【FULL】With You EP21【INDO SUB】| iQiyi Indonesia

Orang tua aku sudah beli tiket. Pergi sekolah di Beijing. Han Xu tidak suka padaku lagi sekarang. Dia suka Bei Lin. Aku kira jika aku terus baik padamu, suatu hari kamu akan melihatku. Tapi sekarang tidak mungkin lagi, karena kamu menyukai orang lain. Jiandan. Aku tanya sekali lagi, sebenarnya Jiandan ke mana?

Jiandan, kamu di mana? Aku di sini. Ini aku, aku datang untuk menyelamatkan kamu. Zhou Mo? Sebentar lagi ikut kompetisi kan? Aku dengar akan dikumpulkan untuk latihan bersama. Kalau begitu, kita tidak bisa bertemu sepuluhan hari. Kamu ada permintaan? Tapi aku ada. Tapi sekarang sudah terwujudkan. Cinta sepihak, harus menerima kekalahan. Aku masuk kelas IPS.

Kita tetap adalah teman baik. Punya kamu masih ada? Tentu saja. Kami yang Terbaik Sebenarnya kamu di mana? Tadi telepon sudah bilang segera sampai. Kenapa kamu begitu tidak bisa diandalkan? Geng Geng. Aku sangat rindu padamu. Paman, Bibi. Aku bantu bawakan barang. Aku saja, aku saja. Makan, makan sepuasnya. Ada yang kejar kamu? Benarkah? Iya.

Ada yang menjahati kamu? Apakah mungkin? Sifatmu seperti ini, orang lain juga tidak berani. Biasanya kamu yang menjahati orang lain. Sedang apa? Kamu tato? Ini bukan tato. Kamu sekarang sudah mulai nakal ya. Ini adalah jimat keberuntungan. Dia yang gambar. Itu… apa ada gosip di kelas kita? Apa yang ingin kamu dengar?

Anggap aku tidak tanya. Zhang Ping… sudah berpacaran dengan Shen Tong. Serius? Iya. Aku merasa, mereka lumayan cocok. Oh ya? Kenapa aku tidak merasa seperti itu? Kenapa? Aku Jiang Niannian, bukan orang yang tidak bisa melupakan masa lalu. Benar begitu? Tertawa. Episode 21 Geng Geng, 3 Tahunku Sudah Sia-sia. Pelan-pelan. Kamu sudah mengerti kata-kataku?

Kamu harus menyadari pentingnya ujian kali ini. Keberhasilan atau kegagalan ditentukan di sini. Pikirkan waktu dan tenaga yang kamu habiskan… selama ini. Harapanmu dalam ujian nasional tidak sebesar kompetisi, tapi sesaat sebelum ujian, kamu juga tidak boleh santai, iya kan? Iya, Bu, aku tahu. Iya, iya, mari, mari. Pelan-pelan, pelan-pelan. Orang tua tidak boleh masuk.

Apa? Ini adalah pelatihan tertutup. Orang tua tidak diizinkan masuk. Dia anakku. Kompetisi kali ini sangat penting baginya. Semuanya sama. Ini adalah peraturannya. Bu, pulanglah. Jangan khawatir. Baiklah. Aku pulang dulu. Harus berusaha, semangat. Ibu percaya padamu. Sampai jumpa Bibi. Sampai jumpa, sampai jumpa, semangat. Semangat. Sini, sini, sini. Wah, kalian cepat sekali. Hai, hai.

Hai, hai. Fan Bin. Namaku Zhou Mo, artinya akhir pekan. Ada yang menjadikanmu sebagai hari Minggu? Tidak pernah, mohon bantuannya ya. Yu Huai. Fisika aku lumayan. Saling tukar pendapat. Baik, saling belajar. Ada tato, asli ya? Sedang apa kamu? Kenapa? Tidak boleh dipegang? Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Bisa tinggal bersama, termasuk takdir. Siapa namamu?

