WeTV Original Kupu Malam EP01A | Michelle Ziudith, Kenny Austin, Lukman Sardi

Maaf. Kenapa? Boleh minta nomor ponselmu? Minggu depan kita bisa ketemu, ‘kan? Saya hanya terima sekali untuk setiap klien. Aturan dari mana? Selamat malam. Mbak. Mbak Hesti. Nanti saja sekalian, Mbak. Saya pamit pulang dulu. Maaf, Mbak. Aku terlalu malam. Tidak apa-apa. Tadi Dani sudah minum obat. Pintar dia, Mbak. Seharian ini makannya banyak. Syukurlah.

– Kalau begitu, sampai besok, Mbak. – Ya. Terima kasih, Mbak. Anak jagoan. Anak pintar. Kata Mbak Hesti, hari ini kau makan banyak? Hebat. Mimpi indah, Sayang. Ayo, cepat. Yang sudah, boleh dikumpulkan. Ayo, cepat. Laura, Melina, ayo! Sudah habis waktu kalian. Ibu potong poin, ya? Satu, dua! Harus dipotong baru selesai tugasnya.

Laura, Ibu mau bicara denganmu. Ya, Bu. Empat mata. – Ya, Bu. Empat mata. – Ya. Ibu mau bicara denganmu empat mata. Ya, Bu, empat mata. Ibu mau bicara dengan Laura empat mata. Melina, kalau ada kau, kita bicara enam mata jadinya. Aku mau empat mata saja dengannya. Ya, Bu. Baik.

Ada apa denganmu sekarang, Laura? Kenapa sekarang begini? Sudah sering terlambat. Datang hadir ke kelas jarang. Tidak pernah ikut kegiatan kampus. Yang paling parah, kenapa IPK-mu turun? Maaf, Bu, saya sebenarnya kuliah sambil kerja. Di dunia ini, orang yang kuliah sambil kerja bukan hanya kau. Banyak. Kalau memang kau berani ambil risiko kuliah sambil kerja,

Harus siap juga dengan konsekuensinya. Itu pilihanmu, ‘kan. Ya sudah, jangan sedih, Laura. Jangan cengeng. Ibu tahu Laura perempuan kuat. Kenapa sedih? Ya sudah. Yang penting sekarang ini, kau kejar dulu ketinggalanmu, Laura. Minggu depan ada seminar. Ibu mau kau ikut seminar itu. Kau catat poin-poin penting yang disampaikan pembicara. Supaya kau bisa mengejar ketinggalanmu.

– Sudah, jangan menangis. – Ya, Bu. Ya? Ya sudah. Terima kasih banyak, Bu. Saya keluar dulu, Bu. Ya. Halo, Melina. Ayo ikut kita. Anak-anak mau jalan. Ada kafe baru. Tempatnya asyik sekali. Aku ajak Laura, ya? Melina, ayolah. Aku tahu hanya kau temannya di kampus. Sebenarnya aku tidak mempermasalahkan. Tapi kalau dipikir-pikir lagi,

Laura memang kurang pantas masuk ke kelompok kita, ‘kan? Laura orang yang asyik. Baik, pintar. Kalian saja kali yang tidak pernah memberi kesempatan. Kau tahu sendiri, Melina. Kelompok kita harus tetap sedikit. Sedikit teman, sedikit drama. Laura! Nikmati kelompok kalian. Aku dan Laura tidak pernah ada drama. Kalian yang suka sekali drama.

Aku hanya butuh pertemanan yang tulus di dunia penuh tipu ini. Sampai jumpa. Tumben cepat. Habis ya, kau diomeli? Lebih seperti dinasihati. Tapi dia benar, aku yang salah. Sudah, tidak usah terlalu dipikirkan. Yang penting, kau bisa menyelesaikan kuliahmu. Ya, juga. Tapi kalau kau pergi dengan temanmu, pergi saja. Aku tidak apa-apa.

Tidak, malas sekali. Mereka sok tahu. Lebih baik kita jalan berdua saja. Kita cari tempat berkumpul yang makanannya benar-benar enak. Bukan hanya jual tampang saja, ayo. Ya, tapi aku… Sudah, tidak usah banyak alasan. Sungguh, aku harus pulang. Obat Dani sudah mau habis soalnya. Ya sudah. Ayo. Salam untuk Dani. Halo? Halo? Tia?

