pasti sudah diambil tuh, ya. Nah, terus berikutnya ya memangnya Pak Jokowi ada yang D. Iya. Statistik, matematika, dan dokumen. Hanya cuman tiga dokumennya dari dari yang ditampilkan di TPUM. Oke. Itu enggak mungkin lulus. Pasti do 2 tahun tuh pasti do. Yang kedua ya ini ditampilkan juga oleh Dirtipidum. Seseorang mana mungkin bisa ke sarjana kalau daftarnya sarjana muda. Itu datanya dari Dir TPD juga. Coba bayangkan mendaftar sarjana muda keluarnya ijazah sarjana. Harusnya kan ijazah sarjana muda gelar BSC. Itu pun kalau lulus. Tetapi kalau kita melihat mata kuliah MKDU, matematika, fisika, statistik, nilainya D pasti DO. Itu itu sudah confirm itu begitu loh. Makanya verifikasi di universaian kalau di UGM zaman saya masih berlaku 2 tahun disuruh mengundurkan diri atau pindah ke swasta 2 tahun. Itu kalau MKDU-nya D. Jadi pertanyaannya, makanya saya bilang supaya narasi ini tidak liar semua ke publik harus dikunci ya usia tinta terutama pada ijazah maupun pada lembar pengesahan skripsi. Kalau ada diskrepansi perbedaan waktu yang sudah modern cari siapa yang memalsukan di mana. Bang itu dulu dikunci diundang nanti hari Kamis untuk gelar perkara. Tentu itu yang kami ee apa akan tanyakan dan kalau memang merasa tidak ada manipulasi karena saya sensitif dengan manipulasi ada undangan tapi undang-undangnya baru hari ini. Jadi undangannya mungkin besok kita ajukan kita yang mengajukan kita yang memberikan ke Karwa Siddiq. Pertama surat itu belum dijawab. Kedua dijawab masih standar baru yang ketiga kita samperin kemarin dijawab tanggal 3 ini baru gelar khusus. Namun catatan kami, kami bukan cuman dua ahli yang akan diajukan, tapi beberapa semua lawyer yang terlibat di dalamnya. Nah, itu belum dijawab gitu. Artinya kami melakukan prosedur yang profesional gitu loh. I oke. Baik. Baik. Nah, selanjutnya Mas sedikit lagi. Oke, sedikit lagi. Bahwa Dir TV menjelaskan lembar pengesahan skripsi itu produk dari letter press atau handpress hanya karena diraba, ada cekungan. dia enggak tahu digital embossing juga ada efek cekungan itu langsung disimpulkan lembar pengsan skripsi adalah produk dari handpress atau letter press itu enggak saentific itu besok itu salah satu poin yang akan kami analisa terima kasih oke baik nah ini giliran saya kan ah alhamdulillah dikasih giliran juga bicara okasi Bang Aiman kesempatannya malam ini saya diberikan pertama-tama saya cuma mau mau mengucapkan dulu selamat ulang tahun buat Polri ya yang ke-79. [Tepuk tangan] Teman-teman Polri di sini lah tuntutan dari masyarakat pelapor dan terlapor untuk dalam kasus apapun bahwa kepastian hukum itu tidak terletak pada kepolisian. Kepastian hukum itu ada di pengadilan. Polisi itu hanya menyajikan bukti dan pemenuhan unsur tindak pidana dalam suatu pelaporan. Ya. Nah, Bung Aiman begini. Saya cuma mau menyampaikan satu hal Bung Aiman bahwa berbicara pus la Mabes Polri ya kita bangsa Indonesia ini kita sudah enggak jadul Pak. Kita harus bangga memiliki fuslap seperti Mabes Pori. Kenapa? Saya dalam menangani kasus sering juga menguji di Fuslap atas permintaan penyidik. Namun kami hampir sama dengan Ban Risman dan Pak Roy, Mas Roy dan teman-teman yang lain yang eh tidak percaya sering seperti itu. Tapi ketika kami sering ber melakukan kunjungan pusat laboratorium forensik di FL for Mabes PORI yang ada di Bogor Sentul sana ya itu kami takjub, Pak. Kenapa saya bilang takjub? Karena Fuslap ini luar biasa sekali dan itu ratusan miliar harganya. Dan ingat terintegrasi dan terkalibrasi oleh ya negara-negara yang pernah melakukan kunjungan. Saya sebutkan ya beberapa negara yang menandatangani di situ yang pernah saya lihat dalam papan itu ada Amerika. Amerika baru-baru minggu yang lalu itu baru pulang sudah dibanding ke puslap kita ya. Yang kedua itu ada Jepang, terus Korea dan lain sebagainya. Ada beberapa negara Eropa juga berada di situ ya. Terus yang kedua terkait persoalan ee ijazah yang diposlap tadi Saudara Rismon, Bang Rismon mengatakan bahwa oh dia enggak uji kertas dia. Eh gini, Bang Rismon. Sekali lagi saya bilang kita harus bangga dengan fuslap. kita sudah dilakukan Bung Ron. Contohnya apa? Kenapa bukan otentik yang keluar seperti yang ditunjuk? Kalau dia tidak difuslap, sederhana sekali kita berpikir Bang Risbot. Ada ijazah pembanding teman-temannya seangkatan kemudian diperiksa yang keluar adalah identik. sama persis dengan dia yang diujab Rismon ini biar saya saya eh biar masyarakat Indonesia juga tahu bahwa apa yang dilakukan itu saya saya menganggap bahwa itu sangat sangat profesional dan bersertifikasi karena memang ahli-ahli nanti itu akan diajukan ke pengadilan ee Bang Aiman dia akan ditanyain dan di situ akan detail nanti Bang Bung Aiman bahwa uji tinta ya kan sebelum kepengadilan ada gelar perkara khusus. Ee sebentar pung saya jelaskan dulu bahwa ini kan ketidakpercayaan yang waktu minggu lalu saya menjadi narasumber di sini saya sudah sampaikan kepada teman-teman INWs