Dear Missy | EP31 | Shen Siyi pergi ke Anji untuk melihat Yao Yuanchengnan【INDO SUB】iQIYI Indonesia

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [Pekan Desain Shanghai] Melihatmu dan Shen Si Yi [Komunitas Impian Desain] [Sebelumnya] aku sering teringat diriku yang masih muda saat baru memasuki industri ini. Sebenarnya selama sebulan terakhir. Shen Shi Yi banyak membantuku dengan banyak hal di Pekan Desain. Aku akan kembali. Aku harus bersiap-siap, bukan? Shi Yi, selamat datang kembali.

Paman Ye, aku dan Ye Zhou. Kami berdua berada dalam hubungan yang setara. Aku tak ingin dia berkorban demi aku. Atau melakukan apa yang tak dia sukai. Sekarang aku sangat yakin. Aku tak menyukai pekerjaan ini. [Dear Missy] Aku ingin mengundurkan diri. Xiao Tian, kenapa kau ke sini? Tuan Ye. Beri kami kesempatan lagi.

Shihu sangat membutuhkan pesanan itu, aku mohon. Berbisnis bukanlah beramal. Untuk hal ini, aku tak bisa membantu. Tuan Ye, aku mohon. Pabrik keluarga kami akan bangkrut. Ayahku cemas sampai masuk ICU. Kami tak punya cara lain lagi. Paman Ye, Paman Ye. Aku mohon. Xiao Tian. Aku turut berduka atas apa yang terjadi pada keluargamu.

Bagaimanapun, tak ada kontrak untuk masalah ini. Tak ada kontrak, secara hukum perusahaan kami tak akan ada hutang apa pun pada kalian. Xiao Tian. Xiao Tian. – Tian. – Apa yang kau lakukan? – Apa yang kau lakukan? Letakkan! – Tenanglah! – Letakkan pisau itu. – Mundurlah! Xiao Tian, jangan gegabah.

Kita bisa memikirkan jalan keluar bersama. Jalan keluar? Jalan keluar apa? Ayahku kini berbaring di rumah sakit. Katakan padaku, cara apa yang kupunya? – Ayah. – Xiao Tian. Hari ini, kalian berdua harus menyelesaikan masalah ini! Kalau tidak, aku… Xiao Tian, dengarkan aku. Aku masih coba mengamankan pesanan itu. Sungguh. Sebelum kau datang,

Aku dan ayah baru saja membicarakan pesanan itu. – Ya. – Ada cara untuk menyelesaikannya. – Dia benar. – Segera terpikirkan caranya. – Kau harus tenang, tenang. – Ya. – Masih ada ruang untuk negosiasi. – Ya, letakkan pisaunya. – Letakkan pisaunya. – Letakkan! Sebentar lagi akan terselesaikan, percayalah padaku. Letakkan. Tuan Ye, ada apa?

Jangan mendekat! Jangan mendekat! Jangan mendekat! Bagus, mundur. Letakkan pisaunya dulu, aku barusan… Kau membohongiku. Kau membohongiku! Lepaskan aku! Lepaskan aku! Lepaskan aku! Ye Zhou, tanganmu. [Dear Missy, Episode 31, “Aku Akan Menunggumu Di Shanghai”] Apa kita perlu lapor ke polisi? Tidak perlu, ini semua hanya salah paham. Bantu aku antar dia ke rumahnya saja.

Baik. Maafkan aku. Jangan bicara begitu. Aku yang seharusnya minta maaf dulu. Kami tak seharusnya meminta kalian mulai pengerjaan tanpa kontrak. Apa pesanan itu masih ada harapan? Aku akan berusaha mendapatkannya. Baiklah, aku pergi. Apa tanganmu masih sakit? Tidak. Kulit yang tergores. Ayah. Hari ini Xiao Tian tersulut emosi. Xiao Tian.

