WeTV Original Antares S2 EP01B | Angga Yunanda, Cut Beby Tsabina, Devano Danendra
Ares. Aiden? Kenapa kau mengajakku bertemu di sini? Bisa di markas. Mamaku belakangan ini super ketat. Dia sangat paranoid dengan berita geng motor. Makanya, aku sekarang jarang berkumpul dengan anak-anak. Bukan geng motor. Pelakunya naik motor, ya. Menurut dia sama aja, Ares. Dia sedang sangat paranoid. Apalagi semenjak kejadian Aiden. Aiden tidak ada urusannya dengan geng motor.
Ya, aku tahu, Ares. Tapi intinya… Mamaku mau aku pergi ke Den Haag. Papaku juga pindah bekerja ke sana. Kalau sampai itu benar terjadi, aku harus pergi dari Calderioz, Ares. Halo, Kak? Kenapa? Kau sudah dengar soal Arka? – Siapa kau? – Habisi. Jangan pukul aku! Bagaimana, Laskar? Aku lihat, penyerang tadi memakai jaket Retro. Kau serius? Tenang dulu, belum tentu Retro. Laskar, ayo sudah. Ares. Kalian sebaiknya tidak usah bermain motor lagi. Mama. Kejadian Aiden tidak ada hubungannya dengan geng motor. Pokoknya, tante sudah tidak mengizinkan Laskar di geng motor lagi.
Lagi pula, kau mau ke Den Haag. Kau tahu, Ares. Ya, Tante. – Ayo, Mama. – Duluan. Kau sudah tahu, Ares? Ayo pergi. Aiden sudah tidak ada. Sekarang Laskar juga pergi. Aku hanya takut kita bubar saja. Halo, Zea? Retro dan Delasga diserang. Kita berpencar. Kau dan Moreo ke Delasga, aku dan Megan ke Retro. Mengerti? – Hati-hati, Ares. – Kau juga. Aku sempat melihat sendiri. Dan aku tidak tahu tujuan mereka untuk Retro atau Delasga. Tapi satu yang pasti. Kita dapat pesannya. Dan untuk penyerangan Laskar, aku bisa jamin
Dan aku bisa pastikan itu bukan Retro. Teman-teman. Kita tidak ada masalah sekarang. Ya, ‘kan? Ya, tidak ada masalah. Tapi sepertinya ada yang bermasalah dengan kita. Sekarang bukan hanya Retro dan Delasga. Tapi Calderioz juga diserang. Dan kemungkinan geng motor lainnya juga. Bisa jadi ada yang tidak suka kita bergabung.
Tapi apa pelaku yang menyerang Retro dan Delasga sama seperti yang menyerang Laskar? Menurutku, masih terlalu cepat untuk mengetahuinya. Ini… Ini mobil Laskar, ‘kan? Ya. Akhirnya, sekolah lagi! – Aku tekan, ya. – Jangan, ini sungguh sakit. Sekali saja. Kau gila. – Kau berlebihan. Tapi sudah sehat, ‘kan? – Sudah. Panglima tidak boleh sakit lama-lama.
Ini minggu terakhir aku sekolah di sini. Minggu depan, aku sudah berangkat ke Den Haag. Sudah. Jangan pada cengeng. Aku tidak suka seperti ini. Sudah, pokoknya, akhir pekan ini, kita adakan pesta perpisahan. Tapi tidak boleh bersedih. Kita semua bersenang-senang hari itu, ya? Berat sekali sebenarnya untuk kehilanganmu, Laskar.
Tapi, mungkin ini sudah yang terbaik untukmu. Kita akan mendukungmu terus dari sini. Sampai kapan pun kau akan jadi keluarga Calderioz. Kapan pun kau kembali, kita akan terima. Calderioz akan sangat berbeda tanpamu. Kasihan Laskar sampai diserang begitu. Kau bisa diam, tidak? Tenang, santai. Lama aku tinggalkan jadi mudah emosi begini? Laskar kembali!