kan ee rayu bersuara kan bahwa ini tidak akan percaya. Benar kan? Terbukti kan Bunga? Hari ini saya datang untuk kedua kalinya ini yang terjadi apakah dia mau percaya atau tidak. Makanya saya menjelaskan fusl fornya dulu bahwa kemudian dia akan menjadi saksi nanti sebagai ahli. Di sana ada teman-teman Bang Risman tuh kalau memang Bang Risman adalah seorang ahli ya di sana itu ahli dan sakti-sakti mandraguna tuh. Sebentar Bang Risman jangan dipotong ah Alim Mandraguna dan dia ahli forensik. Ah, jadi mau cari itu di Mabes for forensik digital forensik digital analog dan akan bertemu dengan ini enggak konsisten belum selesai saya selesaikan kelamaan kelamaan anda nerangkan aku tuh pernah jadi konsultan di GCE di situ 2004 jadi saya lebih ngerti dari Anda. berapa? Berapa 2000 berapa? Percuma 2004. 2004 kan ini 2004 sekarang puslap 10 lebih maju. Aduh, jadi anda nerangin kayak gitu enggak ada gunanya. Kita kembali lagi suara [Musik] wis. Pak, sebentar Pak. Ini sebentar saya cuma ngomong sedikit aja Pak. Sedikit aja Pak. Oke, dikit para jasa silakan. Karena ini langsung saya dapat SMS dari Pak Jokowi nih. Pak Jokowi iya. Maksudnya apa? Jadi begini, Pak. Enggak ini ini harus konfirmasi SMS Pak Jokowi. Betul. Ternyata kita ini ya kan tidak memahami nih ya kan apa yang dimaksud dengan kejujuran Pak Jokowi selama ini. Jadi Pak Jokowi ini sudah jujur tentang ijazah sebetulnya seperti kita analogikan emak-emak naik motor se kiri belok kanan gitu loh. Jadi sudah ada kejujuran. Jadi kita enggak ngerti ini sebetulnya ya kan. Sudah ada kejujuran tentang ijazah ini. Maksudnya gimana kejujuran? Ya enggak ngerti juga Pak Iman. Orang-orang mahasiswa a ngerti kok enggak gimana? Gimana coba jelaskan. Jadi sesungguhnya Pak Joko ini sudah biar jelas sudah membuat kejujur sudah memberikan kejujuran tentang ijazah yang Pak Jokowi punya. Heem. Karena dia ketika kita analogikan seperti mama naik motor I se naik kiri belok kanan. Oke. Itulah kejujurannya. Enggak. Anda harus bicara lebih jelas lagi dong. Silakan sebentar. Ini kita jangan maming lagi ya. Enggak framing, Pak. Enggak, kita fokus saja. Ini kan apa yang enggak supaya arahnya jelas saya pikir harus harus dijelaskan karena enggak nanti ke mana-mana soalnya. Jelas. Iya. Apa yang disampaikan Bang Bintor tadi bahwa bukan penyataan tadi se kiri belok kanan maksudnya apa itu i maksudnya penjelasannya ini pertanyaannya tentang apa apa yang diklarifikasi Pak Jokowi itu enggak enggak ada Pak Jokowi itu kan menyampaikan ke Bareskrim apa yang ee ijazah yang dilaporkan oleh kawan-kawan dari TPUA. Nah, itu yang disampaikan tadi oleh Saudara Rismon bahwa ee pengumuman yang dilakukan oleh Dirtipidum itu tidak ee memuaskan, tidak ilmiah. Tidak ilmiah, salah. Salah kalau kita membantah justru itu apa yang disampaikan oleh Barisk Krim kan sudah jelas. Nah, bahwa ijazahnya Pak Jokowi itu sudah di ee lakukan latpor dengan membandingkan mungkin gini Pak Joko kan sering sen kiri tapi dia belok kanan terus mengatakan ijazah kalau kalau kita enggak bisa membuat alibi karena ini kan persoalannya masuk ke ranah hukum jadi apa yang disampaikan oleh Bares Krim oleh Dirtipidum itu kan sudah jelas ini kan persoalan nya kan ijazah. Ijazahnya itu kan sudah diumumkan oleh Bares Krim. Nah, tapi kawan-kawan masih tidak puas. Makanya ee saya sampaikan bahwa ee mau sampai kapan ee Bung Roy ada Bang Rismon mau puas. Kemarin sudah ngomong apa terkait nilai jawabannya. Saya bisa jawab itu. Nanti ada gelar perkara khusus dan itu akan menentukan lah. Belum diumumkan resmi dong sama bares krim yang harus mengumumkan. itu kenal barri tadi disampaikan Bang Roy enggak mungkin mungkin ah memang suratnya baru terbit hari ini jadi mungkin memang belum di kemarin diri saya ke kantor saya jadi jelas jadi bukan tidak jelas jelas dikirim ke kantor saya itu dari Bares Krim Mabes Polri tanggal 3 diminta gelar perkara khusus soal ijazah Pak Jokowi tentang itu salah satunya dan tentang penyelidikan yang dihentikan. Kami merasakan tidak sesuai dengan KUHAP 109 bahwa di KUHAP 109 tidak ada aturan yang menyangkut penyelidikan dihentikan yang ada penyidikan. Nah, itulah yang kami kejar. Makanya dijawab setelah lama ini berbulan-bulan dijawab begitu. Dan tanggal 3 kami akan ajukan surat resmi bahwa ini yang kami minta semua. Kalau disetujui kami datang, kalau enggak boleh dimundurkan terserah dari Mabes Polri. Jadi itu yang penting. Terima kasih Pak Hasam. Gelar perkara khusus ini kan mungkin yang dimaksud kan kawan-kawan pasca pengumuman dari Dirtipidum kemarin kawan-kawan kan mengejar lagi e subjek yang lain. Nah, gelar kan sekarang tadi Bung Rismon sampaikan bahwa oh ijazahnya Pak Jokowi ini e tintanya e pembuktiannya tintanya harus dikejar itu tintanya udah itu apa namanya kertasnya lah nanti kawan-kawan ini puas enggak kalau sudah disampaikan nanti tintanya kertasnya udah udah jelas sudahudah dilakukan penjelas sudah diperlihatkan nanti Bung Rismon dan Bang