The Heart of Genius | EP3 | Lin Zhaoxi dan Ji Jiang bekerja keras untuk kembali | iQIYI Indonesia
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [The Heart of Genius] [Episode 3] Jujur saja padamu. Hobiku adalah motor, billiard, ke distotik dan berwisata. Bukan, bagaimana mungkin? Sejak kecil, kamu tidak pernah pergi ke Shanghai dan Guangzhou. Sejak kecil? Memangnya kamu mengenalku? Kuberi tahu. Bukan hanya pernah ke Shanghai, aku juga pernah bekerja di sana dua tahun.
Aku coba bicara menggunakan dialeg Shanghai. Lihat saja, dialeg Shanghai-ku sangat tepat. Salah, ‘kan? Kuberi tahu, kamu itu bermimpi. Cepat pergi. Tidak bisa, ulangi lagi. Apa? Tadi tidak termasuk. Kenapa jadi salahku? Jadi menyalahkanku. Aku ada urusan nanti. Kamu pergi saja. Zhaosheng, kelasku sudah selesai. Ayo kita pergi. Yaoyao, ayo pergi. Sudah selesai, ayo. Kamu…
Lepaskan aku. Jangan bicara. Siapa ini? Kamu juga belajar menari? Diam kamu. Dia… Tetanggaku. Anak tetanggaku. Kamu bantu menjaga anak orang lain? – Aku… – Kamu diam saja. Itu… Aku cukup mahir matematika. Jadi, membuka kursus, membantu mengajari mereka. Sudah pulang, ayo jalan. Kelas selesai, jangan bicara. Ayo makan sesuatu. Ayahmu boleh juga.
Pacarnya cantik sekali. Setiap kali selalu berbeda. Hebat. Aku tidak punya ayah seliar ini. Aku sudah boleh pergi? Aku harus masuk kelas catur. Kamu pergi saja. Dan jangan kembali. Juga jangan menelepon. Supaya aku tidak bertemu kamu selamanya. Kenapa ucapanmu tidak bisa kupahami? Maaf, Pei Zhi. Aku teringat si berengsek yang bernama sama denganmu.
Terima kasih untuk hari ini. [Dunia Stoberi, Tahun 2010] [Lin Zhaoxi, 15 Tahun] Li Jiaming. Wang Shuo. Lin Zhaoxi. Pei Zhi. Wang Guiqi. Li Ming. [SMP Shiyan, Kota Anping] [Upacara Penghargaan Tiga Murid Terbaik] Mari beri tepuk tangan meriah atas penghargaan yang mereka dapatkan sebagai tanda selamat. Semoga para murid yang duduk
Bisa menjadikan mereka teladan. Belajar dari mereka dan terus berusaha. Semangat. Baik, para murid dipersilakan berbelok ke kanan dan duduk. Ji Jiang tampan sekali. Ji Jiang, yang mana? Orang yang badannya tinggi, berambut pendek dan menghadap ke kita itu. Yang bermain bulu tangkis itu? Dia terlihat bodoh. Benar, kurasa juga seperti itu.
Lihat Zhang Liang kita. Jauh lebih tampan dari Ji Jiang. Ditambah lagi, prestasinya terbaik di sekolah. Punya keluarga yang kaya. Yang paling berprestasi bukankah seharusnya adalah Pei Zhi? Itu tidak termasuk. Dia itu alien. Aku mendengar kabar, jika jumlah goresan nama kedua orang sama, maka jodoh bisa berlipat ganda. Jumlah goresan namaku dan Ji Jiang
Sama-sama 12. Apakah ini adalah takdir? Ini tergantung nilai dasar jodoh kalian. Jika peluang dasar sangat kecil, misalnya hanya satu persen, meski bertambah dua persen, maka peluang kalian juga akan sangat kecil. Lin Zhaoxi. Kamu tidak tertolong lagi. Tampan sekali. Ayah. Ayah. Aku mau ganti nama. Baik, ganti jadi apa? Lin Dongxi. Apa? Lin Dongxi.
Matahari terbit di timur, matahari senja. Sangat bernuansa, bukan? Kamu demam, ya? Tidak. Bukan mengubah nama di kartu identitas. Panggil aku seperti itu saja. Di rumah. Memberi nama kecil untuk diri sendiri. Ling Dongxi. Lin Dong… Barang kecil. Bukan barang kecil. Tapi, Lin Dongxi. Aku beri tahu. Jangan kurang satu kata pun.
