【FULL】In a Class of Her Own Eps 13【INDO SUB】| iQiyi Indonesia

[Tersedia subtitle Bahasa Indonesia] [In A Class of Her Own] [Episode 13] Adik. Kakak Feng. Aku punya kabar baik untukmu. Buku-bukuku laris manis. Terjual habis. Benarkah? Selamat. Apa ada hal lain? Kakak Feng, apa kau marah kepadaku? Aku tak marah kepadamu. Kau sangat sibuk belakangan ini, tapi jangan lupa belajar.

Walau kau energik dan pintar, belajar harus menjadi prioritasmu. Kakak Feng, apa kau mencari ini? Catatan yang hebat. Ini sederhana dan mudah dipahami, belum lagi tulisan tangan yang rapi. Aku akan belajar dengan baik, dan kau bisa memeriksa pekerjaanku. Kakak Feng. Kau sangat baik. Sebaiknya kau habiskan lebih banyak waktu untuk belajar. Kakak Feng.

Aku punya permintaan kecil. Kau harus membantuku. Apa? Begini… Ini tentang Nona Han. Kau tahu dia sangat terluka oleh kata-katamu waktu itu, ‘kan? Seorang pria sepertimu selalu bersikap lembut kepada wanita. Kau tak mau dia murung, ‘kan? Apa seserius itu? Jika dia jatuh sakit karena hal ini, aku yakin kau akan merasa buruk. Lupakan saja.

Seharusnya aku tak menemuinya. Ucapanku sangat keterlaluan. Aku akan lebih hati-hati lain kali. Tapi aku sudah berjanji kepadanya. Adik Wen Bin. Teganya kau? Luka lain sebelum dia pulih. Jika dia tak bisa menerimanya, kau tahu harus apa. Adik Wen Bin. Apa? Tuan Feng setuju? Benar. Tuan Yu memang pria yang menepati janjinya.

Nona Muda, kau harus pikirkan… apa yang bisa kau lakukan agar Tuan Feng… tak akan salah paham lebih jauh. Aku harus melakukannya dengan baik kali ini, dan mengesankan Tuan Feng. Xiao Qin, beri aku ide. Tenang saja, Nona Muda. Kau bisa mengandalkanku. Kau terlalu memikirkan Tuan Feng sekarang. Jika kau tetap tenang, pasti bisa melakukannya.

– Mengagumkan. – Hebat. Kakak, pemandangan dan pertunjukannya indah. Kau harus melupakan semua kesedihanmu. Kenapa Tuan Wen melakukan itu kepadaku? Aku tak tahu alasannya. Kupikir Tuan Wen menyukaimu. Dia pasti punya alasan melakukan itu. Kakak, tenang saja. Siapa yang tak akan jatuh cinta pada kecantikanmu? Kalau begitu, katakan kepadaku, kenapa?

Bukankah Tuan Wen memberi tahu kita Akademi sangat ketat? Kau memercayainya? Tanyakan kepadanya lain kali kalian bertemu. Santai saja. Kau wanita yang pintar. Tak ada yang tak bisa kau pecahkan. Dasar mulut manis. Mari kita tonton pertunjukannya. Ayo. Bagus! Adik Wen Bin, mari kita lihat pertunjukan selagi menunggu. Baik. Dia di sini. Ayo. Nona Han.

Aku sangat tak sopan kepadamu waktu itu. Maafkan aku. Tak apa-apa. Aku sudah melupakannya. Nona Muda. Entah bagaimana, ucapanmu itu masuk akal. Aku sudah memikirkannya. Kata-katamu mungkin kasar, tapi itu benar. Aku belajar banyak darimu. Kau boleh menceramahiku lagi. Jangan begitu. Terima kasih atas pengertianmu. Kita bertemu di hari yang indah,

Jadi kenapa kita tak bergembira bersama? [Dia tak tampak depresi.] [Le Xuan membohongiku lagi.] Tuan Feng. Bagaimana menurutmu? Pertunjukkan sudah dimulai. Ini menarik. Xiao Qin, bawa Tuan Wen ke sana. Tuan Wen, lihatlah. Tuan Feng, mari kita jalan-jalan melihat bunga di sana. Ayo. Bagus, ‘kan? Ya, kakiku sakit. Kau lihat saja.

