Gui Xiao membantu Lu Yanchen | Road Home【INDO SUB】EP2 | iQIYI Indonesia

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [Road Home] [Episode 2] Turun salju, pelan-pelan saja. Aku tahu. Cari apa? Ini? Kapten Lu. Terima kasih banyak, mari berkumpul lagi lain hari. Terima kasih. Tidak perlu. Sampai jumpa. Sampai jumpa. Cepat bangun. Aku berakting dengan susah payah. Apa kamu tidak bisa berbincang lebih banyak dengannya? Sengaja mencari-cari topik pembicaraan,

Sangat membosankan. Aku lihat ada banyak yang ingin kalian bicarakan. Kamu lihat? Kamu baru umur berapa, apa yang bisa kamu lihat? Bibi Gui Xiao, kamu menyukainya, ‘kan? Diam saja, berarti mengakuinya? Tadi saat aku makan, aku sengaja menanyakan jadwal mereka. Dua hari lagi mereka akan pergi dari kota praja, menuju ke kota.

Selain itu, tidak ada pekerjaan. Sekadar berwisata. Pura-pura bodoh? Ini tidak seperti sifatmu. Kapten Lu. Bukan pura-pura bodoh, tapi malas menjawab. Apa kamu pikir, aku tidak mendengar kamu bertanya pada mereka? Kamu menguping? Kembali ke tempatmu. Tidak boleh bicara dengan sopir saat naik mobil. Kamu tidak tahu? ♫Bagaimana bisa jatuh cinta padamu?♫

♫Aku bertanya pada diriku sendiri♫ ♫Aku bisa melepaskan segalanya♫ ♫Tidak disangka hari ini sulit berlalu♫ ♫Kamu tidaklah cantik♫ ♫Tapi kamu sangat manis♫ ♫Oh, Cinderella♫ ♫Cinderella-ku♫ ♫Aku selalu menyakiti hatimu♫ ♫Aku selalu begitu kejam♫ ♫Sudah kubilang jangan menganggapnya serius♫ ♫Karena aku tidak berani percaya♫ Kamu benar-benar tekun, ya. Setiap hari berolahraga, tidak berhenti? Tunggu aku selesai.

Melatih postur tubuh menjadi sebagus itu. Wanita berdandan untuk orang yang disukai? Wanita berdandan untuk kesenangan diri sendiri. Gui Xiao. Apakah kamu pernah berpacaran dengan Kapten Lu? Sejujurnya, aku melihat kalian berdua duduk berdampingan di mobil, aku merasa suasananya tidak beres. Tidak. Hanya teman sekolah. Tidak ada yang bisa dibicarakan, makanya terkesan canggung.

Teman lama kamu ini terlalu sungkan. Aku ingin membelikannya suplemen, dia tidak mau. Lu Yanchen? Benar. Dia sudah membantu kita dua kali. Kemarin malam itu sudah termasuk menyelamatkan nyawa. Lalu aku berpikir untuk membelikannya beberapa suplemen, juga membelikan makanan dan keperluan untuk anak laki-laki itu. Dia bersikeras tidak mau. Tidak bisa. Suamiku bilang,

Ungkapan terima kasih ini harus sampai. [Markas Pelatihan Polisi] [Detasemen SWAT] Surat pengajuanmu telah disetujui. Aku tadi sedang bercanda denganmu. Lu Yanchen. Hadir! Bulan Februari tahun depan, kamu akan secara resmi dipindahkan ke Kota Tianwen. Menjabat kapten tim besar ketiga detasemen SWAT Kepolisian Kota Tianwen. Kota Tianwen sangat dekat dengan Beijing. Kali ini,

Kamu bisa sering-sering berkumpul dengan keluarga. Ide siapa ini? Ideku. Kenapa? Keberatan dengan pemimpin lama? Aku belum memikirkannya. Kamu tidak boleh memikirkannya. Sudah diputuskan. Aku tahu, kamu punya ganjalan hati. Tapi kamu tidak seharusnya berhenti di sini. Aku tidak akan membahas tentang masa depan yang cerah denganmu. Aku hanya ingin memberitahumu,

Kamu adalah kebanggaanku selama ini. Menghasilkan didikan sepertimu tidaklah mudah. Kamu, Lu Yanchen, terlahir untuk melakukan pekerjaan ini. Demi negara, kamu harus melakukan yang terbaik. Baik. Setelah ke sana, bekerjalah dengan baik. Tidak sesuai keinginanmu? Tidak jadi mengundurkan diri, malah naik jabatan. Kamu sudah tahu dari awal? Bagaimana mungkin? Aku hanya menebaknya.

