Dear Missy | EP33 | Shen Siyi akhirnya berdamai dengan ayahnya【INDO SUB】iQIYI Indonesia
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] Lu Ke, dengarkan aku. [Sebelumnya] Aku masih punya perasaan terhadap dirimu. Bisakah kau memberiku satu kesempatan lagi? Di antara kita berdua, sudah berakhir. Kenapa orang masih menyalahkanku? [Guan Yao menuduh Jia Xiao Ning melakukan Penjiplakan Desain.] Bukankah aku sudah mengklarifikasi semuanya tentang Jia Xiao Ning? You Zi, jika ada seseorang
Yang tiba-tiba mengatakan dia tak punya keterikatan atas dunia, menurutmu dia kenapa? Sudah kubilang, aku akan menjelajah dengan bersepeda. Bukannya mau bunuh diri. Kenapa kau menghentikanku? Kau boleh pergi, asalkan ajak aku denganmu. Sebenarnya Lu Ke lebih cocok dengan Zhang Mang daripada aku. Dia bisa mengajaknya bertualang. Membiarkan dia hidup lebih mandiri dan bebas.
[Dear Missy] Berbeda dari rombak penampilan sebelumnya. Setiap ruangan memiliki tema tersendiri. Misalnya tema nostalgia, dan tema perjalanan. Di era pencarian tren, kami menghadirkan hal-hal baru di sini. Hanya hotel yang punya karakteristik, yang bisa menarik kaum muda. Berapa banyak kamar yang akan kau ubah? Tiga puluh persen dari jumlah kamar di sini.
Tiga puluh persen. Xiao Yao. Kau mengubah ingin menargetkan pasar untuk anak muda, kami semua tidak keberatan. Tapi mengubahnya sekaligus, bukankah itu terlalu berisiko? Bagaimana kalau kita ubah sepuluh kamar dulu untuk menjadi perbandingan? Silakan lihat ini. Ini hasil survei yang dikumpulkan dalam enam bulan terakhir. Target kuesioner ini orang-orang di bawah 30 tahun.
Ini menunjukkan kebiasaan konsumsi dan daya beli mereka. Aku yakin kalian pasti akan mendukungku setelah membacanya. [Dear Missy, Episode 33 “Aku Rindu Makan di Rumah”] Proposal ini kelihatannya bagus. Bagaimana kalau Nouveau membantu publisitasnya? Kalau begitu aku harus lihat proposalnya dulu. Kau tidak bisa lewat jalur belakang. Bukankah kau sudah pernah melihatnya di Anji?
Wisma tamu berbeda dengan hotel. Baik, kalau begitu kau dipersilakan datang ke hotel. Aku berharap kita bisa bekerja sama ke depannya. Ini adalah kamar pertama yang kami ubah. Tema ruangan ini adalah nostalgia. Masuklah. Dinding bata ini seperti bercerita. Dinding ini sudah ada sejak dulu, tapi aku melakukan beberapa modifikasi dan penyamaran warna.
Lihat garis plester ini, aku tetap mempertahankan desain aslinya. Aku rasa kamar ini terasa berbeda. Ada sentuhan gaya klasik dan modern. Ini benar-benar melebihi ekspektasiku, Yao. Omong-omong, apa kamar ini sudah ada yang pesan? Belum. Tapi kami bekerja sama dengan Ctrip, kamar ini akan tersedia di platform mereka terlebih dahulu.
Aku rasa kamar ini akan populer nantinya. Aku tak tahu tentang itu, sebagai seorang desainer aku hanya berharap setiap tamu yang datang ke sini akan menyukainya. Bagaimana? Kita bisa bekerja sama, ‘kan? Pemred kami memujimu dari tadi, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Baik, tak perlu terburu-buru. Pertama-tama, aku harus mengundang kalian berdua untuk merasakannya.
Lupakanlah. Kau bisa langsung bertanya padanya, tak perlu pura-pura mengajakku. Tidak, aku tak ada maksud lain. Aku hanya ingin berterima kasih pada kalian karena mau mempublikasikan kamar ini di Nouveau. Bagaimana? Tuan Yao, bisa ke sini sebentar? Baiklah. – Aku pergi dulu ya. – Baiklah. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu sejak lama.