Dong dari kata angin timur. Xi dari kata Lin Zhaoxi. Lalu, Lin Dongxi. Tugasmu sudah selesai? Belum. Aku kerjakan sekarang. Panggil aku Lin Dongxi. Lin Dongxi. Xixi. Lin Dongxi. Aku perkenalkan padamu. Apa? Di mana dia? Ayo, masuk. Ini adalah Pei Zhi. Kalian setingkat. Seharusnya pernah bertemu. Pernah melihatnya. Partisi graf seharusnya,
Jika sebuah graf sederhana orde n dan derajat titik terendah adalah ‘di’, maka bilangan bulat k dibagi menjadi n di bagian ‘di’, ini yang disebut partisi graf. Ada apa? Kamu tidak senang si tampan pergi? Dia akan kembali minggu depan. Aku tidak memahami pelajaranmu tadi. Itu wajar. Itu tidak seharusnya dipahami oleh orang seusiamu.
Tapi Pei Zhi mengerti. Dia berbeda, dia itu genius. Kamu tidak puas? Akan kuajari dari awal jika tidak puas. Ternyata kamu dan Pei Zhi ada banyak kisah di Dunia Stroberi. Sudah bertahun-tahun tidak kemari. Sungguh rindu. Waktu itu aku sendirian. Pertama kali menyadari tempat ini karena aku baru datang ke panti asuhan
Dan tidak tahu jalan. Sepertinya si Kepala Besar yang menemukanku. Setelah itu, ini jadi basis rahasia kita. Kenapa lampunya padam? Lin Zhaoxi, kamu masih ada di sini? Lin Zhaoxi. Tidak ada. Kamu jangan takut. Kamu yang takut, bukan? Bagaimana mungkin aku takut? Astaga. Siapa? Aku, Kepala Besar. Kepala Besar? Bagaimana kamu tahu
Aku ada di basis rahasia? Kenapa kalian tidak menyalakan lampu? Lampunya sudah rusak. Di sana ada kotak listrik. Ada korek api di dalamnya. Juga ada lilin dan permen. Semua untuk kalian. Terima kasih, Kepala Besar. Tidak disangka kamu cukup baik. Karena aku melihat kalian sengaja keluar hari ini, jadi aku berterima kasih.
Di antara para saudaraku ini, kalian berdua yang paling baik. Jika ada kalian berdua, si Pangsit tidak berpeluang. Apa maksudmu? Pangsit sudah diadopsi. Sudah hidup senang dengan orang tuanya. Pangsit sudah diadopsi? Benar. Suami istri itu dosen universitas. Punya uang dan berpendidikan. Mereka bilang mau mengobati Pangsit. Sungguh? Pangsit di Dunia Keju
Bernasib lebih baik daripada di Dunia Stroberi. Stroberi apa? Tidak, aku asal bicara. Di antara para adikku, aku paling peduli pada Pangsit. Pangsit sudah senang dengan orang tuanya, aku juga sudah lega. Aku pergi dulu. Tunggu sebentar. Apa kamu tahu dosen yang mengadopsinya, bermarga apa? Marga Ji. Kenapa? Tidak apa-apa. Tiga, dua, satu, senyum.
Aku benar-benar bodoh. Aku memang bodoh. Salahkan aku. Tidak seharusnya mengajakmu keluar. Jika tidak, orang tuamu pasti memilihmu. Apa gunanya mengatakan ini sekarang? Kamu jangan menangis lagi. Ayahku juga tidak menginginkanku. Sebenarnya ini cukup baik. Di Dunia Stroberi, Ayahku selalu kecewa padaku. Di sini, Ayahku tidak perlu cemas lagi. Kenapa dia kecewa padamu?
Mungkin karena nyaliku kecil. Kurasa kamu cukup berani. Membongkar penipu tanpa rasa takut. Mungkin itu karena aku ada di Dunia Paralel. Aku juga tidak peduli lagi. Hanya ingin kembali saja. Cukup takut jika dipikirkan sekarang. Pokoknya, menurutku kamu cukup hebat. Aku adalah pengecut yang tidak berani menyentuh matematika di Dunia Stroberi. Kenapa? Karena bodoh.
