【FULL】In a Class of Her Own Eps 14【INDO SUB】| iQiyi Indonesia

[Tersedia subtitle bahasa Indonesia] [In A Class of Her Own] [Episode 14] Berhenti! Lepaskan dia segera! Apa kau harus berteriak? Lepaskan dia. Lakukan. Apa yang kalian lakukan? Apa yang kami lakukan? Aku yang harus tanya sedang apa kau. – Aku… – Kau apa? Kita di sini untuk menyelidiki masalahnya. Jangan langsung menyimpulkan. Teman-teman, tenanglah.

Ada apa? – Kau jelaskan. – Begini… Seseorang memberitahuku… Feng Cheng Jun merundungmu. Jadi, aku membawa mereka untuk datang dan menyelidiki. Bukan menginvestigasi. Kita mau menyelamatkan Wen Bin yang malang. – Ya, benar. – Baik, kita menyelamatkannya. Itu tak masuk akal. Tunggu, kenapa kalian berpikir begitu? Jangan takut. Beri tahu kami apa yang terjadi.

– Kami akan menanganinya untukmu. – Tapi… – Benar. – Kakak Feng tak merundungku. Apa maksudmu dia tak begitu? Kami melihatmu diusir dari asrama. Diusir dari asrama? Wen Bin, kau tak di asrama kemarin? Kau salah, Kakak Zhao Hui. Aku tak diusir dan aku tak takut. Bicara jujurlah, Wen Bin. Kau jelas takut.

Tiap kali aku melihatmu dengan Feng Cheng Jun, kau selalu gemetar ketakutan… seperti seorang gadis yang dirundung. – Ya. – Itu benar. Kau memperhatikan? – Itu dia, terlihat sekarang. – Tak apa-apa. Begitu wajahmu. Kau jelas diganggu. – Ya. – Kami akan membantumu. Bukan begitu. Kalian salah. Dia dan… Kakak Feng dan aku…

Kakak Feng dan aku adalah teman baik. Teman baik? Apa artinya? Tak terlihat begitu. Ya. Aku sudah mengawasi kalian selama beberapa hari. Mereka tak dekat sama sekali. – Ya. – Aku yakin mereka pura-pura. Sebenarnya, kami sedang bermain gim. Gim? Bermain? Ya, benar. Aku coba lihat reaksinya saat aku menghindar.

Ini riset cerita novel berikutnya untuk rangkaian novel kita. Apa? Kalian berdua… – Tidak. – Apa itu? Tidak? Apa yang tidak? Adik. Kau bukan sengaja menghindariku. Katakan kepadaku. Apa ada yang mengganggumu? Aku pasti dikutuk. Dikutuk? – Kutukan apa? – Dikutuk? Itu tak masalah, Wen Bin. Sedang apa kau? Apa yang dia lakukan? Wen Bin.

Sekarang juga. Apa kau merasa sedikit lebih baik? – Lebih baik? – Apa menurutmu dia terlihat lebih baik? Bagaimana perasaanmu jika kutempelkan jimat? Maaf soal itu. Pergilah! Kami pergi. – Maaf. – Maaf, Wen Bin. Kau baik-baik saja? Kau yakin baik-baik saja? Sudah cukup! Kau membuatnya tak baik. Ini salahku. Ayo! Adik Wen Bin.

Ada apa dengan mereka? Ada yang harus kulakukan, Kakak Feng. Akan kuberi tahu nanti. Kau akan keluar lagi? Ini bukan hari jalan-jalan. Ada keadaan darurat. Semua akan baik-baik saja. Kujelaskan nanti. Tak akan ada yang tahu. Apa kau mencari Mu Xiao Man lagi? Tidak! Ini darurat. Aku harus pergi! Adik Wen Bin!

Demam adikmu belum turun. Ibu sangat cemas. Ibu punya resepnya. Ibu hanya butuh uang untuk membeli obat. Ini uangnya. Kau lebih kurus dari terakhir bertemu. Makanan di sekolah seharusnya enak. Apa ada yang mengganggumu? Mencuri makananmu? Tidak ada. Jika tak bisa menjaga diri sendiri, kau bisa apa lagi? Ibu selalu meremehkanku. Ibu tahu?