Roy itu menyaksikan di situ. itu nanti puas enggak, selesai enggak? Itu aja pertanyaannya. Ya, semua tergantung anu Mas. Semua tergantung bagaimana, Mas. Saya kira tergantung tergantung bagaimana kejujuran dan ilmiah dari ee nanti perkara perkaranya. Tapi saya ingin menjelaskan yang disampaikan tadi Pak Rajasa ya. Jadi mungkin yang dimaksudkan Pak Jokowi itu mungkin memang kita enggak bisa nyalain Jokowi, Pak Aiman. Dia mungkin dulu waktu pesan asli gitu. Tapi keluarnya palsu. Jadi Jokowi itu pesara gelar perkara bisa gitu. Kalau kayak gitu saudara sudahing lagi kalau kalau kayak gitu nanti publik akan menyangka ini bahwa e ini enggak asli enggak bisa. Semoga saya jelaskan semoga tanggal 3 Juli nanti pada saat gelar perkara khusus perkara khusus bukan ijazah fot gelar perkara khusus tidak ada bukti juga gelar perkara khusus itu ya saya sudah berkali-kali gelar perkara khusus di bar es krim maupun di polda gelar perkara khusus itu bukan debat di situ Pak gak bisa sebagaimana pasal 31 Perapori terkait dengan manajemen penyidikan gelar perkara itu ada dua yang pertama biasa b-nya itu khusus Khus. Jadi khusus itu pengadu Dumas dan teradu Dumas hanya menjelaskan kronologinya aja di di sesi pertama gitu loh. Enggak ada bilang, “Oh, ini pas enggak ada itu.” Jadi nanti pengadu Dumas ini akan menjelaskan kronologinya baru nanti diberikan kesempatan kepada teradu Dumas juga versinya menjelaskan kronologi seperti apa. Setelah itu nanti tanya jawab. Yang tanya jawab itu bukan antara pengadu dan teradu, tapi peserta gelarnya. Ada dari di situ eh Wasidik, ada dari Propam ya, ada dari eksternal juga Kompolnas dan lain-lain. Nah, setelah segmen itu selesai keluar di sesi keduanya inilah baru internal dan eksternal kompolnas di situ yang akan menggodok lebih lanjut bersama dengan penyidik. Baru ketiga rekomendasi. Jadi itu tidak ada menyimpulkan apapun di situ, hanya rekomendasi. Dan jangan dibilang juga nanti pas nyampai di ruangan itu nanti ada fotop bilang ada fotokopinya. Kok beda lagi ini fotokopi dengan yang di apa asli yang diumumkan. Nah, jadi kawan-kawan memang yang asli ada sudah pernah lihat lah itu bereskipom kan berdasarkan lah kalau lihat atau sudah pernah lihat enggak? Ah, ya sudah tapi kan lah saya enggak lihat tapi kan penyindik penyidik sudah menyatakan sudah jelas pernah bisa skripsi kita kembali saat lagi tap bersama kami di bersuara iniak [Tepuk tangan] [Musik] Oke, ini adalah bagian akhir dari rakyat bersuara. Enggak kerasa memang ee 2 jam lebih. Tapi saya berikan kesempatan karena dari tadi Pak Widodo belum bicara dan beliau yang paling sering disebut sebenarnya dalam acara hari ini. Saya in memberikan kesempatan pada Pak Wit. Pak Wit, apa yang Anda ingin sampaikan terkait dengan penyebutan nama Anda di berbagai media yang kemudian Anda tampil hari ini pertama kali eksklusif? Apakah Anda ingin melakukan gugatan? Anda merasa dirugikan dan lain sebagainya. Silakan saya berikan kesempatan. Iya. Sebetulnya kalau dirugikan pasti apalagi era sekarang kan era ya media seperti ini. Keluarga saya, orang sekeliling saya pasti saya setiap hari ada telepon, ada WhatsApp 10 harus saya menjelaskan apakah saya apa segala macam. Itu sangat merugikan saya. Dan bagi teman saya yang istilahnya enggak suka sama saya, pasti juga ikut-ikut memfitnah saya, kan seperti itu. Jadi, ya terus terang kalau dibilang merugikan sangat merugikan. Sebentar ee saya tanya karena yang pertama kali tadi Pak Betor mengatakan informasi Pak Wit itu dari Pak Deni. Anda berseberangan dengan Pak Deni? Tidak. Oke. Ya, perlu saya luruskan juga. Saya kenal Pak Deni itu ketika yang pertama itu saya dikenalkan Pak Pras dulu. Setelah itu saya suruh berkantor tiap hari di situ. Kebetulan ruangan Pak Deni Iskandar itu bersebelahan. Jadi saya itu masuk di ruangan bendahara, Pak Deni kesekretariatan. Kalau dalam hal ini Pak Betor mengutip dari Pak Deni, artinya Pak Deni memfitnah Anda dong. Saya sudah kelir tidak pernah ngomong seperti itu. Oh, Pak Deni menyampaikan kepada Anda tidak pernah ngomong seperti itu. Artinya dalam hal ini Anda mencurigai Pak Betor yang berbohong. Ya, itu media yang bicara begitu. Oke. Baik. Bukan saya. Silakan. Ada yang ingin sampaikan lagi, Pak? Terakhir ya. Saya hanya sederhana aja. Jadi janganlah ee korban cukup saya aja. Jangan, jangan yang lain, yang lain kalau enggak ada bukti, enggak ada saksi yang enggak bisa terverifikasi gitu loh. Jadi kalau hanya katanya, katanya, katanya ya tolonglah gitu loh. Jangan jangan ke yang lain. Dampaknya luar biasa. Kalau orang sakit cepat mati kan gitu loh. Ya, itu maksud saya. Jadi kalau memang saya harus sebetulnya kalau saya sih tenang-tenang aja karena saya merasa enggak melakukan segala sesuatunya saya anteng-anteng aja. Tapi media termasuk di podcast siapa ee ee Abraham Samad apa semua itu memojokkan saya. Akhirnya saya mau enggak mau harus tampil klarifikasi kan dan tampil pertama kali di INWs. Terima kasih