Gua NYESEL naik ANGKOT ini MALEM-MALEM ke KALIMEDI. – Selamat Datang di Kalimedi
Billy Samuel ya? Iya, Mbak. Saya Billy Samuel yang lamar jadi sopir pribadi. Ya udah, langsung aja kamu coba nyetir ya. Baik, Mbak. Kalau begitu [Musik] skill nyetir kamu bagus sih, Billy. Nyaman. Oh, syukurlah, Mbak, kalau begitu. Tapi selain itu kamu juga harus bisa angkut barang. Coba ambil barang saya di bagasi, ya. Baik, Mbak. Saya ambil dulu, ya. Hh? Kok ada orang, Mbak? Ini kok loh si mbaknya kok hilang sih? [Musik] Welcome back again guys di petualangan yang tidak ada akhirnya yaitu petualangan Arif dan Agung keenam di Welcome to Kalimedi. Arif dan Agung bertemu kembali. Siapa yang masih semangat, Guys, dengan petualangan Arif dan Agung? Coba kalian tulis emote dulu di komentar kalau masih semangat ya. Jadi guys, setelah Arif berhasil mendapatkan angkot dan Agung enggak jadi meninggoy karena kecelakaan kereta, akhirnya pasangan gay ini maksudnya pasangan romantis ini bisa bertemu kembali. Jadi tanpa banyak basa-basi kita bakal langsung mulai saja hapus iklan dulu. Karena Billy, B-nya benci, I-nya iklan. Artinya benci iklan. Kalau kalian, aku tahu kalian cinta iklan di channel ini ya. Jadi mainkan saja. Gua berasumsi di mana, RIP? RIP, maafin gue ya, RI. Maaf ya, Rip. Tolongin gue, Rif. Iya, Gung. Iya, R ini Rif kecelakaan kereta, Rif. Iya, gua maafin. Gua maafin. Gua bakal tolong lu, tapi lu sabar dulu. Jadi, gua asumsikan berarti kita bakal jemput si Agung, Guys. Pakai angkot itu ya. Angkot cihuy. Wow, akhirnya kita mendapatkan angkot legendaris C11. Huyui, cihuy. Jadi, e ini gua bingung, Guys. Kita harus ngapain dulu. Jadi, kita coba keliling-keliling dulu. Ini kita lagi berhenti di pom bensin. Halo, Bapak. Apa kabar, Bapak? Bapak Bapak kayaknya tompelnya lebih kecil daripada punya si Agung ya. Sebentar, Pak. Oh, kita bisa ganti-ganti kamera kah, Guys? Wow. Ini kita jadi siapa? Ini kita jadi si Tunggu sebentar, Guys. Ini Arif apa Agung, ya? Kok gua kok gua kok gua amnesia, ya? Ini Arif, guys. Arif, ya. Gua lupa kalau si Agung itu pokoknya yang ada tompel di mukanya gede, ya. Oke, jadi ini kita bisa ganti kamera, kita bisa lompat, kita bisa lari, tapi mungkin kayaknya kita pakai kamera ini aja, Guys. Lebih enak dan gak pusing lihatnya, ya. Dan ngomong-ngomong gua gak bisa ngomong sama bapak ini. Jadi, coba kita ke Awas banyak orgil. Awas banyak orang gila cenah katanya. Emang siapa ini yang orgil ya? Oke, sebentar di sini ada baper. Ber kebab. Ini enggak ada yang penjual kah? Ada ayam goyeng. Aduh, gua pengen banget, Guys, ayam goy ayam goreng. Ah, permisi, ada yang jual ayam goreng kah di sini? Ini gua colong aja enggak sih, Guys, ayam gorengnya bisa enggak, ya? Enggak bisa, Guys. Jangan jadi pencuri, ya. Nanti tangannya panjang kalau jadi pencuri. Oke, seperti biasa kita akan mencari bulit-bulit berwarna putih yang pulen ini. Kasih kira-kira jauh enggak, RIP? Iya, Gung. Tunggu gua masih di pom bensin. Gua masih isi bensin. Bentar ya. Sejaman lah kalau lancar. Sejaman lah. Lu naik apa, RI? Mobil gue kan udah enggak ada. Kalau bisa cepetan, RI. Jangan sampai sore. Entar kalau sampai malam gua di sini, gua bisa dikejar-kejar sama. Udah minta tolong banyak maunya si Agung ya. Gua mau ke toilet dulu. Iya, udah udah Agung lu pengen