I’ve Fallen for You | EP13【INDO SUB】 Sanqi bertekad untuk pergi| iQIYI Indonesia
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] I’ve Fallen for You Episode 13 Silakan masuk. Ayam Rebus Putih. Mengapa kalian berdua bersama terus? Bagaimana bisa investigasi bersama tidak berhasil? Bilang apa? Belakangan ini Nona Jinxin tidak nyaman kembali ke kediaman Zhao. Jadi aku sedang bujuk dia untuk pergi ke kediaman Bai bersamaku. Kebetulan untuk membantuku memeriksa bersama-sama
Adakah di Provinsi Utara kalian suatu kasus salah. Tidak, tidak, tidak. Tuan Muda Bai, aku masih tidak nyaman mengganggu kediamanmu, aku masih lebih baik tinggal di penginapan. Tidak masalah, tidak mengganggu. Nona Jinxin, kalau kamu tinggal di penginapan seorang diri, aku pun tidak tenang. Mari, atur sebuah ruangan untuk Nona Jinxin. Baik.
Sisi yang paling timur ini pun boleh, iya kan? Berarti di sebelah ruangan Tuan Muda. Cerewet. Aih, nak. Akhirnya kamu bangun. Terima kasih langit dan tanah, terima kasih Bodhisattva. Jinxin di mana? Eh? Jinxin, dia… Sekarang Nona Jinxin tidak ada di sini, berbaring dan beristirahatlah dulu. Tidak mungkin, aku baru saja mendengar suaranya.
Kamu salah dengar, aku yang terus mengurusmu di sini, dia juga belum pernah datang. Aku lelah, mau istirahat. Nyonya Muda, pulanglah. Tidak baik jika terlihat orang lain. Sst… kamu harus ingatkan dia selagi minuman masih panas. Nyonya Muda, Anda sudah katakan yang ke sekian kali, aku mengerti. Mari, minum obat. Tidak perlu.
Lagian aku bukan anak umur tiga tahun. Tidak perlu menyuapiku setiap saat. Kamu ada di siniku selamanya adalah sebuah toples kecil yang tidak akan bertumbuh besar. Kamu lihat, sekarang sakit lagi, kan? Aih… bagaimana tubuhmu? Mau tidak aku bantu kamu untuk keluar jalan-jalan? Tidak perlu. Maksudku adalah rumah medis terlalu sibuk, kamu tidak perlu pergi?
Setiap hari aku harus merebus obat untuk kamu, kemudian melakukan akupuntur demi kamu. Soal rumah medis, tidak dipedulikan dulu. Mengapa? Kamu salahkan aku karena setiap pulang, aku datang menempel padamu. Maksudku bukan begitu. Apakah kamu begitu sungkan terhadap He Jinxin juga? Aih… oh iya. Mengapa dia belum datang melihatku? Apakah terjadi sesuatu padanya?
Setelah kamu koma, dia datang mencariku. Kemudian dia memberitahuku untuk merawatmu baik-baik. Jadi, dia pergi ke kediaman Bai untuk tinggal. Tidak mungkin. Bagaimana bisa begitu? Iya juga. Hati Nona Jinxin sangat baik. Bahkan aku tidak tahu mengapa dikala kamu sakit, dia tidak datang mengunjungimu sekali pun. Sepertinya ada suatu hal yang penting
Yang ingin didiskusikan dengan Tuan Muda Bai. Aku lelah. Tuan Muda He. Bagaimana kamu masuk? Aku dorong pintu agar bisa masuk. Mungkin masuk menerobos tanah. Aku sudah kunci jendela, sudah periksa kolong bawah ranjang. Benar-benar lupa mengunci pintu. Ini kecerobohanku. Tuan Muda He, lukisanmu ini adalah Tuan Muda Bai. Belakangan ini aku ingin melukis,
Kemudian tidak tahu mau melukis apa. Jadi aku punya ide cemerlang. Aku lewati kamar Bai Yifei, aku lihat dia sedang latihan kungfu. Jadi, aku lukisnya. Kebetulan? Nona Jinxin, apa yang ingin kamu lakukan? Kebetulan? Berlatih kungfu, masih bisa kebetulan bertemu. Di mana kamu temui? Di pintu ruangan. Aih… dia itu sekurus ayam rebus putih,
Melihatnya pun menodai mataku. Aku lihat lukisan Tuan Muda Bai punyamu ini, seperti harimau ganas yang keluar dari gunung, bukan seperti Bai si Ayam Rebus. Bukankah aku ini mengasihaninya? Jadi kubantu dia mempercantik sebentar. Kamu masih… Tunggu. Kalau begitu, aku tanya kamu. Adakah kamu lihat suatu tanda lahir di pinggangnya? Pinggang? Tanda lahir? Tidak ada.