– Ada apa dengan kakimu? – Bukan apa-apa. Luar biasa! Benar, ‘kan? Lihatlah. Luar biasa. Tuan Feng, pemandangannya luar biasa. Mari kita habiskan waktu di sini. Aku lelah berjalan. Kita di sini saja. Ayo. Lihat, indah sekali di sana. Udaranya segar juga. Udara di sini sangat segar. Tampaknya ada aroma bunga di udara.

Bisa kau mencium… Tuan Wen. Bukankah seharusnya kau melihat pertunjukan? Tuan Wen. Apa kau tak melihat pertunjukan? Aku melihatnya. Apa itu bagus? Bagus. Bagus? Kenapa kau tak tetap di sana? Pertunjukkan sudah selesai. Aku baru saja ingat. Kepala Sekolah Feng memanggil kami. Kami harus pergi. Sampai jumpa. Ayo. Tuan Feng.

Ini masih pagi, kenapa tak tinggal sedikit lebih lama? Tak apa-apa. Nona Xiao Qin dan Nona Han, bergembiralah. Bergembiralah. – Ayo. – Tuan Feng. Nona Muda. Maafkan aku. Nona Muda. Hebat. Mau ke mana kita? Melihat pertunjukan. Itu mengagumkan. Tak setiap hari kita keluar. Kita harus menikmati sebisanya.

Bukankah kau bilang Kepala Sekolah Feng mau menemui kita? Apa kau benar-benar mau melihat bunga dengan Nona Han? Aku tahu kau terlalu malu untuk menolaknya. Makanya aku menyelamatkanmu. Bagaimana kau akan berterima kasih kepadaku? Terima kasih sudah menyelamatkanku. Kau benar-benar pandai berbohong. Sangat hebat. Kakak Feng, aku melakukan itu demi kebaikanmu.

Pokoknya, kau harus percaya kepadaku. Karena kau adalah Kakak Feng yang terbaik. Nikmatilah, aku pulang. Kakak Feng. [Dewan Peninjauan dan Hukuman] Guru Li. Mau ke mana kau? Aku akan bertemu teman. Aku akan kembali sebelum pintu ditutup. Catat itu. Luar biasa! Kakak Feng. Kakak Feng, tolong jangan marah. Kakak Feng!

Tuan Wen, jarang melihatmu keluar jalan-jalan. Sulit bertemu dengan Tuan Wen karena dia biasanya sibuk belajar. Kebetulan sekali bertemu denganmu di sini. Kau harus menebus kesalahanmu dengan menemani kakak. Bisa kau melakukannya, Tuan Wen? Pria yang tampak rajin ini pasti Tuan Feng yang terkenal. Namaku Mu Xiao Man. Kau pasti sudah mendengar tentangku.

Sudah beberapa hari sejak aku bertemu Tuan Wen. Aku mau mengobrol dengannya. Perkenankan kami menghabiskan waktu bersama. Jangan pergi. Kalian berdua sudah lama tak bertemu, jadi aku akan pergi sekarang. Jangan pergi, Kakak Feng. Apa yang kau lakukan? Begini, Kepala Sekolah Feng bilang akan mengurangi poin jika aku pulang terlambat. Poinku baru saja dikurangi.

Benarkah, Tuan Feng? Ini kesempatan langka bagimu untuk bersama, jadi jangan pedulikan pengurangan poin. Mustahil. Ketua sudah memperingatiku. Jangan tinggalkan aku. Aku akan tetap bersamamu. Jangan mengecewakan Nona Mu. Sempurna! Kami dalam perjalanan ke Kedai Minuman Mingren. Kakak sudah membeli Cairan Emas Asli di sana. Kau bisa minum bersama. Ayo. Tuan Wen. [Kedai Minuman Mingren]

Kita sudah sampai. Kudengar kedai punya menu baru. Semuanya dimasak oleh koki terbaik menggunakan bahan-bahan mahal. Kau dan Tn. Feng akan bergembira di sini. Ayo minum sampai mabuk. Ayo. Hai. Maaf, kedai sudah tutup. – Tutup? – Benar. Pada waktu seperti ini? Kedai Minuman Mingren tak pernah tutup pada waktu seperti ini.