Pak Widodo. Tadi disebutkan Pak Deni sudah memberikan klarifikasi ke Pak Widodo sendiri yang menyebutkan Pak Deni bahwa ke Pak Betor ya bahwa ijazah Pak Jokowi dibeli di Pasar Pramuka dan salah satu aktor utama dan bahkan yang paling utama adalah Pak Widodo. Tadi Pak Widodo sudah menyatakan ke sudah menanyakan ke Pak Deni. Pak Deni tidak pernah menyampaikan itu. Apakah pertanyaan saya sekaligus closing statement Pak Betor punya bukti bahwa Pak Deni menyampaikan itu kepada Pak Betor? Jadi kan gini, saya kan tadi di awal tidak paham ini kan. Nah, ini kan sudah jelas ini. In ini sudah Alibi ini sudah jelas ini tadi kan sudah disampaikan sudah Pak Widodo terus mengadu pring lagi. Nah, kemarin ee di ee sebelumnya acara Pak Widod. Sekarang udah bilang lagi atas pernyataan Pak Widodo dibilang lagi, “Jangan bangun ini teruslah, Pak.” Iya. Jadi kita ini supaya masyarakat juga ada pencerahan, Bapak jangan pelin-pelan. Ini udah kayak omon-omon ini gini nih. Oke, silakan Pak Betor. Enggak usahlah. Benar dia. Ah, jangan Pakang Betor. Bang Betor, saya mau nanya Bang Betor. Bang Betor ini dalam kondisi sadar kan? Belum ee belum enggak baru habis bangun tidur kan? Sadar kan ini. Ah, iya. Itu aja sih menanya. Jangan jadi gini Pak Betor enggak pertanyaan saya begini apakah Pak Pak Pak Betor punya bukti bahwa Pak Deni mengatakan itu karena itu pasti akan ditanyakan pakai ini, Mbak. nya, Pak. Pastilah kan kalau kita enggak berani, kalau kita enggak punya data yang begitu, kita enggak berani dong mengangkat itu dalam satu enggak mungkin dong setua saya masa saya mempermasalahkan diri saya, saya mendapatkan nama-nama dari dari Solo itu kan jelas pertemuan antara tim Solo sama tim DKI kan jelas problemnya jelas problemnya di Solo dipindahin ke Jakarta jelas semuanya jelas pelakunya sudah ada lagi Pak Paiman kan sudah jelas jadi dari A sampai Z apa yang saya sampaikan Kan jelas selesai dan seketika itu dimintai buktinya Bapak punya satu persatu. Itu tadi kan kalau Bapak terus mengkonfirmasikan ke Deni ini ya urusan Bapak itu kan tapi di awal dengan saya kan ceritanya lain. Ini kan ada berapa waktu yang berubah. Oke. Semua orang kan berubah pada waktu entah apa tekanannya atau apa isinya kita enggak tahu Pak itu cerita Pak. Dari pertama saya berani mengungkapkan itu karena saya punya data saya berani mengungkapkan mana datanya Pak ini kan ada tunjukkan dulu datanya Wanto sudah mengklarifikasi saudara jangan membuat preming setiap hari berubah-ubah nah seakan-akan Anda ada bukti buktikan mana buktinya jangan saya berubah-berubah i berubah kemarin katanya Pak Widodo. Nah, Pak Widodo sudah klarifikasi nyatanya sekarang Bapak lari lagi. Tadi disebutkan punya Bu siapa? Siapa sekarang? Siapa buktinya? Mana L enggak bisa katanya-katanya. Itu yang saya bilang. Sebentar ee Bunga Aiman ini ada barusan saya terima buktinya di Pasar Pramuka di persidangan bisa bukti ditunjukkan di sini harus di persidangan. Sebentar nih gitu loh. Ya, saya bacakan Bung Aiman ya. bahwa ada sahabat saya barusan WA saya ya, seorang ee dari Kejaksaan Agung menyampaikan, “Bang, JCLC LLC itu bukan tempat label pelatihan yang dikelola bekerja sama dengan New Zealand. Saya pernah mengajar di sana tahun 2005.” Nah, kalau dia bilang lab, dia bohong itu. Ah, ini bukan saya ngomong loh ya. Itu memang bukan lab. Siapa bilang lab? Orang itu siapa namanya? Sebutkan dong. Enggak ya enggak usahlah. Hak saya bohong. Enggak ada itu. Saya bisa aja bilang saya barusan mau lihatin orang lagi. Jadi begini bang ini sebentar Bang Roy ini Bang Roy. Bang Roy. Bang bisa bilang saya barusan dapat WA Mas. Ini bunyinya adalah bahwa e ini gak pernah datang ke Bogor. Sekali sekalian sekalian ya. Jadi gini Bang Roy ya. Bang Roy ini sudah menggali kubur teman-temannya sebenarnya ya. Entah bagaimana bisa Bang Rismon ikut-ikut dengan Bang Roy. Apakah yang terpengaruh antara Bang Rismon ataupun Bang Roy yang mempengaruhi? Kita enggak ngerti. Ini mengecilkan, ini menghina Bang Resmon. Lentar belum saya belum selesai. Saya belum selesai. I kan itu haknya Bang Rismon kalau dia bilang saya cuma ikut-ikutan. Terus kemudian ada lagi Bang Betor ini besok siapa lagi yang mau ikut-ikut ini pengasutannya? Kita enggak ngertilah. Ya intinya gini. Nih intinya gini ya ee mari selamatkan diri masing-masinglah ya kan nanti ketika kemudian terjadi caos di dalam laporan ini. Iya kan? Nah kita lihat aja mungkin ee abang-abang ini benar ya kan kita yang salah kan gitu. Tapi kita buktikan Bang ee Pak Roy dan Bang Rismon. Sayang saya mau bilang intinya gini. berbangsa dan bernegara itu ya apalagi kita seorang peneliti itu ada etika. Itu yang pertama. Yang kedua, tempatkanlah diri Anda, harga diri Anda sebagai ahli pada tempat seorang ahli ya. Ee bukan bukan meneliti sesuatu yang memang belum tentu diteliti aslinya karena analognya enggak dipegang yang diteliti. Itu yang pertama. Ya kan? Ee saya sangat menghargai Bang Roy dengan kecintaannya terhadap