Kamu bodoh? Apa aku tidak terlihat bodoh? Saat kecil, aku bahkan tidak lulus Pelatihan Zhang Shuping. Apalagi untuk belajar matematika profesional. Ayah. Sudah pulang? Tidak lulus ujian. Ya sudah jika tidak lulus. Hanya kemah musim panas. Masuklah. Akan kubuatkan makanan. Cepat. Ayahku tidak berkomentar hari itu. Bahkan juga menghiburku. Tapi, dari matanya bisa terlihat,
Dia lebih sedih dariku. Aku dan Pei Zhi terus ada di sekolah yang sama sejak SD. Dengan adanya dia dan Ayahku, aku tahu jelas, aku hanyalah orang biasa. Terima kasih, Pak Guru. Saat SMA, Pei Zhi mengenal Ayahku. Mungkin karena daya tarik antar sesama jenius. Dalam sekejap saja, mereka sudah sangat akrab.
Dia lebih mirip anak dari Ayahku dibandingkan aku. Kudengar Pei Zhi akhirnya keluar negeri. Dia pergi ke Jerman. Tidak berpesan apa pun sebelum pergi. Ayahku juga bersedih karena hal ini. Kamu tidak mencoba mencarinya? Sudah. Tidak menemukan. Sebenarnya aku… Sebenarnya aku cukup suka matematika. Mungkin karena pengaruh Ayahku. Tapi aku malah tidak berbakat.
Aku juga tidak tahu kenapa, jika orang sepertiku belajar matematika, peluang untuk berhasil juga hanya satu persen. Apa salahnya satu persen? Itu lebih baik dari nol. Lagi pula, aku sungguh merasa kamu sangat cerdas. Sama sekali tidak seperti katamu. Meski aku tidak paham matematika, tapi kurasa hal ini pasti bukan ditentukan oleh ketinggian IQ.
Jika tidak, semua hanya perlu membandingkan IQ saja. Untuk apa meneliti? IQ adalah syaratnya. Mengenai syarat kamu pasti cukup. Jangan terlalu awal memutuskan kemampuan diri. Waktu akan menunjukkan kemampuan. Harus melihat jauh ke depan. Sekarang aku juga tidak bisa berpikir sejauh itu. Aku hanya ingin pulang saat ini. Aku hanya ingin pulang. Ayahku masih terbaring
Di rumah sakit. Aku harus pulang. Dia sangat membutuhkanku saat ini. Ada apa dengan Paman? Dia bertemu perampok, kepalanya dipukul. Pelakunya sudah tertangkap? Belum. Jadi kamu, bisa memahami perasaanku, ‘kan? Aku harus kembali. Aku juga tidak bisa terus lemah seperti dulu. Aku harus bersemangat. Mengerti. Dulu aku merasa, mulai saja hidup baru dari awal
Di dunia baru ini. Sudah kehilangan orang tua sekarang, aku juga tidak bisa mundur lagi. Harus kembali. Tidak akan menyerah. Tidak akan menyerah. Berjanji. Kita berusaha maksimal untuk pulang. Berusaha maksimal untuk pulang bersama. Bangun. Kenapa kalian kemari lagi? Ibu Li mencari kalian ke mana-mana. Cepat, pergi ke kantor Kepala Panti.
Ada orang yang mau mengadopsi kalian. Jangan lambat, cepat bangun. Cepat sedikit. Bagaimana nanti? Ibu Li pasti berharap kita diadopsi orang. Kita tidak bisa berbeda orang tua di dunia yang berbeda. Lagi pula, kamu masih punya ayahmu. Meski dia tidak mengakuimu sekarang. Untuk apa mencemaskan ini? Sulit untuk membuat orang mengadopsimu.
Apakah tidak mudah agar kamu tidak diadopsi? Benar. Ayo, masuk. Halo, Ibu Li. Halo, Ibu Li. Baik. Aku perkenalkan pada kalian. Dang Aimin, Lin Zhaoxi. Ini adalah Tuan dan Nyonya Jia. Sapa Paman dan Bibi. Halo, Paman, Bibi. Anak baik. Patuh sekali, halo. Ayo, duduk. Cepat duduk. Ibu Li. Bolehkah aku bertanya pada anak-anak?
Tentu saja boleh, silakan bertanya. Aku mau tanya apa impian kalian masing-masing? Katakan. Aku mau jadi aktor. Jadi aktor bagus. Punya cita-cita. Kalau kamu, gadis kecil? Belum kupikirkan. Dia masih kecil, belum dipikirkan. Benar, tidak apa-apa. Pikirkan pelan-pelan. Lalu, berapa uang saku kalian setiap bulannya? Panti asuhan memberi kami 50 yuan uang saku setiap bulan.
