Dear Missy | EP16 |【INDO SUB】iQiyi Indonesia
[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] – Dia pasti menyukaimu. – Bukan urusanmu. [Episode Sebelumnya] Jika kau mau berkencan dengannya, jangan lupa memberitahuku. Dia mengajakku pergi ke Pulau Dongji untuk berlibur. Bagus juga. Aku menolaknya. Kenapa dia juga di sini? Bagaimanapun, dia kakakku. Cepat atau lambat, kalian pasti bertemu. Aku pacaran denganmu, bukan pacaran dengan kakakmu.
Aku menyadari Guan Yue lumayan juga. Tentu saja. Lihat, dia mengikutimu saat kau mengkritik orang. Aku tak tahu orang seperti apa yang mampu mengendalikanmu. Orang seperti itu belum lahir. Sepertinya, kau tak bisa mendapatkan nomor ponselku. Akun WeChat juga boleh. Kita bicarakan itu lagi saat kau menang. [Dear Missy] Ayo. Kapan kau membeli mobil ini?
Ini mobil baru milik perusahaan. Yang namanya memulai usaha tiap hari berada di luar. Merepotkan jika tak ada mobil. Di mana Cheng Nan? Kenapa dia tak datang? Katanya teman. Perusahaan sedang sibuk pindahan beberapa hari ini. Itu kacau. Sudah bagus aku bisa menjemputmu. Perusahaanmu akhirnya pindah dari rumahmu? Tentu saja.
Kami tidak bisa terus bekerja di rumahku. Jika aku bertemu dengan seorang gadis yang kusuka, itu pasti tidak nyaman. Kau selalu melajang. Gadis dari mana? Kali ini, kau tinggal berapa lama? Masih tak tahu. Kau tak perlu mengurus B&B milikmu itu? Itu bahkan tidak akan dibangun. Ada apa? Ada masalah? Tidak juga, hanya masalah keuangan.
Aku kembali kali ini untuk menyelesaikan masalah dana. [Episode 16: Kalian Adalah Dua Spesies Berbeda] Yang namanya bisnis hotel, tak mungkin tanpa hambatan. Waktu itu, demi menemukan pemasok dengan biaya efektif, aku pergi ke pabrik mana pun di Guangdong untuk membandingkan barang. Alhasil, aku nyaris ditangkap karena disangka penipu. Sudahlah, jika memang tak bisa,
Gadaikan saja rumah kita. Bu, tidak perlu. – Aku bisa mengatasinya. – Kalau begitu jangan lesu begini. Cepat makan. Omong-omong… Beberapa hari lagi, kalau kau ada waktu, temani Ibu bertemu Paman Wen dan Bibi Liao. Mereka terus membicarakanmu. Kebetulan, kau juga bisa menghilangkan kepenatan. Kau sudah beli? Ayo. Bukankah kau akhir-akhir ini sedang menyiapkan
Bahan untuk pekan desain? Kenapa kau tiba-tiba ingin ke akuarium? Aku ingin mencari inspirasi di situ. Aku ingat waktu itu konsep lampu lantaimu cukup bagus. Ada orang lain yang sudah membuatnya di luar negeri. Bagaimana dia bisa tahu idemu? Dia menjiplak milikmu. Dia sudah mulai produksi massalnya, sedangkan aku baru menggambar. Menjiplak apanya?
Dan lagi, desainnya tampak sangat berbeda dengan milikku. Kalau begitu tak ada masalah, kan? Dia mengerjakan miliknya, kau lanjutkan punyamu. Beres, kan? Apa kau tahu? Di dunia desain, orang pertama yang meluncurkan konsep yang sama adalah genius. Yang kedua adalah orang biasa saja. Jadi, meskipun aku meluncurkannya, tak ada yang akan mengakuiku.
Aku harus memikirkan ide lain. Sepertinya, dunia desainer cukup kejam. Tentu saja. Kau kira aku bermain-main setiap hari? Ayo. Bagaimana? Kau menemukan inspirasi? Kau kira mencari inspirasi itu semudah makan? Sampai di sini langsung makan? Aku memang tak mengerti perihal desainer. Bagaimana kalau kau lihat lagi? Apa yang kau lakukan? Kau memandangi ikan, aku memandangimu.