Kamu ini siapa? Pahlawan penjinak bom. Jika aku adalah pemimpin, mana bisa membiarkanmu menganggur di rumah? Ayo. Akhir pekan di tempat biasa, teman-teman akan lebih awal mengadakan pesta perpisahan untukmu. Bibi Gui Xiao, ya? Adegan yang dimainkan dalam drama, tidak ada yang seperti dirimu. Tidak boleh disebut, juga tidak boleh dibicarakan. Bukan. Bukan ya bukan.

Itu hanya bisa membuktikan bahwa ada masalah di hatimu. Jika sungguh tidak ada masalah, dia jauh-jauh kemari, setidaknya kamu harus menemani bermain dan makan. Bawa kemari buku PR-mu. Aku belum selesai mengerjakannya. Bawa kemari. Salah satu. Besok tidak boleh keluar. Tiran. Apa kamu ingin kembali dan tinggal di sana? Tidak.

Aku hanya ingin bersama Paman Lu. Kapan ayahku datang? Sebentar lagi. Kenapa duduk-duduk saja? Ayo makan kacang dan kuaci. Aku yang traktir. Kapten Lu, selamat atas promosimu. Hanya perpindahan biasa. Kamu terlalu rendah hati. Lanjutkan. Kakak Ipar. – Kakak Ipar. – Sudah datang? Kakak Ipar. Kakak Ipar. Kakak Ipar. Cepat masuk dan bantu aku.

Aku sibuk sendirian. Baik. Baik. Kakak Ipar, di mana Kapten Lu? Ayo. Pergi membeli bir untukmu. Dua hari ini badai salju, yang mengantar bir tidak datang. Persediaan bir tidak cukup untuk kalian. Dompet Kapten akan menangis. Terima kasih, Kakak Ipar. Lebih cantik dari ini. Boleh juga. Xiaonan, gambarmu bagus. Gambarnya lumayan bagus. Hebat sekali.

Tentu saja. Masih tidak datang membantu? Apa yang kalian tertawakan? Kapten Lu. Kami melihat mantan kakak ipar. Xiaonan memberi tahu kami, kami masih tidak percaya. Kapten Lu, tindakan bawah sadarmu ini telah mengkhianatimu. Bantu! Kapten Lu. Apakah mantan kakak ipar sudah menikah? Aku hanya perhatian saja. Meskipun sudah putus, tetapi masih bisa berteman, ‘kan? Benar.

Aku bahkan menghadiri pernikahan cinta pertamaku dan memberinya angpao terbesar. Dia datang ke Qining, jangan-jangan untuk berbulan madu atau semacamnya? Kalau begitu agak menyedihkan. Orang yang bisa menaklukkan Kapten Lu, malah menikah dengan orang lain. Sayang sekali. Sudah cukup, belum? Kapten Lu, biarkan kami menemuinya sebentar. Jarang-jarang bisa berkumpul. Kami sudah lama putus,

Apa alasan untuk bertemu dengannya? Kapten Lu, kamu tidak mengerti soal ini. Cinta pertama pasti yang paling indah. Setidaknya saat diceritakan, pasti berbeda dengan orang biasa. Pokoknya, kami sarankan padamu, sedikit banyak lakukan tugas sebagai tuan rumah. Benar, ‘kan? Benar, tugas sebagai tuan rumah. Benar, Kapten Lu. Kita harus membuatnya merasakan keramahan kita.

[Daging Sapi Kambing Premium Ma Ji] Seekor kambing utuh yang baru masuk kemarin. – Menghadiahkannya ini, – Mau, tidak? apakah bisa menunjukkan ketulusanku? Tentu saja. Mau, dua ekor. Sayang sekali, tinggal satu ekor. Aku memberikannya padamu karena katamu mau dihadiahkan pada penyelamatmu. Baik, terima kasih Bos. Baik. Ya ampun, akhirnya dibalas. Aku kira

Dia memberiku akun palsu, karena tidak dibalas. Pesan yang dikirim tiga hari lalu, baru dibalas hari ini. Siapa? Kapten Qin. Hari itu saat makan, aku minta nomor ponselnya. Bos, lebih cepat, ya. Mereka satu tim hari ini makan di pesta perpisahan. Semuanya ada di sekitar sini. Ayo, kita ke sana. Itu pesta internal mereka.

