Pertemuan Yan Weilun dengan Kekasihnya | The Magical Women【INDO SUB】EP2 | iQIYI Indonesia

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [The Magical Women] [Episode 2] Kuusahakan pulang cepat malam ini. Besok kutemani kalian berdua. Masih sempat kalau kamu memberitahuku sekarang. Apa? Masalah apa saja. Asalkan kamu bersedia jujur. Bodoh. Aku selalu jujur padamu. Jangan terlalu lelah. Jika malam ini terlalu larut, tinggallah di sana semalam. Aku usahakan segera kembali.

Aku pergi dulu, Youran. Buat apa mengambil papan gambar? Setelah mengantarmu, aku harus pergi dinas keluar kota. Aku datang. Ayo pergi. Cepatlah. Kalau begitu, kami pergi dulu. Ayo. Ayo. Ayo, ganti sepatu. Baiklah. Cepatlah. Jangan mendesak terus. Hati-hati rambutmu. – Sudah. – Aku pergi. Pak, tunggu aku di lantai dua.

Belajar seni harus patuh pada guru. Mengerti? Mengerti. Ini, pegang papan gambarnya. Hati-hati. Nona cantik, turun nanti ayo kita tambah WeChat. Hal seperti ini belum tentu bisa diikuti. Lain kali jika ada masalah, langsung cari aku saja. – Sampai jumpa. – Sampai jumpa. Ikuti. Baik. Sayang, mau makan apa hari ini? Aku ingin makan pangsit.

– Pangsit, ya. – Selamat datang. [Pintu masuk supermarket] Kalau begitu kita pergi beli sawi putih dan daging babi, oke? Halo, selamat datang. [Nama Produk: Perut Babi Berkualitas, Harga Khusus] Nona, Nona. Lihatlah, umurmu masih muda. kenapa berebut dengan orang tua sepertiku? Usia Anda juga tidak tua. Memang tidak tua. Tapi aku dulu yang mengambilnya.

Tidak, aku dulu yang mengambilnya. Aku melihatnya lebih dulu. Kamu masih sangat muda, jangan berebut denganku. Cepat lihat. Di sini ada daging sapi gratis. – An Kang, cepat lari. – Di mana? Aku mau lihat. – Cepat lari! – Tidak ada. Cepat! Kenapa anak kecil ini membohongi orang lain? Cepat lari, pulang buat pangsit. Cepat.

An Kang. An Kang! An Kang! An Kang. Jangan bermain petak umpet dengan Ibu. An Kang. Kakak, apa kamu melihat anakku? Siapa? Yang tadi beli daging. Anak? Aku tak melihatnya. An Kang. An Kang! An Kang! An Kang! Jangan bergerak! An Kang. An Kang! An Kang! An Kang! An Kang. Ibu. An Kang. Ibu.

Sayang, kamu baik-baik saja? Ibu, dia menusukku. Berhenti! Minggir! – Jangan lari! – Berhenti! Bantu aku menjaga anakku. Baik. Jangan lari! Berhenti! Berhenti! Berhenti! Jangan lari! Berhenti! An Kang. Ibu. Di mana dia menusukmu? Tangan. Tempo hari di mobil Paman Yan, mainanmu tertinggal. Apa yang ini? Lihat, apa ini Paman Yan?

Kalau begitu, hari itu di dalam mobil hanya kamu dan ibumu? Masih ada seorang bibi, dia sangat cantik. Halo, pria tampan. Yan, aku perkenalkan secara resmi padamu. Ini adalah kakak kelasku, An Ning. Ini putranya. Yan, dia adalah pacarku. Dia tidak cocok dengan mantan istrinya. Sudah bercerai. Jadi, aku terpaksa menerimanya. Benar, tidak?

An Kang, sapa mereka. Halo, Paman, Bibi. Pintar sekali. Kamu juga pintar. Terima kasih. Jangan ganggu. Lihatlah, kamu terkejut. Aku tinggalkan sedikit kenang-kenangan. Besok saja. Kalau main-main jangan takut jantungan. Oh, ya. Kemarin pagi, di depan gerbang kompleks aku juga bertemu teman kuliahmu. Yang bernama An Ning itu. Apa? Kamu juga yang mengaturnya? Coba tebak.

