Lu Wanwan sebagai Asisten Han Kyungmo | Double Love【INDO SUB】EP2 | iQIYI Indonesia
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [Double Love] [Episode 2] Kau bicaralah. Jika masih tidak bicara, aku benaran akan menyirammu. Sudahlah. Jangan membersihkannya di sini. Pergilah ke ruang istirahat. Baik. Ayo, cepat pergi! Jangan merekam lagi. Halo. Wanwan, kau di mana? Hari ini ada tes ulang, jangan-jangan kau lupa? Kuberi tahu padamu.
Jika masih tidak datang juga, maka kau benaran gawat. Aku sudah gawat sekarang. Kau kenapa? Aku disiram sampai basah kuyup, seharusnya sudah tidak bisa menghadiri audisi. Ada apa denganmu? Berikutnya, Su Ye. Aku datang. Aku tidak berbicara denganmu lagi. Sudah tiba giliranku sekarang. Nanti, aku akan meneleponmu lagi. [Aku datang.] Halo, Jingmo!
[Wawancara Eksklusif Han Jingmo] [Akting, ketampanan] [Di depan layar, di balik layar] Kabarnya, kau sangat menderita di drama sebelumnya, bahkan terlebih dahulu ke daerah pegunungan untuk mencari pengalaman hidup? Demi menghasilkan peran yang baik, bagaimana mungkin disebut menderita? Drama ini merupakan usaha dari banyak orang juga. Semoga usahaku bisa membuat para kreator utama merasa layak.
Juga, berharap semuanya dapat mengakui aktingku. Kabarnya, targetmu tahun ini adalah ingin mencapai penghargaan akting nasional. Benarkah itu? Targetku adalah menjadi seorang aktor yang benar-benar bagus agar tidak mengecewakan rasa suka semuanya kepadaku. Mengenai mendapatkan penghargaan, biarkan saja ia berjalan secara alami. Benar. Namun, ini bukanlah akhir dari perjuangan. Han Jingmo, ini masih belum berakhir.
[Si Kaki Reumatik] [Tolak][Jawab] Han Jingmo, kuadukan pada bosmu. Halo. Kakakku. Pak Lu, aku pergi dahulu. Ini adalah manajer Han Jingmo? Orang ini memang berbeda, auranya sungguh bagus. Nona Lu. Pak Lu ada di dalam. Kak. Ada apa ini? Kau yang menyiram air ini? Opini publik muncul lagi? Bukan hanya yang terlihat olehmu.
Sekarang, ada begitu banyak orang yang menganalisis penyebab masalah ini di berbagai media daring independen. Para warganet ini sungguh kurang kerjaan, bukan aku tidak sengaja menyiramnya. Apa? Menurutmu, adikmu ini orang seperti itu? Jika dia tidak menyiramku, untuk apa aku menyiramnya tanpa alasan? Dia yang menyiramku dahulu, makanya dia kusiram juga.
Para warganet ini sungguh pilih kasih. Kenapa dia menyirammu? Aku hanya meminta tanda tangannya, bagaimana aku tahu? Jika mau tanda tangan, kau bisa memintanya padaku. Aku bisa memberimu sekardus. Aku ingin mengandalkan diriku sendiri. Beraninya dia menyirammu dengan air. Bagaimana kau menegakkan keadilan dalam hal ini? Divakum untuk sementara?
Jangan berharap, dia bisa mendapatkan peran selama setengah tahun. Begitu beratkah hukumannya? Setengah tahun masih tidak cukup? Kalau begitu, setahun saja. Menurutku, anak ini memang sedikit angkuh belakangan ini. Kak. Tidak perlu sampai begitu. Hukuman vakum ini terlalu berat. Bagaimana kalau dia menyiramku karena kesalahpahaman? Benar, tidak? Kita tidak boleh begini. Jangan membalaskan dendam pribadi
Dengan menyerang kariernya. Boleh, tidak? Kau ini… Kebiasaanmu melihat orang hanya dari tampang ini, benar-benar sudah tidak tertolong. Bagaimanapun, aku sudah mengidolakannya selama lima tahun, karena itulah tetap ada sedikit perasaan terhadapnya. Pergilah! Bagaimanapun kau memohon padaku, tetap tidak ada gunanya. Kumohon padamu. Cukup mirip. Sekarang, begitu berkeramas akan teringat saat aku disiram.