Untuk apa kita ke sana? Kamu kira aku begitu tidak peka? Kapten Lu yang memintamu ke sana, mau bertemu denganmu. Aku begini demi membalas budi Kapten Lu, harus menyelesaikan tugas. Sekalian, mengantar hadiah. Dia sendiri yang memintaku ke sana? Tidak mungkin. Lihatlah. Kapten Lu ingin bertemu Nona Gui Xiao. Tolong bantu kami undang dia kemari.

Aku traktir dia makan. Tidak usah pergi, sungguh. Halo. Bibi Gui Xiao. Ayahku dan Paman Lu minum terlalu banyak. Cepatlah kemari. Semuanya sudah pergi. Aku sendirian tidak bisa mengurus mereka. Begitu banyak orang, tidak mungkin benar-benar meninggalkan mereka di sana. Saat Bibi seusiamu, sudah tidak berbohong seperti ini lagi. Datang? Coba yang aku ajarkan tadi.

Bibi Gui Xiao. Apakah kamu cinta pertama Paman Lu? Paman Lu mabuk. Kasihan sekali. Matanya sampai memerah. Dia sedang menceritakan masa lalu kalian kepada ayahku. Kamu… Kamu jaga mereka. Sudah selarut ini, aku tidak akan ke sana. Langit belum gelap. Gui Xiao. Minta alamat padanya. Kamu benar-benar anak yang cerdik. Bagaimana kamu berhasil membujuknya?

Hasil pemikiran bersama. Bibi Cai, selanjutnya serahkan padamu, ya. Serahkan padaku. Bisa menyambung jalinan jodoh untuk penyelamat, aku bersedia dengan senang hati. Cepat kirimkan alamatnya, cepat. Bos, cepat, aku buru-buru. Baik. Mari, pindai di sini. Sudah terkirim. Baik. ♫Aku ingin sekali kembali ke kampung halaman♫ ♫Kembali lagi ke sisinya♫ ♫Melihat kelembutan dan kebaikannya♫

♫Untuk menghibur lara hatiku♫ ♫Biarkan aku kembali ke kampung halaman♫ Halo. Halo. Cari Kapten Lu? Cepat masuk. ♫Untuk menghibur lara hatiku♫ Mari, silakan masuk. ♫Tahun itu kamu pergi dari kampung halaman♫ ♫Kamu mengira di sana ada♫ Jangan nyanyi lagi. Kapten Lu ada di dalam. Kamu masuk ke dalam saja. Aku kemari, bukankah untuk bertemu dengannya?

Beri mereka sedikit ruang. Benar. ♫Bisakah kamu mendengarnya?♫ ♫Selama bertahun-tahun♫ ♫Harapan dari jiwa terdalamku♫ ♫Hati yang murni♫ ♫Luka yang sembuh♫ ♫Hati yang menantikanmu mengatasi rasa takut♫ ♫Berbalik dan berpapasan♫ ♫Di dunia ini hanya tersisa aku seorang♫ ♫Menunggu pengaturan takdir♫ ♫Mendengarkan langkah kaki yang mendekat♫ ♫Dalam sekejap tidak hati-hati♫ Lu Chen. ♫Seluruh hati telah kehilangan jiwa♫

♫Menerima dorongan takdir♫ ♫Memeluk cinta yang luar biasa♫ ♫Bisakah kamu mendengarnya?♫ Untuk apa datang menemuiku lagi? ♫Selama bertahun-tahun♫ ♫Harapan dari jiwa terdalamku♫ Sebenarnya apa maumu? ♫Hati yang murni♫ Kamu tidak memanggilku, aku juga tidak akan kemari. ♫Luka yang sembuh♫ Aku memanggilmu? ♫Hati yang menantikanmu mengatasi rasa takut♫ Gao Hai! Ada apa, Kapten Lu? Sini.

