PERTEMUAN Langsung Putin – Trump Tak TERELAKAN!! Kenapa RUSIA bisa mengalahkan AMERIKA ?!

Baru-baru ini, utusan atau tangan kanan Donald Trump akhirnya sampai ke Rusia dan bertemu langsung dengan Presiden Rusia, Putin. Dalam cuitannya, Trump pun dengan bangga mengatakan pertemuan itu berjalan lancar dan telah mencapai kemajuan besar. Trump juga memperkirakan pertemuan langsung dengan Putin paling cepat minggu depan. Sebagai info, utusan khusus Amerika Serikat Steve Wkov bertemu di Moskow dengan Presiden Vladimir Putin pada 6 Agustus 2 hari sebelum tingkat waktu Trump bagi Rusia untuk menyetujui gencatan senjata di Ukraina atau menghadapi sanksi ekonomi yang berat. Lantas apakah arti semua ini? Benarkah? Akhirnya Putin mau berhenti menyerang Ukraina dan menghentikan pertempuran. Jika mau, apa syarat dari Putin? Sebaliknya, kenapa Trump sangat ingin menghentikan Rusia menyerang Ukraina? Kita telah rangkum hal terupdate di balik potensi pertemuan Trump dan Putin dalam waktu dekat. Dan kenapa Rusia tak akan dikalahkan Trump? Focusing on that breaking news from Russia that the US envoy Steve Wof is now holding talks with Vladimir Putin. Ya, 6 Agustus 2025, utusan khusus Amerika Serikat Steve Wkov akhirnya bertemu langsung dengan Putin di mana ia mengadakan pertemuan 3 jam di Kremlin 2 hari sebelum waktu sanksi Trump untuk Rusia. Mengomentari pertemuan tersebut, Trump lewat platform Third Social Official miliknya pun menggambarkan hasil pertemuan sebagai highly productive dan kemajuan besar. Sementara pihak Kremlin menyebut diskusinya berguna dan konstruktif. Menariknya meski kedua belah pihak nampak mengirimkan sinyal positif, perwakilan khusus Presiden Rusia Keril Demitriff yang sebelumnya menyapa Wkov dan berjalan bersamanya di sebuah taman menulis di media sosialnya bahwa dialog akan menang. Dalam hal ini Rusia tetap akan memenangkan negosiasi. Di lain pihak, seorang pejabat gedung putih yang berbicara kepada kantor berita Associated Press dengan syarat anonim mengatakan pertemuan itu berjalan lancar dan Rusia bersemangat untuk terus berinteraksi dengan Amerika Serikat. Namun pejabat tersebut juga mengatakan Amerika Serikat diperkirakan akan tetap menjatuhkan sanksi sekunder terhadap Rusia pada hari Jumat setelah tingkat waktu 10 hari yang ditetapkan oleh Trump berakhir. Pada prinsipnya meski pertemuan Putin dan perwakilan dari Amerika Serikat memberikan hasil yang positif baru-baru ini, namun perlu diingat bahwa masalah soal Rusia dan Ukraina masih jauh dari kata usai. Putin telah secara konsisten menolak gencatan senjata. Dan itu kenapa pertemuan Putin dan Trump akan jadi kunci pertemuan dua kekuatan besar yang akan menentukan nasib Ukraina. Nah, bicara soal potensi pertemuan Trump dan Putin sendiri, sejumlah pejabat gedung putih menyatakan bahwa Trump bisa bertemu dengan Putin dalam waktu dekat atau minggu depan sekitar pertengahan Agustus 2025. Meski begitu, belum ada lokasi atau tanggal final dan belum dipastikan apakah akan diikuti pertemuan trilateral dengan Presiden Zelenski. Namun yang pasti jika benar terjadi pertemuan Trump dan Putin akan jadi sejarah yang menarik. Rusia tak bisa dikalahkan Amerika. Meskipun menghadapi tekanan ekonomi dan sanksi besar-besaran dari negara-negara barat sejak 2022, Rusia tetap menjadi salah satu kekuatan militer paling kuat di dunia. Ketahanan militer ini bukan hanya ditopang oleh senjata nuklir atau jumlah pasukan, tapi oleh strategi ekonomi dan industrialisasi perang yang luar biasa. Dan itu kenapa Trump atau siapapun tidak bisa dengan mudah mengalahkan Rusia secara militer. Dalam hal ekonomi, sejak awal invasi ke Ukraina, Rusia telah menaikkan anggaran militernya dari 50 miliar US DO menjadi hampir 150 miliar US per tahun. Menariknya, perang justru menjadi stimulus ekonomi di Rusia saat pabrik-pabrik sipil seperti logistik dialihkan ke produksi senjata dan drone seperti laporan dari The Washington Post ini menciptakan loncakan pekerjaan dengan tingkat pengangguran terendah dalam 30 tahun. Sederhana, industri militer kini menjadi tulang punggung ekonomi Rusia bukan hanya untuk bertahan tapi untuk ekspansi. Selain itu, dalam hal ekonomi, Rusia juga menghasilkan lebih dari 20% PDB-nya dari sektor minyak dan gas. Walaupun sanksi barat diberlakan, Rusia berhasil mengalihkan ekspor ke Tiongkok dan India, dua pasar raksasa yang tak tunduk pada tekanan Amerika Serikat. Pendapatan dari energi inilah yang menopang belanja militer