bangsa mungkin dia pengin pemimpinnya semua mulus-mulus aja. Jangan yang B ijazah palsu. Tetap Mimbo ya mari kita meneliti ijazah aslinya. Kan begitu jangan dari sosial media ataupun mana-mana. Oke, yang perlu saya sampaikan adalah ee terakhir untuk teman-teman bahwa mari kita bersama-sama Kenapa sih kalau saya diprotes terus sama saudara marilah kita bersama-sama melihat koperatif ya. Saya minta saudara Risma koperatif. Kalau enggak mau datang, enggak apa-apa enggak usah datang sekalian panggilan polisi. Besok ada pemeriksaan. Besok ada pemeriksaan. Ah, kalau datang bagus sor saya potong Bang Eman. Silakan Papaan ingin berbicara. Oh, boleh di speaker enggak? Ah, itu bagus tuan ini eksklusif. Silakan, silakan silakan speaker lah, Pak. Silakan Pak Besok ada pemeriksaan. Besok ada pemeriksaan. Silakan Pak. Pak Iman. I saya bicara aja sama Pak Aiman sebentar. Oke, silakan Pak Pa ini e kita live ya, Pak. Silakan. Anda mau nyampaikan apa, Pak? Silakan, Pak. Ya, Mas. Ya, ini dengan Pak ini kita sedang live, Pak. Selamat malam. Selamat malam. Silakan, Pak. Pak Iman. Iya. Jadi begini, saya terpaksa ikut bicara ya karena ini sangat merugikan saya. Keluarga saya, anak saya pun sudah tidak mau sekolah ya kan. Jadi gini, saya demi Allah sumpah mati enggak pernah yang namanya saya itu bikin ijazah Jokowi. Karena apa? Saya hidup selalu jujur. Saya itu orang kecil. dari SMP kemudian berjuang. Kalau saya saya enggak hidup benar, saya enggak mungkin dapat keberkahan sampai sekarang. Jadi gini, sekarang buktikan aja kalau memang saya dituduh siapa yang bilang, terus kemudian ijazahnya bentuk yang dipasukan seperti apa dan siapa yang mengatakan saya di Mataman itu sampai 2017. Saya itu sampai 2002. 2003 saya itu sudah jadi kaprodi. 2017 saya direktur pasca dan Plt rektor. Jadi enggak mungkinlah saya itu membuat hal-hal seperti ini. Jadi tolong janganlah kalau memang benci dengan Jokowi ya jangan melibatkan yang lain gitu. Kalau saya benar ya demi Allah demi Rasul mati kalau saya melakukan hal-hal yang seperti dituduhkan. Jangan Pak Paiman. Sebentar gini Pak Paiman. Tadi ada pertanyaan dari Mas Roy. Kapan Pak Paiman terakhir halal bihalal? Di pasar pramukaal sama siapa? Di Pasar Pramuka itu ada fotonya. Karena begini, kecurigaan dari Mas Roy dan kawan-kawan ini ingin mengondisikan karena sebelumnya enggak pernah halal bihalal. Tiba-tiba Mei halal bihalal Mei 2025 melakukan halal bihalal dengan pedagang pasar silaturahmi. Silahmi. Oh, jadi gini. Oke, silakan Pak. itu pertanyaannya kapan terakhir halal bihalal, Pak? Selain 2025 sebelum saya ingat seingat saya itu bulan April karena setelah lebaran seingat saya bulan April 2025 ya Pak tanggalnya Mei April jadi belum ada yang namanya ee kasus saya dengan Mas Ro saya juga belum WA Mas Roy juga belum gitu loh. Jadi kalau kalau halal bialal itu saya juga sebenarnya juga enggak mau datang cuman karena dari toko yang diundang itu enggak ada, terpaksa saya datang. Saya datang dengan anak saya juga gitu loh. Jadi enggak ada kaitannya. W saya cuma datang juga cuma sebentar di Oke. Pak Iman Nirohi Suryo. Pak Paiman difoto itu jelas tanggal 1 Mei. Satu lagi Pak Paiman. Kenapa Pak Paiman sempat mau disebut ngaku-ngaku orang Komnashham? Jujur Pak Paiman siapa yang komnasham siapa lah. Ya itu ada kredit saya banyak tuh youtuber-YouTuber ceboker Nusantara itu clear banget itu Pak Mas. Ya buktikan aja saya enggak saya bukan orang Komnasam, saya orang dosen kok saya lah. Iya. Ya sudah, tapi Bapak itu disebut di Komnasam, Pakiman. Sebentar, Pak Paiman. Pak Paiman berarti enggak ada hubungannya dong dengan masalah ini. Saya tanya Pak Paeman. Saya regen. Berarti enggak ada, Pak Paeman dalam hubungan melakukan ijazah palsu ini membuat ijazah mau ya nanti diperiksa ya. Pokoknya di benar ya, Pak Paiman ya. Dulu silakan aja. Oke. Diidek mau. Ya sudah, Pakiman ya. Hadir ya. Bagaimana mau mengatakan ijazah palsu orang mengakui kok. Iya. Halal bihalal itu tidak pernah dilakukan sebelumnya tapi 2025 Pak Paiman kumpul di sana dengan alasan karena sekarang tanyakan tanyakan sama yang ngadakan yang ngadakan al bialal. Saya kan hanya diundang. Oke. Baik. gitu loh. Jadi tidak ada kaitannya gitu loh. Jadi jangan inilah janganlah kita hidup ini sesuatu yang tidak ada dibikin kasihan dong keluarga saya. Saya tuh merintis dari bawah sekali kok sekarang nama saya dihancurkan begitu. Baikbaik enggak bolehlah gitu. Baik baik baik. Terima kasih Pak Paiman. Terima kasih sekali Pakiman ditunggu ditunggu nanti live ya. Enggak cuman suaraan ditunggu ya laporannya Pak Paeman ya. Makasih, Pak. Makasih Bung Andi. Oke. Baik, makasih. Kita berikan tepuk tangan untuk Pak Paiman karena akhirnya muncul. Terima kasih sekali lagi. Luar biasa ini Pak Paiman akhirnya muncul berani untuk menyampaikan klarifikasinya. Terima kasih. Ini kami apresiasi sekali. Tapi masih ditunggu tuh, Mas. Baiknya Pak Paimantu ini. Ini kayaknya ada sesuatu. Oh, enggak. Memang ini