Kau tolong atur ulang semua jadwal saya hari ini. Saya harus bertemu klien penting. Baik, terima kasih. Mami masih ada tamu. Kau tunggu dulu saja di sini. Mau canape-nya? Canape? Canape-nya. Permisi. Canape-nya. Ya, halo, Dokter? Ya. Saya pasti akan langsung bilang ke pihak rumah sakit supaya saya bisa mulai mencicil semua biayanya. Ya, Dokter. Terima kasih banyak, Dokter. Dokter Adrian sudah banyak membantu saya untuk pengobatan adik saya.

Sekali lagi terima kasih banyak, Dokter. Nanti kalau pesta sudah selesai, Bos mau bertemu. Ya, Pak. Siap. Laura, maaf. Tadi saya tidak sengaja mendengarmu bicara di telepon. Kau sedang butuh biaya pengobatan? Kau tidak usah bingung. Apa kau tahu kalau kau punya potensi? Aku bisa mengurusmu kalau kau mau.

Di sini saya punya solusi untuk kesulitanmu. Jadi, kau tidak perlu lagi kerja paruh waktu jadi pelayan atau pun yang lainnya. Kalau kau mau ikut saya, saya bisa memberimu fasilitas. Rumah pribadi untuk kau tinggal bersama Dani, ya? Dani nama adikmu, ‘kan? – Ya, betul, Bu. – Ya. Saya juga bisa memberimu mobil

Untuk transportasi kalian berdua. Dan yang pasti, kau akan mendapatkan banyak uang. Apa kau tahu kenapa saya di sini dipanggil Mami? Karena hanya saya yang nanti akan peduli padamu. Saat kau sakit, kau diganggu, atau pun saat kau sedang kesal gara-gara menstruasi. Jangan takut pada Mami, Sayang. Mami tidak akan memaksamu.

Mami tidak akan mendorongmu melakukan sesuatu yang tidak kau mau. Mami tahu gaji kau kerja paruh waktu tidak cukup untuk kebutuhanmu, ‘kan? Makanya, di sini Mami mau memberikan solusi untukmu. Mami, bisa saya tanya? Boleh, apa? Saya… Saya akan bekerja. Saya akan melakukan apa pun asalkan saya bisa membiayai semua biaya pengobatan adik saya dan

Saya bisa tetap kuliah. Tapi, Mami. Kalau suatu saat adik saya sudah sembuh dan saya tidak membutuhkan uang sebanyak itu, saya boleh langsung berhenti, ‘kan? Laura sayang. Hanya kau yang bisa jawab kapan kau merasa cukup dan kapan kau merasa harus berhenti. Itu pilihanmu, Sayang. Jadi, kau mau, ya? Ya, saya mau, Mami. Mau. Berarti,

Mulai sekarang namamu adalah… Flo. Halo, Flo. Halo, Indi. Apa kabar? Sama seperti biasa. Tapi, pesananmu makin ke sini makin banyak. Kau jauh lebih produktif dibandingkan aku. Pesanan makin banyak, beban juga makin berat. Lalu tidak ada waktu istirahat juga, ‘kan? Ya, tapi kalau selalu bertambah, kau bisa belanja apa saja. Hidup bersenang-senang.

Baik, aku harus pergi. Mau tidur cantik dulu. Nanti malam kita bekerja. Aku tidak bisa kalah produktif. – Sampai jumpa. – Sampai jumpa, Indi. Halo, Sayang. Sayangku. Mengapa mukanya agak pucat, Sayang? Mami buatkan janji dengan Dokter Anna agar kau suntik vitamin C dan kolagen. Baik, Mami. Dani apa kabar? Kondisi Dani sudah cukup stabil.

Kata dokter, kalau kondisi Dani seperti ini sampai tahun depan, dia sudah mulai sekolah di rumah. Baguslah. Ayo. Kau lihat, Sayang? Sekarang bisnis Mami benar-benar berkembang. Tapi tetap saja, di antara anak-anak Mami, tetap kau yang terbaik. Wanita yang paling diinginkan. Jujur saja, kadang-kadang Mami pusing mengatur jadwalmu. Sayang. Mami mengerti kekhawatiranmu apa.

Tapi yang harus kau ingat, kau melakukan ini semua demi Dani. Ya, Mami. Anak pintar. Baik, kembali ke bisnis kita. Malam ini, kau akan ketemu dengan klien besar baru. Klien ini sangat sangat spesial. VVIP. Dia bernama Arif Dirgantara. Dia pengusaha asal Jakarta. Dan katanya punya banyak sekali properti di Indonesia.

