The Heart of Genius | EP2 | Lin Zhaosheng menolak untuk mengenali Lin Zhaoxi | iQIYI Indonesia
Cepat gosok gigi, kalau tidak nanti terlambat. Untuk apa aku ke sekolah? Aku orang dewasa, untuk apa ke sekolah SD? Berhenti. Keraskanlah lagi suaramu, teriaklah di jalanan. Aku orang dewasa, aku dari tahun 2018. Coba lihat Ibu Li akan mengurungmu lagi, atau langsung mengantarmu ke rumah sakit jiwa. Bereskan tasmu. Apa ini?
Kurasa kamu sudah mau masuk rumah sakit jiwa. Ini tasmu. Ini jelek sekali. Sudah begini, kamu masih memikirkan hal ini? Ini termasuk masih bagus. Lihatlah gambarnya ini. Dewa Kegelapan Gunala. Keren sekali. Dewa apa? Dewa Kegelapan Gunala. Peri Ajaib Balala, kamu tidak pernah nonton? Bakala, berubah. Aku, Lin Zhaoxi, meski dianggap sebagai orang gila,
Dikunci dan minum obat setiap hari, aku juga tidak akan memakainya. Kalau begitu kamu pergi saja. Kutunggu kamu di depan pintu. Cepat. Tidak mungkin aku ke sekolah. Nanti kita ke depan pintu rumahku. Karena ini terjadi di depan pintu rumahku, jalan kembali pasti juga ada di sana. Bisakah menunggu sampai waktu istirahat?
Jika pergi sekarang, itu artinya bolos. Bolos saat SD itu sangat serius. Setelah sampai rumahku, kita sudah bisa kembali. Kamu takut apa? Bagaimana jika tidak bisa kembali? Tidak mungkin. Aku harus kembali. Dunia ini milikmu? Lin Zhaoxi. Kalian berdua. Dang Aimin, sedang apa kalian? Cepat, cepat. Ke sekolah. Jalan, jalan. Berbaris yang rapi. Perhatikan jalan.
Mari. Ikuti. Cepat, cepat. Cepat. Hati-hati. Ayo, cepat. Sudah lengkap? Sudah, sudah. Cepat, cepat. Sampai jumpa Bibi Li. Tidak buru-buru. Jiaqi, Yuqing, apa kalian patuh pada Guru? Patuh. Kenapa? Kamu pergi tidak? Mari kita jabarkan. Pertama, setelah tiba di rumahku, harus cek dinding itu dulu. Jika di dinding ada rumus itu,
Mungkin kita bisa kembali jika menghapusnya. Masuk akal. Kedua, jika tidak ada rumus itu, kita coba robek foto itu. Mungkin ada perubahan. Sangat masuk akal. Jika semuanya tidak ada, maka cari ayahku. Aku menjadi yatim piatu, itu sangat aneh. Mungkin dia tahu sesuatu. Menurutmu? Sungguh sangat masuk akal. Guru Ji, bisa tidak berikan
Komentar yang berguna? Semua ikut kamu. Berdiri. Apa kabar, murid-murid? Apa kabar, Guru? Duduk. Kita buka buku bahasa halaman 79. Mana Lin Zhaoxi? Tidak datang. Tidak datang. Dang Aimin juga tidak datang? Tidak tahu. Hao Moshi, pimpin teman-teman membaca teks cerita. Aku keluar sebentar. Sayang sekali bulan sudah berakhir. Baik, aku sudah tahu. Terima kasih.
Aku sudah mengecek kamar. Barang mereka masih ada. Apa kata pihak sekolah? Kata guru, mereka sudah tidak ada sejak pelajaran pertama. Satpam juga bilang tidak melihat murid yang kabur saat pelajaran. Mereka juga tidak pulang. Mereka berdua bisa ke mana? Tadi pagi aku sendiri yang mengantarkan mereka ke gerbang sekolah, kenapa bisa menghilang?
Guru Li, jangan panik dahulu. Mungkin saja mereka berdua keluar sendiri untuk bermain. Tidak mungkin. Kalau Kepala Besar, Pangsit, mungkin saja begitu. Lin Zhaoxi biasanya paling patuh. Roti Kukus juga anak yang jujur. Mereka tidak pernah membolos. Jika terjadi sesuatu, kita harus bagaimana? Jangan panik. Kita cari lagi. Beberapa hari lalu, seorang pengurus Olimpiade
Menegaskan tentang persiapan proyek Olimpiade Beijing 2008. Menurut rencana, Beijing akan membangun 15 stadion yang baru, dan merenovasi 11 stadion. Pejabat ini juga berkata, dilihat dari kemajuan proyek saat ini… Ayo naik. Ayo. Artinya, akan dilakukan percobaan 2 tahun sebelum pembukaan Olimpiade. Stadion akan menjadi gedung olahraga modern yang sangat unik. Tidak ada apa-apa.
