WeTV Original Antares S2 EP01A | Angga Yunanda, Cut Beby Tsabina, Devano Danendra

Minta maaf padaku sekarang. Tidak semudah itu. Entah kau atau aku yang justru harus hati-hati. Kau hati-hati dengan Ares. Dia yang dari awal tidak mau Wolves dan Calderioz bersaing di Jakarta. Dan itu yang membuat kakakmu koma. Ares orang terbaik yang pernah aku kenal. Dia selalu membela anggota Calderioz.

Tidak pernah membiarkan kalau anggota Calderioz kesusahan. Aiden! Jangan membelanya karena kau suka padanya, Ares. Kalau ternyata dia yang melakukannya, bagaimana? – Bukan aku… – Munafik! Itu semua kulakukan untuk menghancurkan Calderioz. Karena Calderioz telah membuat Eros koma. Kak Lio dibalik semua ini, Kak. Dia sudah coba mencelakakanku dan Ares. Dia juga sudah mengadu domba

Retro dan Calderioz. Apa benar kau yang menyuruh dia untuk menghabisiku dan Ares? Jawab! Ada musuh di dalam Wolves. Maksudmu? Kak Lio ada dibalik semua ini? Bodoh kalian semua! Selamat malam, teman-teman. Malam. Setelah semua yang kita alami, aku tidak pernah bermimpi kita bisa berkumpul di sini. Wolves. Delasga. Retro. Juga Calderioz.

Ini yang aku inginkan dari dulu. Sekarang, bisa terwujud. Semua berkat Antares. Antares! Ares! – Terima kasih, Ares. – Terima kasih, Bang. Usahaku tidak akan pernah berhenti di sini. Justru ini baru permulaan. Dan aku harap ke depannya, semoga semua geng motor bisa bersatu dan punya solidaritas yang tinggi. Tidak saling serang dan tidak saling menjatuhkan. Karena kita semua sama. Wolves! Calderioz! Retro! Delasga! Tapi ada satu lagi. Dan aku mau melakukan ini di depan kalian semua.

Sebagai ketua Calderioz yang ke-30, dan aku meliat bagaimana caramu menyatukan semua geng motor di sini. Ini saatnya kau memegang tanggung jawab ini. Ini. Kau jaga ini sebaik mungkin. Ini sudah waktumu, Ares. Terima kasih, Bang. Sebentar, kawan-kawan! Kita belum foto. Ayo, kita foto dulu. Kita swafoto dulu. Ayo. Ayo kita foto. Sakit sekali, Bro.

Satu, dua, ti… Siapa ini? Halo? Malam, Tante. Mamamu! – Ya, ini sedang… – Untuk apa kau angkat? Dasar anak mama! Halo, Mama? Ya, sebentar lagi aku pulang. Ya. Ya. Baik. Dadah. Sudah, anak mama? Aku pergi dulu, teman-teman. – Tidak apa-apa, ‘kan? – Tidak apa-apa. Sudah, anak mama begitu saja?

– Kau tidak ikut foto? – Duluan. Ya sudah, kau yang menyesal. Hati-hati, Bang. Ya. Tolong, panas! Tolong! Tidak apa-apa? Tidak apa-apa. Pengecut. Selamat datang di Slice of Happiness. Terima kasih, Mbak. Zea! Zea! Astaga! Mau ini. Ya, nanti saja. Kita ke sana dulu. Selina, ayo. Senang sekali mukamu. Bagaimana? Pas sekali bukan untuk markas Calz Angels? Kita punya markas? Tapi nama gengnya itu? Lalu kau maunya apa? Calz Devils? – Calcium? – Bercanda. Bagaimana, Zea?

Aku ikut saja. Tapi berarti Zea yang paling sibuk. Sudah jadi Capo Wolves, pacar ketua Calderioz. Lalu sekarang dia anggota Calz Angelz. Calz Angels. – Calz Angelz! – “Angels” tidak pakai “z”! Angels! Tapi, kau keren juga, Karissa. Hebat kau cari tempat. Jadi, waktu itu aku lupa hari apa.

