PLOT: Shift Malam Angker di Motel | Nightmare Shift (All Endings)

Hello guys kembali lagi di channel Droomp dan selamat datang di plot Nightmare Shift Dirilis pada tanggal 15 Juli tahun 2025 untuk PC, Nightmare Shift mengangkat cerita mengenai pengalaman mengerikan yang dialami oleh seorang wanita saat ia bekerja shfit malam di sebuah motel. Menariknya, dengan menghadirkan 4 cabang ending berbeda, game ini memiliki kisah yang dipenuhi dengan kejutan demi kejutan. Bukan hanya satu dua kali, melainkan ada cukup banyak kejutan yang saling menumpuk satu sama lain. Apakah kejutan – kejutan ceritanya adalah hal yang bagus atau bukan? Kalian bisa menilai sendiri. Emma, seorang wanita cantik yang membuat para viewer buaya menjadi ganas, sedang dalam perjalanan menuju motel tempat ia bekerja sebagai penjaga shift malam. Setibanya di tujuan, ia bertemu dengan atasannya bernama Anderson yang segera menjelaskan beberapa hal dasar tentang pekerjaan di motel, seperti menyambut tamu, mengunci pintu, mengangkat telepon, dan lain sebagainya. Tidak lupa, Anderson juga memberitahu bahwa ruang nomor 3 adalah ruangan yang agak aneh, dimana para tamu sering mengeluh soal suara berisik dari ruangan tersebut padahal tidak ada siapa – siapa yang menghuni. Percaya Emma akan mengerjakan pekerjaan dengan baik, Andersonpun bergegas pulang. Tidak lama berselang, datanglah tamu pertama bernama Garry. Mengaku sebagai orang yang pernah bekerja di malam hari, Garry mengingatkan Emma untuk tetap waspada di malam hari dan percaya pada insting. Emma berterima kasih atas saran tersebut, sebelum kemudian ia mulai mempersiapkan ruangan nomor 1 dengan meletakkan beberapa keperluan kamar mandi pada tempatnya. Secara mengejutkan, saat ia berjalan keluar kamar mandi… Kehadiran Garry membuatnya terkejut. Garry segera meminta maaf, mengaku ia hanya ingin mengecek keadaan Emma. Emma tidak begitu mempermasalahkan hal ini dan langsung pergi begitu ia meletakkan kunci ruangan. Menikmati secangkir kopi di ruang resepsionis, tamu kedua bernama Lucas datang dengan ekspresi wajah kesal. Hari ini adalah hari yang melelahkan baginya, dan untuk itu, Lucas terus mendesak Emma untuk menyiapkan kamar dengan cepat. Saat Emma menyuruhnya mengisi identitas diri, Lucas malah menganggapnya sebagai prosedur yang terlalu ribet dan buang – buang waktu. Sampai akhirnya, mendengar bagaimana Emma tidak akan menyiapkan ruangan sebelum ia mengisi identitas diri, Lucaspun menjadi sangat marah dan membatalkan pesanan, mengatakan bahwa Emma akan menyesal atas perlakuannya ini.
Sebelum meninggalkan area motel, Lucas menyempatkan diri untuk melakukan gerakan ancaman seolah ia akan membunuh Emma. Telepon berdering, dan saat diangkat, ia mendengar suara seorang pria mengatakan hal – hal aneh, seolah berusaha menakuti Emma yang sedang bekerja sendirian. Awalnya Emma menganggapnya sebagai panggilan iseng, paling tidak sebelum sang pria menyebut namanya dan mengatakan bahwa mereka akan segera bertemu. Seketika itu juga, Emma langsung menjadi sangat kebingungan namun kemudian memutuskan untuk menenangkan diri. Menjawab panggilan telepon kedua, kali ini ia mendengar keluhan penghuni ruangan nomor 1, yaitu Garry, yang mendengar suara – suara berisik dari ruangan nomor 3. Menanggapi keluhan ini, Emma langsung bergegas menuju ruangan 3, tempat ia mendapati lampu mati menyala sendiri dan bagian dalam ruangan yang tampak terbengkalai. Masuk untuk mengecek kondisi lampu, bola lampu tiba – tiba pecah dan diikuti dengan matinya daya listrik seisi motel, mengharuskannya untuk menyalakannya kembali melalui area basement.