Bagaimana bisa tidak ada? Coba kamu pikirkan lagi dengan teliti. Sebuah tanda lahir berbentuk api merah. Merah? Kalau begitu pasti tidak ada. Kamu tidak tahu Bai Yifei sama sekali. Kulitnya bagus sekali, sungguh. Kulit seputih salju, halus seperti batu giok. Kulit seputih salju, halus seperti batu giok? Sebenarnya apa yang sedang kukatakan? Apa?
Kamu bilang layangan ini adalah milikmu? Ya. Kalau begitu, gambar di permukaan atas kamu yang gambar juga. Aku sendiri yang gambar. Tentu saja di pinggang Tuan Muda Bai tidak ada tahi lalat. Kalau begini, dia justru bukanlah kakak. Tapi bagaimana dia bisa tahu Totem dengan wajah meringis? Usia sepuluh tahun di tahun itu,
Aku memang sudah bertemu seseorang, dan buat kesepakatan dengannya. Sejak saat itu tetap bersama selamanya. Sebenarnya siapa orang yang diucapkannya ini? Tidak bisa, persoalan masih mencurigakan. Tapi dia tidak punya tanda lahir pasti bukan kakak. Kalau begitu, siapa sebenarnya orang yang mau kucari? Bagaimana bisa… Tian Sanqi, kamu, kamu, kamu masih mau serius tidak, untuk
Mencari kakak? Aih, tunggu. Pertanyaanmu banyak sekali. Kamu menyukai Tuan Muda Bai. Cih, kamu bilang apa? Aku melihat Tuan Muda Bai sama seperti aku melihatmu, semua adalah saudara baik, benar kan? Saudara? Benar. Tapi aku bisa beritahu padamu. Tuan Muda Bai di dalam hati gadis Provinsi Selatan dan Utara,
Adalah Tuan Muda terbaik yang cakap nomor satu. Begitu banyak gadis muda ingin menikah dengannya. Tidak percaya? Sekarang kamu ke jalanan untuk berteriak sekali saja, “Tuan Muda Bai, kemari.”, tentu akan banyak anak gadis yang berkerumun. Ah? Bai Yinfei ini menjual penampilan untuk menarik perhatian. Bukanlah orang yang baik. Untuk apa kamu kesal?
Aku tidak kesal, aku justru tidak suka dia karena menggunakan segala cara untuk dapatkan reputasi yang baik. Ini aku He Ruoyao belum hidup di sini. Jika aku di sini, pasti tidak ada yang bisa mengalahkan, takkan ada hubungan lagi dengan Bai Yifei? Apa yang kamu tertawakan? Ya, ya, ya. Tentu saja,
Kamu begini memandang rendah Tuan Muda Bai. Atau tidak, begini saja. Aku memberimu temu janji dengannya. Kamu berdua berkelahi, satu lawan satu. Baik. Lawan ya lawan. Aku justru mau bertarung dengannya. Tengah malam mengirim surat undangan. Mengapa bisa dari Nona Jinxin? [Hormat mengundang Anda untuk menikmati pemandangan di ladang bunga pinggiran kota Provinsi Utara besok.]
Undangan Nona Jinxin, aku tidak akan pernah tunda. Nona Jinxin… Bagaimana bisa jadi kamu? Nona Jinxin di mana? Apakah dia belum memberimu surat tantangan? Hari ini aku datang untuk duel denganmu. Duel? Tuan Muda He, kini aku tidak punya waktu untuk bercanda denganmu. Nona Jinxin di mana? Dia bilang di sana ada sebuah area pepohonan,
Cocok untuk perduelan kita. Kita tunggu di sana? Duel saja, untuk apa memilih tempat dengan pemandangan indah semacam itu? Kalau begitu, cepatlah pergi. Wah! Tidak disangka di luar pinggiran daerah ini masih ada pemandangan yang begitu indah. Aih… untuk apa kamu jalan terlalu cepat? Lagian di sini tidak ada binatang buas,
Masih takut ada orang yang menggigitmu. Cahaya lembut menutupi tubuh halus, dan warna menawan menghangatkan kulit halus. Hanya saja sayang pemandangannya dirusak seseorang. Ah? Kamu bilang apa? Oh. Aku bilang, cepatlah pergi. Jangan buat Nona Jinxin menunggu terlalu lama. Cih. Kepala batu, sedikit pun tidak punya rasa ketertarikan. Apakah di area pepohonan ini?