Lebih dekat denganku. Kapten Lu. Minta maaf. Itu… Maaf, Nona Gui Xiao. Tadi… tadi aku yang meniru suara Kapten Lu. Aku ini selalu suka meniru suara orang. Aku bercanda denganmu. Demi tugas, anak ini belajar meniru suara selama bertahun-tahun. Tiruannya memang agak mirip. Mana boleh bercanda seperti ini? Gui Xiao, maaf. Tidak apa-apa. Tiruanmu

Lumayan mirip. Nona Gui Xiao. Aku mewakili kampung halaman keduaku, Qining, mewakili tim kami, menyambut kedatanganmu. Kamu pasti akan menyukai Qining. Seperti menyukai kampung halamanmu sendiri. Ini adalah tempat favorit Kapten Lu. Oh, ya. Daging kambing di sini sangat enak. Sekarang Kapten Lu juga sudah santai. Kapten Lu, kamu tidak boleh lupa

Membawa dia pergi makan. Itu, kalian mengobrol saja. Aku tidak mengganggu lagi. Mereka sudah terbiasa iseng, tidak tahu batas. Duduklah. Bukankah kamu seharusnya minta maaf dulu? Kapten Lu. Maaf. Tadi sikapku tidak baik. Tadi di telepon bilang, kamu mabuk, siapa pun tidak bisa mengangkatmu, kamu bahkan berbicara sembarangan, menceritakan masa lalu kita.

Aku juga mendengar kamu memanggil namaku. Takut terjadi sesuatu makanya aku kemari. Karena ini salah paham, aku pergi dulu. Duduk sebentar. Nanti kuantar kamu pulang. Aku sudah beberapa hari di sini. Tidak perlu antar. Lagi pula, tidak akan ada lain kali. Lu Chen, jika kamu berani menutup teleponku, maka tidak akan ada lain kali.

Seumur hidup ini, kamu juga jangan berharap bisa menemuiku lagi. Cepat sekali? Padahal baru masuk belum 10 menit. Sakit kepala. Tidak enak badan. Aku antar kalian. Berdasarkan pertemananku dengannya selama bertahun-tahun, kali ini dia benar-benar marah. Tidak usah panik. Aku akan membujuknya nanti. Maaf merepotkanmu, ya. Kamu yang mengemudi? Sampai jumpa lagi, Kapten Qin.

Sampai jumpa. Ayo kita pergi. Aku bukan membela Kapten Lu. Kamu mungkin tidak tahu satu hal. Tadi Qin Mingyu bilang padaku. Minggu lalu, kapten lama mereka meninggal. Dia bilang Kapten Lu dipromosikan oleh beliau, dan bahkan meninggal di hadapannya. Dia mengundurkan diri karena merasa bersalah. Lu, cari alasan untuk membujuknya. Paman Lu. Tidak dingin?

Ada urusan apa lagi, Kapten Lu? Bantu aku. Cai. Kapten Lu. Anda katakan saja. Benar-benar harus bantu aku. Aku ingin membiarkan anak tadi sekolah di Beijing. Bisakah membantuku mencari sekolah yang lebih baik? Pergi ke Beijing? Dengan membawa anak itu? Gui Xiao. Pindah sekolah biasa, tidak perlu meminta orang untuk mengurusnya.

Waktu kamu berada di Beijing lebih lama dariku, tahu lebih banyak dariku. Bantu aku. Gui Xiao. Anggap saja membantuku. Aku yang akan membalas kebaikanmu. Sekarang juga bukan masa kecil lagi. Boleh merajuk. Dia sudah minta maaf. Tidak ada artinya jika terus marah. Lusa aku kembali ke Beijing. Tapi masalah ini tidak sesederhana yang kamu pikirkan.

Harus dibicarakan secara detail. Kamu segera bawa anak ke Beijing. Lebih baik diurus saat liburan musim dingin. Jangan menunda waktu masuk sekolahnya. Bicarakan sekarang saja. Sekarang? Sekarang saja. Kalian sudah membantu begitu banyak. Aku sebagai ayah, bukankah harus menunjukkan rasa terima kasih? Masuk dan makanlah dulu. Malam ini tidak membiarkan Kapten Lu minum bir lagi.

Suruh dia antar kalian. Benar. Aku sudah datang, tapi masih belum makan. Kapten Qin, apakah ada makanan di dalam? Semuanya ada. Pesan apa saja, aku yang traktir. Tidak perlu traktir. Gui Xiao. Aku benar-benar tidak tahu kamu dipanggil kemari. Sudahlah. Kamu bukannya tidak tahu, aku paling tidak tahan dengan permintaan maaf.