Aku juga melihatnya tumbuh besar. Aku tak menyalahkannya. Memang seharusnya aku yang disalahkan atas masalah ini. Mungkin seperti yang kau katakan. Aku terlalu ingin sukses dengan cepat. Apa itu berarti kontrak Shihu masih bisa dinegosiasikan? Tidak. Namun, aku berencana berinvestasi ke pabrik mereka. Terima kasih, Ayah. Ini tak ada hubungannya dengan Bai Xiao Tian.

Murni karena aku merasa pabrik mereka sangat bermanfaat bagi rantai Industri Qing Feng kita. Sekarang aku akan memberi tahu Xiao Tian. Kau jangan buru-buru dulu. Aku sudah menyuruh orang untuk menyusun kontrak. Aku juga sudah memberi tahu Shi. Bagaimana keadaan Paman Shi? Dia sudah dipindahkan ke bangsal umum. Sepertinya tak ada masalah besar.

Dua hari lagi aku akan menjenguknya. Syukurlah. Ye Zhou. Temani Ayah minum. Hari ini, bisa dibilang cobaan bagi kita berdua. Mari kita bicarakan isi hati kita. Kau sangat ingin kembali menjadi Polisi. Menjadi polisi itu menderita dan melelahkan. Kondisi keluarga kita tidak buruk. Sebenarnya apa yang kau cari? Ini harus ditanyakan padamu. Apa maksudmu?

Apa kau ingat ketika aku berulang tahun yang ke tujuh, kau membawaku pergi menonton film? Di pinggir rumah lama di Suzhou. Bioskop di tepi sungai itu. Aku tidak ingat. Film yang kita tonton berjudul New Police Story. Aku ingat Jackie Chan di situ berperan sebagai polisi yang kuat dan keren.

Setelah menonton itu, kau berkata padaku kita harus seperti polisi yang ada di film itu. Harus kuat. Tak boleh menyerah saat menghadapi masalah besar. Setelah itu, Guru menyuruhku untuk membuat karangan. Judulnya adalah, “Impianku.” Aku menulis, impianku adalah menjadi Polisi. Impian anak tujuh tahun kau anggap serius. Waktu kecil aku juga ingin menjadi Jenderal.

Sebenarnya, banyak anak laki-laki yang ingin menjadi polisi. Namun, hanya beberapa saja yang bersikeras. Waktu itu, aku juga tak berpikir panjang. Namun, setelah tumbuh dewasa. Aku menyadari aku bisa mewujudkan mimpi ini. Aku harus berterima kasih padamu dan Ibu. Kalian menjagaku dengan sangat baik. Tak membiarkanku merasakan tekanan hidup. Bisa terus, hidup dengan bahagia.

Aku bisa menjadi diriku sendiri. Setelah aku mengerti hal ini, aku lebih bertekad untuk menjadi polisi. Karena aku ingin melindungi lebih banyak orang. Aku ingin mereka punya kesempatan seperti aku, bisa melakukan apa yang disukai. Ye Zhou. Karena kau tak mau melepaskannya, kalau begitu cobalah lagi. Namun, kali ini kau harus melakukannya dengan baik.

Kalau tidak, aku bisa memutuskan hubungan ayah dan anak denganmu. Kau datang. Kenapa kau memesan banyak bir? Untuk merayakan keberhasilanku keluar dari masalah. Apa kau lupa akan ada tes fisik? Tak apa, jangan khawatirkan tubuhku. Kau berlagak, ya? Sudah lama kau tak latihan. Sekarang kau harus bersiap. Kecuali malam ini saja. Tidak boleh. Mundur.

Huang, lain kali kau tak boleh menjual bir kepada Ye Zhou. Ini bar. Kalau tak jualan bir, lalu jualan apa? Jual dirimu saja. Apa isi tas besar ini? Ini. Aku membuat rencana belajar untukmu. Mulai besok, satu, tiga, lima. Politik dan bahasa Inggris. Dua, empat, enam. Kelas Jurusan. Lalu, hari Minggu latihan fisik.

Harus minta izin kepada Guan Yue dalam keadaan apa pun. Ini bukan ujian nasional. Tak perlu diatur begitu ketat. Masalahmu ini lebih serius dari ujian nasional. Guan Xiao Yue. Aku tak menyangka orang yang tak punya rencana sepertimu mampu membuat rencana yang sangat rinci. Cinta memang luar biasa. Mau minum susu? Rendah lemak.