Garry meminta Emma untuk berhati – hati dan menunjukkan ketersediaannya untuk membantu bila diperlukan, mengatakan ada yang tidak beres disana. Sebelum mencapai basement, Emma mengangkat telepon yang berdering, lagi – lagi menghubungkannya dengan pria misterius. Seolah mengetahui semua hal yang terjadi, kali ini sang pria memperingatkan Emma akan bahaya bermain – main dengan aliran listrik dan mengungkapkan rasa senangnya menonton Emma dari kejauhan. Muak, Emma langsung menutup telepon, sebelum akhirnya berhasil menyalakan kembali daya listrik motel. Bersamaan dengan nyalanya daya listrik, Anderson datang untuk memberitahu bahwa shift Emma sudah berakhir. Lega, Emma hanya bisa berharap besok tidak akan seaneh sekarang. Ia pulang dengan naik bus… Emma tidak sadar ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Tiba di apartemen, ia sempat merasa diikuti oleh seorang pria, paling tidak sebelum sang pria berjalan melewatinya dan masuk ke dalam ruangan lain. Mencapai kediamannya yang terletak di lantai 2, ia bingung mendapati jendela kamar dalam keadaan terbuka. Emma segera menutupnya, namun secara mengejutkan… Seseorang menyergapnya dari belakang… Beruntung semua kejadian itu hanya mimpi buruk. Tapi bagaimanapun juga Emma kini menjadi sangat paranoid, sampai – sampai pada keesokan malam, ia langsung menyalakan tiap penerangan yang ada, sebelum menikmati makan sambil nonton TV dan main game. Di tengah keasikannya main game, ia tiba – tiba mendengar suara tombol kunci pintunya sedang ditekan dari luar, seolah ada seseorang yang sedang berusaha masuk. Aneh mengecek keluar pintu, ia tidak bisa menemukan siapa – siapa. Pekerjaan mengharuskan Emma untuk segera berangkat Maka dari itu, ia cepat – cepat mengenakan seragam dan bertanya pada penjaga bangunan bernama Mr. Gaves untuk memastikan apakah ada sesuatu yang mencurigakan baru – baru ini? Mr. Graves mengaku tidak melihat adanya tanda – tanda aktivitas mencurigakan yang tertangkap pada kamera jalan masuk. Sedangkan untuk kamera lain yang dipasang di sepanjang lorong sebenarnya hanyalah kamera pajangan yang tidak berfungsi. Tidak mendapat kejelasan apapun mengenai apa yang ia alami, Emma tidak memiliki pilihan lain selain membiarkannya. Ia berangkat menuju motel… Tiba di tujuan dan mendengar briefing singkat dari Anderson, Emma memulai pekerjaan seperti biasa. Tamu pertama adalah seorang wanita bernama Ms. Smith yang tampak sangat aneh. Ia terus menyebut soal suara cakaran dan bisikan, dan bagaimana ada sesuatu di luar sana yang sedang mencarinya. Untuk itu, ia memerlukan tempat persembunyian yang aman. Meski sang wanita tampak sangat aneh, Emma tetap melayaninya dengan baik. Ia mempersiapkan ruangan 4 dengan mengambil handuk – handuk yang berserakan disana untuk kemudian dicuci di area basement. Keanehan semakin menjadi – jadi. Emma melihat bayangan Anderson padahal tidak ada siapa – siapa di atas, dan Ms. Smth tiba – tiba berdiri di tepian lantai 2. Begitu ia beres menyiapkan ruangan 4, Ms. Smith sudah ada di sampingnya, menyebut soal desas desus cerita kelam tentang motel tempat mereka berada. Emma yang tidak ingin ambil pusing langsung memberikan kunci ruangan dan berjalan kembali ke area resepsionis. Saat ia menunggu tamu berikutnya, perhatian Emma tertuju pada sebuah mobil hitam yang masuk dan hanya berputar – putar di area parkiran. Setelah mengitari area parkir, mobil itu pergi begitu saja. Kemudian ia juga sekali lagi mendapat panggilan dari pria misterius sama yang mengganggunya di hari kemarin. Kali ini sang pria mengatakan bahwa Emma tidak seharusnya sendirian, ia bisa mengetahui tiap pergerakan Emma. Seolah tidak dibiarkan beristirahat, tidak lama berselang Ms. Smith menelepon, dan dengan kepanikan luar biasa, ia mengungkapkan rasa takutnya mendengar suara cakaran dari ruangan 3.