Novel yang kutulis saat ini laris terjual. Apa Ibu tak bisa memujiku? Ibu… Apa gunanya memuji? Apa Wen Bin sungguh pergi? Bagaimana seharusnya kita menghukum pelajar… yang melanggar peraturan sekolah? Laporkan ke Dewan Peninjauan dan Hukuman. Itu mengurangi 10 poin. Lalu? Itu saja. Kita harus tegas. Agar para pelajar menganggapnya serius.

Peraturan sekolah saat ini seperti kunci kecil. Mengendalikan para pelajar yang baik, tapi tidak pembuat onar. Itu hanya gangguan kecil bagi para pelajar yang keras kepala. Tak ada pengaruhnya. Makanya, kita harus tegas. Kalau tidak, peraturan sekolah tak ada artinya. Aku baik-baik saja di akademi. Tak ada yang mencurigai identitasku. Tenang saja.

Akan kupastikan tak ada hal buruk terjadi kepadaku… selagi aku belajar dan mencari nafkah. Aku tak akan menyusahkan keluarga. Aku akan menaikkan penghasilan. Jadi, yang Ibu harus lakukan… adalah bersenandung saat menghitung uang. Apa terdengar bagus? Bersenandung dan menghitung uang? Jangan datang lagi jika berat badanmu tak bertambah. Tenang saja.

Lain kali, Ibu akan melihatku gemuk saat memberikan uang. Ibu hanya perlu menghitungnya dengan senang. Menghasilkan uang bukanlah segalanya. Keselamatan adalah yang utama. Paham? Baik. Sudah sore. Aku harus pergi. Mintalah adik untuk berhati-hati. Kau juga hati-hati. Pergilah. Ketua. Ketua. Aku melihat Wen Bin. Dia kembali. Siapa di sana? Mau bersembunyi, ‘kan? Aku melihatmu. Keluar!

Wen Bin! Wen Bin. Ke mana kau pergi? Ketua sudah mengawasimu. Jujurlah. Jangan keras kepala. Wen Bin. Kau keluar dari sekolah padahal itu dilarang. Kejahatan apa yang kau lakukan di luar? Urusan pribadi. Urusan pribadi, ya? Kau mungkin pergi ke Rumah Cai Yun… Akademi Yun Shang selalu memprioritaskan Lima Kebajikan. Tapi belakangan ini,

Beberapa orang sudah merusak reputasi sekolah… dan membuat malu para muridnya. Benar. Hama berbahaya seperti itu harus dihilangkan. Wen Bin, sebenarnya kenapa kau terang-terangan melanggar peraturan? Peraturan bukan permainan anak-anak. Jika kau tak bisa memberikan alasan yang tepat, dan pelajar lain berpikir bisa melakukan hal yang sama, lalu bagaimana? Bicaralah.

Kau tak punya jawaban atau tak mau jawab? Lihat aku! Apa aku berbuat salah kepadamu? Wen Bin… Dewan Murid sudah mengawasi perilaku dan tindakan salahmu. Kau tak dihukum karena kami berharap kau berubah. Tapi kau tetap keras kepala. Jangan salahkan peraturan karena tak berbelas kasihan. Aku terima hukumannya karena melanggar aturan.

Tapi aku tak terima kau menganggapku nakal. Lakukan saja yang kau mau. Aku akan terima. Baiklah. Kau punya nyali. Dengarkan. Aku menghukummu hari ini… bukan karena aku menargetkanmu. Ini untuk melindungi peraturan dan ketentuan adil Akademi Yun Shang… serta reputasi para pelajarnya, paham? – Ya. – Paham. Hukuman tak perlu alasan. Apa katamu?

Siapa yang menghukummu? Jelaskan! Kau dan semua orang tahu. Kau! Baik. Wen Bin. Hari ini, tercatat, aku akan mendisiplinkanmu mewakili Dewan Murid. Jangan dicatat, aku akan memberimu pelajaran. Kau harus tahu apa itu peraturan. Kau suka memanjat tembok, ‘kan? Kau akan berdiri di atas tembok selama yang kau suka. Ketua. Ketua! Diamlah. Baiklah. Lihat, Semuanya.

Keras kepala. Ini akibatnya karena membuat ketua kesal. Minggir. Akhirnya datang. Guru Li. Tidakkah menurutmu hukuman Wen Bin sedikit berlebihan? – Ketua menyuruhnya berdiri di sana. – Ya. Ini bukan kali pertama Wen Bin melanggar peraturan. Benar. Jika Dewan Peninjauan dan Hukuman memutuskan, – solusinya pasti menyakitkan. – Menyakitkan… Solusi yang menyakitkan? Sheng Zhi.

