WeTV Original Mozachiko EP01B | Rebecca Klopper, Junior Roberts

=Mozachiko Bagian B= (Lanjutan dari Bagian A) Begini. Kalau kata orang-orang zaman dulu dan orang-orang tua cinta tumbuh dari kebiasaan. Begini saja. Kita main gim. Kalau Moza kalah, Moza tidak akan mengganggu Chiko lagi. Gim apa? Gim pacaran. Chiko jadi pacarnya Moza. Tidak mau. Itu adalah kemauanmu. Chiko takut, ya? Takut jatuh cinta pada Moza?

Tidak akan. Dengarkan, teman-teman. pria-pria seperti Chiko paling anti kalau dikatakan… Pengecut! Benar, ‘kan? Kau… tarik lagi kata-katamu yang tadi. Aku bukan pengecut. Kalau bukan pengecut, terima tantangannya. Selama 365 hari jadi pacarnya Moza. Kalau Moza yang kalah, Moza janji akan hilang dari kehidupan Chiko. Setahun? Terlalu lama.

– Selama 300 hari? – Masih terlalu lama. – Selama 200 hari? – Selama 30 hari. – Selama 150 hari? 100? – Selama 60 hari. – Sepakat – Sepakat. Ingat, Chiko. Pria sejati itu tidak akan pernah ingkar janji. Moza akan menang. Aku yang akan menang. Kau suka bercanda. Mau disuap saja, tidak? Kemarilah, aku suap saja. Bagaimana? Enak, tidak? – Kenapa? – Enak sekali! Cicipilah. – Cicipi. – Yang lain. Kenapa hanya makan bakso? Tanganmu tidak pegal di sana? Moza takut. Maka dari itu, peluk saja. Kalau seperti ini nyaman. Kenapa tersenyum? Moza senang, apa tidak boleh senyum? Boleh saja.

Chiko juga senang kalau Moza senang. Kenapa melihatku? Suka. Benar-benar suka? Memangnya bohongan? Ini bukan bercanda. Baiklah. Astaga, Moza. Astaga! Lubang. Tapi tenang saja. Cinta Moza pada Chiko tidak akan pernah lubang. Omong-omong, Moza satu trik lagi untuk membuat Chiko jatuh cinta pada Moza besok. Tapi, jangan beri tahu siapa pun. Chiko! Sayang…

Tunggu. Kenapa aku ditinggal? Tunggu aku. Apa yang kau lakukan? Memangnya kenapa? Lagi pula, kita sudah pacaran. Jadi, boleh panggil “Sayang”. Atau kau tidak suka dipanggil “Sayang”, ya? Kita ganti saja. “Say”? Atau “Cinta”? Atau Kakak? – Apa-apaan? – Chiko. Tenagamu kuat juga. Fantastis. Minggir! Semuanya, ayo pergi. Ayo. Kau serius pacaran dengan Moza? Mungkin. Gila. Sekarang aku tahu bagaimana seleramu. Aku punya rencana, Kawan. Kemari. Apa itu? Aku bersumpah, wajahmu seperti penjahat di film-film. Selamat, Chiko. Kau sudah punya pacar baru. Tidak perlu dibahas. Ceritakan. Jadi begini, sebenarnya semua ini hanya permainan. Kalau dalam 100 hari,

Moza tidak membuatku jatuh cinta padanya, permainan selesai. Selesai. Dan sudah jelas, aku tidak akan jatuh cinta pada dia. Sejak kapan Chiko suka mempermainkan hati wanita? Kau tunggu di sini sebentar. Sayang. Ajakanku untuk bersama-sama nonton konser masih berlaku? Aku harus ikut tiket luar untuk mendapatkan itu. Aku belum izin pada Ibu dan Ayah.

Baiklah. Kalau begitu, nanti biar aku saja yang izin. Bagaimanapun juga, perusahaan ayahku mensponsori kampanye ayahmu. Bagaimana? Apa kau tidak lihat kami sedang mengobrol, Kawan? Lalu? Kau mengganggu. Memangnya kau siapanya Nancy? Bukannya kau sudah punya si… Siapa namanya? Itu juga tidak penting. Moza. Chiko Kau sadar, tidak? Justru kau yang menggangguku mendekati Nancy.

Lebih baik kau pergi dari sini. Apa? Pergi! Takut. Tapi bukan padamu. Aku takut pada… Aku takut kena rabies saja kalau digigit oleh dia. Chiko! Kamu kenapa? Baru ditinggal sebentar, sudah saling pegang dengan wanita lain. Bahkan di depan umum. Silakan lanjutkan pertengkaran manja kalian. Jangan lupa nanti malam. Nanti malam ada apa?