ikut gua ke toilet dan dengar suara kencing gua. Udah jangan ikut-ikut Agung. Y kita kembali ke stasiun Kalimedi di mana Agung enggak berhasil untuk kabur dengan keretanya, Guys. Malah main game. Main apa itu? Ini Hot Wheels versi Majapahit, Guys. Pakai Honda Jazz mainnya. Ya itu enggak tahu itu emang ada game dari Cihuy kah itu. Udah, Agung. Tenang aja, ya. Lu jangan khawatir, mobil lu emang udah hancur, tapi sekarang ada penggantinya yaitu angkut cihuy. Oke, kita ke bulat-bulet warna putih itu lagi, Guys. Ini kontrolnya kali ini agak susah ya. Gua pengen lari harus pencet ini dulu, Guys. Hah, banyak orang gila. Ah, yang coret-coret tembok ini aja kali yang gila. Orang waras enggak mungkin sih? Yang coret-coret malah orang gila. Justru ini biasanya pengangguran ya. Enggak tahu mau ngapain. Makannya suka coret-coret. Oke, selanjutnya kita pengen ke ayam goyang. Isi peyut. Peyut perut. Peut lagi, Guys. Lama-lama jadi belut, Guys. Jadi, kita akan mengisi perut dengan ayam goyang dulu. Ada kalau pengen makanan pasti yang jual enggak ada. Iya, benar juga ya, Guys. Selalu aja enggak ada dari nasi goreng lah yang dari awal ee terus apalagi makanan. Rata-rata enggak ada yang jual gitu loh di tempat ini. Agus lapar, Bu. Oke, sebentar kita akan berbicara dengan si tukang om-om pom bensin GS. Anjay, Bang. Yang jual kebab sama ayam goreng. Yang jual kebab sama ayam goreng ke mana? Tadi mereka dikejar-kejar orang gila sampai ketakutan. Enggak tahu kenapa belum balik. Dikejar orang gila. Orang gila itu dia, Bang. Orang gila. Ayo kabur, Bang. Ya Allah. Ya Allah. Tolong, ya Allah. Orang gila. Orang gila. Wadaw. Ini ini bentar ya. Ini bentar ya. Jadi gini, ini ada orang gila, bajunya cewek berdada tapi jenggotan, Guys. Ya Allah, tadi aja dia enggak ngenain gua, kenapa gua di jump scare gitu loh. Baru mulai loh, Guys, ini game. Gua cuma pengen jemput si Agung udah .30 pagi nih. Tolonglah gua udah gak punya waktu untuk main-main sama orang gila ini ya. Langsung aja mainkan ya. Walaupun gua naik angkut ciuyi di mana dia langsung ngebut angkut ciuy. Mana tuh orangor gilanya kok enggak ada sih? Gua kira dia udah enggak ada, Guys. Ternyata masih ada. Jadi langsung aja kita mainkan. Langsung kita lari, Guys. Aku enggak suka dikejar. Aku sukanya mengejar karena aku adalah Billy the Buaya. Oke, langsung aja ngebut. Anjay, orang gila gak bisa ngejar karena aku nyetir angkot. Cihuy. Oke. Alas keramat Kalimedi uh. Lewat jalan tol, Guys. Berarti kita ke arah kanan, ya. Tapi sebentar, gua penasaran apakah si orang gila itu masih ngejar gua, Guys? Gimana kalau kita tantang dia aja, Guys? Bentar, Guys. Gua pengen iseng bentar nih, ya. Apakah dia masih mengejar kita, Guys? Ini namanya nyari perkara, Guys. Nyari masalah nih. Udah, udah ggak ada kah lowongan supir angkot? Masih ada kah dia? Suaranya sih udah enggak ada, Guys. Masih ada, Guys. Masih ada. Kalian lihat enggak? [Musik] Suaranya makin dekat. Udah, Guys. Jangan main-main, Guys. Jangan jangan gak. Kita gak boleh isengin orang gila, Guys. Karena kita gak tahu apa yang bakal dia lakukan, ya. Oke, ke kanan. Kalimedi ngepot dulu. Anjay. Cihuy. Ini ke kiri apa ke kanan, ya? Oke, Kalimedi ke kiri, Guys. Uh, kita juga bisa ke Meraung Kidul, tapi, no thanks. No, no, no, no. Tidak. Terima kasih. Anjay, Billy