Dasar bodoh. Bagaimana? Bagus, sangat bagus. Hanya saja, aku rasa konsep baru ini memiliki khas tersendiri, juga dibuat dengan sangat baik. Dan untuk gaya ini, cocok dengan idenya, dan sangat khas. – Kau sedang menghafal kamus? – Lalu ini… Bagaimanapun, ini bagus. Lupakan. Aku jelaskan padamu.
Apa kau ingat melihat sekumpulan ikan saat kita ke akuarium hari itu? Semacam memiliki keanggunan alami. Mengalir dalam gelombang air. Apa kau ingat? Perasaan mengalir itu yang kucari. Aku membuat beberapa konsep desain berdasarkan itu. Kau mendengarkanku tidak? Maaf. Aku bekerja sif malam dua hari ini. Lanjutkan bicaramu. Aku mendengarnya. Bukankah siangnya kau istirahat?
Siang hari terlalu berisik akibat ada perbaikan di dekat rumahku. Aku tak bisa tidur. Kalau begitu, tidurlah sebentar. Aku tak akan berisik. Tak masalah, tak perlu. Bukankah kau harus menghadiri – seminar? – Benar. Desainer itu, Jia Xiao Ning. Dia sangat hebat. Aku membuat konsep desain untuk kuperlihatkan padanya.
Kau tahu, dia itu Daniel Wu di dunia desain. Dia sangat tampan, tapi juga sangat berbakat. Kau tahu Penghargaan Red Dot Design? Dia mendapatkannya beberapa kali. Dulu, kompetisi luar maupun dalam negeri sering menunjuk dia menjadi juri. Kau tahu kompetisi desain yang akan aku ikuti? Jika dia bisa memberiku masukan,
Aku pasti bisa mendapatkan nilai bagus. Jika dia membantuku menyebarkannya di Weibo, aku akan terkenal. Kau mengerti, tidak? Lakukanlah dengan baik nanti. Jangan membuatku malu. Baiklah, tak masalah. Serahkan padaku. Aku akan membantumu mendapatkan Jia Xiao Ning. Menggambar dengan tangan adalah hal yang selalu aku tekankan. Karena membuat desain tak ada tanda titik.
Selamanya hanya tanda koma. Setiap konsep baru, setiap elemen yang digunakan, tak berhenti berkembang. Juga murni dan merupakan sebuah hasil. Yang perlu kau lakukan adalah tak henti mengambil beberapa elemen ini, menabrakkannya dengan ruang, mengomunikasikannya dengan waktu. Ini adalah beberapa gambaran tangan awal milikku. Aku selalu menyimpannya. Tentu saja, jika dilihat sekarang,
Pasti ada beberapa tempat yang tidak memuaskan. Tapi terkadang ini memberiku inspirasi baru. Setelah kau secara sadar membangun hubungan ini, rasa ingin meneruskan karya kreatif akan terus tumbuh secara alami. Koma yang kukatakan tadi mulai terus menulis kisahnya sendiri. Lihat lagi beberapa gambar berikutnya. Apa yang kau lakukan? Aku hanya merasa
Saat kau mulai serius seperti ini kau mirip seperti penjual pelindung layar di pinggir jalan. Aku ingat, waktu kecil mereka berdua sering bermain bersama. – Bibi Liao. – Ya. Ibu. Maaf, aku datang terlambat karena ada sedikit urusan. Tak masalah. Anak muda seharusnya fokus ke karier. Hanya dengan begitu mereka bisa memiliki masa depan.
Xiao Yuan, ini Xin Xin. Kalian berdua ketika setinggi ini pernah bermain bersama. Ya, itu benar. Aku ingat. Xin Xin dari kecil belajar di Prancis. Dia berpendidikan dan berpengalaman. Kalian berdua pasti kalian memiliki banyak pembicaraan yang sama. Xin Xin. Cepat sapa Kak Yao Yuan. Halo, Kak Yao Yuan. Halo. Ayo kita ke sana. Baiklah.
