🔴VIETNAM MENANGIS !! Pierluigi Collina NGOMONG GINI Usai Timnas U23 Dicurangi Wasit Vs Vietnam Final

[Tepuk tangan] Oh, Anda lihat. Hati-hati Arjuna. Arjuna tenang saja Arjuna. Arjuna tenang. Ya, ini memang gaya dari pemain Vietnam pemirsa akan seperti ini. Dan Anda lihat begini pernyataan legenda wasit FIFA yaitu Pierre Luigi Colina usai timnas Indonesia U23 dicurangi wasit melawan Vietnam, U23 di babak final Piala AFF U23 tahun 2025. Bahkan ketua wasit FIFA mengatakan jika gol timnas Vietnam U23 pada menit 37 dianggap tidak sah. Tak hanya itu, Pier Luigi Kolina juga mengatakan jika pada menit 63 timnas Indonesia U-23 pantas mendapat penalti saat pemain timnas Indonesia U-23 dilanggar oleh pemain Vietnam U-23 di dalam kotak penalti. Bahkan ketua wasit FIFA juga mempertanyakan kepada federasi AFF kenapa setiap pertandingan timnas Indonesia di babak final selalu dipimpin oleh wasit asal Jepang yaitu Koji Takasaki. Begini pernyataan ketua wasit FIFA yaitu Pier Luigi Colina yang menganggap kemenangan timnas Vietnam U-23 tidak sah dan pertandingan harus diulang. Begini penjelasan lengkapnya. that I learned a lot also from the youngest at the end of my career because a new generation bring something that is new that is different. [Musik] Setelah kekalahan timnas Indonesia U-23 versus Vietnam U-23 di babak final Piala AFF U-23 tahun 2025 dengan skor 1-0. Dunia sepak bola Asia Tenggara diguncang oleh pernyataan mengejutkan dari ketua wasit FIFA yaitu Pierre Luigi Colina. Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion SUGBK, Vietnam berhasil keluar sebagai juara dengan kemenangan tipis 1-0 atas Indonesia. Namun kemenangan tersebut kini berada di bawah sorotan tajam setelah ketua wasit FIFA yaitu Pierre Luigi Colina menyebut laga tersebut syarat kecurangan dan keputusan wasit yang sangat kontroversial. Pernyataan keras ketua wasit FIFA yaitu Pierre Luigi Colina tersebut menjadi headline utama media-media olahraga dunia. Pria asal Italia yang dikenal dengan integritas dan ketegasannya dalam dunia perwasitan menyebut bahwa kemenangan Vietnam tidak sah secara moral dan seharusnya dibatalkan. Saya menyaksikan sendiri seluruh jalannya pertandingan final antara Indonesia dan Vietnam. Dan saya sangat kecewa. Menurut saya pribadi, kemenangan Vietnam U-23 tidak sah. Ada banyak keputusan wasit yang berat sebelah, merugikan Indonesia dan mencederai semangat fairplay. Salah satu sorotan utama dari ketua wasit FIFA adalah gol tunggal Vietnam yang dicetak pada menit ke-37. Gol tersebut menurutnya tidak sah. Hal lain yang membuat ketua wasit FIFA yaitu Pierre Luigi Kolina Murka adalah insiden pada menit ke-63 saat pemain Indonesia ditarik jelas-jelas oleh pemain Vietnam di dalam kotak penalti saat hendak menyambut umpan sepak pojok. Insiden itu terjadi tepat di depan mata wasit Koji Takasaki. Namun ia memilih tidak mengambil tindakan. Ini keputusan yang benar-benar tak masuk akal. Itu pelanggaran yang sangat jelas terjadi di depan mata wasit dan bahkan pemain Vietnam tidak membantah. Tapi tidak ada penalti, tidak ada VAR, tidak ada apa-apa. Ini adalah bukti nyata keberpihakan. Lebih lanjut Pier Luigi Colina menyoroti kerasnya permainan Vietnam yang menurutnya sudah melewati batas sportivitas. Beberapa momen brutal luput