Zhao Shi. Baik, mohon bantuannya. Halo. Halo. Kenapa kamu tidak bicara? Aku merasa sangat bagus seperti ini. Bagaimana kondisimu di sana? Berada di antara sekelompok jenius, apakah tekananmu besar? Semua ini bukan apa-apanya bagiku. Aku merasa orang di sini… sudah belajar sampai agak bodoh. Ah, kenapa? Hari ini, teman asrama kami…

Melihat tanda centang di lengan aku, dikiranya tato. Langsung dipegangnya. Sudah terhapus? Mana berani dia. Tentu saja aku berusaha untuk menjaganya. Setelah pulang nanti, aku akan periksa. Kalau begitu, beberapa hari ini aku tidak mandi. Besok kamu akan meneleponku lagi kan? Tentu saja. Kita sudah sepakat saling memberi semangat. Baiklah, sekian dulu ya.

Telepon pacar ya? Ah, mungkin saja. Tato palsu itu digambar pacarmu? Iri? Iri. Sini tidak diizinkan bawa ponsel. Kenapa kamu masih belum serahkan? Satu dua tiga. Terima kasih. Cepat, cepat, cepat. Kemarilah. Kalian juga foto sekali. Tidak mau, tidak mau. Cepat. Senyum, ekspresinya lebih alami. Satu dua tiga. Dijaga dengan ketat.

Setiap orang harus menyerahkan ponsel. Jadinya tidak bisa menghubungimu lagi. Tapi tidak masalah. Tidak, tidak. Jangan khawatir, bukan itu maksudku. Maksudku, hatiku… selalu bersamamu. Kita berusaha bersama. Tidak boleh kalah dariku ya. Aku rindu kamu. Ada yang datang, aku tutup ya. Cepat, sayang. Iya, iya, iya. Sudahlah. Menjijikkan. Sangat normal.

Jadi, kamu benar-benar akan menyerahkan ponsel? Perpisahan singkat ini… akan membuat pertemuan menjadi semakin membara. Aku tanya sekali lagi, ponsel siapa yang belum diserahkan? Baik, karena sudah datang ke sini, seharusnya tahu apa tujuannya. Jika ketahuan ponsel kamu tidak diserahkan… Baik, sekarang mulai kerjakan soalnya. Dikumpul setelah dua puluh menit. Dua puluh menit?

Banyak orang yang ujian jurusan sutradara. Bukankah kamu suka fotografi? Kenapa daftar jurusan sutradara? Anak sudah besar, biarkan dia memilih sendiri. Geng Geng. Baik, waktunya habis. Waktunya habis. Sebagai kontestan, soal seperti ini, seharusnya bisa kalian jawab tanpa berpikir. Lewat soal ini, seharusnya kalian bisa memahami kemampuan sendiri. Selanjutnya kita hanya melakukan tiga hal,

Makan, tidur, kerja soal. Ternyata sekolah kalian seperti ini ya. Bagaimana, bagus kan? Sekarang kamu masih bolos sekolah? Ngomong-ngomong, tanpa diurus oleh Ketua Pan, bolos kelas sudah tidak seru. Wah, Lu… Ganti pacar lagi? Jangan sembarangan. Apakah dia… Aku tahu, aku pergi dulu. Dia tahu apa? Kenapa dia menatapku seperti itu?

Ayo lihat dulu pameran seni kami. Sebenarnya favoritku tetap yang ini. Ini. Bisakah kamu menduganya? Ada sebuah pertanyaan, penyakit apa yang tidak boleh minum teh. Ada pilihan tukak lambung, gagal ginjal. Aku bukan datang ujian masuk jurusan medis. Tekananmu sangat besar di sana? Dalam kamus aku, tidak ada istilah tekanan.

Alangkah baiknya jika aku punya mental seperti kamu. Kamu sangat mengagumi aku kan? Bersemangatlah untuk menyusul aku. Jangan tertinggal terlalu jauh dariku. Umm, pasti. Hasilnya sudah keluar. Lihat dulu. Kenapa? Tidak berani. Dasar pengecut. Aku dan ibumu yang lihat saja. Tunggu sebentar. Baiklah. Aku tunggu kalian di depan. Baik Pak Wang. Pak Wang.