Kita sudah sepakat. Bersama, tapi tak akan mengganggu kehidupan masing-masing. Baiklah. Kalau begitu mulai hari ini, kita bermain masing-masing. Kamu benar-benar kelemahanku. Kenapa kamu tidak lapor polisi? Anakku baik-baik saja. Tunggu sebentar. Kamu janjian dengan siapa lagi di sini? Tidak ada. Kamu mengenal Yan Weilun? Dia adalah suamiku. Bukankah kalian sudah bercerai?

Siapa yang memberitahumu kami bercerai? Tetangga. Tetangga yang mana? Tidak tahu. Direktur Yi, sekarang proyek properti Kangyang harus diinvestasikan. Bukankah sebelumnya sudah sepakat? Tunggu sebentar, Direktur Yi. Kenapa kamu di sini, Sayang? Belanja di sekitar sini. Kalau kamu? Dalam perjalanan menuju Nanjing. Apa kamu mengemudi? Apa kamu tak perlu menjelaskannya padaku? Kebetulan.

Kamu bantu aku mengemudi dulu. Aku harus segera menelepon. Direktur Yi, sekarang pemerintah sudah mengeluarkan setengah dana. Sekarang masalah sudah final. Kita hanya ikut berinvestasi. Risikonya sudah sangat kecil. Direktur Yi, kamu takut risikonya tinggi? Ikut berinvestasi pun kamu dapat keuntungan rendah. Di dunia ini, mana ada hal yang sempurna seperti itu? Baik, baik, baik.

Sekarang aku sudah dalam perjalanan kembali ke perusahaan. Akan kulaporkan setelah tiba. Baik. Kenapa kamu tidak naik? Bisa jelaskan sekarang? Apa? Kenapa membohongiku? Memberitahuku pergi ke Nanjing, tapi malah ada di sini. Hanya masalah ini? Aku tidak membohongimu. Awalnya aku ingin memilih hadiah, membawanya ke Nanjing untuk diberikan ke klien.

Kamu lihat, perusahaan mengadakan rapat darurat, Aku harus segera kembali ke kantor. Pilih hadiah di mana? Bukankah ada galeri seni? Klienku biasanya suka mengoleksi karya seni. Jadi, aku memilih apa yang dia suka. Ini namanya Galeri Seni Yang. Akhir-akhir ini ada pameran yang lumayan bagus. Sayang, aku benar-benar tak ada waktu lagi.

Aku harus segera kembali ke kantor. Bagaimana kalau kamu pergi ke perusahaanku sebentar? Nanti jemput Youran. Kita makan bersama di luar saja. Tidak perlu. Aku pulang sendiri lebih dulu. Baiklah, kalau begitu aku kembali ke perusahaan dulu. [Bos di sekitar] [Galeri YOUNG, Perwakilan hukum, Ding Manman] [Telepon, Direktur Ding] Direktur Ding, Aplikasi baru

Akan mulai diuji minggu depan. Jika Anda ada waktu, luangkan waktu untuk memeriksanya. Benar, sebelumnya dengar Anda bilang putri Anda membuka sebuah galeri seni. Akhir-akhir ini kebetulan ada klien yang membutuhkan hal ini. Apakah Anda bisa kirimkan WeChat-nya padaku? Baik, maaf merepotkan. Sampai jumpa. [Dari “Ding Jianhong” membagikan kartu nama] Aku tidak mengurus keuangan.

Maaf, Manajer Zhou. Aku tidak menyimpan telepon rumah Anda. Apa? [Ruang VIP] Apa sistem kalian bermasalah? Sebelumnya di rekeningku selalu ada tiga juta yuan lebih. Kenapa sekarang hanya tersisa 50.000 yuan? Setelah pengelolaan keuangan sebelumnya berakhir, Anda mentransfer tiga juta. Pas dua minggu yang lalu. Angka yang begitu besar, kenapa aku tidak tahu?

Kalau begitu aku bantu Anda periksa riwayat transfer. Silakan, Anda lihat. [Jumlah pengeluaran 3.000.000] Apa perlu kubantu mencetaknya? Proyek ini memiliki prospek yang sangat bagus. Yan Weilun. Ini adalah rapat investasi, apa yang kamu lakukan? Kamu transfer tiga juta ke mana? [Transfer rekening] Kamu memeriksa pembukuan? Omong kosong. Sudah ditransfer ke wanita mana? Wanita apa?

Kamu berpura-pura lagi. Selain kamu, aku tidak punya wanita lain. Apa yang sedang kamu ributkan? Tiga juta investasi ini, [Real estat perawatan kesehatan, Kontrak Investasi] untuk proyek properti Kangyang. Bukankah sebelumnya aku pernah bilang padamu, pergi ke Nanjing juga untuk melihat proyek ini? Sekarang yang didiskusikan dalam rapat masih mengenai hal ini.