Aku juga belum melihat He Jinxin. Mengapa Nona Jinxin masih tidak datang? Benar, di area pepohonan ini. Apa sudah makan? Belum latihan pedang. Kata apa yang akan datang? Cuacanya bagus. Cuacanya bagus? Kalau begitu, aku undur diri dulu. Hah? Takut? Takut? Bagaimana bisa aku takut? Kalau begitu jangan seperti wanita yang lemah gemulai. Baik.
Hari ini aku biarkan kamu agar kalah dengan keyakinan yang tulus. Wah… Tuan Muda He, apa maksudmu. Indah sekali. Matahari terbenam indah sekali. Lihat matahari terbenam apanya? Tapi sedari kecil sampai besar, aku belum pernah melihat matahari terbenam yang seindah in isejak awal. Ah, bagaimana mungkin? Sungguh. Sebelumnya aku tinggal di
Halaman berdinding tinggi seperti itu. Ayahku pun tidak membiarkanku keluar rumah. Jadi, langit yang kulihat adalah semua yang dibatas. Awalnya “matahari terbenam tanpa batas, hanyalah menjelang senja” jadi merasa begini. Akan sukacita saat melihat keindahannya, juga terhadap keindahan yang mudah berlalu akan merasa ironi. Jadi, sesuatu yang paling mudah lenyap
Adalah yang paling layak untuk enggan berpisah. Kamu lihat, kupu-kupu. Benar-benar masih ada kupu-kupu di sini. Tuan Muda He, kamu mencariku. He Jinxin, apa yang terjadi denganmu hari ini? Tidak ikuti pertemuan kita yang sudah janji. Kalau begitu hari ini kamu sudah berkompetisi dengan Tuan Muda Bai atau belum? Belum, kamu belum datang,
Kami bahkan tidak punya saksi. Bertarung apa? Ah? Kalau begitu, kalian pergi ke mana? Kami pergi melihat matahari terbenam. Apakah kamu tahu? Aku sudah terlalu besar, belum pernah melihat matahari terbenam yang seindah itu sejak awal. Jadi, hari ini kerukunan kalian berdua masih terbilang menyenangkan. Masih bisa lah.
Bai Yinfei ini biasanya senang ceramah tatap muka, hari ini tidak seperti biasanya yang sangat tidak membuat orang tertarik. Jadi, hari ini dia membuatmu tertarik. Kamu, kamu bilang apa? Aku ini pria. Bagaimana mungkin? Nona Ruyao, kamu masih berpura-pura. Tidak. Kamu tahu? Hah… aku justru tahu sejak awal. Kapan kamu mengetahuinya? Di hari itu,
Kamu masuk ke dalam sungai permandian Tuan Muda Bai, aku sudah lihat. Lihat. Aku sangat memalukan. Itu. Apakah Bai Yifei dan Zhao Cuo tahu? Mereka tidak tahu. Aku pikir kamu berpakaian seperti pria, pasti kamu punya alasan. Jadi, belum beritahu mereka. Bagus sekali. Kamu benar-benar seorang yang baik.
Tapi aku masih punya pertanyaan yang sangat bikin penasaran. Kamu tentu saja seorang wanita. Kalau begitu, mengapa Tuan Pimpinan Kota mengutusmu yang seorang wanita untuk inspeksi tiap tanah? Karena Pimpinan Kota adalah Ayahku. Apa? Ayahku adalah Pimpinan Kota. Kalau begitu, aku undur diri dulu. Aih. Tian Sanqi, sebenarnya aku pun sudah tahu identitasmu dari awal.
Kamu adalah kakak iparku. Yang kakakku ingin mempersunting gadis Desa Shifang, yaitu kamu, benar, kan? Bagaimana kamu bisa tahu? Sebelumnya. Aktingmu pun terlalu buruk. Kamu bilang mau pergi ke keluarga Tian Desa Shifang. Aku jadi curiga, selain itu paman sepupu dan bibi sepupu, sebenarnya itu adalah keluargamu, kan? Kalau begitu, mengapa kamu tidak menyanggahku?