Apa kau tak mau uang? Aku sungguh minta maaf. Seluruh kedai sudah dipesan. Silakan datang lagi. Siapa yang bisa memesan seluruh Kedai Minuman Mingren? Apa ada pesta? Dia seorang wanita kaya. Seorang wanita? Sombong sekali. Kami harus minum anggur hari ini. Ayo. Tuan-tuan, Nona-nona. Tolong jangan menyulitkanku. Datanglah lain kali.

Kakak Feng, kita tak bisa masuk. Kita datang lain kali. Tidak. Aku akan memastikan Nona Mu merasakan anggurnya hari ini. Ayo. Teman-teman… Bagaimana kita menyebut ini? Pikiran kita… – “Selaras”. – Sebutannya “selaras”. Aku tak bertanya padamu. Pokoknya, ini pasti takdir. Kau terlalu mengkhayal, Nona Han.

Tuan Feng dan Tuan Wen ada di sini karena diundang olehku. Nona Han sudah memesan seluruh kedai, jadi Tuan Wen dan Tuan Feng, mari kita cari tempat lain. Jadi, Tuan Feng membuat alasan kembali ke Akademi… karena kau mau minum dengan wanita ini? Teganya kau melakukan ini kepadanya? Apa kau tak merasa buruk?

Kami dalam perjalanan kembali, Nona Han, tapi… – Aku… – Kakak Feng. Itu memang salah kami. Minta maaf kepada Nona Han. Jika kau mau meminta maaf, minumlah dengan Nona Muda. Tuan Wen, dalam hal ini kita harus menuruti mereka, dan biarkan Tuan Feng tetap di sini. Suatu kehormatan bisa minum dengan Tuan Feng.

Ini, bersulang untukmu. Tuan Feng, apa kau baik-baik saja? Apa kau bukan peminum yang hebat? Anggur buruk bagi kesehatan. Jangan minum terlalu banyak. Silakan, Tuan Wen. Aku bersulang untukmu juga. Terima kasih atas perhatianmu, Tuan Feng. Aku jarang minum anggur. Enak. Tuan Feng. Jika kau tak minum anggur, silakan coba makanannya. Bersulang. Untuk Kakak Feng.

Adik Wen Bin, untuk apa itu? Karena kau pria sejati yang baik kepada semua orang. Minumlah perlahan. Tuan Feng, aku akan bersulang untukmu juga. Terima kasih sudah menjaga Tuan Wen. Hei, Nona Mu. Ucapanmu terdengar seperti kau dan Tuan Wen sudah menikah. Terima kasih, aku menantikan itu.

Kuharap Tuan Feng dan Nona Han akan datang bersama ke pernikahan kami. Tentu. Tampaknya pernikahan Adik Wen Bin dan Nona Mu akan segera terjadi. Kau menikahi istri yang cantik, jadi kuharap pernikahan kalian langgeng. Kakak Feng, omong kosong apa itu? Omong kosong? Maksudku, dia terdengar terlalu formal dan serius. Ini makanannya. Mari makan.

Kita akan minum setelahnya. Kakak. Tuan Wen. Kau tak mau minum lebih banyak denganku? Para wanita bisa minum anggur, sementara para pria hanya akan makan. Mu Xiao Man, seleramu makin buruk. Kau menolak pria yang hebat seperti saudaraku… demi pria pengecut seperti itu. Han Shu Min. Kau boleh bicara buruk tentangku,

Tapi jangan berani mengatakan hal buruk tentang Tuan Wen. Selain itu, Tuan Feng sepertinya bukan peminum yang lebih baik daripada Tuan Wen. Tak seperti Adik Wen Bin, aku tak kuat minum alkohol. Dengan aku duduk di sini, Tuan Feng tak perlu minum anggur. Kau seorang peminum yang hebat, ‘kan? Tentu saja. Pelayan, sebotol lagi!