Namamu Yu Zhun ya? Yu Huai, tidak titik. Aku lulus? Aku sudah cocokkan 3 kali, angkanya benar. Bagus sekali. Baiklah, kita pulang dan rayakan dulu. Aku pergi panggil taksi dulu. Tunggu aku dulu ya. Geng Geng. Chen Xuejun. Sedikit berantakan, duduk saja. Tak kusangka, kebetulan sekali… bisa bertemu kamu di sini.

Kamu ujian untuk jurusan akting? Iya. Telepon kamu berdering? Punya kamu kan? Tak kuperhatikan. Halo. Kenapa tadi kamu tidak angkat telepon aku? Kamu juga tidak balas pesanku. Tadi tidak ada waktu. Bagaimana dengan ujiannya? Sudah lulus. Selamat, selamat. Terima kasih. Oh ya, tunggu kamu pulang… ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Apa? Berikan padaku.

Halo. Halo. Pacar? Bukan, bukan. Sebenarnya, bisa bertemu kamu di sini… juga termasuk kebetulan. Kamu juga suka perfilman? Bukan terlalu suka. Aku hanya ingin kuliah di Beijing. Suka Beijing? Ibu kota. Pusat ekonomi, politik, budaya Tiongkok. Kenapa seperti menghafal buku pelajaran? Bagaimana dengan kamu? Kenapa pilih jurusan akting? Menyenangkan. Aku kenal seorang teman,

Dia seorang pencipta drama. Katanya ingin aku jadi pemeran utama. Faktanya, karena ingin mengejarku. Tapi setelah aku ikut, ternyata sangat menarik. Oh ya, kami ada ujian drama dadakan. Bisakah ajarin aku? Aku ingin mengajarimu, tapi… Aku juga tidak jelas, hanya belajar saat ujian saja. Aku rasa, kamu pasti bisa. Orang seperti aku, yang tinggal wajah,

Hanya bisa ujian jurusan akting. Jadi, karena aku tidak tahu apa-apa, tampang juga biasa saja, jadi aku hanya bisa ujian jurusan sutradara. Bukankah ini medan magnet? Belum kasi soal komprehensif, kamu sudah tidak mampu? Minggir. Sudah siap mandi ya? Masih kerja soal? Bukankah ini soal medan magnet? Jauh lebih gampang dari soal komprehensif.

Mau ke mana? Pergi jalan-jalan. Pak, ada jual kartu telepon? Tidak ada gunanya punya kartu. Sudah rusak. Kenapa rambutmu belum dikeringkan? Mengagetkan aku saja. Kenapa cepat sekali? Hanya mandi saja, perlu berapa lama? Bu, baju tidurmu sudah lama dipakai ya? Uh. Kenapa tidak ganti baru? Masih bisa dipakai, harus hemat.

Ke depannya, kamu masih butuh banyak uang. Bu. Uh. Mereka mencintaiku 100%. Cinta hingga tidak memberikan ruang untukku. Dan aku mendapatkan 2 kali lipat. Kenapa kamu membawaku ke Akademi Drama Pusat? Bukankah kamu sedang stres… soal drama singkat untuk ujian lanjutanmu? Ah, kamu kenal guru di sini? Pergi saja, kamu akan tahu nanti. Sebelah sini.

Fu, aku ingin kamu tidak bertemu lagi dengan orang Zhou. Baik, Bu. Tidak, harus bersumpah. Untuk apa? Tidak, kamu harus bilang. Pura-pura lihat skenario. Baik, berlutut dan katakanlah. Mari, diulang lagi. Untuk apa bawa aku kemari? Tahu apa itu akting? Aku juga tidak tahu. Kamu… Kamu tahu Da Vinci? Da Vinci? Uh. Maksudmu hantu ninja?