besar-besaran sekaligus membiayai operasi militer jangka panjang. Dalam hal teknologi, Rusia mempercepat pengembangan teknologi domestik dan mengurangi penggunaan komponen dari Eropa atau Amerika Serikat. Selain itu, mereka juga memperkuat kerja sama teknologi dan militer dengan negara seperti Iran, Korea Utara, dan China untuk menciptakan poros anti Barat. Dengan stok senjata strategis dan produksi domestik, Rusia pun bisa bertahan dalam perang berkepanjangan. bahkan tanpa dukungan internasional. Sebagai contoh, penggunaan drone shaded murah yang dikembangkan dari Iran. Teknologi itu bahkan jauh lebih efektif dan efisien dari teknologi Amerika Serikat sekalipun. Oh ya, terakhir jangan lupa bahwa Rusia memiliki kekuatan nuklir terbesar di dunia serta sistem seperti deat hand yang bisa meluncurkan balasan otomatis jika Moskow diserang. Dalam kondisi konflik ekstrem, kekuatan destruktif ini adalah jaminan terakhir eksistensi Rusia dan membuat negara manapun termasuk Amerika Serikat berpikir dua kali untuk memaksakan kekalahan total pada Rusia. Trump janjikan kemenangan ke Rusia. Putin menolak. Demi menghentikan perang Ukraina Rusia, Trump sejatinya telah melakukan banyak upaya untuk membuat Putin melakukannya, termasuk memberikan kemenangan simbolis untuk Rusia. Seperti laporan dari The Atlantic Council, Trump berulang kali mengisyaratkan bahwa ia siap menerima sebagian besar tuntutan Crmlin, termasuk mengizinkan Rusia mempertahankan kendali atas wilayah-wilayah Ukraina yang diduduki, menolak keanggotaan Ukraina di NATO, dan mengurangi tekanan sanksi terhadap Moskow. Namun pada kenyataannya Trump gagal oleh Putin yang tak kenal kompromi. Ada alasan paling dasar kenapa Putin menolak tawaran Trump dan alasan paling utamanya adalah karena Putin merasa Rusia menang. Tentara Rusia terus maju di berbagai titik di garis depan. Sementara militer Ukraina secara sistematis dilumpuhkan. Meskipun kemajuan terbukti sangat lambat, tidak diragukan lagi bahwa Putin saat ini memegang inisiatif di medan perang dan dapat dengan wajar berharap untuk menang dalam perang atrisi melawan lawan yang jauh lebih kecil. Sederhananya, dengan pasukannya yang merebut lebih banyak wilayah dan lawan-lawannya yang begitu mudah terintimidasi, tidak sulit untuk memahami mengapa pemimpin Rusia tersebut mungkin lebih memilih untuk melanjutkan invasinya sambil menunggu apa yang ia anggap sebagai keruntuhan Ukraina yang tak terelakan. Selain itu, di ranah domestik, Putin memiliki sejumlah alasan praktis lebih lanjut untuk lebih memilih kenyataan perang yang keras daripada ketidakpastian perdamaian. Hal ini lantaran sejak 2022 ia telah berhasil membawa ekonomi Rusia ke kondisi sia perang. Terbukti GDP Rusia naik lebih baik dari banyak negara Eropa dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak 2023 hingga 2024. Sekarang lihatlah data berikut ini. Rusia nampak mengungguli negara-negara besar Eropa lainnya seperti Jerman, Prancis, Italia hingga UK dan Uni Eropa yang hanya memiliki pertumbuhan 0,5%. Pada akhirnya pertemuan langsung antara Putin dan Trump bukan sekedar diplomasi biasa. Ini adalah pertarungan narasi antara seorang presiden Amerika yang ingin mengakhiri perang dengan cepat dan seorang pemimpin Rusia yang sudah merasa memenangkan segalanya tanpa harus berdamai. Dalam logika Putin, kenapa harus berhenti? Kalau sedang berada di atas angin di medan perang, pasukan Rusia terus maju. Di dalam negeri, ekonomi Rusia justru melonjak. Di panggung global, poros anti barat semakin kuat. Amerika boleh menjatuhkan sanksi, Trump boleh mengancam. Tapi selama Rusia bisa membiayai perangnya, memproduksi senjatanya sendiri, dan membangun aliansi global tandingan, tidak ada satupun kekuatan yang bisa benar-benar mengalahkan Rusia. Bukan karena Rusia sempurna, tapi karena Rusia sudah berubah menjadi negara perang yang berpikir, bergerak, dan tumbuh melalui konflik. Pertanyaannya sekarang bukan lagi akankah Putin berdamai, tapi justru sejauh mana Trump atau siapapun pemimpin barat berikutnya siap berkompromi untuk menghentikan perang yang mereka sendiri tidak bisa menangkan? Yang pasti pertemuan Putin dan Trump akan mengukir sejarah. Tapi siapa yang benar-benar akan menulis akhirnya?

======================================
Part of GLNEWS
Website: https://glnews.id/
Instagram: https://www.instagram.com/glnews_ig/
Tiktok: https://www.tiktok.com/@glnewsofficial
Facebook: https://www.facebook.com/glnewsfootball/