WeTV Original Dua Wajah Arjuna EP01A | Cut Beby Tsabina, Yesaya Abraham

Awas. Awas. Cari sampai dapat! Aku tidak mau tahu. Maaf, Bang. Tapi dia lari ke mana? – Mana aku tahu? Kau cari dia. – Ya, Bang. – Ayo cari. – Cepat cari! Ya, Bang. Ayo, ayo. Pak Tua, ke mana kau? Keluar! – Pak Tua! – Itu. Kau mau ke mana? Ayo! Kejar! Jangan lari.

Mana dia? Tidak tahu di mana. Dia hilang. Suaranya dari sini. – Dari mana tadi? – Cepat. Pak Tua, keluarlah! Mana? Di sini tidak ada. – Lebih baik kita kembali. – Ayo. Lapor Bang Jeremy. Tampan. Supaya tampan. Aku tampan, ‘kan? Rambut dibelah tengah. Senyumnya tipis-tipis seperti itu. Baik, sambil bersandar. Aku coba. Berbeda jauh.

– Permisi. – Ya, Empok. Mak. Arjuna, kau sedang apa? Membantu Mak. Tidak usah. Ke sini. Kalau kau mau membantu Mak, kau sekolah saja yang benar. – Benar? – Ya. Astaga, bibirmu. Sini, sini. – Coba. – Jorok, Mak. – Sebentar. Diam. – Itu bekas mengelap motor, Mak.

Justru itu. Kau lihat motor Mak. Mengilap, ‘kan? Apalagi wajahmu. Pasti lebih mengilap. Sini, sini. Diam. Jorok. Tutup. Ya. Sekarang rapi, tampan. Sudah. Kau boleh pergi. Baiklah. – Arjuna pamit dulu. – Ya. – Assalamualaikum. – Wa’alaikumsalam. Sampai jumpa. Bu Tati, pagi. Pagi. Mau sekolah, Arjuna? Ya. Mau mengikuti MOS, Bu. Mau berangkat sekolah.

Baiklah. Hati-hati. Jangan belajar saja, Arjuna. Cari pacar yang benar. Agar kau senang di sekolah. Siap, Bu. Aku usahakan. Bu Tati, dia mau belajar tapi malah kau suruh berpacaran. Jangan dengarkan dia, Arjuna. Nanti kau terbebani. Aku tahu yang berwajah sepertimu susah dapat pacar. Pak Hary. Aku bercanda, Arjuna.

– Bu Tati, Pak Hary, aku pergi dulu. – Ya. Kenapa, Arjuna? Kotoran kucing, Bu. Kucing siapa ya? Paulo, kau sudah sebulan tidak BAB. Kenapa? Sakit apa? Kenapa kau sebulan tidak BAB? Astaga. Merepotkan sekali. Ya, Pak. Terus! Bau apa ini? Ini bau apa? Mas, apa ini bau Mas? Bukan, Pak. Bau tahi kucing.

Bagaimana kau tahu? Karena saya menginjak tahi kucing, Pak. Ada-ada saja orang ini. Turun, turun. Bau! Ini masih pagi. Kau sudah buat tidak nyaman saja. – Pak Chandra, ayo kita berangkat. – Ayo, Non. – Terima kasih. – Sama-sama, Non. Tahan, tahan! Ada-ada saja. Tumpah kena baju saya. Pak, saya mau pergi ke sekolah.

Malah terkena kopi. Jelek sekali. Terima kasih, Pak. Menyingkir, kau mengangguku sedang joging. Maaf, Bu. – Kenapa ada orang lewat? – Menyingkir! Kami sedang berfoto. – Jangan merusak pemandangan. – Sana, sana! Ayo cepat masuk. Selamat pagi, Semuanya! Selamat datang di SMA Olympus. Kita harus menjaga nama baik sekolah ini. Dan saling menghormati.

Khususnya, para senior. Kalian harus mengikuti aturan kami. Paham? Paham? Pokoknya, teman-teman, intinya kalian harus mengikuti apa kata kakak kelas. – Mengerti? – Mengerti, Kak. Makanya jangan pakai bahasa Inggris. – Paham? – Paham. Kau. Ya, kau! Maju ke depan. – Saya, Kak? – Ya, kau. Ayo cepat. Kalau disuruh, harusnya kau langsung sigap.

Anak laki-laki lemas sekali. Tampan, kau tahu salahmu apa? Tidak, Kak. Apa warna seragam yang dipakai saat MOS? – Putih. – Putih, Kak. Paham? Ini saya pakai baju warna putih, Kak. Ini warna apa? Cokelat atau putih? Bukan dua-duanya, Kak. Itu lebih mirip seperti tortila atau kacang kenari.