ada sesuatu Bung Roy. Ini ada ada data yang harus dikejar dari Pak Paiman. Ya, tadi Bung Roy dari youtuber. YouTuber yang dipercaya sama dia. Enggak gini. Karena youtuber itu teman-teman Anda semua itu ceboker nusantara itu itu naras narasinya nyerang-nyerang kami semua dan itulah ngangkat Pak Iman sebagai seolah-olah komnasem. Jadi gini beliau ini ya terganggu ini keluarganya terganggu ya apa itu dia kan sahabat beliau, sahabat Anda terganggu keluarganya karena masalah ini. Iya kalau dia terganggu saya lebih terganggu Pak ya semua terganggu adalah gitu. Jadi kalau Anda buah itu ada yang buat. Oke. Baik. Oke, sekali lagi, sekali lagi gini. Jadi sekali lagi ee kita menghargai nanti nanti Mas Roy, saya berikan pas closing statement. Oke, nanti respon dulu silakan. Closing statement. Baik, ini kan karena tadi itu kita konteksnya adalah seorang presiden, mantan presiden yang enggak mau secara gentleman menunjukkan memegang ijazah S1 UGM itu loh. Kalau dia benar alumni UGM justru bangga seperti saya. coba atau saya perlu datang ke rumah Pak Jokowi untuk menunjukkan ijazah satu game saya sama-sama kita. Saya enggak presiden aja berani begitu loh. Jadi sekali lagi makanya saya bilang semua ini kegaduhan ini bermula dari ya pengecutnya Joko Widodo ya dan pengecutnya Dirtium yang diakui mereka itu asli tapi hanya berani menampilkan fotokopinya dan memaksa rakyat harus percaya karena laboratorium forensik. Kalau memang Anda percaya dengan penelitian Anda, tampilkan yang asli. Bang Aiman nanti saya kasih satu closing ya buat saya bentar. Iya. Makanya saya bilang kalau orang awam yang sekarang sudah mulailah kita munculkan saya UGM. Hasaya UGM. Ayo kita tunjukkan ijazah UGM kita. Itu baru alumni UGM. Alumni UGM bukan malu sebagai alumni UGM. Ijazah UGM bukan aib. Masa kita punya presiden yang enggak berani menunjukkan ijazahnya. Sudah 10 tahun di biaya negara ini, sudah R juta per bulan dikasih Alpard, dikasih 12.000 m apa itu ee rumah rumah apa itu rumah dinas pensiun itu semua kita yang bayarin gitu. Tunjukkan sekarang tadi Pak jangan marah-marah suaranya enggak usah kencang-kencang. Budek saya lama-lama. Ah, iya juga saya juga kacau ini kacau. Benar saya takut leu ini stroke lama-lama karena terlalu marah-marah terus gitu. Oke, baik makasih Pak sudah cukup. Nah, semua kan tadi Pak Widodo tadi di dirugikan Pak apa Pak apa tadi Pak Paiman dirugikan apalagi kami dilaporkan hanya karena seorang presiden yang enggak berani menunjukkan ijazahnya. Ah oke tapi Pak Andi Pandi gak mau kan menunjukkan ijazahnya kan. Silakan begini enggak? Pandi mau enggak menunjukkan ijazah? Enggak mau kan? Mau mau Bang. Oke, saya tanya gini. Saya tanya buat Anda. Anda sudah mengatakan Jokowi dengan person enggak usah kalau pejabat ya. Yuchikaku suen yuciaku ya. Anda bisa tunjukkan Anda bisa dengan Roni Teguh. Oke. Adantri makan tunjukkan untuk makanya saya bentar dulu Mas [Tepuk tangan] menuntut tak saya. Oke. Anda bisa enggak menuntut Joko Widodo untuk menunjukkan ijazahnya? Saya tanya Anda mengatakan ke Joko Widodo dengan nada marah dan gerakkan. Saya mau tanyakan, you punya S2, S3 Yama Guuchci daigaku itu sudah mengatakan tidak mengenal yang namanya Rismon. Makanya begini pak, ajak tantang Joko Widodo kita bareng di Solo kita tunjukkan Anda dan Roni engak berani Anda gak beraniak berani Anda ayo dipertanyakan. Oke, oke, oke. Baik, sekarang Pak Rajas. Pak Rajasah dulu. Silakan, Pak Jasa. Para jasa biasanya kalau intel kan tenang, adem gitu ya. Enggak juga tenang, Pak. Tapi sudah enggak intel lagi sekarang. Sudah enggak dibin. Jadi saya ketakutan sendiri kalau ngelihat orang-orang sipil ribut nih. Mengerikan, Pak. saling lapor ya kan. Saya berharap persoalan ini bisa diselesaikan secara bermartabat dan kesatria. Terima kasih. Oke. Baik, makasih. Terakhir, silakan. Terakhir sedikit se kiri ke kanan. Bagaimana kalian menanggapi mobil SMK? Bagaimana Anda menanggapi 11.000 triliun? Bagaimana Anda menanggapi 10 juta pekerja? Bagaimana Anda menanggapi semua impor? Enggak. Tapi terjadi itu semua. Belum lagi anaknya 19 juta korelasinya soal kejujuran dan kebohongan itu harus ada. Anda akan bisa menjawab itu. Anda bisa enggak menjawab soal mobil SM? Ada yang kita bahas adalah ijazah. Baik. Baik, Mas. Sekarang bukan ini ijazah. Jangan ke mana-mana katanya dulu saya terakhir. Ha? Enggak, Bang. Bang Roy dulu biar nanti bisa ditanggapi. Jadi gini ya. Baik. Pitra pengin terakhir pengin menanggapi. Jadi gini kuncinya semua ini memang benar kata Pak Asman ini soal kejujuran ya. Soal kejujuran, soal kebenaran. Bares Krim menampilkan semua itu ya. Kenapa kita kritik? Karena ada ketidakbenaran di situ. Soal tadi sudah disebutkan detail banget oleh Bang Resmon. Soal desa KKN, soal koran kedaulatan rakyat yang mereka tampilkan tuh hanya omon-omon kayak junjungannya hanya talk the talk. Nah, talk the talk. We walk talk the talk to talk. Nah, ini ini kayak gini nih loh. Nah, we only talk the