dari hukuman yang setimpal, termasuk ketika Famly Duk menyikut kepala Frankie Misa saat sang gelandang sedang melakukan ribel melewati dua pemain Vietnam. Dalam pertandingan yang menjunjung tinggi nilai fairplay, tindakan seperti itu seharusnya langsung diganjar kartu merah, tapi wasit tidak memberi apapun. Insiden lain terjadi pada menit ke-83 ketika Doni Triamungkas ditendang di bagian perut oleh bek Vietnam setelah berhasil merebut bola dengan bersih. Lagi-lagi wasit hanya membiarkan aksi tersebut tanpa kartu maupun peringatan. Puncaknya terjadi pada menit ke-53 ketika terjadi keributan di lapangan setelah pemain Vietnam melakukan tackel brutal terhadap Frankie Misa. Aksi itu memicu emosi para pemain Indonesia yang merasa rekan mereka dilukai secara sengaja. Namun, wasit Koji Takasaki lagi-lagi tidak mengeluarkan kartu merah atau tindakan tegas. Tak hanya soal keputusan teknis dan kekerasan fisik, Pier Luigi Colina juga mengecam keras gaya bermain Vietnam yang disebutnya terlalu banyak drama. Menurutnya, pemain Vietnam terlalu sering berpura-pura cedera untuk mengulur waktu dan menghentikan momentum serangan Indonesia. Setiap Indonesia mulai menguasai permainan. Pemain Vietnam terjatuh dan meminta perawatan. Ini jelas strategi yang tidak mencerminkan sportivitas. Wasit harusnya bisa membaca permainan seperti ini dan memberikan tambahan waktu yang adil. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Begini jalan pertandingannya. Timnas U-23 Indonesia harus merelakan gelar ke Vietnam usai kalah di final ASEAN Cup U32025 dengan skor 0-1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Selasa, 29 Juli tahun 2025 malam waktu Indonesia Barat. Timnas U-23 Indonesia langsung mengambil inisiatif serangan. Peluang pertama langsung tercipta pada menit ke-14 melalui lemparan ke dalam jarak jauh Robi Darwis. Sayang, tandukan James Raven masih melambung. Garuda Muda hampir mendapatkan mimpi buruk kehilangan satu pemain. Pada menit ke-10 saat, wasit Koji Takasaki memeriksa layar FAR usai Raihan Hanan diduga menginjak pemain Vietnam. Beruntung wasit asal Jepang tersebut hanya memberikan kartu kuning saja untuk pemain Persija Jakarta tersebut. Pada menit ke-30, timnas U-23 Indonesia mendapatkan peluang emas usai Raihan Hanan lolos dari pengawalan bek Vietnam usai mendapatkan umpan lambung dari Kakang Rudianto. Sayang tembakannya masih bisa dimentahkan Trungkien KH. Petaka tiba pada menit ke-38 untuk Garuda Muda usai situasi kemelut dari skema tendangan penjuru yang sukses dimaksimalkan menjadi gol oleh Nguyen Chong Fuong. Pada babak kedua, timnas U-23 Indonesia mengambil inisiatif serangan ke jantung pertahanan Vietnam. Garuda Muda mendapatkan peluang emas melalui tembakan melengkung Doni Triamungkas, tetapi masih diblok pemain belakang Vietnam. Sementara Vietnam mulai bermain rapat di wilayah sendiri sambil mencari keuntungan dari serangan balik. Pada menit ke-76, Garuda Muda mendapatkan peluang emas melalui kemelut lemparan ke dalam jarak jauh dari Robi Darwis. Sayang, eksekusi Kakang Rudianto gagal menemui sasaran. Robi Darwis kembali mendapatkan peluang emas pada menit ke-79. Sayang, tembakannya dari sisi kanan tidak mengarah ke sasaran. Gerald Vanenburg menambah agresivitas dengan memasukkan Hoki Karaka dan