– Apa? – Bagaimana hubunganmu dengannya? Memangnya apa yang kau harapkan dari kami? Kalian berdua tak ada niat bersama lagi? Kau cemburu, ‘kan? Seriuslah sedikit. Aku serius. Aku rasa kalian berdua masih saling suka. Omong-omong, saat di Anji apa kalian berdua berhasil menghidupkan lagi api cinta kalian? Jujurlah padaku. Cukup bergosipnya.
Sekarang kau pikirkan tulisanmu tentang kamar ini, Nona Lu. Hentikan itu. Ini kue untukmu, Huang. Baiklah. Jangan salahkan aku. Pelanggan yang memesan ini. Lama tak bertemu. Ya, lama tak bertemu. Ini Xiao Yuan. Xiao… Ayo ikut Paman. Paman akan membuatkan sesuatu yang enak. Kalian mengobrol saja dulu. Kenapa kau kaget begitu?
Dia itu anak kakak perempuanku. Benar juga, waktunya tidak tepat. Duduklah. Bagaimana kabarmu? Aku baik. Kau? Ini lebih cocok dari yang kau beli saat itu. Setidaknya pekerjaannya cukup stabil. Selamat. Aku minta maaf dengan kejadian di masa lalu. Kau hanya minta maaf? Kau harus melakukan sesuatu untukku. Kalau begitu aku akan
Membeli sepuluh kue di tokomu. Hanya sepuluh? Kau harus membeli lebih banyak di tokoku. Sebenarnya, aku ingin berterima kasih. Sekarang aku bahagia. Kita harus bersama dengan orang yang tepat, ‘kan? Kapan pernikahanmu? Tanggal sepuluh bulan depan. Aku tak akan mengundangmu. Tapi kau tetap harus memberiku hadiah pernikahan. Tenanglah, aku akan memberikan hadiah yang paling besar.
Kalau begitu, aku pamit dulu. Xiao Yuan. Xiao Yuan. Xiao Yuan datang. Kita harus pulang sekarang. – Dia lucu sekali. – Terima kasih, Huang. Ayo, ucapkan sampai jumpa pada Paman. Sampai jumpa, Paman. – Sampai jumpa. – Sampai jumpa. Ayo. Menurutmu ini bagaimana? Menurutku kita bisa tempatkan di halaman depan untuk reservasi hotel. Bagaimana? Bagus.
Yang ini saja. – Baiklah. – Aku tutup teleponnya ya. Sampai jumpa. [Ye Zhou] Sudah kuduga, ternyata kau. [Apa kau akan datang hari ini?] Hari ini aku lembur, tak ada waktu. [Setiap ulang tahun Ayah aku selalu membujukmu, Kak.] [Apa kau tetap tidak datang?] Bagaimana lagi? Aku juga tidak tahan dengan temperamennya. Apa kau lupa?
Tahun lalu tepat di hari ulang tahunnya, tidak sampai sepuluh menit kami langsung bertengkar. [Kalau begitu datanglah karenaku.] [Kita berdua sudah lama tak bertemu, ‘kan?] Selamat bersenang-senang. – Sampai jumpa. – [Bukan begitu, Kak? Kak…] Ayah, hadiah dariku bagaimana? Bagus, bagus. Sangat pas di badan Ayah. Kenapa? Ayah belum membukanya, ‘kan? Sudah Ayah buka.
Aku tidak memberiku seragam Kendo Ayah, tapi sebuah gim. Akhir-akhir ini ayahmu sangat sibuk, jadi dia lupa. Aku tahu Ayah sangat sibuk. Tapi tetap harus mengikuti perkembangan zaman. Kalau begitu, setelah ini, Ayah harus membukanya. Aku akan ajari Ayah cara memainkannya. Baiklah. Ayo bersulang untuk ulang tahun Ayah. Semoga selalu sehat. Ayo angkat gelasnya.
Selamat ulang tahun, Ayah. Sehat selalu. Terima kasih. Omong-omong, bagaimana kabar kakakmu akhir-akhir ini? Dia baik-baik saja. Akhir-akhir ini sangat sibuk. Dia masih tak mau kembali? Bukan begitu. Dia benar-benar tak bisa datang kali ini. Tapi dia memintaku untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada Ayah. Aku serius. Ayah percaya. Mengundurkan diri? Kenapa?
Pemilik apartemen akan menaikkan uang sewanya. Jika aku tidak mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih besar, aku tak akan bisa menyewanya lagi. Memangnya naik berapa? Naik RMB 1.500. Itu tidak naik banyak. Itu kurang dari sepertiga gajimu. Kau juga tak pernah membeli barang mewah, lalu ke mana perginya semua uang itu? Tolong jangan bertanya lagi.