– Segera. – Nona Muda, sudah cukup. – Pelayan, jadikan dua. – Jangan ganggu aku. – Kakak. – Baik. Silakan. Isilah. Semuanya. Kalian berdua, harus minum perlahan. Dia benar, bersikaplah rasional. Mustahil. Mustahil. Kakak. Tuan Wen. Kau sangat beruntung bisa mendapatkan bola temari Mu Xiao Man. Kau harus bersikap baik kepadanya.

Atau kau akan kehilangan bebek yang sudah dimasak. Dia adalah angsa. Jangan sebut dia bebek. Bebek atau angsa, itu tergantung dia bersama siapa. Tak peduli siapa pun itu, dia pasti lebih baik… daripada orang yang terus menggangguku setelah meninggalkanku. Beraninya kau mengkritik saudaraku? Aku akan membuatmu mabuk hari ini. Nona Muda. Habiskan. Nona Han.

– Kakak, sudah cukup. – Tuan Feng. Kemarilah dan kita berikan pelajaran pada bebek ini. Siapa yang kau sebut bebek? Kasar sekali! Nona Mu, mari kita hancurkan dia. Nona Muda. Nona Han, kau mabuk. Adik Wen Bin. Jangan kehilangan kesabaran seperti mereka. Kenapa? Apa dia harus mudah marah? Adik Wen Bin, hentikan.

Apa aku yang menyebabkan masalah? Bukankah dia yang mabuk dan bersikap kasar? Tuan Wen dan Mu Xiao Man menindasku. Cukup, Adik Wen Bin. – Tuan Feng. – Kita kembali ke Akademi. Nona Muda! – Sampai jumpa, Semuanya. – Tuan Feng. – Xiao Jie. – Tuan Feng.

– Tolong bawa pulang Mu untukku. – Tetaplah di sini. Aku akan mengunjungimu saat ada hari pembukaan lain. Baguslah. Aku, Han Shu Min, tak akan menyerah begitu saja! Nona Muda. Kakak Feng, apa kau marah? Dia mabuk, kenapa kau harus tersinggung? Apa kau suka Nona Han? Kenapa kau peduli kalau aku suka dia?

Kau adalah kakakku. Tentu saja aku peduli. Adik. Aku tak keberatan kau menerima bola temari. Kenapa kau peduli siapa yang aku sukai? Ini lagi? Jika aku tak menerima bola temari, dan Mu Xiao Man harus tetap di atas panggung, dia akan dipermalukan di Rumah Cai Yun. Jadi, kau hanya berusaha menyelamatkannya?

Apa yang akan kau lakukan? Aku tak punya pilihan, ‘kan? Lalu pilihan apa yang kau miliki sekarang? Jika kau meninggalkannya sekarang, itu sama saja membiarkannya tetap di atas panggung. Ini selalu memusingkanku. Apa yang harus kulakukan, Kakak Feng? Yang sudah terjadi, biarlah. Selain itu, Nona Mu sangat mencintaimu. Kau tak punya pilihan. Tidak.

Kau mau aku berbuat apa? Yang terbaik jika kita berdua bisa belajar di luar negeri… di tempat tak ada yang mengenal kita. [Astaga.] [Apa yang terjadi kepadaku?] [Kenapa aku mengatakan itu?] Kakak Feng, tunggu sebentar. Ayo. Ini dia peminum yang hebat. Kau selalu tampak sombong… mengabaikan saudaraku. Memangnya kau siapa? Kau hanya melihatku mengabaikannya.

Tapi tahukah kau… dia sudah mengecewakanku? Dia mengecewakanmu? Itu mustahil. Dia sangat mencintaimu. Cinta mendalam yang kau bicarakan… Menurutku, itu hanyalah keinginannya… untuk memiliki seseorang, karena kegagalan memenangkan hati… membuatnya kesal dan tetap terjaga di malam hari. Gagal memenangkan hati? Merasa kesal? Membuatnya tetap terjaga di malam hari?