Aku tahu, aku tahu. Aku telah melihat banyak lukisannya. Tapi aku pernah melihat gambar sketsanya. Dari itulah aku baru tahu, sebelum melukis sebuah gambar… dia perlu menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Setiap gerakan, sketsa, ekspresi karakter… harus gambar banyak sketsa baru bisa dipastikan. Jadi aku merasa ini sama dengan pertunjukan.

Pertunjukkan yang kamu lihat ini, adalah hasil akhirnya. Jadi aku merasa, dalam tahap belajar, akan lebih bermanfaat… jika melihat proses persiapannya. Ada apa? Aku hanya merasa sangat jarang melihatmu… membicarakan satu hal dengan sangat serius. Masalah kamu, aku tentu harus serius. Oh ya, ada satu hal lagi. Kita makan malam bersama malam ini.

Aku yang traktir. Lain kali saja ya. Sudah lama aku datang ke Beijing. Selalu terburu-buru, belum sempat makan dengan keluargaku. Tapi besok kami akan keluar ke kota lain untuk buat sketsa. Harus menunggu lama… jika ingin bertemu lagi denganmu. Baiklah. Nanti aku telepon ibuku dulu. Untuk apa begitu senang? Ini kamu yang traktir, bodoh.

Tentu saja senang. Keluar! Pak Wang, aku hanya datang untuk melihat kertas ujian kemarin. Aku ingin tahu berapa hasil ujianku. Serahkan ponselmu. Pak Wang, aku tidak… Aku tidak tahu… apa saja yang kamu pikirkan. Jika aku adalah kamu, aku sudah tidak bisa tidur. Aku mengerti. Aku hanya ingin telepon untuk terakhir kalinya. Halo.

Nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Jika niatmu tidak dalam kompetisi, terserah kamu saja. Ambil saja ponselnya. Terserah ingin telepon kepada siapa. Kamu di mana? Kapan pulang? Aku sedang nonton dengan teman. Sudah kubilang, pulang lebih awal hari ini. Ibu dengar ada restoran yang lumayan enak. Kita makan bersama hari ini. Itu, Bu…

Ada yang ingin kukatakan. Oh ya, penerbanganku besok pagi. Ada rapat dadakan yang perlu aku hadir. Jarang bisa kemari, Ibu belum traktir kamu makan enak. Oh ya, barusan apa yang ingin kamu katakan padaku? Tidak ada apa-apa. Aku akan segera pulang. Lu Xinghe. Sudahlah, aku sudah dengar semuanya. Suara ibumu sangat keras. Maaf.

Sudahlah, aku antar kamu. Aku sudah hitung. Barang-barang ini bisa kamu makan sampai ujian nanti. Semua ini kamu bawa sendiri? Iya. Begitu turun dari bus, aku sudah menuju ke sini. Aku tidak tahu bagaimana kondisi di sini. Aku khawatir tidak ada toko di sini. Bagaimana jika sia-sia aku datang kemari. Oh ya,

Aku bolos kelas matematika hari ini. Aku mungkin harus segera pergi. Kalau tidak, nanti tidak sempat naik bus. Jiandan, kamu sangat baik padaku. Ada apa ini? Aku bukan tipe orang yang tidak berhati. Kamu baik padaku, aku akan mengingatnya. Semua makanan ini milik kamu, tidak boleh dibagikan kepada Yu Huai. Oke, aku janji.

Dasar bodoh, aku bercanda. Kalian begitu akrab, mungkin nanti aku sudah dilupakan. Kenapa? Tidak apa-apa. Aku sedikit khawatir pada Yu Huai. Yu Huai, dia kenapa? Beberapa hari ini, kondisinya kurang baik. Dia juga ada kondisi tidak baik? Di sini kan? Iya, terima kasih. Kamu… Aku kenapa? Kamu tidak akan marah padaku kan?