Katakan saja, aku akan menganalisisnya untukmu. Dengan begitu kau bisa berhemat. Kau ingat mantan pacarku? Pria dengan lengan besar itu? Dulu dia ingin membuka toko. Dia menggunakan kartuku untuk meminjam sejumlah uang. Sekarang aku harus mengembalikan RMB 5.000 setiap bulan. Apa dia sudah mengembalikan uang itu padamu? Belum. Tapi sekarang dia tidak punya uang.
Dia berkata akan membayarnya kembali saat punya uang. Apa kau percaya itu? Aku pernah lihat dia tidak membayar bir saat minum di sini dan itu sudah tiga kali. Dia itu punya sedikit kekurangan. – Baik, dia punya banyak kekurangan. – Ya. Tapi, aku juga tidak bisa meminta uang itu lewat telepon. Aku tak bisa melakukannya.
Lalu, apa rencanamu? Begini, Kak Fang mencarikanku pekerjaan baru. Bar itu ada di dekat sini. Mereka sedang mencari bartender. Gajinya juga lumayan. Tidak, tidak, tidak boleh. Tempat itu sangatlah menyeramkan. Tanpa aku di sana yang melindungimu, gadis kecil sepertimu akan habis. Aku khawatir. Terakhir kali bahkan aku yang menyelamatkanmu, bukan dirimu.
Bagaimana kalau aku menaikkan gajimu? Tawaranmu ini tidak akan berhasil. Terakhir kali, kau sudah menaikkan gajiku. Bagaimana bisa aku berhutang budi padamu lagi? Dan juga, akhir-akhir ini penjualan di bar ini tidak terlalu bagus. Bagaimana aku tega? Benar juga. Karena bar akhir-akhir ini sepi, jadi aku berencana untuk menutupnya lebih malam. Memperpanjang waktu bukanya.
Itu artinya, kau harus bekerja lembur. Kau akan dibayar untuk itu. Sudah. Jangan membahasnya lagi. Selain itu, aku juga bukan mengundurkan diri hari ini. Bos. Tolong menunya. Aku pergi dulu. Baik. Dulu saat aku dan Wang menonton pertandingan sepak bola, kami selalu bertengkar. Sekarang tidak lagi. Tidak akan ada pertengkaran, sungguh membosankan.
Keluarganya tak tahan dengan temperamennya, tapi kau menikmati pertengkaran dengannya. Kehidupan Wang itu tak pernah menemui kesulitan. Tapi dia tak melihat putrinya, saat ajalnya menjemput. Sayang sekali. Ye. Apa kau bicara dengan Si Yi akhir-akhir ini? Apa gunanya mempunyai anak perempuanku seperti itu? Sulit sekali untuk bertemu dengannya. Si Yi memang keras kepala.
Tapi bagaimana kau akan tahu jika kau tak mencobanya? Aku tidak yakin soal itu. Dia persis seperti diriku saat masih muda. Ye. Saat kau salah, kau harus mengakuinya. Apa harga dirimu begitu penting? Harga diri bisa dibawa sampai liang lahat? Hasil evaluasi dari pembaca minggu ini sudah keluar. Kalian bisa melihatnya lebih dulu.
Aku rasa tanggapan pembaca cukup bagus. [Ye Qing Feng] [Si Yi, biskuit yang dibawa pulang Ye Zhou enak. Di mana kau membelinya?] Menurutku, formatnya tidak perlu terlalu besar. Seperti terakhir kali saja. Maaf, aku harus menjawab telepon ini. Ye, kau ini kenapa? [Si Yi.] [Aku jatuh.] – Bagaimana bisa? – [Saat aku mengambil buku,]
[tiba-tiba aku pusing dan jatuh.] [Kakiku rasanya mati rasa.] – Bibi Wang di mana? – [Dia baru saja keluar.] [Aku mencoba meneleponnya, tapi tidak diangkat.] [Aku sendirian di rumah sekarang.] [Baik, aku akan ke sana sekarang.] Ayah. Ayah, kau baik-baik saja? Bangun. Kau tidak pergi bekerja? Kenapa kau kembali? Menambah kekacauan saja.