meminta Kadek Arel sebagai penyerang ketiga di kotak penalti Vietnam. Sayang, meski menguasai pertandingan, timnas U-23 Indonesia gagal mencetak gol di sisa pertandingan. Garuda Muda harus merelakan gelar ke Vietnam untuk dua kali beruntun. [Musik] Berita kedua begini pernyataan media Vietnam yaitu the Tau Usai pertandingan timnas Indonesia U-23 versus Vietnam U-23 di babak final Piala AFF U-23 tahun 2025. Timnas Indonesia U-23 sukses mencuri perhatian publik Asia Tenggara, namun juga mengguncang media Vietnam sendiri. Pernyataan tersebut menunjukkan betapa terkejutnya media Vietnam dengan permainan yang diperagakan skuad Garuda Muda. Laga final yang sejatinya diperkirakan berjalan ketat dan seimbang justru berubah menjadi dominasi total dari anak asuh Gerald Vanenberg. Dari segi strategi, kreativitas individu hingga kekuatan mental, Indonesia U-23 tampil jauh lebih unggul dibandingkan Vietnam. Media Vietnam yaitu The Tao secara terang-terangan mengakui bahwa mereka sama sekali tidak menduga pelatih timnas Indonesia U23 Gerald Vanenburg akan melakukan revolusi taktik besar di laga sepenting final. biasanya mengandalkan formasi 433 dengan permainan lebar dan kombinasi cepat, Vanenburg justru memilih tampil dengan skema 4333. Formasi ini bukan hanya mengejutkan Vietnam, tapi juga membuat kami bertanya-tanya, apakah ini tim muda Indonesia yang sama seperti di babak grup dan semifinal? Perubahan formasi menjadi 34 membuat Vietnam kehilangan keseimbangan sejak menit pertama. Kami tak tahu harus menutup sisi lapangan atau membendung lini tengah Indonesia yang mendadak sangat aktif. Dengan tiga bek sejajar dan empat pemain tengah yang agresif, Indonesia tak hanya menutup ruang pergerakan Vietnam, tapi juga terus menggempur dengan variasi serangan yang belum pernah mereka tampilkan sebelumnya. Salah satu titik fokus dari liputan de Tao adalah kembalinya dua pilar lini tengah timnas Indonesia U-23, Arkan Fikri dan Tony Firmansyah. Setelah absen di laga-laga krusial sebelumnya, kehadiran mereka di final mengubah wajah permainan Indonesia. Arkan Fikri bermain seperti maestro. Umpan-umpannya akurat, pergerakannya sulit ditebak, dan ia menjadi arsitek dari hampir semua serangan Indonesia. Sementara Tony Firmansyah adalah tembok tak kasat mata. Ia membaca permainan dengan cerdas, memotong aliran bola Vietnam, dan selalu tenang meski ditekan. Kedua pemain ini membuat Vietnam kehilangan kendali di lini tengah. Bahkan kapten Vietnam Kuat Van Khang yang biasanya menjadi jenderal lapangan tampak frustrasi karena selalu dibayang-bayangi oleh tekanan konstan dari duet lini tengah Indonesia. Sosok James Ravens, penyerang naturalisasi yang mencuri perhatian sejak babak penyisihan kembali menjadi headline di media Vietnam. The Tao bahkan menyebutnya sebagai striker paling menakutkan di turnamen ini. James Ravens adalah momok bagi pertahanan kami. Ia menahan bola, mengacak formasi kami, dan selalu unggul dalam duel. Famly Duk dan Guy Humin tampak seperti pemain amatir ketika berhadapan dengannya. Jamens Ravens bukan hanya mencetak peluang, tapi juga menjadi pemantul sempurna bagi pergerakan pemain sayap dan gelandang serang. Ia menjadi pusat perhatian dan membuat sistem pertahanan Vietnam terpecah. Selain lini tengah dan striker, Indonesia