Bagian Dapur, buatkan Ye Zhou segelas susu. Cepat. Cepat. Aku tak kuat lagi. Bisa, tidak? Satu putaran lima menit. Dalam identifikasi balistik, apa yang termasuk dalam peluru dan selongsong? Jejak tembakan dan tanda dampak. Lari lagi dua putaran. Aku sungguh tak sanggup lari lagi. Beri aku hadiah. Nanti setelah kau lari.

Apa saja metode larutan nitrat yang sangat efektif untuk pengembangan sidik jari laten? Kertas tipis, bahan bambu dan kayu. Ye Zhou. Semuanya benar, hebat. Aku beri hadiah apel. Ini, buka mulut. Enak, tidak? Guan Yue, sini! Ini. Xiao Yao, ke sini. Xiao Yao, lihatlah. Pertumbuhan tahun ini lebih baik dari tahun kemarin.

Kalau begitu, segera kita tandai saja. Tidak perlu. Kita gali dua ini saja. Kau tak menunggu mereka tumbuh besar? Kau tak mengerti. Rebung tak boleh terlalu lebat. Jika lebat, bambu ini malah tak tumbuh dengan baik. Harus diberi jarak supaya tumbuh dengan baik. Ayo, kita gali. Ini. Ambil. Sudah sampai. Terima kasih, Tuan Gu.

Xiao Yao. Jangan lupa malam ini pulang makan rebung segar. Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu. Terima kasih, Kak. Terima kasih, Kakak. Jangan lari. Kau berubah. Oh, ya? Berubah seperti apa? Aku tak bisa menjelaskannya. Namun, kau yang dulu takkan mengembalikan bola itu kepada anak kecil. Kalau begitu, kau juga berubah.

Kau berubah seperti orang lokal sini. Jadi, apa alasanmu mengunjungiku? Jangan berpikir terlalu jauh. Aku datang ke sini bukan khusus menemuimu. Aku ada perjalanan bisnis di Hangzhou. Kebetulan bebas sehari hari ini. Aku tahu kau sibuk. Aku dengar kau kembali ke Nouveau lagi. Kau banyak tahu juga. Aku menjalankan bisnis wisma tamu, bukan dalam pengasingan.

Bawa aku melihat wisma tamu milikmu. Jangan buru-buru, ayo makan dulu. Tuan Gu memasak rebung segar. Siang tadi kami menggalinya dari gunung. Tuan Gu? Siapa dia? Aku lupa memperkenalkannya padamu. Tuan Gu adalah seorang pengrajin lokal. Khusus dalam produk bambu. Beberapa hari aku tidur di rumah mereka. Nanti aku akan membawamu ke sana. Baiklah.

Hati-hati anak tangga. Bangunan ini peninggalan Tuan Paman Gu, yang merupakan cendekiawan besar. Memiliki sejarah seratus tahun lebih. Ini salah satu bangunan tertua di sekitar sini. Bangunan yang tua sekali. Apa tak bahaya ditinggali? Semua konstruksi dari cemara China. Namun, memang waktunya sedikit lama. Jadi, ada sedikit masalah.

Aku sudah menelitinya. Selama diperkuat tak jadi masalah. Sayang sekali. Kenapa? Ada resor yang akan dibangun di sekitar sini. Rumah ini juga dalam area perencanaan. Sudah waktunya dibongkar. Pada saatnya nanti, Tuan Gu harus pindah. Xiao Yao, waktunya makan. Aku datang, Tuan Gu. Ayo makan. Ini lauknya, kalian makan dulu. Masih ada lagi. Cobalah rebungnya.

Dan juga pakis gunung, kau pasti belum pernah memakannya. Masakan Tuan Gu enak, ‘kan? Tak heran kau makan dan minum enak tiap hari. Aku juga tak malas-malasan. Terkadang aku membantu Tuan Gu. Kau juga bisa bertani? Tuan Gu yang mengajariku. Dia serba bisa. Kursi bambu yang kau duduki dan beberapa anyaman itu.