Ini sudah menjadi bayangan psikologis. Han Jingmo. Jangan mengira kau tampan, lalu bisa berbuat sesuka hati. Aku mau berhenti mengidolakannya. Jangan bergerak sembarangan. Halo! Song Chi. Aku menangkap seekor kucing, bantulah aku membawanya ke toko hewan. [Bukankah kau tidak menyukai kucing?] Bukan tidak suka. Aku alergi pada bulu kucing.
[Namun, Bos. Aku sudah cuti hari ini.] [Aku sudah di bandara sekarang.] Baiklah, kalau begitu. Kupikirkan caranya sendiri. [Bagaimana cara memelihara kucing terlantar?] Sepanjang malam dipenuhi dengan kejadian siraman air. Benar-benar dosa. [Dunia] [Obrolan rahasia] [Aliran] Apakah ada gadis yang menyingkirkan Dewa lagi? Dewa Mo Bai, aku menyukaimu.
Aku tidak tahu, kau akan menerimaku atau tidak, tetapi aku ingin kau tahu bahwa ada seseorang yang diam-diam menyukaimu. Kau bagaikan kehangatan yang memancar dari belakang dan menyinari hatiku yang sudah lama kesepian. Sungguh berani. Tuan Muda. Aku sudah memperkirakan, orang ini akan berakhir tragis. Menurutku, pernyataan cintanya cukup tulus. Menghidupkan lilin untuk Pria Mesum.
Semoga Pria Mesum beruntung. Dewa memang bagaikan kehangatan yang memancar dari belakang dan memberi harapan kepada orang-orang. Terima kasih. Mana gosipnya? Begini saja? Belum puas. Mo Bai. Kau sungguh tidak berperasaan. Benar. Sungguh tidak berperasaan. Dari Pria Mesum. Apakah Dewa bersedia [Trompet] menerima perasaan hatiku? [Terima kasih, aku…] Dari Di Antara Mo Bai.
Terima kasih. Sudah ada orang yang kusukai. [Ada apa ini? Ada apa dengan Dewa?] [Ada apa ini? Ada apa dengan Dewa?] [Apa yang sudah kulewatkan sebenarnya?] [Ada apa ini? Ada apa dengan Dewa?] [Apa yang sudah kulewatkan sebenarnya?] [Apa maksudnya? Sungguhankah?] Menegangkan. Menegangkan sekali. [Apa? Sudah ada orang yang disukai Dewa?]
[Apa yang sudah kulewatkan sebenarnya?] [Apa maksudnya? Sungguhankah?] [Apa? Ternyata ada yang disukai Dewa?] [Apa maksudnya? Sungguhankah?] [Apa? Ternyata ada yang disukai Dewa?] [Orang yang disukai Dewa itu seperti apa?] [Orang yang disukai Dewa itu seperti apa?] [Orang yang disukai Dewa itu seperti apa?] [Ada apa ini? Ada apa dengan Dewa?] [Apa maksudnya? Sungguhankah?]
[Ada apa ini? Ada apa dengan Dewa?] [Apa maksudnya? Sungguhankah?] [Jangan-jangan, Chu He yang bermain Dongeng bersama sebelumnya.] [Jangan-jangan, Chu He] [yang bermain Dongeng bersama sebelumnya.] Pertama kalinya bergosip sampai mengenai diri sendiri. [Apa maksudnya? Sungguhankah?] [Jangan-jangan, Chu He yang bermain Dongeng bersama sebelumnya.] [Gosip ini sangat panas.]