Sudah satu jam. Bocah itu, Wen Bin. Dia tangguh. Dia tak bergeser dari posisinya. Aku mau lihat berapa lama dia bisa berdiri di sini. Apa kalian melakukan yang kuperintahkan? Setiap 15 menit, kami menyuruhnya meminta maaf kepadamu. Entah dia berlagak bodoh atau tuli. Tak ada reaksi. Aku cemas… jika berlanjut dan terjadi sesuatu,

Kau akan mendapat masalah. Lagi pula, semua mata memperhatikan. Apa itu lelucon? Tujuanku adalah agar semua orang melihat. Aku, Han Sheng Zhi, menegakkan keadilan… dengan memberinya hukuman yang sesuai. Dia tak terganggu. Kenapa aku harus begitu? Selain itu, jika aku meringankan hukuman sekarang, itu hanya akan membuatnya makin berani nantinya.

– Pagi, Zhao Rong. – Zhao Rong. Selamat pagi. Kemarilah, Cheng Jun. Akhirnya. Aku mencarimu ke mana-mana. – Kenapa? – Dengarlah. Wen Bin dan ketua… Wen Bin? Kenapa dia? Tenanglah! Ayo, ikut aku. Dia masih berdiri. Ini harus dihentikan. Dia sudah lemas. Wen Bin! Kenapa kau selalu memilih jalan yang sulit?

– Minta maaflah. – Benar. Kau memberi mereka kuasa dengan bersikap keras kepala. Apa kau tak paham itu? Tidak. Saudara Wen Bin. Apa kau mau mati di atas sana? Benar. Cepat, bantu turunkan Wen Bin! Cepat! Berhenti! Hei… Apa dia sudah meminta maaf? Walau Wen Bin sudah melakukan kesalahan, dia tak pantas mati.

Apa Dewan Murid mencoba membunuhnya? Benar. Apa yang kalian inginkan? Peraturan sekolah itu seperti perintah militer. Janji harus ditepati dan tindakan harus tegas. Apa pun yang terjadi, aku akan bertanggung jawab. Lepaskan dia. Tak mungkin. Kau pikir kau siapa? Ya, ketua tak memerintahkan begitu. Kutantang kau menyentuhnya. Bagaimana dia?

– Apa kau baik-baik saja? – Wen Bin? Wen Bin. Kakak Feng. Aku tahu kau akan datang. Panggil tabib! – Cepat, panggil tabib. – Aku tak apa-apa. Aku hanya perlu istirahat. Feng Cheng Jun. Kau secara terbuka menentang otoritas Dewan Murid. Wen Bin memang melanggar peraturan. Boleh menghukum, tapi tidak menyiksanya. Dia salah,

Tapi tak melakukan kejahatan. Paham? Aku menyuruhnya berdiri di atas tembok dan itu membunuhnya? Lagi pula, kami menyiapkan tindakan pencegahan, ‘kan? Bagian mana yang menyiksa? – Benar. – Wen Bin yang harus disalahkan. Semuanya, berhentilah bertengkar. Berikan minumnya. Ayo. Cepat. Tugas Dewan Murid… adalah membuat para pelajar berani mengakui kesalahan. Bukan dengan paksaan, paham?

Kami hanya menegakkan peraturan sekolah. Berhenti memutarbalikkan fakta, Feng Cheng Jun. Baik. Kami akan memberi tahu Guru Li. Silakan. Aku mau melihat Guru Li memihak siapa. Ada apa? Aku bisa mendengar pertengkaran dari jauh. Kau seharusnya memberi tahu Guru Li lebih awal. Kini kondisi Wen Bin menyedihkan, pergi menemuinya hanya meminta penolakan. Benar.

Aku mau melihat… siapa yang cukup bodoh untuk meminta penolakan. Hal yang bisa ditangani oleh Ketua tak perlu melibatkan atasan. Benar. Kau hanya harus membawa Wen Bin kembali untuk pemulihan. Jika sesuatu yang lebih buruk terjadi, itu akan menjadi masalah nyata. Apa keputusanmu, Ketua? Lain kali, aku tak akan terlalu lunak. Tentu saja, Ketua.