Bersulang untuk Calz Angels! – Moreo! – Dia jatuh. Moreo, kemari kau! Kau akan kalah! Basah! Kak. Lalu kapan kembali ke sini? Itu aku belum tahu. Tapi pasti nanti aku kabari. Lalu Calderioz bagaimana? Calderioz akan tetap berjalan. Hanya tidak ada panglima perang saja. Jagoan kita. Baru pertama kali kau memujiku. Pokoknya, kalian baik-baik.
Aku pasti akan sangat rindu kalian semua. Laskar. Kita punya sesuatu untukmu. Terima kasih semua. Teman-teman. Kita swafoto dulu. Swafoto apa? Foto selfie. Ayo. Satu, dua, ti… Tangannya seperti ini, bolehkah? Baik. Satu, dua, tiga. Lihat, Kak. – Lihat. – Cium dulu. Ya, ini. – Galak sekali. – Yang benar. Ini. Lucu sekali. Teman-teman.
Aku akan sangat rindu kalian semua. Jaga Calderioz. Kau juga, Laskar. Jangan lupa jaga diri sendiri. Berkabar terus. – Pasti. – Jangan menangis. Seperti ini menangis? Jaga dirimu. – Berkabar terus. – Pasti. – Jagoan kita. – Main-main, Kak. Jagoanku. Kalau menurutku, kita harus cepat menggantikan posisi Laskar. Kalian semua tahu itu posisi paling penting.
Ya, ‘kan? Tidak usah buru-buru. Nanti kita bicarakan saja di markas. Baik. Ingat tidak, waktu itu aku tarik celana dalam Moreo? Astaga! Yang celana dalam spongebob? – Yang di pinggir lapangan? – Ya, di dekat lapangan. Sepi sekali sekarang. Dulu kita berenam. Sekarang tinggal kita berempat. Sayang. Kau sedang memikirkan soal penyerangan itu? Tidak.
Lalu sedang memikirkan apa? Kau. Aku sedang berpikir, Aiden sudah tidak ada. Laskar ke Den Haag. Kau jangan pergi juga, ya? Situasinya sedang kacau. Aku tidak mau kau celaka. Penyerangan Laskar kemarin sangat disayangkan. Dan sampai detik ini, aku masih belum tahu siapa pelakunya. Kemarin aku dan Megan ke Retro. Ardhan dan Moreo ke Delasga.
Dan ternyata, mereka juga sempat diserang. Dan sampai saat ini, aku masih belum bisa menyimpulkan apa-apa. Apakah yang menyerang Laskar, Retro, dan Deslaga adalah orang yang sama atau bukan? Tapi yang pasti, ada orang yang berusaha membuat kita pecah. Lalu mau apa? Lihat dulu saja? Kau sedang apa ke sini? Aku? Ke sini? Kau lupa?
Aku masih anggota Calderioz. Bahkan aku wakil Calderioz sebelum aku pergi ke New York. Ya, tidak? Makanya, Ares. kau tidak usah berlagak menyatukan semua geng motor. Kalian lihat akibatnya sekarang, ‘kan? Lihat apa dampaknya untuk Calderioz. Kehilangan Aiden. Kehilangan Laskar. Jadi menurutku, kita tidak bisa diam mengamati saja, Ares. Ya, tidak? Baik. Maaf.
Silakan dilanjutkan rapatnya. Aku emosi sekali pada orang itu. Kau lihat gayanya, tidak? Menyebalkan sekali. Aku yakin pasti ada alasan kenapa dia kembali lagi ke sini. Sudah, Moreo. Bagaimanapun, dia juga anggota Calderioz. Ingat, lindungi setiap anggota. Menurutku, dia ada benarnya. Kita harus gerak sekarang, cari pelakunya sebelum semuanya jadi kacau. Aku sudah bilang berkali-kali.
Jangan buru-buru. Kita harus pertimbangkan semuanya. Ingat, geng motor sekarang sedang disorot juga. Dan banyak pelaku kejahatan yang modusnya gerombolan pakai motor. Kalau sampai kita gegabah, hal-hal seperti itu bisa dikaitkan ke geng motor. Ruang gerak kita jadi makin sempit. Sayang. ada yang mau aku bicarakan denganmu. Apa? Itu soal tadi yang aku bicarakan di motor. Kau tidak dengar? Apa kau tahu? Semenjak dia datang, semua jadi aneh, tahu tidak? Siapa? Kak Richie? Sepertinya biasa saja. Kau tidak tahu saja. Ya sudah. Agar kau tidak pusing dan kesal, bagaimana kalau nanti pulang sekolah temani aku?