Kenapa Ibu mengatur kencan buta untukku lagi? Aku hanya memperkenalkan teman untukmu. Mengobrollah yang banyak. Ibu juga harus bicara dulu padaku, ‘kan? Kalau aku bilang, memangnya kau akan datang? Xiao Yuan. Kau ini sudah berumur. Ibu sudah ingin menimang cucu. Bu, jangan khawatir, aku bisa mencarinya sendiri. Yang kau cari itu,
Mana ada yang pacaran denganmu lebih dari setengah tahun? Lihatlah betapa hebatnya Xin Xin. Dia anggun dan sopan. Gadis seperti itu yang bisa dinikahi dan nantinya menjalani hidup dengan baik. Ayo, pergi dan mengobrollah dengan dia. Tidak perlu. Kami tidak dekat, canggung sekali. Banyak mengobrol nanti juga dekat, ‘kan? Ayo sini. Ayah, Ibu, Bibi An.
Makan makanan pembuka dulu untuk mengganjal perut. Xin Xin sendiri yang membuat roti ini. Dia sendiri yang memanggangnya. Xin Xin, kau kompeten sekali. Lihatlah, bahkan penyajiannya sangat bagus. Aku rasa anak ini sangat telaten. Terima kasih, Bibi. Dingin, Bu? Sedikit. Bibi. Beberapa hari ini Shanghai dingin. Aku membawa ini. Nanti minumlah. Anak ini sangat perhatian.
Aku sangat iri dengan kalian berdua. karena memiliki putri yang sangat baik. Yao Yuan kalian juga sangat baik. Dia tampan dan memiliki karier yang sukses. Dia tidak pengertian seperti Xin Xin. Sampai sekarang, seharian sampai malam, masih saja membuatku khawatir. Xin Xin. Kau dan Kak Yao Yuan sebaiknya saling menambahkan di WeChat.
Kau baru saja kembali dari luar negeri. Jika ada masalah, bisa meminta bimbingan Kak Yao Yuan. Benar. Sebaiknya begitu. Karena kini kau di Shanghai, jika kau ingin pergi bermain ke mana, atau ingin menonton film dan yang lainnya, kau bisa tanyakan padanya. Dia sangat familier dengan hal-hal itu. Baiklah. Tidak familier juga. Kak Yao Yuan.
Mari saling menambahkan di WeChat. Sudah, terima kasih. Ayo, cepat makan. Cobalah ini. Bibi, aku akan membantu Kak Yao Yuan. Kak Yao Yuan, kenapa kau tidak menambahkanku? Baterai ponselku habis. Aku bantu, ya? Memangnya kau bisa? Aku berkemah beberapa kali saat sekolah di Prancis. Jadi, aku belajar sedikit. Kau belajar apa di Prancis?
Jurusanku di kampus adalah Psikologi. Setelah lulus, aku tertarik membuat makanan penutup. Lalu belajar di Le Cordon Bleu. Jadi, begitu pulang, kau ingin membuka toko roti? Benar. Bukankah gadis seperti kalian yang pulang dari Prancis ingin membuka kafe atau toko roti? Dengan begitu, kau bisa sesekali mengunggah waktu santai dalam hidup di Moments.
Apa Kak Yao Yuan ada saran? Tidak ada. Aku tidak mengerti apa pun tentang itu. Tidak bisa kalau caranya begitu. Lalu bagaimana? Beri jarak antara arang ini. Kau tahu ini apa? Apa? Akseleran. Hebat sekali. Kak Yao Yuan, kau merasa panas? Aku akan mengipasimu. Kau merasa lebih baik? Itu tidak boleh diduduki.
Bukannya kursi untuk duduk? Itu bukan kursi. Itu peralatan milik Guru Jia. Apa maksudnya? Itu seni. Kau mengerti seni, tidak? Bagaimanapun, itu tak boleh diduduki. Maksudmu, semua benda yang ada di sini adalah seni. Tak boleh disentuh. Tentu saja. Kursi ini baru saja terjual. Coba tebak berapa harganya? Berapa? Empat puluh RMB? Empat ratus RMB?