Waktu itu ada orang membagikan selembaran, dan orangnya tampan. Jangan tebar pesona, sudah ada Kak Ardhan. Tidak ada Ardhan. – Nanti muncul lagi di belakang. Takut? – Jangan. Cleo! Sini! Kau sedang menunggu siapa? Ya, sebentar. Ada yang mau datang. Ardhan mau datang. Makanya, jangan tebar pesona. Astaga. Intuisiku bilang kalau kau nanti akan bersama Kak Moreo. Teman-teman! Halo, semuanya. – Kak Richie! – Kak Richie! Sudah lama sekali! – Apa kabar, Kak? – Baik. – Kapan kembali, Kak? – Baru kemarin. Walau sedang penat terbang, untuk kalian aku bela-belakan. Bisa aja. Serra. Aku turut berduka cita.

– Dia pria baik. – Terima kasih, Kak. Baik, ayo. Ayo! Richie, kenalkan ini Zea. Zea, ini Richie. Halo. Senang bertemu denganmu. Jadi, ini Ratu Ares? Sudah, ayo duduk. Keren sekali masnya. Baru mau pesan sudah langsung ke sini. Gerak cepat sekali. Ini menunya. Selamat datang di Slice of Happiness. Mau pesan apa, teman-teman? Hari ini hariku. Jadi, kalian boleh memesan apa pun. Aku yang bayar. Sungguh? Astaga, ditraktir! Pastikan pesan yang banyak!

Bercanda. Menu favorit kita ada kue red velvet dan kue cokelat. Tapi kalau untukmu, aku sarankan yang kue keju green matcha. – Baik. – Enak. Mau coba? Boleh. Kau yang kemarin membagikan selembaran? Kemarin aku bertemu temanmu. – Siapa? – Kak Richie. Kau jangan dekat-dekat dengannya. Kenapa? Sudah, menurut saja. Ya, ayo. Apa, Ares?

Sudah berpacaran, masih saja menyimpan rahasia. Padahal cukup beri tahu saja dia siapa. Jangan berprasangka buruk. Ares memang begitu. Nanti pasti dia juga cerita. Bukannya berprasangka buruk. Tapi kalau dari awal sudah menutup-nutupi, pasti ada apa-apa. Ya belum tentu begitu juga. Bisa saja… Sayang. Para siswa-siswi SMA Derlangga, kalian ini kelas dua belas.

Dan ujian nasional ada di depan mata. Kalian harus fokus belajar, bukan bermain-main. Dan kalian harus jaga akreditasi SMA Derlangga. – Mengerti kalian? – Mengerti, Pak. Calderioz. Kalian ingat petuah Kepala Sekolah? Soal akreditasi, Pak? Bukan. Tentang ujian nasional yang sudah di depan mata. Tenang saja, Pak. Kita semua sudah memikirkannya. Ya, Pak. Santai saja.

Karena kita yakin, masa depan kita cerah. Ini, Pak. Karena terlalu cerah, saya harus pakai kacamata, Pak. – Tidak begitu, Moreo. – Tidak kelihatan. Pak? – Pak Rangga di sini. – Bercanda saja kau. Bercanda saya. Bercanda saja saya. Bapak mau saya pijit atau saya bekam? Jangan begitu. Apa ini? Cokelat! Cokelat New York.

Cokelat dari siapa ini? Darimu, Ares? Bukan. Dari aku. Richie? Apa kau merindukanku? – Itu bangku Aiden. – Sudah, Moreo. Halo, para wanita cantik. Halo, Kak. Gila orang ini. Gila. Lihat pacar-pacar kalian. Mengerikan. – Biar kuberi dia pelajaran. – Sudah, Moreo. Kalau menyentuh Karissa, aku bunuh dia. Menghina sekali. Citra geng motor terancam hancur.