Biasanya kami membeli buku atau alat tulis. Sisanya akan ditabung. Anak baik. Hobi membaca buku, bagus. Juga tidak boros. Bisa menabung. Boleh beri tahu kami, buku apa yang kamu baca? Benar. Fenomenology of Mind. Kebenaran dan Metode. Eksistensialisme dan Humanisme. Buku-buku jenis ini. Cukup mendalam. Cukup mendalam. Aku bahkan belum pernah mendengar. Cukup mendalam.
Kenapa asal bicara? Kamu tidak pernah membaca buku itu. Pernah. Aku bahkan bisa hafal sedikit. Bisa menghafal sedikit? Kamu bisa menghafal? Diri dan struktur yang muncul dalam kesadaran. Perbedaan entitas diri dengan objek lain adalah bagian isinya. Merupakan faktor negatif pada umumnya. Kita menganggap faktor negatif ini sebagai kekurangan yang dimiliki kedua pihak. Tetapi,
Faktor negatif ini adalah inti istimewa yang dimiliki mereka. Merupakan sebuah semangat yang bergerak. Sungguh pernah dibaca. Benar, pernah dibaca. Kadang kala, aku juga memikirkan makna kehidupan. Kadang kala merasa hidup tidak berarti. Paman, Bibi, bagaimana menurut kalian? Aku… Lin Zhaoxi. Lin Zhaoxi biasanya suka bercanda. Benar tidak? Suka bercanda, bukan? Lalu…
Bagaimana dengan Dang Aimin? Apa hobimu sehari-hari? Ya, apa hobimu? Aku suka ilmu alam. Ilmu alam bagus. Ilmu alam bagus. Coba kamu katakan. Ceritakan pada kami. Kalian pernah dengar refleks garuk tidak? Tidak pernah. Pertama, potong bagian kepala kodok, lalu pakai kertas yang dicelup asam sulfat rendah untuk mengoles perut kodok. Setelah kodok menerima rangsangan,
Kaki belakangnya akan menggaruk bagian yang diolesi. Seperti mayat hidup. Ini karena kodok punya pusat saraf di bagian sumsum tulang belakang. Ini yang disebut refleks garuk. Dang Aimin. Bicara apa kamu ini? Perkataanku ini benar adanya. Duduk, jangan asal bicara. Boleh dicoba jika tidak percaya. Diam. Lihat kedua anak ini… Tidak apa-apa, cukup baik. Maaf.
Lihat ini. Sudah merepotkan Anda. Maaf. Kedua anak ini tidak seperti ini biasanya. Itu… Mereka tidak punya masalah mental. Tidak masalah, Ibu Li. Sebenarnya kami bisa melihatnya. Mereka tidak mau ikut dengan kami. Benar. Sangat dimengerti, kami tidak memaksa. Maaf. Baik, kami pergi dulu. Kami pergi dulu, Ibu Li. Sudah merepotkan, sampai jumpa.
Anda di sini saja. Baik, sampai jumpa. Refleks garukmu tadi, hebat sekali. Itu kudengar dari Lu. Dia mengerti itu? Dia belajar kedokteran dulu. Punyamu tadi yang hebat. Setiap katanya bisa kumengerti, tapi tidak bisa kupahami saat digabung. Sudah puas sekarang? Ibu Li. Kami tidak ingin meninggalkan panti. Diam kamu. Lin Zhaoxi. Apakah ini idemu? Benar.
Aku tidak mengerti. Sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Kalian ingin berada di panti selamanya? Menurutku, panti asuhan tidak buruk. Berapa lama panti asuhan bisa menjaga kalian? Kelak bagaimana? Baik, aku berusaha maksimal. Aku biayai hingga lulus SMA. Lalu, bagaimana dengan kuliah? Aku bisa belajar sambil bekerja. Umurmu baru 11. Apa kamu tahu bagaimana masyarakat ini?
Seorang gadis muda tanpa pendidikan dan keluarga, akan menghadapi hal apa saat berjuang di masyarakat? Aku juga sebatang kara dulu. Aku tahu betapa sulit hal itu. Jadi, aku tidak ingin kamu mengalaminya. Ibu Li. Aku bukan sengaja ingin membuatmu kesal. Aku hanya punya pemikiran sendiri. Kamu punya pemikiran sendiri, ya? Baik, ikut denganku. Ayo.
Coba kamu lihat. Ini adalah tulisanmu tahun lalu. Berharap aku bisa masuk ke keluarga yang hangat. Di mana ada orang tua yang mencintaiku. Aku akan giat belajar. Selalu berusaha. Setelah dewasa, membalas budi orang tua yang membesarkanku, dan para Bibi di panti. Membantu lebih banyak orang sepertiku, Kamu juga punya pemikiran sendiri dulu.