si sopir angkot. Anjay, nol kecelakaan, Guys. Wah, grafiknya makin bagus ya, Guys, si game Chihu ini, ya. Ingetin kalimedi nanti kita ke kiri guys. Jangan lurus ya. Kalau lurus kita ke Cipali, ya. Apa tuh? Cihuiwi. Hah? Ciwik wik wik wik. A w anjay. Untung gak masuk danau, Guys. Kalau masuk danau bahaya ya, Guys. Kita gak bisa naik lagi. Anjay. Kita ngebut aja enggak sih, Guys? Eh, sebentar, sebentar. Kita nikmatilah perjalanan inil lah. Jangan ngebut-ngebut ya. Pelan-pelan. Gua ngelihat ada sesuatu guys di depan. Woi, gua gak butuh koin-koin sedikit ini ya. Gua udah kaya tadi. Gua udah beli 5.000 koin enggak perlu koin. Sombong amatuh. Ada ini guys. Pembatas kereta. Oke stop dulu guys. Harus jadi orang sabar. Udah sore nih. Baru iya sabar gung. Baru keluar to. Baru keluar dari to ini. Masih nunggu kereta lewat. Eh Gong. Coba lu jujur deh. Coba lu jujur. Tadi maksudnya lu cerita habis kecelakaan kereta tuh beneran kung apa cuman biar gua buru-buru aja? Eh, panjang, Rif ceritanya. Oh, jadi si Arif ini enggak percaya, Guys. Ceritanya gini, RIP. H, gua kembali dong, Guys, ke sini, Guys. Bawa apa ini? Bawa linggis sama jerigen bensin ini kayaknya, ya. Aduh. Oke, kita ke bulet-bulet ini. Gua tahu, RI. Ini salah gua. Gua tinggal di sungai yang banyak buayanya itu. Salah gua. Oke, jadi ini kita sambil telepon, Guys, kayaknya. Aduh, Guys. Gua gak mau banget balik ke stasiun Kalimedi ini. Stasiun keramat, stasiun terkutuk. Pikir gua bisa lari dari masalah. Eh, ternyata malah kena masalah lain yang lebih parah. Ah, itu namanya kamu kena karma meninggalkan temanmu sendiri di sungai. Tapi sebenarnya enggak salah juga sih. Arif kan dengan kawanan-kawanannya di sungai, Guys. Arif kan buaya juga. Ya namanya lelaki, Guys. Semua lelaki itu buaya pada akhirnya. Gua lompat ke atap kereta terus akhirnya gua tersesat di sini. Oke. Di stasiun tua yang angker ini. Aduh, Guys. Kita diarahin ke stasiun lagi. Makan Naspat dulu, enggak sih? Nasi Padang. Mendingan nasi Padang kita makan daripada masuk ke stasiun itu lagi. Entar si nenek-nenek kanibal lagi, Guys. Itu terus-terusan ngejar gua, RI. Gua ketakutan. Gua ketakutan. Ada pocong sama istrinya. istrinya. Aduh, lari gak sih, Guys? Aduh, larinya mana susah lagi, Guys. Begini, Guys, larinya. Ah, gini larinya ya. Satu-satunya harapan gua untuk Satu-satunya harapan gua untuk survive ya lokomotif itu cuma satu kereta itu yang ada ya. Awas, jangan ketabrak kereta guys. Waduh, gua dengar suara nenek-nenek ketawa lagi ng kayak gitu. Oh, ini saat sebelum detik-detik sebelum kecelakaan, Guys. Jadi, lagi flashback dulu nih. Semua udah gua lakuin supaya gua bisa masuk ke lokomotif itu. Nenek kanibal, nenek. Jangan, nenek. Ya Allah, nenek. Kenapa kalian ini kayak kekwek, ya, gak bisa dipisahin ya? Ya Allah. Istigfar, nenek. Istigfar semuanya. Pengen masuk surga enggak? Udah kalau mau masuk surga, hm, ada Mbak Dini. I love you, Mbak Dini. Kereta cihuy. No. Gua gak bisa bedain mana yang nyata, mana yang enggak. Loh, gua gak bisa bedain mana yang nyata, mana yang enggak. Lalu pas sudah pagi baru gua coba nyalain lokomotifnya. Oh, mungkin dia mimpi kah, Guys. Apa sih lokomotifnya nyala? Tapi terus gue sadar, dia sadar kalau ternyata RIP mesinnya kebakaran. Untung gua sempat lompat. Jadi, jadi dia