Tentu saja kamu memilih untuk lari dari pernikahan, lalu memakai identitas orang lain. Aku berpikir, seharusnya ada alasan. Dan juga, kamu terlihat bukan seperti orang jahat, jadi aku tidak katakan. Kamu baik sekali. Kelihatannya kamu juga seperti seorang yang baik. Ah, tidak. Masih kamu yang lebih baik. Sudah baik, pintar juga. Ah, tidak ada.
Kamu bukan hanya pintar, tapi sangat cantik mempesona tanpa batas. Tidak secantik kamu. Menyebalkan. Benci. Kamu yang paling cantik. Baiklah. Sudah berlalu. Diterima. Tapi, aku punya sedikit rasa penasaran padamu. Kamu bilang, wanita yang ingin menikah dengan kakakku dari awal justru antri di luar kota kabupaten. Bagaimana kamu justru tidak pikirkan? Masih lari dari pernikahan.
Kamu tidak ingin menjadi istri Tuan Muda Pimpinan Kota? Aih… tapi kakakku seorang pimpinan di suatu kota di masa depan. Orang lain ingin, aku malah tidak ingin. Seorang pimpinan kota yang tidak pernah ditemui justru bukanlah cinta di dalam hatiku. Aku ingin mengejar takdir hidupku. Ya, begini pun bagus. Kakakku juga tidak ingin menikah.
Alasannya sama denganmu. Dia bilang dia juga ingin mencari takdir hidupnya. Tapi aku masih sedikit khawatir. Kamu bilang aku sendiri bersembunyi di luar juga bukanlah suatu cara. Di sini bukannya ada aku ya? Tenanglah, kamu bertindaklah sederhana untuk pergi mencari takdir hidupmu. Paling-paling, saat aku kembali melapornya, akan bilang “Kamu sudah mati”. Sungguh?
Kamu terlalu baik. Tenanglah, aku pasti akan bantu kamu menjodohkanmu dengan Tuan Muda Bai. Apa? Siapa yang mau bersamanya? Apakah kamu tidak mau? Berarti, aku tidak jodohkan. Aih… mau. Aku masih mau. Bantulah aku. Kamu bikin mual. Menyebalkan. Bantu aku tidak? Bantu aku tidak? Nona Sanqi ini. Tunggu dia datang,
Aku pasti harus interogasi dia baik-baik bahwa mengapa tidak datang hari ini dan membiarkanku dengan Tuan Muda He menunggu begitu lama. Tuan Muda Bai. Nona Jinxin, mengapa tidak datang hari ini? Maaf, awalnya ingin mencari kalian berdua untuk bersenang-senang, tapi Pejabat Kantor Resmi Pemerintahan di sana tiba-tiba memberitahuku kalau ada hal mendesak,
Jadi aku tidak pergi, akulah yang salah. Baik, tidak apa-apa. Urusan publik lebih mendesak. Karena hari ini tidak bisa pergi, bagaimana kalau besok kita janjian untuk menikmati bunga di Paviliun Shili saja. Sungguh? Kebetulan aku punya ide ini. Kalau begitu sekarang aku pergi beritahukan kepada Tuan Muda He. Baik. Tuan Muda He?
Bagaimana bisa jadi kamu? Nona Jinxin di mana? Dia tidak datang lagi? Jinxin? Dia tiba-tiba berkata kalau di Gerbang Kabupaten Provinsi ada kasus yang mau diperiksa, jadi aku datang sendirian. Baiklah, tolong beri jalan. Hei, kamu pergi begitu saja? Aku berjanji mau berikan pada Jinxin lukisan pemandangan di Shili ini. Aku tahu, Bai Yinfei,
Kamu pasti takut, takut lebih memalukan dariku, benar tidak? Lihatlah, hanya aku seorang saja yang melukis pemandangan Shili ini dan membuat Nona Jinxin melihatnya dengan tatapan baru. Lukisan Tuan Muda Bai juga bukan hebat, biasa saja. Ada kemampuan, berikan aku punyamu untuk kulihat. Silakan! Memang lumayan, jika dibanding denganku,
Masih jauh kekurangan banyak kemampuan Zhao Cuo. Marah ke siapa? Siapa Zhao Cuo? Kamu itu yang seperti Zhao Cuo. Hah! Biar kamu narsis. Kamu ini, dikalahkan aku, jadi merusak karya lukis orang lain. Tercela. Merusak, merusak, merusak. Bagaimana? Kamu memukulku? Bai Yifei, kamu pasti mati! Hari ini aku tidak akan membinasakanmu, aku bukan bermarga He.