Aku tidak tahu kenapa kamu berubah sekarang. Kamu pikir kamu sudah dewasa. Tapi nyatanya, sangat kekanak-kanakan. Kamu menolak sebuah lingkungan bertumbuh yang bagus. Bagaimana bisa kamu membantu orang lain di masa depan? Menurutku, meski tumbuh besar di panti asuhan, tapi asalkan berusaha, juga bisa menjadi orang yang berguna. Harus melakukan usaha ratusan kali lipat.
Kamu tidak seharusnya mengalami ini. Ibu Li, maaf. Aku minta maaf untuk keegoisanku hari ini. Aku memahami niat baik Anda. Tapi aku masih tetap pada rencanaku. Rencana apa? Mari, duduk, katakan. Aku tahu. Anda merasa aku dan Roti Kukus tidak normal akhir-akhir ini. Sebenarnya kami punya tujuan masing-masing. Kami terus berusaha mencapai
Tujuan itu beberapa hari ini. Tujuan apa? Masuk ke dalam pelatihan olimpiade matematika Zhang Shuping. Menjadi anggota perwakilan grup olimpiade matematika. Mendapatkan medali emas olimpiade matematika Piala Jin. Aktif ikut serta. Medali emas olimpiade matematika? Kami mau membuktikan. Membuktikan pada mereka yang kondisinya sama denganku. Bahwa meski tumbuh di panti asuhan,
Meski tanpa latar belakang apa pun, ♫ Setiap hari, setiap malam dan setiap hal ♫ meski harus berusaha ratusan kali lipat dibandingkan orang pada umumnya, ♫ yang pernah menjadi milik kita ♫ kami juga bisa mendapat prestasi yang baik. ♫ Juga adalah milikmu yang mirip denganku ♫ Kami tidak lebih buruk dari siapa pun.
Bahkan bisa lebih baik. ♫ Lepaskanlah segalanya ♫ ♫ Mungkin semuanya akan membaik ♫ ♫ Tantangan, penyesalan dan perubahan itu ♫ Ibu Li, Roti Kukus belum pergi. ♫ Terus melekat dan mengikutiku ♫ Untuk apa kamu terus di sini? ♫ Tapi tidak bisa mendefinisikanku ♫ Kembali ke kamarmu. Ayo. Lin Zhaoxi, berikan bukuku.
♫ Tidak ada yang tidak berubah ♫ Ayo, jalan. Aku berharap ♫ Benar, aku juga akan membaik ♫ Anda memberi kami sedikit waktu lagi. Biarkan kami fokus berusaha satu kali lagi. Apa pun hasilnya, ♫ Bawa aku menemukan semangat awal itu ♫ setelah lomba selesai, kami akan menuruti Anda.
♫ Aku tidak ingin menjadi orang biasa ♫ Ibu Li. Aku ingin ♫ Larut dalam impian ♫ menjadi teladan bagi anak-anak panti. ♫ Harapanku satu-satunya ♫ Aku mohon pada Anda. ♫ Namun, berjuang bersamamu ♫ ♫ Membawaku menemukan diriku yang dulu ♫ ♫ Menjadi yang satu-satunya ♫ ♫ Masukkan momenku ke dalam memorimu ♫
♫ Menuju ke takdir yang lebih baik ♫ ♫ Bawa aku kembali pada diriku sendiri ♫ ♫ Suatu hari, suatu tempat, suatu jalan ♫ Ayo. ♫ Ketika kamu berjalan ke arahku ♫ ♫ Aku sangat beruntung kala itu ♫ Saat Paman Lu Xun masih hidup, ♫ Ketika kita saling bekerja sama ♫ usiaku masih muda.