[Jangan-jangan, Chu He yang bermain Dongeng bersama sebelumnya.] [Gosip ini sangat panas.] [Menikmati kemesraan.] [Tidak mungkin.] [Hanya bermain Dongeng sekali.] [Gosip ini sangat panas.] [Menikmati kemesraan.] [Namun, dahulu, Dewa tidak pernah bermain Dongeng dengan wanita.] [Namun, dahulu,] [Menikmati kemesraan.] [Namun, dahulu, Dewa tidak pernah bermain Dongeng dengan wanita.] [Ini adalah berita besar.]
[tidak pernah bermain Dongeng bersama wanita.] [Namun, dahulu, Dewa tidak pernah bermain Dongeng bersama wanita.] [Ini adalah berita besar.] [Apa? Ternyata ada yang disukai Dewa?] [Mereka berdua pernah berpelukan erat juga.] [Ini adalah berita besar.] [Apa? Ternyata ada yang disukai Dewa?] [Orang yang disukai Dewa itu seperti apa?] [Apa? Ternyata ada yang disukai Dewa?]
[Orang yang disukai Dewa itu seperti apa?] [Itu hanya bertabrakan saja.] [Itu hanya karena bertabrakan saja.] [Orang yang disukai Dewa itu seperti apa?] [Itu hanya karena bertabrakan saja.] [Sebenarnya, apa yang telah kulewatkan?] Orangnya hanya duduk di rumah, tetapi sudah ditindas habis-habisan. [Terakhir] [Kontak] [Obrolan grup] [Dewa,] [kau jangan melihat Saluran Dunia.]
Sudah ditutup sejak awal, ada apa? Semuanya mendiskusikan apakah orang yang kau sukai adalah Kak Chu He. Biarkan aku tertawa sebentar lagi. Orangnya hanya duduk di rumah, tetapi sudah ditindas habis-habisan. Maaf. Tidak apa. Bisa berkorban untuk Dewa adalah sebuah kehormatan untukku. Baguslah jika sadar diri. Kenapa aku merasakan atmosfer yang aneh?
Kau jangan berpikir sembarangan. Aku dan Dewa adalah teman seperjuangan tanpa maksud apa pun. Ya, dipaksa menjadi teman karena ditabrak. Kau terlalu pendendam. Aku tidak bicara lagi, mau keluar dahulu. Aku masih ada urusan besok. Sampai jumpa. Bekerja keras tanpa kenal waktu hanya karena konten majalah? Untuk apa kau bangun pagi sekali di akhir pekan?
Memperhatikan pekerjaanmu. Adik sudah lama punya masalah intelektual, Kakak tetap memperhatikan. Kenapa kata-katamu begitu tidak sopan? Siapa yang punya masalah intelektual? Kaulah itu. Bukan aku mau mengomelimu, bagaimana bisa punya masa depan dari pemotretan konten majalah? Mungkin saja tidak perlu menampilkan wajah dan hanya menampilkan bayangan, bahkan aku sebagai kakak kandungmu, juga tidak mengenali.
Kenapa pagi-pagi saja kata-katamu sudah begitu jahat, Lu si Hebat. Kenapa kata-katamu begitu kurang ajar? Aku dan Bos TCD lumayan akrab. Begini saja, aku akan mengatur pemotretanmu dan Gu Qiaobei untuk foto sampul. Lihatlah, ini bisa menjadi pembicaraan, juga banyak yang melihat, alangkah baiknya. Hentikan. Aku tidak ingin orang lain tahu kalau kau itu kakakku.
