PELAJARAN BERHARGA DARI KABUPATEN PATI
Asalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin. Wasalatu wasalamu ala asrofilyaai wal mursalin wa ala alihi wasohbihi ajmain. Amma ba’d. Saudara-saudara sebangsa tanah air. Kira-kira dalam 10 hari terakhir ini Kabupaten Padi, Jawa Tengah berada dalam sorotan spotlight berita nasional karena Bupati Padi memutuskan untuk menaikkan PBB, pajak bumi dan bangunan sebesar 250% mulai tahun ini, tahun 2025. Sekarang Sudewo Bupati Pati beralasan sudah 14 tahun PBB tidak pernah naik. Padahal untuk membangun infrastruktur jalan, jembatan, dan lain-lain diperlukan dana besar. Dengan kenaikan 250% itu, Pemda PD bisa lebih leluasa melaksanakan pembangunan prasarana infrastruktur di PTI. Sudewa mengatakan bahwa keputusan yang mengejutkan itu yakni menaikkan pajak PBB jadi 2 seteng kali lipat sudah dimusyawarahkan lewat pertemuan dengan para camat dan juga para anggota paguyuban camat. Nah, bisa kita maklumi bahwa kenaikan pungutan PBB sebesar 250% itu jelas dianggap terlalu berat bagi mayoritas rakyat padi. Apalagi kondisi ekonomi di seluruh Indonesia sekarang ini sedang sangat lesu. Ekonomi rakyat kecil dewasa ini sangat tertekan. Katakanlah mereka kembang kempis hanya sekedar untuk mencukupi kebutuhan pokok, kebutuhan minimal keluarga juga misalnya untuk membayar SPP sekolah agar tepat waktu dan lain sebagainya. Nah, Saudara-saudara, kemarahan rakyat Padi selain ditujukan ke Bupati Sudewo to some extent ya sampai batas tertentu itu juga ditujukan ke sekdanya yaitu Pak Rioso yang sempat sebentar cekcok dengan rakyatnya. Nah, dua orang pejabat penting ini di PD mudah dimaklumi kalau kemudian menjadi sasaran kemarahan rakyat. Tetapi fokus kemarahan rakyat memang pada Sudewo, pada bupatinya. sampai 8 Agustus lalu rakyat padi menumpuk di atas trotoar di depan gedung kabupaten itu beribu-ribu puluhan ribu kotak berisi botol air Aqua, beribu-ribu bungkusan Indomie dan bungkusan makanan lainnya untuk membuka mata Sudewo bahwa rakyat Pati kompak menolak mentah-mentah keputusan bupati penaikkan PBB sebesar 250% itu. sekaligus untuk membuka mata Sudewo bahwa di padi yang berdaulat adalah rakyat bukan pejabat. Saya yakin bahwa cara dan substansi berpikir rakyat PTI juga merupakan cara dan substansi berpikir sebagian besar rakyat Indonesia. Jadi ini tidak main-main. Jadi salah besar kalau kita masih berpikir seperti di dekade 70-an sampai 80-an pada zaman itu, apalagi zaman orde lama rakyat masih berpikir ala feodalisme. Seingat saya ini pada tahun 1970-an misalnya ada kejadian lucu seorang gubernur tiba ke kabupaten di mana Pak Bupatinya benar-benar berpikir sangat feudal. sehingga dia mengutus anak buahnya untuk membeli puluhan kotak berisi air minum. Ternyata puluhan kotak berisi ratusan botol air minum itu semuanya dimasukkan ke bak kamar mandi. Nah, waktu pejabat Anda hanya bertanya, “Pak Bupati, mengapa ratusan botol air minum itu disuntak semuanya ke bak mandi?” Jawaban Pak Bupati mengejutkan. Jadi, air sumur di sini kan bau tanah. Kalau sampai Pak Gubernur berkenan mau mandi, air mandi itu sekarang sudah bau segar. Memang ini sungguh-sungguh terjadi. Saya enggak usah nyebutkan di kabupaten mana juga. Misalnya hubungan gubernur dengan presiden. Bila seorang presiden akan mendatangi sebuah kota di sebuah provinsi sementara ada jalan yang masih belum diaspal beberapa kilometer antara bandara dan kota itu, maka dalam hitungan hari Pak Gubernur berhasil menyulap bagian jalan yang berlubang-lubang menjadi halus mulus. Pak Gubernur sempat takut kalau Pak Presiden sampai kecewa dan tidak berkenan dengan jalan yang masih berlubang-lubang itu nanti bagaimana nasibnya. Nah, ini kembali ke demo puluhan ribu rakyat kabupaten pada hari Kamis siang yang meminta Sudewo supaya sukarela mengundurkan diri dan saya kira memang sebaiknya Sudewo sebaiknya ya segera menyerah untuk mengundurkan diri. Enough is enough. Di mata rakyatnya Sudewa pejabat yang arogan dan salah satu tulisan para demonstran berbunyi Sudewo arogan, preman, penipu, dan penindas. Sedangkan DPR di Pade disebut sebagai Dewan Pengkhianat Rakyat. Tidak satuun anggota DPRD Pati yang punya nyali untuk menemui para demran sehingga rakyat yang sudah memilih para anggota DPRD itu juga sangat kecewa dengan para wakil rakyat itu. Nah, menurut saya itu sebaiknya Pak Presiden Prabowo segera mengambil sikap yang tegas pada kasus penolakan rakyat Pati pada Bupati Sudewo. Karena bisa-bisa Pati Acident. Maksud saya kejadian pati yang menggetarkan bangsa kita sekarang ini bisa menular ke daerah lain. Karena banyak pejabat yang struktur mentalnya lebih kurang sama dengan mentalitas Sudewo. Jadi, PD hakikatnya sudah membunyikan political alarm. Jadi, jangan biarkan Jokowi dan para gangster politik Solo sampai memancing di air keruh. Saya kira sekian dulu. Alamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Dalam 10 hari terakhir ini Kabupaten Pati berada dalam sorotan spotlight berita nasional, karena bupati Pati, memutuskan untuk menaikkan PBB sebesar 250%, mulai tahun 2025 sekarang.
#jokowi #amienrais #mulyono #prabowo #pati #demopati