Kondisi ini mengharuskan Emma untuk mengecek ruangan 3. Masuk ke dalam, ia memang mendengar suara cakaran, namun suara itu rupanya berasal dari seekor kucing. Meski ia sendiri tidak tahu bagaimana kucing bisa masuk ke dalam ruangan terkunci, ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Keluar dari ruangan 3, Emma mendapati mobil hitam yang sama masuk dan lagi – lagi mengitari area parkir motel. Kali ini mobil sengaja menyinari ruang resepsionis dengan lampu yang sangat terang.
Begitu lampu mati, mobil menghilang entah kemana. Takut, Emma segera melapor pada Anderson, yang dimana menganggapi ketakutan Emma, Anderson berjanji akan segera datang. Tidak lama setelah menelepon Anderson, Emma menerima panggilan dari pria misterius, tempat ia mendengar suara napas berat dan seseorang yang sedang meminta bantuan. Di saat yang bersamaan, Garry datang untuk menyampaikan kebingungannya terkait mobil yang berputar – putar di area parkiran dan mengeluh soal stok mi instan vending machine yang sudah habis. Emma langsung melakukan restok produk mi instan, namun saat ia hendak kembali ke ruang resepsionis, perhatiannya tertuju pada Lucas yang sedang berdiri di gerbang depan. Sama seperti sebelumnya, Lucas melakukan gerakan ancaman seolah ingin membunuh Emma. Emma masuk ke ruang resepsionis untuk melindungi diri, tapi begitu melihat seseorang di dekat gerbang depan, ia bergegas keluar untuk menghampiri orang tersebut. Rupanya orang itu adalah Anderson yang sedang asik merokok. Tanpa banyak basa basi, Emma langsung menceritakan semua kengerian yang ia alami, mulai dari pengakuan Ms. Smith tentang suara cakaran, mobil yang berputar – putar, sampai Lucas yang berdiri di gerbang depan. Anderson menanggapi seluruh pengakuan Emma dengan tenang, mengatakan paling tidak Emma masih bertahan. Pekerjaan Emma sudah selesai. Setibanya di apartemen, ia mendapat kabar dari Mr. Graves sang penjaga bangunan bahwa ada seorang wanita yang datang membawakan sekotak hadiah untuknya. Emma mengambil kotak pemberian sang wanita, dan saat menaiki elevator, ia sedikit terkejut dengan kehadiran seorang pria berkacamata yang entah muncul darimana.
Takut sang pria hendak melakukan sesuatu padanya, ia memutuskan untuk mewaspadainya beberapa saat, mendapati bahwa sang pria rupanya adalah salah satu tetangga yang menghuni ruangan di ujung lorong. Keypad menunjukkan tulisan ‘Denied’, yang berarti ada seseorang yang terlalu sering salah memasukkan kombinasi angka, dan tepat di atasnya adalah catatan yang ditinggalkan oleh sang ibu, mengungkap bahwa wanita yang memberikan kotak hadiah adalah ibunya. Masuk ruangan dan mengambil hadiah, Emma menghubungi sang ibu untuk berterima kasih. Namun saat ia bertanya apakah ibunya sempat berusaha memasukkan kombinasi angka pada keypad, sang ibu mengaku tidak melakukan itu. Kenyataan ini membuat Emma merasa khawatir, terlebih hanya sesaat setelah menutup telepon, ia mendengar seseorang sedang berusaha membuka pintu dengan paksa. Emma segera keluar untuk mengecek, tempat ia menemukan sepuntung rokok. Sadar ada sesuatu yang tidak beres, ia langsung menghubungi polisi dan menceritakan seluruh kejadian aneh yang ia alami beberapa hari belakangan, termasuk tentang ancaman Lucas dan mobil hitam yang berputar – putar di area parkiran. Menanggapi laporan Emma, seorang petugas polisi segera diutus untuk melakukan investigasi. Tidak butuh waktu lama bagi sang polisi bernama Olivia untuk tiba di apartemen Emma. Olivia segera mengajukan beberapa pertanyaan, dan hasilnya mereka tidak bisa meneruskan proses penyelidikan karena kurangnya bukti. Kesal, Emma tidak memiliki pilihan lain selain tidur, tidak sadar bahwa tepat di bawah kasurnya, terdapat alat suntik. Lebih mengerikannya lagi, saat Emma sudah tidur pulas, seorang pria keluar dari kolong kasur dan berjalan ke arah kamar mandi. Dalam keadaan setengah sadar, Emma melihat sang pria berdiri di hadapannya… Mimpi Emma malam itu menempatkannya di apartemen dengan kondisi langit serba merah. Keadaan sekitar benar – benar aneh, ada orang yang berlari dengan sangat cepat, dan semua orang yang ia temui tampak mengenakan topeng. Selain itu, ia juga berputar – putar di tempat yang sama. Mendekati seorang pria bertopeng… Pria tersebut langsung mengejutkannya.