Dia sendiri yang membuatnya. Kalau begitu, kau buatkan aku satu. Aku ingin, tapi aku tak tahu dasar menganyam. Saat kau bermain gitar, tak terlihat begitu bodoh. Sudah lama aku tak memainkannya lagi. Aku ambilkan nasi. Ini. Ini. Ini ayam kampung kami di gunung. Cobalah. Tuan Gu. Berapa lama Yao Yuan tinggal di sini?

Sekitar setengah tahun. Aku dengar, rumahnya di Shanghai. Memiliki hotel. Saat dia datang kemari, Aku pikir dia tak akan tinggal lama. Tinggal sehari dua hari langsung pulang. Aku tak menyangka dia bisa tinggal sangat lama. Dan lagi, berteman dengan kami. Mungkin di tempatmu, makanannya enak dan menyenangkan. Jadi, dia tak ingin pergi.

Syukurlah kalau memang begitu. Xiao Yao orang yang baik. Aku harap dia tinggal dengan bahagia. Kau rasa dia tak bahagia? Itu belum pasti. Aku merasa, terkadang dia melamun sendirian. Seperti ada beban di hatinya. Aku ini orang udik. Tak mengerti apa yang dia pikirkan. Ayo. Makanlah. Masih ada lauk lagi, aku akan mengambilnya. Baik.

Ternyata ini wisma tamu yang selalu ingin kau buat? Lumayan, ‘kan? Sangat bagus. Jauh lebih bagus dari konsep yang kau tunjukkan sebelumnya. Masih banyak hal yang belum selesai. Namun, tak masalah. Akan ada selanjutnya. Kau berencana terus tinggal di sini? Tak kembali ke Shanghai? Hatiku tenang di sini. Bisa sepenuh hati bekerja.

Aku dulu tak tahu apa yang akan kulakukan. Sebenarnya bukan tak tahu. Namun, aku merasa… Tak berani menghadapinya. Menghadapi apa? Menghadapi diri sendiri. Juga banyak hal. Termasuk perasaan. Dulu, saat mengalami kesulitan aku akan berkata pada diriku. Sebenarnya kau tak begitu mau. Kenyataannya aku takut gagal. Tak mungkin. Kau dulu mengejar banyak gadis.

Kapan kau pernah gagal? Waktu itu aku tak mengerti apa pun. Sekarang berbeda. Malam ini aku tidur di kamar yang mana? Kamarnya banyak, terserah pilih yang mana. Jika yang aku pilih kamarmu, bagaimana? Aku bercanda. Yang ini saja. Yang ini? Aku juga suka kamar yang ini. Kamar ini menghadap gunung, bisa melihat fajar.

– Selamat malam. – Selamat malam. Kau makan ini? Apa kau sedang diet? Ini untuk Ye Zhou. Dua hari lagi dia tes fisik. Aku membuatkan makanan sehat setiap hari untuknya. Jadi, kau juga menemaninya makan? Ya, sebagai contoh. Boleh juga, Guan Xiao Yue. Ternyata kau memiliki sisi perhatian juga. Bagaimana, bukankah aku ini bisa diandalkan?

Ya, ya. Aku bangga padamu. Omong-omong, aku dengar… Shen Si Yi pergi mencari Yao Yuan. Si Yi pergi ke Hangzhou untuk urusan bisnis. Sekalian pergi ke Anji untuk melihatnya. Mereka berdua tak mungkin kembali berkencan, ‘kan? Guan Xiao Yue. Kau sudah punya pacar. Kenapa kau masih cemburu? Tidak. Aku hanya rindu Yao.

Dia sudah lama tak pulang. Beri dia waktu lagi. Yao mungkin tampak riang. Sebenarnya dia cukup sensitif. Kita lihat sebelah sana. [Tanggal 14, Tes Fisik] Koki Guan. Kita makan seperti ini sudah setengah bulan lebih. – Bagaimana kalau hari ini makan enak? – Tidak boleh. Hari ini hari terakhir, kau harus menahannya. Aku sudah menghitungnya.