Bukankah itu yang Tn. Feng lakukan kepadaku sekarang? Kita harus melupakan orang-orang berengsek itu. Berhenti memikirkan mereka. Lalu kenapa jika dia pelajar Akademi Yun Shang? Mereka bahkan tak sesuai dengan seleraku. Ayo, Kakak. Jangan pedulikan mereka. Kita akan mabuk selagi masih ada anggur. Ayo. Nona Muda. Nona Muda, berhenti minum.

Kau sudah minum banyak hari ini. Nona Muda. Setiap wanita di dunia akan menderita karena cinta. Aku benar-benar berharap Tuan Feng akan jatuh cinta kepadaku. – Kapan dia… – Nona Muda. akan jatuh cinta kepadaku? Ayo. Ini tembok termudah untuk dipanjat di Akademi. Tampaknya kau selalu memanjat tembok.

Aku juga kebetulan tahu jalan pintas ke asrama. Apa yang mereka lakukan di sini secara diam-diam? Mereka pasti melanggar aturan. [Dewan Peninjauan dan Hukuman] Itu Guru Li Hu. Dasar bodoh. Kemarilah. Kau Lin Bing Shen, ‘kan? Kemarilah. Jangan takut. Kemarilah. Kemarilah. Guru Li, bukan yang pelakunya, sumpah. Kau pikir aku akan percaya? Kau sudah keterlaluan.

Beraninya kau mengerjai gurumu? Anak yang cerdas. Kau tak harus tinggal di Akademi Yun Shang. Sebaliknya, kau harus pergi sekarang. Keluarlah dari pintu jika kau begitu hebat. Dunia luar itu gratis. Kau bebas melakukan apa pun sesukamu. [Dia tak tampak seperti ahli seni bela diri.] Kau berani menyangkalnya? Sungguh kejam. Aku harus menghukummu dengan keras.

Aku akan mengurangi poin perilakumu. Berapa banyak poin? Tiga poin? Atau lima poin? Aku akan mengurangi 100 poin. Bicaralah sekarang jika ada yang mau kau katakan. Kau tahu kesalahanmu? – Bagus, Anak baik. – Guru Li. Kembali ke kamarmu. – Introspeksi dirimu di sana. – Habislah dia. Pergilah sekarang. Cepat! Tidak, bukan aku pelakunya. Pergilah.

– Pergilah. – Guru Li. Guru Li. – Bukan aku pelakunya. – Kerja bagus. Bagus sekali. Bukankah Guru Li menakutkan? Makanya kita tak boleh melanggar peraturan sekolah. Jika aku menjadi gila karena perbuatan Guru Li, akankah kau tetap menjadi temanku? Baik, aku paham. Jika aku menjadi gila, kau akan meninggalkanku. Tenang saja.

Jika kau gila, aku akan menyembuhkanmu. Tetap di sana. Bagaimana kau bisa meninggalkanku… dan minum anggur dengan orang lain? Senior, aku hanya minum sedikit. Tapi kau masih minum, ‘kan? Aku akan pergi denganmu lain kali. Ini bukan soal pergi bersamaku. Kau menebus kesalahanmu. Tak masalah. Aku akan menebus kesalahanku.

[Apa Li Hu menyembunyikan seni bela dirinya dengan sengaja,] [atau itu bukan dia?] [Dewan Peninjauan dan Hukuman] Ada apa? Bukan apa-apa. Diam dan tidurlah. [Ada apa denganku?] [Apa masalahnya?] Adik, lihat betapa cerobohnya dirimu. Adik. Apa masalahnya? Entahlah. Lalu, Macan Tersenyum itu mengurangi 100 dari poin perilakuku. Itu sepadan. Setidaknya kini kita tahu…

Wen Bin selalu masuk ke Akademi dengan memanjat tembok itu. Benar. Kita harus memberi mereka pelajaran kali ini. Tugasmu… adalah mengawasi mereka. Soal poin perilakumu, aku akan melakukan sesuatu. Terima kasih, Ketua. Aneh. Siapa yang mencoba mengerjai Guru Li? Itu aku. Aku tahu itu kau. Jadi, apa kau mendapatkan jawaban? Itu bukan Guru Li.