talk. Ya, bisanya tuh hanya talk the talk. Kayak Prof. Paiman. Kita tunggu deh Prof. Paiman tampil beneran. Enggak cuman talk the dog suaranya saja. Nah, kalau enggak itu kayak junjungannya kayak gini sekarang. E udah, Bangra tolong tolong dibungkus dulu itu Bang Petra. Bang Pitra tolong dibungkus dulu. Ini ini sekarang saking malunya sekarang kepalanya tertunduk ini. Udah udah udah mau ada laporan bungkus dulu Bang. Ini ini sudah sudah kayak gini nih sekarang dan saya anunya lagi apa mirisnya lagi Bang Aimon ya. Sampai ada orang petinggi ya dulu bekas pejabat ya bekas aparat enggak ngerti arti wayang ya kayak ini tadi bungkus dulu wayang tuh kesenian yang adil luhung dulu itu memang orang menggunakan wayang untuk mengkritik ada wayang suluh kepanya ya memang ini patah udah patah dia sakit sampai kemarin sakit kulit sekarang mungkin sakit leher sekarang aduh eh berdiri dong kamu masa malu malu di dia malu menunjukkan ijazahnya nya. Jadi enggak usah ada orang maklum juga jasanya bumi makin goncang-gancing tancep kayon selesai. Oke. Baik silakan Bu Mitra. Terima kasih Bang Aiman karena tadi Bang Roy Suryo menunjukkan baju tok detok ya. Saya juga ada baju tok detek. Nah, keren. Wuhu. Keren. Keren. Keren. Ini keren nih. Tahanan bini. Oh, ini bukan tahanan apa ya? Tahanan tahanan bini. Bini. Pergi dicari pulang dimaki. Enggak dong. Ini bini siapa maksudnya? Bini. Kenapa gitu? pergi dicari, pulang dimaki. Saya khawatir Bang Rismon, Bang Roy, Pakiman dimaki sama istri karena terlalu banyak apa namanya apa ee opini-opini ya, cocok logik-cocok logi, katanya-katanya. Sehingga kalau memang teman-teman mau baju ini ada nih saya siapkan tiga, tapi pertanyaannya pasti enggak mau kan gitu. Jadian ini kan enggak apa-apa, Pak. Siapa tahu pakai dong pakai pakai loh ada yang pakai dong. Kalau saya sih ngapain pakai itu. Jadi begini Bang Aeman ya. Oke. Baik. Artinya biar ada perimbangan kan gitu karena Bang Roy tadi menunjukin baju tekotok terus wayang ya kita juga siapkan baju tahanan bini. Artinya lebih bagus menjadi tahanan bini dibanding tahanan politik atau tahanan negara atau tahanan kriminal kan gitu. Kalau bini kan masih bisa dimarah-marahi enggak boleh pulang keluar rumah. Tapi kalau memang tahanan kriminal ya, nah kita enggak bisa ke mana-mana gitu loh. Jadi, Bang Aiman saya ingin menyampaikan kepada teman-teman kita ini karena tadi menyinggung Bares Krim Mabes Pori, menyinggung Pak Dirtipidum, Pak Johandani. Memang menjadi polisi itu sangatlah berat Bang Aiman. Salah dicaci maki, benar tidak dipuji. Jadi, apapun yang dilakukan oleh polisi ini, polisi harus bisa menjadi perfeksionis di mata masyarakat. Harus bisa menjadi sempurna, harus bisa menjadi malaikat. Tapi yang pasti polisi selalu menembak hati rakyat untuk melindungi, mengayomi, dan menegakkan hukum di tengah-tengah masyarakat. Jadi saya secara pribadi dan mewakili teman-teman di Perkumpulan Praktisi Hukum dan Ahli Hukum Indonesia mengucapkan selamat hari Bayangkara yang ke-79. Selamat Hari Bayangkara. Semoga PORI semakin jaya. Jadi 10 detik dulu ini saya putarkan ini biar teman-teman polisi. Bentar saudaraku. Sebentar saudaraku. Ini ada penting semangat nih dari Deni Iskandar. Bentar sebentar sayang harapan bangsa pengembang tugas mulia berasaskan tribata membangun bangsa sejahtera. Oke. Oke. Jadi di hari bayangkara ini kita bangga punya polri yang presisi. Kita bangga mempunyai kapori yang begitu humanis Pakistigit. Kita bangga memiliki Pak Kabar Eskrim, Pak Wahyu Widada dan kita bangga memiliki Dirtipidum yang begitu sigap dan cepat dalam menangani laporan-laporan dari teman-teman walaupun hasilnya itu dihentikan. Artinya apa? Polisi itu tidak diam dan tidak menyepelekan apapun laporan dan pengaduan dari masyarakat. sehingga proses hukum yang dilakukan oleh teman-teman maupun proses hukum yang terang ditangani oleh penyidik itu sudah sesuai dengan ketentuan hukum. Jadi yang saya ingin sampaikan kepada teman-teman di sini ini bagaimanapun ceritanya ini teman-teman saya juga nih Bang Aiman, Bang Roy adalah teman saya, Bang Rismon teman dan lain-in teman. Akan tetapi saya ingin sampaikan karena memang latar belakang kita ini kan berbeda, nasib kita juga berbeda. Dulu Bang Roy sebagai mantan wakil menteri, saya sebagai aktivis mahasiswa. Jangan diturunkan dong. Iya, menteri saya. Menteri. Oh, menteri ya. Waduh. Karena teringat Bang Paiman tadi pembahasannya. Karena debat-debat dengan Bang Paiman. Oke, bagaimana pun ceritanya Bang Roy kan pernah menjadi menteri di republik ini. Setidaknya Bang Roy harus juga menjaga keutuhan dan persatuan bangsa sebagaimana amanat daripada Pancasila sila ketiga Pancasila yaitu persatuan Indonesia. Karena triggernya ini di antara kita ini saling berburuk sangka, Bang. gitu loh. Jadi, Bang Roy bilang, “Oh, ini palsu, ini palsu.” Sehingga muncul keramaian di tengah-tengah masyarakat yang berspekulasi bahwasanya itu seolah-ah palsu Pak Jokowi ijazahnya. Akan