Salahku sebab tak memberitahumu sebelumnya. Tapi sekarang proyek ini, aku ikut investasi tak hanya untuk manajemen yang sedang berlangsung, aku sendiri juga optimis pada proyek ini. Sebelumnya aku sudah bilang padamu, proyek ini berisiko. Aku tidak setuju berinvestasi. Kenapa tidak setuju investasi? Aku selalu menunggu kesempatan ini. Su Fei, tak perlu tiga sampai lima tahun,

Kita bisa mendapatkan dua kali lipat keuntungan. Jadi, kamu memalsukan tanda tanganku? Investasi apa pun ada risikonya. Kamu terlalu gegabah dan tidak ada batasan. Aku tahu. Target ini agak besar. Aku takut kamu tidak setuju. Sayang. Jangan panggil aku sayang. Istri Yan Weilun datang. Sedang bertengkar di kantor. Aku bukan gegabah.

Aku hanya memanfaatkan kesempatan untuk menghasilkan uang. Aku melakukan ini bukankah demi kamu dan putri kita? Hal apa lagi yang kamu sembunyikan dariku? Katakan semuanya hari ini. Tidak ada lagi, masih ada apa lagi? Apa hubunganmu dengan Ding Manman? Aku hanya punya satu permintaan. Katakan yang sebenarnya. Kamu mengenal Ding Manman?

Ayahnya adalah wakil direktur Grup Xinyuan, adalah investor kami. Direktur Ding membuka sebuah galeri seni. Bukankah aku sudah memberitahumu tadi pagi? Aku tadi pergi ke galeri seni milik dia. Memilih hadiah untuk klien. Bolehkah aku melihat riwayat obrolan kalian? [Masukkan sandi] Cepat sekali sudah merindukanku? Halo, Direktur Ding. Aku Yan Weilun. Salah makan obat?

Sekarang aku bersama dengan istriku, membicarakan galeri seni Anda. Kebetulan, dia juga sangat tertarik dengan hal ini. Apa besok kamu ada waktu? Aku membawa istriku. Pergi bersama-sama melihat ke tempat Anda. Ketahuan oleh istri, ya. Kamu ingin aku menghadang pistol untukmu, begitu? Kalau begitu besok pagi. Sebaiknya kamu jangan datang. Hati-hati aku akan membeberkan semuanya.

Kalau begitu mohon bantuannya. Sudahlah. Jangan curiga lagi. Sudah buat janji besok pagi. Jika kamu khawatir, kamu tanyakan sendiri padanya. Aku pergi rapat dulu. Ibu, siapa mereka? Mereka… Sebenarnya mereka adalah orang Mars. Mereka ingin kamu bertamu di Mars. Ibu berbohong. Bagaimana kamu tahu dia adalah orang Mars? Karena… karena saat aku mengejar mereka,

Aku melihat kepala mereka berapi-api. Benarkah? Itu, kita… Kita cari dulu. Mari lihat bagaimana rupa orang Mars, oke? Baiklah. Sayang, bantu aku kali ini. Aku pasti akan menebusmu. [Istri] Maaf. Maaf, nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi. Silakan coba beberapa saat lagi. Sayang, kamu di mana? Aku jemput, ya. [Edit Kontak]

[Galeri YOUNG, Direktur Ding] Minum. Cepat, cepat, cepat. Kamu cepatlah. Lihatlah dia. Dia bahkan lebih cepat dari kalian berdua. Cepat minum. Dia lebih cepat dua gelas darimu. Aku menang! Kamu ini payah. Aku menang, kamu kalah, kamu kalah. Sudah cukup minumnya. Tidak apa-apa. Ini bukan apa-apa. Ya, aku berterima kasih padamu.

Kamu bersedia jadi mata-mata untukku. Apa yang kalian lakukan? Kalian sedang memelihara ikan? Bersulang untukmu. – Baiklah. – Ayo. Bersulang. Siapa ini? Ini, ini, baterai hampir habis. Siapa? Halo. Halo? Aku baru mau meneleponmu. Aku sedang minum di luar, cepat kemari. Kamu di mana? Aku sudah selesai minum. Kamu berhutang segelas. Kapan aku berutang segelas?