kecelakaan itu cuma mimpi, Guys. Jadi, waktu pertama dia menaik kereta itu dia tidur dulu, ya. Terus gua kirim pesan suara itu. Oh, jadi dia udah kayak dapat ramalan, Guys. Cenayang kalau ada sesuatu yang tidak beres. Lagian berlagu banget sih, lu, Bro. Lu tahu dari mana cara jalanin lokomotif kereta? Udah, lu tenang aja. Bentar lagi gua sampai. Oke, lu sabar ya. Ini gua jemput pakai angkot legendaris nih. Ini gak bakal enggak bakal. Buset, itu kan orang gila yang tadi kan. Buset itu kan orang gila yang tadi. Kinya aja ditato, Guys. Itu colornya kanjutnya sampai kelihatan itu warna warna hideng. Itu warna ireng. Waduh. Terus ini gimana nih? Tunggu gerbangnya nyala kah? Ayo, gerbangnya naik. Apa langsung tabrak aja enggak sih? Oh, what should I do? Apa yang harus kita lakukan, Guys? Eh eh [Musik] itu bukan salah jalan ya, itu lebih ke tenggelam. Oke, jadi sepertinya kita enggak bisa ngelewatin gerbang ini, Guys. Gerbangnya enggak kebuka-buka. Jadi kayaknya kita harus turun dulu. No angkotuy. Kamu di sini dulu ya, sayang. Kamu jangan ke mana-mana. Jangan khianati aku. Seperti kereta si Agung tuh ya yang berkhianat. Oke, kita lewatin gerbang ini manual dulu, Guys. Terus kita ke lingkaran ini. Mana sih petugas pintu keretanya? Mana sih petugas keretanya? Kereta masih enggak dibuka juga. Iya, benar. Dan masih ada suara-suara ninu ninu ninu ya. Oke, kita ke sini dulu, Guys. Kita lari dulu ke sebelah sini. Hmm, dia enggak ada di sini. Hmm. Dia enggak ada di sini. Oh, jadi biasanya kalau dibukain gerbang gini ada orangnya, Guys, yang mengontrol ruangan ini. Ya, permisi, Pak. Udah digaji bukannya kerja ya? Malah menghilang. Ke warnet ya si bapaknya ini kayaknya. Ya udah, kita jalan aja, Guys, menuju Kalimedi. Selamat datang semuanya di kota terkutuk. Jadi k, Pak, Pak, saya tahu, Pak. Hidup ini berat, hidup ini enggak adil. Tapi saya yakin kalau semua orang itu punya waktunya masing-masing, Pak, untuk bahagia. Namanya hidup itu ada pelangi, ada badai. Jadi, ya kalau Bapak lagi badai, Bapak anggap aja lagi menabung pelangi yang akan datang, Pak. Semakin besar badai semakin indah pelangi nantinya. Pak ngapain di atas itu? Jangan ya Pak yaong bukain hidup Bapak berharga kok, Pak. Kok enggak dibuka? Iya Pak. Jangan kayak gitu sendiri. Saya sudah bosan dengan hidup ini. Ya Allah Pak. Emangnya Bapak duda kah? Istri Bapak gimana? Masih nungguin di rumah Bapak. Jangan begitu ya. Elah Pak. Pak. Jadi saya buka sendiri aja nih Pak. Sebentar, Guys. Ini apa kita harus lewatin aja si Bapak ini, ya? Kita gak bisa, Guys, meninggalkan angkot cihui di situ. Itu angkot kesayangan kita. Oke, kita lari dulu. Kita ke gerbangnya. Kita disuruh buka manual. Ya udah, terserah Bapak deh, ya. Emangnya Bapak berani? Coba saya tanya. Jatuh tuh sakit loh. Mending kalau langsung ke surga. Kalau enggak coba nanti yang kasihan tuh keluarga Bapak ya. Jadi janganlah Pak ya, Pak ya. Oke, akhirnya kita bisa naik angkot. Cihuy. Ayo dong lari dong. Kontrolnya agak susah nih, Guys. Kita agak lari dulu ya. Oke, angkot kita. Kita reuni lagi. Kita bersama lagi. Aku setir lagi kamu ya. Oke. Uncle time. Saat dia ngebut loh. Oh no. Gua gak bisa kasih lihat itu guys. Panasan kerjaan ya. Cari kerjaan lain lah sampai bunuh segala. Aduh, aku nungguin nih. Gua harus gimana nih? Jadi, ya