Monitor – monitor bermunculan seolah terus menyoroti pergerakannya, menunjukkan seorang pria berdiri di belakang dan bagian mata Emma yang berubah. Menjatuhkan dirinya ke dalam sebuah lubang, Emma menemukan kunci ruangan 3 motel yang membawanya ke sebuah lorong panjang tempat ia melihat dirinya sendiri sedang disekap. Semakin lama keadaan sekitar semakin kacau, sebelum akhirnya Emma bangun dari mimpinya di malam keempat. Bagi Emma, mimpi yang ia alami bukanlah sekadar mimpi, melainkan sebuah peringatan akan sesuatu. Sebelum berangkat kerja, ia menyempatkan diri untuk berbincang – bincang dengan tetangga berkacamata, tempat sang tetangga memberitahu bahwa ia mendengar ada seseorang yang berusaha mendobrak masuk ke dalam ruangan Emma semalam. Ia meminta Emma untuk tetap waspada. Setibanya di tempat kerja, Emma mendapat informasi bahwa Ms. Smith penghuni ruangan 4 lagi – lagi mengeluh soal suara berisik dari ruangan 3. Tamu pertama yang datang adalah seorang pria tua bernama Briggs yang hanya ingin sesekali menikmati ketenangan di motel. Emma mempersiapkan ruangan 7 untuknya. Secara mengejutkan, saat ia menunggu di ruang resepsionis, seorang anak kecil tiba – tiba muncul entah darimana dan terus memohon pada Emma untuk mengambilkan bolanya yang jatuh di dalam kolam renang kosong. Meski kehadiran sang bocah membuatnya kebingungan, Emma tetap membantunya mengambilkan bola, namun sang bocah malah menghilang dan Emma mendengar suara tertawa. Lagi dan lagi, kali ini Briggs menelepon untuk mengeluhkan suara berisik dari ruangan 3. Kondisi ini mengharuskan Emma untuk mengecek ruangan tersebut, tempat ia mendapati tulisan minta tolong pada cermin kamar mandi tapi tetap saja, tidak ada siapa – siapa disana. Keluar dari ruangan 3, seisi daya listrik motel padam, dan tuas di area basement tidak berfungsi. Menanyakan hal ini pada Anderson, Anderson menyuruh Emma untuk menyalakan generator, yang dimana sebelum bisa melakukan hal itu, Emma harus memancing keluar seekor anjing ganas terlebih dahulu. Barulah dengan menyalakan generator, masalah listrik motel teratasi. Pria misterius juga kembali menelepon untuk menakut – nakutinya, dan tidak lama kemudian, Briggs yang sudah muak dengan keributan di motel memutuskan untuk meminta pengembalian dana. Emma mau tidak mau harus menuruti keinginan Briggs. Shift Emma akhirnya selesai. Namun secara mengejutkan, saat ia hendak menunggu bus… Lucas datang, dan masih dengan perasaan kesal atas penolakan Emma di hari pertama, ia menuntut agar mereka membicarakan masalah mereka lebih jauh. Beruntung sebelum situasi menjadi semakin kacau, Anderson datang dan berhasil membebaskan Emma dari Lucas. Untuk berjaga – jaga, ia mengajak Emma pulang bersama. Setibanya di apartemen, Anderson mengungkap sebuah hal mengejutkan,