♫ Segalanya akan membaik ♫ Sama sekali tidak tahu siapa itu Lu Xun. Mengira paman adalah paman. Sama dengan paman yang lainnya. ♫ Hal yang indah, hal yang ajaib ♫ Setelah Paman meninggal, ♫ Hal yang ada di awal ♫ ♫ Merupakan wujud cintaku padamu ♫ jenazahnya terbaring di dalam aula
♫ Benar, aku ingin sekali berbagi denganmu ♫ rumah pemakaman. Banyak yang datang melayatnya. ♫ Berbagi sukacita yang luar biasa ini ♫ Memberi penghormatan. Bahkan ada yang menangis tersedu-sedu. Tulisan belasungkawa memenuhi dinding. Karangan bunga besar maupun kecil memadati seisi ruangan. ♫ Bawa aku menemukan semangat awal itu ♫
♫ Aku tidak ingin menjadi orang biasa ♫ Kuat sedikit. ♫ Larut dalam impian ♫ Lebih kuat di sini, ya. ♫ Harapanku satu-satunya ♫ Jangan mengikutiku. ♫ Namun, berjuang bersamamu ♫ Keluar kamu. Jangan mengikutiku. ♫ Membawaku menemukan diriku yang dulu ♫ Prestasi olimpiade matematika di kota kita kurang baik beberapa tahun ini.
Lomba Olimpiade Matematika sudah akan tiba. ♫ Menjadi yang satu-satunya ♫ Apa rencanamu? Pak Sun. Ada banyak sekolah utama ♫ Masukkan momenku ke dalam memorimu ♫ yang mengaitkan nilai olimpiade matematika dengan penerimaan murid, ♫ Menuju ke takdir yang lebih baik ♫ memaksa anak-anak belajar olimpiade matematika. Ini menyalahi niat awal olimpiade matematika. Juga merusak
Keadilan dalam pendidikan. Opini di luar sangat besar. Kita harus memperhatikan hal ini. Intinya, kita tidak boleh selalu juara satu dari belakang. Saat aku rapat di provinsi, mereka sudah menertawakan kita. Pak Sun, tanpa persiapan seperti ini cukup sulit bagiku. Tenang saja. Aku sudah mengundang orang hebat. Shuping. Pak Kepala. Zhan Shuping, selamat datang. Halo.
Guru Zhang. Proposal ini sangat detail. Ada banyak detail yang tidak kami pikirkan sebelumnya. Sungguh salut. Hanya saja caramu memperlakukan murid, bukankah sedikit keras? Kamu tidak mempercayaiku. Bukan itu maksudku. Aku tahu jelas dengan kemampuanmu. Sering menjadi juara satu dalam lomba tim. Bisa disebut sebagai pelatih juara olimpiade matematika. Hanya saja pertimbanganku sedikit lebih banyak.
Aku diundang oleh pemimpin kalian. Syaratku juga sudah kuajukan sebelumya. Pertama, yakni harus mandiri sepenuhnya. Kedua, berhak atas Basis Oasis selama tiga bulan. Ketiga, butuh dukungan dari jurusan matematika Universitas Sanwei. Tiga poin ini, sudah dijanjikan Pak Sun padaku. Mengenai kekhawatiranmu, tidak lain adalah masalah mental murid dan tingkat penerimaan orang tua. Maaf bicara begini.
Ini semua tidak penting. Tanpa beban, tidak akan ada prestasi. Biarkan murid dan orang tua memahami satu hal. Olimpiade matematika bukan jalan pintas. Mau mengandalkan olimpiade matematika dan naik kelas dengan mudah, itu tidak mungkin. Dibahas dari satu sisi, ia lebih kejam dari ujian kenaikan kelas. Semuanya. Setelah liburan, kalian sudah kelas enam.
Aku harap kalian bisa bersenang-senang saat liburan. Tapi, jangan sampai mengabaikan belajar. Terutama tugas liburan. Harus diselesaikan dengan serius. Jangan terburu-buru mengerjakan saat mau masuk sekolah. Selama liburan musim panas, aku akan berkunjung secara acak. Memeriksa perkembangan belajar kalian. Satu lagi. Lu Zhihao, Lin Zhaoxi dan Dang Aimin dari kelas kita
Sudah mendaftar untuk pelatihan olimpiade matematika. Mereka sangat pemberani. Kita juga berharap mereka berhasil masuk ke pelatihan. Mari kita semua tepuk tangan dan menyemangatinya. Sudah. Ingat bawa pulang barang di laci meja. Resmi aku umumkan. Libur musim panas dimulai. Kalian juga ikut ujian masuk pelatihan? Ada apa? Tidak boleh? Bukan. Kenapa tidak bermain saat liburan?
Malah ikut dalam ujian. Masih harus ujian. Bukankah kamu juga daftar? Ayahku sudah bilang, Jika kau bisa ikut Piala Jin, dia akan membelikanku komputer untuk main game. Ayo, jalan. Apakah kalian bisa? Bisa apanya? Jangan menangis jika tidak lulus. Apa yang dikatakannya? Menurutku, lebih baik kamu ganti manajer nanti. Pekerja bekerja untukmu selama 7 hari.