Di bawah aturan Tuan Besar He Provinsi Utara, sungguh bisa disebut dengan perdamaian dunia, orang-orang hidup dan bekerja dengan damai. Aku masih dengar-dengar Tuan Muda Pejabat Kantor Pemerintahan juga berpengetahuan luas, sungguh seorang yang sangat baik dan unggul. Tidak tahu hari ini aku entah bisa punya keberuntungan untuk bertemu dengan Tuan Muda Pejabat Kantor Pemerintahan.
Anakku keluar untuk pergi melukis. Lihat jam seharusnya sudah kembali. Kedua Tuan Muda yang datang dari kejauhan ini raut wajahnya lucu, riasannya tidak tahan untuk dipandang langsung. Agak… agaknya Tuan Muda Pejabat Kantor Pemerintahan bukan salah satu diantara mereka. Bagaimana mungkin? Tapi anakku. Ayah! Anda lihatlah awan berwarna yang memenuhi langit, cantik sekali. Ayah.
Kupu-kupunya ceroboh dan malas, bunga-bunganya berkembang dengan sengaja. Lihatlah taman ini, indah sekali. Kamu lihat di sini, pemandangan di tamanku indah sekali, cantik sekali. Aku pertunjukkan kamu sebuah pukulan Tai Chi. Lihatlah, bagaimana kungfu-ku sekarang? Kamu lihat di sini. Meskipun Tuan Muda He ini awalnya merasa menyebalkan,
Tapi bakat sastra dan seni bela diri lumayan bagus. Denganku pun hampir sebanding. Sebaliknya memang seperti latar belakang keluarga besarnya. Alat tenun terus menerus mendengungkan suara, dan Nona Mulan sedang menenun di pintu. Tak dengar suara alat tenun mendengungkan, hanya untuk mendengar gadis itu menghela nafas. Apa dapat membedakan, aku adalah pria atau wanita.
Menurutku, Tuan Muda He. Bagaimana? Jiwa telah diambil? Kamu bilang dalam beberapa hari ini, aku bersama terus dengan Bai Yifei. Tiba-tiba mau pergi, hati masih sedikit enggan. Kamu mau pergi ke mana? Aku ingin kembali ke ibu kota, melapor hal ini kepada kakakku dan ayahku. Tenanglah, aku tidak akan menghianatimu. Baiklah saudariku.
Kalau begitu saudariku, kamu… Saudari pasti membantumu terus untuk melihat Tuan Muda Bai, mutlak tidak akan biarkan dia mendekati wanita lain. Tuan Muda He, Tuan Muda He, apakah kamu ada? Mengapa Tuan Muda Bai memanggil di pintu Tuan Muda He? Tuan Muda He. Mencari Tuan Muda He? Nona Jinxin, apakah kamu melihat Tuan Muda He?
Sudah beberapa hari aku belum melihatnya. Belum. Aku juga belum melihatnya beberapa hari ini. Mengapa? Kamu merindukannya? Bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku merindukannya tanpa alasan? Aku tidak rindu. Oh, iya juga. Tapi mungkin dia tidak akan kembali lagi. Tidak kembali? Ya. Mengapa? Kamu lihat kediaman Bai ini, bukankah dikelola dengan baik oleh ayahmu?
Juga tidak ada kasus yang bisa dipecahkan. Begini. Ya, kalau begitu hari ini aku kirimkan surat lewat merpati menuju ibu kota, beritahu dia jangan datang lagi. Aku pergi. Aih… Jangan pergi. Tuan Muda, ada apa? Sepertinya ada orang yang membuat kebakaran Siapa? Siapa yang membuat kebakaran? Siapa yang membuat kebakaran? Sepertinya… kamu yang buat kebakaran?