Kalau kamu meminta maaf, aku tidak akan marah lagi. Maaf. ♫Pergi dengan terburu-buru♫ ♫Diiringi lagu♫ ♫Mabuk di tengah angin♫ Ayo duduk. ♫Ke Timur dan Barat♫ Sudahlah, jangan nyanyi lagi. Dengarkan lagu dengan tenang dulu. ♫Tidak perlu bicara♫ Kalian mengobrol dulu. ♫Tidak perlu mengerti♫ Ini urusan putramu, apa yang mau kami berdua bicarakan?

♫Mimpi melintasi ribuan mil♫ Aku pergi mencari makanan. ♫Musim semi, panas, gugur, dan dingin♫ ♫Melihat ke belakang♫ Ceritakan padaku detailnya. ♫Itu sudah cukup♫ Aku katakan dulu sebelumnya. Gui Xiao. ♫Pada saat bunga gugur♫ Meskipun hal ini tidak berhasil, aku juga berterima kasih padamu. ♫Bertemu kembali♫ Jangan berbasa-basi lagi. Katakan langsung ke intinya. ♫Pergi dengan terburu-buru♫

Begini. Aku sudah bercerai. ♫Diiringi lagu♫ Membesarkan Xiaonan sendirian. Aku biasanya ada terlalu banyak urusan di tim. ♫Mabuk di tengah angin♫ Xiaonan bersekolah temporer sendirian, juga tidak ada yang menjaganya. Kasihan juga. ♫Ke Timur dan Barat♫ Kartu keluargaku awalnya di Beijing. ♫Kabut tebal♫ Karena pekerjaan dipindahkan kembali. Saat Xiaonan dilahirkan, ♫Jangan lupakan niat awal♫

Dia mengikuti kartu keluarga ibunya. ♫Mengirim surat di tengah awan♫ Keadaannya seperti ini. Aku bisa memindahkan kembali ♫Menantikan balasan♫ kartu keluarga kami. Tapi aku ingin membiarkan anak itu sekolah beberapa tahun di Beijing. ♫Tahun-tahun bergejolak♫ Setelah dia SMP, baru membiarkannya tinggal di sekolah. ♫Manusia di dua sisi♫ ♫Masa lalu sulit memuaskan♫ Dia terlalu kecil.

Aku sebagai orang luar saja, ♫Mimpi lama bagaikan asap♫ tidak tenang mendengarnya, apalagi kamu sebagai ayah kandungnya. ♫Menghela napas saat senggang♫ ♫Suara kenangan tidak pernah pergi jauh♫ Tahun lalu aku pernah membantu kerabat Yaya ♫Seharusnya daun berguguran dan embun membeku♫ mengurusnya sekali. ♫Semoga melihat surat seperti bertemu langsung♫ Situasinya sangat mirip.

Sebenarnya pindah sekolah adalah prosedur normal. ♫Masa lalu tidak pernah terhenti♫ Siapa pun yang mengurusnya sama saja. Tapi sekarang kamu ♫Membuat kapal layar dengan tinta♫ memindahkan kartu keluarga dan mengurus prosedur, ♫Membolak-balik di antara jari-jari♫ mungkin akan lebih merepotkan, waktunya lebih lama. ♫Sejauh apa pun ujung dunia♫ Jadi, aku sarankan mencari sekolah swasta

♫Meskipun sulit bertemu♫ untuk transisi satu semester dulu. ♫Kerinduan dapat menandingi perjalanan yang jauh♫ Setelah kartu keluarga selesai diurus, baru dipindahkan ke sekolah negeri. ♫Seperti baru kemarin♫ Baik. Sekarang kamu belum bisa kembali, ‘kan? ♫Di mana bulan purnama?♫ Kamu berencana bagaimana mencarikan sekolah untuknya? Akan kuselesaikan. Begini saja, aku bantu kalian merekomendasikan sekolah.