– Empat ribu RMB? – Empat puluh ribu RMB. Empat… Jika aku memberitahumu, aku rasa seniman hanyalah orang tanpa pekerjaan yang lebih baik, apa kau ingin memukulku? Percaya atau tidak, aku bisa menuntutmu karena menyerang polisi. Idenya orisinal Terima kasih, Guru Jia. Tapi tidak matang. Kenapa latar belakangnya sangat gelap? Kenapa warna titik-titik di tengahnya
Sangat mencolok? Karena aku ingin menonjolkan elemen akuariumnya. Apa kau pernah memikirkannya? Saat kita membeli furnitur, biasanya kita tidak akan mendekorasi ulang seluruh ruangannya karena furnitur yang kita beli. Gaya memang hal yang bagus. Tapi tak boleh diletakkan di tempat yang salah. Satu kesalahan desainer muda adalah menginginkan segalanya. Maksudmu, aku harus mengurangi?
Menambah atau mengurangi tergantung dirimu. Terkadang, menambah juga mengurangi. Mengurangi juga bisa menambah. Sebenarnya, mencari elemen itu mudah. Tapi bagaimana menggunakannya secara wajar adalah tugas seorang desainer. Pikirkan lagi baik-baik. Terima kasih, Guru Jia. Ada apa? Awalnya aku sangat percaya diri dengan karyaku. Namun, setelah mendengar komentar Guru Jia, hatiku tak yakin sekarang.
Apa yang dikatakan Guru Jiang belum tentu benar. Aku rasa karyamu sangat bagus. Memangnya kau tahu apa yang dia katakan? Tahu. Bukankah itu tentang penggunaan titik dan koma? Lanjutkan, apa gunanya? Titik biasanya digunakan di akhir kalimat. – Itu… – Sudahlah. Kau hanya tidur tadi. Aku benar-benar tak mengerti apa yang para seniman pikirkan.
Seperti kursi itu. Jelas-jelas itu kursi. Orang tak boleh mendudukinya. Dan lagi ini. Seminar berbagi konsep milik Jia Xiao Ning. Sebenarnya, aku pikir ini sedikit mirip MLM. Aku tak mengerti kenapa kau sangat peduli dengan pemikirannya. Ye Zhou, kau sedang mengeluh? Aku tidak memaksamu datang, ‘kan? Tidak, aku hanya mengatakan pemikiranku.
Seminar senjata yang dulu itu, spesifikasi besar atau kecil, otomatisasi, aku pun tak mengerti. Tapi aku lihat waktu itu kau sangat senang. Aku juga senang. Aku rasa, kau boleh tak menyukai seminar hari ini. Tapi setidaknya hormati profesi kami ini. Jangan hubungi aku dulu. Kenapa? Guan Yue. Guan Yue.
Guan Yue. Aku salah, aku minta maaf. Ke depannya aku tak akan mengatakan pendapatku. Sudah diputuskan, yang menghubungi lebih dulu kena denda. Lalu, aku bagaimana? Naik taksi sendiri saja. Hari ini cuacanya bagus. Kau pikirkan hal itu? Bu, aku ke mobil. Bibi, Paman, sampai jumpa. Sampai jumpa. Xin Xin. Xiao Yuan.
Antarkan Xin Xin sekalian karena kalian searah. Aku akan naik mobil Paman Wen. Kami bisa mengobrol hal lain di jalan. Pergilah. – Pergilah. – Pergilah. Kalau begitu, terima kasih, Kak Yao Yuan. Kak Yao Yuan. Ibuku bilang, kau masih bermain musik di band. Kapan kau tampil? Aku ingin melihatnya. Apa malam ini ada?
Sekarang tak main lagi karena sibuk bekerja. Kalau begitu, kita… Hari ini aku tak bisa. Setelah ini aku pergi ke hotel, mengurus beberapa pekerjaan. [Nak, hari ini kau tak perlu kembali ke hotel. Tak ada urusan di sana.] [Temani Xin Xin.] Bisa dibilang, malam ini kau tak ada jadwal? Tak tampil dan tak bekerja?
Aku mungkin… Jika kau berpikir lama, mungkin memang tak ada jadwal, ‘kan? Bagaimana kalau kita cari tempat untuk minum? Kau pesan dulu. Bir di sini lumayan. Aku mau menemui teman. Yang itu. Kenapa seleramu berubah? Tidak, dia teman kencan buta. Dia bersikeras minum denganku. Berpakaian seperti itu tak seperti ingin minum.