Total upahnya adalah sebatang emas. Setiap malam, kamu harus membayar satu kali. Tidak boleh berutang atau lebih. Emas harus dipotong berapa kali baru bisa terwujud? A dua kali, B tiga kali. C empat kali, D enam kali. Harusnya pilih… Pilih A. Pilih A? Dua kali? Potong dua kali hanya ada tiga bagian. Bagaimana membayarnya?
Kamu bodoh, ya? Siapa suruh bagi rata? Lihat baik-baik. Pakai perbandingan 1: 2: 4 dan bagi jadi tiga. Satu, dua, empat. Di hari pertama, berikan satu. Di hari kedua, berikan dua, ambil kembali satu. Berikan satu lagi di hari ketiga. Di hari keempat, berikan empat, ambil kembali satu dan dua. Hari kelima. Hari keenam. Terakhir,
Berikan satu bagian terakhir yang kamu miliki untuknya.. Benar. Kenapa cara ini tidak terpikir olehku? Bodoh. Bukan. Aku pasti bisa menjawab soal ini saat kecil. Kenapa tidak bisa saat dewasa? Sudah berapa lama kamu tidak belajar matematika? Tidak kupelajari lagi setelah ujian kelulusan SMA. Menghitung uang saja malas. Itu dia alasannya. Kamu ajari aku saja.
Tidak ada gunanya kamu masuk pelatihan sendirian. Foto itu tidak boleh kekurangan satu orang. Aku tidak bisa mengajar. Tapi, ada yang bisa. Jangan bilang itu ayahmu. Aku takut dipukul. Aku tidak akan bisa tahan. Kamu juga tidak bisa memotret foto itu. Maksudku adalah Pei Zhi. Tiga kartu sama tambah satu. Sepasang kartu dua. Keluarkan.
Tiga keriting. Joker. Joker. Sisa satu. Poker bom. Keluarkan. JQKA, aku menang. Ambil lagi. Tidak boleh langsung keluar empat kartu. Aku keluarkan satu per satu. Kartumu itu jika bukan J, maka enam. Tidak akan berguna. Putraku hebat. Acak kartunya. Sudah dibilang jangan menghitung kartu. Kamu malah menghitung. Ini salahmu. Maaf, ini insting. Tidak bisa dikendalikan.
Untuk apa minta maaf? Menghitung kartu itu kemampuanmu. Kamu juga hitung saja jika bisa. Main dengan anak malah tidak mau kalah. Lain kali kartuku semuanya bom, silakan kamu hitung. Main catur harus konsentrasi. Kamu tidak cukup fokus. Zhang Liang, aku keluar sebentar. Tidak boleh, selesaikan dulu baru pergi. Aku pasti menang kali ini.
Kamu sudah kalah. Aku… Fokusmu kurang. Orang yang kalah bereskan catur. Pei Zhi, aku akan menang darimu cepat atau lambat. Jenius Pei. Tolong aku. Tolong aku. Ada apa? Kamu pernah mendengar pelatihan olimpiade matematika Zhang Shuping itu belum? Pernah. Aku mau ikut ujian itu. Ajari aku olimpiade matematika. Aku tidak bisa mengajar.
Kak Pei, Jenius Pei. Asalkan kamu mau, kamu pasti bisa mengajar dengan baik. Pandai sekali berakting. Lin Zhaoxi, kamu juga mau belajar? Dia tidak perlu. Dia juga jenius jika dibanding aku. Ajari aku seorang saja. Ada jenius di SD Hongxing? Pei Zhi. Jangan bergaul dengan murid bodoh ini. Siapa orang ini? Teman sekolah dan tetanggaku.
Zhang Liang. Zhang Liang? Kamu adalah Zhang Liang? Zhang Liang kami berprestasi terbaik di sekolah. Keluarganya juga kaya. Tapi, Ji Jiang juga cukup tampan. Dia bodoh sekali. Bukankah yang terbaik adalah Pei Zhi? Ternyata kamu sudah menyebalkan sejak kecil. Pei Zhi. Jangan bermain dengan mereka. Tidak pantas menjadi lawanku jika kamu jadi bodoh. Seingatku,
Dia sekelas dengan kalian saat SMA. Ya, selalu jadi nomor dua. Berbeda jauh dari Jenius Pei. Pei Zhi. Ibuku mau menjemputku. Ayo, pulang bersama. Tidak perlu. Aku pulang sendiri nanti. Mereka adalah temanku. Teman? Aku adalah teman sekolah, tetangga. Lalu, mereka temanmu? Murid dari sekolah jelek pantas jadi temanmu? Kamu masuk SD saja
Sudah merasa unggul? Sekolah kalian tidak mengajarkan sopan santun? Kenapa? Menurutmu, sekolah tidak membeda-bedakan? Tentu saja. Tapi otak dibedakan. Kalian bodoh, jadi tidak berguna. Bocah ini… Sudahlah. Biarkan saja. Jangan perhitungan dengan orang bodoh. Siapa yang bodoh, hanya perlu dibandingkan. Zhang Liang, jangan berulah. Aku ingin melihat kemampuan teman pilihanmu ini. Bagaimana?