Aku janji akan makan bersamamu dan tidak jadi. Terutama… Apakah aku termasuk orang pelit? Kamu sedang apa? Kenapa kamu tidak bisa serius lebih dari 2 menit? Aku memang tidak terlalu senang, tapi tidak marah. Aku hanya merasa, tidak bisa bertemu denganmu lagi. Kamu masih suka teman sebangkumu? Aku…

Aku kira datang ke Beijing, ada kehidupan baru… aku mungkin tidak begitu menyukaimu lagi. Tapi setelah kembali bertemu denganmu, aku tetap sangat bahagia. Aku melihatmu sangat baik di Beijing. Aku juga sangat senang. Gila lagi. Selamat tinggal. Nomor yang dihubungi tidak aktif, silakan hubungi nanti. Ke mana saja kamu? Mari, mari, mari. Ayo, bersulang.

Dasar! Begitu duduk langsung mau minum. Tidak ngomong dulu? Rayakan Geng Geng lulus ujian awal. Dibandingkan dengan ujian awal, Aku lebih senang karena melihat Geng Geng… giat, tumbuh berkembang di tahap ini. Geng. Ah. Beberapa tahun ini aku selalu menyesal, tidak berpartisipasi dalam pertumbuhan Geng Geng. Melihatmu merawatnya dengan begitu baik, kamu sudah bekerja keras.

Ayo bersulang. Kenapa begitu sungkan? Aku tidak tahu harus berkata apa. Itu karena putri kita tidak perlu dikhawatirkan. Ibu, ayah… sebenarnya aku tidak sebaik… seperti itu. Dulu aku juga sering tidak pengertian, suka melawan kalian. Tapi kali ini datang ke Beijing, aku baru punya kesempatan untuk merenungkannya. Dan aku mengerti banyak hal.

Intinya, aku sangat terima kasih pada kalian. Putri kita sudah dewasa. Ayo, ayo, ayo. Bersulang. Bersulang. Soal eksperimen adalah kelemahan setiap orang. Setiap kali akan ada kondisi ketinggalan langkah, atau operasi tidak tepat. Kali ini kalian harus lebih fokus. Kali ini adalah eksperimen rangkaian listrik. Minta semua orang untuk merancang percobaan.

Ubah sirkuit DC yang kompleks, menjadi sirkuit DC sederhana untuk diperhitungkan. Ayo dimulai sekarang. Cepat, ingin kena marah lagi? Baik, grup selanjutnya bersiap, yang lain tunggu dulu. Kak Liu, kamu juga datang ujian? Kamu sibuk apa belakangan ini? Aku baru menyiapkan sebuah drama. Sekarang datang ujian. Tidak bisa jika tidak ada karya tertentu.

Berdasarkan level Kak Liu, semua orang berburu-buru ingin kamu. Gadis kecil, kamu juga datang ujian? Apa saja karya film kamu? Tidak ada. Keluarga ada yang bermain dalam bidang ini? Aku hanya datang coba saja. Baik, grup ketiga siap untuk masuk. Giliran kita, ayo. Zhou Mo, aku pergi dulu. Bantu awasi ya. Kamu ke mana?

Kamu ke mana? Ini Yu Huai yang buat? Perkenalkan diri dulu. Para guru terhormat dari Akademi Film Beijing, selamat pagi semuanya. Namaku Liu Ge. Sebenarnya tahun lalu aku sudah ujian sekali, tapi karena kemampuanku belum mencukupi, jadi aku gunakan satu tahun lagi untuk mempersiapkannya. Sudahlah, sudahlah. Cukup perkenalan singkat saja. Selanjutnya.

Pagi para guru, namaku Zhang Tao. Dari Sekolah Menengah 6, Hebei. Aku merasa film adalah seni untuk menciptakan mimpi. Aku ingin mengabdikan hidupku pada seni film. Selanjutnya. Namaku Geng Geng. Tidak masalah, jangan gugup. Katakan saja secara singkat… kondisi dasar kamu. Pagi para guru, namaku Geng Geng. Huruf berulang. Biasanya aku suka memotret.