dimana ia mengaku bahwa dirinya adalah pria misterius yang terus menelepon dan mengganggu Emma saat bekerja. Alasannya melakukan hal itu hanya sekadar untuk iseng. Di sisi lain, Emma yang merasa bercandaan ini tidak lucu menjadi sangat marah, namun karena Anderson sudah menolongnya, iapun memaafkan atasannya itu. Saat ia masuk ke dalam ruangannya, Emma mendapati daya listrik seisi ruangan mati. Lelah, ia hanya ingin tidur, paling tidak sebelum ia mendengar suara ketukan pintu yang mengharuskannya untuk mengecek. Di luar dugaan, orang yang ada di depan pintunya adalah Anderson, seketika membuat Emma bertanya – tanya, apakah Anderson mengikutinya secara diam – diam? Membuka pintu, Anderson memberitahu bahwa Emma lupa mengambil tas yang dititipkan padanya. Setelah memberikan tas, Anderson menyadari ruangan Emma yang sangat gelap, dan untuk itu ia hendak membantu mengurusi masalah ini. Saat Emma menolak, Anderson bersikeras membantu, pada akhirnya memaksa Emma untuk membiarkannya masuk.
Anderson dapat memperbaiki kerusakan yang terjadi dengan cepat. Setelah mengurusi masalah listrik, ia izin ke kamar mandi untuk cuci tangan. Di titik inilah, melihat bagaimana Anderson tampak mengetahui seluruh tata letak ruangannya, Emma mulai merasa curiga. Lebih lanjut, saat ia bertanya bagaimana Anderson bisa mengetahui nomor ruangannya, Anderson membutuhkan waktu untuk berpikir sesaat, sebelum akhirnya menjawab bahwa Mr. Graveslah yang memberitahunya. Keanehan – keanehan ini membuat Emma semakin yakin bahwa Anderson adalah orang yang berusaha membobol masuk beberapa hari belakangan. Untuk itu, dengan alasan hendak membeli kopi di toko, Emma bergegas turun untuk menelepon polisi menggunakan telepon milik Mr. Graves. Kali ini karena informasi yang diberikan Emma jauh lebih lengkap, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa terduga pelaku sedang berada di dalam ruangannya, Olivia segera diutus untuk melakukan penyelidikan. Tiba di apartemen, Olivia menyuruh Emma untuk membuka pintu, sedangkan ia akan berjaga di belakang. Emma menuruti permintaan Olivia, namun secara mengejutkan, saat ia membuka pintu… Ia mendapati Anderson dalam keadaan tak bernyawa dengan posisi terjerat tali. Penemuan ini justru membuat Emma berada dalam posisi tidak diuntungkan. Ia segera dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi, yang dimana setelah Emma menjelaskan kronologi kedatangan Anderson, Olivia memberitahu bahwa tim forensik menemukan sidik jari orang ketiga. Artinya Emma tidak bisa serta merta dituduh sebagai sang pelaku. Sekarang untuk berjaga – jaga, Olivia memberikan kamera penguin, menyuruh Emma untuk meletakkannya di kamar agar mereka bisa menangkap aksi sang pelaku. Emma dihadapkan pada 2 pilihan, menerima atau menolak. Pilihan ini akan mempengaruhi ending.
Apapun itu, setelah mengambil keputusan, kisah berlanjut pada malam kelima di apartemen. Emma yang semakin ketakutan meminta Mr. Graves untuk mengecek ruangannya, memastikan tidak ada orang yang bersembunyi. Mr. Graves yang memahami perasaan Emma bersedia untuk membantu. Dengan melakukan pengecekan yang “luar biasa niat dan sangat sangat mendetail” pada tiap ruangan, Mr. Graves tidak menemukan hal mencurigakan sama sekali. Yakin sang pelaku pasti meninggalkan sesuatu, Emma melakukan pengecekan seorang diri, tempat ia kemudian menemukan sebuah kunci yang dapat ia gunakan untuk membuka pintu yang paling dekat dengan elevator. Di dalam, Emma menemukan bungkus cup noodle persis seperti kesukaan Garry penghuni ruang 1 di motel. Selain itu, terdapat foto wanita yang diberi coretan X dan sebuah kunci kecil yang disembunyikan di dalam box.