Ya. Tuan Muda, kapan aku membuat kebakaran? Sekarang kamu tidak berbuat, tunggu nanti pasti berbuat. Aku… aku… bukan. Aku… bagaimana bisa aku membuat kebakaran di sini? Kamu mau buat. Bukan, aku… aku. Aku ini… Kalau begitu Tuan Muda, menurutmu di mana aku bakar? Kamu dengar yang kukatakan, jangan membantah. Tunggu dulu. Kamu ambil api,
Bakar ruang berkas, kemudian lari ke dinding mana saja. Kamu beritahu persoalan ini kepada Tuan. Ah? Pergilah, baik-baiklah. Bukan, Tu… Tu… Tuan Muda, aku. Tunggu apa lagi? Cepat pergi. Sekarang api sudah ditaruh, kasus sudah ada. Tuan Muda He seharusnya akan kembali. Ah. Api membuat langit jadi terbakar memerah, indah sekali. Ya.
Mengapa api pun sudah ditaruh, Tuan Muda He masih tidak kembali? Empat hari, Tuan Muda He sudah empat hari pergi. Aku ini mengapa? Mengapa jadi tidak tenang begini? Menghitung hari. Bagaimana bisa ada iringan musik? Kamu dekati aku selangkah perlahan. Kamu dekati aku selangkah perlahan? Merah sekali? Kalau ada pelangi, beritahu aku.
Cinta tulus akan datang. Apakah akan datang? Setiap detakan jantung, kamu melihat yang sebenarnya semuanya. Apa kebenaran sudah dilihat? Sorot matamu seperti kilauan bintang-bintang. Sejak setelah bertemu denganmu, cuaca hujan sepertinya mulai hibernasi. Setiap hari di duniaku selalu ada pelangi. Aneh, matahari pun tidak berlibur. Jantungku berdetak. Jantung berdetak kencang membolak-balikkan dunia.
Kamu mengangkat sebuah angin puyuh kecil untuk membawaku bepergian ke alam semesta yang besar. Apakah kalian punya persoalan lain? Tidak akan. Jika aku menyukainya, bagaimana bisa aku layak jadi para leluhur keluarga Bai? Tidak bisa. Aku harus mencari cara untuk memastikan sebentar. [Mandarin Duck Secret Spectrum] Mau buat apa? Serius sekali. Ya. Zhao Cuo,
Bagaimana kamu masuk kemari? Aku buka pintu dan masuk, atau tidak, aku menerobos lewat tanah. Aku sudah periksa jendela, sudah periksa kolong bawah ranjang, justru lupa kunci pintu? Benar-benar lalai satunya. Ah. Kamu hebat ya, kamu membanggakan jadi tuan yang jujur, juga tidak adil. Aku bukan, aku tidak ada. Kamu jangan omong kosong. Aih…
Semua sudah dewasa. Nanti aku kirimkan kamu yang baru. Edisi kamu ini terlalu tua. Bukan, aku tidak tertarik dengan wanita. Aih… aku bilang, aku tidak punya pikiran terhadap perempuan. Kalau begitu, aku beritahu kamu. Kamu boleh punya pemikiran dengan siapa saja, tapi kamu harus berani punya pemikiran terhadap Sanqi. Aku akan membunuhmu. Tentu saja.
Kalau begitu, baiklah. Itu… tubuhmu rapi sekali. Untuk apa datang ke kediamanku? Oh, iya, aku datang mencari Jinxin. Benar, benar. Jinxin! Jinxin! Nyonya, bukalah pintu dahulu, boleh ya? Nyonya. Sekarang lukamu tentu saja sudah membaik, aku jadi tenang. Sebelumnya, terima kasih telah menyelamatkanku. Kalau begitu, mengapa di beberapa hari ini kamu tidak datang melihatku?
Kamu justru tidak ingin melihat dengan matamu sendiri apakah lukaku benar-benar sudah baik atau belum? Kamu pergilah, nanti jangan lagi datang mencariku. Baik. Kamu boleh tidak pedulikan aku, kamu boleh tidak datang mencariku. Tapi, aku Zhao Cuo bagi kamu, apakah benar-benar tidak begitu penting? Ya, aku tidak peduli.
Aku pergi saja mencari orang yang benar-benar peduli padamu. Baik-baiklah terhadap Nona Xuewei, jangan datang lagi mencariku. Nyonya, kamu boleh tidak datang melihatku, kamu boleh tidak menanyakan kabarku. Selama kamu bisa membuka pintu, boleh ya? Nyonya. Kalau kamu memaksaku lagi, aku akan pergi dari sini. Baik. Batas waktu tiga puluh hari, seharusnya sudah sampai.