Karena itu, aku membawanya ke sini. Mengerti. Jangan keterlaluan, ya? Bukan masalah, kami mengerti. Ru Xin. Mereka berdua adalah temanku. Kalian minumlah bersama dulu. Aku mau merokok dulu. Aku akan segera kembali. Kak Yao Yuan, merokok tak baik untuk tubuh. Ya, aku mengerti. Teman, ayo minum. Bersulang. Aku akan memberi kalian kartu nama.
Ini kartu nama toko kueku. Saat pembukaan nanti, kalian datanglah. Aku akan memberi kalian diskon 20%. – Bagaimana? – Diskon 20%? – Harus datang, wajib datang. – Harus datang. Ayo minum lagi. Kenapa kau masih meminumnya? Kenapa masih mengobrol? Bagus. Entah bagaimana dia membuat kami mengobrol. Kalau begitu, kami pergi dulu.
Kenapa kau minum alkohol yang kuat? Apa kau tahu di daerah Paris mana aku tinggal? Daerah mana? Arondisemen 93 Paris. Distrik paling terkenal kejam di Paris. Kedua temanmu tadi sangat menggemaskan. Aku hanya bercanda denganmu. Aku juga tak suka keluargaku mengatur kencan buta. Tapi aku lebih tak suka orang yang hanya menilai dari penampilan.
Kau sama sekali tak memahamiku. Leluconmu ini sangat kekanak-kanakan. – Aku antar kau pulang. – Tak perlu. Cukup main-mainnya hari ini. Sampai jumpa, Kak Yao Yuan. [Pendidikan Seni Bauhaus] Halo, Tuan. Tuan Ye, apa pekerjaanmu? Apa itu ada hubungannya dengan belajar melukis? Kami hanya ingin tahu dasar pembelajaranmu.
Jadi, kami bisa dengan mudah merekomendasikan kursus untukmu. Aku magang di kepolisian. Apa dulu kau pernah belajar melukis? Waktu SMP, aku pernah masuk kelas seni. Apa itu termasuk? Bisa juga. Kapan terakhir kali kau melukis? Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu. Berdasarkan situasimu, bacalah ini. Ini kursus untuk pemula. Yang ini lebih cocok untukmu.
Ini untuk pemula, silakan dibaca. Untuk kelas ini, kau diajari dari yang paling dasar. Dengan ini kau bisa lebih mudah mengikuti. Bagaimana menurutmu? Boleh. Jika ada pertanyaan, kapan pun bisa bertanya kepadaku. Yang ini. Aku akan menjelaskannya lebih detail. Anak Muda, kau model baru? Bukan. Aku datang untuk belajar melukis. Halo.
Aku harus duduk di mana? Kaki kiri ke belakang. Angkat kedua tangan di atas kepala. Dorong tumit ke belakang dengan kuat. Ambil lima napas. Di mana Ye Zhou? Apa yang dia lakukan akhir-akhir ini? Tak tahu. Beberapa hari ini kami tak saling kontak. – Kenapa? – Kedua tangan di atas kepala. Kalian berdua bertengkar? Tidak.
Kau jangan terus menggertak dia. Aku tidak begitu. Kau tahu, aku akhir-akhir ini menggambar konsep desain peta. Dia tak mengerti sama sekali. Lalu berkata yang tidak-tidak. Dia tidak… Dia tidak belajar desain. Kau mengharapkan dia untuk paham bagaimana? Aku tak berharap dia mengerti. Menurutmu, bukankah seharusnya kami bisa berbagi opini sesekali? Kalau begitu, aku tanya.
Apa kau tahu bagaimana caranya menangkap orang jahat? Bagaimana menangani kasus? Tidak mengerti. Jadi, akhir-akhir ini aku merasa, kami berbeda. Kami tidak satu spesies. Aku mengerti. Ternyata kalian berdua ini “The Shape of Water”. Apa maksudnya? Kau tidak menonton “The Shape of Water”? Itu cinta antara dua spesies. Ceritanya sangat bagus, sangat menyentuh.
– Jangan ribut. – Ikuti kelas dengan baik. Sebenarnya, aku rasa bagi dua orang bersama, yang paling penting bukankah memahami hal yang sama, melainkan apakah kalian dekat dalam hati. Itu yang paling penting. Pikirkanlah. Jika di dunia ini jenis yang sama bersama, itu sudah pasti sangat membosankan. Benar, ‘kan? Bodoh. Halo.