Kau mengira jika aku tidak bilang, tidak ada yang tahu? Banyak kalangan selebritas yang mengetahuinya. Jika kau sudah masuk ke Yingge nanti, makin banyak orang yang akan tahu. Aku tidak peduli, aku ingin menikmati beberapa hari yang tenang dahulu. Pergilah. Jangan biarkan aku melihatmu, cepatlah. Jika membahas foto sampul berdua,
Kenapa kau tidak membiarkanku berfoto bersama Han Jingmo? Aku tidak suka melihatnya. Hanya dalam hal ini saja, kita berdua itu sepakat. Hari ini adalah hari yang bersemangat lagi. Pergilah. [Siyah Beyaz Ask] Hanhan. Hanhan. [Han Jingmo, aku mencintaimu.] [Gu Qiaobei, semangat.] Kenapa menyiramku dengan air? Hanya karena cola milikku [Wawancara Eksklusif Han Jingmo] [Akting, ketampanan]
[Di depan layar, di belakang layar] tidak sengaja terjatuh, maka kau harus membalasku? [Kesempatan melarikan diri hampir tidak ada.] Kau kenapa? [Siyah Beyaz Ask] Aku menginginkan yang dipegangnya itu. Adik, kau adalah staf pemotretan amatir hari ini? Pemotretan kalian mungkin akan diundur satu jam, nanti Hanhan akan melakukan pemotretan terlebih dahulu. Staf kami sudah pergi
Untuk membeli sarapan, hanya tidak sempat kembali tepat waktu, jadi, ingin bertukar minuman denganmu. Apa kau bersedia? Aku membeli susu kedelai ini di pinggir jalan secara asalan saja. Ini tidak enak, sungguh tidak enak. Tidak apa, aku tidak keberatan. [Siyah Beyaz Ask] [Tidak ada kata terlambat untuk membalas dendam.] Jangan sungkan. Terima kasih. Terima kasih.
Kenapa kau harus berebut susu kedelai dengan seorang gadis tadi? Setelah direbut, kau juga tidak meminumnya. Setelah sekali, dua kali, tidak bisa sampai tiga kali. Aku tidak tenang jika dia membawa minuman. Maksudku, ada banyak peralatan dan kabel di seluruh studio ini. Jika dia berjalan-jalan sambil membawa minuman dan tumpah tanpa sengaja,
Bukankah kerja keras semuanya selama seharian akan sia-sia, benar? Ini, bawalah keluar dari studio. Kau tidak minum? Jika begitu, aku yang minum. Rupa gadis ini lumayan, kemampuan ekspresinya juga baik. Benarkah? Baik, sudah bisa. Terima kasih. Baik, selanjutnya. Orang selanjutnya. Kau minum saja punyaku dahulu, aku masih belum minum. Terima kasih, Bu. Terima kasih, Bu.
Tidak apa. Oh ya, kami sedang mencarikan asisten sementara untukmu. Sesegera mungkin. Menurutku, dia lumayan. Bagaimana jika memintanya menjadi asistenku? Apa kau mengenalnya? Tidak kenal, maka membutuhkan bantuanmu. Baik, aku akan mencari tahu. [Apakah menginginkan malam malam?] Lu Wanwan. Halo, aku Manajer Han Jingmo, Lin Wei. Halo, aku mengenalmu. Aku belum membeli makan malam.
Nona Lu, kau sangat humoris. Begini, Asisten Hanhan mendadak minta cuti panjang. Karena itu, aku yang mengatur kebutuhan sehari-harinya di lokasi syuting belakangan ini, tetapi urusanku di kantor juga sangat banyak dan aku tidak bisa datang untuk menjaganya di lokasi syuting setiap hari. Lalu? Aku melihat, sepertinya, Hanhan sangat menyukaimu hari ini. Menyukaiku?
Apakah Nona Lu Wanwan bersedia menjadi Asisten Han Jingmo untuk sementara waktu? Durasi kerjanya adalah selama dua bulan saat liburan musim dingin ini. Gajinya akan lebih tinggi 20% dari rekan di industri yang sama. [Apa aku, Lu Wanwan,] [akan begitu merendahkan diri?] [Melayani dan memijat Han Jingmo] [hanya demi uang?] [Tentu saja, tidak.]