Mungkinkah Macan Tersenyum itu tahu… kau sedang mengujinya, jadi dia sengaja jatuh ke dalam perangkapmu? Dia petarung yang hebat. Saat ada bahaya, dia akan menghindar secara naluriah. Jadi, tampaknya… pria bertopeng itu menuntunmu ke arah yang salah… dengan sengaja. Setelah lama berpikir, aku memutuskan perlu mengetahui keberadaan Ke Shi Jun. Satu kata dariku. Sulit.

Jika dia masih di Desa Lin, maka pasti punya teman di sana. Apa kau pikir teman-temannya akan memberitahumu di mana dia? Aku akan membuat mereka mencarinya. Perhatikan… dan baca “Kode Negara Yun” di tanganmu dengan benar. Jangan ragu bertanya kepadaku jika kau bingung. Aku akan menjelaskan kepada kalian secara detail. [Kenapa aku punya perasaan aneh?]

Ada apa? Wen Bin. Bisa kau setidaknya berpura-pura sedang membaca? Lihatlah Wen Bin. Kenapa dia tak berani menatap Feng Cheng Jun? Tepat sekali. Aneh. Kita akan mengikuti mereka nanti. Baik. Apa yang diajarkan di kelas hari ini? Aku tak paham pelajaran sebelumnya. Aku juga. Ini melelahkan. Adik Wen Bin. Adik Wen Bin.

Kau tak fokus di kelas belakangan ini. Beri tahu aku jika kau dalam masalah. Aku tak dalam masalah. Katakan kepadaku. Ada apa? Kenapa Wen Bin takut kepada Feng Cheng Jun? Aku baik-baik saja, selama kau menjaga jarak. Aku hampir yakin dugaanku benar. Kasihan Wen Bin. Teganya Feng Cheng Jun mengusirnya dari kamar di tengah malam?

Aku penasaran… ke mana Wen Bin pergi selarut ini? Benar. Kenapa kau tak tidur di kamarmu, Murid? Kenapa mereka di sini? Wen Bin. Wen Bin. Wen Bin. Yang benar saja? Ke mana Wen Bin pergi? Adik Wen Bin, apa yang kau lakukan? Aku cemas kau akan merasa kedinginan. Aku tak kedinginan. [Wen Xi,]

[apa yang terjadi dalam pikiranmu?] Adik. Kau baik-baik saja? Aku baik-baik saja. Aku baik-baik saja. Kau yakin? Ya, aku baik-baik saja. [Kenapa Kak Ze Xin tak kembali hari ini?] [Baik itu bangsawan atau rakyat jelata,] [seorang pria atau wanita,] [semua memiliki hak yang sama untuk bersekolah.] [Ke Shi Jun.] Zhang, kau kembali. Kemari dan lihatlah.

Lihat, ini ada di dinding. – Apa tulisannya? – Aku penasaran. Siapa yang menaruhnya di sana? Apa tulisannya? Baik itu bangsawan atau rakyat jelata, semua memiliki hak yang sama untuk bersekolah. Buku itu dilarang. Tak ada yang diizinkan membacanya. Sita semua buku. Geledah setiap rumah. Cepat! Desa Lin? Benar. Pemberontak… memang makin sombong.

Aku harus melakukan sesuatu. Komandan Xu. Ya, Tuan. Gunakan akalmu dan lakukan sesuatu. Kau setidaknya harus menjadi komandan yang layak. Bukankah begitu? Tangkap pemberontak itu hidup-hidup. Paham? Jangan mengecewakanku lagi. Baik, Tuan. Desa Lin. Dengar… Aku sungguh melihat Wen Bin masuk ke sana tadi malam. Adik. Duduklah. Apa kau menyadarinya? Melihat cara Wen Bin bersikap,

Dia pasti ditindas oleh Feng Cheng Jun. Aku setuju. – Aku juga. – Le Xuan. Le Xuan, kau datang ke kelas hari ini? Kalian seharusnya dapat nilai lebih tinggi daripada aku jika aku terus absen. Adik. Perhatikan. Menilai dari reaksi Wen Bin, dia pasti berusaha menjauh dari Feng Cheng Jun,

Dan lebih dekat ke Yu Le Xuan. Sungguh kasihan Wen Bin. Lihatlah wajah Feng Cheng Jun. Bukankah dia tampak aneh? Tidak. Tidak? – Kita harus apa? – Guru datang. “Ada pohon besar di selatan.” “Tapi aku tak bisa beristirahat di bawahnya.” “Ada seorang wanita yang tinggal di Sungai Han.” “Tapi aku tak bisa bersamanya.”