Kedua rumus di dinding itu dibuat saat aku dan ayahku bermain. Sekarang aku menjadi yatim piatu. Ayahku juga tidak punya anak. Jadi, tidak ada kedua rumus itu. Pulang! Apa yang kamu lakukan? Tidak pulang. Serahkan padaku. Sepertinya gagal lagi. Kita mau pulang. Kenapa tidak bisa pulang? Kenapa kita melintasi waktu? Jangan dikatakan.
Jangan sampai orang lain tahu. Ayah! Ayah di rumah? Kecilkan suaramu. Kamu di rumah tidak? Belum tentu ini rumahmu. Ayah, aku Lin Zhaoxi. Lin Zhaoxi, jangan gegabah. Buka pintu. Ayah di rumah tidak? Aku Lin Zhaoxi. Jangan gegabah. Ayah di rumah tidak? Jangan gegabah. Anak kecil, sedang apa? Ayah. Ayo makan malatang. Baik. Ayah, Ayah.
Siapa anak ini? Tidak tahu. Ayah, aku putrimu. Aku? Kamu sudah punya putri. Sungguh lucu. Apa gayaku seperti orang yang punya anak? – Ayah. – Nak, jangan sembarangan panggil. Bukan Ayah, aku Lin Zhaoxi. Lihat. Masih bilang tidak punya putri. Sama-sama bermarga Lin. Penipu. Qianqian, Qianqian. Bukan, ini salah paham. Ayah tidak mengenaliku lagi?
Aku Lin Zhaoxi. Ayah, aku, Lin Zhaoxi. Lepaskan. Kamu salah kenal orang. Kamu, kamu… Qianqian, Qianqian. Dengarkan penjelasanku. Lin Zhaoxi. Qianqian, Qianqian, aku, aku… Diam, diam. Tunggu. A, aku tanya, aku tanya. Aku tanyakan, ya? Sayang, ya? Ayo kita tanyakan. Apa? Ada apa denganmu? Kenapa sembarangan memanggil ayah? Sungguh berbahaya. Bagaimana jika kamu diculik?
Lagi pula, kamu memanggilku, apa kamu mengenalku? Namamu Lin Zhaosheng. Kelahiran 1973 di Rumah Sakit Renmin No.2, Nama kakekku Lin Shixiang, nama nenekku Song Chunhua. SD-mu di Changgeng, SMP-mu di SMP No.3. Bukan, Sayang, itu… Siapa kamu? Aku putrimu. Bagus, Lin Zhaosheng. Demi mengejarku, kamu bahkan tidak mau anakmu lagi. Bukan. Dasar sampah. Bukan, bukan.
Qianqian, dengarkan penjelasanku, Qianqian. Begini, begini. Itu… Bukan. Berikan padaku! Bukan, Qianqian, aku… – Kamu jangan menarikku. – Aku mencintaimu, Qianqian. Awas. Jangan lupa, kita ke sini untuk apa? Sejak kecil kita tumbuh di panti asuhan, wajar jika ayahmu tidak mengenalmu. Langsung tanya dia, tahu masalah melintasi waktu tidak? Kuberi tahu. jika mencariku lagi,
Aku akan memukulmu. Aku mencintaimu! Qianqian, aku mencintaimu! Dasar sampah. Astaga. Sungguh gila. Mari. Mari, mari, mari. Ada apa dengan kalian? Biar aku yang katakan. Kami dari Panti Asuhan Hongxing. Kuberi tahu. Aku tidak ingin mengadopsi anak. Bukan, Paman. Bukan itu maksudku. Siapa yang kamu panggil paman? Apa aku setua itu? Kakak, kami… Kakak siapa?
Paman, itu… Kamu yang katakan. Kamu yang katakan. Kamu yang katakan. Ayah, mungkin apa yang kukatakan sangat sulit dipercaya. Tapi aku jamin, ini adalah fakta. Aku putrimu. Entah kenapa, aku diantar ke panti asuhan. Sejak kecil aku tumbuh di panti asuhan. Aku mencarimu ada urusan penting. Baik. Kamu seorang yatim piatu.