Kalorinya pas. Apa kau tak pernah dengar memuaskan diri dengan harapan palsu? Yang paling penting bukan kau makan apa. Yang terpenting imajinasinya. Lihatlah. Bukankah brokoli ini mirip kue teh hijau? Lihatlah dada ayam ini. Mirip ayam goreng, bukan? Tidak. Ini enak. Guan Yue, kau sedang apa? Ayam goreng ini sepertinya basi.

Bukannya kau bilang sayuran itu sangat enak? Aktingmu bagus sekali. Kau kenapa? Perutku sakit. Kau kram perut setelah makan? Ayo pergi ke rumah sakit. Kapan kau membelinya? Kenapa kau makan begitu saja? Apa yang kau lakukan? Sudah bangun? Kenapa kau masih di sini? Aku menemanimu. Jangan pedulikan aku. Cepat pergi tes fisik sana. Sudah selesai.

Kau melewatkan tes fisik? Ini salahku. – Kenapa aku makan sangat serakah? – Apa yang kau lakukan? Apa ada ujian susulan? Tidak ada. Kita sudah menyiapkannya untuk waktu yang lama. [Sertifikat Lulus] Lihatlah. Kau lulus? Ya, kau tahu? Demi segera menemuimu, aku memecahkan rekor dalam 1.500 meter. Kau masih saja menggodaku, dasar.

Siapa suruh kau tak bisa mengontrol mulutmu ini? Awalnya aku ingin sekali saja bisa diandalkan, tapi aku mengacau lagi. Jangan sedih. Selama kau ada di sampingku, itu yang paling bisa diandalkan. Apa informasimu itu tak salah? Tunggulah. Sabarlah saja. Bos. Seperti biasa, mie ayam. Baik, baik. Beri kuah sedikit banyak. Boleh, baiklah.

Dia kelihatannya sangat ramah. Pergilah. Semangat. Halo, Tuan Wang. Kau siapa? Namaku Yao Yuan, aku seorang arsitek. Aku ingin bicara masalah rumah tua milik keluarga Gu. Jalan Wuyi, kota Nanxun. Kau tahu Tuan Gu, ‘kan? Rumah tua mereka berada dalam rencana hotel kalian. Apa itu rumahmu? Bukan, aku hanya menumpang. Begini.

Namun, rencana pembangunan daerah itu, semuanya sudah ditetapkan sekarang. Semua skema kompensasi telah disahkan. Jangan salah paham. Aku bukan… Baik. Aku tidak menentang pembangunan hotel ini. Aku hanya merasa… Rumah tua itu tak perlu dibongkar. Karena rumah itu bukan rumahmu, kenapa kau peduli itu dibongkar atau tidak? Pertama, aku merasa rumah tua ini sangat bersejarah.

Kedua, eksterior dan desainnya sangat khas. Jika, warnanya. Dan juga strukturnya. Konsep desainnya dengan hotelmu banyak kemiripan. Lihatlah warnanya. Warna ini ada di… Tuan Wang. Halo. Aku temannya Yao Yuan. Namaku Shen Si Yi. Ada apa ini? Kalian bersama? Ya. Sebenarnya, temanku ingin mempertahankan rumah itu karena ada alasannya. Sama seperti alasanmu menyukai mi ini.

Bagaimana? Lihatlah. Jika kau lain kali datang ke sini, lalu tahu bahwa warung ini ganti, kau pasti sangat kecewa. Karena ingatanmu tentang kampung halaman semuanya ada di sini. Sama dengan Tuan Gu. Kenangan Tuan Gu berada di rumah itu. Jika rumah itu dibongkar, sudah pasti dia akan kecewa. Lalu, apa ide kalian berdua?