Aku dengar kau jatuh. Kau membuatku ketakutan. Kakakmu yang memberitahumu, ‘kan? Dia bilang apa padamu? Kenapa bukan dia saja yang ke sini? Dia di sini. Ayah, ternyata kau sudah baikan. Aku akan pergi sekarang. Aku masih ada urusan. Begini, aku memang terjatuh, tapi tidak terlalu serius. Apa ini menyenangkan? Bukan begitu maksud Ayah.
Aku hanya ingin kau menengokku. Ye. Kau ini sebenarnya mau apa? Ayah tidak ada maksud apa pun. Hanya merindukanmu, itu saja. Aku ingin kau pulang dan menengokku. Apa itu sulit? Baiklah. Aku sudah kembali dan juga menengokmu. Aku akan pergi sekarang. Akhir-akhir ini kau kenapa? Tidak menjawab panggilan Ayah, pesanku juga tidak dibalas.
Kau seharusnya membalas jika Ayah mengirimkan pesan lewat WeChat. Kau harus pulang. Aku akan balas jika aku mau. Ayah belum selesai bicara. Baru-baru ini Ayah menemukan. Di dekat perusahaanmu, ada banyak makanan enak. Ayo kita buat janji dulu untuk makan bersama lain kali. Akhir-akhir ini aku tak punya waktu. Aku benar-benar sibuk. Baiklah.
Yang penting jaga kesehatanmu. Dulu, Ayah sepertimu bahkan lebih sibuk darimu sekarang. Walaupun begitu, kesehatan itu nomor satu. Iya, ‘kan? Kau juga. Kalau tidak, mungkin kau akan benar-benar jatuh. Bila itu terjadi, kau akan bagaimana? Kau bisa menelepon Ayah kapan saja. Jika kau mengalami kesulitan dalam pekerjaanmu, katakan saja pada Ayah. Mungkin Ayah bisa membantumu.
Menurutmu, bukankah dia itu kekanak-kanakkan? Dia mencoba menipuku agar aku pulang. Sebenarnya kalian berdua itu mirip. Sama-sama memiliki ide tak terduga seperti itu. Aku mirip dia? Jadi kau ingin berdamai dengannya? Aku tidak bilang begitu. Kalau kau tak ingin berbaikan dengannya, tak peduli berapa pun panggilan yang dia lakukan. Kau tak akan pergi.
Kau bahkan langsung pergi mendengar dia terjatuh. Tindakanmu itu sudah cukup membuktikan kau ingin berdamai. Sebenarnya, aku iri denganmu. Iri kenapa? Kau pasti tahu, ayahku sudah meninggal sejak lama. Aku bahkan tidak punya bayangan tentang dia. Tapi ibuku selalu menceritakan sosok Ayah seperti apa. Walaupun setiap kali membahasnya, ibuku akan sangat sedih.
Tapi ibuku akan tetap membahasnya. Kau tahu apa alasannya? Kenapa? Ibuku hanya takut aku akan melupakan ayahku. Saat Ayah meninggal, aku masih terlalu kecil. Jadi, tidak ada memori tentangnya. Tidak peduli seberapa keras aku memikirkannya, tak ada kenangan tentangnya di pikiranku. Bagiku, Ayah di foto itu hanyalah orang asing. Sedangkan kau berbeda.
Kau akan selalu ingat kenangan antara kau dan ayahmu. Entah itu cinta atau benci, semua itu terbentuk karena interaksi antara kalian berdua. Aku tahu, sebenarnya kau masih sangat peduli padanya. Tidak. Jika tidak, kenapa kau begitu sedih seperti itu? Baik, cukup. Berhenti membahasnya. Sekarang ayo kita makan. Hui, keluarlah. Halo. Kau ini… Huang. Benar, Huang.
Aku mengingatmu. Kenapa kau ke sini? You Zi akhir-akhir ini mengalami kesulitan ekonomi. Bukankah kau harus mengembalikan uangnya? Aku pasti akan mengembalikannya. Lihat peralatan baru ini. Kak. Bagaimana kalau kau membawa tamumu padaku? Jika bisnisku lancar, bukankah aku akan cepat mengembalikan uangnya? Iya, ‘kan? Silakan keluar. – Berhenti di sana. – Ada apa lagi?
Jika kau tidak mengembalikan uangnya hari ini, aku juga tak akan pergi dari sini. Baik, begini saja. Aku akan memberimu surat utang. Selama itu masih ada, aku pasti akan mengembalikan uang You Zi. Apa kau serius? – Sedang apa kau? – Tangkap dia. Bukankah tadi kau bilang akan memberiku surat utang? Buka bajunya. Ayo mulai.