Kalau saya lihat, lebih mirip noda tumpahan kopi. Kopi mengenai baju putih. – Dulu aku pernah seperti itu, Kak. – Diam, diam! Anak laki-laki mulutnya tidak bisa diam, seperti anak perempuan. – Siapa yang tanya padamu? – Tadi kata Kakak… Siapa yang bilang boleh pakai atribut tambahan selain seragam? Gara-gara kau, Arjuna.

Kita jadi saling menghormati seperti ini. Polisi bukan, tentara bukan. Panas sekali. Kau tahu aku ini bukan tipe lelaki yang kalau berkeringat terlihat maskulin. Malah lusuh. Kenapa kau tidak bilang saja tadi? “Kak, maaf. Tadi terkena kopi.” Beres. Kalau kau terus diam, kita akan diinjak-injak terus, Arjuna. Astaga, Azhar.

MOS memang waktu di mana kita diinjak-injak. Kalau kita diinjak-injak sekarang, efeknya sampai lulus nanti. Lalu mau bagaimana lagi? Arjuna. Ini SMA. Waktunya kita membuka lembaran baru. Hidup baru. Apa kau mau menjadi kasta terendah terus? Seperti waktu kita SMP dulu? Masa kita SMP, – sudah terlalu berat… – Berhenti. Tidak usah pakai kilas balik.

Hadapi sajalah, ini hanya panas sedikit. Kau berlebihan. – Ada apa itu ramai-ramai? Ayo cepat! – Arjuna. Apa itu? Ayo ke sana. – Jangan. Kita sedang dihukum. – Ikuti saja, tidak apa-apa, ayo. Kau lihat bajumu itu! Kau tidak perlu pegang-pegang. Aku seniormu. Lepaskan! – Mau bagaimana? – Tiga. Dua. Kau belajar menghitung? Satu.

Jangan salahkan aku. Maaf, maaf. Permisi. Sudah kukatakan, jangan macam-macam. Caramel! Caramel. Ini ada apa? Ada apa ini? Kalian sedang apa? Bubar! Bubar sekarang! Bubar! Harusnya kau tidak sembarangan menarik adik kelas. Apa-apa bicarakan dulu padaku. Bersikaplah yang benar. Maaf, Yoga. Kau minta maaf padanya. Ya, aku terbawa emosi tadi. Aku minta maaf.

Kau tolak angkat 50 kali. Caramel boleh pergi. Yoga, kenapa hanya aku? Dia tidak. Seratus. Permisi, Kak. Terima kasih. – Satu! – Ya, Yoga. Dua. Caramel! – Arjuna. – Halo. Azhar. Haruskah aku tidak disapa? Maaf. Tapi kalian baru hari pertama, kasihan sekali sudah dijemur. Lebih parah kau, baru hari pertama sudah melakukan tindak kekerasan.

– Caramel Si Barbar. – Tidak usah dibahas. Lalu? Sudah. Kenapa aku kau suruh tolak angkat, Yoga? Supaya badanmu kekar. Baiklah, sana. Dia targetmu? Yang benar, Yoga? Kau sekarang menyukai laki-laki? Itu? Cantik sekali. Kau pintar, Asep. Enak saja kau memukul kepalaku. Kalau IQ aku turun bagaimana, Agung? Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah. Kenapa ini?

Kenapa? Astaga. Kenapa, Mak? Bu. Biasa, motorku baru dimandikan. Mungkin masih kedinginan. Maka dari itu, Mak. Kalau baru dimandikan, selimuti motormu. Supaya tidak kedinginan. Bisa saja. Ganti saja, Mak. Motormu sudah tua. Ganti saja pakai motor trail. Motor sport seperti siapa itu? Ares itu yang… Begitu. Untuk berjualan sayur?

Memangnya ada tukang sayur pakai motor sport? – Itu. – Sayur, sayur! Sayur, sayur. Bu! Sungguh ada. Baiklah, sini, Mak. – Saya coba nyalakan. – Tidak usah, Bu. – Tidak apa-apa. Sudah biasa. – Tidak usah. Merepotkanmu. Tidak. Kita harus baik pada tetangga. – Bisa? – Bisa. Saya dulu pembalap. Tunggu, Mak.