Jika kau berniat untuk bekerja di bidang ini, lebih baik dimulai dari dasar. Hanhan adalah seorang selebritas yang sangat berbakat. Dengan menjadi asistennya, kau bisa mempelajari banyak hal dan mendapatkan sedikit pengalaman. [Tunggu sebentar. Jika menjadi asistennya, maka bisa berada di sisinya,] [jadi, aku tidak perlu menunggu lama untuk balas dendam.] Aku bersedia. Baik.
Tuliskan nomor teleponmu. Ini adalah alamat Hanhan. Mulai besok, kau resmi menjadi asistennya. Cepat sekali. Apakah tidak perlu ikut pelatihan? Tidak perlu. Dia tidak akan terlalu merepotkan orang lain. Selain itu, tangannya cedera. Belakangan ini, aku tidak mengatur kegiatan publisitas untuknya. Kira-kira seminggu lagi akan mulai normal untuk bekerja.
Ternyata memang cedera pada saat pertandingan basket. Kau bahkan menyadari hal ini? Cermat sekali. Sepertinya, aku bisa menitipkan dia padamu dengan tenang. Oh, ya. Besok, aku akan meminta seseorang membuatkan dua berkas kontrak. Jika kau merasa kontraknya tidak ada masalah, cukup ditandatangani saja. Baik. Terima kasih. Han Jingmo. Aku akan membalas perbuatan menyirammu berkali-kali lipat.
Nantikanlah dua bulan ke depan ini. Aku sudah pulang. Lu Wanwan, apakah otakmu bermasalah? Kau sudah tahu? Kau ini adikku, kenapa malah menjadi asisten Han Jingmo? Itu karena impulsif sesaat. Tidurku tidak nyenyak kemarin. Karena impulsif sesaat, aku menyetujuinya. Tidurmu tidak nyenyak? Cepat, batalkan dengan Lin Wei sekarang juga. Aku sudah menyetujuinya.
Kalau dibatalkan, kurang pantas, bukan? Apanya yang kurang pantas? Cepat, tolak saja dia. Cepatlah, sekarang! Kak. Menurutmu, apakah Lin Wei itu tahu kalau aku ini adikmu? Orang sepintar Lin Wei, bagaimana mungkin meminta orang asing yang tidak dikenal sama sekali untuk menjadi asisten Han Jingmo? Maksudmu, dia tahu kalau aku ini adikmu,
Tetapi tidak memberi tahu Han Jingmo? Jangan berpura-pura dungu. Cepatlah pergi menolaknya. Kau jangan lupa bagaimana orang bermarga Han itu memperlakukanmu sebelumnya. Kak, apakah adikmu ini orang yang begitu tidak berprinsip? Apa kau tidak pernah mendengarnya? Dendam itu harus dibalaskan sendiri, baru puas. Aku tidak pernah mendengar cara balas dendam yang begitu munafik.
Kau hebat sekali. Memangnya berapa umurmu sehingga bisa membuatmu mencemaskanku sebegitunya? Kau beristirahatlah sebentar. Lu Wanwan! Bersulang! Lu Wanwan, cepatlah tolak dia! Aku sedang berbicara denganmu! Halo, Kak Wei. Apakah Anda ada waktu besok sore? Mari bertemu di kafe untuk menandatangani kontraknya. Baik. Baik, akan kutunggu Anda mengirimkannya. Sampai jumpa. Han Jingmo. Dendam menyiram air,
Tidak akan kulepaskan. Chu He, jawablah jika kau mendengarnya. [Trompet] Cepatlah keluar! Chu He, cepatlah keluar! [Trompet] Chu He, apa kau berada di sini? Cepatlah keluar! Chu He, cepatlah keluar! Aku, Pendekar Pedang Dewa, mau menantangmu! [Trompet] Beraninya membuat adikku sedih karena kehilangan pujaan hatinya! Aku tidak akan membiarkan hal ini begitu saja.