– Lihatlah. – Tak apa, Tuan Wang, silakan makan dulu. Setelah makan, kita ganti tempat untuk bicara. Boleh, boleh. – Kita makan bersama. – Boleh, boleh. Aku sudah melihat proposalmu. Rumah kuno yang telah direnovasi sebagai balai pelatihan seni dan kerajinan rakyat. Langsung dimasukkan ke dalam area resor. Ditambah Tuan Gu adalah pengrajin.

Nak, idemu bagus juga. Kau terlalu memuji. Kau dari Shanghai, berapa lama kau tinggal di sini? Kenapa kau bisa mengerti dengan rumah keluarga Gu? Sudah setengah tahun lebih. Meski aku bukan orang asli sini, tapi ini sudah menjadi rumah keduaku. Setiap tanaman di sini meninggalkan kenangan indah untukku.

Namun, aku masih muda, masih banyak waktu mengumpulkan lebih banyak kenangan baru. Namun, untuk para orang tua berbeda. Jika suatu saat rumah itu tak ada. Ingatan mereka tentang daerahnya pun menghilang. Memalukan. Sebenarnya, tujuan awalku membangun hotel ini juga untuk membuat kampung halamanku lebih baik. Namun, aku tak terpikirkan hal yang penting ini.

Lalu, menurutmu rumah tua Keluarga Gu… Bagaimana kalau kita kerja sama? Aku pikir wisma tamu yang kau kerjakan sangat menarik. Aku ingin kau membantuku membuat desain renovasi rumah keluarga Gu, – bagaimana? – Tentu saja tak masalah. Terima kasih. Terima kasih juga. Kuberikan padamu. Terima kasih. Lucu sekali. Aku dengar dari Yao, kau menyukai bunglon.

Benar. Setelah kau datang, Xiao Yao jadi lebih senang. – Benarkah? – Sedang membicarakan apa? Dia sedang memujiku. Lihat. Lucu, ‘kan? Aku sudah bilang, kerajinan Tuan Gu bagus. Kau mau kembali? Ya, aku sudah tiga hari di sini. Kalau tak kembali, Lu Ke mengira aku kabur lagi. Kau berangkat pukul berapa? Pukul tiga.

Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Jalan ini lumayan susah dilewati. Kenapa masih belum sampai? Sebentar lagi sampai setelah melewati gunung kecil ini. Pemandangan di sana sangat indah. Kau pasti tak akan menyesal. Omong-omong. Si Yi. Kemampuan berenangmu bagus, tidak? Lumayan. Ada genangan air di depan, airnya lumayan dalam. Kita harus melewatinya. Kau bercanda? Tidak.

Aku kembali. Aku bercanda. Aku juga bercanda. Ini “air terjun” yang kau bilang? Terakhir kali aku datang tak seperti ini. Tak masalah. Udaranya bagus. Hebat, hebat. Air terjun tak ada, kau juga tak bisa melempar batu di atas air. Kau punya rencana apa lagi? Masih ada… banyak hal yang ingin kulakukan. Aku punya mimpi.

Aku harap bisa melihat semua air terjun di dunia dengan mata kepalaku sendiri. Di dunia ini banyak air terjun. Bahkan jika kau melihat satu tempat sehari, kau tak akan selesai melihatnya. Kalau begitu, lihat satu per satu. Lagipula, masih banyak waktu di kehidupan ini. Memberikan diri sendiri banyak kejutan. Bukan hal yang buruk.

Kau masih akan kembali ke Shanghai? Ya. Tentu saja aku harus kembali. Janji, ya? Aku menunggumu di Shanghai. Cheng Nan. Aku. [Data Shudi] Halo, aku Cheng Nan. Cheng Nan. Lulusan Jurusan Komputer Universitas Fudan. Riwayat hidupmu bagus. Lulus dari sekolah yang bagus. Kenapa datang melamar kerja di perusahaan kami? Perusahaan memberi gaji tinggi.

Apa di sini boleh tak datang ke kantor? Boleh, selama kau memiliki komputer. Di mana pun boleh. Apa gajinya boleh dibayar per hari? Boleh. Baiklah, akan aku lakukan. Qiang. Lain kali beradablah. Jangan membuat orang lain merasa kau orang jahat. – Mengerti? Lemah lembut sedikit. – Ya, ya. Baiklah. Aku sudah bilang, semangatlah.