Tidak bisa menemukan petunjuk lain, Emma memutuskan untuk meletakkan kamera penguin di kamarnya, atau langsung tidur kalau sebelumnya ia menolak kamera tersebut. Mimpinya malam itu membawanya ke area motel tempat ia melihat semua orang menunjuk ke arah ruangan nomor 3. Emma bertanya pada dirinya sendiri, apakah Lucas adalah sang pelaku? Bagaimanapun juga, memasuki ruang 3 dan membuka pintu belakang yang terletak di dalam kamar mandi, Emma dibawa ke area yang dipenuhi dengan jasad manusia. Di ujung area, ia melihat pria bertopeng raksasa, dan di saat itu juga, mimpi berakhir. Mata Emma terbuka namun ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Melihat ke atas… Barulah Emma benar – benar bangun. Di malam keenam, ia sadar bahwa mimpinya adalah sebuah petunjuk. Kunci kecil yang ia dapatkan dapat membuka pintu belakang di ruangan 3 motel. Untuk itu, tanpa membuang banyak waktu, Emma bergegas menuju motel. Benar saja, kunci kecil memang berfungsi untuk membuka pintu belakang yang terletak di kamar mandi ruangan 3, mengarah pada area bawah tanah yang sangat luas dan dipenuhi dengan jasad manusia. Ruangan di ujung lorong yang adalah tempat tinggal sang pelaku dipenuhi dengan foto – foto wanita yang dicoret tanda X, kecuali foto Emma.
Mendengar suara langkah kaki, Emma langsung bersembunyi di dalam loker, dan dari dalam, ia melihat sang pelaku yang mengenakan topeng, kita sebut saja sebagai Masked Man, berbicara seorang diri, mengungkapkan rasa cintanya terhadap seorang wanita dan bagaimana semuanya menjadi kacau begitu efek anestesi berakhir. Di saat itulah, karena sang wanita terus berteriak, iapun terpaksa membunuh. Saat wanita tersebut sudah menjadi jasad, barulah Masked Man menganggap sang wanita bisa diam seperti wanita yang setia pada lelakinya. Lebih lanjut, Masked Man mengaku telah menemukan wanita lain yang sempurna, tenang, memiliki mata yang indah, suara yang lembut, dan selalu sendirian, persis seperti yang ia dambakan.
Keluarnya Masked Man dari ruangan itu menjadi kesempatan bagi Emma untuk kabur. Namun Masked Mas tiba – tiba masuk kembali, dan saat Emma berusaha melarikan diri, ia ketahuan. Kondisi ini tidak memberikan Emma pilihan lain selain berlari sekuat tenaga melewati lorong yang sangat bercabang. Emma tidak bisa menemukan jalan keluar, membuatnya berakhir terjebak di jalan buntu dengan Masked Man berada di dekatnya, menggenggam sebuah pisau. Di luar dugaan, saat Masked Man hendak menyerang… Garry datang menyelamatkan nyawa Emma. Menyusul Garry, Olivia juga tiba disana, seketika memaksa Masked Man untuk melarikan diri… Di dalam kantor polisi, Emma mengungkapkan perasaan bersalahnya karena sempat mencurigai Garry, orang yang justru mengorbankan diri demi menyelamatkan nyawnaya. Ia kemudian menceritakan semua hal yang ia temukan di area bawah tanah motel, sedangkan di sisi lain, Olivia mengatakan bahwa pihak kepolisian menduga sang pelaku adalah Lucas, melihat dari gerak geriknya yang tertangkap CCTV dan jejak rekamnya yang buruk. Lucas telah dijadikan sebagai tersangka utama, dan Emma harus sangat berhati – hati. Sayang dugaan polisi segera terbantahkan ketika Emma pulang dan mendapati Lucas dalam keadaan tak bernyawa. Emma benar – benar terkejut, sehingga tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi polisi untuk memberitahukan soal kematian Lucas. Mengikuti arahan polisi, Emma bergegas menuju ruangannya, dan sampai di titik ini, game Nightmare Shift akan berakhir dengan 4 ending berbeda. Ending 3 akan terjadi bila sebelumnya Emma menolak kamera penguin pemberian Olivia. Nantinya