Bukankah yang menghubungi duluan didenda? Sekarang aturannya dihapus. Bisa dihapus begitu saja? Kalau begitu, aku sia-sia mematuhinya. Kau tak terima? Aku terima. Ada apa? Kau merindukanku? Kau ada urusan, tidak? Mau nonton film bersama? Hari ini sepertinya tak bisa. Aku harus bertugas. Bagaimana kalau besok? Besok… Tempat kerjaku menyelenggarakan studi teoritis besok.
Bukankah besok akhir pekan? Akhir-akhir ini ada kasus khusus. Lusa saja. Lusa malam aku akan mentraktirmu. Begitu saja. Murid yang sedang menelepon itu, kecilkan suaramu. Sekarang aku ada urusan, aku tutup dulu. Sampai jumpa. Aku datang. Wen Ru Xin? Itu memang kau. Kenapa kau berpakaian seperti ini? Aku kira salah mengenali orang.
Apa kau bisa memperbaiki mobil? Pelan-pelan. Pegang itu. Belok. Sampai. Sudah, letakkan di sini. Pindahkan ini. Ini berat. Pegang bagian bawahnya. – Pelan-pelan. – Angkat. – Mundurlah. – Pelan-pelan. Sudah. Aku sudah membantumu memperbaiki mobil. Aku juga menjadi pekerja gratismu. Kau memang tak menganggapku orang luar. Karena kau menawarkan bantuan, tentu aku akan menerimanya.
Aku sangat menyesal. Tak seharusnya aku turun dari mobil tadi. Cepat pindahkan saja. Selesai ini, aku traktir kau makan. Ayo. Kau bilang akan mentraktirku. Maksudmu ini? Memulai bisnis itu sulit. Sudah bagus aku bisa mentraktirmu. Kau mau membuat toko kue yang seperti apa? Aku perlihatkan padamu. Bagus, ‘kan? Di dalam bangunan ini? Kenapa?
Kau pikir ini jenis rumah kaca di dekat The Bund? Meski begitu, setidaknya harus mirip seperti toko kecil di dalam mal. Itu terlalu mahal. Paman Wen dan Bibi Liao tak mendukungmu? Aku tak mau menggunakan uang keluarga. Saat aku belajar di luar negeri, aku menghemat uang dengan bekerja. Tapi masih perlu dana dekorasi.
Jadi, aku memilih di sini. Tapi, kau jangan meremehkan tempat ini. Setelah didekorasi pasti berbeda. Dari sudut pandang arsitek, desain pintumu ini tak sesuai dengan regulasi kebakaran. Lihatlah pintu dan jendela kaca ini. Sama sekali tak mempertimbangkan jumlah pelanggan. Suasana di sini lumayan. Jika… Kenapa kau berhenti? Aku tak perlu bicara.
Kalau aku bicara lagi, pekerjaan arsitek pun aku kerjakan. Bagaimana kalau kau pikirkan lagi? Aku ini sangat mahal. Kue yang aku jual pun sangat mahal. Kapan kau datang? Datang tak bilang padaku. Kenapa kau panik melihatku? Kau punya selingkuhan di luar? Tidak. Apa yang kau pikirkan? Katakan, ke mana kau pergi sore ini?
Memangnya apa lagi? Bertugas. Bohong. Aku baru saja dari kantor polisi. Apa yang kau bawa? Bukan apa-apa. Aku hanya membeli buku. Berikan padaku. Hanya buku. Kalau begitu, perlihatkan padaku. – Ini hanya buku, apa bagusnya? – Berikan padaku! “Sejarah Umun Kesenian Barat”. Untuk apa kau membelinya? Ternyata kau mengajukan cuti untuk pergi kursus.
Berapa biaya kursusnya? Itu 8.000RMB. Kalau kau ingin belajar ini, cari saja aku. Aku akan mengajarimu. Aku ingin belajar diam-diam. Lalu pamer di depanmu. Supaya kau tak mengatai aku tak mengerti apa pun. Siapa yang tahu kau tiba-tiba datang hari ini. Aku ketahuan. Kau begitu memerhatikan perkataanku. Aku pikir, kau terlalu lelah membuat desain.