Aku akan bertarung habis-habisan denganmu! [Trompet] [Apakah ini benaran dan bukan lelucon?] [Sejak kapan aku merebut pujaan hati orang lain?] [Pengingat pesan] [Pengajuan Membentuk Tim] [Setuju][Tolak] Akhirnya, kau masuk juga. Yakin kalau dia tidak salah memanggil orang? Tidak salah memanggil, memang kau. Yang dia katakan itu, siapa pujaan hati adiknya? Mo Bai. Dewa Mo Bai?
Dia… sejak kapan aku merebut Dewa Mo Bai? Adiknya menyukai Mo Bai. Kemarin beredar lagi rumor kalau kau adalah orang yang disukai Mo Bai. Jadi, adiknya merasa kalau kau merebut pujaan hatinya. [Trompet] Dari Pendekar Pedang Dewa. Chu He, keluarlah kalau kau bernyali! [Trompet] Kita akan berduel! Datang lagi? Kau tunggu saja, aku akan menghajarnya.
Aku terharu sekali… [Terakhir][Kontak][Obrolan Grup] [Aku sudah mengerti masalah ini.] [Ikutlah denganku.] Dewa, lagi-lagi, aku menjadi sasaran. Maaf. Kau tidak perlu meminta maaf. Lagi pula, ini bukan kesalahanmu. Bagaimana kalau aku menerima tantangan duel itu? Boleh saja menerimanya. Namun, dengan tingkatanmu yang sekarang, harus ada yang membimbingmu. Ada orang yang membimbingku?
Kalau begitu, aku sangat mengagumi taktik Tiga Pedang Taibai. Alangkah baiknya jika dia bisa membimbingku. Reputasinya itu kosong. Sudahlah. Terpaksa, aku saja yang membimbingmu dahulu. Kau membimbingku? Kau sendiri yang membimbingku, Dewa? Kalau begini, apakah tidak terlalu merepotkanmu? Yang penting, kau jangan merusak reputasiku. Tidak akan. Aku tidak mungkin berani. Baiklah, kalau begitu.
Kalau begitu, sampai jumpa di arena tiga hari lagi. Tunggu sebentar. Bukankah di tubuhmu ada banyak besi beku dan benang emas? Benar, bagaimana kau bisa tahu? Gunakan bahan-bahan ini dahulu untuk memurnikan perlengkapan senjatamu hingga tingkat tertinggi. Lalu, aku akan membimbingmu menyelesaikan beberapa dongeng dan misi. Kalau begitu, terima kasih, Dewa.
Nanti, kita akan menyelesaikan misi dunia. Kau yang melakukannya. Aku yang melakukannya? Dewa, apa kau sangat sibuk? Tanganku cedera. Sedikit kesulitan untuk melakukannya. Seharusnya, kau bisa melakukannya sendiri. Tanganmu cedera? Parah, tidak? Tidak parah. Kenapa tanganmu cedera tiba-tiba? Kau ingin tahu? Tidak. Aku hanya mengkhawatirkan Dewa. Tanganmu cedera, tetapi masih mau membimbingku menyelesaikan misi.