Temanmu bilang aku cocok Akademi perfilman. Jadi aku ingin mencobanya. Selanjutnya. Pagi para guru, namaku Zhang Tingting. Baiklah. Tema kalian adalah Menunggu Orang. Kalian sedang menunggu orang di stasiun. Orang yang sangat penting. Kalian pikirkan dulu. Grup tadi kemari. Mari kita mulai. Kenapa dia masih belum datang? Apa-apaan ini? Sudah sangat lama.

Sudahlah, jangan tunggu dia lagi. Kamu akan emosi jika menunggunya. Dia memang seperti ini setiap saat. Iya, kapan dia bisa tepat waktu. Iya kan? Sangat tidak tepat waktu. Pertama kali ajak dia, dia sudah seperti ini. Tidak bisa terus seperti ini. Sangat buat emosi. Setelah datang nanti, harus dihukum dua botol air mineral. Haus sekali.

Bagaimana ini? Bagaimana? Tidak ada gunanya mengeluh. Nomor yang dituju tidak aktif, silakan hubungi nanti. Nomor yang dituju tidak aktif. Halo. Halo. Ada orang? Bicaralah. Halo Halo, Geng Geng. Apakah ini Yu Huai? Iya, ini aku, ini aku. Aku Yu Huai, aku Yu Huai. Bisakah kamu mendengarnya? Tidak jelas, terlalu ribut.

Tapi seharusnya itu kamu kan? Dasar brengsek! Kenapa kamu menghilang begitu lama? Bukankah kita sudah sepakat, kamu mempersiapkan kompetisi, aku ikut ujian seni. Setiap hari kita harus telepon, saling memberi semangat? Kamu ke mana saja? Aku sudah berusaha. Aku selalu merindukan kamu. Aku juga merindukanmu. Aku kenapa? Yu Huai, semangat.

Kamu adalah orang yang aku kagumi. Halo, Geng Geng. Halo, Geng Geng. Halo. Halo, Geng Geng, kamu bisa mendengarnya? Halo. Waktunya sudah habis. Maaf, maaf. Tunggu sebentar. Namamu Geng Geng? Karena namamu Geng Geng, jadi kamu menciptakan karakter cowok bernama Yu Huai? Dalam karakter ciptaanmu, apakah Yu Huai adalah pacarmu?

Geng Geng Yu Huai (selalu dikenang)… sangat romantis. Yu Huai, dia bukan pacarku. Apakah adegan itu adalah ide yang kamu pikirkan? Aku tidak berpikir. Aku benar-benar menerima telepon. Benar-benar terima telepon? Pak, aku salah. Apakah saat ujian tidak boleh menerima telepon? Karena temanku akan ikut ujian, aku ingin menyemangati dia. Baik, baik, keluar dulu.

Yu Huai, istirahat dulu. Besok sudah ujian. Mari, santai dulu. Kalian main saja, aku lihat sebentar. Zhou Mo, sahabatmu lumayan. Kali ini ada harapan. Tentu saja, Yu Huai adalah muridku. Tiga 8 dan satu 3. Lewat. Baik, mulai jawab soal. Aku bantu lihat? Biarkan aku melihatnya sendiri. Baik.

Nomor yang dituju tidak aktif, silakan hubungi nanti. Yu Huai. Aku tidak lulus ujian. Kamu harus ujian dengan baik. Gila sekali. Soal kelima adalah soal komprehensif 3 bagian. Awalnya aku kira mekanik. Hampir salah. Aduh, lalu kenapa jika soal komprehensif? Kita sudah latihan berapa kali? Bahas saja di luar. Soal komprehensif? Geng Geng.

Apakah kamu ingin melihatku menangis dengan heboh? Apakah aku mengecewakan kamu? Juara pertama tidak mungkin lagi? Kamu bukan meringankan bebannya, tapi malah memberinya lebih banyak tekanan. Pernahkah kamu mencoba untuk memahami dia? Kamu adalah pengecut. Tahukah sekarang kamu paling bersalah kepada siapa? Yaitu Geng Geng. Setelah ujian masuk perguruan tinggi. Janji. Kamu tidak berbakat, menyerahlah.

Aku benar-benar… benar-benar sedikit lelah.