Sejak kecil tumbuh di panti asuhan. Bagaimana kamu tahu aku adalah ayahmu? Kujelaskan dari awal. Dari dulu kita adalah ayah dan anak. Tahun ini… Saat tahun 2018, saat umurku 23 tahun, ini adalah rumah kita. Kita tinggal di sini. Suatu hari kamu pingsan. Entah karena apa, ulah siapa. Sekarang masih terbaring di rumah sakit,
Entah kapan bisa siuman. Lalu suatu hari, saat pulang, aku bertemu dia. Lalu muncul sebuah foto misterius. Lalu aku mencoret rumus yang kamu tulis di dinding beberapa tahun lalu. Kuadrat A ditambah kuadrat B sama dengan kuadrat C. Lalu muncul petir, aku kembali ke 2006, jadi yatim piatu. Kamu masih tinggal di sini. Kamu tahu
Ada apa ini? Tahu. Kamu gila. Kamu sungguh kasihan. Kamu sampai berkata begitu. Sudahlah. Aku tidak akan buat perhitungan. Main sana. Bukan, bukan, Ayah. Mungkin perkataanku belum jelas, dengarkan aku sekali lagi… Jangan menggangguku. Jika masih menggangguku, nanti kuhubungi panti asuhan kalian. Jangan, jangan. Kami segera pergi. Kami segera pergi. Kami segera pergi.
Bukan Ayah, aku sungguh putrimu. Ayo jalan. Ayah! Jangan katakan lagi. Percayalah padaku, aku Lin Zhaoxi. Ayah, aku sungguh adalah putrimu. Sekarang ayahmu merasa kamu gila. Apa pun yang kamu katakan, dia takkan percaya lagi. Dia bukan ayahku. Hanya mirip saja. Ayahku tidak bisa naik sepeda motor. Dia juga tidak akan berdandan begitu. Jangan emosi.
Kamu yang bilang, sampai rumahmu, kita bisa kembali. Bahkan menulis rencana satu, dua, tiga. Semuanya sangat masuk akal. Lalu, berguna tidak? Berguna tidak? Setidaknya aku berusaha. Tidak sepertimu, tidak melakukan apa pun. Hanya bisa menyindir. Siapa bilang aku tidak melakukan apa pun? Apa aku tidak ingin kembali? Aku idola negara. Jika aku tidak kembali,
Fans-ku pasti sangat sedih. Coba katakan, apa yang kamu lakukan? Kemarin aku sudah mencoba semua cara yang bisa kupikirkan. Melintasi waktu! Melintasi waktu! Melintasi waktu! Itu caramu? Sungguh berbakat. Aku aktor, bukan ilmuwan, juga bukan Doraemon. Cara apa yang bisa kupikirkan? Lagi pula, kemampuan kita juga tidak jauh beda. Menulis rumus, merobek foto, berteriak sembarangan,
Kamu masih mau mengataiku? Kamu ke mana, Lin Zhaoxi? Sekolah di sana. Pergi saja sendiri. Aku cari cara lain. Jika kita tidak kembali, Kepala Panti akan lapor polisi. Terserah dia. Jika tidak bisa kembali, kita harus mengulang dari awal di sini, hidup dengan baik. Jika ingin hidup dengan baik, jangan cari masalah dengan Kepala Panti.
Kalau tidak, hari-harimu akan sengsara. Sekarang ayahku masih terbaring di rumah sakit, entah kapan bisa siuman. Anehnya aku tiba di masa lalu yang aneh ini, kenapa membahas soal hidup dengan baik? Harus membuat persiapan terburuk. Ada apa dengan ayahmu? Dia sakit? Tidak ada hubungannya denganmu. Aku tidak ingin bertanya. Makanan Anda sudah datang semua.
Terima kasih. Yang kupesan adalah makanan kesukaan kalian. Mari, makanlah. Lima guru, bibi, ditambah aku, berkeliling seharian di SD Hongxing, tetap tidak menemukan kalian. Aku telepon ke sana kemari, ke semua rumah sakit di kota ini. Aku juga menelepon polisi. Kata mereka, hari ini tidak ada kecelakaan pada anak umur 12 tahun. Aku jadi tenang.
Ibu Li, Anda tidak tanya kita pergi ke mana? Biasanya kalian anak baik-baik. Terutama kamu, Lin Zhaoxi. Biasanya kamu lebih mandiri dari anak-anak lain. Jadi aku tahu, kalian bukan sengaja merepotkan kami. Makanlah. Maaf, aku salah. Salah di mana? Aku tidak seharusnya membolos, membuat Anda khawatir. Aku tidak menghargai kesempatan belajar yang langka ini,
Salah terhadap diriku sendiri. Sudah. Setelah makan, belajarlah dengan baik. Aku ke toilet sebentar. Awalnya aku merasa aku tidak seharusnya di sini, juga tidak perlu tanggung jawab pada siapa pun. Tapi tadi aku melihat Ibu Li melihatku seperti itu, kenapa aku jadi sedih sekali? Kamu masuk jebakan. Ini jurus andalan Ibu Li.