Aku sungguh terharu. Aku akan menghadiahkanmu bendera peringatan. Tidak perlu. Ke depannya, jangan menabrakku lagi. Apakah hal ini tercatat dalam dongengmu? Ayo! Tangan Dewa cedera juga. Tangan Han Jingmo, juga cedera. Waktunya juga sama. Tidak mungkin begitu kebetulan, bukan? Sungguh? Kau sungguh bersedia menerimaku sebagai murid? Aku tahu. Kau pasti merasa kalau aku itu berbakat,
Juga adalah bibit unggul, makanya kau bersedia mengajariku, benar? Kuberi tahu padamu. Dengan kemampuanku, kau hanya perlu mengajariku sebentar, lalu aku akan bisa mengalahkan Pendekar Pedang Dewa dengan mudah. Dari mana datangnya kepercayaan dirimu? Kau tidak akan bisa mengalahkannya. Bagaimana mungkin? Menurutku, aku bisa. Kau ini, kalahkan orang-orang dari misi ini dahulu. [Perampok gunung]
Sana, bertarunglah baik-baik. [Perampok gunung] [Perampok gunung] [Perampok gunung] [Perampok gunung] [Perampok gunung] [Aku melindungi Dewa.] [Hal ini bisa kubanggakan seumur hidup.] [Perampok gunung] [Perampok Gunung] Dewa, aku datang terlambat. Tidak. [Perampok Gunung] [Perampok Gunung] Dewa, inikah caramu mengajariku untuk berlatih? Bertarunglah dengan baik. Jangan bermalas-malasan. [Perampok Gunung] [Perampok Gunung] [Perampok Gunung]
Lihatlah, itu Dewa Mo Bai. Dewa dan Chu He sedang bertarung melawan monster? Itu monster tingkat rendah. Dewa pasti bisa memusnahkannya dengan satu gerakan. Jadi, Dewa sedang menemani Chu He berlatih. [Perampok Gunung] Dewa memang sangat pengertian. Kekuatan pacar sungguh dahsyat. [Perampok Gunung] Jangan berlari. Padahal jelas kalau aku itu Malaikat Penjaga Dewa.
Tidak melihat kalau aku yang sedang bertarung? Sudahlah. Demi melihat kemampuanmu memakai jurus kombo dasar, maka aku membiarkanmu bertarung. Kalau dilihat sekarang, lebih baik bertempur otomatis. Kau… Kenapa denganku? Halo, Kak Wei. Kau yang mengantar Hanhan ke lokasi syuting berikutnya besok. Baiklah. Drama perkotaan yang dia bintangi sebelumnya, sebenarnya semua sudah selesai.
Namun, ada beberapa adegan yang perlu dia ulangi. Kau, temanilah dia besok. Baiklah. Aku mengerti. Aku mengerti. Baiklah. Sampai jumpa. Aku baru menerima telepon. Dewa, aku harus keluar. Ada hal besar yang harus kulakukan besok. Aku harus menyimpan energiku. Sampai jumpa. Oh, iya. Kenapa tidak segera memberi tahu aku ada mode pertempuran otomatis?
Sarapan yang dibuat secara khusus, aku tergantung padamu. Selamat pagi. Apa ada sesuatu di badanku? Bukan. Kenapa dia datang kemari hari ini? Terkejut, tidak? Bisakah kau menghapus kata terakhir terlebih dahulu? Sangat bagus. Sangat cantik. Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa asisten tidak diizinkan masuk ke rumah seorang selebritas?
Aku ingin dia segera terbiasa dengan pekerjaan sebagai asisten. Jadi, aku memintanya bekerja hari ini. Kakak, seharusnya, kau juga katakan padaku lebih awal. Benar, tidak? Orang yang kau inginkan mau bekerja lebih awal, kau tidak merasa senang? Pasti cara bukanya yang salah. Kubuka sekali lagi. Halo, Pak Han. Masuklah.
Aku pergi mencuci muka dan menggosok gigi. Duduklah sesuka hati dahulu. Baiklah. Ada seekor kucing kecil. Tidak kusangka, kau memelihara kucing. Aku memungutnya. Namun, ada alergi. Ditambah lagi, aku jarang berada di rumah. Sama sekali tidak ada waktu untuk memeliharanya. Aku sudah menemukan orang. Kau akan ikut denganku ke tempat pengasuhan. Ayo!