saat ia masuk ke dalam ruangannya, Emma tidak memiliki kamera sama sekali. Lebih sialnya lagi, pintu depan tiba – tiba terkunci, dan Masked Man sudah bersiap di belakang. Emma berakhir terbunuh, sedangkan identitas Masked Man tidak pernah terungkap. Untuk mendapat 3 ending lainnya, Emma harus menerima kamera penguin pemberian Olivia. Teringat akan kamera penguin, Emma langsung mengambil hasil rekaman dan memutarnya menggunakan VHS Tape. Hasil rekaman akhirnya mengungkap identitas sang pelaku, yaitu Mr. Graves sang penjaga bangunan. Mr. Graves terlihat bersembunyi di kolong kasur. Sial, Mr. Graves sudah berada tepat di sampingnya, mengaku ia melakukan semua ini demi mengawasi dan melindungi Emma yang sangat spesial di matanya. Mr. Graves kecewa melihat reaksi Emma yang tampak marah, padahal ia tidak pernah menyentuh atau menyakiti Emma. Merasa dikhianati, Mr. Gravespun membunuh Emma. Emma berakhir meninggal dunia, tapi paling tidak semua bukti yang ia tinggalkan berhasil mengeskpos kejahatan Mr. Graves, sehingga Mr. Gravespun berakhir dipenjara. Untuk mendapat ending 1, sebelum menonton hasil rekaman, pastikan Emma mengambil pisau di dapur terlebih dahulu. Dengan begitu, nanti saat Mr. Graves hendak membunuhnya, Emma segera menyiapkan pisau dan melawan balik, berakhir pada kematian Mr. Graves… Kembali ke saat Emma menyusuri ruangan yang paling dekat dengan elevator. Disana, selain menemukan foto wanita yang dicoret dan sebuah kunci kecil, Emma bisa mengecek sebuah cawan dan menekan tombol merah di bagian dalam. Seketika itu juga, satu bagian dinding terbuka, mengungkap sebuah jalan rahasia yang secara mengejutkan terhubung dengan ruangannya. Sekarang menjadi jelas bagaimana Mr. Graves bisa masuk keluar ruang apartemen Emma tanpa melalui pintu depan, tidak lain adalah dengan melalui jalan rahasia tersebut.
Nah setelah membuka jalan rahasia, mainkan game seperti biasa. Nanti saat identitas Mr. Graves terungkap melalui hasil rekaman kamera penguin, Emma memutuskan untuk membuka jalan rahasia dan kabur melalui ruangan milik Mr. Graves. Mr. Graves di sisi lain langsung menyadari hal ini dan segera mengejar, memaksa Emma untuk menggunakan elevator secepat mungkin dan berlari sekuat tenaga sampai akhirnya mencapai mobil polisi… Emma selamat, sedangkan Mr. Graves ditangkap, mengakhiri teror mengerikan pria bertopeng. Jadi itulah keseluruhan kisah yang dibawakan oleh game Nightmare Shift. Sekarang mari kita masuk ke dalam babak penjelasan. Melalui pengungkapan di bagian ending, akhirnya terungkap jelas bahwa sosok yang terus mengganggu Emma adalah penjaga bangunan apartemennya sendiri bernama Mr. Graves. Tentu ada yang salah dengan jalan pikir Mr. Graves, dimana sebagai seorang pria yang kesepian, ia merasa harus melindungi tiap wanita yang juga merasa kesepian sama seperti dirinya. Hal ini sempat ia ungkapkan ketika Emma bersembunyi di dalam loker, melihat pria bertopeng sedang berbicara sendiri. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan melindungi wanita, namun Mr. Graves memiliki obsesi berlebih terhadap wanita yang justru menjadikannya sebagai pria berbahaya. Begitu ia tertarik dengan seseorang, Mr. Graves akan menganggap orang itu sebagai miliknya, sehingga iapun mulai menguntit sang target atau bahkan bersembunyi di kolong kasur ketika sang target sedang tidur. Mr. Graves sendiri mengaku tidak pernah menyentuh maupun menyakiti wanita yang ia cintai, ia melakukan semua kegilaan itu hanya sekadar untuk mengawasi dan melindungi, tidak sadar bahwa tindakannya malah membuat sang target merasa tidak nyaman.