intinya si Bapak I, Guys, ya. Kasihanlah, Guys. Karena menurut gua mati pun itu butuh uang, Guys. Butuh peti buat dibeli. Kasihan istrinya datang. Gua harus gimana nih? Gua harus gimana nih? Lu tunggu dulu, Gung. Di situ ya. Lu jangan ke mana-mana. Sabar aja di situ. Itu kayaknya mau berhenti. Lu jangan bilang lu naik kereta itu terus ninggalin gua. Lu jangan macam-macam ya, Gung. Gua udah capek-capek ke sini, Gung. Oh no. Kita tiba-tiba menjadi Agung kembali. Uh, ini udah ini masih agak terang gitu sih, Guys. Harusnya masih aman ya. Oke. Ya Allah, Guys. Dia naik kereta. Gua gak mau kemalaman. Mendingang ini aja deh. Mending numpang a deh. Kalau diturunin lagi gimana ya? Ini jangan sampai nanti dibawa ke Agarta, Guys, ya. Dunia tersembunyi. Oke, kayaknya kita gak jadi naik ke sini, Guys. Coba kita keliling dulu. Kita harus ke mana ini kira-kira, ya? Kita harus cari lingkeran warna putih-putih lagi, Guys. Oh, sebelah situ. Kayaknya kita diarahin ke mana? Ini gudang ini kayaknya, ya. Aduh, malas banget diarahin ke gudang. Nanti tiba-tiba ada jenglot atau kuyang lagi. Oke, sebentar yang penting baca doa dulu, Guys, sebelum masuk ya. E baca doanya adalah sama Masinisnya. Lebih baik gua bilang dulu deh sama Masinisnya. Sebentar Masinisnya ada di depan, Guys. Kalau ada kalau udah demit jangan. Ya Allah, dikejar lagi, Guys, sama orang gila. Wah, gila dia sih stamina staminanya. Eh, eh, eh, ya. Iya, iya. Ayo kamu, kamu mau ngerjain aku orang gila. Ah, enggak bisa. Ini dia tuh megang apa sih, Guys? Megang biskuit biskuit kongguan kah itu? Itu megang apa sih dia? Sapu. Kamu mau main tembak-tembakan? Kamu pikir ini Valoran? Hah? Free Fire? PUBG. Maju, maju maju. Ya, puas banget, Guys, ngelihatin Oyang Gila ini. Ya udahlah dia gak bakal bisa. Oh no. Dia dia. Oh dia ke situ, Guys. Sebentar kita cari dulu ini Mas. E aduh bukan Masinis, Guys. Kalau begini, Guys. Kita ke mana lagi ini, ya? Walah. Waduh, kok makin seram sih? Waduh, dia ngikutin gua, Guys. Kabur gak sih? Aduh, ya Tuhan. Kenapa dia bisa tib tiba nyampai di sini? Wah, gua kalau jadi si Arif sih gua malu sih, Guys. Masa gua kalah lari, Guys, sama orang gila ini, Guys. Orang gila. Olengila. Ayo. 1 jam kemudian 1 jam dikejar orang. Gila. Oke. Lalu apa yang terjadi? Kita sampai di stasiun Kalimedi. Tapi sudah agak terlambat, Guys. Karena ini sudah malam, ya. Oke, kita langsung jemput si Agung di situ. Agung, ini kan stasiunnya, ya. Ini stasiun. Di mana, Agung? Tapi di mana, Agung? Aduh, jangan bilang gua harus turun, Guys. Oh no. Oke. Harusnya tadi kan dia kejar-kejaran, Guys. Harusnya di mana, ya? Oh, di situ, di situ. Aduh, gua melihat sesuatu. Itu apa ya? Kayak terbakar gitu, ya? Oh, itu keretanya. Kita cek dulu siapa tahu si Agung dekat-dekat dengan kereta ini. Ini kereta kebakar mulu. Perasaan kebakaran itu. Ini lokomotif yang kebakaran itu. Agung harusnya di dekat sini. Agung harusnya di dekat sini. Coba kita ke sebelah sini, Guys. Gung. Ah, Gung. Ini Arif, Gung. [Musik] Cihuy. Dengar suara itu enggak, Gung? Aduh, apa dia di gudang kah, Guys? No, no, no. Bukan di gudang, Guys. Oke, kita coba ke sebelah sana karena tadi kan kita lari-lari tuh pakai si Agung tuh sampai ke ujung sini. Nih, Gung. Halo. Coba kentut kalau dengar suaraku. Gung. Enggak ada lagi, Guys. Apa