“Sungai Han luas, tapi aku tak bisa menyeberanginya.” Dari mana asalnya? Lu Zhao Rong. Aku di sini. Guru Ding. Dari mana asalnya? Begini… Itu dari… Itu adalah “Han Yang Luas” dalam “Buku Sajak”. Apa kau tahu maksud puisi itu? Ya, ini soal… Jangan bilang. Duduklah. Wen Bin. Beri tahu kami. Guru Ding,

Itu lagu rakyat Periode Pra-Qin dari Bab Zhou Nan, Budaya. Lagu itu bercerita tentang seorang penebang kayu muda… yang diam-diam menyukai seorang wanita cantik. Tapi dia tak bisa bersamanya. Makanya dia menderita karena cinta. Jadi, sebelum air sungai meninggi, dia tak bisa menahannya dan menyanyikan lagu ini… untuk menunjukkan betapa dia merindukannya. Bagus. Duduk.

Di dalam puisi itu, tak ada kalimat yang menggambarkan rupa wanita itu… atau perilakunya. Seperti awan yang buram, dia hidup dalam ingatan si penebang kayu, dan menjadi dukungan spiritualnya. Dia sangat jauh. Dia di luar jangkauannya, tapi masih melekat dalam benaknya. Bisa bertemu orang yang kau cintai, tapi tak bisa bersamanya.

Kita akan membahas itu hari ini. Sulit sekali saat pria mencintai wanita, tapi itu sebaliknya jika wanita mencintai pria. Kak Cheng Jun, apa aku benar? Cinta sepihak tak berbalas. Benar sekali. Menyakitkan sekali menyukai seseorang diam-diam. – Benar. – Ini benar-benar tak adil. Jatuh cinta bukan soal keadilan. Itu bukan bisnis. Feng Cheng Jun.

Apa pendapatmu soal puisi ini? Aku pikir puisi itu menggambarkan pemandangan indah. Apa maksudmu? Ada seseorang yang beristirahat di bawah pohon di selatan. Air Sungai Han mengalir deras. Di tepi sungai, rumput liar tumbuh. Di kejauhan, ada gunung. Kupikir itu pemandangan yang indah. Mengungkapkan perasaannya melalui lanskap memang langkah yang bagus. Suasana yang indah…

Memunculkan kerinduan si penebang pohon… dan memungkinkan para pembaca… berimajinasi lebih luas. Feng Cheng Jun, setelah membaca puisi itu, menurutmu bagaimana perasaan si penebang kayu? Kupikir si penebang kayu itu… mengungkapkan betapa kejamnya dia kepada orang yang dia rindukan. Tapi dia mencintainya. Seperti kata pepatah, “orang yang lebih sadar lebih kejam.” Bagus sekali.

Kita juga harus belajar dan mampu untuk melihat sesuatu… dari sudut pandang yang berbeda. Puisi berikutnya adalah puisi gaya Wei… yang termasuk dalam bagian klasik “Buku Sajak”, “Melon”. Feng Cheng Jun, Wen Bin, baca puisi itu. “Berikan melon untukku, akan kubalas dengan batu giok.” “Ini bukan soal tukar hadiah, melainkan persahabatan selamanya.” “Berikan persik untukku,

Akan kubalas dengan permata.” “Ini bukan soal tukar hadiah, melainkan persahabatan selamanya.” Wen Bin. Baca lebih keras. “Berikan plum untukku, akan kubalas dengan batu giok.” “Ini bukan soal tukar hadiah, melainkan persahabatan selamanya.” [Ekspresi Wen Bin sangat mirip seorang wanita.] Hentikan. Lepaskan bocah itu sekarang! Apa perlu semarah ini?