Wen Bin. Kau dengar itu? Kau tak akan diampuni jika mengulanginya lagi. – Bawa dia. – Cepat, dia butuh istirahat. Ayo. Aku akan memanggil tabib. Aku sungguh baik-baik saja, Kakak Feng. Kenapa kau harus menyelinap keluar? Kau bahkan tak bisa memberitahuku? Kau mengambil risiko besar. Apa itu untuk menemui Nona Mu? Berhentilah bertanya, Kakak Feng.

Aku akan memberitahumu jika aku bisa. Apa yang sebenarnya kau sembunyikan? Tampaknya kau tak menganggapku orang yang bisa dipercaya. Kakak Feng, aku akan menceritakan semuanya kepadamu kelak. Percayalah kepadaku. Kau baik-baik saja? Terima kasih sudah datang membantuku, Tuan Yu. Aku tak datang untuk membantumu. Aku datang untuk menyelamatkan hidupmu. Apa? Kau masih tak memercayaiku?

Kenapa kau menghentikanku menemui Guru Li? Dewan Murid menghukum pelajar yang melanggar aturan. Mereka diberi wewenang oleh sekolah. Guru Li tak mau terlibat. Tapi jika dia orang yang menjatuhkan hukuman, nyawamu akan menjadi taruhannya. Apa maksudmu? Solusi yang menyakitkan. Bokongmu akan terbelah. Untungnya, Lu Zhao Rong memberitahuku tepat waktu. Jika tidak, Cheng Jun,

Niat baikmu akan menyebabkan lebih banyak kerugian. Wen Bin. Kau harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Kau tak bisa melanggar aturan lagi. Itu benar. Aku akan pergi. Setelah kejadian itu, Wen Bin mungkin akan… menghadapi lebih banyak kesulitan. Itu jelas masalah pribadi. Ketua tak bisa memenangkan hati Nona Mu, jadi dia melampiaskannya kepada Wen Bin.

– Hati-hati ucapanmu. – Kau hina! Jangan berisik. Kau akan ditandai juga jika ketua mendengarmu. Ketua tampaknya mahakuasa. Dia bisa menghukum siapa pun sesukanya. Bukankah itu menakutkan? Itu penyalahgunaan kekuasaan. Dia akan dihukum oleh surga. Sudah cukup, Teman-teman. Ketua… Dia… Mo Xiao Huan, Lu Zhao Rong. Ketua mau bertemu denganmu. Apa yang ketua inginkan?

Kenapa murid yang mengulang merasa takut? Aku tak takut. Aku akan mendukungmu. Ayo. Tentu, kau adalah senjataku! – Ayo. – Ayo pergi. Mereka dalam masalah. Cheng Jun. Kabar buruk. Lu Zhao Rong dan Mo Xiao Huan dipanggil oleh Ketua. Ketua? Kenapa dia memanggil mereka? Karena Wen Bin tentu saja.

Ketua tahu Lu Zhao Rong diam-diam memberi tahumu. Mo Xiao Huan membantumu menyelamatkan Wen Bin di depan semuanya. Mereka tak bisa membedakan mana yang benar dan salah. Mereka pasti dalam kesulitan. Aku mau menemui mereka. – Tidak, jangan. – Wen Bin. Kau tak boleh pergi. Ketua masih marah kepadamu.

– Dia bisa cari alasan untuk menyiksamu. – Ya. Mereka dalam masalah karena aku. Adik Wen Bin. Ini bukan lagi tentangmu saja. Lu Zhao Rong. Ketua. Sebagai anggota Dewan Murid, kau membela Wen Bin melawan keputusanku berkali-kali. Apa Wen Bin layak mendapatkan kekagumanmu? – Tidak, aku… – Wen Bin layak dikagumi.

Tutup mulutmu. Bukan giliranmu untuk berbicara. Ya, baiklah. Tak masalah. Jangan banyak bicara. Diam. Begini, Ketua. Menghukum Wen Bin seperti itu, anak yang lemah, mungkin menjadi bumerang bagi Dewan Murid… jika hal buruk terjadi kepadanya. Bukankah begitu? Jadi, maksudmu kau melakukannya demi aku? Ya. Aku harus berterima kasih. Tak perlu. Sesuai keputusan Dewan Murid,

Perihal mengungkapkan informasi rahasia dewan, Lu Zhao Rong akan mengakui kesalahannya di depan seluruh sekolah. Ketua. Tolong pertimbangkan kembali, Ketua. Minta maaf di depan seluruh sekolah? Itu aib terbesar seorang pelajar Yun Shang. Aku sudah begitu lama menjadi anggota dewan. Walau aku tak mencapai banyak hal, aku bekerja keras. Harap pertimbangkan kembali.