dia lagi makan nasi padang ya sama orang gila itu ya? Siapa tahu mereka jadi besi, Guys. Oh, di sini bulut-bulutnya. Iklan apaan sih ini? Iklan apaan sih ini? Kok yang itu mirip gua ya? digigit. Ih, si Agung benar-benar tadi kan gua udah ke sini, Guys. Kagak ada si Agung. Ya Allah, Gung. Cepat, Gung, cepat, Gung. Itu kaki kaki besti lu digigit nanti rabies. Itu kan kita gak tahu ya, Guys. Orang gila itu makannya sehari-hari apa. Bisa aja makan lele mentah eek orang dimakan kan kita enggak tahu. Ya ampun Arif akhirnya kita reuni tapi dengan momen yang menyedihkan. Bro gak apa-apa bro. Bro lu engak apa-apa bro? Berapa kali lu pegang? Gak lihat apa gua habis digigit orang gila bisa rabis lu, Bro. Sakit yuk. Rabi guys. Bener kan? Rabbies. Ya ampun. Kasihan. Eh. Ih, benar-benar ini si Agung. Lu bantuin dong teman lu dirangkul itu. Kasihan kakinya sampai berdarah gitu. Oh, kita sudah sudah siap nih, Guys. Kayaknya ini si Agung yang menyetir ya. Karena enggak memungkinkan, Guys, untuk Arif menyetir dengan kondisi kaki seperti itu, ya. Oke, saatnya kita kabur. Apakah aman? Kenapa dia ketawa? Kenapa dia ketawa? Mulutnya berdarah. Uh, wah, ada kuyang. Wah, Guys, gua curiga sih, Guys. Itu orang gila ketawa loh. Berarti artinya kayak dia tahu sesuatu yang buruk akan terjadi saat dia habis menggigit ee kakinya si Arif ya. Oke, ini kita lari aja, Guys. Eh, bukan lari, ya. Menyetir. Chiuy. Minggir. Kita akan melewati hantu-hantu ini. Sebenarnya sejujurnya gua gak tahu ini kita harus Oke, maaf, Guys. Kita tersesat ya. Kayaknya kita harus lihat jalan kah? Mungkin ke kanan kali. Coba kita kali ini ke kanan, Guys. Ikutin jalan sebelah kanan ini. Soalnya gak ada pelangnya gitu. Kita harus ke mana. Buset, ini perusahaan apaan nih? Gede banget. Oke, ke mana ya? Awas. Oh, ini ikutin tanda panah ini, Guys, mungkin, ya. Duh, pocongnya ada di mana-mana ini. Pocongnya kembaran semua kah, best? Puyangnya juga sama, Papa. Gua jadi penasaran deh. Mereka ini kembar semua gitu ya. Papa mamanya siapa ya? Papa mama pocong, sama kuyang. Oke, kita sebelah kiri, Guys. Ke sini ya. Harusnya sih ini jalannya benar kata gua sih guys, gak tahu beneran atau enggak. Ya udah, ini kita ikutin saja. Yo, permisi, pocong, ya. Hati-hati, ya. Ya Allah, Guys. Kenapa ini di game ini? bersambung. [Musik] Hard times reveal true friends. Di saat susah terbukti siapa sahabat sejatimu. Ali ibn Abi Thalib. Jadi kita bersambung di sini guys di mana Arif dan Agung akhirnya reuni punya angkot sendiri. Dan mungkin karena kakinya si Arif berdarah kita akan menuju rumah sakit. Terbukti dari game berikutnya adalah rumah sakit kematian. Dan pelajaran yang bisa diambil dari game ini adalah jangan isengin orang gila. So, segitu aja, Guys. Selamat datang di Kalimi. Gua harap kalian terhibur. Kalau kalian suka bisa like dan komen. Aku bililih Samuel pamit dulu. Sampai jumpa di petualangan ketujuh. Bye bye. [Musik]
Hai semua makasih untuk kalian yang udah mampir!! aku harap kalian terhibur dengan video-video ku!!
Game : Selamat Datang di Kalimedi
Terimakasih banyak buat yang udah like, comment, subscribe !!
Follow Social Mediaku :
〚 Instagram 〛
https://www.instagram.com/billysamvel
〚 Tiktok 〛
https://www.tiktok.com/@billyberak
Business inquiry :
billysamvcl@gmail.com
#billysamuel #billy