– Susah sekali. – Bisakah, Bu? Nanti dulu. Coba pegang. Hampir. – Lagi? – Sebentar lagi pasti menyala. – Bu. – Nanti dulu. Sabar, Mak. Ternyata ini. Kuncinya belum dinyalakan. Maaf. Terima kasih, Bu. – Bisa, Mak? – Ya, bisa. Lihat, ‘kan? Bisa. – Bisa menyala? – Ya, menyala. – Kakinya tidak apa-apa? – Tidak.

Hanya lututku hampir lepas. Tidak apa-apa. Dipasang lagi kalau lepas. – Saya pamit. – Ya. – Terima kasih banyak. – Hati-hati. Ya. Jadikan MOS ini momen kalian untuk mendapat teman baru. Ingat, di kiri-kanan kalian adalah orang-orang yang akan menghabiskan tiga tahun bersama kalian. Cari partner kalian, kita main gim.

Kau, Caramel, bersama orang di sebelah kirimu. Yang lain, cari pasangan kalian. Ayo kita main berdua. Boleh. Namaku Azhar. Annabeth. Kau SMP di mana? Ada di dekat sini. Apa kau mau tahu SMPku di mana? Tidak. – Arjuna. – Nuri. Kita sekelompok. Kali ini kita akan main gim “kepercayaan”. Di mana pada gim ini,

Kalian akan menjatuhkan badan kalian dan kalian harus percaya pada teman kalian yang akan menangkapnya. – Paham? – Paham, Kak. Kalau begitu, ambil posisi. – Kau saja. – Aku saja. Tidak apa-apa. – Bisa, ‘kan? – Bisa. Aku kuat. Aku percaya. Kau jago menendang. Aku terbiasa latihan kebugaran, angkat karung, angkat galon.

Arjuna, kau di depan. Kau yang menjatuhkan badan. – Serius, Kak? – Serius. Sudah, cepat. Kalau disuruh, jangan berlama-lama begitu. Sini, sini. Anak lelaki tapi geraknya lamban. Siap? Satu. Dua. Tiga. Maaf, Kak. Apa kau sengaja? Tidak, Kak. Ikut aku. Kau bersihkan toilet ini. Semuanya? Semuanya. Lantai atas juga. Jangan lupa.

Yang bersih, jangan sampai ada yang bau. Awas kalau masih bau, kami suruh kau bersihkan lagi. Kau mengerti? – Baik, cepat sana. – Cepat. Pakai ini. Supaya bersih. Bu. Kenapa? Mogok? Ya, Dik. Saya lupa isi bensin. Saya bantu saja, Bu. Saya boleh tanya dulu? Boleh. Apa Adik penyamun? – Bukan. – Penculik, ‘kan?

Tidak, Bu. – Perampok, ‘kan? – Astaga. Tidak, Bu. Ya, boleh. Silakan. Baik, sini. Saya bantu, Bu. Awas, hati-hati, Bu. Akhirnya. Ini, Bu. Tempat isi bensinnya. Terima kasih, Dik. – Saya pamit dulu. – Tunggu sebentar, Dik. Ini untuk kau jajan. Tidak usah, Bu. Tidak usah. – Sungguh? – Ya, sungguh. Untuk beli pasta gigi.

Saya lihat, sepertinya kau orang baik. Apa kau mau jadi tampan? Tapi, Kek, saya tidak punya uang untuk membayar ini. Saya berikan cuma-cuma. Gratis. Gratis? Saya hanya minta satu hal padamu. Setiap hari Senin, kau temui saya di sini. Ya, di waktu yang sama. Persis pukul delapan malam. Untuk apa, Kek?

Saya hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu setelah kau pakai semprotan ini. Gunakan sebaik mungkin. Jaga. Kakek. Saya tidak bisa membalas budi. Dan yang paling penting, saya tidak percaya pada hal-hal mistis. Jadi, lebih baik Kakek bawa ini… Dia langsung menghilang. Apa ini sungguhan? Coba saja. Tidak. Permisi, Bos. Bagaimana? Tidak tertangkap, Bos. Apa kataku?

Kalau dia belum ditemukan, jangan temui aku dulu! Baik, Bos. Kalau begitu, kami pamit dulu. Tunggu. Sini. Kau saja. Untuk apa ajak yang lain? Sini! – Sini. – Ya, Bos. Ampun, Bos. Saya janji lain kali akan bekerja lebih benar. Lain kali dia pasti tertangkap. Bos, ampun, Bos. Jangan, Bos.

Arjuna, bangun. Sudah pukul berapa ini? Ya, Mak. =Dua Wajah Arjuna Bagian A= (Bersambung ke Bagian B)