tetapi yang kita sesalkan adalah kenapa di dalam proses penuduhan ini palsu, tidak ada putusan pengadilan yang menyatakan itu palsu. Nah, sehingga ini menjadi trigger memantiknya kegaduhan di tengah-tengah masyarakat. Nah, sebagai warga negara yang baik saya kira kita semua berkewajiban untuk menjaga keutuhan bangsa dan persatuan di antara anak bangsa. Jangan juga gara-gara opini yang belum bisa dipertanggungjawabkan tanpa melalui proses pengadilan kita menjadi hakim jalanan dan menghakimi seseorang. Nanti besok-besok bukan hanya Pak Jokowi saja yang akan menjadi tuduhan. Larinya besok kepada Waapres ya, Gran Rakabumi Neraka. Habis dari Wapres ke yang lain-lain. Jadi saya kira ini harus memang Mas yakin ijazahnya Wapres asli. Tunggu dulu Bang Roy. Tadi Bang Roy sudah bicara tok detok ya kan. Artinya ini kan kesempatan saya bagaimanapun beliau Pak Joko ini adalah pernah menjadi presiden republik Indonesia. Saya kiranya siapapun pemimpinnya harus kita hargai dan hormati. Dia pernah berjasa untuk bangsa ini. Terlepas kita tidak suka sama beliau, itu internal. Jangan juga ini menjadi bias sehingga masyarakat-masyarakat lainnya itu menimbulkan ee opini liar dan menghakimi seseorang tanpa proses peradilan. Makanya di dalam hukum pidana itu ada namanya asas aktori incambit onus probandi. Siapa yang mendalilkan dialah yang harus membuktikan. Pertanyaannya adalah sampai hari ini saya belum melihat bukti yang sahih dan valid terkait dengan penelitian yang dilakukan oleh abang-abang sekalian gitu loh. Itu enggak ada bukti yang sahih. Jangan juga contohnya seperti ini. Hei Bang Rismon, kau adalah perempuan. Oh bukan. Saya laki-laki. Kata Bang Rismon. Tunjukin aja. Kan gampang. Kita semua pengin tunjukkan Bang Ris itu adalah perempuan gitu. Tiba-tiba tunggu dulu tiba-tiba Bang Ris langsung buka baju gitu. Kalau Bang Roy bisa menganalogikan kalau bisa menganalogikan dia juga bisa mengalogikan dong. Contohnya nih, bagaimana ini saya tarik dari Iskandar nanti saya kasih nanti kasih nih saya tuduh eh Bang Rismon kau itu perempuan enggak saya laki-laki kata dia gitu kelamin tunggu dulu saya laki-laki katanya gampang saja Bang tunjukin aja bahwasanya kau laki-laki atau perempuan buka aja gitu jadi kan ini memalukan gitu loh bukan contoh sederhananya logika seperti itu. Itulah dalil hukum tadi. Saya kan menyampaikan dalil hukum asas aktor incambit harus probabil dalil hukum enggak menggunakan logika ekivalensial. Maksudnya begini saya berbicara logika yang tadi masa ijazah dibanding dengan kelamin sederhana saja karena kan gini Pak tunjukin aja Pak Jokowi ijazahnya kan gampang suruh tunjukin gitu. Makasih Bung Pitra sudah tadi ada ini harus adil juga karena tadi kita menyikas dari Denis Iskandar I ya saya bacakan aja ya. Ini sumbernya Pak Betor ya? Oh ya Pak Betor ya. I begini tunjukkan waku sekarang ke ke ee ke Mas Aiman. Saya Deni Iskandar tidak pernah dan belum pernah memberi info apapun ke Pak Bitor. Sebentar bentar bentar bentar. Saya enggak bisa percaya itu aja. Tunjukinlah dulu, Bang. Biar dibaca dulu biar dibaca dulu baca dulu saya baca. Ini saya baca saya serahkan ke nomornya kita verifikasi dulu nomornya benar enggak mas nomornya benak bisa sebut silakan nih Pak coba lihat coba lihatnya cek cek oh enggak enggak saya enggak percaya benar enggak percaya orangnya enggak percaya orangnya ngatakan betul atau enggak mabes aja dia enggak percaya apalagi handphone aja tadi percaya apagi saya baca dulu saya baca dulu kita akan dulu proses hukum jasa palsu Jokowi masih terus berjalan sah atau pengadilan yang akan membuktikan publik penanti kebenaran yang berpijar saya aono sampai jumpa di rakyat bersuara berikutnya namun sebagai bentuk apresiasi di program rakyat bersuara Insarung Mangga ingin menyerahkan bingkisan kepada semua narasumber di sini yang hadir sarung cap mangga bangga bersarung Mangga mana sarungnya? Oke, saya berikan kesempatannya. Terima kasih. Sampai jumpa di R bersuara berikutnya. Sarung mangga, Pak. Oke. Supaya adil kanan kiri. Pak Betor pakai sarung juga kan? Pakai sarung juga. Itu bagi ada tiga ya? Ada tiga. Ada tiga. Ada tiga, Pak. Nanti dibagi tiga. Respon mau pakai sarung. Pakai sarung. Kenapa enggak mau? Mau. Terima kasih, Pak Widodo. Saru mangga, Pak. Saru mangga. [Musik]
Yuk Subscribe https://www.youtube.com/c/OfficialiNews
Selengkapnya baca di: https://inews.id/news
Follow WA Channel https://whatsapp.com/channel/0029Va7scI1LdQekZvLynv1H
Follow our Official TikTok https://www.tiktok.com/@officialinews
Follow our Official Twitter https://twitter.com/officialinews_
Like our Official Facebook https://www.facebook.com/OfficialiNews
Follow our Official Instagram https://www.instagram.com/officialiNews
Dapatkan sajian berita dan liputan langsung peristiwa terkini secara cepat dan akurat di:
https://www.inews.id/ untuk berita dari daerah-daerah di seluruh Indonesia
Tanggal Tayang: 1 Juli 2025
#RakyatBersuara #Jokowi #Ijazah #RoySuryo