Katanya juga dia ini adalah donatur besar untuk beberapa yayasan sampai ke partai politik. Dia klien baru untuk Mami. Dia direkomendasikan oleh sahabat dekatnya. Bahkan, dia sudah menyiapkan tempat privat dan spesial untuk menghabiskan waktu bersamamu. Selamat datang. Arif. Aku Flo. Kau cantik sekali, Flo. Terima kasih. Silakan duduk. Maaf, Pak Arif, tapi

Aku tidak minum. Tunggu. Apa kau mau kopi, teh, atau… Tidak apa-apa, Om. Om minum saja. Aku biasa menemani orang minum. Pergilah. Saya tidak biasa minum di depan wanita yang tidak minum. Om mau aku minum? Flo. Pegang prinsipmu. Perempuan harus punya prinsip. Saya suka itu. Kau mengingatkan saya pada seseorang.

Aku harap Om hanya memiliki kenangan indah bersamanya. Dia wanita tercantik yang pernah saya temui. Tapi dia meninggalkan saya. Berarti, bukan kenangan yang indah. Tapi Om tidak dendam, ‘kan? Karena… Kalau terjadi apa-apa padaku di sini, aku tidak tahu harus pergi ke mana, Om. Kau lucu sekali, Flo. Kau tidak minum, saya bisa mengerti.

Tapi, kau pasti tidak bisa menolak untuk berdansa dengan saya. Ayo. Musik. Boleh? Ceritakan padaku tentang dirimu. Tentangku, Om? Ya, apa pun. Namaku Flo. Tapi nama aslimu? Namaku diawali huruf S. Baik, huruf S. Shilla? Sheila? Sara? S dari “Secret” (rahasia). Kenapa kau tidak mau bercerita sedikit saja tentang dirimu? Aku dibayar tidak sedikit

Bukan untuk cerita, Om. Apalagi tentang diriku. Aku mengerti. Tapi bukannya kita bisa lebih terbuka tentang diri sendiri dengan orang asing? Benar, ‘kan? Om, apa aku boleh angkat telepon sebentar? – Tentu. – Terima kasih, Om. Ya, halo? Mbak Hesti? Dani bagaimana? Hari ini Dani menggambar terus. Mewarnai. Dan mencari Mbak terus, katanya rindu.

Baik. Ya sudah, Mbak Hesti. Tolong besok kalau Dani sudah bangun, bilang padanya, aku segera pulang, ya? – Ya, Mbak. – Ya, terima kasih, Mbak. – Mbak Hesti, Dani bagaimana? – Mbak? Dani tiba-tiba sesak saat tidur, Mbak. Lalu saat diberikan oksigen, Dani makin sesak. Akhirnya, saya bawa dia ke sini naik taksi. Suster, saya harus lihat adik saya. Maaf, Mbak. Dilarang menemui pasien. Tapi saya kakaknya. Maaf sekali, Mbak, peraturannya sudah seperti itu.

Suster, saya harus lihat adik saya sekarang. Suster, saya… Dokter Adrian. Saya harus lihat Dani sekarang. Tolong, Dokter. Ikut saya. Dani. Dani sayang. Laura, tenang. Tenang. Dani. Dani sayang. Maafkan Kakak. Katanya Mbak Hesti kau mencari Kakak. Kakak juga sangat merindukanmu. Maaf Kakak tidak punya banyak waktu untukmu, Sayang. Dia baru saja tidur.

Napasnya masih sedikit sesak. Tapi, jauh lebih baik dibanding saat dia baru datang tadi. Dokter. Tapi Dani akan tetap baik-baik saja, ‘kan, Dokter? Ini bukan pertama kalinya Dani dapat serangan seperti ini. Akan baik-baik saja, ‘kan, Dokter? Akan seperti biasa? Semoga begitu. Hasil tes keluar besok. Terima kasih, Dok. Halo, Pak Arif? Baru saja saya mau menelepon Bapak. Saya mau minta maaf, Pak, karena Flo pergi tanpa pamit. Dia ada urusan keluarga yang mendesak. Tapi karena anak saya sudah menjalankan tugasnya dengan baik, jadi saya rasa semuanya sudah selesai, Pak. Terima kasih.