Jenius dari SD Hongxing, berani main tidak? Apa yang ditakutkan? Kak Xi, keren. Ingin lomba apa? Melakukan tes inteligensi Wechsler, atau uji penalaran? Apa? Mungkin dia tidak pernah dengar. Tidak perlu repot. Kita lakukan permainan. Semangat. Ada 17 kacang di sini. Ambil bergiliran. Satu hingga tiga butir per orang. Tidak boleh tidak diambil.
Pengambil kacang terakhir akan menang. Siapa duluan? Tentukan pakai koin. Giiliran saja. Aku duluan di sesi pertama. Baik, kamu duluan. Mengambil barang secara bergiliran dari benda bertotal m. Setiap kali hanya boleh diambil n kali. Ini isi dari permainan Bash. Kamu pernah belajar ini, ‘kan? Kamu juga pernah? Sudah meremehkanmu. Kamu menang di babak ini.
Kenapa langsung menang? 17 butir kacang. Hanya boleh diambil satu hingga tiga setiap kali. Jika akhirnya tersisa empat, maka pemain berikutnya akan kalah. Teori yang sama dipakai hingga menang. Jika menyisakan empat, delapan, dua belas, 16 untuk lawan, maka akan menang. Oleh karena itu Lin Zhaoxi, saat mengambil satu kacang di awal, kamu sudah menang.
Kalian jangan terlalu bangga. 17 kacang terlalu mudah. Tunggu aku di sini kalau berani. Lin Zhaoxi, kamu hebat. Hanya dasar saja. Zhang Liang ini jelas sengaja ingin berlagak hebat. Bagaimana jika kita kabur? Dia akan kesal saat kembali. Tidak perlu. Jangan lupa. Dia juga adalah tokoh inti di foto itu. Tidak ada salahnya memahaminya.
Aku ingin lihat, apa yang akan dilakukannya. Apa yang kalian bicarakan? Bukan apa-apa. Ayo, jalan. Jia Bing. Liu Xu. Zhang Liang. Shi Zhe. Chen Chengcheng. Kami adalah Lima Harimau Kemenangan. Roti Kukus. Mereka mau merampas pekerjaanmu melakukan debut tim. Tunggu, biarkan aku tertawa sebentar. Tertawa saja. Kalian akan menangis nanti. Pergilah. Kenapa anak ini
Galak sekali. Pria kecil memang begitu. Sedikit bodoh. Benar tidak, Jenius Pei? Cukup bodoh, ‘kan? Silakan duduk. Kamu mau bermain catur denganku? Masih permainan tadi. Hitam putih sama saja. Boleh mengambil 1-5 setiap kali. Pengambil butiran terakhir akan menang. Berani main tidak? Ini salah. Kalian yang menuang caturnya. Siapa yang tahu jumlah caturnya?
Menghitung total adalah kemampuan dasar. Tidak kami hitung. Kalian boleh menambah catur jika tidak percaya. Kamu ingin lomba hitung cepat denganku? Benar. Biar aku mewakilimu di babak ini. Pei Zhi. Ini adalah adu kemampuan SD Shiyan dan Hongxing. Kamu mau membantu musuh? Tidak ada musuh di sini. Aku juga tidak merasa
Ini adalah adu kemampuan Shiyan dan Hongxing. Jika tidak, perwakilan Shiyan bukanlah kamu. Tidak masalah, aku saja. Mereka ke mana? Kamu di sini saja. Aku akan memeriksanya. Ayo mulai. Kamu duluan. Berhenti! SD Hongxing dan Shiyan berselisih. Murid dari SD Shiyan berdiri dan ikut aku. Kukira kalian mau apa. Malah memanggil orang.
Murid dari SD Hongxing, semuanya berdiri.