Aku punya teman, anak-anaknya sedang bersekolah, juga lebih mengenal sekolah. Untuk prosedur pindah sekolah, ♫Pergi dengan terburu-buru♫ aku juga akan membantu kalian. Bagaimanapun juga aku pernah mengurusnya, aku tahu prosedurnya. ♫Diiringi lagu♫ Terima kasih banyak. ♫Saling berhadapan tanpa berkata-kata♫ ♫Tapi perasaan sama♫ Kapan kamu kembali ke Beijing? ♫Diselimuti kabut tebal♫ Pekerjaanku di sini

Masih belum selesai. ♫Jangan bertanya tentang perasaan♫ ♫Mengungkapkan kesedihan♫ Kalian mengobrol dulu. Kamu dan kakak ipar… ♫Di tengah bulan♫ ♫Tahun-tahun bergejolak♫ Kamu dan mantan kakak ipar bicara dulu, ya. ♫Manusia di dua sisi♫ ♫Masa lalu sulit memuaskan♫ ♫Mimpi lama bagaikan asap♫ ♫Menghela napas saat senggang♫ ♫Suara kenangan tidak pernah pergi jauh♫

♫Seharusnya daun berguguran dan embun membeku♫ ♫Semoga melihat surat seperti bertemu langsung♫ ♫Masa lalu tidak pernah terhenti♫ ♫Membuat kapal layar dengan tinta♫ Kamu makan dendeng sapi dulu. ♫Membolak-balik di antara jari-jari♫ Aku tuangkan air untukmu. Lu Chen. ♫Sejauh apa pun ujung dunia♫ Aku tidak haus. ♫Meskipun sulit bertemu♫ ♫Kerinduan dapat menandingi perjalanan yang jauh♫

♫Seperti baru kemarin♫ ♫Di mana bulan purnama?♫ Suasananya bagus. Kalian berdua ingin aku membujuknya sepulang nanti? Mereka berdua benar-benar cinta pertama? Kurang lebih begitu. Kapten Lu yang memberitahumu? Putraku yang menebaknya. Saat dia baru datang ke Qining, dia tinggal di tempat Lu Yanchen. Di dalam laci Kapten Lu, ada sebuah sketsa. Sketsa Guixiao?

Dia bahkan tidak memberitahuku. Dua hari yang lalu, dia tidak sengaja membocorkannya. Tapi kemampuan mensketsa Kapten Lu benar-benar yang paling hebat. Tidak jauh berbeda dari foto. Di dalam banyak temanku yang mabuk. Aku harus menjaga mereka. Tidak perlu diantar olehmu. ♫Aku bisa melepaskan segalanya♫ ♫Tidak disangka hari ini sulit berlalu♫ Kapten Lu. ♫Kamu tidaklah cantik♫

♫Tapi kamu sangat manis♫ ♫Oh, Cinderella♫ ♫Cinderella-ku♫ ♫Aku selalu menyakiti hatimu♫ ♫Aku selalu begitu kejam♫ Kamu tidak minum bir, kenapa tidak mengantar mereka? ♫Sudah kubilang jangan menganggapnya serius♫ Bukankah masih ada mereka? Apakah hubungan cintamu dengan ♫Karena aku tidak berani percaya♫ mantan kakak ipar sangat mendalam? Aku belum pernah melihatmu seperti ini. ♫Kamu begitu cantik♫

Apakah kamu pernah melihatku mabuk? Aku belum pernah melihatnya. ♫Selain itu, kamu sangat manis♫ Tapi kamu benar-benar tahu batasan dalam bertindak. ♫Oh, Cinderella♫ ♫Cinderella-ku♫ Saat baru datang, kamu masih belum ada. Aku yang kelaparan menelan empedu ular, minum darah kambing, menanggung beban 40 kg, menembus hutan dan pegunungan, ♫Mungkin kamu tidak pernah♫

Tanpa terjatuh sekali pun. ♫Berpikir kalau aku akan merasa kasihan♫ Tapi setelah minum miras, ♫Jika ini mimpi♫ aku akan teringat padanya. ♫Aku bersedia mabuk selamanya♫ Di semak-semak yang tingginya setengah manusia, aku berkemah sendirian di sana. Setelah minum semalaman, langsung pingsan. ♫Aku pernah menahan diri♫ ♫Aku menunggu seperti ini♫ ♫Mungkin sedang menunggu kedatanganmu♫

♫Mungkin sedang menunggu kedatanganmu♫ Kepala Du. Kepala Du. Kakek Du. Ramai sekali. Aku kebetulan lewat, kalian lanjutkan saja. Lakukan apa yang harus dilakukan. Dengar-dengar Kapten Lu menyiapkan bir dan makanan enak. Istriku itu, tidak peduli dengan makan malamku lagi, suruh aku datang makan supaya dia tidak usah memasak lagi. Pemimpin tua, Anda salah.