Seperti orang yang berpacaran, ketika si wanita ngambek, tapi juga tidak memarahi si pria, dia bertanya, kamu tahu apa salahmu? Si pria berpikir, tadi aku berbicara terlalu keras padamu? Bukan. Sore saat beli baju, aku ragu-ragu menggesek kartu? Juga bukan. Kemarin malam kamu memasak, aku tidak cuci piring? Juga bukan. Si wanita tidak menjelaskan,
Si pria semakin takut dan gemetaran. Akhirnya dia terpaksa berlutut memohon ampun. Tapi, hatinya masih bertanya-tanya. Apa salahku? Berbuat salah tidak dimarahi, jadi semakin merasa bersalah. Kamu sungguh mengerti hal ini. Itu harus. Perang psikologis, kursus wajib untuk pria. Jika tidak mengerti ini, bagaimana bisa mendapat wanita?
Ini namanya mengenal diri sendiri dan orang lain. Kemenangan telak. Pria berengsek. Ini lari dari topik. Melihat kondisinya, kita tidak bisa tidak ke SD. SD… Dalam sekejap kembali ke pembelajaran susah payah 16 tahun. Di langit yang biru ada sebuah bulan purnama emas. Di bawahnya ada pasir di pinggir pantai. Tertanam semangka hijau
Yang tak bertepi. Di antaranya ada seorang anak muda umur 11-12 tahun… Lin Zhaoxi. Membawa cincin perak kalung. Lin Zhaoxi. Berdiri dan lanjutkan menghapal. Di antaranya ada seorang anak muda umur 11-12 tahun. Lanjutkan. Membawa cincin perak kalung, memegang… Memegang apa? Tanah. Tanah? Memegang tanah, ya? Berdiri di belakang. Lu Zhihao, apa yang kamu tertawakan?
Temani dia berdiri. Mari, kita lanjutkan menghapal. – Memegang… – Tombak baja. Mengarahkannya ke sekumpulan landak… Murid-murid, ada 2 hari di akhir pekan. Kurangi bermain, perbanyak baca buku. Baik, bubar. Berdiri. Sampai jumpa Guru. Sampai jumpa murid-murid. Sudah pulang. Sudah pulang. Anggap aku sial aku duduk di belakangmu. Aku tidak tahan lagi.
Aku sungguh tidak tahan lagi. Aku sudah mau gila. Ini baru setengah hari. Jika kita sungguh tak bisa kembali, setelah libur musim panas, masih ada setahun kelas 6 SD. 3 tahun SMP, 3 tahun SMA, 4 tahun… Saat kuliah akan jauh lebih nyaman. Aku tidak bisa belajar sekali lagi. Bertahanlah sebentar.
Kita semua juga melaluinya seperti itu. Tapi tidak ada yang mempelajarinya 2 kali. Kamu sungguh bisa belajar sekali lagi bersama anak-anak itu? Kalau tidak? Terus bolos sekolah? Lebih baik kita langsung meninggalkan panti asuhan. Kepala Panti mungkin akan mengira kita kawin lari. Kalian mau kawin lari? Kamu curi dengar? Kalian berpasangan,
Mau bolos dan kawin lari? Kuberi tahu ibuku. Bukan, bukan. Untuk apa memberi tahu ibumu? Ibunya wali kelas kita. Saudara, aku tahu karaktermu. Tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Sebuah album. Apa? Belikan aku sebuah album, maka aku tidak memberi tahu ibuku. Aku tidak salah dengar? Dia sedang memeras kita? Dia lebih lucu darimu.
Yang lebih lucu lagi, dia kelak jadi agensiku. Lumayan bisa diandalkan. Maksudku saat besar nanti. Kalian berdua sangat cocok. Apa yang kalian katakan? Jika tidak beli, aku ke kantor guru mencari ibuku. Beli. Apa hubungan kita kelak? Saudara baik, ini masalah kecil. Aku mau album baru Fang Wensan. Tidak masalah. Sebentar. Album baru siapa?