Itu akan merusak peluangku untuk ujian kekaisaran. Itu akan tergantung pada kinerjamu di masa depan. Kenapa kau gemetar? Kita harus belajar dari Wen Bin. Jangan pernah tunduk kepada pengecut egois seperti dia! Siapa pengecut egois? Kau! – Hentikan! – Tiga puluh kali dipukul! – Kurangi 30 poin nilai bangsawan. – Hei!

– Tidak, jangan! – Apa yang kau lakukan? Tolong! Berhentilah memukulnya! – Kita bicarakan baik-baik. – Tolong! – Ketua. – Hentikan! – Tolong aku! – Ketua! Apa yang terjadi? – Kepala Sekolah Feng ada di sini. – Tolong! Kepala Sekolah Feng. Kepala Sekolah Feng! Lihat! Kakekku akan sedih. Sudah cukup. Tanganmu bengkak. Benar! Kataku diam.

Bagaimana dia bisa memegang pena? Kepala Sekolah Feng. Dia melanggar aturan dan menolak mengakui kesalahannya. Lebih tepatnya menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Feng Cheng Jun. Kau menantang Dewan Murid berkali-kali. Kami belum memutuskan apa hukumanmu. Sekarang, kau menantang otoritas lagi. Aku tak akan mengampunimu. Apa Cheng Jun akan dihukum juga? Kepala Sekolah Feng.

Tak ada yang bisa dicapai tanpa standar. Ya. Kita memang membutuhkan standar. Tapi untuk masalah ini, bukankah itu harus dipertimbangkan lebih lanjut? Kepala Sekolah Feng. Keputusan Ketua tak mewakili kepentingan para pelajar. Ini berisi tanda tangan Yang Yi De, Wen Zi Feng, dan Wei Zhao Hui. Tampaknya banyak pelajar tak senang dengan Dewan Murid.

Feng Cheng Jun. Kau tak membuang waktu mengumpulkan para pelajar… untuk menantang Dewan. Betapa liciknya kau. Ayo. Biarkan aku bicara dengan kalian berdua. Jangan mulai! Mengenai hal ini… aku sudah membahasnya dengan Guru Li dan Guru Ding. Faktanya adalah, ada beberapa murid yang meragukan… soal Dewan Murid. Jika ini terus berlanjut,

Itu akan berdampak negatif pada suasana akademik di Yun Shang. Aturan yang kau bicarakan itu penting. Perubahan yang disarankan Cheng Jun juga tepat waktu. Begini saja. Kita akan mengadakan forum kebijakan malam ini. Perwakilan pelajar akan memilih apa yang mereka inginkan. – Tapi… – Murid itu, Lu… Aku di sini, Zhao Rong.

Benar, hukuman bagi dia dan Mo Xiao Huan… akan dicabut. – Terima kasih, Kepala Sekolah Feng! – Terima kasih, Kepala Sekolah! Sudah cukup. Kepala Sekolah Feng… Semuanya sudah beres. Kutantang kau memukulku lagi. – Kepala Sekolah Feng! – Pergilah! Kepala Sekolah Feng! Forum kebijakan apa? Biarkan kuringkas. Lewat Menit Yunzhou,

Banyak pelajar tak sepenuhnya setuju dengan peraturan Akademi Yun Shang. Demi keadilan, forum kebijakan akan diadakan. Para penantang dan pembela akan berdebat akademis. Lalu, perwakilan pelajar akan memilih… berdasarkan argumen mereka… untuk memutuskan akan mengubah aturan atau tidak. Akhirnya, catatan forum akan diserahkan kepada Guru Wang. Bagus, kita harus memanfaatkan peluang ini dengan baik.

Kita tak bisa membiarkan Dewan Murid menyalahgunakan kekuasaan mereka. Tampaknya mengumpulkan begitu banyak tanda tangan pelajar itu berhasil. Aku datang, Ketua. Apa yang bisa kulakukan untukmu? Bersiaplah. Kau akan bergabung denganku di forum kebijakan malam ini. Aku? Kenapa? Kau tak mau? Ini kesempatan langka untuk pamer. Aku merasa terhormat. Bagus.