Bila targetnya mulai menunjukkan tanda – tanda perlawanan atau bahkan menyebutnya sebagai seorang monster, Mr. Graves akan langsung menjadi sangat kesal dan segera membunuh. Baginya, wanita yang diam seperti mayat adalah wanita yang setia padanya. Ruangan nomor 3 di motel adalah milik Mr. Graves, dan dari sana, ia membuat area bawah tanah rahasia yang ia pergunakan untuk menyembunyikan para korban. Menilai dari banyaknya jasad yang ditemukan oleh Emma, artinya korban Mr. Graves sudah tidak terhitung jumlahnya. Sekarang menjadi jelas bahwa suara berisik di ruangan 3 yang mengganggu para penghuni motel adalah suara Mr. Graves yang berusaha menyembunyikan para korban. Emma sang tokoh utama adalah salah satu target Mr. Graves. Mr Graves bahkan sampai membuat jalan rahasia khusus yang terhubung langsung dengan ruangan Emma demi dalam tanda kutip “menjaga dan melindungi” Emma. Ia selalu bersembunyi di kolong kasur tiap malam, dan semua orang yang berada di dekat Emma akan ia anggap sebagai ancaman. Itulah kenapa orang yang pernah berbicara dengan Emma selalu berakhir mati. Salah satunya adalah Anderson, ia dibunuh oleh Mr. Graves saat Emma turun untuk memanggil polisi karena curiga Anderson adalah sang pelaku. Pada akhirnya kisah berakhir tergantung dengan ending mana yang kita dapatkan. Emma bisa saja menjadi korban tanpa berhasil menguak identitas Masked Man, atau ia meninggal namun Mr. Graves berakhir ditangkap. Pada salah satu ending, Emma bahkan berhasil membunuh Mr. Graves, dan yang terakhir, Emma kabur melalui jalan rahasia dan membuat Mr. Graves tertangkap. Kira – kira begitulah kisah game Nightmare Shift. Gimana menurut pendapat kalian? Silakan tulis di kolom komentar di bawah. Request bisa dengan reply komen yang kami pin atau DM ke instagram kami di @droomp1. Jangan lupa untuk kasi like kalau kalian suka dengan konten – konten kami dan tentunya terima kasih banyak kepada kalian semua yang telah merequest dan menonton video kali ini. And see you guys in the next video. Stay Romp

Seluruh Alur Cerita Game Nightmare Shift
Seorang wanita cantik bernama Emma bekerja shift malam di sebuah motel, tidak tahu kengerian apa yang menantinya disana…

Game: https://store.steampowered.com/app/3212180/Nightmare_Shift/

CHAPTERS
00:00 Opening
00:39 Plot
22:29 Ending 3
23:01 Ending 4
24:02 Ending 1
24:25 Ending 2
25:43 Explanation

Subscribe – https://www.youtube.com/channel/UC1cu3C3XRmGee8b1jifMQWA?sub_confirmation=1

Dukung kami melalui link dibawah ini (Jangan Pakai Duit Ortu)
https://saweria.co/droomp

Channel banner by @dzikrighoul

Follow us:
Twitter – https://twitter.com/Droomp1
Instagram – https://www.instagram.com/droomp1/

MUSIC USED
Piano horor, backsound horor – No Occupants (no copyright)

FOOTAGE USED
[Droomp Plays] “Shift Malam di Motel Terbengkalai…”

VO: R
Editor: Armaguddien

Stay Romp!

#nightmareshift #droomp #plot