Bagaimanapun, aku setidaknya harus mengerti sedikit. Meski jika aku tak bisa memberi nasihat penting, setidaknya saat kau kesal, aku bisa menemanimu mengobrol. Kemari. Kemari. Aku dengar dari keluargaku, kau juga ingin membuka bisnis sendiri. Ya, aku ingin membuka B&B. Tapi belum terlaksana. Jangan berkecil hati. Coba saja lagi. Lihatlah toko kue kecil milikku.
Bergelut sangat lama, buktinya aku tak menyerah. Terima kasih. Sepertinya, waktu itu aku memang salah paham padamu. Maaf. Waktu itu aku juga sengaja membuatmu marah karena ekspresimu tidak menyenangkan. – Apa itu terlihat jelas? – Tentu saja. Aku sudah sampai rumah. Mari saling menambahkan di WeChat. Sebenarnya, aku punya pacar. Dia di Prancis.
Tapi keluargaku tak tahu. Karena kalau aku bilang, mereka tak akan setuju. Kalau begitu, kita makin harus saling menambahkan di WeChat. Jika keluargamu bertanya, aku juga harus membantu menutupinya. Sudah. Sampai jumpa, Teman. Teman, sampai jumpa. Ada apa? Aku terpilih masuk kompetisi desain! Hebat. Bukankah harus kita rayakan? Benar, harus kita rayakan.
Tunggu. Hanya sesedikit ini makanannya? Bukannya ada orang yang menyuruhku berhemat dan menabung? Sungguh penurut. Baiklah, aku mendengarkanmu. Apa? Untukku? Apa ini? Kau bilang di kamarmu sangat berisik saat siang. Dengarkan musik supaya bisa tidur nyenyak. Aku sudah lama mengganti sif menjadi siang. Kenapa tak bilang padaku sebelumnya? Tak masalah, ini juga bisa dipakai sehari-hari.
Kebetulan, ada yang ingin kuberikan padamu. Apa ini? Aku tidak tahu banyak hal tentang dunia desain. Jadi, aku menyerah. Tapi aku tahu beberapa pabrik yang bisa membuat sampel. Aku mencarikan beberapa master produksi. Bagaimana kau tahu aku butuh produksi? Bagaimana kalau aku tak masuk final? Karena aku selalu percaya kau pasti terpilih. Ye Zhou.
Ayo makan. Kebetulan sekali. Kau mengikutiku? Jangan bilang tak sengaja bertemu lagi. Memangnya kenapa kalau tak sengaja bertemu? Memangnya tak boleh tak sengaja bertemu? Karena sudah bertemu, bagaimana kalau kita bertanding? Kau menginginkan nomor ponselku lagi? WeChat juga boleh. Lagi! Lagi! Lagi! Lagi! Lagi. Maaf, aku menang lagi. Ayo, mari lanjutkan. Kenapa tertawa?
Kau cantik sekali. Maukah kau menjadi pacarku? Shen Si Yi, kenapa kau tidak hadir di rapat hari ini? Ada apa? Ada sesuatu. Cepat katakan padaku. Itu… Aku bertemu dengan seorang pria yang cukup kusuka. Apa tak ada hal yang lebih detail? Kau ingin dengar detail tentang apa? Contohnya, kapan kalian bertemu?
Siapa yang menyukai siapa lebih dulu? Bagaimana itu terjadi? Aku sudah mengenalnya cukup lama. Aku serius tentang dia. Tentu saja. Lihatlah senyumanmu itu. Kau tak bisa menyembunyikannya. Benarkah? Memangnya tak ada yang kau sembunyikan? Jadi, pria ini orang seperti apa? Orang bodoh yang hampir sama denganku. Aku anak magang baru. Namaku Qiu Qiu. [Episode Selanjutnya]
Halo, Qiu Qiu. Hari ini aku melihat dia mengobrol dengan anak magang. Haruskah aku memecatnya? Kau baru datang, kenapa sudah mau pergi? Kau punya banyak tamu. Kau tidak bisa menghibur semuanya. Mereka teman-temanku. Mereka bukan teman-temanku. Jadi, mau kau pikirkan dulu? Menghabiskan tahun baru denganku. Aku tak tertarik. Kau lebih baik dariku. Aku lajang.
Kau masih punya pacar di Prancis. Kami sudah putus. Apa kau mengerti maksudku?