Atlet Kulit Hitam Ini Selalu Diremehkan, Tapi Berhasil Mempermalukan Dunia di Olimpiade ๐Ÿ˜ฑ๐Ÿ”ฅ

Judul: Race (2016)

Sinopsis:

Bagaimana jika seorang atlet kulit hitam harus menghadapi diskriminasi demi membuktikan bahwa dirinya layak menjadi yang tercepat di dunia? Jesse Owens adalah pelari berbakat yang memiliki kemampuan luar biasa. Saat mengikuti sebuah kompetisi, dia berhasil melompat sejauh 8,06 meter dan memecahkan rekor lama. Namun, alih-alih mendapatkan penghargaan yang pantas, dia justru menghadapi diskriminasi. Dalam lomba lari cepat berikutnya, Jesse kembali menunjukkan kehebatannya dengan mencatatkan waktu 9,03 detik. Sayangnya, wasit sengaja mengubah catatan waktunya menjadi 9,04 detik karena tidak ingin seorang atlet kulit hitam memecahkan rekor dunia. Pelatihnya sangat marah dan ingin memprotes keputusan tersebut, tetapi Jesse memilih untuk tetap tenang karena yakin bahwa kemampuan sejati tidak akan bisa disembunyikan. Beberapa hari kemudian, Jesse menerima undangan untuk mengikuti Olimpiade Berlin. Namun, banyak orang menyarankan agar dia tidak pergi karena khawatir akan diskriminasi yang lebih parah di Jerman. Jesse sempat merasa takut dan memutuskan untuk membatalkan keikutsertaannya. Keputusan itu membuat pelatihnya sangat kecewa hingga hubungan mereka memburuk. Setelah merenungkan semuanya dan mengingat nasihat ibunya, Jesse akhirnya menyadari bahwa dia tidak boleh terus-menerus melarikan diri dari prasangka. Dia pun memutuskan untuk pergi ke Berlin. Saat hendak menaiki kapal, Jesse terkejut karena pelatihnya ternyata ikut datang. Bahkan, pria itu rela menghabiskan seluruh tabungannya demi mendukung perjalanan Jesse. Dukungan tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk membuktikan kemampuan di panggung dunia.

Setibanya di Berlin, Jesse mendapati situasi yang berbeda dari rumor yang selama ini didengarnya. Dia melihat para atlet diperlakukan secara setara. Ketika lomba lari 100 meter dimulai, Jesse langsung melesat meninggalkan para pesaingnya dan berhasil meraih medali emas Olimpiade pertamanya dengan catatan waktu 10,3 detik. Namun, tantangan berikutnya jauh lebih berat. Dalam kompetisi lompat jauh, Jesse harus menghadapi Luz Long, atlet Eropa yang menjadi salah satu pesaing terkuatnya. Sayangnya, Jesse melakukan pelanggaran pada dua lompatan pertamanya sehingga hanya memiliki satu kesempatan tersisa. Di saat genting itu, Luz justru menghampirinya dan menggunakan handuk untuk membantu Jesse menentukan posisi tumpuan yang tepat. Sikap tersebut membuat Jesse terharu karena untuk pertama kalinya, dia merasakan penghormatan tulus dari seorang lawan tanpa memandang warna kulit. Ketika babak final dimulai, Luz berhasil melompat sejauh 7,54 meter. Namun, Jesse membalasnya dengan lompatan sejauh 7,74 meter. Pada kesempatan berikutnya, Luz mencatatkan jarak 7,87 meter, tetapi Jesse kembali unggul dengan lompatan sejauh 7,94 meter sekaligus memecahkan rekor. Seluruh stadion pun bergemuruh menyaksikan persaingan mereka. Pada lompatan terakhir, Luz melakukan kesalahan yang memastikan gelar juara menjadi milik Jesse. Meski kemenangan sudah berada di tangannya, Jesse tetap menyelesaikan lompatan terakhirnya. Baginya, kemenangan sejati bukan sekadar mengalahkan lawan, melainkan membuktikan kemampuan diri dan mendapatkan penghormatan di tengah prasangka. Namun, mampukah Jesse Owens mengubah pandangan dunia melalui prestasinya di Olimpiade Berlin? Temukan jawabannya dalam film Race (2016).

Tags:

#alurcerita #reviewfilm #alurfilm #movierecap #filmrecap #movieexplained #explained #film #movie #race2016 #race #jesseowens #olympics #berlinolympics #olympicgames #goldmedal #trackandfield #longjump #sprintrace #athlete #sportsmovie #inspirationalmovie #truestory #basedonatruestory #racism #discrimination #overcomingobstacles #champion #worldrecord #historymovie #biographicalmovie #movierecapindonesia