Hei, kamu siapa? Bukan urusanmu. Aku… Temanku, temanku. Kamu duduk dulu, duduk, duduk. Ada yang ingin kukatakan padamu. Aku belum puas bermain. Ingin bicara apa? Katakan saja di sini. Yan Weilun sama sekali belum bercerai, apa kamu tahu? Sekarang sudah tahu. Kamu sudah tahu dari awal? Apa bedanya? Lalu kamu bilang padaku dia sudah bercerai.

Kamu juga bilang mantan istrinya berselingkuh. Sekarang yang berselingkuh adalah kalian berdua. Sebenarnya kamu temanku atau bukan? Kenapa kamu selalu membela orang luar? Teman tidak ingin melihatmu menjadi selingkuhan. Selingkuhan apanya? Aku beri tahu kamu, bukan hanya Yan Weilun seorang yang mengejarku. Lihatlah. Lihat sekelompok pria ini. Satu, dua, tiga. Sudahlah.

Aku dan Yan Weilun hanya main-main saja. Jangan anggap serius. Dia sama sekali belum bercerai. Kamu bermain dengannya? Benar. Makanya disebut bermain. Lagi pula tak perlu bertanggung jawab. Apa cinta untuk dimainkan? Kulihat kamu sedang mencelakai diri sendiri. Terima kasih untuk perihal mencari pekerjaan. Aku akan segera meninggalkan rumahmu. Apa maksudmu?

Aku tidak bisa berpura-pura di depan bosku. Kamu… Dasar pura-pura suci. Ayo, lanjutkan minum. Ayo. Kenapa kamu baru kembali? Kuberitahu, kamu sudah hutang beberapa gelas. Aku antar kamu pulang. Siapa kamu? Tidak boleh pergi. Aku sudah minum, dia masih belum minum. Lepaskan tanganmu. Berani bertaruh harus berani kalah. Manman, kamu kalah, harus traktir.

Siapa bilang aku kalah? Aku minum. Minum. Keren sekali. Ayo. Aku, aku, baju, baju. Sampai jumpa. Siapa? Anggur ini cukup mahal. Semuanya diminum. Jangan curiga lagi. Sudah buat janji besok pagi. Jika kamu khawatir, kamu tanyakan sendiri padanya. Kenapa rumahku begitu jauh? Sudah sampai rumah. Buka pintu. Bertahanlah. Aku datang. Ayo, bantu aku. Dia mabuk.

Hati-hati. Pelan-pelan. An Ning. Kamu sungguh kuat minum. Begitu kamu muncul, sekelompok pria busuk itu seperti sampah. Memindahkanmu lebih melelahkan daripada memindahkan barang. Sudah kuputuskan. Mulai malam ini aku ganti orang. Biarkan Yan itu mati saja. Aku benar-benar ingin menasihatimu. Putuskan hubungan dengannya. Putus. Orang yang mengejarku bisa antri dari sini sampai Pulau Hainan.

Memangnya siapa Yan Weilun itu? Pria tua yang pernah dipakai orang lain. Aku tak mau. Tidak mau lagi. Dia bukan orang baik. Hari ini dia bisa mengkhianati istrinya, besok juga bisa mengkhianatimu. Dia tidak benar-benar mencintaimu. Itu hanya sandiwara. Kalian jangan menyakiti orang yang tidak bersalah demi kesenangan sementara, mengerti? An Ning,

Kamu jauh lebih baik dariku. Setidaknya Paman Pang tulus padamu. Siapa? Tadi kamu bilang siapa? Ibu An Kang! Ini aku. Guru Su. Apa yang kamu lakukan sendirian di luar tengah malam begini? Apa hubungannya denganmu? Kenapa kamu mengikutiku tengah malam begini? Tadi aku lihat mirip kamu. Aku mendekat lihat apa memang itu kamu.

Berjalan di malam hari juga tidak melanggar hukum, ‘kan? Bagaimana jika kamu bertemu orang jahat? Anggap saja dia sial. Benar juga. Pukulanmu terlalu keras. Maaf. Mau kutemani ke rumah sakit? Tidak perlu. Aku masih bisa bertahan. Sungguh tidak apa-apa? Tidak apa-apa. Kalau tidak apa-apa, aku pergi dulu. Ibu An Kang. Ibu An Kang.