Sayang, tidak bisa. Aku sudah janji dengan anak-anak di markas. Kau juga tahu Calderioz sedang banyak masalah. Ya? Nanti kita cari waktu lagi, ya? Ya sudah. Sayang. Karissa di mana? Tidak tahu. Mungkin berpacaran dengan Kak Ardhan. Kau sendiri tidak berpacaran dengan Kak Megan? Kau dengan Kak Richie sekarang? Kak Richie? Tidak. Halo. Cleo.
Ayo ke kantin. Aku lapar. Sepertinya tidak karena… Santai, Megan. Kau jangan dekat-dekat Cleo, nanti Kak Megan cemburu. Sungguh? Megan mudah cemburu? Baik. Kalau tidak ada yang mau ikut aku ke kantin, aku ke kantin duluan. Ya? Jangan rindu. Dah, semuanya. Kenapa Richie jadi begitu? Jangan mau dipegang-pegang. Baik, Karissa. Kaki coba dibuka.
Tangan di pinggang. Bagus, baik. Lagi. Siap, lagi. Satu, dua. Sekarang kakinya disilang. Satu, dua. Bagus! Ya. – Ini keren. – Bagus. – Ya! – Keren hasilnya. – Bagus dia, punya potensi. – Ya. Karissa, kerja bagus. – Awas batu! Lari! – Ada apa? Fino! Zea! – Selina, beri tahu anak Calderioz. – Serra, ayo. – Cleo ke sana. – Ya. Fino! Hati-hati, Serra. Bangun. Pelan-pelan. – Hati-hati, Serra. – Ke sana! Sedang apa kau? Cleo! Wanitamu, Moreo. Wanitaku? Istri. – Kak. – Halo. Derlangga diserang! Fino kenapa? Mereka lempar batu.
– Derlangga diserang. – Zea, ayo ke UKS. – Aku ikut ke depan. – Tidak ada debat. Ayo. – Ares! – Sudah, Zea. Biarkan saja. Jumlah mereka tiga kali lebih banyak dari kita. Sejak kapan jumlah jadi masalah, Moreo? Serang! Sialan Richie. Ardhan, fokus! Kurang ajar! Ke pinggir, Moreo! Polisi sedang dalam perjalanan ke sini! Kalau kalian tidak berhenti tawuran, bisa dipastikan kalian akan masuk penjara seumur hidup! Ayo bubar semuanya! Jangan berani lagi menginjakkan kaki di Derlangga. Bubar semua!
Moreo? Moreo, kau tidak apa-apa? – Moreo? – Kau aman tidak, Moreo? Kak Moreo? – Moreo? – Kak? Kak Moreo? – Mohon tunggu di luar, Mbak. – Kak Moreo! Selina, Kak Moreo bagaimana? Fino sudah siuman. Dia belum sadar. Bagaimana, Zea? Kelakuan kalian sudah benar-benar di luar nalar saya. Apa kalian sadar?
Kalau sekolah kalian ini adalah tempat untuk kalian menimba ilmu? Ini bukan ring tinju! Apa lagi tempat membuat kekacauan dan kerusuhan. Informasi yang kami dapat, penyerangan itu adalah surat terbuka untuk kalian. Calderioz. Mereka minta kalian untuk membubarkan diri. Saya tahu, Ares. Kau ketuanya. Saya tahu membubarkan Calderioz bukan wewenang saya.
Tapi sebagai kepala sekolah, saya punya wewenang untuk menjaga ketertiban sekolah ini. Dan saya punya wewenang untuk menertibkan semua murid agar tunduk pada aturan sekolah ini! Kalau masih mau sekolah di sini. Baiklah. Menimbang apa yang baru saja terjadi, saya sebagai kepala sekolah kalian, meminta kalian untuk membubarkan diri dari Calderioz.