Tusukkan jarum itu padanya. Lepaskan aku. Tusukkan, benar seperti itu. Kau ini baru selesai mandi atau sudah akan pergi? Bisakah kau membantuku? Ada apa? Tunggu sebentar. Apa yang kau lakukan? “Aku berhutang pada You Zi RMB 100.000.” Huang, kau sudah gila ya? – Apa ini tato sungguhan? – Jangan mengusapnya. Menjijikkan, kau sekarang punya tato?
Ini tato dengan pena. Kau masih beruntung tidak menggunakan alat tato sungguhan. Kalau mereka melakukannya, tato sebesar ini bukankah akan sakit sekali? Pergilah, pergilah. Jangan beri tahu You Zi. Kalau kau memberitahunya, akan kupukuli kau sampai mati. Aku berjanji tak akan mengatakannya. Kau jangan berdiri saja seperti orang bodoh. Pikirkan solusinya. Aku tidak bisa membersihkannya.
Sini kau. Ayah akan memandikanmu. Jangan mencelaku. Biarkan aku memotretnya sekali saja, setelah itu baru kau bersihkan. – Menyingkirlah. – Satu foto saja. Satu kali saja lalu kau mandi. Ayah. – Kau mau pergi? – Aku baru saja kembali. Ye Zhou, kemarilah. Apa kau pernah melihat foto ini? Ini siapa? Kakakmu. Kakakku? Saat itu
Mungkin usianya belum genap satu tahun. Saat itu dia suka sekali telanjang seperti ini. Kami sampai berlarian untuk mendandaninya, tapi dia tetap tak mau pakai celana. Bukankah dia saat itu sangat konyol? Kakakmu itu tidak konyol. Kau bahkan belum lancar bicara saat usia empat tahun.
Sedangkan dia usia dua tahun saja sudah bisa berargumentasi dengan Ayah. Benar-benar pintar. Ya, aku tahu. Dia yang paling pintar. Sedangkan aku bodoh. Bukankah foto ini lucu? Ada apa dengannya? Kenapa dia cemberut? Apa temperamen buruknya itu sudah ada sejak kecil? Saat itu, jangan salahkan dia. Tapi, salahkan Ayah. Memangnya ada apa?
Ayah mengajaknya naik roller coaster saat itu, sangat menyenangkan. [Si Yi,] [apa kau senang hari ini?] [Ya, Ayah.] [Lalu, ayo kita main bom bom car.] [Kau mau es krim?] – [Mau.] – [Baik, tunggu di sini.] [Jangan ke mana-mana.] Kupikir saat itu dia ingin makan es krim. Jadi aku membelikannya. [Es krim vanilanya satu.]
[Baik, terima kasih.] [Qing Feng?] Di sana aku bertemu dengan seorang mantan kolega. – [Kebetulan sekali.] – Aku hanya bicara sebentar… [Kau ke mana saja selama beberapa tahun ini?] Tapi saat kutengok ke belakang, kakakmu sudah tidak ada. [Si Yi.] Aku yang khawatir mencarinya ke mana-mana. [Si Yi.] [Si Yi.] [Si Yi.] [Si Yi.]
[Dia di mana?] [Si Yi.] [Si Yi.] [Si Yi.] [Si Yi.] [Kenapa kau di sini?] Aku melihatnya duduk sendirian di kursi. [Ayah tadi bertemu teman lama,] [bukankah itu kebetulan yang aneh?] Kakakmu ini, dia tidak menangis. [Lihat Ayah, lihat.] – [Kau sedih ya?] – Ayah merasa bersalah padanya. Jadi Ayah bilang padanya, Ayah bersalah.
Tapi, Ayah tidak bermaksud meninggalkannya. Ayah bilang hanya bertemu teman lama, kami mengobrol satu-dua patah kata. [Ayo lihat Ayah, senyum.] Dia tetap diam, juga tidak menangis. Ayah ingin menghiburnya, jadi mengambil fotonya saat itu. Sebenarnya Ayah tahu. Meskipun dia tidak menangis, tapi sebenarnya dia sangat ketakutan. Bukankah ayahmu ini sangat buruk? Ayah, jangan bilang begitu.