Kita tidak bisa diam saja. Kenapa memangnya, Ares? Kau sudah lihat berita? Berita? “Salah menyalakan lampu sein,” “ibu-ibu menyerang sekelompok satpam di Gondangdia?” Berbeda. “Warga bubarkan tawuran.” “Sebelas orang tertangkap.” “Sepeda motor disita.” “Aksi vandalisme dilakukan oleh geng motor. “Barang bukti berupa cat dan cat semprot diamankan penyidik.” Sial! Kau bisa diam, tidak?

Kau kalau tidak ada kepentingan, lebih baik pergi. Maaf, aku tidak akan berisik lagi. Tapi ini penting. Sudah, kita lanjut saja. Kalau kau baca beritanya benar-benar, pelakunya belum terbukti anggota geng motor. Kalau bukan anggota geng motor, kita tidak usah terlalu memikirkannya. – Ya, ‘kan? – Tidak begitu.

Justru jangan sampai kejadian ini dikaitkan dengan geng motor sesungguhnya. Kita harus melakukan sesuatu supaya berita di luar sana jadi lebih berimbang. Kita bisa pakai ide baksos Aiden. Kita bisa menjalaninya lagi. Soal aksi vandalisme, bagaimana kalau kita membantu cat temboknya lagi? Boleh juga. Nanti aku hubungi Wolves dan anggota yang lain. Astaga!

Awas nanti kau luka. Aiden? Aiden? Aku Jayden. Siapa tadi? Aiden? Bukan, maaf. Maaf, gelasnya pecah. Tidak apa-apa. Biar aku bereskan. Sal. Nanti minumannya biar kita ganti. Serra. Kau tahu namaku dari mana? Atau bukan Serra namamu? Ya, benar. Serra. Hanya saja bagaimana bisa tahu? Jayden. Serra. Jangan! Ares! Kak Ares. Bisa ambil sendiri juga.

Diberikan Kak Richie. Kau kenapa dengan Kak Richie? Padahal dulu kalian main bersama terus. Apalagi kalau misalkan membicarakan motor, lalu mengutak-atik mesin. Bisa seharian di garasi. Lalu Kak Richie juga suka menginap di rumah kita. Sampai-sampai, Mama Papa sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri, ‘kan? Prianya mati. Firman? Sebenarnya aku selalu penasaran. Pria seperti apa yang benar-benar bisa menaklukkan Ares. Maaf, Kak. Aku tidak nyaman kalau seperti itu. Kenapa? Tidak nyaman kalau aku begini? Baik, tenang. Zea memang begitu, Richie. Harga mahal. Begitulah Zea. – Apa? – Apa? Berasa putri kau? Mentang-mentang sudah berpacaran dengan Ares. Yang jelas aku tidak suka.

Kalau misalnya Kak Anya mau dirangkul Kak Richie, silakan. Aku tidak mau. Boleh tidak kau jangan bawa-bawa aku karena semua orang di sekolah ini juga sudah tahu… Sudah, tenang. Tidak usah bertengkar soal diriku. Tidak usah. Ini bukan masalah besar. – Ini masalah besar! – Ini masalah besar! Apa? Tidak apa-apa. Bagus, ‘kan? Ya. Cantik.

Ares, beritanya. Bacakan saja. Kenapa memang? Mau melihatku? Aku sudah bilang tadi. Cantik. Apa? Tidak dengar. Apa? Ya sudah, kalau begitu. Aku ke aula olahraga saja, sampai jumpa. Cantik! Teman-teman, aku bosan. Sepertinya aku perlu kegiatan lain. Supaya masa SMA-ku lebih berwarna. Memang kita kurang memberikan warna untukmu?

Memang kau mau warna apa lagi? Kita tidak cukup untukmu? Bukan begitu. Maksudku, seperti Ardhan. Dia punya kesibukan di luar. Aku juga ingin punya kesibukan juga. Halo. Permisi, para wanita cantik. Ini pengeras suaranya. Aku sudah membawakan pengeras suara, apa aku boleh menonton kalian menari? Tidak. Tidak. Tidak. Kenapa kalian semua harus bersikap

Begitu jahat padaku? Ya, halo. Namaku Moreo. Lain daripada yang lain. Sampai jumpa. Siapa? Ares. Aiden?