Fang Wensan. Ini. [Chopin di Luar Jendela] Aku merasa pandanganku terhadap dunia sudah berubah. Ji Jiang, kamu tahu tempat mengakses internet di sekitar? Ayo. Kenapa kalian kabur? Karya baru sutradara Ge You masuk Golden Rooster Awards… Ge You? Grup Qinggongjiu umumkan bubar… Bukannya Ge You? Yu Xiaoqian? Bukannya Yu Qian? Kelak akan berkembang ke arah
Pertunjukan dan komunikasi silang. Memenangkan Aktor Terbaik, ini karya pertamanya setelah comeback. Astaga. [Dunia Keju tahun 2006] [Lin Zhaoxi umur 11 tahun] Aku sudah mengerti. Aku tahu kenapa aku bisa di panti asuhan. Kamu mengerti apa? Kenapa aku tidak? Apa kamu pernah mendengar bahwa setiap pilihan seseorang akan membuat sebuah dunia yang berbeda? Apa maksudnya?
Lihat. Misalnya sekarang kita mau membeli kue. Lalu ada… Ada sebuah kue rasa stroberi dan rasa keju. Setiap pilihan akan memiliki perkembangan yang berbeda. Mungkin dulu kita berada di pilihan rasa stroberi. Tapi sekarang, dunia ini rasa keju. Kamu memilih kue, apa hubungannnya dengan kamu di panti asuhan atau tidak? Aku… Aku hanya membuat analogi.
Pokoknya, pasti di suatu saat tertentu, seseorang dengan pemikiran berbeda, pilihannya berubah sehingga aku jadi yatim piatu. Baik rasa stroberi maupun rasa keju, kedua dunia ini serupa tapi tidak sama. Apa yang kamu alami adalah bagian yang sama, tapi aku tidak. Jadi tepatnya, kita bukan kembali ke masa lalu, tapi berada di dunia paralel.
Lihat ini. Lihat rambut ayahku. Ganteng sekali. Keren sekali. Aku selalu ingin mencoba rambut panjang, tapi tidak bisa. Yang ingin kukatakan adalah, di Dunia Stroberi, aku ingat jelas ayahku tidak pernah berambut panjang begini. Tapi, di Dunia Keju, yang artinya dunia tempat kita sekarang berada, ayahku berambut panjang. Ini pertanda apa? Pertanda apa? Ini adalah
Foto dari Dunia Keju. Ini foto Dunia Keju? Kenapa ia muncul di Dunia Stroberi? Tidak tahu. Lalu kenapa ia datang bersama kita ke Dunia Keju? Satu hal yang bisa kupastikan, ia tidak hanya membawa kita ke Dunia Keju, tapi juga ke waktu yang lebih awal. Tentu saja. Pelatihan Zhang Shuping belum dimulai. Foto ini
Adalah masa depan dari Dunia Keju. Jadi, apa artinya ini? Ini sebuah kemungkinan di masa depan. Misalnya, dua hari lagi kita mati karena kecelakaan… Apa maksudmu? Kubilang misalnya. Misalnya, misalnya. Mungkin saja kita tidak akan masuk ke pelatihan olimpiade matematika Zhang Shuping. Dengan begitu, foto ini juga tidak akan muncul. Benar. Di sisi lain,
Kita semakin berusaha melakukan beberapa hal yang menyebabkan hasil di foto ini, maka foto ini mungkin akan muncul beberapa bulan lagi. Mungkin saja bisa kembali ke Dunia Stroberi, kembali ke depan rumahku. Kembali lagi? Mungkin saja, kita akan… Foto ini kembali, mungkin saja kita juga bisa kembali. Benar. Seberapa yakin kamu? Sama sekali tidak yakin.
Apa pendapatmu? Sama denganmu, tidak ada sama sekali. Kalau begitu, kita lakukan dulu seperti itu. Baik, lakukan, lakukan! Apa yang akan kita lakukan? Pertama, kita harus lolos pelatihan olimpiade matematika Zhang Shuping. Benar. Jika aku juga lolos masuk pelatihan, maka semua orang di foto ini juga akan muncul. Selain dia.
Begini kelihatannya sangat patuh dan cantik. Yang penting Anda senang. Hari ini kita kedatangan banyak relawan dan beberapa keluarga yang ingin mengadopsi anak. Kamu harus bersikap baik. Aku tidak ingin diadopsi. Apa yang kamu katakan? Kamu bisa tinggal di sini seumur hidup? Guru Li, Pangsit mimisan lagi. Lihatlah dia sebentar. Baik, aku segera ke sana.