Aku tidak bermaksud lain. Maksudku sudah selarut ini, kalian tinggal di mana? Aku antar kamu pulang. Tidak perlu. Sudah selarut ini, An Kang juga tidak aman di rumah sendirian. Naiklah. Kamu bisa mengendarai motor? Aku punya SIM. Baiklah. Turun. Aku bukan sengaja mengambil keuntungan darimu. Tanganku, tak ada tempat meletakkan tanganku. Aku tiba-tiba teringat,

Aku minum. Kamu saja yang mengemudi. Baiklah. Bagaimana kalau kamu turun dulu? Kenapa baru pulang? Kamu juga minum? Dengan siapa? Tentu saja pria. Masih punya alasan. Pulang selarut ini bahkan tidak memberi kabar. Kamu benar-benar hebat. Akan kutuangkan segelas air madu. Ada apa? Aku tanya padamu, jika suatu hari aku selingkuh, apa kamu akan memaafkanku?

Jika kamu selingkuh, sudah pasti ada kesalahanku. Jadi? Jadi, aku akan memaafkanmu. Juga akan lebih baik padamu. Pokoknya, kamu hanya perlu tahu di dunia ini tidak ada yang lebih baik darimu di dunia ini. Kamu tetap akan kembali kepadaku. Kamu juga berharap aku memperlakukanmu seperti ini? Kamu tidak akan selingkuh. Aku hanya mencintaimu seorang.

Kita berdua tidak akan selingkuh. Aku mau mandi. Pelan-pelan. Aku jalan sendiri. Apa aku terlalu ngebut? Maaf, maaf. Aku minum terlalu banyak. Tadi tertiup banyak angin. Terima kasih sudah mengantarku pulang. Aku pergi dulu. Kebetulan sekali. Kamu tinggal di sini? Kakakku juga tinggal di sini. Kebetulan sekali. Tunggu sebentar. Itu… Helm. Maaf, maaf. Keluar, keluar.

Maaf. Tidak, tidak. Tadi aku lupa. Tidak apa-apa. Aku pulang dulu. Aku antar kamu pulang saja. Kebetulan aku mau bertemu kakakku. Kakakku tinggal di lantai 12, kamu tinggal di lantai berapa? Lantai 11. Lantai 11. Siapa? Kakakku. Kenapa kamu datang? Ambilkan minuman untukku. Haus. Di mana Kakak ipar? Di mana Youran?

Kamu juga tak lihat ini sudah jam berapa? Semuanya sudah tidur. Kak, kebetulan sekali. Di TK kami ada seorang ibu anak kecil tinggal di bawah rumahmu. Siapa? Marganya An, namanya An Ning. Jangan khawatirkan urusan orang lain. Kamu khawatirkan urusanmu sendiri saja. Kamu juga sudah tidak muda lagi. Tidak mungkin, Kak. Kamu baru umur berapa?

Kamu juga belajar dari orang lain untuk mendesak orang lain menikah? Aku bukan mendesakmu, aku mengkhawatirkanmu. Ibu, Ibu, kamu kenapa? Sadarlah! Ibu, bangunlah! Ibu, cepat bangun. Ibu! Ibu! Itu An Kang! Ibu. An Kang. An Kang! An Kang. Siapa? Ibu bilang tidak boleh membuka pintu untuk orang asing. An Kang, jangan takut.

Aku Guru Su dari TK. Ibumu adalah sopir truk, ‘kan? Hari itu saat kita menunggu Ibu bersama, apa kamu masih ingat apa yang kamu katakan pada Guru? An Kang, ada apa dengan ibumu? Guru Su, cepat selamatkan ibuku! Cepat! Ibu, Ibu. Ibu An Kang. Ibu, cepat bangun, cepat buka pintu!

– Ibu An Kang. – Cepat pergi. Cepat buka pintu, cepat buka pintu. Ibu, cepat buka! Cepat buka pintu! Ibu An Kang. An Kang, minggir. Ibu An Kang. An Ning? Ibu An Kang. Ibu An Kang. Siapa kamu? Bagaimana kalian bisa masuk? Kamu mabuk. Kamu mengunci dirimu di dalam kamar.

An Kang selalu memanggil Ibu, Ibu, Ibu. Kami mendengarnya dari atas, jadi buru-buru turun. An Kang membuka pintu untuk kami. Kami bersama-sama menyelamatkanmu. Maaf. Aku memang mabuk. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Kalau tidak ada hal lain, kami pergi dulu. Direktur Su, ada yang ingin kukatakan padamu. Kamu juga sudah melihatnya. Ding Manman adalah temanku.

Ini rumahnya. Berapa banyak yang kamu tahu tentang mereka? Bisa katakan padaku?