Kita akan bersaing dengan Feng Cheng Jun. Semuanya bergantung pada argumentasimu. Kau hanya bisa menang. Aku tak akan menerima kegagalan. Aku akan melakukan yang terbaik. Siapa yang kita kirim untuk berdebat? Bukankah itu sudah jelas? Cheng Jun. Tolong lakukan. – Tolong lakukan, Cheng Jun. – Tolong. Ini terjadi karena aku. Aku akan ikut juga.

Tindakan Dewan Murid tak didukung oleh mayoritas pelajar. Karena itu, kami menyarankan otoritas dewan untuk menghukum dihapuskan. Apa kau mengatakan untuk menghilangkan Dewan Murid? Tidak. Maksudku, dewan bisa menjalankan perannya sebagai pengawas. Apa kau mencoba menghapus aturan yang ditetapkan oleh pendahulu kita? Zaman sudah berubah. Kenapa mempertahankan kegagalan? Tak ada yang bisa dicapai tanpa standar.

Kalian semua dengan terang-terangan menolak otoritas. Bukankah itu karena ada sesuatu yang disembunyikan? Jangan mencoba menjadi oportunis dan mengubah aturan kuno. Dengarkan saranku. Lebih baik mengikuti aturan dan hidup dengan jujur. Ketua bijak! Ya, kita harus mengikuti aturan yang bermanfaat. Tapi saat ini, aturan dewan gagal menciptakan suasana yang kondusif.

Tak ada prioritas, hak yang jelas, apa pun itu. Itu sombong dan salah arah. Saudara Cheng Jun benar. – Ya! – Benar. Lucu sekali, Cheng Jun. Aturan ditetapkan oleh para pendahulu lebih dari 20 tahun yang lalu. Membantu banyak pelajar membangun kehidupan baik dan bijaksana. Tanpa aturan, itu seperti jalan tanpa arah.

Tujuan awal Dewan untuk kebaikan semua orang, ‘kan? Xun Zi berkata, “Orang-orang yang adil tak bersalah, tapi yang bias adalah penjahat.” Tujuan Dewan dibentuk bukan mengurung kita di dalam sangkar, untuk kepentingan sendiri. – Ya. – Benar. Kenapa tak ada yang bicara? Mari kita dengar pendapatmu, Guru Li. Feng Cheng Jun.

Menurutmu, peraturan sekolah itu curang dan tak adil. Bukan itu maksudku. Para murid percaya jika ada yang melanggar aturan, hukuman harus dijatuhkan berdasarkan kasus per kasus. Seharusnya tak sama untuk semuanya. Kaulah yang punya kepentingan pribadi. Kau mencoba mengubah aturan untuk kepentingan Wen Bin. Aku percaya aturan yang baik menciptakan kepatuhan.

Sementara aturan yang buruk menciptakan ketundukan. Feng Cheng Jun! Kau sebaiknya yakin… memiliki apa yang diperlukan untuk menantang aturan. Kau harus berbuat sesuai ucapanmu. Wen Bin. Kau melanggar aturan beberapa kali dan Dewan menghukummu sesuai itu. Apa kau tak pantas menerimanya? Jawab dengan jujur. Aku pantas. Feng Cheng Jun. Kau dengar itu.

Dia pantas mendapatkannya, tapi apa kalian pernah bertanya-tanya… Dia berasal dari keluarga miskin. Tanpa mengganggu studinya, dia bekerja keras membantu keluarganya tapi dihukum karena itu. Apa itu masuk akal? – Tidak. – Kita berasal dari semua lapisan. Keadaan kita berbeda. Karena itu, sulit untuk mematuhi peraturan sekolah saat ini. – Ya. – Benar.

Cheng Jun benar. Aku setuju sudah waktunya untuk mengubah aturan. – Setuju. – Inilah waktu untuk perubahan. – Ubahlah. – Ya. – Itu perlu. – Ya. Keinginanku adalah… bisa pulang lebih sering mengunjungi orang tuaku yang sakit. Tujuan utama Yun Shang adalah membina pejabat di masa depan. Sisanya bukan prioritas.

Aku setuju dengan Yu Le Xuan. Kami, para murid berpikir… menjadi pejabat bukan satu-satunya tujuan akhir. Masing-masing memiliki ambisi sendiri. Walau pelajar Yun Shang tak menjadi pejabat, mereka memiliki pengetahuan untuk dibagikan kepada orang-orang. Masing-masing punya ambisi sendiri? Tentu saja. Kepala Sekolah Feng. Aku tak tertarik menjadi pejabat. Omong kosong!