Dia yang mentraktir bir. Aku yang masak. Begitu, ya. Kalau begitu, ada yang salah. Apa yang salah? Ini adalah tokoku. Aku bilang benar ya benar. Saudara sekalian jarang-jarang datang berkumpul, hanya masalah makanan. Anda cepat duduk. Aku masak beberapa hidangan baru lagi. Tidak perlu. Berikan sedikit kacang dan dua potong daging kambing saja.

Aku sendiri yang mau masak. Tunggu saja. Baik. Mingyu. Aku dengar kamu sedang mengurus pindah sekolah untuk anak. Aku baru saja membahasnya dengan mantan pacar Kapten Lu. Mantan kakak ipar baik, juga tidak mempermasalahkannya, langsung setuju untuk mengurusnya. Mantan pacar? Yang waktu kuliah itu? Atau yang setelah itu? Yang waktu kuliah.

Hanya pernah pacaran sekali, tidak ada orang lain. Apa kamu bisa mengurus sendiri? Jika tidak bisa, aku juga akan mencari orang. Aku menyadari kamu benar-benar serius terhadap urusan mereka. Tentu saja. Kita orang Timur Laut Tiongkok tahu balas budi. Ayo tidur, besok kamu masih harus berangkat. ♫Kamu pasti diam-diam menyimpan♫ ♫Banyak kesulitan♫ ♫Menunggu bertemu seseorang♫

♫Yang bisa mengerti kesulitan itu♫ ♫Di malam yang ada arak dan angin♫ ♫Separuh bulan♫ ♫Bulan♫ ♫Kamu pasti diam-diam menghapus♫ ♫Kenangan yang lama♫ ♫Mengetahui bahwa hidup baru ada cahaya♫ ♫Saat diam seperti teka-teki♫ ♫Di malam yang tidak diketahui siapa pun♫ Angin di sini sangat kencang. ♫Rasanya sejuk♫ ♫Sejuk♫ ♫Kamu pasti diam-diam pernah pergi♫ ♫Ke tempat terjauh♫

♫Membawa kembali oksigen hijau musim panas♫ ♫Dan juga daun kuning musim gugur♫ ♫Pada malam yang bermimpi mengejutkan di taman♫ [Rumah] ♫Sebuah lagu sedih tentang masa muda yang indah♫ Halo. Ibu, ini aku. Menelepon selarut ini, ayahmu pasti akan merasa tidak senang. Ada sesuatu yang ingin kudiskusikan dengan Anda. Katakanlah.

Aku baru bisa kembali ke Beijing saat tahun baru. Ada anak dari seorang teman yang mau tinggal di Beijing. Aku antar ke rumah. Anda bantu aku jaga beberapa hari. Seorang anak kecil? Kamu juga tahu temperamen ayahmu. Menurutku sebaiknya jangan. Selain itu, anak-anak sangat penting bagi sebuah keluarga biasa, seperti satu-satunya harapan.

Jangan asal menjaga anak orang lain. Jika terjadi sesuatu, sungguh sulit dikatakan. Ayahmu sudah bangun. Aku tutup dulu, tidak bicara denganmu lagi. Aku pintar, ‘kan? Aku menamaimu ZZZ, jadinya di daftar kontak terakhir. Tidak ada yang bisa menemukanmu. Orang tuaku juga tidak bisa melihatnya. Belum tidur? Kamu bantu Qin Xiaonan mengemasi barangnya.

Aku bawa dia kembali ke Beijing dulu. Lusa sore, penerbangan pukul 4.20. Nanti aku akan membelikannya tiket. Kamu jangan lupa membawanya ke bandara, sebelum jam 3. Jangan sampai ketinggalan pesawat. Gui Xiao. Tengah malam begini, kamu mandi tidak takut masuk angin? Aku tidak mandi. Awalnya ingin mencuci muka dengan air panas, tapi air ini

Tidak kunjung panas. Aku tutup dulu. Besok bereskan koper putramu. Lusa, Gui Xiao akan membawa Xiaonan terbang ke Beijing dulu. Dia mungkin takut, jika menunggu kita mengantar anak ke sana, akan terlambat. Cinta pertamamu ini sungguh baik. Aku sudah bertanya. Gui Xiao belum menikah. Tapi dia begitu bersemangat membantu masalah ini, tampaknya dia masih menyukaimu.

Cepat dapatkan dia. Aku bukan lagi bocah kecil yang berusia belasan tahun. Setelah mendapatkannya, apa yang bisa kuberikan?