Kau senang sekali hari ini. Ada kabar baik untukmu. Aku tidak akan pergi dari sini. Hui sudah mengembalikan uangnya? Bagaimana kau tahu? Aku asal menebak saja. Kemarin dia menemuiku. Lalu, dia melunasi semua utangnya padaku. Apa dia tidak bilang alasannya mengembalikan uangmu? Ya, dia bilang. Dia bilang melunasi hutang itu kewajiban.
Seorang pria tidak boleh menggunakan uang wanitanya. Hanya itu saja? Ya. Sejujurnya, aku cukup kaget. Pria seperti dia, walaupun banyak kekurangan. Tapi sebenarnya hatinya cukup baik. Dan juga, dia bertanya padaku untuk memberi satu kesempatan lagi. Kau mau? Tidak. Tapi, aku berjanji untuk makan malam dengannya hari ini. Aku sudah terlambat, aku pamit ya.
Terima kasih, Bos. Tidak, tunggu… Dulu karena alasan pribadi, aku meninggalkan semuanya di sini. Tapi, aku merindukan kalian, jadi aku kembali. Yao! Karena itu, dalam acara hari ini, aku ingin mengajak kalian semua untuk mematikan lampu selama sejam. Berikan padaku. Bukankah kau sedang kencan? Tidak jadi. Kenapa? Apa kau benar-benar tidak tahu? Tahu apa?
Kau sudah tahu semuanya? Terima kasih, Huang. Terima kasih telah melakukan banyak hal untukku. Tak apa. Itu bukan apa-apa. Apa kau sudah menghapus kata-kata itu? Bolehkah aku melihatnya? Sudah lama kubersihkan. Sekarang sudah tidak ada. Tunjukkan padaku. Benar-benar sudah hilang. Kulitku sedikit sensitif, jadi, dihapus sedikit saja langsung seperti ini. Kenapa kau melakukan ini untukku?
Karena… Karena kita teman, ‘kan? Teman? Tapi, teman pun ada banyak macamnya. Sebenarnya aku… Beri aku bir hitam lagi. Lima, empat, tiga, dua, satu. [Shen Si Yi] [Sayang, aku tidak nafsu makan hari ini. Jadi, aku tidak akan datang.] Bersulang. Yao. Kau sangat memahami Shen Si Yi, jadi apa kau punya solusi untuknya?
Ini soal ayahnya? Kuberi tahu ya, masalah ini aku tak bisa membantumu. Kau harus minta bantuan pada Ye Zhou. – Ayo, kita bersulang. – Ayo, kemari, kemari. Terima kasih, Bos. Kak, menurutku kau sudah baik dari sebelumnya. Kau harus berduel dengan Ayah. Jadi, kau datang hari ini untuknya lagi? Apa aku ketahuan lagi?
Kalau begitu kembali dan katakan padanya, sudah cukup. Sampai kapan pun, aku tidak akan memaafkannya. Aku menemuimu, bukan untuk membicarakan soal kau dan Ayah. Aku curiga sepertinya Ayah berselingkuh. Kenapa kau tertawa? Dia bukannya memang selalu seperti itu? Aku sama sekali tidak terkejut. Aku cukup terkejut. Bagaimana kau tahu?
Dia berjanji akan ke perusahaan bersama Ibu. Tapi sama sekali tak pernah melakukannya. Lalu suatu hari, karena aku penasaran aku pun mengikutinya. Aku melihatnya bersama seorang wanita, keduanya berbicara dan tertawa sangat akrab. Mereka berjalan memasuki gang, sudah seperti ini selama seminggu. Lalu, apa rencanamu? Tak tahu. Kalau itu aku, masalah ini akan kubiarkan saja.
Benarkah? Ye Qing Feng memang seperti ini dari dulu. Sifatnya ini tak akan bisa diubah walaupun sudah tua. [Ye Zhou] Berikan aku alamatnya. Aku akan mengikuti mereka. [Hati-hati, jangan sampai kau ketahuan.] Tenanglah. Sekarang kau bicara seperti ini pada kakakmu? Mereka ke mana? Aku akan mencari mereka dulu, aku tutup ya. Benar, benar.
Kita akan mencobanya. Bagus. Oke, di sini, kemarilah. Baiklah. Tuan Ye, ayo kita coba. – Bagus. – Ya, ‘kan? Terima kasih. Sama-sama. Kalau begitu, hati-hati di jalan Tuan Ye. Kenapa kau di sini? Aku ke sini menemui teman. Di salon? Kau ingat Wang, pekerja di perusahaan? – Putranya… – Ye. Jika kesehatanmu buruk, katakan saja.