Jangan pergi sembarangan. Nanti kucari kamu lagi. Ambil, ambil. Terima kasih, Kak. Hati-hati. Putar-putar. Kekanak-kanakan. Aku sudah lama menunggu, kamu lama sekali. Memakai jepitan rambut, bahkan memakai rok. Cukup imut. Sudah sarapan? Belum. Ini. Kekanak-kanakan. Sama-sama. Jangan ungkit lagi soal dunia paralel pada ayahmu. Dia takkan percaya. Baik. Aku akan menjaga rahasia. Lin Zhaoxi,
Kenapa pintu ini terbuka? Ayo, berkunjung ke rumahku. Ayo. Ji Jiang. Ada apa? Kunci. Bukan. Ayahmu tidak di rumah, kita tidak boleh masuk. Kenapa tidak boleh? Aku ingin melihat ayahku yang di dunia paralel ini hidup seperti apa. Anak-anak, ka… kalian… Bibi Song? Kamu adalah… Aku adalah… keponakan Lin Zhaosheng. Aku datang mengunjungi paman keduaku.
Aku pernah bertemu Anda saat kecil. Keponakan Lin? Sepertinya aku ingat. Ini kunci pemberian paman keduaku. Katanya dia agak malam baru pulang, tapi tidak memberitahuku dia ke mana. Anda tahu dia ke mana? Aku tidak yakin. Seharusnya pergi bekerja. Anda tahu dia kerja di mana? Sepertinya sekarang dia bekerja di Aula Anak-Anak.
Pamanmu sering ganti pekerjaan, aku juga tidak terlalu yakin. Terima kasih. Sama-sama. Sekarang bagaimana? Tidak mungkin hanya menunggu di sini. Nanti ayahmu pulang, dia akan menganggap kita pencuri. Ayo pergi. Ke mana? Ke Aula Anak-Anak mencarinya. Apa ada guru bernama Lin Zhaosheng? Tidak ada, Nak. Terima kasih. Halo, Guru. Apa ada guru bernama Lin Zhaosheng?
Lin Zhaosheng? Belum pernah dengar. Terima kasih. Adik kecil, kami tidak punya guru bermarga Lin. Terima kasih. Tidak apa-apa. Ada berapa Aula Anak-Anak di kota kita? Satu ini saja. Jangan-jangan kita salah. Mungkin ayahmu bukan mengajar matematika. Dia kerja di sini, kalau tidak mengajar matematika, lalu jadi apa? Akuntan Aula Anak-Anak?
Mungkin saja dia mengajar musik atau yang lain. Lihatlah penampilannya, sangat khas rock. Dia nyanyi lagu anak-anak saja bisa fals, rock apanya? Bagaimana sekarang? Kembali ke Gang Zhuanzhu dan menunggu? Terpaksa begitu. Tidak mungkin. Kamu sungguh kembali? Dua hari lalu, seorang wali murid datang berterima kasih padaku. Bukankah itu Lu? Katanya setelah beli buku ini,
Dan anaknya melihatnya… Lu Zhihao. Kenapa kamu di sini? Kenapa kalian juga di sini? Panti asuhan punya uang untuk kalian mendaftar les? Apa perkataannya selalu menyebalkan seperti ini? Saat kecil dia lebih polos, jangan perhitungan dengan anak kecil. Kamu berkata seakan kalian berdua orang dewasa. – Kenapa? – Kenapa? Dia mau memborong bukuku ini,
Memborong caraku ini, katanya mau memberiku sejumlah uang dan melarangku untuk menjual metode aritmatika mentalku ini lagi. Dengan begitu, anaknya tidak akan punya saingan lagi. Apa? Jahat sekali. Orang macam apa itu? Egois sekali. Jahat dan egois sekali. Kenapa begitu? Sungguh egois. Tidak membiarkan anak orang lain belajar.
Tentu saja aku tidak menerima uang itu. Aku langsung menolaknya berkata, metode aritmatika mentalku adalah untuk menguntungkan lebih banyak siswa. Uang tidak penting bagiku. Aku sungguh kaya. Tanyalah sekretarisku, dia tahu di kota mana yang tidak ada mobil dan rumahku? Dia sangat kaya. Sudah. Jangan menyombongkan diri di sini. Aku tulus ingin
Membuat lebih banyak anak menguasai matematika. Jadi harga yang kutetapkan sangat rendah. 100 yuan. Satu buku 100 yuan. 100 yuan? Mahal sekali. Para orang tua murid, pikirkanlah, 100 yuan, kurangi beli jajan untuk anak-anak, kurangi berkumpul di luar, sudah bisa menghemat 100 yuan. Dengan 100 yuan yang sedikit itu, kamu bisa membuat matematika anakmu melejit,
Pantas tidak? Pantas. Mari, mari, mari. Mari, mari, mari. Ibu belikan satu untukmu. Kamu mau beli? Jangan menghalangiku. Nanti kehabisan. Apa metode rahasia itu berguna? Itu tipuan. Kalau Guru Zhang ingin menguntungkan murid, kenapa tidak memberi buku gratis? – Iya. – Benar. Benar. Semuanya. Para orang tua dan murid, kita mengerti sebuah teori,
Ilmu tak boleh sembarang disebar, ilmu adalah kekuatan. Tidak ada yang gratis di dunia ini. Barang yang terlalu murah, setelah mendapatnya, apa kamu akan menghargainya? Tidak akan. Teori yang Anda bilang adalah pengetahuan Arthur Benjamin dan kekuatan Michael Shermer. Siapa? Kenapa? Bahkan nama penulis asli buku cetak bajakan ini saja kamu tidak tahu?