juga mengandalkan dua bek sayap yang tampil luar biasa, Doni Tripa Mungkas dan Asmat Maulana. Duet ini disebut The Tao sebagai kombinasi maut yang membuat lini belakang Vietnam kehilangan arah. Doni dan kecerdasan taktik Acmat Maulana. Mereka menyerang bersamaan, bertukar posisi, dan membuat para pemain kami bingung kapan harus bertahan dan kapan harus maju. Setiap kali bola berpindah ke sisi lapangan, kombinasi antara bek sayap dan gelandang membuat pemain Vietnam tertinggal satu langkah. Hal ini menjadi kunci banyaknya peluang yang diciptakan Indonesia sepanjang laga. Di saat serangan Indonesia begitu impresif, lini belakang juga tampil bak tembok baja. Kadek Arel, Kakang Rudianto, dan Alvarezi Buffon tampil kokoh, tenang, dan berani. Vietnam yang biasanya mampu mengandalkan kecepatan dan tusukan dari sayap, kali ini justru terhenti di hadapan benteng tangguh tersebut. Back-back Indonesia bermain dengan disiplin dan koordinasi luar biasa. Tidak ada celah, tidak ada ruang, dan tidak ada kompromi. Mereka memblokir semua upaya kami dengan efisien dan elegan. Media Vietnam menyatakan bahwa timnas Indonesia U-23 telah naik ke level permainan yang berbeda, meninggalkan lawan-lawannya di ASEAN dan mulai menyamai standar Asia Timur. Indonesia U-23 telah berevolusi. Mereka bukan lagi tim yang hanya bermain dengan semangat, tapi kini mereka adalah tim dengan sistem, strategi, dan kualitas individu yang mengerikan. Jika Vietnam tidak segera berbenah, maka dalam beberapa tahun ke depan jurang ini akan semakin lebar. Media Vietnam juga memberikan pujian kepada Brandon Shoeman menjadi sorotan berkat kiprah gemilangnya bersama timnas Indonesia U-23 di Piala AFF U-23 2025 yang menunjukkan kematangannya sebagai pemain serba bisa. Brandon dikenal sebagai bek tengah namun kemampuannya sebagai gelandang bertahan juga membuatnya semakin berharga bagi skuad asuhan Gerald Vanenberg. Penampilan itu jadi momen spesial karena Brandon juga mencatatkan cleans sheet dan menunjukkan ketenangan luar biasa sebagai pemain muda. Kesabaran Brandon selama 2 tahun untuk kembali dipanggil timnas U23 menjadi bukti dedikasinya yang tinggi. Kini di usia 20 tahun ia mendapatkan kepercayaan dari pelatih timnas untuk tampil di ajang Prestisius ASEAN. Dengan kemampuan bertahan yang disiplin dan fleksibilitas bermain di dua posisi, Brandon menjadi aset penting Garuda Muda. Так. [Musik] Yeah.

———————————————————————–
timnas indonesia, timnas indonesia news, berita timnas indonesia terbaru, berita timnas indonesia hari ini, berita timnas indonesia 2023, berita timnas indonesia terbaru hari ini, berita timnas indonesia terkini, berita timnas indonesia, berita bola terbaru hari ini, hasil timnas indonesia tadi malam, hasil bola tadi malam, timnas indonesia tadi malam, live timnas Indonesia hari ini, live timnas, timnas indonesia live streaming, kabar timnas Indonesia, info timnas Indonesia, timnas u23, timnas u20, timnas senior, piala asia, piala aff, live indosiar sekarang, indosiar live streaming, hasil timnas indonesia hari ini, piala aff 2023, hasil piala aff 2023, fifa matchday, piala aff, timnas u20, rcti live streaming, live rcti sekarang, hasil timnas indonesia, jadwal timnas indonesia, kualifikasi piala asia u20, piala asia u17, fifa matchday,