Apa yang kau tutupi dariku? Kesehatan Ayah? Ayah baik-baik saja. Ayah bahkan bermain kendo dua hari yang lalu. Adikmu itu kalah lagi dari Ayah. Bagaimana kalau kau bermain kendo denganku sekali? Jika kau memenangkannya, aku akan memaafkanmu. Apa kau berani? Baiklah, ayo kita lakukan. Sampai jumpa di Dojo Kendo pukul delapan besok pagi.
Jika kau berubah pikiran, bilang saja. Tidak. Ayah pasti ada di sana besok. Lihat dirimu ini. Sebenarnya apa yang kalian berdua bicarakan? Tidak ada. Jangan mengelak, katakan saja. You Zi bertanya tentang hubunganku dengannya. Lalu, kau bilang apa? Aku belum sempat mengatakannya karena ada pelanggan tadi. Ini tidak benar. Seorang gadis telah menunggu lama
Untuk mengatakan hal ini dan kau malah pergi? Tapi, aku jadi ragu. Untung aku belum mengatakannya. Bagaimana bila dia tidak pernah tertarik padaku? Lalu, aku harus bersikap seperti apa padanya? Lao Huang, kau ini… Kau ini sangat hebat dalam urusan hubungan orang lain, tapi kenapa kau bingung dengan urusanmu sendiri? Menurutmu, aku harus apa?
Cepat mengakulah. Tidak, bagaimana bisa aku mengaku padanya? Apa mungkin dengan cara seperti ini? You Zi, apa kau mau jadi kekasih bos di sini? Itu bisa. Tidak, aku tidak bisa mengatakannya. Kau ini… Kau ini pengecut. Tapi ada cara lain. Cara lain apa? Apa kau ingat dulu ada seseorang yang menggunakan coding untuk menyatakan perasaannya?
– Seseorang dari kelas sebelah. – Benar, itu dia. Kalian berdua bicara apa bisik-bisik seperti ini? Tidak, tidak ada. Apa ini akan berhasil? Jika kau masih ragu, Hui akan mengambilnya darimu. Cepatlah. Semangat! Huang. Kenapa TV ini tiba-tiba mati? Huang. [Aku pembohong, aku selalu bilang aku tidak mencintaimu.]
[Sebenarnya, aku telah memikirkanmu sejak pertama kita bertemu.] [Izinkan aku untuk memberitahumu bahwa aku mencintaimu.] Huang. You Zi. Kenapa kau bersembunyi di sini? Apa coding di layar TV itu, kau yang menulisnya? Kau melihat semuanya? Ya, aku melihatnya. Tapi, aku tidak mengerti. Tidak mungkin. Aku menggunakan coding dalam bahasa Mandarin.
Aku tidak mengerti karena aku memikirkan sesuatu. Mungkin kau harus memberitahuku secara langsung. Secara langsung? Kau bohong? Aku? Sejak kapan? Dari pertama kali aku melihatmu, aku langsung menyukaimu. Bagaimana? Kau terlambat. Ada apa? Kau takut aku tidak akan datang? Aku bilang pasti akan datang. [Ayah.] [Ayah.] [Ayah.] [Si Yi.] [Si Yi.] Si Yi. Maafkan Ayah.
Ayahmu ini… Kau tak bisa mengalahkanku hari ini. Jadi, ayo bertemu lagi minggu depan. Aku sudah lama tidak makan di rumah. Aku mau jus, bukan kopi. Maaf, aku akan membuatkan lagi untukmu. Terima kasih. Bukankah kau paling suka kopi di sini? Hari ini, aku sedikit mual. Aku akan memberi cuti sakit. Tidak perlu, tidak serius.
Kau makan saja dulu. Aku mau ke kamar mandi. [Kalender Menstruasi] [Episode Berikutnya] Lu Ke hamil. Lu Ke, menikahlah denganku. Aku bahkan tak mengerti, kenapa kau mau menikahiku? Jangan beri tahu apa pun pada Shen Si Yi soal hal ini. Aku hanya tidak ingin dia tahu. Apa paspormu ada di perusahaan? Kita mau ke mana?
Tokyo. – Bukankah dia itu… – Tolong simpan ini untukku. Hei, aku menemukan mereka. Lari, Shen Si Yi. Berhenti di sana. Karena kalian sangat dekat, mari kita berkendara bersama.