Aku pernah membaca buku ini. Ditulis bersama oleh kedua orang asing itu. Bisa dibeli di Toko Buku Xinhua. Jika aku tidak salah ingat, seharusnya hanya dijual 17,5 yuan. 17,5 yuan? Sistemnya merangkum berbagai metode aritmatika mental. Jika tidak percaya, kalian lihatlah sendiri. Dasar penipu. Para orang tua. Bukankah anak ini bilang ini buku bajakan?
Para orang tua, anak-anak suka sembarangan bicara. Aku jujur saja. Nak, kedua nama asing itu tidak pernah kudengar. Aku juga tidak kenal mereka. Kamu mengarangnya sendiri. Kamu sembarangan menyebut 2 nama asing, kamu langsung bilang bukuku ini bajakan? Kalau begitu, para orang tua di sini katakan saja 2 nama asing
Untuk menyangkal bukuku ini. – Iya. – Benar. Baik, kamu bilang pernah membaca bukuku ini. Kutanya padamu, berapa 13 pangkat 3? Jawab segera! Paman melihat aku masih kecil, jadi merasa meski aku pernah membacanya juga tak bisa ingat, ‘kan? Sayangnya ingatanku lumayan bagus. Tidak, tidak, tidak. Kamu bisa jawab tidak? Jawablah.
13 pangkat 3 sama dengan Dikali 13, kali (13+3) tambah 3 kali 3 kali 13 sama dengan 2197. Nak, ingatanmu sungguh bagus. Saat kamu membuka buku ini, kamu langsung bisa ingat soalnya. Aku sudah ingat. Kamu pernah beli buku ini. Ingat tidak? Kamu dan ibumu… Waktu itu kamu belum setinggi ini, kamu baru setinggi ini. Kamu sungguh licik, Nak.
Bukumu begitu mahal, kami tidak mampu beli. Kuberi tahu, aritmatika mental bukan hapalan. Para orang tua, kalian tahu kita akhirnya harus mempraktikkannya dalam hidup. Iya, iya. Begini, anak ini, ada banyak orang tua di sini, kita coba cari seseorang mengajukan sebuah soal. Kita berdua saingan, lihat siapa yang bisa menjawab cepat dan tepat.
Kamu berani tidak? Berani. Ini ide bagus. Kakak ini, ajukanlah sebuah soal. Aku? Baiklah, aku sembarangan memberi soal. Jangan sembarangan. Harus membuat soal yang sulit. Ini persaingan sesama IQ tinggi. Baik, aku membuat soal sulit. Sembilan ribu dua ratus sembilan puluh enam ribu enam ratus tujuh puluh lima dibagi 78, sama dengan berapa?
Sulit sekali. Gawat, Lin Zhaoxi. Kamu bisa menghitung tidak? Siapa suruh kalian sok? Jangan ribut! Jangan ribut. Nak, mau kuberi tahu jawabannya? Satu juta sembilan ratus ribu seribu delapan ratus tiga koma lima dua lima enam empat satu. Dia sungguh genius. Hebat sekali. Pei Zhi? Ini anak siapa? Kenapa tidak diurus? Kita sedang membahas matematika,
Kenapa kamu ikut campur? Pergilah bermain di samping. Kamu sudah mengeluarkan soal, supaya adil, selanjutnya aku yang keluar soal, kamu jawab. Kamu memberi soal, aku juga takkan menjawab. Kenapa tidak adil? Semua orang melihat, pihak ketiga keluar soal, itu paling adil. Dia sekongkolanmu. Sembarangan bicara. Kenapa ada yang sembarangan bicara lagi? Aku tidak mengenalnya.
Lalu kamu sekongkolan siapa? Kemari untuk menghancurkan reputasiku. Aku memberi soal. Seribu dua ratus tiga puluh empat… Kamu memberi soal apa? Apa kamu pikir jawabanmu tadi benar? Tidak mungkin salah. Kamu hitung pakai kalkulator atau kalian sudah berkolusi? Mudah sekali, tidak perlu begitu. Mau tidak aku tunjuk satu orang tua untuk memberi soal lagi?