Moza ikut, ya? Tidak! Khusus yang diundang. Chiko sangat menyebalkan. Untung saja Moza sayang. Kalian berdua adalah pasangan serasi. Serius. Sudah seperti sendok dengan… Dengan garpu? Tentu saja bukan. Dengan tusuk gigi! Chiko. Sudah. Biar Moza saja yang mengurusnya. – Kau. – Ya? Moza tidak kenal siapa kau.

Tapi, Moza tidak suka kalau pacarnya Moza diejek seperti itu. Ini gara-gara kau. Chiko tidak mungkin suka pada gantungan kunci sepertimu. Gantungan kunci. Chiko bebas menyukai siapa pun. Mario. Kau sungguh tidak jera, ya? Kau tahu, tidak? Gelas kalau terus-menerus diisi air, akan menjadi tumpah. Kau! Apa maksudmu? Sudah. – Apa ini? – Astaga! Berhenti! Berhenti! Ada apa ini? Apa-apaan ini? Ada apa? Lepaskan. Sakit. Kau sudah membuatku malu, tahu? Memangnya apa yang Moza lakukan? Moza hanya membela Chiko. Aku tidak perlu kau bela! Mereka itu senang melihatmu ditindas. Kau hanya mempermalukan dirimu sendiri. Dan aku. Mengerti? Memangnya kenapa? Kalau sudah sayang,

Hal-hal seperti itu tidak menjadi masalah. Begini, Chiko. Kalau kita sudah sayang pada seseorang, kita pasti lebih mementingkan perasaan dia dibanding perasaan kita sendiri. Jadi Moza tidak masalah, entah Moza akan dimaki, ditindas, atau dikatai yang aneh-aneh. Tidak apa-apa kalau itu Moza. Kalau Chiko jangan. Tinggal 99 hari lagi. Ergo! Danang! Chiko! Moza! Biarkan saja. Kami sedang mengobrol dengan serius. Pria memang suka bertindak aneh. Aku tidak tahu. Kujawab kalau aku sudah punya pacar, ya? Nanti ke mi ayam-ku, ya? – Ditraktir, ya? – Ya. Berarti boleh tambah porsinya. Ada berita bagus, Kak. Aku sudah bisa bayangkan judulnya. “Perang dingin.” “Chiko lawan Mario.”

Kau pasang saja. Kau memang suka yang begitu. Foto Kak Draco memang keren. Tapi sayang, Kak. Berita heboh seperti ini yang jauh lebih keren. Dan yang pasti membuat mading kita jauh lebih ramai. Ya. Ini sudah. Ini, Kak. Ini mi-nya. Ini tehnya. Silakan. Kebetulan sekali ini, Moza sudah “ngelak”. (*Haus) – Haus. – Haus. Moza. Lebih baik kau segera meninggalkan Chiko. Dia tidak akan serius padamu. Zetta terlalu banyak berprasangka buruk. Chiko tidak seburuk itu. Aku serius, Moza. Coba kau pikirkan. Pria sepopuler dan sekeren Chiko sampai saat ini juga belum punya pacar. Punya. Moza. Moza. Bagaimana, ya? Begini. Tidak mudah menaklukkan Chiko. Karena hanya ada satu wanita yang ucapannya selalu dia dengarkan. Chiko! Lihat! Pak, ke kiri. Pak, ke sini. Tidak. Tidak, Pak. Kasihan, Pak. Parah sekali. Sudah. Jangan begini. Aku tidak melakukan apa-apa. Pak! Sini, Pak! Sudah diberi tahu kalau lampunya hijau.

– Belum hijau, masih lama. – Lampu hijaunya masih lama. Lihat dulu. Lalu? Ceritakan seperti apa Chiko. Jadi, dulu saat SD, Chiko sering dirundung oleh kakak kelas. Dan Nancy yang selalu membela. Sejak dulu, Nancy memang anak yang berani. Lalu? Lalu… Maka dari itu, sampai sekarang Chiko selalu menurut pada Nancy.

Berat kalau mau mengalahkan posisi Nancy. Tapi, kenapa Zetta bisa tahu? Tahu dari mana? Tidak banyak yang tahu kalau aku satu SD dengan mereka. Ya. Tapi, belum cukup untuk membuat Moza menjauhi Chiko. Karena begini. Moza yakin kalau Moza sudah pacaran dengan Chiko, Nancy akan mengerti bahwa Moza adalah pacarnya Chiko.