Makanlah sarapan dahulu sebelum pergi. Meski bukan fannya lagi, tetapi mau tidak mau harus mengakui kalau perawakannya sangat cocok dengan semua baju. Hanya berpakaian sederhana, bisa membuatnya terlihat baik. Namun… Ayo! Cepatlah. Jepitlah. Kau sudah sarapan? Aku sudah sarapan. Sungguh? Sungguh, aku sudah sarapan. Cepatlah makan. Enak sekali. Terima kasih.
Tidak benar. Kata Bos, cabainya sungguh pedas. Aku sudah selesai makan. Kau tidak mau memakan sedikit lagi? Tidak mau. Terlalu berminyak. Aku harus mengontrol berat badan. Aku akan beres-beres dahulu, lalu bersiap untuk berangkat. Bakpao gorengnya sungguh enak. Jangan disia-siakan. Bakpao gorengnya sedikit asin. Aku haus. Gagal total. Han Jingmo,
Aku sungguh tidak tahu kalau kau pandai berakting. Aku tidak bisa menyetir. Kau yakin kalau kau datang untuk mengurusiku? Benar, selain menyetir. [Juara Pertama] Naiklah, aku yang menyetir. Duduklah di kursi pengemudi. Kau ada alergi. [Bank Rakyat Tiongkok] Tunggulah aku di mobil. Aku akan pergi mengurus proses pengasuhannya. Aku akan segera kembali. Tidak apa-apa.
Kenapa? Tidak rela untuk berpisah? Bukan. Aku khawatir kalau kau akan ceroboh. Jadi, mau mengawasimu. Seorang asisten lebih nyaman daripada selebritas. Aku menyetir dan kau tidur saja. Bukankah aku langsung bangun begitu tiba? Laplah air liurmu. Mana ada air liur? Ingatlah. Lokasi syuting dipenuhi orang-orang profesional. Ingatlah misimu sebagai seorang asisten.
Kalau tidak, jangan berpikir untuk bekerja di bidang ini. Baik. Sudah tiba. Ayo, berhati-hatilah! Berhati-hatilah. Pak Han sudah tiba. Ruang istirahat berada di bagian dalam. Ayo! Ayo! Carilah koordinator dan periksa publisitas selanjutnya. Baiklah. Tanyakan saja pada Wakil Sutradara. Adakah perubahan pemeran antagonis di syuting berikutnya atau tidak. Baiklah. Periksa pakaianku yang akan dipakai nanti.
Baiklah. Publisitasnya tidak berubah. Begitu juga dengan pemeran antagonisnya. Bisa datang ke lokasi syuting lebih awal. Bagaimana dengan dua pakaian hari ini? Aku juga sudah memastikannya. Lalu, aku juga sekalian mengonfirmasi riasan dan rambutmu. Aku mau memakan bubur. Baiklah. [Kru Film “Tahun Yang Terang”] [Ruang istirahat. Harap tenang] Nyaman, tidak? Maaf. Makanlah bubur dahulu. Ayo!
Tiba-tiba, aku tidak ingin memakannya lagi. Kubelikan khusus untukmu dengan susah payah. Baiklah, tidak usah dimakan kalau begitu. Makanlah sedikit buah saja. Buah? Kenapa memakan buah di cuaca sedingin ini? Minumlah sedikit air hangat. Akan kutuangkan air hangat untukmu. Kau ini seorang aktor, jadi, harus mengontrol asupan gula. Minumlah air hangat agar terhindar dari penyakit.
Ini. Aku panas. Kipas angin. Agar ada sedikit udara mengalir. Katanya, tidak akan merepotkan. Kalau mau mengundurkan diri sekarang, masih bisa? Begini boleh? Kau mau meniup wajahku hingga kaku? Pakailah kipas angin yang kecil. Kipas angin kecil? Kalau begitu, tunggulah. Tunggulah. Kak Dao. Kak Dao. Kak Dao. [Sudah tertidur, sangat baik.]
[Aku, Lu Wanwan, ada dendam yang ingin kubalas.]