Bakat hebat yang dihancurkan oleh Ego
Sebelum andalamin Yamal, sepak bola punya pemain bernama Ncolas Anelka. Di Arsenal saat umurnya 17 tahun, ia tak hanya sekedar bermain, tapi juga mendominasi cepat, dingin, tanpa ampun. Arsen Wenger pernah berkata dia punya bakat untuk menjadikannya yang terbaik di dunia. Tapi bakat tanpa kedamaian adalah bencana. Sebelum ke Arsenal, Anelka merupakan prospek masa depan PSG yang saat umur 16 tahun sudah main di tim senior dan mencetak gol. Di Paris, ia merupakan barang mewah setelah menara Evil. Wajar di usia segitu ia masih merasakan bangku cadangan. Tapi ia tak suka dan memilih pergi ke Arsenal. Di sana ia bantu Arsenal meraih double gelar, fans pun jatuh cinta. Wenger melindunginya seperti adalah anaknya agar tak pergi ke mana-mana. Tapi bukanlah sosok yang patuh. Saat Malanggil, sulit untuk berkata tidak. 22 juta pound seling saat umurnya masih 20 tahun. Anelka adalah Galaktiko. Bahkan sebelum Galaktiko itu ada. Tapi baginya Madrid adalah kandang. Ia menolak interviews ribut dengan Raul. Bahkan sempat enggak datang latihan 2 minggu. Presiden lalu menemui meminta Anelka untuk datang latihan seperti pemain lain. Tapi ia menjawab, “Saya akan latihan saat waktunya saya mau latihan.” Tapi kemudian ia berhasil mencetak golusi yang mengantar Madrid ke final. Dan di partai puncak ia mencetak gol lagi bahwa Madrid juara saat umurnya masih 21 tahun. Tapi sikap angkuhnya membuatnya terbuang dari mana-mana. Dalam enam musim ia pernah main di sembilan tim berbeda. Sebelum uang minyak datang, City memberikan kesempatan pada Anelka dan di sana ia tampil luar biasa. Tapi bilang Manchester City terlalu kecil karena itulah City menyuruhnya pergi. Di Balton ia semakin ganas menemukan bentuk terbaiknya yang membuat Chelsea kepincut merekrutnya. Di sana ia menangkan Premier League dan menangkan Golden Boot. Tapi satu momen gagalnya ia mengeksekusi penalti melawan MU di final UCL. Menghancurkan ego dan keangkuhannya menggambarkan di atas langit masih ada langit. Meski dibekali bakat luar biasa, Anelka adalah cerminan dari sisi gelap sepak bola.
Sebelum ada Lamine Yamal, sepak bola punya pemain bernama Nicolas Anelka.
Di Arsenal saat usianya 17 tahun ia tak hanya sekedar bermain, tapi juga mendominasi.
Cepat, dingin, tanpa ampun. Arsene Wenger pernah berkata, “dia punya bakat untuk menjadikannya yang terbaik di dunia.” Tapi bakat tanpa kedamaian adalah bencana. Sebelum ke Arsenal, Anelka merupakan prospek masa depan PSG, yang saat umur 16 tahun sudah main di tim senior dan mencetak gol. Di Paris ia merupakan barang mewah setelah menara Eiffel. Wajar di usia segitu ia masih merasakan bangku cadangan, tapi ia tak suka dan memilih pergi ke Arsenal. Di sana ia bantu Arsenal meraih double gelar, fans pun jatuh cinta. Wenger melindunginya seperti Anelka adalah anaknya, agar tak pergi ke mana-mana. Tapi Anelka bukanlah sosok yang patuh. Saat Madrid memanggil, sulit untuk berkata tidak. 22 juta poundsterling saat umurnya masih 20 tahun, Anelka adalah galactico bahkan sebelum kata itu digunakan di sana. Tapi baginya Madrid adalah kandang. Ia menolak interviews, ribut dengan Raul, bahkan sempat gak datang latihan 2 minggu! Presiden menemui meminta Anelka untuk datang latihan seperti pemain lain, tapi ia menjawab, “saya akan latihan saat waktunya saya mau latihan.” Tapi kemudian ia berhasil mencetak gol di UCL yang mengantar Madrid ke final, dan di partai puncak ia mencetak gol lagi bawa Madrid juara saat umurnya masih 21 tahun. Tapi sikap angkuhnya membuatnya terbuang dari mana-mana. Dalam 6 musim, ia pernah main di 9 tim berbeda! Sebelum uang minyak datang, City memberikan kesempatan pada Anelka, dan di sana ia tampil luar biasa. Tapi Anelka bilang Manchester City terlalu kecil, karena itulah City menyuruhnya pergi. Di Bolton ia semakin ganas, menemukan bentuk terbaiknya yang membuat Chelsea kepincut merekrutnya. Di sana ia memenangkan Premier League dan meraih golden boot. Tapi satu momen gagalnya ia mengeksekusi penalti melawan MU di final UCL, mengacurkan ego dan keangkuhannya, menggambarkan di atas langit masih ada langit. Meski dibekali bakat luar biasa, Anelka adalah cerminan dari sisi gelap sepak bola.
#beritabola #skorupdate #soccerplayer #sepakbola #footballteam #ceritabola #footballstory #footballshorts