Dan mungkin saja kita menjadi teman. Mungkin saja Nancy mengajak Moza bergabung ke gerombolannya. Aku tidak paham dengan jalan pikiranmu, Moza. Mungkin karena Zetta belum pernah jatuh cinta. Memangnya aku sempat? Aku harus fokus mempertahankan peringkat satu demi beasiswa. Tapi, kalau Ergo? Dia berotot. Ergo? Lagi pula, saat kita mencari pacar, jangan hanya dari fisik. Tapi, otaknya juga harus pintar. Pak Broto pintar.

– Tidak yang setua itu, Moza. – Tidak, ya? Memang benar. Nancy lebih cantik. Tapi, Moza tidak akan menyerah. Lihat ini. Kau mau ke kelas? Aku pergi dulu. Tentu saja, dia berduit. Memang benar, dia yang terbaik. – Kalau kau? – Tapi, aku juga penggemarnya. Nancy. Sebenarnya Moza mau minta maaf soal kejadian di kantin kemarin. Kemarin? Ya. Bagaimanapun juga, Nancy adalah teman kecilnya Chiko. Jadi, perbuatan Moza kemarin sangat tidak layak.

Kau mengerti, ‘kan? Lalu, kau mau apa? Ya… Bagaimana mengatakannya, ya? Sebenarnya, Nancy adalah teman yang dekat dengan Chiko. Moza hanya penasaran Chiko suka apa? Aku hafal kalau itu. Benarkah? Lalu? Apa untungnya aku memberitahumu? Tunggu. Ini. Maaf, aku sedang diet. Sedang diet? Jangan sedih. Ini jus yang sehat. Bagus untuk diet. Enny dan Prita?

Enny dan Prita tentu juga ada. Jangan-jangan, di dalam tasmu ada mi ayam juga. Mi ayam? Tentu saja. Pasti sudah siap sedia. Ini mi ayam paling enak. Ini buat Enny, buat Prita, satu lagi buat Nancy. Baiklah. Ternyata kau serius mau tahu tentang Chiko. Jadi, begini. – Kau tidak mencatat? – Benar. Sudah, ya? Belum, satu lagi. Chiko sangat suka kue cup. Kue cup? Moza juga sangat menyukai kue cup. Jangan-jangan jodoh. Chiko suka cupcake. Terima kasih, teman-teman. Moza pergi dulu. Kau kesurupan apa sehingga jadi baik pada dia? Entah. Nancy, kau baik-baik saja? Tidak apa-apa. Kalau jodoh tidak akan ke mana-mana. Ini punyamu.

Aku tidak mau, untukmu saja. – Ini. – Aku juga. – Ayo. – Bagaimana ini? Sampai jumpa. Kau senang sekali. Ada apa? – Zetta mau tahu, tidak? – Apa? Moza membawakan sesuatu untuk kesayangannya Moza. Chiko! Chiko, astaga. Kenapa bisa begini? Nakal. Coba kulihat. Ditiup dulu. Hilang jauh-jauh sakitnya. Datang sembuhnya. Chiko. Moza bawa kejutan. Apa-apaan? Kau selalu berkata begitu. Tidak. Kali ini sungguhan. Moza bawa kejutan yang dibuat sendiri dari hati. Kemarilah. Moza bawakan untuk kalian juga. Ini Moza buat yang spesial. Moza sendiri yang membuatnya. Ini.

Ambil. Ini, ambil yang ini, yang ini, yang ini. – Terserah. – Ini saja. Kau gila. Terima kasih, Moza. – Chiko juga ambil. Ini spesial. – Asyik. Ini enak.. Bilang enak saja, padahal belum dicoba. – Kau yang membuatnya, ‘kan? – Ya. Kenapa dibuang, Chiko? Moza belajar resepnya dari internet. Sudah bergadang, buat dengan susah.

Itu enak, coba sedikit saja. Aku mohon. Sedikit saja. Aku coba. Kalau tidak enak, aku buang. Baiklah. Tidak mungkin tidak enak. Moza yang membuatnya. – Sudah, makan saja. – Ya, tidak perlu dipaksa. Baiklah. Chiko, jangan dimakan! Chiko! Kenapa begitu? Enak, ‘kan? Ini kacang, bukan? Ya, kacang. Chiko alergi kacang.

– Kau ini bagaimana? – Chiko alergi kacang, Moza. Chiko, kau tidak apa-apa? – Chiko. – Moza tidak tahu. Chiko… Chiko kenapa? Lalu, bagaimana?