Tuan Cheng, sudah pulang, ya? Tuan Cheng, kau tak memedulikan hidupmu. Makanan ayam lagi? Sedikit demi sedikit, mau sampai kapan mengembalikannya? Begini saja. Aku juga tak akan menyusahkanmu. Tuan Yang sudah bilang. Jika kau memberikan hak paten identifikasi gambar kepadanya. Tak hanya hutang yang tak perlu dikembalikan, tapi kau juga menghasilkan banyak uang.

Tolong katakan kepada Tuan Yang. Aku bisa mengembalikan uang itu. Beri aku beberapa hari lagi. Aku tak bisa memberikan hak paten itu. Kau tidak rela? Lihatlah, kau sudah seperti ini. Apa kau merasa bisa bernegosiasi? Apa yang harus kukatakan kepada bosku jika membawa uang yang sedikit ini? Laptop itu lumayan. Pasti itu berharga.

Apa yang kau lakukan? Jangan menyentuh barangku, berikan padaku! Apa yang kau lakukan! Apa yang kalian lakukan? Terima kasih, Bos. Sampai jumpa minggu depan. Ada apa sebenarnya? Pulang pun kau tak mengabariku. Apa kau masih menganggap aku ini sahabat? Akan kukembalikan uangmu beberapa hari lagi. Memangnya sekarang aku membicarakan uang? Berdasarkan level pemrogramanmu,

Kau bisa mendapatkan pekerjaan dengan amat mudah. Kenapa kau harus hidup seperti ini? Tak tertarik. Lalu, apa rencanamu selanjutnya? Terus hidup seperti ini? Kau tak usah pedulikan aku. Kalau aku tak peduli, lalu siapa? Cheng Nan, hidup ini tak ada satu pun yang tak pernah mengalami hal memalukan. Kita bisa mulai dari awal lagi. Huang,

Terima kasih kau sudah datang. Aku baik-baik saja. Kalau tak ada hal lain, silakan pergi. Halo, Ayah. Di mana Ibu sekarang? Apa yang dikatakan Dokter? Ada apa? Apa yang terjadi? Rumah sakit bilang, di dekat jantung ibu tumbuh tumor. Itu menekan arterinya. Ayah tak tahu bagaimana lagi, jadi dia menghubungiku.

Aku sudah bilang, jika ada masalah bilang padaku. Selalu saja paling akhir mengatakan kepadaku! Tenanglah. Di mana Bibi sekarang? Di kampung halamanmu? Jika dia di sana, rumah sakit di sana tak memadai, dia harus dibawa ke Shanghai. Huang. Apa kau punya kenalan dokter di Shanghai? Jangan cemas, aku akan bertanya dulu.

Pasti tak ada masalah. Masih ada Yao. Kita punya banyak teman di Shanghai. Pasti tak masalah, kau tenanglah. Baiklah. Maaf, Huang. Aku mau pulang dulu. Hubungi aku jika kau sudah dapat kabar mengenai rumah sakit di sini. Baiklah. Lu Ke, Ibuku mengira hubungan kita masih baik. [Episode Selanjutnya] Jadi, saat kau menjenguknya

Bisakah kau tak membiarkan dia tahu yang sebenarnya? Chang Nan tak pernah bilang ke ibunya kalau kami berdua sudah putus. Hatiku tak pernah melepaskanmu. Apa bisa memberiku kesempatan? [Desainer Furnitur Guan Yue Menuduh Jia Xiao Ning Menjiplak] Mengapa masih ada yang menuduhku berbohong? Bukankah aku sudah menjelaskan tentang Jia Xiao Ning?

Aku khawatir masalah ini terus berkembang menjadi tak terkendali. Cheng Nan. Cheng Nan! Menurutmu, jika ada orang tiba-tiba tak peduli pada dunia, dan kecewa dengan dunia. Menurutmu, dia kenapa? [Penjelajah Menghilang di Area Petualangan Terkenal]