Kenapa kau datang ke Yun Shang? Aku datang untuk mempelajari Buku Perubahan. Mempelajari rahasia langit, bumi, dan semuanya. Lalu berbagi pengetahuanku dengan yang lain. Astaga. Bocah itu kehilangan akal sehatnya. Aku juga tak tertarik. Satu lagi yang kehilangan akal. Alasanku datang ke sini… adalah berteman dengan seseorang seperti Wen Bin,

Yang berbagi mimpi dan gagasan serupa. Dengan begitu, di jalan yang panjang dan sulit di depan, aku tak harus berjalan sendiri. Masuk akal. Apa yang dikatakan Cheng Jun sangat menyentuhku. Impianku adalah menjadi pelukis. Aku akan melukis kisah tentang hati dan keindahan dunia. – Hebat. – Bagus sekali. Sejujurnya, jika ayah tak memaksaku,

Aku akan menjadi pedagang di luar sana yang melakukan bisnis. Aku mau bertanya kepada Cheng Jun. Bagaimana seharusnya sekolah mengawasi para pelajar? Singkirkan hukuman yang tak membantu. Inilah waktu untuk perubahan. Ajari murid sesuai dengan bakat mereka. Apa yang dikatakan Cheng Jun sangat bagus. – Ya. – Aku harus bertepuk tangan untuknya.

Ya, aku sangat bisa memahami Cheng Jun. – Aku juga. – Siapa yang tidak? Aku juga. Benar. Tunjukkan dirimu. Kau sudah dikepung. Tangkap dia hidup-hidup! Kejar dia! Feng Cheng Jun tak hanya mau mengubah aturan, tapi juga mengubah sistem akademik sekolah. Itu omong kosong! Apa yang bermanfaat bagi para pelajar, menguntungkan para pilar masa depan.

Itu baik untuk negara. Apa salahnya? Feng Cheng Jun sangat berani mengucapkan kata-kata itu. Feng Cheng Jun. Ada lagi yang mau kau tambahkan? Sekolah menunjuk para pelajar untuk mengelola Dewan Murid. Karena kau percaya pada kesetaraan dan penilaian diri para pelajar. Aku pikir, jika itu masalahnya, bangsawan dan rakyat jelata, pria dan wanita…

Semua harus memiliki akses ke pendidikan. Konyol! Sekarang kau mau wanita belajar? Kau menghina akademi. – Mimpi saja! – Katakan kepadaku, Ketua. Baik pria dan wanita hidup di bumi ini. Kenapa kita harus dilahirkan berbeda? Kita memulai semuanya dari nol. Sederhananya, bukankah kalian semua mau calon istrimu memiliki pengetahuan… atau tak tahu apa-apa dan bodoh?

Dia keterlaluan. Apa yang baru saja dikatakan Wen Bin… Jangan dicatat. Kepala Sekolah Feng. Para pelajar berdebat. Kita harus membiarkan mereka berdebat dengan bebas. Dengan demikian, akan bermakna dan layak dipertimbangkan. Guru Wang tak akan menegurmu karena itu. Bisakah kita benar-benar melakukannya? Jika kau tak mencatat apa yang dikatakan Wen Bin,

Itu hanyalah menipu orang lain. Baik, catatlah. Apa yang dikatakan Wen Bin masuk akal. Nenekku mau belajar sejak muda. Jika nenekku bersekolah, mungkin ayahku akan mencapai hal yang lebih besar. Jika mereka menggunakan pengajaran berbasis bakat lebih cepat, Zi Feng dan aku tak akan menunggu untuk ujian. Memikirkannya membuatku sedih.

Kami semua menginginkan peraturan untuk kami patuhi dengan bangga. Aturan yang membantu kami menjadi warga negara yang bermanfaat, membalas budi kepada guru dan negara kami yang sudah membimbing. Itu juga maksud dan tujuan asli seorang pelajar. Jangan mengecewakan diri sendiri, keluarga, dan negara. – Benar! – Kau mengatakannya dengan baik!

– Bagus sekali! – Kau mengatakannya dengan baik. Benar sekali! Kerja bagus! Dia benar. – Itu masuk akal. – Ya. Berhenti! Berhenti! – Berhenti! – Cepat! Lihat, Tuan. Ikuti dia. Berhenti di sana.