– Boleh, boleh. – Masuk akal. Beri soal lagi. Beri satu soal lagi. Kamu gila, ya? Kenapa kamu jadi memarahinya? Anak siapa ini? Mana orang tuamu? Tidak ada orang tuanya? Aku bantu orang tuamu mengajarimu. Apa aku tidak bisa mengurusi kalian? Berhenti! Berhenti! Roti Kukus! Ayo! Kubantu orang tuamu mengajarimu! Berhenti! Dasar bocah. Berhenti! Berhenti!
Dasar bocah. Dasar bocah. Sudah bosan hidup, ya? Kenapa kamu lagi? Lin? Sudah kubilang, akan kupukul jika melihatmu. Dasar penipu. Aku pergi, tidak ada hubungannya denganmu. – Kenapa tidak? Ini daerahku, – Ayah! tidak ada hubungannya denganku? Kamu biarkan mereka keluar, – aku ajari mereka. – Ayah! Putrimu, ya? Jangan pedulikan putri siapa, cepat pergi.
Kalian sekeluarga suka menindas, ya? Siapa yang menindas? Dasar penipu. Waktu itu aku memukulmu, sudah lupa, ya? Pergi! Iya, Aula Anak-Anak adalah daerahmu. Sini, keluar kalian. Kenapa kalau keluar? – Aku sudah keluar, kenapa? – Aula Anak-Anak adalah daerahmu, keluarlah. Kuberi tahu, kupukul kamu jika melihatmu. Cepat pergi atau aku lapor polisi! Tunggu saja kalian.
Pergi. Bocah, tunggu saja! Kalian bertiga ingat ya. Kamu juga! Kenapa cerewet sekali? Cepat pergi! Lin Zhaoxi, ayahmu sungguh bukan guru. Ayahmu master seni bela diri. Kenapa kamu lagi? Jangan ikuti aku. Jenius Pei, bertahun-tahun tak bertemu, kamu tetap begitu keren. Setia kawan. Tidak seperti Lu Zhihao, menjauh sedikit, langsung tak kelihatan. Kita saling kenal?
Kita sudah melewati kesusahan bersama, benar, ‘kan? Kuperkenalkan sekali lagi. Namaku Ji… Salah, namaku Dang Aimin. Iya, Dang Aimin, panggilanku Roti Kukus, dari Panti Asuhan Hongxing. Pei Zhi. Pei Zhi, halo. Roti Kukus, halo. Bukan, kamu… Apa yang ingin kamu lakukan? Suatu hari nanti, aku akan berfoto, tapi aku akan memberitahumu dulu.
Kamu bisa datang begitu dipanggil? Tidak. Untuk apa aku berfoto denganmu? Karena kamu ayahku. Kamu, lagi-lagi… Bukan, Nak… Namaku Lin Zhaoxi. Lin Zhaoxi, kamu ingin mendapatkan apa dariku? Biaya asuh? Aku ingin kamu membawaku pulang. Mengantar pulang ke panti asuhan? Mudah sekali. Kupanggilkan taksi, ayo. Bukan, tunggu. Kenapa aku jadi yatim piatu? Kamu menelantarkanku?
Perasaanmu yang ingin punya keluarga, bisa kumengerti. Aku bersimpati. Aku terharu. Tapi, aku bukan ayahmu. Kamu ayahku. Kamu punya bukti? Apakah karena sama-sama marga Lin, kita jadi keluarga? Aku bermimpi panjang. Dalam mimpi, kita ayah dan anak. Jadi aku mengerti semua tentangmu. Mimpi? Bukti yang kuat. Tanyalah padaku. Anak ini… Baik, kutanya padamu.
Aku suka makan apa? Ayam. Benar, kamu pernah menyelidiki aku. Kamu bahkan tahu nama orang tuaku. Ayam bagian apa? Sayap ujung. Salah. Aku suka sayap tengah, ujung tidak ada daging. Aku suka main apa? Matematika. Matematika bisa dimainkan? Main catur. Kamu kira aku orang tua? Jujur saja padamu. Hobiku adalah motor, billiard, ke distotik
Dan berwisata. Bukan, bagaimana mungkin? Sejak kecil, kamu tidak pernah pergi ke Shanghai dan Guangzhou. Sejak kecil? Memangnya kamu mengenalku? Kuberi tahu. Bukan hanya pernah ke Shanghai, aku juga pernah bekerja di sana dua tahun. Aku coba bicara menggunakan dialek Shanghai padamu. Lihat saja, dialek Shanghai-ku sangat tepat.